After Married – 26

Mockups Design
After Married Cover Ebook

Author: Fi_ss

Tittle: After Married – 26 – Gone

Lenght: Chapter

Cast: Im Yoona and Lee Donghae

Other Cast: Kim Heecul, Tiffany Hwang, Nicholas, Jung Wheein, Kim Taehyung, Jung Nara, etc

Genree: Romance, married life, Family, etc

Rate : 17+

Author Note: Sorry klo masih banyak typo.

Happy reading & Leggo~

>>>>>>>

– GONE –

Seorang gadis terdiam menatap keluar kamarnya dengan pandangan kosong. Sudah seminggu lebih dia didalam kamar itu, tanpa bisa keluar. Matanya bahkan terlihat membengkak karena terus menerus menangis dan ada lingkaran hitam dimatanya karena tidak bisa tidur. Walaupun kamar itu dilengkapi dengan ranjang empuk, tapi bagaimana dia bisa tidur jika dirinya dalam keadaan disekap.

Krek

Tiffany menoleh ketika pintu kamar itu terbuka, memunculkan seseorang yang akhir-akhir ini sering mengantarkan makanan untuknya.

“Jika kali ini kau tidak mau makan lagi, kau akan mempercepat kematianmu”, ucap pria itu dengan senyum mengejek. Tiffany hanya diam saja menatap pria itu dengan wajah datar. Tiffany tidak menunjukkan ekspresi apa pun saat ini.

“katakan pada pria brengsek itu untuk menemuiku. Jangan menjadi pengecut”, ucap Tiffany, mengabaikan pria itu.

“kau ini memang sangat bodoh. Jika dia datang kesini, kau akan mati segera”, balas pria itu.

“aku akan mati atau tidak itu bukan urusanmu”, balas Tiffany dan langsung membuang makanan itu didepan pria itu.

“aish kau ini”, ucap pria itu kesal hampir melayangkan pukulan pada Tiffany. Untung saja pria itu menahannya karena takut jika bossnya akan marah jika gadis didepannya itu terluka. Dengan perasaan kesal pria itu keluar dan kembali mengunci Tiffany.

Tiffany kembali menatap keluar jendela. Dia hanya bisa berharap pada orang lain yang mau menolongnya. Karena kamar yang ditempatinya saat ini baik dari pintu hingga jendela terkunci rapat.

Brak

Pintu tiba-tiba kembali terbuka dan kali ini terdengar dentuman keras. Tiffany bahkan terlonjak kaget dengan bunyi itu. Tapi secepat kilat Tiffany langsung menyembunyikan keterkejutannya ketika mengetahui yang masuk ke kamar itu adalah pria brengsek yang menyekapnya.

“kau benar-benar tidak ingin makan?”, tanya pria itu dengan nada dingin sambil meletakkan sepiring makanan diatas meja. Lalu pria itu bersandar diambang pintu dengan gaya menyebalkan.

“keluarkan aku dari sini”, ujar Tiffany.

“tidak…sebelum aku mendapatkan apa yang ku inginkan”, balas pria itu.

“dasar serakah. Kau menginginkan istri orang lain yang tidak akan pernah bisa menjadi milikmu”, balas Tiffany.

“Yoona tidak akan mau bersamu mu walaupun dia sampai harus berpisah dari Donghae”, tambah Tiffany.

Pria itu melangkah menghampiri Tiffany dengan cepat dan ketika tiba didepan Tiffany langsung menampar pipi kiri gadis itu.

Plak

Tiffany langsung menyentuh pipinya yang langsung memanas. Matanya pun langsung berkaca-kaca. Bukan karena sakit ditampar tapi lebih pada sakit dihatinya karena ini pertama kalinya pria itu menamparnya setelah hampir tiga tahun mereka bersama.

Tiffany menatap pria itu dengan mata tajam seolah ingin membunuh pria itu sekarang.

“jangan pernah memancing amarahku jika kau tidak ingin merasakannya lagi. Yoona akan tetap menjadi milikku. Seharusnya akulah yang berhak memiliki Yoona”, ujar pria itu dengan segala penekanan di kalimatnya. Tiffany mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan ucapan pria itu.

“apa maksudmu dengan seharusnya kau yang memiliki Yoona?”, tanya Tiffany.

“kau tidak tahu akulah yang seharusnya menjadi suami Yoona. Harusnya begitu jika saja appa tidak meninggal dan keluarga Lee brengsek itu datang menghancurkan semuanya. Harusnya kerjasama perusahaan keluarga Im terjalin dengan keluarga Henney. Harusnya seperti itu. Harusnya aku yang memiliki Yoona”, ucap pria itu.

“a-apa?”, Tiffany sangat kaget mendengar perkataan itu. Ny Im- unnienya tidak pernah mengatakan jika sebelumnya kerjasama sepuluh tahun yang lalu itu awalnya bersama dengan keluarga Henney.

“Ti-tidak mungkin”, Tiffany tidak percaya atau tidak bisa menerima itu.

‘apa karena itu dia semakin terobsesi pada Yoona?’, batin Tiffany.

“terserah kau mau percaya atau tidak. Yang jelas aku akan tetap mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku”, ujar pria itu dan langsung berlalu dari hadapan Tiffany.

“lalu…bagaimana denganku?”, tanya Tiffany dengan kepala menunduk. Bagaimanapun dia harus tahu nasibnya setelah ini. Apakah pria itu akan membunuhnya atau melepaskannya dengan perasaan yang sudah hancur sekarang ini.

“aku akan mengakhiri semuanya. Setelah aku mendapatkan Yoona, aku akan segera mengatakan pada omma bahwa pertunangan ini hanya pura-pura saja”, balas pria itu dengan santainya dan langsung keluar, menuntup pintu itu hingga terdengar suara terkunci.

Tiffany langsung terduduk dilantai. Kakinya lemas seperti tidak bertulang. Dia masih kaget dengan penjelasan pria itu. Dia tidak pernah tahu tentang itu. Dia tidak pernah berpikir jika sebelumnya keluarga unnienya pernah hampir menjalin kerjasama dengan keluarga pria itu. Dan omma pria itu pun tidak pernah menceritakannya.

Berlahan air mata Tiffany berjatuhan, membasahi pipinya. Jadi selama ini seperti itu yang direncanakan oleh pria itu. Dia tetap mempertahankan pertunangan pura-pura itu agar bisa tetap mendekati Yoona. Yang secara berlahan akan pria itu rebut, ketika semua orang lengah. Jadi selama ini dirinya hanya dijadikan alat untuk mencapai apa yang pria itu inginkan. Betapa brengseknya pria itu.

“BRENGSEk~”, teriak Tiffany putus asa. Dia marah karena hanya dijadikan mainan pria itu. Dia bahkan hampir mencelakan Yoona secara tidak langsung kemarin.

>>>>>>>

Waktu itu sebenarnya Tiffany sedang mengunjungi pria itu karena Ny Henney memintanya. Pria itu tiba-tiba hilang tanpa kabar sedikitpun sehingga membuat Ny Henney khawatir. Wanita paruh baya itu meminta Tiffany untuk mencari keberadaan pria itu. Ketika mengunjungi pria itu ke apartemennya, karena sudah tahu PIN apartemen pria itu, Tiffany langsung masuk. Tapi ketika mencari keberadaan pria itu, tiba-tiba dia tidak sengaja mendengar perkataan pria yang sedang bertelepon.

“aku akan memancing Yoona untuk datang ke restoran itu. Kau bersiap-siap saja untuk membawanya ketika dia sudah tiba disana”

“aku akan mengawasi diluar restoran itu”

Saat itu Tiffany takut pria itu akan melakukan sesuatu yang jahat pada Yoona. Dia tidak ingin Yoona sampai datang ke restoran itu.

Dengan tekat yang kuat, Tiffany secara diam-diam keluar dari apartemen itu dan segera menuju basement. Dia akan mengikuti pria itu. Tiffany tidak tahu kemana tujuan pria itu, karena dia tidak menyebutkan nama maupun alamat restoran itu.

Saat pria itu sudah keluar dari apartemennya, pria itu menggunakan mobil berwarna hitam, yang belum pernah Tiffany lihat. Tiffany terus mengikuti mobil pria itu dengan menjaga jarak, agar tidak mencurigakan.

Ketika melihat pria itu tiba disebuah restoran tidak jauh dari apartemennya. Tiffany langsung melihat seorang pria yang memakai topi hitam masuk ke dalam mobil pria itu. Tiffany diam menunggu, hingga pria bertopi itu keluar. Gadis itu keluar dari mobilnya dan langsung masuk ke pintu belakang restoran itu. Dia langsung mencari pria bertopi hitam itu. Dan ketika menemukan pria itu sedang memesan makanan pada seorang pelayan restoran di salah satu meja paling pojok.

Seorang pelayan berpapasan dengan Tiffany dan gadis itu langsung mendapatkan ide. Dia meminjam perlengkapan pelayan itu mulai dari seragam hingga kacamatanya, hingga gadis itu berpenampilan seperti pelayan. Ketika sudah merasa penempilannya berbeda, bertepatan pada saat itu pesanan pria itu sudah selesai dibuat – hanya segelas juice saja. Sambil sedikit menunduk Tiffany mengambil juice itu dan membawanya ke meja pria bertopi itu. Sesaat Tiffany terdiam dibelakang pria itu, berpikir apa yang harus dilakukannya agar dapat mengulur waktu pria itu untuk bertemu dengan Yoona.

Tiffany menatap kaki pria itu yang keluar dari meja. Melihat itu Tiffany langsung melangkah mendekati pria itu tapi dengan sengaja menyandungkan kakinya pada kaki pria itu sehingga tubuhnya dibuat seolah-olah oleng dan juice yang berada dinampan yang dibawa gadis itu langsung terjatuh tepat mengenai baju pria itu.

“yakkk”, teriak pria itu kaget. Pria itu langsung berdiri menatap Tiffany dengan kesal.

“ma-maaf Tuan…saya tidak sengaja. Saya tersandung kaki tuan tadi”, jelas Tiffany sambil menunduk. Tidak ingin pria itu sampai melihat wajahnya.

“aish…sialan”, umpat pria itu dan langsung pergi. Seorang pelayan yang melihat kejadian itu, langsung menghampiri Tiffany dan memarahinya. Tapi ketika melihat wajah Tiffany yang asing baginya, membuat pelayan itu menatap Tiffany dengan kening mengerut.

“kau siapa? Kau pelayaan baru?”, tanya pelayan itu.

“i-iya. Maafkan saya. Saya akan segera membersihkannya”, ucap Tiffany segera menghindari pelayan itu dan berlalu ke belakang. Dibelakang, dia segera melepas semua perlengkapan pelayan yang dipinjamnya tadi. Lalu mengembalikannya pada pelayan yang masih menunggunya ditoilet. Setelah memberikan beberapan lembar won pada pelayan itu, Tiffany langsung keluar dari toilet itu. Tapi sialnya si pria bertopi itu juga keluar dari toilet khusus pria.

Awalnya Tiffany kaget tapi dengan menahan rasa takutnya Tiffany berlalu begitu saja dari samping pria itu seolah-olah tidak mengenal pria itu. Tapi langkah gadis itu langsung berhenti ketika melihat keributan direstoran itu.

Yoona sedang bertengkar dengan Nara. Terjadi keributan disana, yang tidak diduga sebelumnya. Tiffany hanya ingin mengulur waktu agar pria itu tidak bertemu dengan Yoona. Tapi sepertinya pertengkaran Yoona dan Nara itu cukup membantu ketika pria bertopi itu keluar dari restoran. Mungkin dia berpikir situasi sekarang tidak mendukung untuk melaksanakan perintah bossnya itu.

Tiffany langsung bersembunyi ketika melihat Yoona yang dipapah oleh Eunji keluar dari restoran. Dia tidak ingin Yoona melihatnya saat itu. Entah apa yang Tiffany pikirkan saat itu.

Disatu sisi dia tidak ingin Yoona terluka. Tapi disisi lain dia tidak ingin pria yang selama ini dicintainya itu mendapatkan apa yang dia mau. Dia tidak ingin kehilangan pria itu. Saat ini yang bisa Tiffany lakukan adalah mengulur waktu terus-menerus.

Setelah semuanya aman, Tiffany keluar dari pintu belakang restoran itu. Menuju mobilnya yang diparkirkannya sembarangan dijalan. Ketika masuk ke mobilnya, Tiffany langsung terduduk lemas. Ini pertama kalinya dia melakukan hal berbahaya. Jika pria bertopi itu mencurigainya mungkin saja nyawanya yang akan melayang. Tiffany menatap mobil hitam yang tadi terparkir tidak jauh dari mobilnya, dan mobil itu sudah tidak ada disana lagi.

>>>>>>>

Seorang pria sedang mendengarkan seluruh laporan anak buahnya tentang kepergian Donghae dan Yoona ke Sicilia. Pria itu tidak menyangka jika Donghae mengalihkannya dengan cara menjauhkan Yoona darinya dengan cara seperti itu. Hal ini memicu kemarahan dari pria itu.

“dasar bodoh. Kenapa baru sekarang kau melaporkannya”, marah pria itu.

“ma-maafkan saya Tuan. Saya baru mendapatkan informasi itu ketika saya menyamar mengunjugi rumah mereka. Dan security mereka mengatakan sedang tidak ada Donghae maupun Yoona disana. Maafkan saya Tuan” , ucap pria gendut itu dengan kepala menunduk.

“AKHHH”, teriak pria itu sambil melemparkan gelas yang digenggamnya pada pria itu, untung saja tidak benar-benar kena. Tapi serpihan dari gelas kaca itu mengenai wajahnya. Membuat pipi pria gendut itu berdarah.

“sampai kapan mereka disana?”, tanya pria itu setelah dapat mengendalikan amarahnya.

“be-besok mereka sudah kembali Tuan”, jawab pria gendut itu dengan terbata.

“percepat rencananya. Jangan mengulur waktu lagi. Mulailah dari gadis mengganggu itu. Ingat jangan sampai gagal lagi. Jika kali ini kau gagal lagi, ku pastikan istri dan anakmu yang akan menanggung akibatnya. Kau mengerti!”, ancam pria itu sambil menatap pria gendut itu dengan mata nyalang.

“ba-baik Tuan. Ka-kalau begitu saya permisi”, ucap pria itu dan dengan cepat keluar dari kamar tempat Tuannya itu selalu bersembunyi.

Pria itu menatap keluar pada dinding kaca yang langsung menampakkan bangunan-bagunan gedung pencakar langit. Rahangnya mengeras sambil memikirkan kebenciannya pada Donghae karena sudah merebut tempatnya. Tempatnya disamping Yoona. Tempatnya sebagai suami Yoona.

“setelah ini…kau akan menjadi milik ku Im Yoona. Tidak akan ada lagi yang akan mengganggu kita”, ucap pria itu dengan senyum liciknya.

“kau akan datang dengan sendirinya kepadaku”

Dia sudah menyiapkan sebuah rencana yang akan mengecoh semua orang hingga mereka tidak akan sadar Yoona akan datang sendiri kepadanya dan dengan pasrah berada disisinya. Kali ini dia tidak akan lagi gagal lagi membawa Yoona dan menghancurkan Lee Donghae.

Setelah ini, semuanya akan kembali pada tempatnya. Yoona akan berada ditangannya seperti yang seharusnya terjadi sepuluh tahun yang lalu. Dia akan mendapatkan Yoona bagaimana pun caranya, termasuk dengan cara kasar sekalipun.

>>>>>>>

Yoona bangun dari tidurnya ketika jam sudah menunjukkan jam 9 pagi. Walaupun begitu wanita itu masih merebahkan dirinya diatas ranjang. Tubuhnya masih terasa sangat lelah setelah kepulangan mereka dari Sicilia semalam. Seharusnya mereka tiba siang hari tapi karena ada gangguan penerbangan, jadwal kepulangan mereka ditunda beberapa jam. Dan akhirnya setibanya di rumah ketika hari sudah gelap.

Setelah tiba dirumah, semuanya langsung berpencar menuju kamarnya masing-masing. Wheein bahkan menginap dikamar Yoona semalam karena tidak sanggup untuk pulang lagi. Tapi Taehyun tetap pulang ke apartemennya.

Yoona meraba-raba sisi kanan ranjang, dan tidak menemukan seseorang disana. Berlahan mata Yoona terbuka lalu duduk dengan mulut yang terbuka lebar – menguap.

“oppa~”, panggilnya, tapi tetap tidak ada yang menjawab.

“Donghae oppa”, panggilnya lagi, tapi hasilnya sama saja.

“hahhh…sepertinya dia sudah berangkat ke kantor”, gumamnya lalu kembali merebahkan tubuhnya. Ketika wanita itu memposisikan dirinya ke sebelah kanan, matanya menemukan sebuah gelas lengkap dengan tutupnya. Karena penasaran, Yoona pun kembali bangkit dari tidurnya. Diatas nakas disampingnya ternyata terdapat sebuah nampan berisi dua lembar roti, segelas susu dan juga segelas air putih. Diatas nampan itu juga terdapat secarik kertas.

Selamat pagi istriku yang cantik~

Aku menyiapkan ini untukmu~

Jangan lupa dimakan

Aku akan usahakan pulang cepat hari ini

Dari suamimu yang tampan – Lee Donghae

Nb: Aku mencintaimu~

Yoona terkekeh membaca isi kertas itu. Ternyata Donghae yang menyiapkan sarapan untuknya. Tiba-tiba Yoona merindukan pria itu. Padahal selama tiga hari di Pulau Praslin, Pantai Anse Lazio, mereka selalu menghabiskan waktu bersama. Tapi sekarang baru berpisah beberapa jam, dia sudah merindukan suaminya itu.

“hahh oppa~”, keluh Yoona karena sangat menginginkan prianya itu ada dirumah sekarang.

Yoona beranjak dari ranjang menuju kamar mandi, mencuci muka lalu sikat gigi. Setelah itu, dia membawa nampan itu keluar menuju ruang kerjanya. Ya mulai sekarang kamarnya akan menjadi ruang kerja. Ya walaupun didalam ruang kerjanya tidak akan ada yang berubah termasuk ranjang singlenya. Karena sewaktu-waktu bisa saja Wheein menginap,  jadi biarlah gadis itu tidur disana.

Dengan hati-hati Yoona membawa nampan itu keluar. Ketika tiba di depan ruang kerjanya, Yoona sedikit kesulitan untuk menekan PIN pengaman pintunya karena kedua tangannya sedang memegang nampan. Tapi pintu itu tiba-tiba terbuka membuat Yoona terlonjak kaget.

“ada apa unnie?”, tanya Wheein yang muncul dari dalam kamar itu.

“Ya Tuhan kau mebuatku kaget”, ujar Yoona kesal.

“maaf unnie…aku sedang buru-buru tadi”

“ada apa? Kau mau kemana?”, tanya Yoona melihat Wheein sudah terlihat rapi.

“aku harus ke BONGUAN Corp unnie. Pihak agensi meneleponku, katanya BONGUAN membatalkan kontrak Nara unnie”

“BANGUAN?”

“iya…sepertinya sajangnim sudah menunjukkan kemarahannya”, ujar Wheein dengan wajah meringis. Entah bagaimana nasib unnienya itu setelah ini.

“ya sudah…hati-hati dijalan”, ujar Yoona. Sebenarnya dia sedikit kasihan pada Nara karena harus menghadapi kemarahan Donghae. Dirinya saja selalu ketakutan jika Donghae sedang marah padanya. Entah bagaimana Nara akan menghadapi kemarahan suaminya itu. Tapi biarlah. Itu adalah hukuman untuknya karena sudah menghianati Yoona.

>>>>>>>

Sesampainya di BONGUAN, Wheein langsung menuju ruangan Donghae. Dan ketika keluar dari lift pemandangan yang didapatnya sangat tidak mengenakkan. Nara sedang dalam pelukan Taehyung sambil menangis.

“ekhmm”, deheman Wheein menghentikan aksi peluk-pelukan itu.

Nara menatap Wheein dengan mata yang sudah memerah dan juga bengkak. Sepertinya unnienya itu sudah lama menangis.

“apa yang terjadi?”, tanya Wheein tanpa menatap pria didepannya. Dia fokus pada Nara saja.

“masuklah. Sajangnim sudah menunggumu”, jawab Taehyung walaupun bukan dirinya yang diberi pertanyaan. Tanpa mengatakan apapun lagi, Wheein berlalu dari hadapan mereka.

Tok tok tok

Setelah mengetuk pintu itu Wheein masuk dan didalam sana benar bahwa Donghae sedang menunggunya. Terlihat dari posisi pria itu yang sedang berdiri, bersandar dimeja kerjanya.

“selamat pagi sajangnim”, ucap Wheein menunduk hormat. Jika dirumah, Wheein melihat pria itu lebih santai, dibandingkan sekarang. Karena aura pria itu ketika sedang di kantor dan dirumah sangatlah berbeda. Jika dirumah biasanya Donghae akan bersikap kekanak-kanakan kepada Yoona, berbanding terbalik ketika berada dikantor. Pria itu terlihat seperti air tenang, tetapi menghanyutkan.

“Ya silahkan duduk Nona Jung atau haruskah saya memanggil Wheein saja?”, tanya Donghae dengan senyum lembutnya.

Wheein pun duduk, membalas dengan senyuman saja pertanyaan Donghae. Donghae pun melakukan hal yang sama, duduk berhadapan dengan Wheein disofa.

“apa Nona Jung sudah tahu untuk apa saya memanggil Nona Jung kesini?”, tanya Donghae dan Wheein menggeleng tidak tahu.

“jadi begini. BONGUAN memutuskan mempercepat masa kontrak kerja dengan Jung Nara dikarenakan banyaknya masalah yang akhir-akhir ini Nara akibatkan diluar sana termasuk membuat masalah untuk keluarga saya”, jelas Donghae.

“Ya saya tahu sajangnim. Tapi jika memutuskan mempercepat masa kontrak maka BONGUAN akan membayar denda yang cukup besar sajangnim”, ujar Wheein menanggapi.

“Ya saya tahu dan BONGUAN siap membayar denda itu. Saya tidak ingin nama BONGUAN rusak hanya karena tetap menggunakan model yang penuh skandal akhir-akhir ini. Maaf jika saya harus mengatakan ini didepan Nona Jung”, ucap Donghae merasa tidak enak harus menjelaskan keburukan Nara didepan Wheein.

“tidak apa-apa sajangnim”

“dan satu lagi…saya baru mendapatkan bukti siapa yang merusak gaun kalian ketika dikompetisi itu”

“siapa sajangnim?”

“Jung Nara”, jawab Donghae dan langsung membuat Wheein kaget. Tapi beberapa detik kemudian dia bisa menerima jawaban Donghae. Karena pada saat itu memang ada Nara di tempat kompetisi itu. Mungkin unnienya itu marah karena dirinya lebih berpihak pada Yoona dibandingkan unnienya sendiri. Wheein bisa terima itu.

“apa Nona Jung bisa menerima keputusan saya?”, tanya Donghae karena Wheein hanya diam saja.

“iya…saya bisa menerimanya sajangnim”, jawab Wheein.

“sekretaris saya akan memberikan surat-suratnya dan juga cek untuk dendanya”, jelas Donghae.

“baik sajangnim”

“kalau begitu Nona Jung bisa langsung memintanya”

“baik sajangnim. Kalau begitu saya permisi dulu”, ucap Wheein pamit.

“tunggu”, tahan Donghae. Wheein yang sudah hampir menggapai pintu, kembali berbalik menghadap Donghae.

“boleh aku bertanya sesuatu yang bersifat pribadi?”, tanya Donghae. Kali ini nada bicaranya sudah seperti ketika mereka bertemu dirumah. Lebih terdengar santai. Wheein pun mengangguk.

“apa kau sedang ada masalah dengan Taehyung?”, tanya Donghae dan Wheein langsung terlihat salah tingkah.

“i-itu..”

“aku dan Yoona tidak sengaja melihat kalian bertengkar ditepi pantai dihari terakhir kita di Pulau Praslin itu”, tambah Donghae.

Wheein hanya terdiam, tidak tahu harus mengatakan apa. Bukan karena tidak ingin memberitahu Donghae. Hanya saja, dia merasa tidak ingin mengingat kejadian itu. Karena itu membuatnya sedikit tidak nyaman.

“oh sudahlah. Jangan dipikirkan. Sepertinya aku terlalu banyak bersama dengan istriku sehingga sering ikut campur urusan orang lain. Kau tahu kan Yoona seperti apa. Selalu menganggapmu seperti anak kecil. Sepanjang malam dia terus merayuku agar mendapat informasi tetang masalah kalian”, jelas Donghae, menyudahi keingintahuannya karena melihat raut wajah Wheein yang terlihat gelisah.

“maafkan saya sajangnim”, balas Wheein seadanya.

“iya tidak apa-apa. Silahkan kau bisa pergi”, balas Donghae dan Wheein pun segera pergi.

Setelah keluar dari ruangan Donghae, Wheein langsung menghembuskan napas berat. Dia langsung menghampiri meja Taehyung dan berdiri disana dengan wajah datar.

“sajangnim menyuruhku meminta berkas masa kontrak Jung Nara”, ucap Wheein datar. Pria kaku itu masih terduduk dikursinya dan hanya mendongak saja. Merasa jengah karena pria itu hanya diam saja menatapnya, Wheein dengan asal mengambil map kuning diatas meja itu dan langsung mencek isinya. Untung saja isinya benar. Wheein membungkukkan tubuhnya pada Taehyung dan langsung berlalu pergi.

Dia tidak ingin melihat pria itu setelah apa yang dikatakannya pada malam terakhir mereka di Pulau Praslin.

Entah apa yang Wheein pikirkan saat itu sampai menyatakan perasaannya pada pria kaku itu. Tapi bukan itu yang menjadi permasalahannya. Tapi lebih pada jawaban pria itu yang membuatnya seperti jatuh ke jurang terdalam, penuh dosa. Pria itu mengatakan Wheein gadis yang buruk karena menyukai pria yang jelas-jelas kekasih unnienya sendiri. Wheein mengartikannya bahwa pria itu sedang merendahkannya, menganggapnya gadis penggoda kekasih orang lain. Hanya satu kalimat itu yang pria kaku itu ucapkan dan Wheein langsung pergi meninggalkan pria itu di tepi pantai. Setelah kejadian itu mereka tidak pernah saling bicara lagi. Dan yang tadi pun Wheein anggap untuk yang terakhir kalinya.

Wheein keluar dari kantor Donghae dan langsung menuju mobilnya. Tapi ketika dia sudah duduk dikursi kemudi, ponselnya bergetar. Terdapat sebuah pesan dari ommanya. Setelah membaca pesan dari Ny Jung, Wheein langsung menghubungi Yoona.

“unnie…apa hari ini kita sudah mulai bekerja kembali?”, tanya Wheein.

“iya…tapi kita masih harus membahas konsepnya dulu”, jawab Yoona diseberang sana.

“mmm…apa aku boleh izin? Ada yang harus ku urus ke kantor agensi Nara unnie dan juga omma memintaku datang ke rumah. Jadi kurasa aku tidak bisa bekerja untuk hari ini unnie”, jelas Wheein.

“ya sudah , tidak apa-apa. Aku pun masih sedikit lelah. Kita bisa membahasnya besok”

“baiklah. Terima kasih unnie”

Setelah sambungan telepon diputus, Wheein menyalakan mobilnya dan melaju, keluar dari area parkir BONGUAN. Banyak yang harus dilakukannya hari ini dan sepertinya akan menguras tenaga dan juga perasaan.

Tidak jauh dari tempat mobil Wheein diparkirkan, sebuah mobil silver pun ikut melaju, mengikuti mobil Wheein dari belakang.

>>>>>>>

Yoona masuk ruang kerjanya dan langsung kaget ketika menemukan pintu balkon terbuka. Dia tadi hanya mengambil minum sebentar ke dapur setelah itu langsung kembali.

Yoona mengerutkan kening sambil mendekati balkon itu dan ternyata Eunji yang ada disana.

“apa yang kau lakukan disitu?”, tanya Yoona dan seketika Eunji langsung menoleh.

“ahhh, tidak ada. Hanya ingin memastikan sesuatu saja Nona”, balas gadis itu.

Yoona mendekati gadis itu yang berdiri didekat pembatas balkon. Yoona menatap gadis itu dengan kening mengerut ketika melihat wajah gadis itu seperti terlihat waspada.

“ada apa? Kenapa wajahmu seperti itu?”, tanya Yoona.

“aku akan mengatakan sesuatu. Tapi Nona janji jangan langsung melihat pada apa yang akan ku katakan”, ujar Eunji. Yoona mengangguk walaupun masih sedikit bingung.

“Nona tahu kan rumah bercat biru tidak jauh dari rumah?”

Yoona langsung menoleh mencari rumah yang Eunji maksud tapi Eunji dengan sigap menahan kepala Yoona agar tidak mencari rumah itu.

“Nona…sudah kubilang jangan melihat apa yang aku katakan”, ucap Eunji kesal karena Yoona tidak menuruti perkataannya.

“ahh iya maaf. Aku lupa”, ucap Yoona dengan senyum bodohnya.

“Nona tahu rumah itu kosong?”

“iya…sudah hampir setahun rumah itu tidak dihuni”, jawab Yoona.

“tapi akhir-akhir ini sepertinya sudah mulai dihuni kembali”

“benarkah?”

“iya…tapi aku tidak tahu rumah itu benar-benar dihuni atau sekedar digunakan untuk properti saja”

“maksudmu? Aku tidak mengerti”

“baiklah kali ini Nona boleh melirik kerumah itu. Tapi jangan terlihat terlalu jelas, lakukan seperti tidak sengaja”, perintah Eunji.

Yoona pun menatap kearah depan tapi bola matanya melirik kearah rumah biru yang Eunji maksud. Yoona menatap rumah itu masih seperti sebelum-sebelumnya. Terlihat gersang dan sepi. Tapi tiba-tiba mata Yoona melihat seseorang yang sedang membersihkan bagian luar rumah itu. Wajahnya tidak kelihatan karena mengenakan topi tapi dari postur tubuhnya, Yoona tahu itu seorang pria.

“sudah?”, tanya Eunji ikut menatap lurus kedepan.

“iya sudah”

“Nona menemukan sesuatu yang aneh?”

“iya atau tidak. Entahlah aku tidak yakin. Hanya saja, aku melihat seseorang sedang membersihkan bagian luar rumah itu”, jawab Yoona.

“Ya Nona benar. Aku juga melihat itu. Yang anehnya adalah dua minggu sebelum kita liburan, aku sudah melihat pria yang sedang membersihkan itu. Dan hari ini, lagi-lagi aku melihatnya membersihkan bagian luar rumah itu. Tidakkah menurut Nona ini aneh? Tidak logis jika dia membersihkan luar rumah itu dalam waktu dua minggu lebih. Dan menurutku tidak ada perubahan dari bagian luar rumah itu”, jelas Eunji.

“ya kau benar”, ucap Yoona dengan perasaan yang mulai tidak tenang.

“sebaiknya kita masuk. Aku merasa sedikit tidak tenang”, Yoona langsung menarik lengan Eunji masuk ke dalam ruang kerjanya. Setelah itu Yoona langsung mengunci pintu balkon dengan rapat.

“apa sebaiknya kita memberitahu Tuan saja?”, tanya Eunji.

“kurasa tidak perlu. Kita belum tahu apa maksud pria itu sebenarnya. Siapa tahu memang dia tidak setiap hari membersihkan rumah itu. Karena seorang diri saja bisa jadi pekerjaannya menjadi lama selesai”, ujar Yoona.

“Nona ada benarnya juga. Tapi sebaiknya keamanan diperketat dibagian gerbang”, usul gadis itu.

“ya kau benar. Tolong katakan pada security didepan agar lebih waspada”, pinta Yoona. Eunji pun mengangguk dan segera melaksanakan perintah Yoona.

Yoona menatap jam dinding sudah menunjukkan jam lima sore. Dia berlahan mendekati pintu balkon, mengintip dari sana, siapa tahu dia bisa melihat pria pencurigakan itu lebih leluasa. Dan ternyata bisa, tapi anehnya pria itu sudah tidak ada disana. Yoona merasa ada hal yang janggal dari pria itu jika benar yang Eunji katakan tadi.

Yoona mengerutkan kening ketika melihat gerbang terbuka dan sebuah mobil merah maron masuk. Merasa sangat mengenal pemilik mobil itu, Yoona langsung tersenyum lebar. Dia sedari tadi sudah menunggu-nunggu kepulangan si pemilik mobil itu.

>>>>>>>

Yoona dan Donghae baru selesai mandi setelah sebelumnya mereka melakukan pergulatan panas mereka. Ya seperti biasa penyakit mesum Donghae sedang kumat. Padahal saat pria itu pulang Yoona hanya mencium pipi pria itu dan mengatakan dia merindukannya. Dan pria itu langsung tergoda dan terjadilah.

Yoona menyiapkan pakaian ganti Donghae diatas ranjang dan setelah itu dia mengenakan gaun tidurnya. Hari ini dia memilih memakain gaun saja. Jika memakai piyama, dia tidak akan merasa bebas bergerak.

“kau sudah siap sayang?”, tanya Donghae.

“sudah oppa”, balas Yoona lalu merangkul lengan Donghae untuk turun ke bawah, untuk makan malam.

Ketika mandi tadi Donghae terus menerus mengeluh karena merasa sangat lapar. Padahal itu semua kesalahan pria itu yang lebih memilih bermain-main dikamar dibandingkan mengisi perutnya terlebih dahulu.

Mereka berlahan turun menuju dapur. Setibanya mereka didapur, ternyata dimeja makan sudah disediakan berbagai makanan oleh Han Ajumma.

Donghae menarik sebuah kursi, mempersilahkan Yoona untuk duduk setelah Yoona duduk, barulah Donghae duduk disamping istrinya itu.

Yoona menatap semua makanan yang dihidangkan satu-persatu. Dia mengerutkan keningnya ketika tidak berselera melihatnya.

“Ajumma…tidak ada makanan yang lain?”, tanya Yoona.

“kenapa Nona? Nona tidak suka masakan saya?”, tanya Ajumma.

“ahhh… bukan. Hanya saja aku tidak ingin makan ikan atau daging. Apa ada cumi-cumi? Aku ingin cumi goreng”, jelas Yoona. Donghae dan Han Ajumma langsung menatap Yoona dengan kening mengerut.

“bukankah Nona tidak suka makanan seafood?”, ujar Han Ajumma.

“iya benar. Kau kan tidak suka makanan berbau seafood sayang”, setuju Donghae.

“entahlah. Tapi aku ingin makan cumi goreng sekarang oppa. Membayangkannya sepertinya enak dimakan”, jawab Yoona.

Han Ajumma menatap Yoona dengan serius. Dia sepertinya tahu mengapa Yoona tiba-tiba menyukai apa yang tidak disukainya sebelumnya. Wanita itu hanya bisa berdoa, kecurigaannya adalah benar.

Sambil menunggu Han Ajumma menyiapkan cumi gorengnya, Yoona menemani Donghae yang makan terlebih dahulu. Dia meminta Donghae agar tidak menunggunya.

“ini cumi gorengnya Nona. Saya membuatnya cukup banyak”, ucap Han Ajumma sambil meletakkan sepiring cumi goreng yang baru dimasaknya. Mata Yoona langsung berbinar-binar menatap hidangan didepannya. Dengan cepat diraihnya sumpit dan langsung memakan cumi goreng itu dengan lahap. Donghae menatap Yoona dengan kening mengerut.

“pelan-pelan saja makannya Yoona. Dan jangan lupa makan nasi juga, jangan hanya cumi goreng itu saja”, ucap Donghae. Yoona pun hanya tersenyum membalas ucapan Donghae.

Donghae menatap Yoona dengan senyum lebar. Senang ketika melihat Yoona yang makan dengan lahap. Dan sepertinya nafsu makan Yoona meningkat sejak liburan mereka kemarin.

Setelah makan malam, Yoona dan Donghae memutuskan bersantai diruang santai sambil menonton.

Yoona menyandarkan kepalanya didada bidang Donghae dan pria itu memeluk Yoona dari samping. Mereka sedang duduk disofa sambil menikmati sebuah film kolosal.

“ahh oppa…aku ingin menceritakan sesuatu”, ucap Yoona memperbaiki posisi duduknya. Dia menatap Donghae dengan wajah sangat serius, tapi bagi Donghae terlihat sangat aneh, membuatnya hampir tertawa.

“oppa jangan tertawa. Aku sedang serius”, ujar Yoona dengan kesal, karena Donghae seperti sedang menahan tawa.

“baiklah…baiklah. Apa yang ingin kau ceritakan sampai menunjukkan wajah seserius itu”, balas Donghae.

“tadi sore, sebelum oppa pulang. Aku dan Eunji menemukan sesuatu yang aneh dirumah bercat biru yang tidak jauh dari rumah kita. Oppa tahu kan rumah itu?”

“ya aku tahu. Bukankah rumah itu tidak berpenghuni?”

“nah itu yang jadi masalahnya. Aku dan Eunji juga berpikir hal yang sama dengan oppa. Rumah itu kosang tapi tadi kami menemukan seseorang membersihkan luar rumah itu”

“mungkin akan segera dihuni sayang”, balas Donghae.

“awalnya aku juga berpikir seperti itu oppa. Tapi Eunji mengatakan dua minggu sebelum kita pergi berlibur, dia sudah melihat pria yang membersihkan rumah itu ada disana. Tidak mungkin dia sampai dua minggu lebih hanya untuk membersihkan luar rumah yang menurutku tidak begitu banyak di tumbuhi rumput itu. Rasanya aneh bukan”, jelas Yoona.

“kau benar. Apa dia terlihat mencurigakan?”, tanya Donghae. Kali ini dia juga terlihat serius.

“Entahlah. Dia mengenakan topi dan hampir menutupi seluruh wajahnya”, jawab Yoona.

“tidak ada yang lain? Misalnya gerak-geriknya yang aneh”

“ya kurasa hanya itu saja”,  jawab Yoona.

“kalau begitu aku harus menambah keamanan dirumah. Perasaanku tidak enak sejak kemarin”

“iya. Aku juga merasa tidak tenang dan takut oppa”

“jangan takut sayang…aku akan menjaga semua penghuni rumah ini dengan baik”, ujar Donghae.

Setelah itu mereka berdua kembali terdiam, menatap layar TV walaupun pikiran mereka sedang tidak berada disana. Yoona mengusap-usap lengannya karena tiba-tiba merasa kedinginan.

“kau kedinginan?”, tanya Donghae sambil meraih tubuh Yoona bersandar didadanya, seperti sebelumnya.

“iya. Mungkin karena diluar sedang hujan, membuat udara semakin dingin”, ucap Yoona sambil membalas pelukan Dongae, mencari kehangatan disana.

Tring tring tring~

Yoona meraih ponselnya dan terdapat nama ‘Wheepup’ disana. Yoona langsung menggeser layarnya ke kanan, lalu meletakkan ditelinga kanannya.

“yeoboseyo”, ucap Yoona. Hening. Tidak ada jawaban dari Wheein membuat Yoona langsung khawatir. Yang didengarnya hanya suara rintik-rintik hujan.

“Wheein…kau mendengarku?”, tanya Yoona langsung menegakkan tubuhnya. Donghae hanya menatap Yoona dengan kening mengerut.

“JUNG WHEEIN JANGAN BERCANDA. TIDAK LUCU. KATAKAN SESUATU”, teriak Yoona karena tak mendengar sedikit pun suara Wheein.

“un-unnie~”

Yoona langsung merasa lega setelah mendengar suara gadis itu. Dia berpikir yang tidak-tidak tadi.

“kau dimana?”

“diluar~”, jawab gadis itu dengan suara bergetar.

“hei…ada apa? Kenapa suaramu seperti itu?”, tanya Yoona.

“a-aku kedinginan unnie”

“sebenarnya kau ada dimana?”, tanya Yoona lagi.

“diluar gerbang”

“diluar gerbang mana?”, tanya Yoona dengan nada kesal karena Wheein tidak mengatakan keberadaannya sekarang dengan jelas.

“rumah unnie”

“APA?”

Yoona dengan cepat berlari keluar rumah disusul oleh Donghae. Yoona langsung meraih payung yang selalu tersedia dirak teras rumah.

Dibukanya payung itu dan langsung berjalan dengan cepat menuju gerbang rumah. Yoona sempat melihat pos jaga tidak ada orang. Sepertinya para security sedang istirahat untuk makan malam.

Yoona membuka pintu gerbang, dan menatap keluar dan matanya langsung membulat ketika melihat Wheein yang meringkuk, didepan gerbang dengan tubuh yang sudah basah kuyup.

“Yak…Jung Wheein…apa yang kau lakukan”, ucap Yoona dengan nada marah. Dia langsung menghampiri gadis itu yang hanya menatap Yoona dalam diam. Yoona mengarahkan payungnya pada gadis itu. Yoona menatap mata gadis itu yang terlihat kosong.

Yoona langsung memeluk gadis itu. Yoona merasa sudah terjadi sesuatu pada Wheein.

“ayo kita masuk dulu. Kau harus mengganti pakaianmu”, ajak Yoona langsung menuntun gadis itu masuk ke rumah.

“ada apa?”, Donghae ketika berpapasan dengan mereka ditengah halaman.

Yoona menggeleng tidak mengerti dan Wheein hanya diam saja sambil menunduk.

“ya sudah kita masuk dulu. Diluar sangat dingin”, ujar Donghae. Yoona pun kembali menuntun Wheein masuk ke rumah. Yoona langsung membawa Wheein menuju ruang kerjanya. Setidaknya disana Wheein bisa langsung mengganti pakaiannya.

Yoona menutup pintu ruang kerjanya, menuntun Wheein duduk dulu. Setelah itu Yoona membuka lemari pakaiannya yang belum sempat dipindahkan ke kamar Donghae.

“ini…ganti pakaian mu dulu”, perintah Yoona tapi Wheein masih diam. Yoona menghembuskan napas berat. Dengan sabar dia mengangkat kedua lengan Wheein lalu menarik kaus gadis itu yang sudah basah. Yoona membantu gadis itu mengganti pakaiannya. Wheein hanya diam saja.

Tok tok tok

Setelah suara pintu diketuk, berlahan pintu itu terbuka memunculkan Eunji sambil membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat. Eunji kaget melihat kondisi Wheein yang seperi mayat hidup.

“ada apa dengannya Nona?”, tanya Eunji sambil meletakkan nampan ditangannya diatas meja. Yoona hanya menggeleng tidak tahu. Setelah Wheein sudah mengganti pakaiannya, Yoona menuntun gadis itu duduk diatas ranjang.

Yoona dan Eunji duduk dimasing-masing sisi Wheein. Mereka menunggu sampai Wheein mulai mengeluarkan suaranya.

“unnie…”, ucap Wheein akhirnya mulai mengeluarkan suaranya.

“ya…ada apa?’, tanya Yoona khawatir.

“bolehkah aku meminta hadiah itu sekarang?”, tanya Wheein dengan suara yang sangat pelan.

“kenapa? Kau sudah menentukan kemana kau akan kuliah?”, tanya Yoona kaget karena gadis mungil itu membahas masalah hadiah kompetisi itu yang diperolehnya terlebih dahulu jika lolos sampai semi final. Yang ternyata mereka bisa lolos sampai babak final.

“belum. Aku hanya ingin pergi. Aku tidak ingin disini lagi”, balas gadis itu.

“kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa kau memintanya tiba-tiba seperti ini? Tapi sebelum itu kenapa kau menunggu diluar sana sampai kehujanan?”, tanya Yoona beruntun.

“aku tidak membawa mobil kesini, dan tiba-tiba hujan dan tidak ada security di pos jaga”, jelas Wheein. Mata gadis itu masih terlihat tidak fokus.

“dasar bodoh”, umpat Yoona memukul punggung gadis itu.

“jadi bisakah aku mendapatkannya sekarang unnie?”, tanya Wheein lagi.

“jelaskan dulu apa yang terjadi denganmu. Tidak biasanya kau seperti ini. Kenapa? Apa terjadi sesuatu dirumahmu? Apa orang tuamu mengatakan hal-hal yang buruk lagi?”, tanya Yoona ketika mengingat tadi pagi Wheein meneleponnya, izin tidak bekerja karena harus kerumah orang tuanya.

Melihat Wheein hanya menunduk, Yoona dan Eunji saling menatap seolah tahu jika yang Yoona ucapkan itu memang benar.

“apa yang mereka katakan?”, tanya Yoona. Dia selalu merasa kesal setiap orang tua Wheein memperlakukan gadis itu tidak selayaknya manusia. Terkadang jika membandingkan ommanya dengan orangtua Wheein, dia cukup bersyukur karena setidaknya Ny Im tidak pernah memperlakukan Yoona seperti hewan peliharaan yang bisa disuruh ini dan itu.

“hari ini mereka mengundang beberapa keluarga kolega bisnis appa sebagai perayaan keberhasilan proyek baru yang sedang appa kerjakan. Ketika sampai dirumah, omma langsung menyuruhku membantu pelayan untuk menghidangkan makanan. Karena efek masih lelah dari liburan itu, aku tidak bisa fokus dan menumpahkan semangkuk sup dipakaian seorang anak kecil yang sedang berlarian didapur, aku tidak melihat anak itu sebelumnya. Ketika sup itu jatuh, anak itu langsung menangis dan orang tuanya datang dan langsung marah-marah padaku”, Wheein menghentikan sesaat perkataannya. Dia menghidup napas dulu lalu mulai melanjutkannya lagi.

“aku sudah berusaha minta maaf tapi orang tua anak itu semakin menjadi-jadi. Mereka memaki-makiku dan mengatakan kerjaku tidak becus dan harusnya dipecat”, lanjut Wheein.

“mereka menganggapmu pelayan?”, tanya Eunji dengan nada meninggi. Wheein pun mengangguk.

“dan orang tuamu tidak mengatakan apa pun?”, tebak Yoona. Dan lagi Wheein mengangguk.

“brengsek”, umpat Yoona tidak peduli soal sopan santun lagi.

“Hahhh…aku tidak percaya ini”, ujar Eunji ikut kesal seperti Yoona.

“mereka hanya diam dan tidak melakukan apa pun. Lalu tiba-tiba kepala agensi meneleponku mencari keberadaan Nara unnie yang lagi-lagi meninggalkan pemotretan begitu saja. Dan ketika aku menghubunginya, dia malah menyuruhku datang ke restoran. Aku izin pergi pada omma dengan alasan ingin menemui Nara unnie”

“dan mereka langsung mengizinkanmu”, ucap Yoona, sudah bisa menebak apa yang terjadi.

“ya unnie benar. Setelah itu aku pergi menuju restoran yang Nara unnie minta. Setibanya aku disana, aku kaget ketika ada Taehyung disana”, ujar Wheein.

“pedofil itu ada disana? Untuk apa?”, tanya Yoona semakin kesal. Jika sudah mengaitkan Taehyung dan Nara, selalu membuat Yoona semakin tidak menyukai pria kaku itu.

“awalnya aku juga tidak mengerti unnie. Tapi setelah aku memperhatikan sekitaran restoran itu hanya ada beberapa orang disana, dan aku tahu mereka teman-teman Nara unnie. Juga restoran itu didekorasi dengan banyak bunga. Ditambah dengan Nara dan Taehyung yang mengenakan pakaian rapi. Saat itulah aku mulai mengerti apa yang terjadi”

“apa?”, tanya Yoona dan Eunji bersamaan

“Taehyung…pria itu…melamar Nara unnie”, ucap Wheein terbata. Entah seperti apa lagi perasaan Wheein saat itu.

“APA?”, Yoona dan Eunji kaget. Mereka tidak percaya Taehyung dapat melakukan hal sekejam itu pada Wheein. Terkhusus Eunji yang mengetahui jika Wheein beberapa hari yang lalu menyatakan perasaannya ada pria itu dan ditolak dengan kata-kata yang menyakitkan.

“yang lebih menyakitkan dari itu. Nara unnie dengan terang-terangan menunjukkan cincin yang melingkar ditangannya dan juga pria itu sambil mengatakan cincin itu adalah bukti jika mereka sudah terikat dan aku tidak boleh mendekati Taehyung lagi. Unnieku sendiri secara tidak langsung menuduhku mendekati kekasihnya. Hahaha”, ucap Wheein dengan tawa diakhir kalimatnya.

Yoona dan Eunji menatap Wheein dengan tatapan kasihan. Wheein terlihat sangat kuat karena sudah sesakit itu gadis itu masih bisa tertawa dan hebatnya tidak mengeluarkan air mata setetes pun.

“unnie…Eunji-ya…apa  aku memang ditakdirkan selalu dibuang seperti ini? Apa aku memang tidak pantas untuk bahagia? Jika hidup sesakit ini, jika boleh memilih aku ingin mati saja”, setelah mengatakan itu, pipi kiri Wheein langsung terasa panas karena Yoona menamparnya.

Plak

“Nona~”, ucap Eunji karena kaget dengan tindakan Yoona.

Yoona menarik tubuh Wheein menghadapnya. Menatap gadis itu dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

“yak…kenapa kau berkata seperti itu? Lalu selama ini kau menganggapku apa? Kau menganggap Eunji, Han Ajumma, bahkan Donghae oppa, apa?”, ucap Yoona dengan nada serak. Hatinya terasa sakit ketika Wheein mengatakan hal tersebut.

“aku sudah pernah mengatakannya kepadamu, aku akan menjadi orang tua, unnie dan teman untukmu. Tapi kenapa kau tetap berkata seperti itu? Jika kau berkata seperi itu kau sama saja menyakitiku. Aku tahu, aku selalu berkata kasar dan suka memerintah mu sesuka hati, tapi aku benar-benar menyayangimu seperti saudaraku sendiri. Kau dan Eunji sudah seperi adikku sendiri. Kalian adalah keluargaku”, ucap Yoona kali ini sudah menangis.

“unnie~ maafkan aku”, ucap Wheein menyesal. Ya dia hampir melupakan orang-orang yang ada dirumah ini yang selalu membuka mintu rumah ini lebar-lebar untuknya, menerimanya apa adanya.

Wheein memeluk Yoona, menyampaikan penyesalan dan juga rasa terima kasih dari pelukan itu. Eunji pun ikut memeluk Wheein. Ketiganya saling berpelukan, dengan perasaan haru.

>>>>>>>

Setelah mereka puas mencurahkan perasaan masing-masing, ketiganya pun turun kelantai bawah. Wheein harus pergi bekerja di kafe malam ini.

Awalnya Yoona melarang tapi Wheein ingin memberi penampilan terakhirnya di kafe itu sebelum pergi. Karena masih merasa khawatir akhirnya Yoona mengizinkan gadis mungil itu pergi dengan syarat Yoona dan Donghae akan mengantarnya ke kafe itu.

“oppa…aku ingin mengantar Wheein bekerja malam ini. Oppa mau ikut?”, tawar Yoona. Donghae pun langsung mengangguk.

“tentu saja. Aku selalu suka menonton penampilan Nona Jung yang luar biasa”, jawab Donghae.

“ya sudah kalau begitu ayo”

“dengan pakaian seperti ini?”, tanya Donghae tidak yakin karena dia hanya memakai kaus oblong dan celana trening saja.

“iya…oppa sudah tampan”, jawab Yoona dan langsung menarik lengan Donghae menyusul Wheein yang sudah menunggu didepan rumah bersama Eunji.

Donghae menyiapkan mobil hingga berhenti tepat didepan rumah, karena hujan masih turun deras. Dengan bantuan Eunji, Yoona dan Wheein lebih mudah masuk ke mobil karena Eunji mengantar mereka satu persatu ke dalam mobil dengan payung. Setelah keduanya masuk ke mobil, Donghae langsung melajukan mobilnya ke kafe tempat Wheein bekerja.

>>>>>>>

Yoona dan Donghae duduk berdampingan disebuah meja yang tidak jauh dari panggung. Mereka memutuskan untuk menonton menampilan Wheein malam ini.

“sebenarnya apa yang terjadi?”, tanya Donghae pada Yoona.

“ceritanya panjang oppa. Nanti aku akan menceritakannya pada oppa. Intinya adalah ini penampilan Wheein yang terakhir karena dia akan pergi”, ucap Yoona dengan nada sedih.

“kenapa?”

“dia menyerah oppa”, ucap Yoona.

“sepertinya dia sangat menderita”, ujar Donghae seolah sudah mengerti dengan kata menyerah yang Yoona ucapkan.

Tiba-tiba lampu panggung menyala, menampilkan Wheein yang berdiri diatas panggung. Gadis mungil itu menatap seluruh pengunjung yang datang malam ini. Dia pasti akan merindukan saat-saat seperti ini nantinya.

“ekhm…test..test…sebelum aku memulai penampilanku malam ini, aku ingin mengatakan sesuatu. Aku sudah bekerja di kafe ini hampir empat tahun bahkan saat itu aku masih sebagai seorang pelajar” Wheein mengucapkan kata-kata perpisahannya untuk rekan kerjanya, bossnya dan juga pengunjung yang datang malam itu.

“sekali lagi terima kasih untuk kalian semuanya. Aku menyayangi kalian”, ucap Wheein menutup kalimat perpisahannya lalu berbalik, duduk disebuah kursi dengan seorang pria yang sudah siap didepan piano.

Wheein mulai menyanyi dengan lantunan lagu dari Anymore karya composer terkenal Jung Key. Lagu yang menyampaikan ketidaksanggupan untuk bertahan lagi itu, membuat suasana dikafe itu semakin sendu. Yoona bahkan sudah menangis dalam pelukan Donghae. Pria itu mencoba menenangkan istrinya itu.

“kenapa dia menyanyikan lagu seperti itu? Dia terlihat semakin rapuh”, ucap Yoona disela-sela isak tangisnya.

“lagu ini sepertinya ungkapan dari perasaannya selama ini”, ucap Donghae menanggapi.

Sampai penampilan terakhir selesai, suasana dikafe itu tetap terasa sendu. Tidak ada penampilan yang menggebrak panggung seperti biasanya. Sepertinya semua merasa sedih malam itu.

Yoona dan Donghae mencari keberadaan Wheein dibelakang panggung.

“Wheein~”, panggil Yoona. Gadis mungil itu pun menghampiri mereka. Gadis itu tetap menampilkan senyum lebarnya walaupun dia sedang terluka sekarang ini.

“ayo kita pulang”, ajak Yoona.

“mmm unnie…bisakah aku pulang bersama mereka? Mereka membuat acara perpisahan untukku malam ini. Tidak apa-apa kan unnie. Setelah semuanya selesai aku akan meminta mereka mengantarkan ku ke rumah unnie. Bolehkan?”, pinta Wheein memohon.

“baiklah. Tapi jangan terlalu malam. Ingat ini sudah jam sepuluh”, izin Yoona.

“siap unnie”, balas Wheein cepat.

“ya sudah. Kalau begitu kami pulang duluan”, ucap Yoona.

“kalau ada apa-apa langsung hubungi kami”, ucap Donghae sebelum mereka benar-benar pergi. Wheein pun mengangguk patuh.

>>>>>>>

Keesokan harinya Yoona mondar-mandir sambil menggenggam ponselnya, meletakkannya ditelinganya. Sedari semalam dia sudah menghubungi Wheein karena tidak juga pulang. Ponsel gadis itu aktif tapi tidak diangkat. Yoona sangat khawatir pada gadis mungil itu.

“apa mungkin dia sudah pergi diam-diam Nona?”, ucap Eunji yang juga berusaha menghubungi kafe tempat Wheein bekerja.

“tidak mungkin. Dia tidak mungkin tidak pamit pada kita”, balas Yoona walaupun dalam hati kecilnya mengatakan ada kemungkinan gadis itu pergi tanpa mengatakan apapun.

“oh maaf…saya Han Eunji teman Jung Wheein yang bekerja di kafe anda”, ucap Eunji ketika seseorang mengangkat sambungan teleponnya.

“saya ingin bertanya apa semalam kalian melakukan acara perpisahan untuk Wheein?”

“ahh…iya benar Nona”, balas pemilik kafe itu.

“mmm…boleh aku tahu semalam dia pulang dengan siapa?”

“semalam Wheein pulang sendirian. Katanya dia ingin menjemput mobilnya yang ditinggalkannya disuatu tempat”

“apa anda tahu kemana tujuannya malam itu?”, tanya Eunji lagi. Yoona ikut mendengar percakapan ditelepon itu.

“ahh…maaf saya tidak tahu. Wheein tidak mengatakan apapun. Dia langsung pergi menggunakan taksi”, jawab orang diseberang sana.

“ohh baiklah. Kalau begitu terima kasih banyak. Maaf mengganggu waktu anda”, ucap Eunji dan panggilan itu terputus.

“bagaimana?”, tanya Yoona.

“mereka tidak tahu. Mereka hanya mengatakan malam itu Wheein pergi ingin menjemput mobilnya disuatu tempat seorang diri Nona”

“hahhh…dimana sebenarnya gadis itu? Kenapa dia menghilang seperti ini”, ucap Yoona sambil menggigit jarinya karena khawatir dengan keadaan Wheein.

TBC

 

Jangan lupa like dan komentarnya ya~

 Untuk sementara chapter ini gak di passward sampai akhir bulan Mei ini.

|22 Mei 2017|

Advertisements

28 thoughts on “After Married – 26

  1. Oh… Jadi gitu flashback nya tiffany. Jahat banget dah tunangannya. Semoga yoona gk kejebak.
    Wheein kasihan deh…. Taehyung juga tega bener gituin wheein, kata2 penolakannya kasar lagi. Wheein pergi kemana??? Gk diculik kan?
    Penasaran deh sama motif taehyung ngelamar nara. Padahal kan dia kayak gk suka sama nara, tp kok malah dilamar. Aneh….

  2. Kasian Tiffany tapi khawatir juga sama Yoona bisa di bilang dia sedang terancam bahaya ..yakin orang yg mencurigakan itu pasti suruhan si Nic ..semoga Donghae selalu bisa jaga Yoona ^^

  3. astyana

    Owwkhhh crta nya makin seru z thor ga monoton ga ngejenuhin pula,,,komplik nya dapet,,moment nya yg mngharu biru jg dapet tiba” pipi ku basah z😊😊…cmn khawtir tuuu sm yoona pa yg mo d lakuin ma org” nya nick yaaa,,,aaaaaa tuuu org gilaa 👊👊yaaa bnr” tr obsesi sm yoona pisan,,,adduuuh tuu tiffany sp yg mo nolongin nya jg??,,,,aaaaa nih ff keren nyA 👍👍…btw yoona hamil yaaa💃💃💃

  4. ichus

    Nic smakin menjadi jadi.. hikss smoga Yoona gk terjebak rencana jahatnya. Apalagi kyknya yoona udah hamil deh
    donghae musti lebih hati2 nih

    Next

  5. yoonhaeina90

    huh hah mantap bgt cerita ny
    konflik dimana”
    disaat moment ny lagi sweet masalah lain muncul lgi mgo

  6. sintayoonhae

    sumpahhh chapter ini bkin degdegan bgt thor aplgi yg terakhir wheein diculikkah??? okayy lnjut ke next partnya lol….
    and I think yoong hamiiillll 😄😄

  7. Love Yoonhae

    Kasian tiffany gk dianggap oleh nic. ;(
    Yoonhae moment selalu manis, aku suka. 🙂
    makin seru thor ceritanya.

  8. Sfapyrotechnics

    Kasian fany.. dia dikasarin ma nick.. Tuh nick obsesinya bsar bnget.. apa jgn2 dia yg nyewa/beli rmh cat biru dkt rmh yh?? Jdi nara ma taehyung udh lmaran :v ckck ortunya wheein bner2 keterlaluan dh.. Wheein nya kmana?? kok ngilang?? dia diculik atau emang prgi sndiri??

  9. meliii

    ternyata tiffany ngelidungin yoona dr si nic
    itu mesti tetangga baru ny suruhan si nic buat ngawasin yoona kan biar rencanannya lancar haduh haduh greget ama si nic
    kira2 si wheein pergi kemana
    fightiing autornim

  10. laylee18

    kasian banget tiffany disia”in sma nic, nic jga terobsesi banget sma yoona sampe gak bisa liat pengorbanan yg dilakukan tiffany sma dia. ciee yoona kyaknya hamil deh. wheein jga kyak udah ketangkep sma nic ya, semoga aja wheein gpp.

  11. vedora aliansi mindri

    aku harap wheein baik2 aja..pasti nic yg udh menculik nya untuk menjebak yoona..moga donghae bisa menyelamatkan semua orang2 yang tak bersalah..jangan2 yoona pregnant..moga aja yaa

  12. kim kai

    kyaX yoona hamil,,,,, smga ajha…
    aq pnsaran sma taehyung,,sbnernya dia ska sma naara apa wheein..
    so complicated….
    thanks author,,,,, ff nya menghibur bgt
    deg”an d chap ni

  13. Pastel Rose

    Ceritanya beneran ga bisa ditebak yah. Jadi kasihan sama Tiffany. Semoga Donghae gerak cepat duluan sebelum si Nic bertindak macem2 ke Yoona. Makin seru lah ceritanya..
    Ditunggu chapter selanjutnya thor, thank u 🙂

  14. dhewi

    Ohh nic selama ini jahat ya ,dia terobsesi ama yoong jadi kasihan sama tiffany 😢…
    Ya ampun wheein kasian banget,orang tua nya jahat bgt sama wheein tapi untung ada yoong yang selalu ada untuk dia ..
    Kayanya tanda tanda nih yoong bakalan hamil 😆semoga ajah ..
    *fighting thor

  15. Kmn whein? Apa nick yg menculik whein? Semoga tdk, kasian tiffany niatnya melindungi yoona tp malah diksa sama tunangannya sendiri demi obsesinya memiliki yoona hikhik semoga hae cepet bsnemuin pelaku sebenernya alias si nick biar klg yionhae bahagia dan sepertinya yoona hamil dari ciri yg jd menyukai hal yg tdk dia sukai sebelumnya klo bener haehrs lebih menjaga yoona ya takut sama orang suruhan nick daebak fighting authir

  16. Iloveyoonhae

    Kasian banget wheein, sedih banget bacanya, feel nya dapet banget. Semoga kedepannya tiffany dan wheein happy ending yaa. Gak tega sama mereka kalo sad ending.
    Jjang!! I really really like this ff.

  17. Aku harap tidak akan terjadi apa apa pada whein..dan tiffany semoga segera lolos dari penyekapan nich dan mengatakan semua kepada yoona dan donghae..dan berharap yoona tidak celaka oleh nic dan oh aku harap donghae segera tahu kalau penjahat sesungguhnya adalah tn hanney..good storyyy 👍🏻👍🏻👍🏻

  18. gyuvid

    Ternyata tiffany melakukan semua itu untuk melindungi yoona. Kasihan huhu
    Wheein juga tiba-tiba menghilang. Ini kayaknya wheein yg bakalan jadi umpan agar yoona dateng ke nic. Semoga donghae bertindak lebih cepat untuk melindungi yoona dan menyelamatkan tiffany juga wheein..
    Dan sepertinya yoona hamil 😄😄

  19. FITA

    Ih, taehyung jahat banget sama wheein, terus wheeinnya kemana?. Mudah2an yoonhar gapapa. nextnyaaa ditunggu bangettttt

  20. I think yoona pregnant ? Ahh cant wait for the next chapt. Moment bahagia yoonhae jika yoona terbukti hamil.
    Nic ? Jinjaa this guy really annoying! Donghae semogaa lebih gerak cepat untuk menyelamatkan penghuni rumahnyaa

  21. yoongtaeyeon

    kasian bgt nasib tiffany,dijadiin alat sama si nick yg obsesian..
    kayaknya yoona udh tanda2 lg isi ni ya thor hehehe
    dan feeling qu wheein dijadiin umpan sma si nick supaya yoona dtg ke dia..tp aq yakin donghae jg gk bakalan tggl diam..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s