After Married – 24

Mockups Design
After Married Cover Ebook

Author: Fi_ss
Tittle: After Married – 24 – Troublesome
Lenght: Chapter
Cast: Im Yoona and Lee Donghae
Other Cast: Kim Heecul, Tiffany Hwang, Nicholas, Jung Wheein, Kim Taehyung, Jung Nara, etc
Genree: Romance, married life, Family, etc
Rate : 17+
Author Note: Sorry klo masih banyak typo.
Happy reading & Leggo~
>>>>>>>

– TROUBLESOME –
Seorang wanita paruh baya melangkah memasuki rumah besar yang sebenarnya hanya dihuni oleh sepasang suami istri saja.
Ketika baru memasuki rumah itu beberapa yang maid yang sedang bekerja tidak jauh dari pintu rumah langsung kaget dan menunduk hormat. Wanita paruh baya yang sama sekali tidak pernah tersenyum itu, selalu tampak serius. Para maid disana menjuluki Ny Im sebagai penyihir yang secara tiba-tiba selalu datang tanpa diundang dan selalu membuat suasana rumah yang awalnya tenang menjadi gaduh dan tegang.
Mereka terlalu menyayangi nona muda meraka.
Ny Im mengamati sekitarnya dengan serius seperti sedang mendeteksi dimana sasarannya berada. Ketika niatnya ingin menanyakan dimana keberadaan mangsanya, tiba-tiba seseorang muncul dari arah dapur sambil membawa beberapa gulungan sambil bersiul dengan riang tidak menyadari seseorang yang mengamatinya.
Eunji dengan riang menuju tangga tapi ketika melihat seorang teman kerjanya hanya terdiam kaku didekat tangga, Eunji berhenti.
“ada apa? Kenapa kau diam saja?”, tanya Eunji polos. Temannya itu menatap Eunji sekilas dengan bola matanya diarahkan kearah yang membuatnya takut. Eunji pun menoleh dan tubuhnya langsung menegang.
“nyo-nyonya”, ucap Eunji gugup sambil menunduk.
Ny Im melangkah berlahan mendekati Eunji. Mata wanita itu menatap apa yang ada ditangan Eunji.
“apa itu?”, tanyanya dengan nada dingin.
Eunji yang tersadar pun langsung cepat menyingkirkan gulungan kain ditangannya kebelakang punggungnya.
“i-ini…ini hanya barang bekas Nyonya”, jawab Eunji asal. Otaknya tidak bisa berpikir untuk mencari jawaban yang lain lagi.
“jangan berbohong. Untuk apa kain-kain itu. Kalau memang itu barang bekas dari gudang, kenapa kau membawanya ke lantai dua?”, tanya wanita itu lagi. Kali ini Eunji tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Dia hanya diam saja.
“aku ingin tahu mau kau apakan kain-kain itu?”, ucap wanita itu sambil mengarahkan dagunya keatas tangga, bermaksud menguruh Eunji melanjutkan kegiatannya. Eunji memejamkan matanya karena merasa akan terjadi perang besar lagi.
Dengan berlahan Eunji menaiki anak-anak tangga itu dengan jantung berdebar-debar. Sepertinya memang sudah waktunya Nyonya besar mereka itu mengetahui pekerjaan purtrinya. Kali ini Eunji tidak bisa menyembunyikannya lagi.
Eunji terus melangkah sambil sesekali melirik Nyonya Im yang mengikutinya dari belakang.
Ketika tiba didepan pintu kamar Yoona, Eunji terdiam sejenak. Jantungnya berdebar-debar sambil menatap Ny Im yang sudah berdiri disampingnya. Eunji menatap wanita paruh baya itu dengan takut. Ny Im mengarahkan dagunya kearah pintu agar Eunji mengetuknya.
Tok tok tok
Eunji mengetuk pintu kamar itu. Dia berpikir tidak perlu menunjukkan pada Ny Im jika dirinya mengetahui PIN pengaman pintu kamar itu.
‘Nona…ayo buka’, batin Eunji. Beberapa detik kemudian pintu terbuka memperlihatkan Yoona yang mengerutkan kening, tidak mengerti mengapa Eunji harus mengetuk pintu. Yoona masih belum menyadari jika Ny Im berdiri tidak jauh dari Eunji.
“apa yang kau lakukan?”, tanya Yoona.
“i-itu..”
“Apa ini?”, tiba-tiba suara yang sangat Yoona hapal itu, mengagetkannya.
“om-omma”, Yoona terbata. Wanita itu menatap Yoona tajam ditambah ditangan Yoona terdapat gunting. Merasa ada yang Yoona sembunyikan, Ny Im langsung masuk dan betapa kagetnya dia melihat isi kamar itu. Selama ini yang Ny Im tahu kamar yang dimasukinya sekarang adalah tempat menyimpan perabotan rumah yang tidak dipakai.
“apa-apaan ini?”, tanya Ny Im menatap Yoona.
“i-ini…”, Yoona tidak tahu harus menjawab apa.
“untuk apa kain-kain ini. Dan kertas-kertas ini apa?”, tanya wanita itu sambil menunjuk-nunjuk kertas diatas meja kerja Yoona.
“jadi selama ini kau berbohong? Kau bilang kau bekerja sebagai freelance di perusahaan swasta. Tapi apa ini? Kau…kau…”, Ny Im tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia sangat kaget sekaligus marah karena putrinya selama ini membohonginya.
“maafkan aku omma”, ucap Yoona menunduk.
“bukankah sudah omma katakan pekerjaan seperti ini tidak akan ada gunanya. Kau lihat bagaimana Tiffany sampai sekarang. Dia hanya bergaul dengan tumpukan kain dan juga kertas-kertasnya. Tidak akan pernah berkembang. Omma tidak akan pernah setuju dengan pekerjaanmu ini. Kau harus berhenti. Buang semua barang-barang yang ada dikamar ini”, perintah Ny Im. Yoona langsung membulatkan matanya ketika Ny Im hampir saja menyentuh gaun yang baru dibentuknya di mannequin.
”omma…jangan. Kumohon”, pinta Yoona sambil menggenggam tangan Ny Im.
“Im Yoona jangan membangkang”, ucap Ny Im dengan segala penekanan di kalimatnya.
Tiba-tiba Yoona berlutut didepan Ny Im. Membuat Ny Im, Eunji dan Han Ajumma yang baru tiba, kaget.
“omma…kumohon. Aku tahu aku salah sudah berbohong selama ini. Tapi aku benar-benar menyukai pekerjaanku sekarang omma. Aku tidak mengerti dengan dokumen-dokumen bisnis itu. Hanya ini yang ku bisa. Jadi kumohon, sekali saja omma izinkan aku melakukan apa yang aku sukai”, pinta Yoona dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Ny Im diam saja menatap putrinya itu. Sebenarnya dia tidak sepenuhnya membenci profesi itu. Hanya saja itu dimulai sejak Tiffany menyukai pekerjaan itu dulu untuk pertama kalinya, sifat adiknya itu menjadi sangat berubah. Suka membangkang dan sangat sulit ditemui. Bahkan diam-diam Tiffany pergi sekolah keluar negeri tanpa sepengetahuannya. Ny Im merasa tidak memiliki keluarga lagi sejak Tiffany selalu sibuk dengan pekerjaannya. Dan lagi-lagi hal itu kembali terulang oleh putrinya. Ny Im hanya berpikir jika Yoona melanjutkan bisnis keluarga, setidaknya Yoona tidak akan jauh darinya atau setidaknya dirinya bisa membantu Yoona bekerja. Karena bagi Ny Im, bekerja sebagai seorang desainer memakan waktu yang sangat lama.
“Omma~”, ujar Yoona lagi memohon.
“berdiri”, perintah Ny Im datar.
“tidak. Sebelum omma mengizinkanku untuk melakukan apa yang ku suka dan tidak memaksaku lagi”, balas Yoona keras kepala.
“berikan satu alasan yang logis kenapa kau harus melakukan pekerjaan seperti ini”
Yoona terdiam sesaat. Memikirkan sebenarnya apa tujuannya menekuni pekerjaannya sekarang.
“aku…aku ingin menyenangkan orang lain omma”, ucap Yoona berlahan. Ny Im mengerutkan kening, tidak mengerti.
“walaupun aku adalah orang yang menyusahkan dan bodoh, tapi aku tetap ingin memberi sesuatu untuk orang lain dengan tanganku sendiri. Walaupun bagi omma, apa yang sudah ku hasilkan ini tidaklah berharga, tapi bagiku ini sangat berharga. Melihat orang lain yang mengenakan hasil pekerjaan tanganku sendiri dengan perasaan bahagia, itu membuatku sedikit merasa berguna”, tambah Yoona.
‘aku ingin orang lain tetap mengagumi hasil kerja kerasku. Wheein tetap mengagumiku dan memenangkan kompetisi itu agar Wheein bisa bahagia dan aku ingin diaggap pantas untuk mendampingi Donghae oppa dimata orang lain’, batin Yoona.
“aku mohon omma. Beri aku sekali saja kesempatan. Aku janji tidak akan membuat omma marah lagi. Aku ingin seperti orang normal. Aku ingin sembuh”, ucap Yoona.
“kenapa? Kenapa baru sekarang kau ingin sembuh?”
“karena banyak orang yang harus ku lindungi dan kupertahankan disisiku sekarang. Aku ingin Donghae oppa tetap bersamaku. Aku ingin teman-temanku tetap berada disisiku, aku tidak ingin kesepian lagi. Aku ingin menunjukkan pada semua orang bahwa aku bukan hanya orang bodoh yang tidak bisa melakukan apapun. Dan aku ingin…menjadi anak yang membanggakan keluarga. Aku ingin omma dan appa tidak malu memperkenalkanku pada kolega-kolega bisnis kalian lagi”, jawab Yoona membuat Ny Im langsung memalingkan wajahnya. Matanya sudah berkaca-kaca. Tapi dia tidak ingin menunjukkannya pada Yoona.
“kau terlalu percaya diri mengatakan itu”, ujar Ny Im dengan nada suara yang sudah serak.
Yoona langsung menipiskan bibirnya. Dia merasa Ny Im belum mau memberinya izin. Yoona sudah tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Dia sudah mencurahkan seluruh alasannya pada ommanya itu, tapi sepertinya sia-sia.
Ny Im menatap seluruh kamar yang sangat berantakan itu. Ciri khas Yoona sekali. Wanita itu menatap ranjang single yang terdapat disudut ruangan itu.
‘jadi disinikah dia bersembunyi selama ini?’, batin Ny Im merasa iba dan juga bersalah. Ditatapnya Yoona yang masih berlutut didepannya dengan kepala menunduk.
“kau yakin kau bisa menepati semua janjimu itu?”, ucap Ny Im.
“Ya…aku bisa”, balas Yoona tegas sambil mendongakkan kepalanya. Sebelah alis Ny Im naik ketika memandang wajah Yoona yang penuh keyakinan. Ini pertama kalinya Ny Im melihat Yoona memiliki tekat dalam hidupnya. Ketika dulu Ny Im menyerah untuk kesembuhan putrinya itu, Yoona terlihat seperti mayat hidup dulu.
Tiba-tiba Ny Im mengangkat tangannya tinggi. Yoona spontan memejamkan matanya. Karena yang dipikirkannya adalah Ny Im akan menamparnya lagi. Tapi tiba-tiba sesuatu menimpa kepalanya. Ny Im meletakkan telapak tangannya diatas kepala Yoona. Hanya beberapa detik saja, setelah itu Ny Im menjauhkannya. Wanita itu melangkah menuju pintu. Tapi sebelum mencapai pintu dia berhenti.
Yoona berbalik menatap Ny Im yang membelakanginya itu.
“omma akan menagih janjimu itu. Tapi jika kau gagal, omma tidak akan segan-segan menghancurkan semua isi kamar ini”, ancam Ny Im.
“ya…aku janji”, balas Yoona.
“dan satu lagi…tidak ada orang sukses yang mau berlutut seperti itu. Cepat berdiri. Kau semakin terlihat seperti orang bodoh”, lanjut Ny Im. Kali ini sudah kembali ke sifat aslinya yang arogan dengan kata-kata menyakitkannya. Tapi Yoona yang mengerti dengan ucapan ommanya itu, langsung berdiri dan membersihkan bagian bawah pakaiannya yang sedikit kotor.
“terima kasih omma”, ucap Yoona kali ini dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
Wanita itu hanya tersenyum kecil tapi dengan cepat langsung mengembalikan wajah datarnya. Ny Im pun keluar dari kamar itu. Tapi dia kembali berhenti ketika berpapasan dengan seorang pria, pemilik rumah itu.
“mau menemani ommonim minum secangkir teh?”, tawar Ny Im dan langsung dibalas dengan anggukan dari pria itu. Tapi pria itu sempat berbalik untuk mengatakan sesuatu pada Han Ajumma. Tapi seolah-olah sudah mengerti, Han Ajumma langsung mengangguk.
Han Ajumma masuk ke dalam kamar itu untuk yang pertama kalinya. Selama lima tahun tinggal dirumah itu, Han Ajumma tidak pernah masuk ke kamar Yoona karena itu adalah perintah dari Yoona sendiri.
Wanita itu menatap kamar tu dengan kening mengerut.
‘sangat berantakan. Ciri khas Yoona sejak kecil’, batin wanita paruh baya itu sambil tersenyum lembut.
“Nona tidak apa-apa? Maafkan aku”, ucap Eunji karena dialah Ny Im mengetahui pekerjaan Yoona yang sebenarnya.
“jangan meminta maaf seperti itu. Ini bukan salahmu. Mungkin memang sudah saatnya omma tahu dan juga Ajumma”, ucap Yoona sambil menghapus air matanya. Tangan Yoona terulur ingin menggapai Han Ajumma. Wanita paruh baya itu langsung menggapai tangan Yoona dan menangis. Yoona memeluk Han Ajumma erat yang dibalas wanita paruh baya itu juga.
“Nona sudah kembali seperti Nona kecil yang selalu penuh semangat dan tekat. Terima kasih”, gumam Han Ajumma. Yoona kembali menangis, terharu mendengar perkataan wanita yang selama ini selalu menemaninya dirumah ini. Menjaganya dan memberinya nasehat, walaupun dirinya sering membangkang. Wanita paruh baya yang begitu sabar menghadapinya.
Eunji yang melihat pemandangan yang ada didepannya pun ikut bergabung dengan mereka, memeluk kedua wanita yang selalu bersamanya itu.
>>>>>>>
Yoona meregangkan tubuhnya yang terasa kaku. Ditatapnya jam dinding, sudah menunjukkan jam lima sore. Tidak terasa sudah menjelang malam. Sejak mendapat izin dari Ny Im dan juga dukungan yang tiada henti dari Han Ajumma dan juga Eunji membuat semangatnya membara. Ide-ide bagus pun langsung bermunculan dalam pikirannya. Karena terlalu bersemangat lagi-lagi dia melupakan waktu.
“sebaiknya aku mandi dulu sebelum Wheein datang”, ucap Yoona sambil meraih ponselnya dan berlalu keluar dari kamarnya – atau mungkin sekarang sudah menjadi ruang kerjanya. Karena sudah seminggu lebih Yoona tidur dikamar Donghae.
Yoona membuka kamar Donghae dan bertepatan saat itu pintu kamar mandi pun terbuka mempertontonkan tubuh indah Donghae yang hanya dibalut handuk dipinggangnya.
“oppa sudah pulang?”, tanya Yoona kaget. Pasalnya tidak biasanya Donghae pulang sore hari. Paling cepat biasanya jam tujuh malam.
“mmm…ya…begitulah”, jawab Donghae berbohong. Entah kenapa dia tidak ingin memberitahu jika dirinya sejak tadi pagi sudah pulang karena mendapat kabar dari Eunji, mertuanya datang lagi ke rumahnya. Seperti orang kesetanan Donghae melajukan mobilnya menuju ke rumah. Dia takut Ny Im menyakiti Yoona lagi. Tapi ternyata dugaannya salah besar. Bahkan mertuanya itu mengajaknya menikmati secangkir teh ditaman belakang rumah dan pembicaraan mereka sudah tidak seperti dulu lagi. Kali ini mereka lebih banyak membicarakan tentang pekerjaan saja.
“kau ingin mandi?”, tanya Donghae sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
“mmm”, jawab Yoona sambil mengambil pakaian gantinya dari lemari.
“sebentar lagi Wheein akan datang, jadi aku mandi sekarang saja. Takutnya karena terlalu larut bekerja, aku jadi malas mandi”, lanjut Yoona.
“kau masih ingin melanjutkan pekerjaanmu?”, tanya Donghae sambil memeluk Yoona dari belakang. Dada telanjang Donghae langsung bersentuhan dengan punggung Yoona. Rasa dingin dari dada Donghae langsung menjalar ditubuhnya. Yoona menoleh menatap pria yang meletakkan dagunya diatas bahunya itu. Dari pendengarannya Donghae seperti sedang merengek sekarang.
“jangan seperti anak kecil oppa. Salah oppa sendiri yang merayuku untuk ikut kompetisi itu. Jadi berhentilah seperti anak kecil”, ujar Yoona. Donghae semakin mengerucutkan bibirnya ditambah kesal karena jawaban Yoona yang tidak mau peduli.
“kau tega membiarkanku tidur seorang diri?”, tanya Donghae dengan nada memelas. Dia tidak habis akal untuk membujuk Yoona.
“oppa ini masih jam lima. Terlalu cepat untuk tidur. Sudahlah. Cepat oppa pakai baju lalu bersiap-siap untuk makan malam”, balas Yoona dan langsung melepas lilitan lengan Donghae dipinggangnya. Dia melenggang dengan santainya menuju kamar mandi.
“yak..kau..”, Donghae berniat ingin mengumpat tapi tidak jadi.
Beberapa menit membersihkan diri, Yoona pun menuju dapur. Disana sudah ada Donghae. Ketika pria itu menyadari kehadiran Yoona, wajah pria itu langsung menoleh kearah lain. Sepertinya pria itu sedang merajuk karena masalah Yoona yang tidak bisa menemaninya tidur.
Yoona menarik kursi disamping Donghae. Kali ini meja besar yang tidak disukai Donghae itu sudah diganti dengan meja kecil yang hanya diperuntukkan untuk empat orang saja. Jangan tanya ulah siapa. Tentu saja Donghae.
Donghae melirik Yoona yang duduk disampingnya. Biasanya Yoona duduk berhadapan dengannya. Tidak biasanya istrinya itu duduk disampingnya seperti sekarang.
“oppa sudah makan?”, tanya Yoona.
“belum”, balas Donghae dengan nada malas.
“kenapa?”
“tentu saja menunggumu”
“ohhh…oppa memang suami yang sangat manis dan perhatian”, puji Yoona. Bermaksud ingin merayu Donghae agar tidak marah lagi padanya. Dan tentu saja berhasil. Bagi Yoona meluluhkan hati Donghae sangatlah mudah.
“benarkah?”, tanya Donghae yang sudah menoleh menatap Yoona.
“tentu saja. Tidak ada suami yang seperti oppa. Baik, perhatian, penyabar, dan juga…mesum”, ucap Yoona dengan menekanan diakhir katanya. Mendengar itu Donghae hanya menyengir.
“baiklah…ayo kita makan”, ajak Donghae.
“ngomong-ngomong besok ayo makan siang bersama dikantorku”, ajak Donghae, sambil mengambil beberapa potong daging ke piringnya.
“besok?”, tanya Yoona.
“iya…kenapa? Kau ada kegiatan atau pekerjaan?”, tanya Donghae penasaran.
“mmm…itu…aku ingin pergi kesuatu tempat”, ucap Yoona.
“kemana? Dengan siapa?”
“ke suatu tempat dan aku pergi sendirian”
“apa? Tidak boleh. Aku harus ikut”, balas Donghae.
“tidak. Oppa tidak boleh ikut. Oppa tenang saja, aku akan menjaga diri dengan baik”, ucap Yoona berusaha meyakinkan Donghae.
Ketika mandi tadi Yoona sudah memikirkan rencananya itu. Jadi Donghae tidak boleh merusaknya. Ini untuk kebaikan dirinya dan juga kesembuhannya.
“tapi”
“tidak ada tapi-tapian. Yang jelas ketika oppa sudah pulang ke rumah, oppa pasti sudah melihatku ada dirumah. Aku bisa jamin itu”, lanjut Yoona merusaha meyakinkan.
Donghae menatap wajah Yoona dan juga mata gadis itu. Mencari kebohongan disana. Tapi nihil. Gadis itu tidak sedang berbohong dan juga tidak terlihat ketakutan.
‘dia tidak ketakutan. Jadi ada kemungkinan dia tidak sedang ingin menemui si peneror itu. Lalu mau kemana dia?’, batin Donghae.
“makan oppa”, ucap Yoona menyadarkan Donghae dari pemikirannya. Donghae pun melanjutkan makannya sambil sesekali melirik Yoona. Merasa tidak begitu yakin untuk melepas Yoona seorang diri besok.
>>>>>>>
Tiffany tiba dirumah Donghae dan Yoona ketika baru mendapat kabar dari panitia penyelenggara kompetisi desain itu, bahwa Yoona mendaftarkan dirinya, ikut dalam kompetisi itu. Dia merasa sangat senang. Setidaknya ini bisa membantu Yoona untuk bisa membuka diri.
Bertepatan dengan Tiffany keluar dari mobilnya, mobil lain pun tiba dihalaman rumah itu. Tiffany pikir itu adalah Yoona tapi ternyata bukan.Wheein keluar dari mobil dan menatap Tiffany dengan kening mengerut.
‘Yoona unnie tidak ada dirumah. Jadi untuk apa gadis itu datang? Jangan-jangan…’, pikiran buruk langsung menghantui Wheein.
“untuk apa unnie datang kesini? Bukankah Yoona unnie sedang pergi keluar?”, tanya Wheein sinis.
Tiffany kaget dengan nada bicara gadis itu dan juga raut wajahnya yang terlihat sangat datar. Sangat berbeda ketika bersama dengan Yoona.
“aku akan menunggunya pulang”, jawab Tiffany seadanya. Dia masih kaget dengan perlakukan Wheein yang terkesan seperti mengusir dan tidak menyukainya. Merasa suasana diantara mereka tidak menyenangkan, Tiffany memutuskan untuk masuk ke rumah terlebih dahulu.
“tunggu”, seru Wheein tiba-tiba dan Tiffany pun berhenti dan berbalik.
“sebenarnya apa tujuan unnie?”, tanya Wheein. Tiffany mengerutkan keningnya, bingung – lebih tepatnya tidak mengerti.
“apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti”, balas Tiffany. Kali ini gadis itu pun mulai berbicara dengan nada sedikit meninggi. Karena merasa Wheein tidak sopan.
“tidak perlu mengelak lagi. Saat pertengkaran Yoona unnie dan Nara unnie waktu itu, unnie ada disana”, ujar Wheein langsung menyerang. Selama ini dia merahasiakan ini dari siapapun. Tapi ketika melihat gadis didepannya itu akhir-akhir ini datang ke rumah, membuat Wheein resah.
Tiffany sangat kaget dengan ucapan Wheein. Tubuhnya langsung menengang dan tangannya langsung gemetaran.
“a-aku tidak mengerti dengan apa yang kau bicarakan”, balas Tiffany sambil menahan kegugupannya. Merasa dirinya terintimidasi dengan tatapan tajam Wheein, membuatnya kembali membuka pintu mobilnya. – berniat pergi.
“Aku melihat sendiri unnie keluar dari restoran itu setelah Yoona unnie dan Eunji pulang”, tambah Wheein. Dia tidak akan menyerah sampai Tiffany mengaku. Tubuh Tiffany gemetaran karena tidak bisa membalas perkataan Wheein. Tapi dia sudah bertekat akan menyelesaikan semuanya tanpa ada yang merasa dirugikan. Walaupun dia harus mengorbankan perasaannya.
“jangan asal bicara. Kau tidak mempunyai bukti”, balas Tiffany dan langsung masuk ke dalam mobilnya.
“tunggu…unnie…jangan lari”, ucap Wheein ingin mencegah Tiffany tapi sayang Tiffany sudah melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah.
“sial!”, umpat Wheein. Gadis mungil itu menatap tajam pada mobil Tiffany yang keluar dari gerbang. Tidak jauh dari sana, dibalkon lantai dua, seseorang sedari tadi memperhatikan mereka.
Tring tring tring~
Ponsel Wheein berbunyi menghentikannya menatap terus kearah gerbang walaupun mobil Tiffany sudah tidak terlihat lagi.
“yeoboseyo?”, ucap Wheein setelah meletakkan ponselnya ditelinga kirinya.
“diatas”, hanya itu jawaban dari si penelepon itu.
Wheein langsung mendongak menatap kearah balkon dan matanya langsung membulat. Diatas sana berdiri Donghae yang menatapnya dengan tajam, bahkan Wheein sampai merinding melihat tatapan itu.
“sa-sajangnim”, ucap Wheein terbata.
“apa yang kalian bicarakan sampai membuat Tiffany pulang seperti itu?”, tanya Donghae langsung to the point.
Sebenarnya tadi dia tidak sengaja melihat Wheein dan Tiffany yang sedang berbicara dihalaman rumah. Dia baru selesai mandi setelah pulang kerja. Tubuhnya sangat lelah setelah menyelesaikan pekerjaannya tadi. Jadi dia memutuskan untuk pulang lebih cepat sebelum Yoona sampai dirumah. Tadinya Donghae berdiri diatas balkon itu untuk menunggu Yoona pulang sambil mengamati pergerakan Yoona dari GPS di ponselnya. Tapi niatannya itu tertunda ketika melihat Wheein dan Tiffany seperti adu mulut.
“i-itu…” karena terlalu gugup Wheein kesulitan untuk melanjutkan perkataannya.
“kau tidak sedang berniat untuk menghianati aku dan Yoona kan?”, ucap Donghae.
“a-apa? Tidak. Aku tidak pernah menghianati kalian. Sajangnim sangat tahu itu”, balas Wheein tidak terima dengan perkataan Donghae.
“kalau begitu apa yang kau dan Tiffany bicarakan tadi?”, tanya Donghae.
Wheein mengeratkan genggamannya pada ponselnya. Menguatkan diri jika sewaktu-waktu Donghae akan marah dengan mengakuannya ini.
“sebenarnya, ketika Yoona unnie dan Nara unnie berkelahi, saat itu aku tidak ikut masuk ke dalam restoran itu karena boss tempatku bekerja meneleponku sajangnim. Dan ketika aku tiba didalam restoran itu semua sudah terjadi. Karena aku ketakutan Yoona unnie akan mengetahui identitasku sebagai adik Jung Nara, membuatku hanya diam bersembunyi sampai Yoona unnie dan Eunji pulang. Tapi sesaat setelah mereka pergi, aku tidak sengaja melihat Tiffany unnie keluar juga dari restoran itu dan terlihat sangat buru-buru atau mungkin ketakutan. Aku tidak tahu pastinya sajangnim”, jelas Wheein. Ini adalah rahasianya sendiri yang disimpannya seorang diri selama ini.
“Apa? Tiffany ada disana juga?”, respon Donghae kaget.
“i-iya sajangnim”
“kenapa kau tidak mengatakannya padaku?”, tanya Donghae dengan nada meninggi.
“ma-maaf sajangnim. Awalnya ku pikir itu hanya pikiranku saja. Tapi karena akhir-akhir ini Tiffany unnie sering menemui Yoona unnie membuatku khawatir”, jelas Wheein.
“hah…sudahlah. Aku akan mencari tahu dulu apa yang terjadi. Dan kau jangan beritahu apapun pada Yoona. Karena ini akan sangat menyakitkan untuknya jika benar Tiffany terlibat dalam masalah teror itu. Kau juga berhati-hatilah. Kau adalah kunci dari semua masalah ini dan nyawamu pun akan terancam setelah ini karena kau mengetahui orang-orang yang mungkin adalah tersangka dari semua kejadian ini. Kau mengerti”, peringat Donghae.
“ba-baik sajangnim”, ucap Wheein patuh dan setelah itu Donghae memutus sambungan telepon itu.
Donghae menghembuskan napas berat sambil menatap lurus ke depan. Jalan pikirannya semakin rumit ketika tambah lagi seseorang yang ada kemungkinan adalah tersangka dari semua ini. Dan yang satu ini benar-benar diluar dugaannya. Dia tidak tahu kenapa Tiffany sampai melakukan semuanya ini pada Yoona dan apa sebenarnya motif gadis itu melakukan teror itu.
Tiba-tiba pandangan Donghae jatuh pada seorang wanita yang baru memasuki pelataran rumah. Seketika senyum Donghae terbit. Orang yang ditunggu-tunggunya sudah tiba dengan semangat. Donghae pun langsung berbalik, kembali masuk ke dalam rumah.
>>>>>>>
Tiffany tiba di basement sebuah apartemen yang sudah sangat jarang dikunjunginya. Dia keluar dari mobilnya dengan tergesa-gesa.
Tiffany memasukkan PIN untuk membuka pintu aparteman didepannya. Ketika pintu terbuka, didalam sana sangat sepi, seperti tidak berpenghuni. Dengan berlahan Tiffany masuk tapi suara bentakan mengagetkannya.
“BRENGSEK. BERANI-BERANINYA DIA MELARIKAN DIRI SETELAH MENERIMA UANG DARIKU. DAN KALIAN PUN SANGAT BODOH. BAGAIMANA BISA KALIAN BISA KEHILANGAN TUA BANGKA ITU”, teriak seorang pria yang sudah hampir sebulan ini tidak pernah ditemuinya. Pria itu terlalu sibuk dengan rencana-rencana jahatnya.
Tiffany bersembunyi untuk mencuri dengar pembicarakan orang-orang disana.
“dan kau segera singkirkan gadis yang suka ikut campur itu. Dasar bodoh”, ujar si pria itu lagi pada pria yang jau lebih tua darinya itu.
“aku tidak mau tahu…kalian harus segera membawa Yoona padaku. Kalian mengerti”, ucap pria itu tegas. Dan tiga orang pria yang berada dihadapannya langsung menunduk hormat.
Ketika suasana disana kembali hening, Tiffany berniat untuk pergi sebelum ketahuan oleh mereka. Tapi karena kebodohannya, gadis itu berbalik tanpa memperhatikan langkahnya ketika kakinya tidak sengaja berbenturan dengan kaki meja. Bunyi yang dihasilkan dari meja itu langsung terdengar ditambah dengan suasanya yang awalnya sepi.
‘bodoh’, umat Tiffany pada dirinya sendiri. Gadis itu pun langsung mempercepat langkahnya keluar dari apartemen itu. Tapi sayang dia tidak bernasib baik.
“apa yang kau lakukan disini?”, tanya seorang pria dibelakang Tiffany. Gadis itu langsung terdiam kaku. Jantungnya berdebar-debar karena ketakutan.
“kau mendengar semuanya?”, tanya pria itu lagi. Kali ini Tiffany berbalik menatap langsung pria dihadapannya. Pria itu terlihat seperti tidak terurus. Rambut berantakan dan wajah yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus disekitar dagu dan diatas bibirnya..
“aku ingin mengingatkanmu untuk menghentikan semuanya”, ucap Tiffany sambil menekan rasa takutnya. Dia tahu sekarang nyawanya sedang dipertaruhkan. Pria didepannya itu adalah orang paling brengsek dan gila.
“itu bukan urusanmu. Jangan pernah ikut campur”, balas pria itu dengan penekanan disetiap ucapannya.
“bukan urusanku kau bilang? Dia keponakanku brengsek”, ujar Yoona. Pria didepannya itu benar-benar sudah tidak waras. Karena terlalu terobsesi membuatnya kehilangan arah.
“tutup mulutmu”, balas pria itu.
“sebenarnya apa yang ada dalam pikiranmu? Sadarkah kau, pertunangan ini bukanlah mainan atau alatmu untuk merebut milik orang lain. Aku juga memiliki perasaan. Sebenarnya kau anggap apa aku selama ini”, ujar Tiffany dengan nada meninggi.
“pertunangan itu hanya pura-pura”, balas pria itu.
“jika memang begitu maka katakan yang sebenarnya pada ommonim. Kau membuatku semakin terluka”
“…”
“Kau tahu aku mencintaimu tapi kau dengan terang-terangan menunjukkan rasa sukamu pada Yoona didepanku”, ujar Tiffany lagi. Kali ini matanya sudah berkaca-kaca. Suaranya bahkan tercekat karena rasa sesak yang selama ini ditahannya seorang diri. Karena dirinya yang begitu bodohnya dibutakan oleh cinta hingga mengorbankan keluarganya – keponakan yang sangat disayanginya.
“aku tidak pernah mencintaimu”, balas pria itu.
Mendengar itu betapa murkanya Tiffany. Pria itu tidak pernah bisa sedikitpun bersikap baik padanya ditambah sejak munculnya Donghae disamping Yoona. Pria itu semakin tidak bisa mengendalikan obsesinya pada Yoona.
“BRENGSEK”, maki Tiffany dan langsung menerjang pria itu. Memukulinya terus-menerus. Tapi sayangnya bagi pria itu tenaga Tiffany tidaklah sebanding dengannya. Dengan cepat kedua pergelangan tangan Tiffany digenggamnya, lalu dilemparkannya tubuh Tiffany pada anak buahnya.
“jauhkan dia dariku”, perintah pria itu dan mereka langsung menyeret Tiffany ke sebuah ruangan.
“brengsek…lepaskan aku”
“lepaskan”
Tiffany terus menerus berteriak, meminta dilepaskan hingga sebuah kain membungkam mulut dan hidungnya dan seketika penglihatannya buram dan berlahan menggelap.
>>>>>>>
Yoona memasuki rumah dengan perasaan riang karena berhasil menyelesaikan misinya hari ini dengan baik. Ya walaupun harus melalui hambatan disana sini.
Yoona membuka pintu kamarnya dan menemukan Donghae dengan majalah ditangannya. Pria itu membaca majalah yang biasa Yoona baca sebelum tidur. Pria itu membaca majalah fashion.
“kau sudah pulang?”, ujar Donghae ketika menemukan Yoona diambang pintu kamarnya.
“ya…dan oppa juga tidak biasanya pulang secepat ini”, ucap Yoona sambil meletakkan tasnya diatas meja.
“ini sudah malam sayang…tentu saja aku sudah pulang”, balas Donghae santai.
“ya aku tahu, hanya saja tidak biasanya tepat waktu”, balas Yoona kali ini dia langsung masuk ke dalam kamar mandi. Tubuhnya sangat lengket karena seharian dibawah terik matahari.
Donghae hanya mendengus melihat tingkah Yoona yang seperti tidak peduli padanya. Donghae pun merengut kesal.
Yoona keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah lebih segar setelah beberapa jam berendam dengan air hangat. Rasa letihnya sedikit berkurang sekarang.
“oppa…dimana oppa menyimpan hair dryer ku?”, tanya Yoona sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Merasa tidak ada jawaban Yoona berbalik menatap kearah Donghae. Seketika senyum Yoona terbit melihat tingkah Donghae. Pria itu terduduk diatas ranjang dengan kepala menunduk – pria itu tertidur.
Yoona mendekati pria itu, mengambil majalah dari tangan Donghae, meletakkannya diatas nakas disamping ranjang. Setelah itu Yoona naik keatas ranjang, duduk disamping Donghae. Setelah itu Yoona menarik tubuh pria itu hingga bersandar ditubuhnya yang kurus. Yoona meletakkan kepala pria itu dibahunya.
Yoona mengusap-usap rambut Donghae, membuat pria itu semakin larut dalam tidurnya. Wajah pria itu sangat kelelahan. Yoona tahu mengapa wajah Donghae sangat kelelahan. Tentu saja karena pria itu menambah pekerjaannya dengan mengikuti Yoona secara diam-diam seharian ini. Mulai dari gallery lukisan, lalu taman kota dan juga taman bermain dengan menyamar sebagai badut. Hingga yang terakhir pria itu menyamar sebagai penumpang kereta yang juga Yoona naiki untuk pulang tadi.
Hari ini Yoona memang memiliki misi untuk melaksanakan janjinya untuk bisa sembuh. Jadi Yoona memulai proses pengobatannya dengan mencoba mendatangi tempat yang kemungkinan besar didatangi oleh banyak orang. Walaupun banyak hambatan yang harus dilaluinya tapi Yoona selalu ditemani oleh pria dalam pelukannya itu, walaupun secara diam-diam.
Yoona mengecup kening Donghae dengan lembut. Walaupun pada awalnya dia kesal karena Donghae mengikutinya tapi lambat laun Yoona menyadari jika prianya itu terlalu mengkhawatirkannya. Membuat Yoona tidak bisa marah pada Donghae.
“terima kasih oppa”
>>>>>>>
Donghae menuju dapur sambil menggulung lengan kemejanya. Pria itu tidak memperhatikan orang-orang yang ada didapur dengan raut ajah tegang.
“selamat pagi Tuan”, sapa Han Ajumma.
“selamat pagi Ajumma”, balas Donghae dengan kening mengerut ketika beberapa maid, termasuk Eunji sedang menatap seorang yang sedang berkutat dengan masakannya. Menyadari siapa yang sedang memasak itu membuat raut wajah Donghae tidak jauh beda dari dari raut wajah para maid disana. Merasa tegang, seperti kiamat akan datang.
“oh oppa sudah bangun ternyata”, seru Yoona dengan wajah yang berantakan dan apron yang melekat ditubuhnya.
“i-iya”, jawab Donghae.
“apa yang terjadi Ajumma?”, bisik Donghae pada Han Ajumma.
“saya tidak tahu Tuan. Tiba-tiba saja Nona datang pagi-pagi ke dapur dan menyuruh kami untuk menjauh dari dapur karena dia ingin memasak”, jawab Han Ajumma juga ikut berbisik.
“memangnya dia bisa memasak?”
“ketika Nyonya Lee berkunjung, Nona memang belajar memasak Tuan. Tapi…ya begitulah”
Donghae langsung tersenyum kecut. Sebentarlagi dia akan memakan masakan istrinya untuk yang pertama kalinya.
“apa yang kalian bicarakan?”, tanya Yoona yang ternyata sudah berada didepan mereka dengan membawa sepiring nasi goreng ditangannya.
Donghae menatap isi piring itu dengan jantung berdebar-debar. Dari penampilannya saja, Donghae sudah tahu seperti apa rasa masakan itu.
“ayo oppa sarapan dulu. Aku memasaknya special untuk oppa”, ucap Yoona dengan riang. Donghae tersenyum melihat Yoona yang terlihat sangat senang karena merasa dirinya berhasil menghasilkan sebuah masakan dengan tangannya sendiri.
Donghae mengambil tissue lalu mengusapnya diwajah Yoona yang kotor. Istrinya itu terlalu semangat hingga tidak menyadari penampilannya sekarang.
“terima kasih”, ucap Yoona ketika Donghae memperlihatkan tissue ditangannya yang sudah kotor karena melap wajah Yoona.
Yoona pun duduk disamping Donghae. Menatap pria itu mulai memakan masakannya.
“kau tidak sarapan?”, tanya Donghae ketika hampir memasukkan sesendok sarapannya itu ke mulutnya.
“tidak. Nanti saja”, balas Yoona masih dengan senyumnya. Donghae pun mengangguk dengan ragu. Sebenarnya dia ingin mengulur-ulur waktu hingga Yoona pergi dan Donghae akan segera mengganti menu sarapannya. Tapi sepertinya hal itu hanya ada dalam angan Donghae. Karena Yoona tidak beranjak sedikitpun dari duduknya.
“ayo dimakan oppa”, ucap Yoona. Berlahan Donghae memasukkan sesendok kemulutnya. Mengunyahnya berlahan. Keningnya langsung mengerut karena rasa makanan dalam mulutnya benar-benar sangat tidak enak.
“bagaimana rasanya?”, tanya Yoona antusias. Melihat semangat Yoona membuta Donghae tidak tega mengatakan jika masakan istrinya itu sangat tidak enak.
‘e-enak”, jawab Donghae dengan senyum lebarnya.
“benarkah? Wah…aku berhasil”, seru Yoona senang. Melihat betapa bahagianya Yoona sekarang membuat Donghae pun ikut bahagia.
Setelah perjuangan berat untuk menghabiskan nasi goreng itu, akhirnya Donghae berangkat kerja. Dan Yoona pun kembali melanjutkan pekerjaannya dikamarnya. Hari ini dia hanya seorang diri karena Wheein tidak bisa datang karena lagi-lagi Nara membuat ulah.
Yoona mengamati hasil pekerjaannya yang sudah melekat di mannequin. Tapi keningnya langsung mengerut ketika baru menyadari dia belum tahu tema apa yang akan diperlombakan nanti. Dia melupakan hal penting itu. Yoona pun langsung menghubungi Tiffany tapi tidak diangkat.
“kemana gadis cerewet ini”, ucap Yoona masih mencoba menghubungi Tiffany. Tapi tetap saja tidak bisa.
“ah…mungkin dia sedang sibuk”, ucap Yoona menyerah untuk menghubungi Tiffany. Tapi beberapa menit kemudian ponselnya berbunyi tapi nomor tidak dikenal.
Yoona sempat ragu untuk menerima panggilan tersebut. Dia malas meladeni jika si penelepon itu adalah peneror yang akhir-akhir ini tidak pernah muncul lagi.
“siapa ini?”, tanya Yoona langsung ketika sudah menerima panggilan itu.
“ini saya…Kim Taehyung, Nona”, ucap si penelepon. Yoona mengerutkan keningnya.
“ada apa?”
“sajangnim tadi muntah-muntah dan sekarang sedang dibawa ke rumah sakit Kyunghee”, jelas Taehyung diseberang sana.
“a-apa? Apa yang terjadi?”, tanya Yoona panik.
“nanti saya akan menceritakannya Nona. Saya sedang mengemudi”, balas Taehyung.
“ba-baiklah. Aku akan menyusul kesana”, ucap Yoona dan langsung memutus sambungan telepon itu dan segera ganti pakaian.
>>>>>>>
Yoona tiba di rumah sakit Kyunghee dan langsung mencari keberadaan Donghae dan untungnya Taehyung sedang berada disana.
“Kim Taehyung”, panggil Yoona.
“ohh Nona sudah sampai. Mari saya antar”, ucap Taehyung dan Yoona langsung mengikuti pria kaku itu.
Setibanya didepan pintu kamar rawat Donghae, Yoona membuka pintu itu dan menemukan Donghae yang tergeletak diatas ranjang dengan wajah pucat.
Donghae dan seorang dokter yang berada disana juga, langsung menoleh kearah pintu.
“oppa~”, ucap Yoona dengan suara serak. Dia sangat ketakutan Donghae kenapa-kenapa.
“kau datang?”, balas Donghae lemah.
Yoona menghampiri Donghae dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Diamatinya wajah Donghae yang sangat pucat.
“a-apa yang terjadi dokter?”, tanya Yoona.
“Anda tidak perlu khawatir. Tuan Lee hanya muntah-muntah saja akibat keracunan makanan. Tapi tidak parah. Kondisi Tuan Lee sudah membaik sekarang”, jawab dokter itu.
“keracunan?”, tanya Yoona tidak percaya. Tapi dokter itu mengangguk.
“dia makan apa dikantor?”, tanya Yoona pada Taehyung.
“sajangnim tidak mengkonsumsi apa pun selama dikantor Nona”, jawab Taehyung.
‘apa jangan-jangan karena masakanku?’, pikir Yoona.
Yoona menatap Donghae seolah ingin meminta jawaban dari gadis itu. Melihat Donghae yang tersenyum membuat Yoona yakin Donghae seperti ini karena masakannya. Yoona langsung menunduk sedih.
“kalau begitu saya permisi dulu”, pamit dokter itu dan berlalu bersama Taehyung juga.
Donghae menatap Yoona yang masih diam menunduk disamping ranjangnya.
“hei…kemarilah. Jangan menjauh seperti itu”, ucap Donghae lemah. Tapi Yoona masih tetap diam saja.
Berlahan Donghae bangkit dan langsung meraih lengan Yoona. Menarik istrinya itu untuk mendekat.
“hei…ada apa?”, tanya Donghae sambil menarik dagu Yoona hingga menatapnya. Mata gadis itu berkaca-kaca.
“aigo~ jangan menangis. Aku tidak apa-apa sayang”, ucap Donghae.
“maaf. Karena oppa makan masakanku, oppa harus menderita seperti ini”, ucap Yoona kali ini air matanya sudah tumpah.
“aku tidak apa-apa. Kau tenang saja. Besok aku pasti sudah sembuh”, balas Donghae. Yoona tetap menangis dalam diam.
Donghae bergeser sedikit hingga menyisakan tempat diranjang single itu.
“kemarilah”, ajak Donghae sambil menepuk-nepuk sisi ranjang yang disisihkannya. Berlahan Yoona naik keranjang itu dan Donghae pun langsung mengambil posisi tidur, Yoona pun melakukan hal yang sama.
“maafkan aku oppa”, ucap Yoona lagi.
“sudah…sudah. Jangan pikirkan lagi. Aku tidak apa”
“apa sangat sakit?”, tanya Yoona sambil mengelus pipi Donghae. Wajah pria itu masih terlihat pucat.
“sedikit. Tapi sekarang sudah tidak. Karena istriku yang cantik sudah datang. Istriku memang obat yang sangat manjur”, ucap pria itu mulai dengan kata-kata manisnya.
“kalau seperti ini oppa seperti bukan orang sakit lagi”, cibir Yoona. Tapi dibalas dengan kekehan dari Donghae. Tapi tiba-tiba Donghae menipiskan bibirnya. Rasa mual kembali melandanya.
“kenapa? Oppa ingin muntah lagi?”, tanya Yoona ketika melihat wajah Donghae yang sepertinya menahan sesuatu.
Yoona bangkit lalu mencari sesuatu yang dapat meredakan mual Donghae. Ketika membuka laci disampingnya, Yoona menemukan minyak angin.
“hanya ada ini”, ujar Yoona.
Yoona menuangkan sedikit ditangannya lalu mengusapnya dileher Donghae. Dan sepertinya sedikit mengurangi mual Donghae.
“ oppa sudah lebih baik?”
“ya” “aku mau disini juga”, ucap Donghae sambil mengangkat bajunya hingga memperlihatkan perut kotak-kotaknya. Yoona langsung merona melihat pemandangan indah itu.
“aku mau dibuat disini juga”, ucap Donghae menyadarkan Yoona.
“ahh iya sebentar”, ucap Yoona gugup sambil menuangkan minyak itu lagi di telapak tangannya. Dengan berlahan diarahkannya kedua telapak tangannya ke perut Donghae, lalu mengusapnya disana.
“sudah”, ujar Yoona. Donghae pun kembali memperbaiki pakaiannya.
“oppa istirahat lagi”, tambah Yoona memperbaiki selimut Donghae.
“temani”, ucap Donghae seperti anak kecil. Yoona hanya terkekeh melihat sifat kekanak-kanakan Donghae mulai muncul.
“baiklah. Aku akan menidurkan oppa”, ucap Yoona mengalah.
“aku tidak mau seperti itu”, balas Donghae cepat. Sepertinya rasa mualnya memang sudah hilang. Terbukti dari gerakan cepat Donghae yang menarik tubuh Yoona hingga kembali tidur disampingnya.
“aku mau dicium”, ucap pria itu dengan senyum lebar. Yoona langsung membulatkan matanya karena bukan hanya sifat kekanakan Donghae yang muncul tapi otak kotornya pun ikut muncul.
“dasar mesum”, cibir Yoona.
“ayolah”
“bagaimana jika ada yang masuk dan memergoki kita?”
“ tidak aka nada yang masuk sayang. Kau tenang saja. Sudah…cepat…cium”, pinta pria itu tidak sabaran. Yoona hanya bisa menghela napas berat. Nasibnya memang sangat sial jika Donghae sudah bertingkah mesum seperti sekarang ini. Bahkan pria itu dengan santainya memasukkan tangannya ke dalam kemeja Yoona.
“oppa nanti ada yang datang”, ucap Yoona menghentikan ulah Donghae.
“ya sudah. Kalau begitu cium”
Yoona menyerah. Dari pada Donghae samakin menjadi jadi. Berlahan Yoona mengecup kening Donghae. Lalu turun ke mata, hidung, pipi dan sesaat Yoona berhenti. Ditatapnya mata teduh Donghae dengan serius.
“aku menyukaimu”, ucap Yoona sangat pelan. Tapi sepertinya Donghae masih bisa mendengarnya.
“a-apa?”, tanya Donghae.
“apa? Memangnya aku mengatakan sesuatu?”, balas Yoona. Donghae tampak terdiam sesaat.
‘benarkah. Apa aku memang terlalu berhalusinasi? Tapi rasanya tadi seperti nyata’, batin Donghae. Melihat wajah serius Donghae membuat Yoona gemas. Segera didaratkannya bibirnya diatas bibir pria itu. Menyesap bibir itu sesaat lalu melepasnya.
Awalnya Donghae kaget dengan perbuatan Yoona tapi sesaat kemudian sebuat smirk muncul diwajahnya. Diraihnya tengkuk Yoona dan langsung mencium bibir Yoona dalam.
Seperti biasa, mereka bermesraan seperti itu tidak hanya sebentar. Biarlah mereka menikmati waktu mereka berdua untuk saat ini.
TBC
Jangan lupa like dan komentarnya ya…
Maaf ya updatenya telat, aku ketiduran. Terus aku update dari hp. Biasanya dari laptop. Tapi karena virus2 itu aku takut hidupin wifi jadi ya begitulah. Taulah dari hp tuh susah updatenya.

See U next chapter
|18 Mei 2017|

Advertisements

43 thoughts on “After Married – 24

  1. KasMha PyrooLiers

    Tuhkannn aku dahh nebak dari awal klo itu nic…
    Pany cptlahh sadarkannn dirinya dan dirimu jugaa…..

  2. bubeeh

    Yoona smkin cinta dengan donghae begitupun donghae wahhhhhh seneng bgt romantis😊😊😊😘😍

    tuhh kann bener yg neror si nic 😡😡 psikopat bgt sihh smg donghae cpt tau dan tifanny bisa ngomong yg sebenrnya ke donghae 😯😯

  3. ichus

    Owwwww sweet nya mereka. Yoonhae sllu deh bisa buat panas dingin, kasihan juga keracunan nasgor. Elaaahh

    Mm, nick obsesi sama yoona. Sereem. Smoga tiffany bisa nyadarin dia. Spy gk ada lagi yg terluka

  4. trywach

    sooo sweet bget sicchhh yoonhaenya,,,
    untung eomma yoona g lgsung marah_marah saat tahu apa yg dilakukan yoona selma ini & pekerjaan yoona yg sbnernya ,,,,
    heeeemmmmmm mkin runyam sipeneror jls si tunangan tiffany
    Aneh bger nich orang ,jika g suka ma tiffany knpa tetep diperthankan tunangan pura2 nyaa,,,
    semoga cepet kebongkar semua kejahatan nya,,,

  5. vedora aliansi mindri

    senang lihat yoona udah mau membuka diri dan mencoba untuk melawan trauma nya..so sweet banget donghae sama yoona sampai donghae harus sakit karena memakan masakan yoona..dari awal udah ngerasa kalau nic lah pelaku teror yang sangat terobsesi sama yoona

  6. sintayoonhae

    yoong udh mulai berani yeayy,,, teka tekinya udh mulai terbuka iihhh tertipu kirain tiff yg ad mksud jahatnya ternyata nic kah?? author hebat bgt bisa buat kita mikir kras hahaha,, okay sy lnjut kepart slnjtnya hahaha makasih thor,, keep writing fighting 😀

  7. Husni Laili Qurrahman

    Nicholas terlalu terobsesi dgn yoona sampai2 dia neror yoona.
    Gimana keadaan tiffany?
    Yoonhae momentnya selalu sweet.
    Semangat thor.

  8. uly assakinah

    jangan sampai yoona kenapa2 gara2 nicolas yang neror semoga aja donghae tetap mengawasi yoona. nyonya im udh mulai melunak. tapi kenapa masih kaya gitu kasihan banget yoona punya ibu yang gk mengerti dirinya.

  9. Lanjutannya mana ?
    Sudaah penasaraan sih hubungan tiff dan peneror itu apa.
    Saran aja nih, jgn keseringan upload tengah malam. Kami mengerti kesibukan author tp kan sudah ada tanggung jawab jugaa untuk pmbaca. Maaf yaa cuma sekedar saran aja sih.

  10. Wah…. Keren………
    Chapter ini feelnya dapet kak, awalnya q nangis2 gara gara adegan yoona eomma sama pas han ahjuma meluk yoona. Itu bikin terharu banget. Trus pas donghae ngikutin yoona seharian, bikin baper aja.
    Jadi tiffany ngorbanin yoona biar bisa tunangan?? Kok jahat banget. Apalagi tunangan Fanny dah kayak gitu. Terlalu terobsesi.
    Hahaha……
    Yoonhae lucu deh, masa donghae keracunan nasi gorengnya yoona gitu. Bikin ngakak abis.
    Wow… So sweet…
    Donghae dimanapun dan kapanpun always… Sweet.
    Penasaran banget next chap gimana? Dan dimana Fanny? Ditunggu next chap ya kak…. Semangat!!

  11. aprilia DY

    yg terobsesi ke yoona itu pasti nic. dan apa tunjuannya tiffany?

    di lanjut chapter selanjutnya eonni cerita daebak fighting ✊ 👌

  12. Masa sih tiffany terlibat peneroran itu,tapi yg jelas dalang dari itu si Nic >.< gara2 obsesinya dia sama yoona jadinya dia tdk bisa mengendalikan dirinya.
    Mudah2an donghae bisa cepat menangkap pelaku peneroran itu,biar gk membahayakan yoona ^^
    Yoonhae jjang^^

  13. Apa iya Tiffany beneran ikut campur dan jadi dalang di balik teror itu ?? aku sih ragu ,tapi apapun itu aku cuma berharap si Nicholas itu cepet ketangkap ,apaan udh kaya orang gila dia terobsesi sam bini orang ..aduh semoga Donghae perketat pengawasan buat Yoona ..
    Dan soal moment gak terlalu sweet kaya di chapter sebelumnya sih tapi aku suka dan semoga next chapternya lebih banyak moment dan lebih sweet ya ^^

  14. Meliii

    Ternyata si nic peneror ny
    Apa yg terjadi ama tiffany??
    Aduuuhh yoonhae moment selalu sweet 😍😍
    Next chap
    Fightiing

  15. Jadi yang neror yoona selama ini nic!!!! Kenapa tiffany diem aja? Yakin dia pasti tau semua nya….
    Kasian donghae 😁… terima.nasib aja ya opppa jadi bahan eksperimen masakan yoona 😄
    Terus semangat nulis thor…

  16. kim kai

    thankz chingu,,,,,, kerja keras bgt sampe update lwat HP ,,,,
    kok aq ngerasa ff nya pendek ya,,, atau mungkin terllu bgus (hehehe),,, d bca gk k rsa,,
    mga next chap mkin sweet yoonhaeX,,,
    cant wait for competition,,, mga yoona menang ,,,, bsa membanggakn suami& kluarganya,

  17. laylee18

    yg neror tuh pasti nicholas tpi lewat orng lain.kyaknya tiffany cma pengen ngelindungi nic doang deh. yoonhae moment is the best
    next kak semoga cepet ketauan siapa yg neror yoona

  18. ana

    Nasi goreng nyq di campur apa ya sama yoona sampai donghae kerqcunan gitu?😂😂 Tapi mereka sweet banget,😚😊😊 nggak sabar nunggu kelanjutannya

  19. Omo ternyata yg selama ini meneror yoona adalah nic tunangan tiffany jahat bgt sih tu org terlalu terobsesi sama yoona kasian juga tiffany, hae keracunan nasgir buatan yoona hihi kasian sih yoona pasti ngerasa bersalah bgt

  20. Chacha

    Akhirnya setelah kemarin bolak balik keluar juga chapter 24.
    Donghae sweet banget.
    Terlalu banyak misteri di ff ini dan sedikit demi sedikit mulai terkuak.
    G’ nyangka tiffany tau semua nya
    Di tunggu besok next chapternya

  21. yoonafishy

    Well done, aku sukaa cuma msih penasaran gimana klo nic ktemu sama donghae pasti seruu cant wait. Cuma ada beberapa kata yg kalo digunakan pake bahasa korea keknya lebih dpt deh feelnya. Conth cium diganti pake poppo atau kisseu kyknya lbih enak bacanya. Ituajasih overall is great 👏👏

  22. Love Yoonhae

    Ternyata peneror yoona itu nic.
    Jahat banget sih terlalu terobsesi dgn yoona.
    Yoonhae moment ny sweet banget. 🙂
    next hari sabtu uda ngak mau baca lanjutanya.
    Semangat thor.

  23. gyuvid

    Ternyata nic yg meneror yoona selama ini. Parahlah terlalu terobsesi dia. Trus apa maksud dari sikap tiffany? Ingin melindungi yoona? Atau justru melindungi nic? Berharap semua baik-baik saja. Jangan sampai nic melukai wheein atau yoona.
    Seperti biasa yoonhae momentnya manis kak ㅋㅋㅋ
    Ditunggu kelanjutannya~~

  24. Yani 86

    Gimna nasib fanny??? Berarti yg neror yoona itu nic ya,,,,,,,

    yoonhae so sweeeet,,,,, nggak sabar nunggu hari sabtu

  25. Jadi peneror itu nicholas?? Sempat menduga dia dari awal dan ternyata benar …ah apa yg terjadi pada tiffany?? Semoga dia baik baik saja..ohh yoonhae memang sweet membuat ku iri 😂😂 good story 👍🏻👍🏻👍🏻

  26. asty

    Uuoghh jd nick biang kerok nya kah,,dan mperalat tiffany gt,,,memang b*****k tuu c nick,,,ms iyeee dia tr obsesi sm ponakan nya c tante jd alat nya dsr g py ht tu org,,,adukhhh tiffany nya gmn tuu thor,,,mg dia ga trlibat jauh denkg dgn aksi teror” nya c nick,,menyebal kan tuuu c nick👊👊….tp geliiii tuuu yoonhae moment nya thor😂😂😂 ampe d rawat tuu oppa hae gara” mkn mskan yoona ahahaha slalu kena sweet momentnya tp bentaran d part ini….fighting drngk thor lanjur next part nya yaaaa,,,,cemumuttt thor😊😊

  27. Iedhaaniyagirl ipethaa

    Adug Thor Akhirnya d posting juga BTW skrg udh tgl 19 lho Thor kekekeke

    Aduuuhhhh gimna so Fanny kasian d sekap ama nic mudh2n ad yg nolongin, Thor klau bisa hrus ad cowok yg Jdi ama so Fanny trus so nic buat jtuh cinta ama Fanny Biar diA mnderita

  28. Pastel Rose

    Jadi bener Tiffany ada hubungannya sama peneror itu. Udah mulai keliatan nih titik terangnya. YoonHae momentnya selalu dapet deh, bagus 🙂
    Ditunggu chapter berikutnya 🙂 Thank u

  29. Al

    Nic terlalu obsesi sama yoona eonni, apa yg terjadi sama tiffany eonni? Semoga donghae oppa bisa melindungi yoona eonni, semoga tidak terjadi apa2 sama whein, semoga donghae oppa dan taehyung oppa bisa menangkap pelaku peneror dan menjaga yoona eonni dan whein, next

  30. dhewi

    Jadi nic yang meneror yoong ??
    Ah donghae imut bgt sampe rela jadi badut buat ngikutin yoong
    *ebooknya kapan jadi thor ??

    Fighting

  31. ulfa intan agustien

    Ternyta bner nic yg slma ini neror yoona, krna terlalu ska sma yoona jdi terobsesi kya gtu. Jdi slma ini tiffany jga tw bhwa nic yg slma ini neror yoona, gmn ya sakitnya yoona klw tw imonya terlibat dan tw org yg slma ini meneror yoona?? Semoga donghae sllu bsa menjga dn melindungi yoona. Moment yoonanya selalu bikin senyum2 sendiri, semoga yoona cpet hmil dan spya nic tdak mengganggu hubungn mreka lgi.

    Next thor 👍😉

  32. SofwaSM

    Ternyata Nic yg selama nie meneror yoona dan tiffany juga terlibat
    Gak bisa membayangkan gimana perasaan yoona klw tau selama ini immonya juga terlibat dlm peneroran itu
    Semoga donghae bisa menjaga&melindungi yoona dri org2 jahat itu
    Akhirnya ny im rada lunak juga ama yoona semoga yoona bisa menang dlm kompetisi ituu
    Yoonhae momentnya selalu sweet moga yoona juga bisa cepet hamil

    Next chap ditunggu banget thorrr
    Fighting

  33. Lisda

    Ternyata nicholas peneror itu -,- terus tiffany gmana? Smga aja yoona kdpnya baik2 aja,btw ending partnya sosweet 😀

  34. jadi si peneror itu nic? sudah ku duga 😎 apa karna terlalu cintanya tiffany sama nic sampai² dia ketakutan begitu ngadepin wheein? hmm jangan sampai donghae lengah, terus nanti yoona diculik sama nic…

  35. Wow really unpredictable. Tiffany ada di balik semua ini ? Apa tujuan tiffany ? Melindungi nic ?
    Can’t stop smiling because of yoonhae moment. Donghae merajuk is the best hahaha.
    Thx for posting 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s