After Married – 18

Mockups Design
After Married Cover Ebook

Author: Fi_ss

Tittle: After Married – 18 – Melting

Lenght: Chapter

Cast: Im Yoona and Lee Donghae

Other Cast: Kim Heecul, Tiffany Hwang, Nicholas, Jung Wheein, Kim Taehyung, Jung Nara, etc

Genree: Romance, married life, Family, etc

Rate : 17+

Author Note: HAI… reader-nim yang udah nunggu-nunggu After Married (YH Moment). Akhirnya aku bisa update gak tengah malam lagi. Ini chapter yang bakalan buat kalian juga ikut melting dengan kebersamaan YH diluar rumah. Siap-siap aja diabetes #authorkepedean. Semoga feelnya dapat dan gak maksa. Dan aku harus kasi tahu kalian dichapter ini sedikit ada unsur dewasanya, tapi aku udah usahain biar gak vulgar banget. Karena aku gak bisa ngelarang kalian #yangdibawahumur untuk enggak baca, jadi aku hanya bisa pesanin buat kalian agar cerna kata-kata yang layak saja, tetap berpikiran jernih. Entar kalian bisa kayak gitu kok klo udah punya suami/istri #hehehehe

Ok gak banyak bacot lagi… silahkan dinikmati dan sorry klo masih banyak typo.

Happpy reading & Leggo~

>>>>>>>

– MELTING –

Author POV

Yoona menatap layar ponselnya dengan perasaan kesal. Lagi-lagi si peneror itu mengancamnya. Ketika Yoona membalas pesan dari si peneror itu dengan kata-kata kasar, tapi si peneror itu selalu menanggapinya dengan sangat santai. Hal itu membuat Yoona semakin geram. Dengan perasaan kesal Yoona langsung meraih jaket dan tas selempangnya. Dia langsung keluar dari kamarnya, bergegas keluar dari rumah. Tapi tiba-tiba seseorang mencekal tangannya.

Yoona langsung menoleh dan matanya membulat karena kaget bagaimana bisa ada Donghae di rumah sepagi ini. Sedangkan tadi sekitar jam 7 Yoona melihat sendiri pria itu sudah berangkat kerja.

“apa yang oppa lakukan disini?”

“kau mau kemana?”, bukannya menjawab pertanyaan Yoona, Donghae malah balik bertanya. Yoona terdiam sesaat, tidak mungkin dia memberitahu jika dia ingin menemui orang yang menerornya selama ini. Jika Yoona sampai memberitahu Donghae kemana dia akan pergi, maka sama saja dengan Yoona memberitahu masa lalunya pada pria itu. Yoona belum siap untuk itu.

“hey… kau mau kemana?”, tanya Donghae lagi.

“bukan urusan oppa”, ucap Yoona pura-pura cuek. Donghae menghembuskan napasnya karena kesal dengan jawaban Yoona.

“kau itu istriku. Jadi apapun yang kau lakukan adalah urusanku juga. Kau mengerti!”, balas Donghae sambil menatap tajam Yoona. Gadis itu pun langsung diam. Tidak ingin Donghae marah padanya. Karena bagi Yoona, ketika Donghae marah, pria itu tidak bisa dikendalikan.

“jadi sebenarnya kau mau kemana?”, lagi-lagi Donghae bertanya. Sebenarnya Donghae tahu akan pergi kemana Yoona. Bahkan Donghae tahu gadis itu pergi karena adanya pesan ancaman. Karena Donghae pun menerima pesan itu. Donghae sudah menduplikasi nomor ponsel Yoona. Sehingga pesan atau panggilan ke ponsel Yoona akan Donghae ketahui juga. Dia harus melindungi Yoona. Walaupun Donghae yakin seandainya Yoona tahu apa yang sudah Donghae lakukan terhadap dirinya, ponselnya dan juga masalah pribadinya, gadis itu pasti marah besar. Memangnya siapa didunia ini yang suka diperlakukan over protected seperti itu. Bahkan jika Donghae diperlakukan seperti itu pun, dia tidak suka. Tapi masalahnya, ini adalah Yoona. Gadisnya, istrinya.

“aku..aku mau ke kafe”, jawab Yoona asal.

“dengan siapa?”

“sen-sendiri”, jawab Yoona gugup. Kentara sekali gadis itu berbohong.

“kalau begitu aku ikut”, jawab Donghae cepat.

“hahh… oppa tidak boleh ikut”, ucap Yoona kaget dan langsung mencegat Donghae yang hampir melangkah keluar dari rumah.

“kenapa aku tidak boleh ikut?”

“karena… karena oppa harus bekerja”, Yoona berusaha keras untuk menggagalkan niat Donghae.

“aku sedang tidak ada pekerjaan”, jawab Donghae bohong. Tidak mungkin dia tidak memiliki pekerjaan. Dimeja kerjanya sedang bertumpung berbagai dokumen yang harus diperiksanya. Tapi dokumen-dokumen itu tidak sepenting Yoona. Jadi dia putuskan untuk bersama Yoona saja hari ini.

Belum sempat membalas ucapan Donghae, pria itu sudah menarik Yoona keluar dari rumah menuju garasi. Tapi ketika hampir mendekati mobil Yoona langsung menghempaskan tangannya dari genggaman Donghae. Pria itu menatap Yoona dengan kening mengerut.

“kenapa lagi?”, ucap Donghae diakhiri dengan dengusan.

“aku tidak mau mengemudi. Aku bukan supir”, balas Yoona acuh. Donghae terdiam sesaat. Apa dia harus mengemudi, atau tidak. Donghae seperti berperang batin saat ini. Jika dia tidak mengemudi, sama saja dengan menggagalkan rencananya membawa Yoona ke suatu tempat. Tanpa pria itu sadari, Yoona memperhatikan raut wajah Donghae yang terlihat berpikir keras.

‘apa benar dia tidak bisa mengemudi?’, pikir Yoona.

“baiklah… berikan kuncinya”

Perkataan itu langsung mengejutkan Yoona. Gadis itu pikir Donghae akan menolak untuk mengemudi. Tapi sekarang pria itu bahkan mengulurkan tangannya meminta kunci mobil Yoona. Yoona memberikan kunci mobilnya dengan perasaan ragu.

“oppa yakin?”, tanya Yoona, memperhatikan raut wajah Donghae yang terlihat cemas. Donghae mengangguk.

“tapi sebelum aku ikut bersama oppa, aku harus pastikan dulu oppa seorang pengemudi yang baik atau tidak”, ucap Yoona.

“kau ingin aku mencobanya dulu?”, tanya Donghae dan Yoona mengangguk.

“oppa bisa mencobanya dihalaman rumah dulu”, tambah Yoona. Donghae pun mengangguk. Anggap saja sebagai pemanasan setelah 7 tahun tidak pernah mengemudi lagi.

Donghae pun segera masuk kedalam mobil lama Yoona yang terparkir tepat dibelakang mobil baru Yoona.

Yoona berdiri diatas anak tangga menuju teras rumah. Memperhatikan mobilnya yang sudah dihuni oleh Donghae. Yoona tiba-tiba merasa gugup entah karena apa. Sedangkan Donghae masih terdiam dibalik kemudi. Memperhatikan pedal gas, rem dan lainnya. Memastikan semuanya bekerja dengan baik. Untunglah Donghae masih ingat bagaimana fungsi semuanya itu. Donghae pun menghidupkan mesin mobil. Setelah menyala, dia langsung merasa gugup bahkan tubuhnya sedikit bergetar.

Donghae mencoba menenangkan dirinya. Dia tidak boleh gugup. Dia harus bisa mengemudi. Harus!

Setelah merasa membaik, Donghae mulai memasukkan gigi dan memundurkan mobil, keluar dari garasi. Untuk tahap ini semuanya masih berjalan dengan baik. Setelah posisi mobil sudah tepat di alur jalan dihalaman, Donghae menghembuskan napas berat, lalu kembali memasukkan gigi dan menginjak pedal gas. Mobil pun berjalan secara berlahan. Donghae terlihat sangat tegang dibalik kemudi. Bahkan posisi duduknya sangat tidak nyaman. Pungggungnya maju kedepan tidak terlihat santai dengan bersandar pada kursi. Pria itu terlihat kaku sekali.

“kau bisa Lee Donghae… kau bisa”, kata-kata itu terus keluar dari mulut Donghae untuk menyemangati dirinya sendiri. Tapi tiba-tiba kilasan masa lalu muncul tiba-tiba. Kekacauan dijalan saat itu sampai darah yang melumuri tangan Donghae. Karena titik fokusnya sudah teralih membuat arah laju mobil tidak menentu lagi.

“LEE DONGHAE APA YANG KAU LAKUKAN”, tiba-tiba suara teriakan Yoona yang masih dapat didengar menyadarkannya dari lamunannya, tapi sayang Donghae semakin tidak bisa mengendalikan mobil itu. Bahkan dia terlihat panik. Bukannya menginjak pedal rem, Donghae malah menginjak pedal gas, membuat mobil semakin melaju lebih cepat.

Donghae yang pada dasarnya tidak bisa mengendalikan mobil itu lagi dengan nekat menambrakkan mobil itu kegerbang rumah agar mobil itu bisa berhenti.

Bunyi hantaman keras langsung melonglong di pagi itu. Membuat semua penghuni rumah, security yang jaga dan juga beberapa tetangga kaget. Tapi yang lebih kaget dari mereka semua adalah Yoona yang menyaksikan Donghae seperti orang yang berniat bunuh diri. Yoona langsung berlari kearah mobil yang sudah berhenti didepan gerbang rumah. Yoona dapat melihat gerbang rumah yang sudah rusak dan bagian depan mobilnya juga yang tidak kalah hancurnya. Tapi bukan itu yang penting sekarang. Donghaelah yang lebih penting.

Yoona langsung membuka pintu pengemudi dan menemukan Donghae yang diam sambil meletakkan kepalanya diatas stir mobil.

“OPPA… OPPA TIDAK APA-APA?”, teriak Yoona. Tapi tidak ada respon. Karena takut Donghae terluka, Yoona langsung menarik tubuh Donghae hingga bersandar dikursi. Dan yang pertama Yoona lihat adalah Donghae yang baik-baik saja. Hanya saja pria itu menatap lurus kedepan dengan pandangan kosong.

“OPPA… Sadarlah”, ucap Yoona mengguncang tubuh Donghae. Donghae pun tersadar dari pikiran kosongnya. Dia menatap Yoona yang terlihat khawatir lalu beralih pada keadaan didepannya.

Donghae pun berusaha keluar dari mobil dan otomatis Yoona langsung mundur agar tidak menghalangi Donghae.

“Tuan baik-baik saja? Apa perlu saya panggilkan dokter?”, tanya salah satu security yang juga sudah ada disana. Tapi bukannya menjawab, Donghae tetap berjalan, masuk kerumah. Sedangkan Yoona menatap pria itu dengan kening mengerut.

‘ada apa dengan pria itu…dia seperti mayat hidup saja’, pikir Yoona. Gadis itu pun menyusul Donghae masuk kerumah. Tapi entah bagaimana pria itu sudah tidak terlihat lagi. Dengan cekatan Yoona menuju lantai dua, ke kamar Donghae. Didepan pintu kamar Donghae yang tertutup rapat, Yoona tampak ragu untuk mengetuknya. Yoona sempat berpikir siapa tahu Donghae sedang tidak ingin diganggu sekarang. Tapi sisi lain mengatakan Donghae bisa saja berbuat yang tidak-tidak didalam kamarnya. Yoona pikir pemikirannya yang dua sangatlah berbahaya. Jadi diputuskannya untuk mengetuk pintu itu.

Tok tok tok

Yoona mengetuk pintu itu berulang-ulang tapi tidak ada jawaban dari si pemilik kamar. Karena sudah tidak tahan lagi, akhirnya Yoona memutar knop pintu, yang ternyata tidak dikunci. Yoona mengedarkan pandangannya kesekeliling kamar dan tidak menemukan Donghae juga.

“AKKKKKKKHHHH”

Tiba-tiba teriakan yang berasal dari kamar mandi membuat Yoona kaget. Dengan cepat Yoona melangkah mendekati pintu kamar itu dan kembali mengetuknya. Tapi tetap saja tidak ada jawaban.

“OPPA… KAU BAIK-BAIK SAJA?”, tanya Yoona dengan mata yang berkaca-kaca. Tidak menyangka karena sikap usilnya malah berakibat buruk seperti ini.

Yoona menempelkan telinganya ke pintu, tapi tidak ada suara sedikit pun. Yoona pun memutuskan membuka pintu kamar mandi itu yang ternyata juga tidak dikunci. Ketika pintu terbuka, Yoona langsung mencari keberadaan Donghae.

Donghae terduduk diatas closed duduk. Pria itu menundukkan kepalanya dan tangannya meremas rambutnya. Yoona pun mendekati pria itu berlahan. Ketika sampai didepan pria itu, Yoona mengamati penampilan Donghae. Walaupun menunduk, kening pria itu masih terlihat. Terdapat butiran-butiran keringat dikening Donghae dan tubuh pria itu bergetar.

“oppa~:, ucap Yoona lembut sambil menepuk bahu Donghae. Pria itu pun secara berlahan mendongak menatap Yoona. Gadis itu dapat melihat mata pria itu yang bergetar dan berkaca-kaca. Ini pertama kalinya Donghae terlihat sangat rapuh.

“Yoona~”, ucap Donghae dengan suara yang sangat pelan. Dan selanjutnya yang terjadi dengan cepat Donghae memeluk pinggang Yoona. Gadis itu pun tertarik kedepan, merapat pada Donghae yang masih duduk diatas closed. Pria itu bahkan menyandarkan kepalanya diperut Yoona, memeluk Yoona erat. Yoona sadar Donghae sedang dilema saat ini.

“ada apa oppa? Kenapa oppa seperti ini”, tanya Yoona dengan tangan yang mulai mengelus-elus rambut Donghae.

“aku…takut”, ucap Donghae seperti gumaman. Tapi untungnya Yoona masih mendengarnya. Yoona mengerutkan keningnya dengan ucapan Donghae.

‘takut? Apa yang ditakuti pria ini?’, pikir Yoona.

“apa yang oppa takutkan?”, tanya Yoona lembut. Kali ini Donghae hanya diam, tidak menjawab. Pria itu memejamkan matanya menikmati merasaan hangat dari tubuh Yoona. Sedangkan Yoona yang tidak bisa memaksa Donghae untuk menjelaskan ucapannya pun akhirnya diam saja. Dia diam, membiarkan Donghae menenangkan dirinya terlebih dahulu, dengan tangannya yang tiada henti mengelus rambut Donghae.

Hampir setengah jam mereka dalam posisi tersebut sampai Yoona mulai merasa bosan dan pegal berdiri. Dengan hati-hati Yoona melepas lengan Donghae yang melingkar dipinggangnya. Lalu membantu pria itu berdiri. Diajaknya Donghae keluar dari kamar mandi, menuntun pria itu hingga ditepi ranjang, lalu mendudukkan Donghae disana. Lalu Yoona beralih ke lemari Donghae, mencari kemeja ganti untuk Donghae. Karena kemeja pria itu sudah basah karena keringat. Entah mengapa pria itu tiba-tiba memproduksi keringat sangat banyak sampai kemejanya basah.

Setelah mengambil kemeja berwarna biru, Yoona kembali kehadapan Donghae.

“oppa harus mengganti kemeja oppa”, ucap Yoona sambil meletakkan kemeja biru yang diambilnya tadi, diatas pangkuaan Donghae. Pria itu hanya menunduk saja. Setelah meletakkan kemeja itu, Yoona melangkah untuk keluar dari kamar, tapi tiba-tiba dia berhenti, melirik Donghae. Dan pria itu hanya diam saja. Merasa Donghae tidak akan bergerak untuk menggantikan kemejanya, Yoona pun berinisiatif membantu Donghae mengganti kemejanya. Yoona berlutut lalu secara berlahan membuka satu persatu kancing kemeja Donghae. Tiba-tiba dia merasa gugup membuka kemeja Donghae. Sedangkan pria itu masih tetap diam, menunduk. Setelah semua kancing kemeja itu terlepas, Yoona secara berlahan melepas kemeja itu dari tubuh Donghae. Terpampanglah tubuh berotot Donghae dengan kotak-kotak diperutnya. Yoona tanpa sadar menatap dada Donghae sambil menelan air liurnya dengan susah payah. Jantungnya berdebar-debar. Ini pertama kalinya dia melihat tubuh seorang pria dewasa dalam keadaan topless. Bahkan pipi Yoona mulai memerah. Donghae yang mulai sadar dari pikiran kosongnya, mulai mengadari keadaannya dan juga Yoona dihadapannya. Donghae melihat Yoona yang menatap serius dada bidangnya dengan pipi yang merona. Secara berlahan sudut bibir Donghae tertarik keatas. Sebuah senyum lembut terbit diwajah pria tampan itu.

“akkhhmm”

Yoona pun tersadar dari pikiran liarnya. Menatap Donghae yang ternyata sedang menatapnya dengan senyum lembut. Tubuh Yoona langsung menghangat melihat pria itu sudah kembali tersenyum.

“kau akan membiarkan ku seperti ini terus”, tanya Donghae dengan nada menggoda. Yoona pun langsung tersadar. Dengan cekatan Yoona membuka kancing kemeja biru itu, menyampirkannya ditubuh Donghae. Donghae pun dengan patuh memasukkan tangannya ke lengan kemeja itu, lalu dengan tangan yang gemetar, Yoona mengancing kemeja itu. Hal itu pun tidak luput dari penglihatan Donghae. Pria itu semakin tersenyum lebar dengan tingkah menggemaskan Yoona. Gadis dihadapannya itu telah mampu membawanya kembali ke jalan yang benar. Yoona mampu menenangkannya yang bahkan sebelumnya tidak pernah ada seorangpun yang mampu menenangkannya secepat ini. Yoona seperti obat penenang untuknya.

‘sudah”, ucap Yoona lalu bangkit dari posisi berlututnya, tapi Donghae dengan cepat meraih bahu Yoona kembali kehadapannya, memeluk gadis itu erat.

“oppa~”, keluh Yoona karena Donghae memeluknya terlalu erat.

“terima kasih”, ucap Donghae lembut. Yoona yang mendengarkan kata-kata lembut itu merasa Donghae sudah lebih baik. Pria itu sudah kembali. Walaupun sebenarnya dia sangat penasaran dengan kejadian berapa jam yang lalu, tapi sepertinya Yoona harus menuggu waktu yang tepat untuk bertanya.

“oppa… beristirahatlah”, ucap Yoona. Donghae pun dengan cepat melepas pelukannya, dan langsung menggelengkan kepala.

“kita harus tetap pergi”, balas Donghae cepat.

“dalam keadaan oppa seperti ini?”, tanya Yoona dengan sebelah alisnya yang naik.

“ya… aku sudah jauh lebih baik. Aku sudah menyiapkan semuanya untuk hari ini. Jadi kita harus tetap pergi”, jawab Donghae yakin. Melihat keyakinan dimata pria itu pun akhirnya Yoona mengangguk.

>>>>>>>

Kini Yoona sudah berada dibalik kemudi mobil barunya. Kerena kejadian beberapa jam yang lalu, mobil lamanya harus masuk bengkel. Salahkan pria idiot yang duduk disampingnya sekarang. Pria yang sepanjang jalan tiada henti tersenyum lebar. Benar-benar seperti orang idiot. Entah kemana perginya Lee Donghae yang sangat kacau tadi.

“jadi sebenarnya kita mau kemana oppa?”, tanya Yoona untuk yang kesekian kalinya. Ini karena Donghae tidak mau memberikan jawaban sedikit pun.

“kau akan tahu nanti… perhatikan saja jalannya”, ucap Donghae. Yoona pun langsung mendengus kesal. Tapi walaupun kesal dia tetap mengikuti petunjuk Donghae.

Akhirnya mereka tiba dipelataran parkir sebuah gedung tua yang sudah sangat bersejarah di Seoul. Dan Yoona baru sekali saja pernah masuk kedalam gedung tua itu.

“untuk apa kita kesini oppa?”, tanya Yoona sambil memandang sekitar gedung itu yang selalu bersih dan tertata rapi.

“untuk ini”, ucap Donghae sambil menjulurkan dua lembar tiket. Yoona membulatkan matanya ketika mengetahui tiket itu.

“ba-bagaimana oppa bisa memiliki tiket ini? Bahkan aku sudah memesan dua hari yang lalu tapi sudah sold out”, jelas Yoona sambil menatap tiket yang kini sudah beralih ketangannya. Menatap tiket itu seperti berlian mahal.

“tadi kolega bisnisku memberikannya padaku. Jadi ku pikir kau mungkin akan menyukainya”, jawab Donghae berbohong. Sebenarnya Donghae sendirilah yang membeli tiket itu dengan mengeluarkan uang yang cukup banyak agar bisa mendapatkannya. Tapi itu tidak seberapa untuk Donghae. Melihat Yoona seperti sekarang sangatlah membuatnya bahagia.

Donghae harus berterima kasih pada Wheein setelah ini. Jika bukan karena Donghae bertemu dengan Wheein hari ini dikantor, mungkin Donghae tidak akan mendapatkan informasi jika Yoona sangat ingin datang ke pameran lukisan yang diadakan oleh pelukis-pelukis terkenal mancanegara ini.

“kau suka?”, tanya Donghae. Dan Yoona langsung mengangguk seperti anak kecil yang dibelikan kembang gula oleh ommanya. Donghae sangat gemas melihat Yoona yang sudah bertingkah seperti anak kecil seperti itu.

“Ayo kita masuk”, seru Yoona langsung melangkah memasuki gedung, meninggalkan Donghae dibelakang. Dengan senyum kecil Donghae pun mengikutinya.

Yoona menelusuri setiap lukisan yang dipajang dengan mata yang berbinar-binar. Jika wanita pada umumnya berbinar melihat perhiasan atau barang-barang mewah, maka Yoona sebaliknya. Dia lebih suka dengan lukisan-lukisan yang memiliki harga yang juga tidak kalah dari barang-barang mewah itu.

“oppa foto aku”, pinta Yoona yang sudah berdiri disamping lukisan dengan senyum lebar. Donghae pun melakukan apa yang Yoona minta.

“3…2…1”, Donghae menghitung mundur lalu menekan tombol shut diponselnya. Setelah itu Yoona beranjak, tapi Donghae langsung menahannya.

“tunggu dulu… hasilnya kurang bagus. Sekali lagi”, ucap Donghae. Yoona pun kembali keposisinya tadi. Dan Donghae kembali mengarahkan kamera ponselnya pada Yoona, tepatnya kewajah cantik Yoona. Donghae meng-closeup wajah Yoona saja. Sebenarnya tadi dia berbohong jika hasil yang pertama tidak bagus. Donghae hanya ingin mengabadikan wajah Yoona yang terlihat senang saja.

“sudah?”, tanya Yoona karena Donghae tidak mengatakan apapun.

“Ya… sudah”, ucap Donghae sambil menatap layar ponselnya. Dia langsung mengatur foto closeup Yoona menjadi wallpaper ponselnya.

“ayo kita lihat yang lain”, ajak Yoona kini sudah melangkah lagi melihat lukisan selanjutnya.

Sudah sekitar sejam lebih mereka ada pameran itu dan Yoona masih tetap semangat untuk mengamati dan mengagumi setiap lukisan. Bahkan Yoona hampir menitikkan air mata ketika melihat sebuah lukisan yang kata gadis itu menyiratkan kesedihan yang mendalam. Sedangkan Donghae yang melihat lukisan itu bingung dari sisi mana lukisan itu menyedihkan. Sedangkan hanya ada berbagai warna yang dicampur adukkan dilukisan itu secara acak. Tapi ya begitulah mata seorang seniman dengan yang tidak tahu apapun tentang seni. Pasti sangat berbeda.

Karena sudah lelah mengikuti Yoona, pria itu pun berhenti dan bersandar ditembok. Yoona pun menyadari Donghae tidak mengikutinya lagi. Yoona berbalik menatap Donghae yang memijat-mijat kakinya.

“ayo oppa”, ajak Yoona.

“aku tidak mau. Pergi saja sendiri”, ucap Donghae dengan nada kesal.

“aish… oppa kenapa? Baru begini saja sudah lelah”, ejek Yoona. Donghae yang merasa tersinggung karena diremehkan langsung menegakkan tubuhnya, menetap Yoona kesal.

“aku bukan lelah. Tapi aku kesal karena kau mengabaikanku. Kau lebih memilih memandangi lukisan-lukisan yang aku sendiri tidak mengerti apapun. Kau lebih memilih mereka dibandingkan aku suamimu”, ucap Donghae merajuk. Yoona melongo mendengar ucapan Donghae yang seperti anak kecil yang merajuk.

“ckkk…oppa seperti anak kecil”, ejek Yoona.

“aku tidak peduli, Pokoknya kita harus keluar dari sini. Aku bosan”, lanjut Donghae. Yoona pun menghembuskan napas berat. Dia menatap sekelilingnya, menatap berbagai lukisan yang belum sempat  dilihatnya. Berharap lain kali akan datang lagi kesini dengan Wheein saja, tidak dengan pria menyebalkan yang masih cemberut dihadapannya itu.

“Ya sudah”, ucap Yoona menyerah dan langsung meninggalkan Donghae.

Mereka keluar dari gedung itu dengan perasaan yang berbeda. Donghae yang sedang karena akhirnya perasaan bosannya sirna. Sedangkan Yoona cemberut, menyayangkan harus mengakhiri penjelajahannya melihat hasil karya pelukis-pelukis terkenal itu.

“jadi kita mau kemana setelah ini?”, tanya Yoona sambil menuju parkiran. Karena tidak ada jawaban, Yoona berbalik menatap Donghae. Pria itu tersenyum kikuk.

“aku tidak tahu mau kemana lagi”, jawab Donghae polos. Yoona lagi-lagi melongo dengan ucapan pria itu.

“jadi seperti ini yang oppa bilang sudah direncanakan? Oppa bahkan tidak menyiapkan apapun”, ucap Yoona kesal. Donghae hanya tersenyum dengan bodohnya sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Dia memang tidak menyiapkan rencana lain setelah selesai dari pameran itu. Donghae merasa bodoh sendiri karena itu.

Karena kesal Yoona langsung masuk kedalam mobil dan terus menggerutu. Donghae pun menyusul masuk ke dalam mobil.

“kalau begitu kita pulang saja”, ucap Yoona. Donghae kaget dengan keputusan Yoona. Ini belum saatnya mereka pulang. Donghae masih ingin bersama dengan Yoona. Dia sudah rela meninggalkan pekerjaannya demi bisa bersama dengan Yoona. Tapi jika sudah pulang secepat ini, pasti Donghae tidak akan bisa melihat Yoona lagi. Gadis itu pasti akan sibuk dikamarnya.

“tunggu dulu… kita bisa pergi ke tempat lain. Makan atau kemanapun”, bujuk Donghae

“aku belum lapar oppa. Dan aku tidak ingin bertemu dengan banyak orang”, jawab Yoona cepat. Donghae diam sejenak memikirkan tempat lain yang bisa mereka datangi.

Tring~

Yoona merogoh tasnya mengeluarkan ponselnya. Ada pesan dari Wheein. Yoona membuka notifikasi itu dan mengerutkan kening membaca pesan dari gadis mungil itu. Setelah mempertimbangkan isi pesan Wheein, Yoona memasukkan ponselnya ke dalam tas.

“baiklah… kita tidak pulang sekarang. Tapi oppa harus memikirkan kemana kita akan pergi selanjutnya sampai jam 7 malam”, ujar Yoona.

“kenapa harus sampai jam 7 malam?”, tanya Donghae sambil mengerutkan kening.

“Wheein mengajak kita ke kafe tempatnya bekerja”, jawab Yoona singkat sambil mulai menjalankan mobilnya.

“nona Jung bekerja dikafe?”

“mmm… kerja paruh waktu”, jawab Yoona tetap fokus pada kemudinya.

“ohhh… dia gadis pekerja keras”, puji Donghae. Yoona pun mengangguk menyetujui.

Akhirnya mereka memutuskan pergi ke sebuah restoran untuk makan. Sebenarnya hanya Donghae yang makan sedangkan Yoona hanya menikmati juice saja.

Yoona mengamati Donghae yang makan dengan lahap. Pria itu terlihat seperti orang yang tidak makan berminggu-minggu. Donghae memakan ramen pedas dengan lahap bahkan wajahnya mulai dialiri keringat. Sebenarnya Yoona yang memesan ramen pedas itu untuk Donghae. Ingin memberi pelajaran pada pria itu karena sudah merusak suasana ketika dipameran tadi. Jadilah Yoona memesan ramen pedas. Tapi sepertinya kejahilannya itu tidak mempan sama sekali. Karena yang terlihat Donghae malah menikmati ramen itu.

“apa itu tidak terlalu pedas?”, tanya Yoona ketika tadi sempat mencicipi kuah ramen itu. Dan dia kaget dengan rasa panas yang langsung menyengat lidahnya.

“sedikit”, komentar Donghae sambil tetap memakan ramen itu. Sesekali pria itu menarik cairan dihidungnya dan menghembuskan napas berat sebelum memasukkan kembali ramen itu kemulutnya. Melihat Donghae kepedasan membuat Yoona merinding tapi sekaligus ingin tertawa.

Donghae melap keringatnya dengan lengan kemejanya membuat Yoona menyernyit melihat bekas keringat itu tertinggal dilengan kemejanya. Yoona tidak menyukai noda yang tertinggal dibaju.

Ketika Donghae kembali ingin melap keringatnya, Yoona langsung menahan lengan Donghae dan mengusapkan tissue ke kening Donghae dengan lengannya yang lain. Melihat tingkah Yoona yang sangat manis, membuat Donghae berdebar-debar. Ini kali pertama Yoona menunjukkan langsung perhatiannya dimuka umum.

“oppa jorok sekali”, komentar Yoona fokus melap kening Donghae. Setelah itu dia menggulung lengan baju Donghae dengan wajah serius. Donghae tersenyum senang dengan sikap perhatian Yoona. Walaupun Donghae yakin Yoona tidak sadar sebetulnya dengan apa yang dilakukannya.

“sudah…lanjutkan makannya. Pelan-pelan saja”, ujar Yoona sambil meraih juicenya. Donghae pun mengangguk dan kembali melanjutkan makannya.

Mereka ada disana sekitar 2 jam sambil memesan makanan kecil lainnya untuk menemani mereka berbincang-bincang. Walupun sebenarnya Donghae lebih banyak menggoda Yoona.

Setelah mereka selesai dari restoran itu, mereka melanjutkan menuju bioskop. Donghae memaksa Yoona agar mau menonton dibioskop dan berjanji akan memesan kelas VVIP agar tidak begitu banyak orang didalam teater bioskopnya.

“didalam pasti gelap. Aku tidak suka gelap”, ucap Yoona masih berusaha membujuk Donghae agar tidak jadi menonton dibioskop. Tapi sayang Donghae seperti orang tuli saat ini. Dia sudah berjalan menuju ruanga teater VVIP sambil membawa cemilan dan minuman yang sudah dibelinya.

“jangan membuat alasan Yoona. Aku ada disampingmu. Kau akan baik-baik saja”, balas Donghae sambil mendorong Yoona masuk kedalam ruangan itu. Suasana didalam masih terang benderang karena filmnya belum dimulai dan tidak ada orang lain disana.

“Kenapa tidak ada orang lain disini?”, tanya Yoona sambil mengedarkan pandangannya pada kursi-kursi yang kosong.

“kan kau yang meminta tidak ingin dilingkungan yang ramai, jadi aku memesan semua kursi itu”, balas Donghae dengan santainya.

“APA? Apa oppa sudah gila? Itu pasti sangat mahal”, teriak Yoona. Donghae sampai harus menjauhkan telinganya dari Yoona.

“uangku masih banyak… kau tenang saja”, balas Donghae dengan santainya.

“dasar orang kaya yang sombong”, cibir Yoona pada pria yang sudah duduk disampingnya itu.

“dan kau istri orang kaya yang sombong itu”, balas Donghae dengan senyum miring. Yoona mendengus menyadari fakta bahwa dirinya adalah istri pria kaya disampingnya itu.

“hakkk”, Yoona kaget karena tiba-tiba lampu padam membuat ruangan itu hanya disinari cahaya dari layar besar dihadapan mereka.

Tapi sesuatu menggenggam tangan Yoona dengan lembut. Yoona menatap jari-jari tangannya yang sudah bertautan dengan jari jangan pria yang ada disampingnya itu. Yoona beralih menatap Donghae, dan pria itu pun menoleh menatap Yoona dengan senyum lembut. Walaupun minim cahaya, Yoona masih bisa melihat senyum lembut itu. Jantung Yoona bekerja dengan sangat cepat bahkan pipinya mulai terasa panas.

“sudah ku bilang aku akan selalu ada bersamamu, jadi kau tidak perlu takut”, ucap Donghae lembut. Mata Yoona bertemu dengan mata sendu pria itu. Karena takut semakin terjerumus pada pesona Donghae, Yoona langsung mengalihkan tatapannya ke layar besar didepannya.

Mereka pun mulai menonton film bergenre romance sesuai pilihan Donghae. Yoona sebenarnya tidak begitu suka menonton film bergenre romance seperti itu. Hanya saja Donghae berkata dia sangat penasaran dengan film itu. Akhirnya beginilah mereka. Dilayar menampilkan adegan-adegan romantis sedangkan Yoona dan Donghae terdiam mentap layar itu dengan tangan yang masih bertautan.

Sesekali Yoona terlihat salah tingkah ketika tokoh utama difilm itu melakukan adengan-adegan romantis seperti ciuman bahkan bedsceen. Ketika bedsceen, Yoona memejamkan matanya, tidak ingin melihat adegan itu walaupun suaranya masih dapat Yoona dengar. Jantung Yoona berdegup kencang karena pikiran liarnya entah bagaimana bisa bermunculan begitu saja. Ini pertama kalinya dia menonton film dewasa seperti yang mereka tonton sekarang. Jika sekedar ciuman Yoona masih sering menontonnya didrama-drama yang ditayangkan di TV. Tapi tidak dengan adengan ranjang seperti sekarang.

Donghae yang menyadari kegelisahan gadis disampingnya pun menoleh, menatap gadis itu dengan tawa yang hampir meledak.

“kau sedang memikirkan kita juga melakukan hal seperti itu?”, ucap Donghae menggoda. Yoona langsung membuka matanya, melotot pada Donghae. Ucapan pria itu terlalu frontal.

“ti-tidak”, ucap Yoona terbata. Donghae terkekeh mendengar jawaban Yoona.

“nanti… kita pasti akan melakukannya”, ujar Donghae dengan senyum menggodanya tapi dengan cepat Yoona melayangkan pukulan dibahu Donghae.

“DASAR MESUM”, teriak Yoona dengan kekesalan yang menggebu-gebu. Namun pipinya semakin memerah. Sedangkan Donghae berusaha menghindar sambil tetap tertawa.

“tidak kena”, ujar Donghae ketika pukulan Yoona dapat dihindarinya. Yoona semakin kesal karena Donghae menghindarinya. Yoona pun bangkit dari duduknya mendekati Donghae. Tapi pria itu pun bangkit dari duduknya melangkah mundur menjauhi Yoona. Donghae menuju bangku yang paling atas. Tapi Yoona dengan cepat  berlari mengejar Donghae. Mereka seperti anak kecil yang sedang kejar-kejaran didalam teater bioskop itu. Bahkan petugas dibalik layar yang mengatur pemutaran film melihat pasangan itu dengan senyum lebar. Menatap Yoona dan Donghae yang saling kejar-kejaran seperti anak kecil, mengabaikan film yang sedang tayang.

Deru napas Yoona karena lelah mengejar Donghae terdengar diruangan itu. Dia berhenti mengejar Donghae, menetralkan pernapasannya dulu. Donghae yang melihat Yoona berhenti mengejarnya, dengan senyum miring, pria itu berlahan-lahan mendekati Yoona. Gadis itu sepertinya tidak menyadari Donghae yang semakin mendekat.

Merasa dirinya memiliki kesempatan, dengan cepat Donghae meraih wajah Yoona dan langsung mengecup bibir Yoona berulang kali.

Cup cup cup

Setelah itu Donghae segera berlari menjauhi Yoona lagi karena Donghae yakin setelah ini gadis itu pasti semakin marah. Yoona membulatkan matanya, terdiam kaku dengan tindakan Donghae beberapa detik itu.

Yoona kaget dengan ciuman kilat yang berulang-ulang itu.

“sepertinya kau menyukainya”, goda Donghae dan Yoona langsung tersadar dari keterkejutannya. Yoona langsung menatap pria itu dengan tatapan tajam. Dia menggeram, lalu kembali mengejar pria itu. Tapi sayang Yoona tidak bisa menggapai pria itu. langkah kakinya kurang cepat dari Donghae. Bahkan pria itu bisa dengan leluasanya melompati barisan demi barisan kursi itu dengan mudahnya.

Mereka terengah-engah dalam keadaan terduduk dibarisan kursi yang sama namun dengan jarak yang cukup jauh. Melihat Yoona yang sepertinya sangat lelah membuat Donghae menyudahi kejahilannya. Donghae meraih minuman dikursi mereka semula lalu menuju kursi dimana Yoona masih terengah-engah. Donghae duduk disamping gadis itu sambil menyerahkan minuman untuk Yoona

“minumlah. Kau terlihat sangat lelah”, ucap Donghae. Yoona meraih minuman itu dengan bibir yang mengerucut.

“memangnya siapa yang membuatku seperti ini?”, keluh Yoona.

“itu bukan salahku. Kaunya saja yang seperti anak kecil. Bagaimana bisa kau sangat malu mendengar kata-kata dewasa seperti itu. Kau bertingkah seperti gadis baru mengalami pubertas saja”, ejek Donghae.

“aku tidak bisa mendengar kata-kata vulgar seperti itu. Aku masih terlalu muda”, jawab Yoona lalu minum.

“apanya yang masih muda? Kau bahkan sudah menikah dengan pria tampan seperti ku”, ujar Donghae.

“oppa terlalu percaya diri”, cibir Yoona sedangkan Donghae hanya mengangkat bahunya, acuh.

Donghae menatap layar didepannya yang menampilkan tulisan berjalan, silih berganti.

“filmnya sudah selesai. Ahhh…karena ulahmu aku jadi tidak tahu bagaimana jalan ceritanya”, keluh Donghae sedangkan Yoona tidak peduli. Dia malah bersyukur film itu sudah selesai jadi dia tidak perlu melihat hal-hal vulgar difilm itu.

“jam berapa sekarang?”, tanya Yoona.

“jam 6 lebih 15 menit”, ucap Donghae sambil menatap jam tangannya.

“kalau begitu kita ke kafe tempat Wheein bekerja saja. Mungkin kafenya sudah buka”, ajak Yoona. Dia bangkit menuju kursinya semula lalu membawa keluar tas dan juga cemilan yang belum sempat mereka makan. Donghae pun menyusul Yoona keluar.

Didalam mobil yang melaju dengan kecepatan rendah, Donghae dan Yoona mencari-cari alamat yang Wheein kirimkan. Tiba-tiba Yoona menemukan kafe yang terang benderang dan dihiasi lampu-lampu kerlap-kerlip didepannya.

“ku rasa itu kafenya”, ucap Yoona. Donghae pun menatap kafe yang Yoona tunjuk.

“ku rasa juga begitu”, ucap Donghae.

“tapi dimana kita akan memarkirkan mobil? Karena seperti parkiran kafe itu sudah penuh”, ucap Yoona sambil memperharikan area depan kafe itu yang memang sudah penuh kendaraan.

“disitu saja”, ucap Donghae ketika melihat area parkir dipinggir jalan ada yang kosong. Area parkir itu tidak jauh dari kafe, hanya melewati tiga bangunan setelah kafe itu.

Yoona pun melajukan mobilnya menuju parkiran itu tapi tiba-tiba hujan turun. Setitik demi setitik lalu kemudian semakin deras.

“cepat… kurasa kita masih sempat berlari menuju kafe itu”, perintah Donghae. Yoona pun mengangguk dan dengan cepat memarkirkan mobilnya. Mereka keluar dari mobil dan langsung berlari, tapi Donghae menarik Yoona berteduh sebentar diteras bangunan tepat disamping kafe agar mereka tidak terlalu basah. Mereka berdiri merapikan penampilan mereka. Tapi tiba-tiba angin kencang berhembus membuat hujan pun masuk ke teras bangunan tempat mereka berteduh. Donghae dengan sigap berdiri menghadap Yoona, menghalangi, hujan mengenai gadis itu.

“apa yang oppa lakukan?”, tanya Yoona bingung.

“agar kau tidak kena hujan”

Bukannya terharu dengan sikap manis Donghae, Yoona malah marah pada pria itu.

“untuk apa? Jika oppa seperti ini yang ada oppa yang basah dan oppa bisa sakit lagi”, marah Yoona lalu memutar tubuh Donghae dan benar saja kemeja pria itu sudah basah.

“lihat…kemeja oppa sudah basah”, lanjut Yoona. Sedangkan Donghae tersenyum kecil melihat kekhawatiran Yoona.

“tidak apa-apa”, balas Donghae.

“apanya yang tidak apa-apa. Cukup kemarin saja oppa sakit karena kena hujan. Kali ini tidak boleh lagi”, dengan spontan Yoona melingkarkan lengannya dipinggang Donghae, menarik pria itu semakin merapat padanya. Sedangkan Donghae kaget dengan sikap Yoona tersebut.

“aku suka hujan”, ucap Donghae seperti anak kecil.

“kenapa?”

“karena kau akan sangat perhatian padaku, seperti sekarang”, balas Donghae dengan senyum lebar. Sedangkan Yoona yang tersadar dari perbuatannya langsung melepas lengannya dari pinggang Donghae.

Dia langsung gugup ditambah Donghae yang menatapnya lekat-lekat.

198b59819835d15b8c836202331f8b71

“kau sangat cantik”, puji Donghae yang tidak sedikitpun mengalihkan tatapannya dari wajah Yoona. Sedangkan gadis itu selalu menghindari tatapannya dari Donghae.

Donghae meraih dagu Yoona, hingga gadis itu sedikit mendongak. Kini mata mereka saling bertemu, saling menatap, mengagumi satu sama lain.

Dengan berlahan Donghae memajukan wajahnya dan Yoona otomastis memejamkan matanya hingga bibirnya berhasil bersentuhan dengan bibir Donghae. Seperti sebelum-sebelumnya, Donghae selalu menciumnya dengan sangat lembut. Sentuhan pria itu selalu berhasil meluluhkannya.

Cumbuan itu hanya berlangsung beberapa detik saja. Donghae menatap wajah Yoona dengan senyum andalannya yang selalu membuat Yoona melayang-layang.

Donghae memeluk gadis itu erat, menyalurkan rasa sayangnya pada gadis itu. Donghae yakin dirinya tidak bisa lepas lagi dari gadis dalam pelukannya itu. Yoona harus selalu berada disisinya.

“ku-kurasa hujannya sudah tidak terlalu deras lagi”, ucap Yoona gugup. Donghae pun menoleh  dan memang hujan sudah tidak sederas tadi.

“ayo”, ajak Donghae sambil menggenggam tangan Yoona, berlari menuju kafe. Sesampainya didepan kafe kembali mereka merapikan pakaian mereka. Setelah merasa sudah lebih rapi, mereka masuk ke kafe itu yang ternyata dihuni oleh banyak pelanggan. Ini pertama kalinya mereka datang ke kafe itu dan merasa asing dengan suasana didalamnya.

Kafe itu didesain sangat classic dan terdapat panggung cukup besar didepannya. Donghae dan Yoona mencari meja yang kosong dan untungnya masih ada, tidak jauh dari panggung. Yoona membuka jaketnya dan menyampirkannya ke kursi. Mereka duduk disana dan langsung dilayani oleh pelayan. Mereka memesan minuman hanya untuk menghangatkan tubuh mereka.

“Hello every one~”, ucap seseorang diatas panggung. Donghae dan Yoona pun langsung menatap keatas panggung.

“apa kalian bahagia hari ini?”

“NE…”, teriak pengunjung yang ada disana. Donghae dan Yoona sampai kaget dengan teriakan mereka. Mereka seperti sedang menonton konser idol saja.

“Good. Tapi karena kalian datang ke sini… berarti kalian siap untuk merasa semakin bahagia. KALIAN SIAP?”, teriak pria tambun yang ada diatas panggung. Dan lagi-lagi terdengar sorakan para pengunjung disana. Donghae dan Yoona saling bertatapan seolah dari mata, mereka bisa menyampaikan kebingungan mereka.

“OK… SELAMAT MENIKMATI”, teriak pria tambun itu. Dan seketika panggung langsung gelap. Donghae secara spontan menautkan tangannya dengan tangan  Yoona. Gadis itu menatap Donghae.  Mungkin Donghae berpikir Yoona takut karena sudah minim pencahayaan disana. Padahal Yoona tidak merasa takut sedikit pun. Donghae memang benar-benar sangat manis.

Tiba-tiba terdengar aliran musik R&B yang  langsung meramaikan kafe itu. Dan muncullah seorang gadis dan beberapa pria dibelakangnya yang mulai meliuk-liukkan badannya. Mereka menari dengan sangat apik. Tapi bukan itu yang membuat Yoona menatap terus kearah panggung. Tapi lebih pada pakaian yang digunakan gadis yang mulai menari dan bernyanyi dengan lihainya.

Yoona tidak menyangka gadis mungil yang Yoona selalu anggap masih seperti anak kecil, kini bisa berpenampilan sangat seksi dan menari dengan tarian menggoda. Beberapa pengunjung pria bersiul ketika Wheein – gadis mungil itu, mendekati tepi panggung.

Dan seolah memang menyadari kehadiran Yoona dan Donghae yang tidak jauh dari panggung, Wheein tersenyum lebar dengan dimple andalannya kearah Yoona dan Donghae. Melihat itu Yoona spontan menutup mata Donghae karena paha Wheein tereksplor didepan mereka. Yoona tidak ingin Donghae menatap tubuh wanita lain, walaupun itu hanyalah Wheein. Yoona tetap tidak bisa menerimanya.

IMG_20170316_045618

“apa yang kau lakukan Yoona?”, ucap Donghae sambil menyingkirkan tangan Yoona dari matanya.

“oppa tidak boleh melihatnya. Wheein terlalu seksi didepan sana”, ucap Yoona kembali berusaha untuk menutup mata Donghae. Tapi Donghae dengan cepat mencekal kedua lengan Yoona menyatukannya dalam satu genggaman.

“kalau begitu aku menatapmu saja”, ucap Donghae dan Yoona pun langsung tersipu malu. Pipinya lagi-lagi mengeluarkan semburan merah.

Hingga jam 10 malam, Yoona dan Donghae masih ada dikafe itu, menikmati semua hiburan yang disuguhkan oleh Wheein dan teman-temannya. Yoona tidak menyangka ternyata Wheein sangat pandai menyanyi dan menari. Gadis itu sangat berbakat. Banyak lagu dan tarian yang mereka pertunjukkan untuk menghibur para pengunjung termasuk Yoona dan Donghae. Mereka sangat menyukai semua penampilan yang disampaikan.

Ketika semua penampilan sudah dipertunjukkan, Yoona dan Donghae pun mencari keberadaan Wheein dibelakang panggung. Gadis mungil itu sedang berbincang-bincang dengan teman-temannya.

“Wheepup”, seru Yoona memanggil Wheein. Gadis itu pun langsung menoleh kearah Yoona dan Donghae.

“unnie… sajangnim”, balas Wheein sambil menunduk kearah Donghae.

“aku tidak menyangka kalian akan datang…terkhusus unnie”, ucap Wheein dengan senyum lebarnya.

“tentu saja aku akan datang dan aku tidak menyangka kalau kau… kau…”, Yoona tidak bisa melanjutkan ucapannya. Niatnya ingin memuji gadis itu tapi yang dilakukannya malah memukul bokong gadis itu.

“Akkk…aduh… sakit unnie”, keluh Wheein seperti anak kecil yang habis dimarahi ommanya.

“ini untuk hukuman karena kau memakai pakaian seperti ini”, ucap Yoona sambil menatap pakaian Wheein yang sangat minim.

“memangnya apa yang salah. Tidak ada yang salah kan sajangnim?”, tanya Wheein pada Donghae.

“mmm…aku juga merasa tidak ada yang salah”, jawab Donghae. Yoona langsung melotot pada pria itu.

“pria memang sama saja”, sindir Yoona. Yoona langsung melepas jaketnya dan melingkarkannya pada pinggang Wheein, menutupi kaki gadis mungil itu.

“apa kau tidak kedinginan?”, tanya Yoona dengan nada kesal.

“sedikit”, balas Wheein.

“hahh… lain kali jika kau ingin tampil lagi, kau harus menunjukkan apa yang akan kau pakai. Aku harus melihatnya terlebih dahulu. Kau tidak boleh memakai pakaian seperti ini lagi”, ceramah Yoona seperti orangtua Wheein saja.

“unnie…aku bukan anak kecil”, balas Wheein tidak terima.

“bagiku kau masih anak kecil. Dan kau tidak boleh membantah”, ucap Yoona tegas. Wheein pun mengangguk saja agar Yoona tidak marah-marah lagi.

“setelah ini kau akan pulang?”, tanya Yoona.

“iya unnie. Sebentar lagi”

“sendiri?”, tanya Yoona lagi. Dia seperti mengintrogasi putrinya sendiri.

“tidak…aku bersama teman-temanku”

“baguslah…pulang ke rumah saja. Ada Eunji disana”

“tidak aku pulang ke apartemen saja. Lagi pula unnie tidak akan pulang malam ini”, ucap Wheein sambil mengedipkan matanya pada Donghae. Pria itu pun mengangguk. Yoona bingung dengan interaksi antara Donghae dan Wheein. Tapi Yoona memutuskan diam saja.

“kalau begitu kami pulang. Sampai bertemu besok malam”, ucap Yoona lalu berbalik meninggalkan Donghae dan Wheein.

IMG_20170424_133515

“sajangnim… fighting”, semangat Wheein pada Donghae. Pria itu hanya membalasnya dengan senyum dan kedipan mata saja. Donghae langsung menyusul Yoona.

>>>>>>>

Mobil yang dihuni Donghae dan Yoona terasa sangat hening. Keduanya hanya diam saja, menikmati keheningan mereka. Ketika Yoona hampir membelokkan stir mobilnya, Donghae langsung menahannya.

“lurus saja”, ucap Donghae. Yoona mengerutkan keningnya, tidak jadi berbelok.

“kita mau kemana lagi? Ini sudah tengah malam oppa”, tanya Yoona.

“jalan saja…kau akan tahu”, balas Donghae.

Mereka pun melanjutkan perjalanan malam mereka hingga 2 jam berlalu. Keduanya tidak banya bicara hanya sesekali saling menyindir dan menggoda.

Yoona mengerutkan kening ketika mulai mengetahui dimana mereka sekarang. Jalan yang mereka lalui adalah jalan menuju pelabuhan.

“pantai. Kita mau ke pantai?”, seru Yoona ketika otaknya mulai mengerti dengan keinginan Donghae. Pria itu pun mengangguk dengan polosnya.

“apa oppa gila…untuk apa kita ke pantai tengah malam seperti ini?”, ujar Yoona.

“sudahlah jangan banyak tanya…aku sedang ingin kepantai untuk menenangkan pikiran”, balas Donghae. Yoona menatap pria itu sekilas tapi kemudian fokus kejalan.

Yoona memarkirkan mobilnya tidak jauh dari tepi pantai. Dipantai itu sangat sepi. Tidak seorangpun ada disana. Hanya mereka saja yang seperti orang gila datang kepantai ditengah malam.

Donghae melepas sepatunya lalu berjalan ketepi pantai. Yoona hanya diam bersandar dibadan mobil mengamati Donghae yang bermain-main dengan air. Tanpa sadar Yoona tersenyum melihat tingkah Donghae.

“Yoona…kenapa kau hanya diam saja disitu. Kemarilah”, ajak Donghae. Yoona pun melepas sepatunya lalu menghampiri Donghae. Baru saja sampai dihadapan Donghae, pria itu dengan jahilnya langsung menyiram air ke wajah Yoona. Gadis itu kaget dengan perbuatan Donghae. Karena tidak bisa menerima perbuatan Donghae, Yoona juga membalas perbuatan pria itu.

“awww”, keluh Yoona menutup matanya yang baru disiram Donghae. Pria itu pun langsung panik. Dihampirinya Yoona melihat kondisi gadis itu.

“mana yang sakit?”, tanya Donghae sambil melihat wajah Yoona.

Yoona tersenyum karena Donghae termakan dalam jebakannya. Dengan cepat didorongnya tubuh Donghae hingga pria itu jatuh dan tercebur. Seketika Donghae langsung basah kuyup.

“YAK… KAU…”, ucap Donghae marah. Dengan cepat Yoona berlari menghindari Donghae. Tapi sepertinya usahanya sia-sia karena gadis itu memang tidak bisa berlari terlalu lama, dia tidak kuat.

“hahh…kau tidak akan selamat. Kau harus diberi hukuman”, ucap Donghae ketika jarak mereka sudah semakin dekat. Yoona terlihat kelabakan tidak tahu harus berlari kemaana lagi, jadi gadis itu tanpa sadar melangkah mundur. Karena dia tahu apa hukuman yang akan Donghae berikan padanya. Pria itu ingin menciumnya. Dasar Mesum!

“bersiaplah”, ucap Donghae dengan senyum miringnya. Yoona pun semakin mundur. Donghae menatap ombak dibelakang Yoona. Merasa timingnya tepat, Donghae langsung menggertak Yoona.

“HAHHHH”, gertak Donghae dan spontan Yoona terkejut hingga terjatuh ditepi pantai dan beberapa detik kemudian gelombang ombak menghampiri tepi pantai dan langsung mengguyur tubuh Yoona.

Donghae terbahak-bahak melihat kondisi Yoona saat ini. Diwajah gadis itu terdapat banyak butiran pasir dan rambut panjangnya terlihat sangat lepek.

“OPPA”, teriak Yoona kesal. Sedangkan Donghae terus tertawa melihat kondisi Yoona. Gadis itu berniat untuk bangkit, tapi lagi-lagi gelombang ombak datang, membuat tubuhnya kembali jatuh. Yoona berteriak kesal karena tidak bisa bangkit. Donghae yang merasa kasihan akhirnya membantu Yoona walaupun tawanya belumlah reda.

“Ayo… biar kubantu”, tawar Donghae, membatu Yoona berdiri dan menjauh dari tepi pantai. Donghae mengajak Yoona kembali ke mobil. Meraka bisa sakit jika terlalu lama kena air. Mereka duduk dikursi belakang.

“oppa keterlaluan”, ucap Yoona kesal.

“itu salahmu. Kau yang memulainya terlebih dahulu”, balas Donghae sambil melepas kancing kemejanya. Yoona yang menyadari apa yang Donghae lakukan, langsung terlihat salah tingkah.

“a-apa yang oppa lakukan? Kenapa oppa membuka kemeja oppa?”, ucap Yoona sambil menatap kearah lain.

“aku bisa sakit jika terus memakai pakaian basah seperti ini”, ucap Donghae tidak peduli dan melanjutkan membuka celananya. Yoona semakin panik.

“kau juga… bukalah bajumu. Kau bisa sakit”, ucap Donghae.

“Apa oppa gila? Aku tidak mau”, ucap Yoona langsung memeluk tubuhnya sendiri, bermaksud melindungi diri dari Donghae.

“aku tidak akan melakukan apapun. Kau tenang saja. Pakai saja jas ku untuk menutupi tubuhmu”, ucap Donghae.

“aku tidak mau”, ucap Yoona tegas.

“kau membukanya atau aku yang membukanya”, ucap Donghae menggoda. Dengan cepat Yoona langsung mundur, hingga bersandar pada badan mobil.

“cepat”, ucap Donghae, dan pria itu pun langsung berbalik membelakangi Yoona. Gadis itu pun dengan terpaksa membuka satu persatu pakaiannya dengan matanya sesekali menatap Donghae. Memastikan pria itu tidak mengintip. Setelah tubuhnya hanya berlapiskan pakaian dalam, Yoona langsung meraih jas Donghae, memakainya. Panjang jas itu tidak bisa menutup seluruh tubuh Yoona. Panjang jasa itu hanya sebatas menutup tubuh bagian bawahnya. Tapi walaupun begitu Yoona masih tetap bersyukur, tubuhnya tidak terlihat begitu jelas.

“su-sudah”, ucap Yoona gugup. Donghae pun berbalik dan langsung terdiam. Dia menelan air liurnya dengan sudah payah. Penampilan Yoona saat ini sangat menggoda.

“akkmmm”, dehem Donghae, menghilangkan kegugupannya. Pria yang hanya berbalutkan celana boxer itu terlihat sekali salah tingkah.

“apa tidak sebaiknya kita pulang saja”, ujar Yoona. Donghae langsung menatap gadis itu tapi dengan cepat kembali menatap kelain tempat. Jantungnya berdegup sangat kencang ketika melihat Yoona seperti sekarang.

“kita disini saja. Besok, pagi-pagi sekali kita baru pulang. Kau pasti sudah lelah seharian mengemudi”, ucap Donghae.

“baiklah”, ucap Yoona. Mereka kembali terdiam dengan suasana canggung.

Donghae sedang berusaha menahan dirinya agar tidak menyerang Yoona sekarang. Pria itu sedang berjuang melawan nafsunya dan juga logikanya.

‘tidak Lee Donghae… ini belum saatnya. Kau harus bisa menahan diri’, batin Donghae berulang kali.

“haichhh”, bersin Yoona. Donghae langsung menatap gadis itu dan memberikan tissue. Yoona pun menerima tissue itu, menekannya dihidungnya. Lagi-lagi Donghae melihat tubuh Yoona membuat pertahanannya semakin runtuh.

Dengan sigap diraihnya pinggang Yoona, meletakkan gadis itu dipangkuannya dengan kaki Yoona sudah berada disisi kiri dan kanannya.

“o-oppa”, ucap Yoona gugup.

“aku harus jujur.. melihatmu seperti ini sangatlah menyiksaku. Kau tahu aku pria normal. Aku menyesal menyuruhmu melepas bajumu. Kau benar-benar sangat menggoda. Apa yang harus kulakukan sekarang Yoona?”, tanya Donghae dengan nada suara yang terdengar putus ada. Yoona menatap wajah pria didepannya dengan serius.

‘Donghae terlihat sangat kesulitan sekarang. Tapi dia tetap berusaha untuk melindungi ku’, batin Yoona.

Donghae memejamkan matanya berusaha melawan nafsunya. Yoona merasa kasihan melihatnya. Rahang pria itu mengeras dan lehernya menegang.

Dengan berlahan Yoona menyentuh rahang pria itu, mengelusnya dengan lembut. Berlahan Donghae membuka matanya, menatap langsung kemanik mata Yoona.

Cup~

Yoona mencium rahang Donghae yang mengeras. Bermaksud untuk meredakan ketegangan Donghae.

“apa oppa sudah lebih baik?”, tanya Yoona dengan polosnya.

“Yang ada kau semakin membuatku menegang Yoona”, ucap Donghae.

“benarkah… lalu bagaimana sekarang?”, ucap Yoona panik. Maksud hati agar Donghae tidak terlalu tegang, tapi yang ada pria itu semakin merasakannya.

Donghae tersenyum menatap Yoona yang terlihat panik. Istrinya itu sangatlah polos. Harusnya dia menghindar bukan malah semakin mendekatinya. Donghae akui jika memang tindakan awalnya yang membawa Yoona kepangkuannya adalah keputusan yang fatal. Tapi mau bagaimana lagi. Walaupun tidak bisa melakukannya setidaknya Donghae dapat menyentuh kulit gadis itu.

“tidak apa-apa. Aku bisa menahannya”, ucap Donghae. Yoona menatap Donghae kasihan.

“oh ya aku hampir lupa. Aku ingin memberikan sesuatu untukmu”, ucap Donghae.

“apa?”, tanya Yoona.

“ada disaku jas yang kau pakai”, ucap Donghae. Yoona pun merogoh saku jas yang dipakainya dan menemukan sebuah kotak kecil berwarna hitam. Yoona menatap kotak berbahan beludru itu dengan kening mengerut.

“ini untukku?”, tanya Yoona sambil menatap Donghae.

“lebih tepatnya untuk kita berdua”, ucap Donghae, membuat Yoona semakin penasaran.

“boleh aku membukanya?”, tanya Yoona lagi. Donghae pun langsung mengangguk.

Dengan berlahan Yoona membuka kotak itu dan matanya langsung membulat melihat isinya. Didalam kotak itu terdapat sepasang cincin yang sangat indah walaupun berbentuk sederhana.

“op-oppa~”, ucap Yoona. Donghae mengambil salah satu cincin itu lalu menatap Yoona.

“aku baru menyadari…bahwa tidak ada satu pun bukti nyata yang menyatakan bahwa kita suami istri. Jadi aku berpikir…dengan cincin ini setidaknya aku bisa lebih percaya bahwa kau milikku dan aku adalah milikmu”, ucap Donghae. Mata Yoona langsung berkaca-kaca.

“aku ingin kau tetap disisiku selamanya. Bersama-sama kita akan menghadapi semuanya. Aku akan tetap menggenggam tanganmu dengan erat. Selamanya”, ucap Donghae dengan mata teduhnya. Lidah Yoona terasa kelu setelah mendengar ucapan Donghae yang sangat menyentuhnya. Pria dihadapannya itu terlihat sangat serius dengan hubungan rumah tangga mereka.

Donghae menyematkan cincin itu dijari manis Yoona dan ukurannya sangat pas. Yoona menatap cincin itu dengan air mata yang sudah mengalir.

“kenapa kau menangis?”, tanya Donghae meraih dagu Yoona agar gadis itu menatapnya. Dengan lembut Donghae menghapus air mata Yoona dengan ibu jarinya.

“aku tidak tahu…air mataku mengalir begitu saja”, balas Yoona. Donghae tersenyum.

“maukah kau memakaikannya untukku?”, tanya Donghae. Yoona pun mengambil cincin yang ukurannya lebih besar itu, meletakkan kotak itu terlebih dahulu dikursi lalu meraih tangan Donghae. Dengan berlahan Yoona memakaikan cincin itu dijari Donghae. Setelah itu didekatkannya cincinnya pada cincin Donghae. Yoona tersenyum kecil melihat betapa indahnya cincin itu.

“kau suka?”, tanya Donghae dan Yoona menegakkan kepalanya, menatap mata Donghae lalu mengangguk.

“cincin ini sangat indah”, ucap Yoona kembali memandang cincin dijari tangannya.

“kau jauh lebih indah”, puji Donghae.

“ckkk…oppa memang perayu yang sangat handal”, ucap Yoona dengan senyum lebarnya. Melihat senyum itu membuat Donghae pun ikut tersenyum. Dikecupnya pipi Yoona dengan lembut.

Yoona kaget dengan ciuman itu. Dia menatap pria itu yang menatapnya dengan serius. Berlahan wajah Donghae semakin mendekat ke wajah Yoona.

“bolehkah aku menciummu?”, tanya Donghae.

“se-sejak kapan oppa izin dulu untuk menciumku?”, tanya Yoona balik. Donghae terkekeh mendengar pertanyaan Yoona.

“ya sebenarnya aku tidak perlu meminta izin. Aku hanya basa-basi saja tadi”, ucap Donghae dan langsung meraup bibir Yoona. Awalnya Donghae hanya sekedar menempelkan bibirnya saja. Lalu berlanjut melumat bibir bawah dan atas gadis itu secara bergantian. Yoona yang terbawa suasana pun mengalungkan lengannya dileher Donghae sambil memain-mainkan rambut belakang Donghae. Kebiasaannya. Dengan berlahan Donghae menyisipka lidahnya, masuk mengabsen setiap jengkal rongga mulut Yoona hingga kini lidah mereka saling membelit.

Hingga beberapa menit berlalu mereka masih tetap dalam pagutan mereka. Bahkan ciuman itu sudah bercampur dengan nafsu. Donghae menoleh kesamping kiri dan kanan secara bergantian agar Yoona tidak kesulitan bernapas. Donghae sepertinya tidak ingin mengakhiri keintiman mereka.

Donghae meraih pinggang Yoona, menarik tubuh gadis itu semakin menempel didadanya. Yoona pun bahkan mulai membalas ciuman yang mulai tergesa-gesa itu.

Ini benar-benar sangat memabukkan bagi keduanya. Bibir yang saling bertautan, tubuh yang menempel tanpa celah dengan kondisi tubuh yang tidak perpakaian lengkap. Dengan debar jantung yang semakin kencang, keduanya pun semakin giat melanjutkan aktivitas mereka.

Tangan Donghae mulai berampat ke paha Yoona yang tidak terlindungi apapun. Mengelusnya dengan lembut, membuat Yoona mendesah dalam ciumannya. Kegiatan Donghae dipahanya membangkitkan sesuatu dalam dirinya yang sebelumnya tidak pernah dirasakannya. Ini pertama kalinya dan gadis itu ingin tetap merasakannya, seperti candu.

Tapi tiba-tiba dia membuka matanya yang membulat dan tubuhnya langsung bergetar. Sedangkan Donghae masih melanjutkan aksinya dengan tangannya yang mulai merambat masuk kebalik jas yang Yoona kenakan. Mengelus-elus perut Yoona sedangkan bibirnya masih melahap bibir Yoona.

Donghae melepas ciumannya ketika merasakan tubuh Yoona yang bergetar dipangkuannya. Donghae langsung menatap mata Yoona yang juga bergetar dan tersirat ketakutan disana. Sial!

Donghae merutuki perbuatannya yang sudah melewati batas, dia hampir mengikuti nafsunya. Dan melupakan Yoona tetaplah Yoona. Dia tetap gadis yang takut dengan skinship yang berlebihan.

“Yoona maafkan akau…kumohon maafkan aku”, ucap Donghae panik, karena tubuh Yoona masih bergetar. Yoon terlihat sangat ketakutan ketika Donghae mulai menyentuh perutnya tadi.

“aku tidak akan melakukannya lagi. Aku janji. Ku mohon maafkan aku”, ucap Donghae lagi, meraih wajah Yoona, mengusap pipi gadis itu dengan lembut.

“Yoona~”, panggil Donghae lembut. Mendengar itu Yoona pun tersadar dari ketakutannya. Pria yang ada dihadapannya adalah suaminya bukan mereka. Seharusnya dia tidak perlu takut.

“kau takut?”, tanya Donghae sambil menatap mata Yoona yang juga menatapnya. Yoona mengangguk berlahan.

“Ya Tuhan apa yang sudah ku lakukan tadi”, rutuk Donghae sambil mengusap wajahnya.

“oppa~”

“Yoona…maafkan aku. Aku janji tidak akan melakukannya lagi. Sungguh”, janji Donghae. Melihat ketulusan pria itu membuat Yoona tersentuh, bahkan tubuhnya tidak bergetar lagi. Yoona pun langsung melingkarkan lengannya dileher Donghae, memeluk pria itu erat. Menyalurkan ketakutannya pada pria itu.

“oppa… maaf”, bisik Yoona.

“tidak…yang harusnya minta maaf itu adalah aku. Karena lagi-lagi aku membuatmu takut”, balas Donghae.

“tapi aku bukan istri yang baik. Aku banyak kekurangan. Aku aneh oppa”, ucap Yoona masih menyembunyikan wajahnya disisi kiri kepala Donghae.

“Jangan berbicara seperti itu. Kau istri yang sangat baik. Kau segalanya untukku”, balas Donghae, menyangkal ucapan Yoona.

“sungguh?”, tanya Yoona sambil melepas pelukannya.

“Ya”, ucap Donghae tegas. Yoona pun langsung dapat mempercayai pria itu dari sorot matanya yang seolah-olah menatap Yoona seperti sangat berharga dan penting untuk pria itu.

Kembali Yoona memeluk Donghae, menyalurkan rasa terima kasihnya karena pria dalam pelukannya itu selalu bisa menjadi penopangnya.

Mereka terdiam beberapa menit dalam keadaan yang sama. Yoona dalam pangkuan Donghae, dan saling berpelukan.

“oppa~”

“mmm?”

“boleh aku bertanya sesuatu?”, tanya Yoona. Gadis itu melepas pelukan mereka, menatap wajah pria itu. Pria itu hanya mengangguk.

“apapun?”, tanya Yoona lagi memastikan.

“apapun. Kau boleh menanyakan apapun”, balas Donghae.

Yoona terdiam sejenak, menimbang-nimbang apakah dia harus bertanya apa tidak. Apakah Suasana sekarang mendukung untuknya bertanya atau tidak. Setelah meyakinkan dirinya akhirnya Yoona membulatkan tekat akan bertanya saja.

“sebenarnya aku tidak begitu yakin oppa akan menjawabnya atau tidak karena ini sepertinya bersifat sangat pribadi”, ucap Yoona. Donghae hanya diam menunggu gadis itu melanjutkan ucapannya.

“mmm…soal yang tadi pagi…”, Yoona menghentikan ucapannya lagi, menatap reaksi Donghae dan pria itu hanya diam saja menunggu dirinya menyelesaikan ucapannya.

“se-sebenarnya a-apa yang membuat oppa ta-takut mengemudi?”, ucap Yoona terbata-bata.

Donghae terdiam sejenak. Sebelumnya dia sudah berpikir Yoona pasti akan menanyakan tentang kejadian tadi pagi. Melihat Donghae yang terdiam saja membuat Yoona merasa tidak enak hati karena sepertinya pria itu tidak ingin menceritakan apapun.

“ahh…sudahlah lupakan saja pertanyaanku itu”, ujar Yoona.

“aku akan memberitahukanmu sesuatu dimasa laluku. Dan kuharap kau bisa menerimanya walaupun diriku sendiri belum bisa menerimanya seutuhnya”, balas Donghae. Yoona mengerutkan kening, tidak mengerti dengan ucapan Donghae.

“sebenarnya aku…aku pernah membunuh seseorang”

TBC     

Jangan lupa like dan komentarnya ya~

|27 Apr 2017|

Advertisements

33 thoughts on “After Married – 18

  1. sulistiowati_06

    sweet yoonhae. momentnya bener2 ngedukung mereka, karena ada kemajuan hehe. mudah2an yoona bisa cepet sembuh dari phobianya. mian authornim baru sempet baca dan komen. gomawo

  2. KasMha PyrooLiers

    Ehhh itu yg terakhir apa maksudnya…
    Pembunuh ..?? Membunuh seseorang…ehh baxk amat maslahnyaa

  3. Jadi sebenarnya Donghae bukannya tidak bisa mengemudi, tapi dia berhenti mengemudi karena trauma? Yoona dan Donghae mulai nakal ya, hampir aja sedikit lagi. Donghae pernah membunuh? Kecelakaan mungkin maksudnya ya?

  4. Iedhaaniyagirl ipethaa

    Ya ampun rahasia satu per satu mulai terungkap tak Sabar Baca part selanjutnya

  5. Bahagiaaa banget donghae yoona akhirnya bisa saling menerima dan mencintai. Tapi deg-degan juga ya. Takut donghae ngga bisa menerima masa lalu yoona. Donghae pernah membunuh? Apakah maksudnya kecelakaan mobil. Lanjut baca aja yaa.

  6. vedora aliansi mindri

    aduhh mereka so sweet banget,hae keren tidak memaksa yoona..dan kenyataan apa lagi ini?hae pernah bunuh orang??

  7. trywach

    yoonhae full moment sweet bget,,,,
    pi tbc g enak bget,,,,cpa yg dibunuh donghae yaw,,,,???
    msa lalu yoona sja masih abu2,,,,ini ditmbah msa lalu donghae mulai terkuak,,,
    next semoga hub yoonhae mkin deket dech wlupun mereka pny msa lalu yg buruk,mereka bsa sling memhami & menerima

  8. haru haru

    Sweet moment YoonHae buat overdosis…
    Donghae mau buka rahasia ttg pernah membunuh org.. ??? Mudah-mudahan stlh donghae cerita tentang masa kelamnya ke yoona,, yoona jdi percaya ke donghae dan mau cerita tentang kejadian masa lalunya…

  9. Meliii

    Yoonhae moment ny😍😍😍
    Apa donghae pernah ngebunuh orang? Wah sapa kira2 yg di bunuh
    Next chap
    Finghting!!

  10. asty

    Apaaaaa? Donghae prnh mbunuh org??? Aduhhh thor ney ff manis manis gmna gituuu,,,greget’y dapet bkin kaget’y jg dapet,,,but seruuuu thor,,,makin penasaran z ney cerita slanjut’y,,,semangat thor lanjut yaaaa😊😊,,,kaga pake lama yaaa thorrr ahihihi,,,!!! 💕

  11. yoongtaeyeon

    yoonhae momentnya bener2 buat melting kekekeke
    semoga yoona jg bisa lebih terbuka soal masa lalunya ke donghae
    Semangat author!
    gak sabar nungguin hari sabtu hehehe

  12. sintayoonhae

    yoonhae so sweeeettttt bgt… jadi iriiiiiii…. ternyata mereka brdua pnya masa lalu yg pahit yeeee,,, smga bisa ngilangin trauma msing2 dgn kedekatan mrka,,, kompliknya mlai bnyk nihh penasaran….. dtggu next part nya Thor fighting 😀

  13. yoonhaeina90

    Enggak mungkin hae bunuh org
    Enggak enggak rela
    Atau mungkin masa lalu hae dgn seseorg d ms lalu
    Kenapa d saat mrk udh sweet bgt kaya gitu
    Ada masalah lain yg muncul

  14. Yoonhae moment is back, sukaaaa bgt sama kebersamaan mrk sumpah senyum2 gk jelas baca nya donghae sdh mau membuka soal masa lalunya, semoga yoona jg bs biar semua masalah dapat teratasi amin. Daebak di tunggu kelanjutannya chingu fighting

  15. Sfapyrotechnics

    Sweet abiiss 😍😍😍 Mereka udh mulai mnunjukkan kemesraan mereka di publik(?) Yoong jga udh nggk terllu takut tuk skinship dan jlan² diluar :v 😂 Huwaa kirain merka bkl goals :v dan sbnrnya apa wheein ma hae pny rncana?? Dan apa ??? Hae pernah ngebunuh seseorang?? siapa? knpa bisa? apa itu yg buat hae trauma nyetir ??

    Next kk.. Fighting!!

  16. ichus

    Huaahhh hampir aja. Sedikit lagi hloh padahal 😂
    sweet moment.. absurd moment.. aisshh daebak
    Mm Donghae bunuh orang? Gk mungkin.. tidak sengaja? Kecekakaan kah..

  17. Wah… Bener bener full ya yoonhae moment. Sebenernya donghae kenapa?? Kok dia ngebunuh orang gitu. Wow… Wheein seksi banget. Yoona jd protective waktu ngeliat wheein kayak gtu. Lucu….
    Endingnya romance banget kak. Penasaran banget sama masa lalu donghae. Ditunggu next chap ya kak… Semangat!!

  18. Moment yoonhae semua😄 keren banget,nunggu banget Ff ini ga sabar gmna kelanjutannya ya???donghae pernah membunuh orang???siapa ya??apa nanti yoona bakalan cerita tentang masa lalunya??

  19. Jadi ceritanya Donghae punya semacam trauma mengemudi karna hal itu yaa ..
    tadi sempet mau nanya aja apa alasan Donghae bersikap dingin kaya gitu setelah nyoba ngendarain mobil lagi ..
    Oh iya soal skinsip tadi aku siap baca kalau itu di perpanjang hehe ..abis nanggung un tadi ^^
    Dan soal ide Donghae yg duplikatin no handphone Yoona itu keren banget ..huh di tunggu next skinsip nya yg lebih hot dan panjang hahahaha ^^

  20. laylee18

    oh jdi donghae tuh pernah mengalami kecelakaan sampe jatuh korban trus jdi trauma mengemudi sampe skrng?
    yoonhae momentnya sweet banget, sampe senyum2 sendiri bacanya
    next kak

  21. Akhirnya gak di post tengah malaam.
    Aduuuuh yoonhae sweet bangeet. Kencan sehari.
    Donghae pernah membunuh ? Trauma mengemudi ? Hmm
    Semoga sabtu cepat di post dan minggu jiga bisa post ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s