After Married EXTRA : HAPPY ENDING

Mockups Design
After Married Cover Ebook

Author: Fi_ss

Tittle: After Married – Extra : Happy Ending

Lenght: Chapter

Cast: Im Yoona and Lee Donghae

Other Cast: Kim Heecul, Tiffany Hwang, Nicholas, Jung Wheein, Kim Taehyung, Jung Nara, etc

Genree: Romance, married life, Family, etc

Rate : 17+

Author Note: –

* * * * * * *

[lima tahun kemudian]

 Yoona sedang merapikan lemari pakaian Jimin, putra pertamanya dan Donghae, sambil ditemani oleh Eunji. Gadis menyebalkan yang akhir-akhir ini sering kabur dari rumah entah pergi kemana.

Terakhir Yoona ketahui dari Han ajumma, gadis itu sering bertemu dengan Jeong Han. Yoona tidak mempermasalahkan jika Eunji bergaul dengan pria berambut panjang itu. Hanya saja Yoona khawatir jika gadis itu terlalu banyak bergaul dengan pria yang memiliki pekerjaan yang berbahaya itu, Eunji bisa-bisa ikut-ikutan dalam bahaya. Yoona tidak ingin kejadian lima tahuan yang lalu terulang kembali.

“sebenarnya apa hubunganmu dengan Jeong Han?”, tanya Yoona ketika dia memberikan tumpukan kain yang sudah disetrika pada Eunji. Gadis itu yang akan menyusunnya didalam lemari.

“tidak ada. Hanya teman saja”, balasnya acuh.

“aku bukannya melarangmu untuk bergaul dengan siapa. Hanya saja aku tidak ingin kejadian lima tahuan yang lalu terulang kembali.”, balas Yoona.

“iya…aku tahu Nona. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Tenang saja”, balas Eunji. Yoona hanya bisa menghembuskan napas berat saja. Eunji sangat keras kepala jika sudah menyangkut kejadian lima tahun yang lalu. Gadis itu selalu berkata dia akan menjaga dirinya dengan baik. Tapi Yoona tetap saja selalu khawatir.

omma”, seru suara lembut dari arah kamar mandi.

Seorang anak laki-laki dengan handuk yang membalut pinggangnya. Yoona tersenyum menatap putranya yang baru selesai mandi.

Tapi kening Yoona langsung mengerut ketika melihat Jimin hanya berdiri saja di depan pintu kamar mandi. Yoona pun menghampirinya, berlutut mensejajarkan tingginya dengan Jimin.

“ada apa sayang?”, tanya Yoona ketika Jimin hanya diam saja.

Jimin adalah anak yang sangat penurut. Apa pun yanga Yoona atau Donghae ucapkan selalu diingat dengan baik dan dilaksanakan. Seperti doa yang Yoona panjatkan ketika Jimin baru lahir, putranya itu akan meniru kecerdasan orang yang memberi namanya. Hanya saja perbedaannya adalah Jimin anak yang tidak banyak bicara. Tapi sewaktu-waktu dia bisa marah jika sesuatu dianggapnya sudah mengganggunya. Jika kepintarannya menurun dari Donghae dan juga harapan Yoona agar putranya itu secerdas Wheein, maka kemarahannya juga menurun dari Donghae.

Hobby Jimin pun tidak seperti anak-anak seusianya. Jimin lebih suka masuk keruang kerja Donghae, mengobrak-abrik rak buku Donghae. Jimin sangat suka membaca. Apapun akan dibacanya bahkan majalah fashion milik Yoona pun dia mau membacanya. Ditambah lagi Wheein selalu mengirimi buku untuk anak itu. Membuat Jimin semakin larut dalam dunianya.

omma”, ucap Jimin lagi sambil menatap Yoona.

“ada apa sayang?”, tanya Yoona.

“kenapa wajah omma tidak terlihat jelas?”, tanya Jimin. Yoona mengerutkan keningnya, masih belum mengerti. Eunji yang sedari tadi sibuk menyusun pakaian Jimin dilemari kini ikut bergabung dengan Jimin dan Yoona.

“ada apa?”, tanya Eunji.

“wajah auntie juga tidak terlihat jelas”, ujar Jimin menatap Eunji.

Eunji mengarahkan telapak tangannya didepan Jimin, menunjukkan beberapa jarinya.

“ini berapa?”, tanya Eunji sambil menarahkan dua jarinya. Jimin terlihat berpikir sejenak.

“dua…atau empat?’, ucap Jimin tidak yakin. Yoona dan Eunji langsung saling bertatapan dengan mata membulat.

“jangan-jangan…”

“kita ke rumah sakit saja dulu Nona agar hasilnya lebih pasti”, saran Eunji. Yoona pun mengangguk. Jantungnya berdegup kencang.

“pakai baju dulu ya”, ucap Eunji pada Jimin. Yoona sudah pergi untuk mengganti pakaiannya. Dia masih memakai gaun tidurnya sedari tadi.

Setelah semua siap, Yoona, Jimin dan Eunji berangkat ke rumah sakit. Mereka langsung mendaftar di poli mata. Sesuatu yang ditakuti Yoona sejak Jimin begitu suka membaca dan menonton TV.

“Ny Lee Yoona”, panggil suster yang baru keluar dari ruangan dokter.

“iya saya”,  jawab Yoona. Digenggamnya tangan Jimin menuju ruangan dokter mata itu. Setelah mereka masuk. Dokter langsung bertanya apa keluahan yang Jimin alami.

“tadi tiba-tiba saja dia mengatakan tidak bisa melihat wajah saya dengan jelas”, jawab Yoona.

“apa sebelumnya kau sudah pernah mengalami seperti itu?”, tanya dokter itu pada Jimin.

“pernah tapi tidak seburam sekarang. Wajah dokter saja aku tidak tahu seperti apa”,  jawab Jimin. Anak itu begitu tenang dalam menjawab pertanyaan yang dokter ajukan.

“lebih baik kita periksa saja sekarang”, usul dokter itu. Yoona pun mengangguk.

Jimin pun menjalani serangkaian pemeriksaan dengan alat yang sudah tersedia di ruangan dokter itu. Yoona berdiri dengan sangat khawatir melihat Jimin diperiksa. Sedangkan anak itu tetap tenang.

“matanya sudah minus tiga”, ucap dokter itu membuat Yoona terlonjak kaget. Dia sangat kaget hasilnya ternyata sudah parah. Mengingat usia Jimin masih kanak-kanak. Tapi matanya sudah serusak itu.

“jadi bagaimana dokter?”, tanya Yoona.

“ada dua solusi. Operasi atau dia mengenakan kacamata”, jawab dokter itu.

“kalau operasi apa resikonya besar?”

“ya…tentu saja. Karena anak anda masi terlalu muda, sangat rentan”

“jadi solusi teraman anak saya harus mengenakan kacamata?”

“benar Nyonya”

Yoona menghembuskan napas berat. Dia menatap Jimin yang juga menatapnya. Anak itu terlihat biasa saja. Justru Yoona yang tidak tega melihat anak sekecil Jimin harus mengenakan kacamata.

“baiklah kalau begitu dokter”, ucap Yoona lemah.

“saya akan memberi surat rujukan ke bagian apotek rumah sakit. Anda bisa membuat kacamatanya disana”, ucap dokter itu. Yoona pun mengangguk.

Menunggu dokter menyiapkan surat rujukan, Yoona menghampiri Jimin, memeluk anaknya itu.

“kenapa omma sedih?”, tanya Jimin.

omma takut”,  jawab Yoona.

“aku tidak apa-apa omma. Omma tidak perlu takut”, balas Jimin.

Yoona pun melepas pelukannya. Anaknya terlihat sangat dewasa jika seperti ini. Jalan pikirannya tidak seperti anak-anak pada umumnya.

“ini suratnya Nyonya”, ucap dokter itu. Yoona pun menerimanya.

“terima kasih dokter”, ucap Yoona.

“terima kasih dokter”, ucap Jimin juga sambil membungkukkan badannya.

Setelah itu Yoona dan Jimin keluar dari ruangan dokter itu. Diluar Eunji sudah menunggu mereka.

“bagaimana Nona?”, tanya Eunji langsung.

“sudah minus tiga”, jawab Yoona lemas.

“apa? Sudah separah itu?”, ujar Eunji tidak menyangka mata Jimin sudah serusak itu. Yoona hanya bisa mengangguk lemah.

“kita harus ke apotek membuat kacamata untuknya”, ucap Yoona.

“pegang tangan omma ya”, ucap Yoona. Jimin pun mengangguk. Mereka pun menuju lobby rumah sakit itu. Disana terdapat apotek.

Yoona memberikan surat dari dokter tadi pada petugas apotek itu.

“bentuknya seperti apa Nyonya?”, tanya apoteker itu.

“sederhana saja. tidak perlu banyak model”, jawab Yoona. Sederhana adalah ciri khas dari Jimin. Tidak suka dengan sesuatu yang rumit dan banyak model.

Yoona menghampiri Eunji dan Jimin yang sedang duduk. Ketika Yoona mendekati mereka, wanita itu melihat mereka sedang video call dengan seseorang. Yoona pun duduk disamping Jimin dan akhirnya mengetahui mereka sedang video call dengan Wheein.

Gadis itu sudah sangat berubah. Tidak ada poni pendeknya dan juga sikapnya sudah jauh lebih dewasa. Sepertinya tempatnya sekarang membuatnya lebih tenang dan dapat melanjutkan hidupnya dengan baik. Sekarang Wheein sudah bekerja sebagai guru musik dan vocal di sebuah taman kanak-kanak. Karena selalu bergumul dengan anak-anak membuat gadis itu pun bisa dengan baik berkomunikasi dengan Jimin. Mungkin karena memang sejak dalam kandungan Jimin sudah sangat menyukai Wheein juga.

baby Minie jangan sedih”, ujar Wheein.

“aku tidak sedih. Auntie bilang seorang pria sejatu harus selalu kuat”, balas Jimin.

“bagus. Itu baru keponakan auntie. Lagi pula jika baby Minie mengenakan kacamata pasti akan semakin tampan”, hibur Wheein.

“benarkah? Kalau aku semakin tampan, auntie bilang akan pulang. Jadi auntie akan pulang?”, tanya Jimin penuh harap. Sebenarnya anak itu merasa sedih karena matanya sakit. Tapi dia tidak ingin menunjukkannya pada Yoona. Dia takut Yoona sedih, dan sepertinya Wheein menyadari itu ketika baru melihat wajah Jimin tadi.

“tentu…auntie akan pulang”

“BENARKAH?”, koor Yoona, Jimin dan Eunji. Ini kali pertamanya setelah lima tahun berlalu, Wheein mau mengatakan dia mau pulang.

“kenapa kalian harus berteriak seperti itu?”

“Wheepup…benar kau akan pulang?”, tanya Yoona dengan nada senang.

“iya…memangnya unnie mau Jimin sedih?”, tanya Wheein.

“berarti kau hanya pulang untuk sementara saja?”, tanya Yoona sedih.

“iya”

Yoona dan Eunji langsung terlihat sedih. Sangat berbeda dengan Jimin. Walaupun ini kali pertama dia akan bertemu dengan Wheein dan hanya sebentar, dia tetap terlihat senang.

“kau tidak ingin menetap?”, tanya Eunji.

“maafkan aku…aku sudah suka disini Eunji-ya”, balas Wheein.

“baiklah. Kabari kami jika kau akan pulang. Aku akan menjemputmu”, ujar Eunji.

“tentu saja. Oh sudah dulu ya, masakanku sudah hampir gosong”, ujar Wheein. Seketika layar ponsel itu menggelap.

“dasar keras kepala”, umpat Yoona.

“Nyonya Lee Yoona?”, panggil apoteker itu tiba-tiba. Yoona langsung bangkit dari duduknya.

“ini kacamatanya. Silahkan dicoba dulu”, ucap apoteker itu.

“Jimin-ah…kemarilah”, panggil Yoona. Eunji pun menuntun Jimin mendekati Yoona.

Yoona berlutut didepan Jimin, lalu memakaikan kacamata itu pada Jimin.

Awalnya terlihat Jimin tidak nyaman memakainya tapi lama kelamaan dia terlihat sudah terbiasa. Benar yanga Wheein bilang, putranya itu semakin terlihat tampan jika mengenakan kacamata seperti sekarang.

“bagaimana sayang? Apa sudah terlihat lebih jelas?”, tanya Yoona.

“sudah…aku sudah melihat wajah omma yang cantik dan wajah auntie Ji yang seram”, ucapnya bercanda. Yoona langsung tersenyum lebar, sedangkan Eunji langsung cemberut. Jimin selalu menyebutnya auntie berwajah seram karena Eunji sering marah-marah pada pelayan yang baru yang bekerja dirumah.

“kau memang seorang perayu seperti appa mu”, balas Yoona sambil mengusap kepala Jimin.

Setelah itu mereka pulang ke rumah. Setibanya mereka dirumah, bertepatan dengan itu Donghae juga pulang. Pria itu terlihat tergesa-gesa sejak Eunji meneleponnya dan memberitahu keadaan Jimin. Dia bahkan langsung meninggalkan rapat begitu saja tadi.

“bagaimana hasilnya?”, tanya Donghae langsung. Diraihnya Jimin dan langsung digendongnya.

“minus tiga oppa”, jawab Yoona. Donghae langsung mendesah berat.

“lain kali anak appa harus mengurangi menonton TV terlalu lama ya”, ucap Donghae.

“iya appa”, jawab Jimin patuh.

appa sangat khawatir padamu tadi”, ujar Donghae.

“maafkan aku appa”, ujar Jimin merasa bersalah. Dipeluknya leher Donghae menyembunyikan wajahnya dileher Donghae.

“tidak apa-apa. Appa malah jadi merasa iri sekarang”, ujar Donghae sambil mulai melangkah memasuki rumah diikuti Yoona dibelakangnya.

Yoona tersenyum lebar menatap kebersamaan kedua pria yang sangat berarti dalam hidupnyaitu. Walaupun Yoona tahu percakapan yang hangat seperti yang berlangsung sekarang tidak akan bertahan lama. Sebentar lagi kedua pria beda generasi itu pasti akan adu mulut.

“kenapa appa iri?”

“karena kau memakai kacamata, membuatmu terlihat semakin tampan. Bahkan sudah mengalahkan ketampanan appa”, ucap Dongha dengan wajah cemberut.

“sejak lahir kata auntie Whee aku sudah tampan appa. Bahkan melebihi appa”, balas Jimin. Sesekali diusapnya matanya karena sedikit perih. Dia belum terbiasa dengan obat dari lensa kacamatanya.

“kalau begitu appa harus segera membuat adik untukmu. Agar appa punya saingan yang lain”, ucap Donghae sambil mengerlingkan matanya pada Yoona.

oppa”, marah Yoona karena pembicaraan tentang adik itu akan merambat pada hal-hal yang belum sepantasnya Jimin dengar.

“Jimin akan punya adik?”, tanya Jimin antusias.

“Jimin ingin adik?”, tanya Donghae balik.

“iya…aku ingin adik. Ayo appa, omma buat adik untuk Jimin. Biar Jimin ada teman sambil membaca dan menonton”, ujar anak itu. Yoona langsung menggeleng-gelengkan kepalanya pada kedua pria itu. Pria dewasa yang sikapnya kekanak-kanakan dan satunya lagi anak-anak yang sifatnya seperti pria dewasa. Yoona langsung beranjak pergi, meninggalkan mereka.

“sayang kau mau kemana? Jimin minta adik”, seru Donghae.

“Diam Lee Donghae”, teriak Yoona dan langsung membuat Donghae dan Jimin terdiam. Jika Yoona sudah marah, suasana rumah akan terasa mencekam.

appa membuat omma marah”, ujar Jimin, meringis menatap Donghae.

“tenang saja dengan rayuan appa, omma mu yang cantik itu pasti akan luluh”, balas Donghae.

“setelah ini aku tidak ingin tidur dengan appa, jika omma mengusir appa dari kamar”, balas Jimin ketus.

“Yak…kau tega sekali pada appa”, ucap Donghae.

“aku tidak bisa tidur karena dengkuran appa”, balas Jimin.

“aish..”

“turunkan aku appa…film kesukaanku akan tayang sebentar lagi”, ujar Jimin, memberontak ingin turun dari gendongan Donghae.

”jangan terlalu dekat dengan layar TVnya”, peringat Donghae.

“iya appa”, balas Jimin acuh dan langsung menuju ruang santai.

Donghae pun naik kelantai dua, kamarnya dan Yoona. Ketika dia membuka kamar, dia menemukan Yoona yang berdiri didepan pintu balkon. Wanita itu menatap lurus keluar, tidak menoleh walaupun dia tahu seseorang masuk ke kamarnya.

“sayang~”, ucap Donghae sambil memeluk Yoona dari belakang.

“lepas oppa”, ujar Yoona.

“kau marah? Aku hanya bercanda tadi agar Jimin tidak sedih”, ujar Donghae. Yoona melepas tangan Donghae dipinggangnya. Dia memilih duduk ditepi rajang. Menatap Donghae dengan serius. Menyadari tatapan Yoona yang seperti itu, membuat Donghae langsung khawatir. Dia khawatir terjadi sesuatu pada Yoona atau Jimin sebelumnya.

“ada apa sayang?”, tanya Donghae dengan tatapan sangat khawatir. Yoona menatap wajah Donghae sambil menahan tawa.

“lihat saja dilaci itu”, balas Yoona acuh. Donghae mengerutkan keningnya bingung.

“memangnya apa didalam laci itu?”, tanya Donghae.

“buka saja. Jangan banyak tanya oppa

Donghae pun dengan patuh menuruti perintah Yoona. Dibukanya laci itu. Didalamnya terdapat tumpukan majalah fashion Yoona. Tapi matanya tidak sengaja melihat benda panjang yang terselip disela-sela tumpukan buku itu. Diambilnya lalu diamatinya dalam diam. Dia tampak berpikir, tapi beberapa detik kemudian matanya membulat ketika melihat dua garis merah disana.

Donghae berbalik menatap Yoona. Kini wanita itu sudah tersenyum lebar. Yoona mengelus-elus perutnya mengartikan benda ditangan Donghae.

“ka-kau ha-hamil”, ujar Donghae terbata. Dia sangat kaget. Donghae tidak menyangka Yoona hamil sedangkan  setahu Donghae selama ini Yoona memakai kontrasepsi karena wanita itu berkata belum ingin hamil lagi. Tapi sekarang dengan santainya istrinya itu mengatakan dirinya hamil, membuat Donghae langsung berbunga-bunga.

Donghae langsung memeluk Yoona erat, menyampaikan rasa bahagianya.

“terima kasih sayang. Terima kasih”, ujar Donghae.

“aku tidak menyangka kau bisa hamil padahal kau memakai pengaman”, ujar Donghae.

“aku berpura-pura waktu itu, ingin menjahili oppa”, balas Yoona. Seketika Donghae langsung melepas pelukan itu. Ditatapnya Yoona tajam, membuat wanita itu langsung merinding takut.

‘kau melakukan kesalahan besar Lee Yoona. Bodoh!’, maki Yoona pada dirinya sendiri.

Donghae mendekatkan wajahnya pada Yoona, tapi Yoona langsung memundurkan kepalanya.

oppa mau apa?”

“kau sudah tahu apa yang akan ku lakukan, jangan pura-pura seperti itu. Wajahmu saja sudah memerah”, balas Donghae,

“aku tidak mau…sana pergi”, usir Yoona. Otak kotor Donghae sepertinya sedang kumat.

“aww”, keluh Yoona ketika merasakan sentilan kecil dikeningnya.

“sebenarnya bukan hanya aku saja yang mesum disini. Tapi kau juga. Memangnya kau pikir aku ingin melakukan apa sayang?”, tanya Donghae dengan nada menggoda. Yoona langsung salah tingkah.

“aku ingin memeluk anakku tadi. Tapi reaksimu seperti sedang menggodaku untuk bercinta sekarang juga”, ujar Donghae frontal.

“ti-tidak…aku tidak berpikir seperti itu”, balas Yoona gugup.

“kalau bukan seperti itu, kenapa kau menghindar sayang?”, goda Donghae dengan senyum miring.

Yoona yang sudah tidak tahu lagi harus menyembunyikan rasa malunya, langsung mengambil bantal didekat tangannya, dan mengarahkannya ke wajah Donghae.

Buk~

“awww…apa yang kau lakukan?”, ucap Donghae kesal setelah Yoona berhasil memukul wajah Donghae dengan bantal itu.

oppa sangat menyebalkan”, balas Yoona ikut kesal. Kini bibir wanita itu sudah mengerucut.

Melihat itu Donghae langsung gemas. Diraihnya wajah Yoona dengan cepat dan dikecupnya bibir Yoona yang mengerucut.

Cup cup cup~

“kau benar-benar sangat menggemaskan”, ucap Donghae, lalu kembali memeluk Yoona. Sesaat mereka saling diam, menikmati pelukan itu.

“terima kasih sayang. Aku benar-benar sangat bahagia”, tambah Donghae.

oppa tidak marah padaku karena aku membohongi oppa?’, tanya Yoona, kini dia sudah membalas pelukan tapi Donghae langsung menjauhkan badannya – melepas pelukannya.

Dia duduk disamping Yoona, tapi seperti biasa, dia akan meraih pinggang Yoona, meletakkan wanitanya itu dalam pangkuannya. Dan seolah sudah tahu apa yang Donghae inginkan, Yoona merapikan letak duduknya – mengangkangi paha Donghae, hingga kini mereka sudah saling berhadapan.

“kau tahu…ketika waktu itu kau mengatakan belum ingin hamil lagi, sebenarnya aku sangat kecewa”, ucap Donghae jujur. Yoona langsung merasa bersalah. Diarahkannya telapak tangannya dipipi Donghae, diusapnya lembut.

“maafkan aku oppa

“tidak apa-apa sayang. Aku bisa mengerti saat itu kau ingin berkarir dan mengurus Jimin dulu. Aku bisa mengerti. Tapi sekarang, ketika aku mengetahui kau hamil, aku menjadi sedikit khawatir”

“kenapa?”

“bagaimana jika nanti kau kelelahan karena terus bekerja dan mengurus Jimin?”

oppa tidak perlu khawatir…bukankan oppa yang pernah bilang bahwa aku adalah omma yang sangat hebat karena bisa melindungi kehamilanku dengan baik. Aku akan menjaganya dengan baik oppa”, balas Yoona sambil mengusap perutnya.

“ya kau benar…kau omma yang sangat hebat”, puji Donghae.

Mereka pun saling tersenyum, hingga wajah keduanya semakin dekat, dan terjadilah ciuman itu. Mereka mengungkapkan rasa bahagia mereka dari pagutan itu. Tapi beberapa menit kemudian ciuman itu sudah disertai nafsu dan gairah.

Donghae membawa tubuh Yoona hingga terlentang diatas ranjang, dia pun langsung mengecupi leher Yoona hingga tanpa Yoona sadari dia sudah mendesah, menikmati perlakukan Donghae. Hal ini membuat Donghae semakin tidak bisa menghentikan perbuatannya. Dia sangat menginginkan Yoona sekarang.

* * * * * * *

Sepasang manusia sedang menikmati kebersamaan mereka diatas ranjang. Saling berpelukan dibawah selimut yang menutupi tubuh polos mereka setelah memadu kasih tadi.

oppa~ boleh aku meminta sesuatu?”, tanya Yoona yang sedang meletakkan kepalanya didada bidang Donghae.

“kau ingin meminta apa sayang?”

“tadi ketika dirumah sakit, Jimin melakukan video call dengan Wheein. Dan dia mengatakan akan pulang”

“benarkah?”

“iya…tapi sebentar. Setelah itu dia akan kembali lagi”

“kau ingin aku menjauhkan Taehyung darinya?”, tanya Donghae seolah mengerti apa yang Yoona inginkan sekarang. Terbukti lagi, wanita itu kini sudah mengangguk.

“kau masih marah padanya?”, tanya Donghae.

“iya…tapi bukan itu permasalahannya oppa. Aku hanya tidak ingin Wheein tidak nyaman selama disini jika ada pria kaku itu disekitarnya nanti. Aku tidak ingin dia sedih”, jawab Yoona.

“aku bukan bermaksud membelanya. Tapi sebagai seorang pria, aku bisa melihatnya begitu frustasi mencari keberadaan Wheein selama lebih lima tahun ini”, balas Donghae.

Dia memang sering melihat Taehyung diwaktu senggang akan berkutat dengan laptopnya, mencoba mencari keberadaan Wheein atau beberapa kali seseorang menemuinya untuk memberitahukan keberadaan Wheein. Tapi sampai sekarang pria itu belum mengetahui keberadaan Wheein. Dasarnya pria itu saja yang bodoh karena cinta. Padahal Taehyung pernah datang ke negara tempat Wheein tinggal sekarang, untuk urusan pekejaan. Tapi sepertinya pria itu tidak berpikir untuk mencari Wheein disana.

“ya aku bisa melihatnya sering melamun jika datang ke rumah kita. Tapi tetap saja aku tidak ingin pria itu bertemu dengan Wheein”, balas Yoona. Donghae pun menghembuskan napas berat.

“baiklah…aku akan berusaha membuatnya sibuk dikantor ketika kepulangan Wheein”, balas Donghae dan pria itu langsung mendapat perlakuan manis dari istrinya. Yoona mengecup pipi Donghae.

“terima kasih oppa”, ujar Yoona. Donghae hanya bisa tersenyum lebar dan mengangguk saja.

Kamar itu kemudian hening. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga berlahan mata mereka terpejam, dan tertidur.

* * * * * * *

Seminggu berlalu, dan Yoona selalu sibuk didalam ruang kerjanya. Bukan untuk bekerja tapi lebih pada merapikan ruang kerjanya. Merapikan ranjang single yang masih tetap ada disana. Menyiapkan bantal, selimut dan keperluan lainnya sampai pada keperluan dikamar mandi yang ada diruangan itu.

Hari ini adalah kepulangan Wheein ke Korea. Gadis itu akhirnya mau pulang setelah lima tahun pergi untuk mencari kebahagiaannya. Karena terlalu senang, Yoona menjadi begitu bersemangat mempersiapkan keperluan gadis itu dirumahnya. Tentu saja Wheein harus tinggal dirumahnya. Dia tidak akan membiarkan gadis itu tinggal di hotel atau dirumah orang tua gadis itu.

Eunji sedang pergi ke bandara untuk menjemput Wheein. Katanya dia sudah tidak sabar bertemu dengan sahabatnya itu. Awalnya Yoona pun ingin ikut tapi Eunji langsung menolak keras karena takut kenapa-kenapa pada kehamilan Yoona. Beberapa hari yang lalu Yoona memang sudah memberitahu penghuni rumah tentang kehamilannya. Semuanya tampak bahagia dan mengucapkan selamat padanya.

UNNIE~”

Tiba-tiba teriakan seseorang mengagetkan Yoona. Dia terdiam sebentar tapi matanya langsung membulat ketika menyadari suara siapa itu. Dengan cepat Yoona keluar dari ruang kerjanya yang dulunya adalah kamarnya itu. Dia menuruni tangga dengan buru-buru.

“hati-hati unnie”, seru suara itu lagi ketika Yoona sudah sampai dilantai bawah. Yoona tampak diam sejenak, menatap seseorang yang berdiri tidak jauh darinya. Gadis berkulit putih dan berambut pirang. Gadis itu benar-benar sangat berbeda sekarang. Hanya satu yang tidak berubah dari gadis itu adalah dimple-nya.

Yoona mendekati gadis itu dan terus menatapnya. Yoona masih kaget dengan kedatangan gadis itu.

“Whee…pup~”, ucap Yoona lirih. Suaranya tiba-tiba serak dan bergetar.

“iya unnie…ini aku”, balas Wheein dengan senyum lebarnya. Mendengar suara gadis itu lebih jelas membuat Yoona tidak bisa menahan diri lagi. Dia langsung berlari dan memeluk gadis itu.

“aigo~”, seru Wheein ketika Yoona tiba-tiba menumbruk tubuhnya, memeluknya erat.

“dasar anak nakal. Kau benar-benar membuatku hampir gila karena merindukanmu”, ucap Yoona yang kini sudah menangis. Wheein pun membalas pelukan itu dengan perasaan haru.

“maafkan aku unnie”, balas Wheein.

Beberapa menit mereka hanya berpelukan terus, ditatap oleh para penghuni rumah yang juga merasa bahagia atas kepulangan Wheein. Tapi tatapan Wheein tidak sengaja bertemu dengan seorang anak kecil di dekat pintu dapur. Wheein mengerutkan keningnya sesaat. Tapi kemudian dia tersenyum lebar.

“apa itu baby minie?” , tanya Wheein. Yoona pun melepas pelukannya, menatap kearah tatapan Wheein.

“ya…itu Lee Jimin”, jawab Yoona.

“Jimin-ah…kemari. Auntie Whee sudah datang”, ujar Yoona memanggil Jimin.

Berlahan anak kecil itu mendekati Yoona. Tapi matanya tidak lepas dari wajah Wheein. Dia terlihat antusias ingin mendekati Wheein tapi dia menahan dirinya. Jimin berdiri beberapa langkah didepan Yoona dan Wheein. Sesekali dibenarkannya letak kacamatanya.

Wheein berlutut untuk menyamakan tingginya dengan Jimin. Wheein tersenyum lebar melihat anak itu yang masih terlihat diam saja.

“kau tidak ingin mengatakan apapun pada auntie Whee?”, tanya Yoona karena Jimin hanya diam saja. Jimin mendongak menatap Yoona sejenak, lalu kembali lagi menatap Wheein didepannya. Berlahan kaki mungilnya melangkah semakin mendekati Wheein.

Berlahan tangannya terulur mendekati wajah Wheein. Gadis itu hanya diam saja, menunggu apa yang ingin Jimin lakukan. Kemudian dia dapat merasakan salah satu jari mungil anak itu menusuk-nusuk pipinya – tepatnya dimple-nya.

“sepertinya dia menyukai dimple ku. Sama seperti unnie”, ucap Wheein dibalas Yoona dengan kekehan.

“dalam”, lirih Jimin, menilai kedalaman dimple Wheein.

baby Minie tidak ingin memeluk auntie?”, tanya Wheein. Dan seketika itu dia langsung merasakan tubuhnya ditubruk oleh Jimin. Anak kecil itu langsung memeluk Wheein erat, mengalungkan tangannya dileher Wheein. Wheein pun tersenyum dan membalas pelukan kecil itu.

“owww…ternyata kau sangat merindukan auntie

“iya…auntie Whee lama sekali pulangnya”

“maafkan auntie ya”

“mmm”

Yoona hanya menonton kebersamaan anaknya dengan sahabatnya itu. Sahabat yang setelah sekian lama akhirnya kembali. Sahabat yang hampir meregang nyawa karena menyelamatkannya lima tahun yang lalu.

“ohh…Nona Jung ternyata sudah pulang”, ujar seseorang dari arah pintu masuk. Wheein pun menoleh kebelakang dan menemukan Donghae disana.

sajangnim”, seru Wheein.

“kau tetap saja memanggilku seperti itu”, balas Donghae mendekat. Lalu mengusap kepala Wheein. Dia sudah menganggap gadis itu seperti adiknya sendiri.

“aku sudah terbiasa. Sulit untuk merubahnya sajangnim”, balas Wheein. Donghae hanya membalasnya dengan senyum. Lalu mata Donghae teralih pada Jimin yang masih memeluk leher Wheein.

“hai anakku yang tampan. Kau tidak ingin memeluk appa? Appa pulang cepat hari ini”, seru Donghae menatap Jimin yanga tetap menempel pada Wheein.

“tidak”, balas Jimin santai. Donghae langsung kaget.

“ini appa. Kau tidak ingin memeluk appa seperti biasanya?”, tanya Donghae lagi. Masih tidak rela Jimin mengacuhkannya.

“tidak. Aku ingin dengn auntie Whee. Appa bersama omma saja”, balas Jimin langsung membuat Donghae cemberut.

“sayang…dia mengacuhkanku. Aku bersama mu saja kalau begitu”, ucap Donghae ingin memeluk Yoona. Tapi Yoona pun langsung menepis pelukan Donghae.

“aku juga masih ingin bersama Wheein. Oppa pergi ke ruang kerja saja”, balas Yoona juga mengacuhkan Donghae.

“wahhh…semua orang mengacuhkanku. Ini semua karena kau, Jung Wheein. Kau merebut semua kebahagiaanku”, ujar Donghae dan langsung berlalu ke dapur dengan menghentak-hentakkan kakinya, kesal.

Yoona, Wheein dan Jimin menatap Donghae dengan senyum. Pria itu sedang merajuk seperti anak kecil. Bahkan melebihi kelakuan Jimin.

“pergilah unnie. Sepertinya sajangnim sedang marah”

“tidak. Biarkan saja. Dia memang selalu seperti itu. Kekanak-kanakan”

“tapi aku jadi merasa tidak enak pada sajangnim karena merebut perhatian istri dan anaknya”

“baiklah”, balas Yoona mengalah. Dia pun melangkah ke dapur. Sepertinya dia harus merayu pria itu agar tidak marah lagi.

“ayo kita menonton. Ini jadwal film kesukaanmu kan”, ujar Wheein. Dia memang tahu kebiasaan Jimin karena anak itu setiap melakukan video call atau menghubunginya selalu memberitahukan apa yang akan dilakukannya dalam seharian penuh. Jimin sangat terbuka padanya.

“iya…ayo auntie kita menonton”, ajak Jimin, langsung menarik Wheein ke ruang santai.

* * * * * * *

Keesokan harinya kediaman Lee Donghae dan Im Yoona tampak sangat ramai. Terkhusus ditaman belakang rumah itu. Mereka sedang merayakan hari pernikahan Donghae dan Yoona. Bukan pesta besar-besaran. Hanya sebuah acara makan dan BBQ saja. Yang ada disana pun hanya penghuni rumah saja, termasuk para maid. Perayaan itu sekaligus untuk menyambut pulangnya Wheein.

Mereka sudah duduk didepan meja besar yang disiapkan ditengan-tengah taman itu. Semua berkumpul disana.

Donghae berdiri di ujung meja, menatap semua yang ada disana. Dia tersenyum senang.

“mmm…pertama-tama aku ingin mengucapkan terima kasih untuk kalian yang sudah menyiapkan acara ini”, ujar Donghae menatap para maid yang ada disana.

“aku memohon doa kalian untuk kehidupan keluaga kami dihari yang akan datang, agar selalu bahagia dan harmonis. Aku juga ingin mengucapkan terima kasih untuk istriku tercinta”, kali ini Donghae menatap Yoona yang duduk disampingnya. Menatap wanita itu dengan mata teduh dan penuh cinta.

“terima kasih karena kau selalu memberikan cintai yang sangat besar untukku. Tetaplah disisiku selamanya sampai maut memisahkan kita. Kau mau kan?”, ujar Donghae. Mata Yoona sudah berkaca-kaca. Pria itu selalu membuatnya terharu. Yoona pun mengangguk.

“aku sangat mencintaimu sayang~”

“aku juga sangat mencintaimu oppa”, balas Yoona. Mereka saling bertatapan membuat orang-orang yang ada disana iri.

“untuk putraku yang selalu mengatakan dirinya lebih tampan dariku. Walaupun sebenarnya aku masih yang lebih tampan darinya”, ujar Donghae menatap Jimin yang duduk disamping Wheein.

“aku memang lebih tampan appa. Buktinya omma lebih suka bersamaku dibandingkan appa”, balas Jimin dengan santai. Semua yang ada disana langsung tertawa karena interaksi Donghae dan Jimin yang sangat lucu.

“aish…anak ini. Tapi walaupun begitu appa selalu berdoa agar anak appa yang mengaku dirinya tampan ini, bisa tumbuh menjadi pria hebat nantinya dan menjadi pelindung untuk adiknya nanti. Tumbuhlah dengan sehat dan jangan suka melawan appa”, ujar Donghae. Jimin hanya diam saja tidak menjawab.

“hei…kau mendengar apa yang appa katakan?”, tanya Donghae kesal.

“iya appa…iya”, balas Jimin mengalah saja.

“bagus”

“dan terakhir untuk Jung Wheein…selamat datang dan jangan sering-sering pulang. Karena kau adalah pencuri kebahagiaanku”, ujar Donghae dengan nada bercanda. Wheein hanya terkekeh mendengarnya.

“aish…oppa”, tegur Yoona.

“aku hanya bercanda sayang”, balas Donghae.

“untuk semuanya…mari kita bersulang untuk kebahagiaan kita diesok harinya”, seru Donghae sambil mengangkat geras berisi winenya.

“untuk kebahagiaan kita esok harinya”, seru mereka bersama dengan saling menumbrukkan gelas satu sama lain.

“untuk kebahagiaan auntie”, ucap Jimin mengarahkan gelas berisi juice strawberrynya pada Wheein. Gadis itu tersenyum dengan perkataan anak kecil itu.

“untuk kebahagiaan baby Minie”, balas Wheein, menumbrukkan gelasnya pada gelas Jimin.

Setelah itu mereka menikmati acara selanjutnya dengan aksi panggung dari para maid dan tentunya Wheein juga. Mereka bersenang-senang disana. Tidak menyadari seseorang yang berdiri didepan gerbang menunggu gerbang dibuka.

Taehyung terus-menerus menekan bel yang terpasang didekat gerbang rumah itu. Tapi tidak ada juga yang mau membuka gerbang itu. Security pun tidak ada di pos jaga.

“apa sedang ada acara disana?”, pikir Taehyung karena dia dapat mendengar musik secara jelas dari balik gerbang itu. Dia ingin pulang saja, tapi dokumen yang ada ditangannya sekarang sangat membutuhkan tanda tangan Donghae. Ini adalah surat yang harus dibawanya ketika tugas nantinya di Kanada selama sebulan.

Taehyung melihat pintu kecil, bagian dari gerbang itu. Dia mendekatinya. Berharap pintu itu terbuka. Ketika memasukkan tangannya kelubang kecil disana, dia dapat meraih handel pengunci pintu itu, dan langsung menariknya. Pintu kecil itu pun terbuka. Dia merasa sangat beruntung.

Dia berjalan mengitari halaman itu menuju samping rumah. Jalan kecil menuju taman belakang. Ketika sudah tiba disana, Taehyung cukup terkejut dengan suasana disana. Ramai dan sedikit berisik.

“apa yang kau lakukan disini?”, tanya seseorang dari samping Taehyung. Pria itu pun menoleh dan menemukan Eunji dibelakangnya.

“ohh…aku ingin bertemu dengan sajangnim. Memberikan dokumen ini”, jawab Taehyung sambil menunjukkan map ditangannya. Pria itu terlihat canggung. Karena Eunji menunjukkan wajah tidak bersahabat. Gadis itu menatapnya tajam.

“oh…Tuan ada disana”, balas Eunji menunjuk teras rumah. Dan benar Donghae dan Yoona ada disana sedang duduk, berdua.

Setelah itu Eunji langsung pergi, melangkah dengan cepat atau bisa dikatakan berlari. Eunji harus mencegah Wheein untuk keluar dari kamar Jimin. Tadi Wheein sedang menemani Jimin mengganti pakaian anak itu karena tertumpah juice. Eunji tidak ingin Wheein bertemu dengan pria yang sudah menyakiti sahabatnya itu.

Taehyung mengerutkan keningnya melihat tingkah Eunji yang aneh itu, tapi dia segera mengabaikannya. Dia pun langsung menghampiri Donghae.

“permisi sajangnim”, seru Taehyung, yang langsung membuat Donghae dan Yoona terlonjak kaget. Taehyung menatap mereka dengan kening mengerut karena reaksi pasangan suami istri itu terlihat berlebihan.

“u-untuk apa kau datang ke sini?”, tanya Yoona gugup. Dia mengedarkan pandangannya untuk memastikan Wheein tidak ada disekitarnya. Dan dia langsung merasa lega, tidak ada Wheein disana.

“maaf Nona. Saya ingin meminta tanda tangan sajangnim”, balas Taehyung.

“berikan”, ujar Donghae cepat. Tidak ingin pria itu terlalu lama disana. Dia juga tidak ingin terjadi keributan dihari bahagianya.

“kau menerima tawaran itu?”, tanya Donghae ketika melihat dokemen pemberian Taehyung.

“benar sajangnim”, balas Taehyung.

“tawaran apa oppa?”, tanya Yoona.

“tugas selama sebulan di Kanada”, balas Donghae menatap Yoona dengan wajah khawatir.

“APA?”, tanya Yoona lagi-lagi, yang menurut Taehyung reaksi Yoona berlebihan.

Setelah itu Yoona terdiam, tampak berpikir. Hal itu tidak lepas dari tatapan Taehyung. Dia merasa ada yang aneh dengan penghuni rumah ini.

“ini”, ucap Donghae langsung membubuhkan tanda tangan di dokumen itu. Lalu memberikannya pada Taehyung.

“kalau begitu saya permisi”, ujar Taehyung membungkuk hormat lalu pergi.

“kenapa oppa membiarkannya pergi ke Kanada?’, tanya Yoona kesal.

“bukan aku yang menugaskannya kesana sayang. Tapi appa”, jelas Donghae.

“tapi kan dia sekretaris oppa

“tapi aku tidak ada kuasa jika sudah appa yang memerintah sayang”

Yoona hanya dapat menghembuskan napas berat. Dia hanya bisa berdoa semoga semuanya baik-baik saja.

Ketika ingin pergi dari taman belakang itu, Taehyung melihat Jimin seperti sedang mencari sesuatu.

samchon…Apa samchon melihat auntie?”, tanya Jimin polos. Dia mencari-cari Wheein yang tiba-tiba hilang.

“tidak”, balas Taehyung yang berpikir Jimin sedang mencari Eunji.

“yah…”, keluh anak itu. Tapi tiba-tiba matanya langsung berbinar ketika menemukan yang dicarinya.

auntie”, serunya sambil menunjuk kebelakang Taehyung. Taehyung pun menoleh dan matanya langsung membulat. Melihat Wheein disana. Dilayar besar sedang mengucapkan sesuatu untuk Yoona dan Donghae.

“Unnie…sajangnim…selamat atas hari pernikahan kalian. Aku turut bahagia untuk kalian. Senang rasanya akhirnya aku bisa menyampaikan video ini. Sebenarnya video ini ingin ku berikan ketika hari pernikahan kalian lima tahun yang lalu. Tapi ada masalah sedikit disini”, ucap Wheein dalam video yang diputar itu.

Taehyung mendekat kearah layar yang menampilkan wajah gadis yang sudah hampir lima tahun lebih dicarinya itu. Gadis yang tiba-tiba menghilang dari hidupnya. Gadis yang membuat Taehyung seperti orang gila karena tidak bisa menemukan gadis itu. Dia menatap sedih layar itu.

Tapi pria itu tidak ingin menunjukkan wajah sedihnya didepan orang lain. Diputuskannya untuk berbalik dan kembali ke kantor saja. Setidaknya dengan bekerja dia bisa sedikit melupakan gadis itu.

Pria kaku itu tidak menyadari seorang gadis berambut pirang yang duduk tidak jauh didepannya tadi, juga sedang menonton dirinya sendiri dilayar itu.

* * * * * * *

Suasana ditaman itu masih ramai. Pesta-pesta mereka belum juga selesai. Tapi saat ini sedang dalam suasana syahdu dengan Wheein yang sedang menyanyi dipanggung. Menyanyikan sebuah lagu cinta untuk Yoona dan Donghae yang kini sedang berdansa ditengah taman. Semua orang disana memberi ruang untuk pasangan itu menikmati waktu-waktu mereka berdua saja ditengah taman itu.

“apa aku sudah mengatakan jika kau sangat cantik hari ini sayang?”, tanya Donghae sambil menggerakkan tubuhnya membawa Yoona ke kiri dan kanan. Hanya dansa sederhana. Karena mereka pun sebenarnya tidak bisa berdansa.

“sudah. Mungkin sudah ada lebih dari sepuluh kali. Sampai aku bosan mendengarnya”, balas Yoona. Dia ingat sedari pagi ketika Yoona keluar dari kamar dengan gaun biru pemberian pria itu, Donghae tiada henti memuji kecantikannya sampai-sampai Yoona merasa risih.

“benarkah? Kenapa aku merasa aku belum mengucapkannya? Mungkin karena kecantikanmu membuatku menjadi lupa segalanya sayang”, goda Donghae.

“dasar perayu”, cibir Yoona tapi pipinya memerah.

“apa aku sudah mengatakan aku mencintaimu hari ini?”, tanya Donghae lagi.

Yoona menatap pria yang sangat dicintainya itu. Dia menatap mata teduh yang sangat disukainya itu. Mata yang selalu membuatnya semakin jatuh cinta pada pemiliknya.

“kurasa sudah tadi pagi setelah oppa bangun”, balas Yoona.

“tapi untuk yang satu ini kau tidak boleh bosan. Aku akan terus mengatakan jika aku mencintaimu bahkan dalam keadaan kritis sekalipun”, ucap Donghae membalas tatapan Yoona.

“Im Yoona…terima kasih sudah mencintaiku. Terima kasih karena selalu ada disisiku. Terima kasih sudah mau menerimaku menjadi suamimu. Terima kasih karena selalu sabar menghadapi sifat kekanak-kanakanku. Tanpa mu aku tidak akan bisa merasakan kebahagian seperti saat ini”

Kata-kata Donghae itu membuat Yoona langsung terharu. Dipeluknya pria itu erat, menyampaikan rasa cintanya yang sangat besar pada pria itu.

“Lee Donghae…terima kasih karena sudah membuatku sebahagia ini”, balas Yoona singkat.

Keduanya saling berpelukan. Menyampaikan perasaan satu sama lain yang begitu besar.

saranghae~”

nado saranghae

Donghae melepas pelukan itu, menatap wajah cantik Yoona. Seolah mengerti dengan tatapan itu, Yoona memejamkan matanya hingga dia dapat merasakan bibir Donghae yang menempel diatas bibirnya. Awalnya hanya menempel, tapi sekarang mereka sudah saling melumat. Yoona selalu merasa tidak berdaya dengan ciuman lembut Donghae yang seperti itu. Seolah pria itu ingin menyalurkan seluruh cintanya dari ciuman itu. Perasaan yang menganggap Yoona begitu sangat berharga untuknya dan tidak ingin kehilangannya. Dan Yoona pun tahu dirinya juga merasakan hal yang sama seperti yang Donghae rasakan.

THE END

 

Hai semuanya…

Ini adalah extra chapter dari After Married yang sebenarnya hanya ada di Ebook aja. Tapi karena aku merasa mau nyapa reader-nim hanya say hello rasanya kurang pas, tadi aku kasi extra ini aja, ya walaupun masih lebih lengkap di ebook untuk keseluruhan.

Aku update hari ini bukan berarti aku udah mau mulai update cerita baru lagi ya. Ini hanya pertanda aku masih “hidup” hehehehe

Aku belum bisa update cerita baru karena masih sibuk ngurus skripsi.

Aku akan hiatus berminggu-minggu atau mungkin sebulan lebih.

Aku harap kalian bisa lebih bersabar ya reader-nim. Aku usahain untuk secepatnya menyelesaikan skripsi aku, karena aku pun gak pengen lama-lama hiatus. Udah banyak ide cerita nih, jadi takut lupa lagi.

Nah untuk cerita berikutnya adalah yang pasti LOCO dan yang satu ini…. (nunjuk dibawah)

 Mockups Design

MODERATO LOVE…

Ini cerita dari TAEIN (TAEHYUNG & WHEEIN), Supergirls#2 setelah After Married. Dan nanti ada juga Supergirls#3. Siapa pasangan untuk cerita ke-3, masih rahasia.

Jadi trilogy supergirls ini aku dedikasikan untuk wanita-wanita strong yang berjuang dalam hidupnya sampai mendapatkan kebahagiaan masing-masing. #wonderwomen

 

Aku itu aja dulu yang bisa aku infoin.

Jangan lupa like dan commentnya ya reader-nim..

See u di beberapa minggu ke depan. *bow

 

|11 Juni 2017|

Advertisements

7 thoughts on “After Married EXTRA : HAPPY ENDING

  1. ichus

    Awwww manis sekali weh. Yoonhae bahagia, jimin narsis kek bapaknya.
    Taehyung yg malang, kasihan weh. Baikan donk sama wheein, gk tega klo dia jdi frustasi lama2

    Loco thor… dtunggu bgt ituu 😁

  2. trywach

    heeeeemmmm akhirnya semua bhagia,,,,
    yoonhae so sweet,,,,
    jimin ah kasihan masih kecil harus pke kcamata minus lgi

  3. Yani 86

    Suka, terasa tambah komplit aja ceritanya,

    semangat nyusun skripsinya ya,,,,,,
    slalu di tunggu karya karyamu yang baru.

    Fighting!!!

  4. Lina indri

    Kangen sma smua cerita eonni jngam lma2 ya eon hiatusnya klau kelamaan bosan nunggunya di tunggu selalu eon cerita2nya ☺

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s