After Married – 16

Mockups Design
After Married Cover Ebook

Author: Fi_ss

Tittle: After Married – 16 – Other

Lenght: Chapter

Cast: Im Yoona and Lee Donghae

Other Cast: Kim Heecul, Tiffany Hwang, Nicholas, Jung Wheein, Kim Taehyung, Jung Nara, etc

Genree: Romance, married life, Family, etc

Rate : 17+

Author Note: Maaf lagi-lagi lama updatenya. Seperti yang aku kasi tahu kemarin chapter ini tentang cast yang lain selain YH. Dan sorry gak ada YH Moment. Ini kusus membahas tentang Nic dan Tiffany.

Oh ya aku mau ucapain makasi untuk follower yang setiap hari ada aja yang meng-follow. Terus makasi untuk komentar-komentar kalian yang selalu antusias menunggu next chapternya. Aku jadi merasa terharu. Makasi banyak  karena kalian udah suka dengan karya aku yang gak seberapa ini. *bow

Oh ya satu lagi. Dipertengangan ada part yang huruf miring semua, itu khusus flashbacknya ya. Aku gak buat tanda soalnya. Cukup perhatikan aja tulisannya. Biar gak salah mengartikan…

Dan sorry klo masih banyak typo

Happy reading & Leggo~

>>>>>>>

– OTHER –

Author POV

Nic sedang menikmani waktu santainya sambil memainkan ponselnya. Sesekali dia tersenyum menatap layar ponselnya. Setelah merasa puas, pria itu bangkit dari duduknya untuk mengambil jaketnya. Dia bertekat kali ini tidak akan ada lagi yang mengganggunya.

Tapi belum sampai didepan pintu, bell pintu apartemennya berbunyi, membuat pria itu mengerutkan keningnya.

Dengan perasaan malas dia membukakan pintu apartemennya. Dan betapa menyesalnya dia membukakan pintu itu ketika yang berdiri dihadapannya sekarang adalah seorang gadis yang berstatus sebagai tunangannya sejak lima bulan yang lalu.

“kau akan keluar?”, tanya Tiffany sambil menatap penampilan Nic.

“mmm”, jawab Nic acuh. Bukannya merasa tersinggung, Tiffany hanya bersikap biasa saja, seolah perlakukan Nic yang seperti itu adalah hal yang biasa baginya.

“kau mau kemana?”, tanya Tiffany lagi.

“aku ada urusan penting”

“sepenting apa?”, tanya gadis itu lagi.

“aku rasa ini bukan sesuatu yang perlu kau ketahui. Cepat katakan untuk apa kau datang kesini?”, ucap Nic jengah dengan pertanyaan-pertanyaan yang Tiffany ajukan.

“ok aku tidak akan bertanya lagi. Tapi kau harus membatalkan urusanmu itu. Karena kau harus ikut denganku sekarang”, jawab Tiffany.

“untuk apa? Aku tidak ada waktu jika harus mendampingimu untuk datang ke pesta-pesta teman-temanmu itu”, balas Nic.

Tiffany menatap pria itu datar tapi kedua tangannya mengepal karena kesal. Tiffany baru menyadari jika selama ini Nic menemaninya menghadiri undangan-undangan dari teman atau rekan bisnisnya, dalam keadaan terpaksa. Tiffany pun semakin menyadari sikap tidak suka Nic padanya mulai terang-terangan dinunjukkan pria itu didepannya. Pria itu tidak pernah menjaga perasaan Tiffany yang selalu hancur ketika pria itu selalu mengabaikannya, terkhusus akhir-akhir ini.

“akhirnya kau mengatakan jika selama ini kau menemaniku dalam keadaan terpaksa. Tapi… ya sudahlah. Aku tidak akan mempermasalahkannya. Tapi perlu kau tahu aku pun sebenarnya tidak ingin pergi denganmu sekarang. Aku memiliki pekerjaan yang jauh lebih penting”, jawab gadis itu sambil menghembuskan napas lelah. Nic menatap Tiffany dengan kening mengerut.

“Ommonim mengundang kita makan siang bersama”, lanjut Tiffany. Nic langsung mendengus kesal setelah Tiffany mengatakan apa tujuan gadis itu datang ke apartemennya.

“aku tidak bisa. Aku sedang ada urusan penting”, jawab Nic. Tiffany menatap pria itu dengan senyum miring.

“jangan katakan itu padaku. Katakan saja pada ommonim. Dan berdoalah semoga dia bisa menerima alasanmu itu”, jawab Tiffany dengan santainya lalu pergi meninggalkan pria itu.

Didalam lift Tiffany hanya menunduk saja sambil meremas dressnya. Beberapa kali dihembuskannya napasnya lalu bergumam-gumam tidak jelas.

“jangan menangis…please….jangan menangis”, Tiffany mencoba mensugesti pikirannya kala perasaan terluka lagi-lagi harus dirasakan gadis itu dari pria yang dulu dicintainya.

Jika saja dia tahu akan sesakit ini mencintai seorang pria yang mencintai gadis lain, Tiffany lebih memilih untuk tidak pernah jatuh cinta lagi. Gadis itu bahkan bersumpah tidak akan mencintai pria itu lagi. Selalu kata-kata itu yang coba ditanamkannya dalam pikirannya. Tapi sayangnya dia sudah jatuh terlalu dalam. Terjatuh dalam pesona seorang Nicholas Henney.

Tiffany berdiri didepan gedung apartemen Nic sambil memain-mainkan ponselnya.

Tit tit tit

Suara klakson mobil mengagetkannya. Didepannya terdapat sebuah mobil hitam yang sangat diketahuinya. Kaca mobil itu pun turun secara berlahan, memperlihatkan si pengemudi mobil itu. Nic duduk dibalik kemudinya dengan santai dan menatap lurus kedepan. Tidak mengatakan apapun untuk menyatakan maksudnya menghentikan mobilnya didepan Tiffany. Tapi walaupun demikian entah kenapa Tiffany merasa senang karena pria itu akhirnya mau pergi bersama. Betapa bodohnya bukan gadis itu. Sudah tidak dianggap sebagai tunangan, tapi tetap saja bisa terbuai dengan kebaikan sesaat Nic.

Tiffany masuk kedalam mobil Nic dengan perasaan senang. Sedangkan Nic langsung menjalankan mobilnya. Mereka hanya terdiam dalam mobil itu. Tidak seorang pun diantara mereka yang mau memulai bicara. Mereka lebih memilih untuk sibuk dengan pikiran masing-masing. Tiffany yang memikirkan nasib percintaannya sedangkan Nic memikirkan apa langkah yang harus dilakukannya agar tidak ada lagi yang mengganggunya.

Tiffany melirik pria disampingnya secara diam-diam. Gadis itu mengingat-ingat bagaimana dia bisa jatuh cinta pada pria yang begitu kejam itu.

>>>>>>>

Tiffany berjalan secara berlahan sambil memilih-milih pakaian yang cocok dikenakan seorang pelanggan yang terus sedari tadi mengikutinya tiada henti. Gadis itu pun berhenti melakukan aktivitas yang sebenarnya sia-sia itu. Karena dia tahu kedatangan pelanggannya hari ini sebenarnya bukanlah untuk membeli sesuatu dibutiknya, tapi lebih tepatnya ingin mengganggu Tiffany.

Tiffany berbalik menatap seorang wanita baruh baya namun penampilannya masih seperti anak muda pada umumnya. Walaupun sudah berusia 55 tahun tapi wanita itu masih terlihat sehat dan bugar.

“Mrs. Henney… please”, hanya itu yang Tiffany katakan.dan wanita itu langsung mengerti maksud permohonan Tiffany. Wanita itu malah tersenyum mendengar kalimat permohonan gadis itu tapi sepertinya dia sudah tidak ingin rencananya tertunda lagi. Ia sangat ingin Tiffany datang untuk makan malam hari ini bersamanya dan juga putranya.

Wanita keturunan Jerman yang menikah dengan seorang pebisnis asal korea itu, ingin putranya mendapatkan seorang istri yang secantik dan sepintar Tiffany. Jadilah dia menyusun segala rencana agar Tiffany dapat bertemu dengan putranya yang selalu sibuk dengan pekerjaannya itu.

“ayolah… kali ini saja. Jangan menolak. Kita hanya makan malam bersama”, jelas wanita itu tapi Tiffany masih menatap curiga.

“tidak lebih?”, tanya Tiffany dan wanita itu langsung mengangguk. Tapi melihat betapa cepatnya wanita itu menanggapi pertanyaannya membuat Tiffany sedikit ragu untuk menyanggupi undangan makan malam tersebut. Pikirannya mengatakan untuk menolak tapi hatinya berkata sebaliknya – memerintah untuk datang saja.

“baiklah. Tapi dengan syarat, selesai makan aku akan langsung  pulang”, jawab Tiffany.

“tentu,,, selesai makan malam, kau bisa pulang”, jawab wanita itu.

“kalau begitu aku akan pulang”, lanjut wanita itu.

“hahh… dressnya bagaimana?”, tanya Tiiffany sambil menjulurkan sebuah dress panjang pada wanita itu. Wanita itu tersenyum lebar menatap Tiffany.

“tidak jadi…aku baru ingat ternyata aku masih memiliki dress yang belum pernah kukenakan”, jawab wanita itu dengan santainya. Benarkan apa yang Tiffany pikirkan. Wanita itu memiliki maksud lain datang ke butiknya.

Ny Henney adalah salah satu pelanggan butiknya yang selalu setia mengenakan hasil kerja keras Tiffany. Dan wanita itu pun sangat baik terhadap Tiffany. Sifat penyayang dan kelembutan wanita itu memuat Tiffany tidak tega untuk menolak segala permintaan Ny Henney. Karena Tiffany sudah menganggap Ny Henney seperti ommanya.

Mrs. Henney pun pergi begitu saja, keluar dari butik Tiffany. Meninggalkan gadis itu dengan dengusan yang begitu saja keluar dari hidungnya.

>>>>>>> 

Tiffany tiba didepan rumah besar dengan pandangan mengagumi. Walaupun saat ini dia sudah menjadi desainer terkenal tapi jika mengingat kilas balik kehidupannya yang seorang yatim piatu, tidak pernah merasakan kemegahan seperti rumah didepannya itu. Semasa remajanya Tiffany harus sudah bekerja sebagai mengantar bunga agar bisa membayar uang sekolahnya. Sedangkan sang unnie, dengan jarak usia yang cukup jauh – 10 tahun, hanya bekerja disebuah perusahaan swasta bersama suaminya yang juga dari kalangan biasa. Bahkan unnienya itu sudah memiliki putri yang hanya berbeda 3 tahun saja dengan Tiffany.

Sifat Tiffany dan Jennie Hwang – unnienya sangat berbeda. Unnienya memiliki ambisi yang sangat kuat untuk kelak akan memperbaiki perekonomian keluarga mereka. Berbanding terbalik dengan Tiffany yang selalu terlihat santai seperti air mengalir. Dia lebih menikmati hidupnya sedangkan unnienya selalu sibuk dengan pekerjaannya.

Seorang pelayan menghampiri Tiffany dan mempersilahkan Tiffany untuk mengikutinya seolah-olah pelayan itu sudah tahu jika Tiffany adalah orang yang sedang ditunggu sedari tadi.

Sambil mengikuti pelayan itu, Tiffany mengedarkan pandangannya kesekelilingnya. Bahkan perabotan dirumah itu pun terlihat berkilau dan sangat mahal dimata gadis itu.

“oh kau sudah datang sayang… kemarilah”, seru Ny Henny mengagetkan Tiffany.

“Hai… Mrs Henney”, sapa Tiffany. Mereka saling memeluk lalu kemudian duduk didepan meja makan besar dengan diatasnya sudah terhidang berbagai jenis makanan, mengisi hampir seluruh meja.

“tunggu sebentar lagi ya… Nic akan segera datang”, ujar Ny Henney.

“Nic?”, tanya Tiffany.

“Iya Nic, putraku. Nicholas Henney”, jelas Ny Henney dengan senyum lebarnya. Entah kenapa melihat senyum itu firasat Tiffany menjadi tidak karuan. Tiba-tiba saja jantungnya berdegup sangat kencang, entah karena apa.

Sudah sejam berlalu tapi tidak ada seorang pun yang datang keruangan makan itu. Ny Henney sedari tadi terus bercerita tentang apapun termasuk tentang operasi jantungnya yang akan dilaksanakan 2 minggu lagi.

“kemana anak itu… benar-benar kali ini tidak akan ku ma-”, belum selesai Ny Henney menyelesaikan ucapannya, seseorang sudah menginterupsi.

“tidak perlu marah-marah… aku sudah datang”, ucap suara bariton dibelakang Tiffany. Entah kenapa tubuh gadis itu menegang. Dengan berlahan dia menoleh ke belakang dan seketika itu pandangannya hanya tertuju pada pria itu. Tiffany seperti sedang melihat seorang pangeran dari negeri dongeng yang masih ditontonnya hingga diusianya yang bukan anak-anak lagi.

“maaf menunggu lama”, ucap pria itu kearah Tiffany.

“ahhh… iya…tidak apa-apa”, ucap Tiffany gugup. Tiffany mengumpat dirinya yang pertingkah sangat memalukan itu. Gadis itu berpikir tentang jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi segera ditepisnya karena hal itu tidak masuk akal.

“perkenalkan dia putra pertamaku, Nicholas Henney”, ucap Ny Henney.

“Nic..”, ucap Nic sambil mengulurkan tangannya pada Tiffany. Dengan perasaan gugup gadis itu pun menyambut tangan pria itu.

“Ti-Tiffany Hwang”, balas Tiffany masih dengan gugupnya. Ny Henney yang melihat kegugupan Tiffany tersenyum lebar. Dia tahu Tiffany pasti sudah terpesona pada ketampanan putranya itu. Sama seperti gadis-gadis lainnya ketika melihat Nic pasti langsung terpesona, tapi sayang Ny Henney tidak menyukai gadis-gadis itu. Mereka hanya gadis-gadis pemalas yang hanya bisa meminta uang dan menghamburkannya begitu saja. Sangat berbeda dengan Tiffany. Gadis itu sangat giat bekerja, berhati lembut dan penyayang. Karena itu Ny Henney sangat berharap Tiffany bisa menjadi menantunya – istri Nicholas.

Tiffany dan Nic duduk saling berhadapan sedangkan Ny Henney duduk disamping Tiffany. Baik Nic maupun Tiffany hanya diam menikmati makanan mereka sedangkan Ny Henney seolah tidak kehabisan topik pembicaraan, terus berbicara tentangg apa saja. Tentang masa kecil Nic yang menggemaskan dan juga tentang putri angkatnya yang masih kuliah di Jerman.

“kau benar-benar tinggal sendiri?”, tanya Ny Henney pada Tiffany.

“ya aku hanya tinggal sendiri diapartemen”, jawab Tiffany.

“ohh tidak baik seorang gadis tinggal sendiri saja. Sebaiknya segeralah mencari pendamping hidup, agar ada yang menjagamu”, ucap Ny Henney mulai menjalankan rencananya.

“aku belum memikirkan sampai sejauh itu. Aku masih ingin fokus pada pekerjaanku”, balas Tiffany.

“kau tidak boleh berpikir seperti itu. Lebih cepat lebih baik. Bukan begitu Nic?”, tanya Ny Henney tiba-tiba pada pria yang sedari tadi hanya diam, sambil melahap makanannya.

“hahhh?”, ucap Nic bingung.

“putraku yang tampan ini juga sama sepertimu. Lebih memilih untuk hidup sendiri diapartemennya. Kalian begitu mirip”, ucap Ny Henney tersenyum lebar.

“omma…”, tegur Nic karena melihat reaksi Tiffany yang mulai tidak nyaman.

“bagaimana kalau kalian pacaran saja”, kali ini ucapan Ny Henney benar-benar mengagetkan mereka berdua. Tidak ada diantara mereka yang menduga Ny Henney akan membicarakan ini dipertemuan pertama mereka.

“omma… hentikan”, lagi-lagi tegur Nic.

“kenapa? Omma merasa kalian cocok. Ahhh… bagaimana kalau menikah saja”, ujar Ny Henny semakin frontal.

“omma hentikan. Lihat nona Hwang menjadi tidak nyaman”, ucap Nic mencoba berbicara lembut pada wanita yang sangat berarti dalam hidupnya itu.

“ohhh maafkan aku sayang… aku hanya terlalu frustasi karena sampai usia setua ini aku belum juga memiliki cucu yang bisa menemani ku menikmati sisa hari tuaku”, ucap Ny Henney memelas. Tiffany yang pada dasarnya adalah seorang gadis yang mudah tersentuh, langsung mengelus lengan Ny Henney – menenangkan.

“kelak… Anda akan mendapatkannya. Dan soal yang tadi… aku rasa itu terlalu cepat. Anda tahu ini pertemuan pertama kami, tidak mungkin kami langsung menjalin hubungan pada pertemuan pertama. Berikan kami waktu”, ucap Tiffany menatap langsung ke mata wanita paruh baya itu.

Nic kaget dengan ucapan Tiffany. Dia ingin menyangkalnya tapi melihat bagaimana ommanya tersenyum sangat lebar, membuatnya harus mengurungkan aksi protesnya. Ommanya terlihat sangat bahagia ketika melihat Tiffany. Hal ini sangat jarang dilihatnya sejak kepergian appanya setahun yang lalu, meninggalkan mereka semua karena kanker otak.

>>>>>>> 

Beberapa jam mereka asyik berbincang-bincang diruang tamu. Sedangkan Nic sibuk dengan laptopnya disalah satu sofa single.

“aku rasa aku harus segera pulang. Ini sudah larut malam”, ucap Tiffany sambil melirik jam tangannya. Ny Henney pun ikut melihat jam dinding besar diruang tamu itu. Dan memang benar waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.

Tiffany beranjak dari duduknya, lalu menunduk hormat pada Ny Henney.

“tunggu dulu”, tahan Ny Henney. Tiffany yang sudah berjalan menghentikan langkahnya, berbalik menatap Ny Henney.

“Nic…”, panggil Ny Henney.

“mmm”, balas Nic malas.

“NICHOLAS”, seru Ny Henney lebih kencang, membuat Nic segera menutup laptopnya dengan kesal. Lalu dia menghampiri ommanya itu.

“tidak perlu berteriak… ingat jantung omma”, tegur Nic.

“kaunya saja yang susah diatur”, omel Ny Henney.  Nic langsung mendengus. Tiffany memperhatikan Nic yang terlihat selalu patuh pada apapun yang Ny Henney perintahkan. Terlihat sekali pria itu sangat menyayangi ommanya.

“antarkan Tiffany pulang… ini sudah larut malam. Omma tidak ingin terjadi sesuatu padanya”, ucap Ny Henney mengagetkan Tiiffany. Dengan cepat Tiffany mengibaskan tangannya, bermaksud menolak.

“tidak perlu…aku bisa sendiri Mrs. Henney”, tolak Tiffany.

“tidak.. kau harus diantar. Terlalu berbahaya diluar sana”, ucap Ny Henny.

“ta-“, Tiffany ingin menolak lagi tapi suara bariton Nic menghentikannya.

“ayo… benar kata omma tidak baik seorang gadis pulang larut malam seorang diri”, ucap Nic dan langsung berlalu menuju pintu. Tiffany melongo menatap punggung Nic yang semakin menjauh.

“putraku memang sangat pengertian. Bukan begitu?”, ucap Ny Henney yang kini sudah berdiri disamping gadis itu.

“kalau begitu aku pamit”, ucap Tiffany dengan wajah yang memerah.

“hati-hati dijalan….nikmati waktu kalian… aku mengandalkanmu nona Hwang”, teriak Ny Henney ketika melihat Tiffany menjauh.

Walaupun sudah diluar rumah, teriakan Ny Henney masih dapat didengarnya. Membuatnya seperti berbunga-bunga mendengar ucapan wanita itu.

Tiffany masuk ke mobil Nic dalam diam – Nic pun melakukan hal yang sama. Suasana dimobil itu sangat canggung. Sesekali mereka saling melirik. Ketika lirikan mereka saling bertemu, mereka akan langsung mengalihkan tatapan mereka. Begitu terus menerus.

“boleh aku bertanya?”, ucap Tiffany memecah keheningan mereka. Nic mengangguk tanpa menatap Tiffany.

“siapa Laura? Sedari tadi ommamu menyebutkan nama itu”, tanya Tiffany.

“ohhh… dia adik angkatku”, jawab Nic kali ini menatap Tiffany sekilas lalu kembali menatap lurus ke depan. Dia harus fokus mengemudi. Tiffany pun mengangguk berkali-kali. Entah kenapa perasaannya sangat senang ketika pemilik nama itu adalah adik pria yang duduk disampingnya itu.

“apa aku boleh bertanya juga?”, tanya Nic. Tiffany tersenyum lembut sebagai pertanda dia memperbolehkan Nic bertanya apapun padanya.

“bagaimana bisa kau mengenal omma?”, tanya Nic.

“ohh itu… Mrs Henny selalu datang ke butik ku bersama teman-teman sosialitanya. Karena terlalu sering bertemu kami menjadi terbiasa satu sama lain”, jawab Tiffany.

“pasti kau mengalami hari-hari yang sulit”, ucap Nic prihatin pada Tiffany karena gadis itu pasti kesulitan menghadapi ommanya yang begitu banyak permintaan.

“tidak begitu juga…aku sudah menganggapnya seperti ommaku sendiri”, ucap Tiffany tapi langsung menutup mulutnya karena sepertinya dia sudah salah bicara ketika Nic menatapnya kaget. Mungkin karena Tiffany menganggap Ny Henney seperti ommanya.

Suasana dimobil itu kembali hening. Hanya terdengar suara mesin mobil yang bekerja.

“maaf atas perkataan ommaku tadi. Jangan terlalu dianggap serius”, ucap Nic.

“tidak apa-apa. Aku mengerti mengapa Mrs Henney berkata seperti itu. Dia kesepian. Setiap datang ke butikku dia akan selalu menceritakan bahwa dia tidak memiliki teman dirumah. Dia merasa kesepian ketika dirumah. Maka dari itu dia sering datang ke butikku”, balas Tiffany disertai senyum lembutnya. Nic menghentikan mobilnya ketika lampu lalu lintas berwarna merah. Pria itu menatap Tiffany yang masih tersenyum dengan mata yang ikut tertutup. Gadis itu memiliki senyum yang sangat manis. Eyes Smile.

>>>>>>> 

Sejak kejadian makan malam itu, Ny Henney semakin gencar mempertemukan Tiffany dan Nic. Tiffany yang memang senang bertemu dengan Nic lagi, menyetujui saja jika Ny Henney mengatur pertemuannya dengan Nic. Tapi entahlah bagaimana Nic mau melakukan apa yang diperintahkan Ny Henney. Mungkin dengan ancaman.

Mereka mulai terbisa satu dengan yang lain karena cukup sering bertemu. Mereka akan membicarakan seputar pekerjaan dan juga hobby mereka. Hingga tidak terasa sudah seminggu lebih mereka saling mengenal. Bahkan mereka sudah bertukar nomor telepon.

Hingga suatu hari hal yang tidak terduga menghampiri Tiffany. Nic menghubunginya untuk yang pertama kali. Karena biasanya mereka hanya berkomunikasi lewat pesan atau chat. Ini yang pertama kalinya dan pria itu mengajaknya bertemu. Akhirnya disinilah Tiffanya berada. Disebuah kafe yang tidak jauh dari butiknya. Dia duduk seorang diri dimejanya, menunggu Nic yang masih dalam perjalanan menuju kafe.

“ahhh… maaf….kau harus menunggu lama”, ucap Nic ketika tiba dihadapan gadis itu. Tiffany menggeleng.

“tidak apa-apa… duduklah dulu. Kau terlihat sangat kelelahan”, ucap Tiffany sambil menatap Nic yang masih kesulitasn bernapas. Pria itu seperti habis berlari.

“aku tidak punya waktu lagi. Aku harus mengatakannya sekarang”, ucap pria itu.

“memangnya ada apa?”, tanya Tiffany.

“kau harus membantuku”

“membantu apa?”

“bertunangan denganku”, jawab Nic cepat. Tiffany membulatkan matanya karena kaget dengan perkataan Nic.

“a-apa yang kau katakan?”, ucap Tiffany masih kaget.

“ini untuk omma”

“maksudmu?”

“dia tidak ingin menjalankan operasi jika aku tidak segera melamarmu. Jadi aku mohon bantulah aku. Hanya untuk sementara saja, sampai omma benar-benar pulih”, ucap Nic. Tiffany langsung terdiam ketika mendengar kalimat terakhir pria itu. ‘jadi ini hanya pura-pura’, pikir Tiffany. Padahal tadi dia sempat berharap Nic benar-benar melamarnya, menginginkannya menjadi istri pria itu. Harapannya hanyalah sebatas harapan semata. Tidak akan pernah terjadi.

“bagimana? Kau mau kan?”, ucap Nic dengan mata yang menunjukkan permohonan yang sangat dalam. Tiffany tahu pria yang duduk didepannya itu sedang panik. Takut kehilangan ommanya. Tiffany pun sebenarnya tidak ingin terjadi hal yang buruk pada Ny Henney.

Akhirnya Tiffany pun mengangguk menyetujui. Karena terlalu senang, Nic bangkit dari duduknya dan langsung memeluk Tiffany. Sedangkan gadis itu langsung membeku dalam duduknya. Diperutnya seperti ada kembang apai yang beletus dengan meriahnya. Tiffany sangat senang.

Setelah menunjukkan pada Ny Henney bahwa Nic sudah melamarnya melalui cincin yang melingkar dijari manis Tiffany, barulah wanita paruh baya itu mau menjalankan operasi.

Berjam-jam mereka menunggu didepan ruang operasi dengan perasaan cemas. Walaupun dokter sudah mengatakan keberhasilan operasi 98% berhasil. Tapi tetap saja mereka terlihat khawatir.

Lampu penanda sedang berlangsungnya operasi tiba-tiba mati. Menandakan operasi telah selesai. Disusul pintu ruangan itu pun terbuka memperlihatkan dokter dan beberapa perawat yang melakukan operasi. Nic langsung menghampiri dokter itu menanyakan keadaan ommanya.

“bagaimana omma saya dokter?”, tanya Nic.

“seperti yang saya katakan sebelumnya, tingkat keberhasilan operasi ini sangat baik. Semuanya berjalan dengan baik tapi kita masih harus menunggu sampai Mrs Henney sadar baru saya bisa mencek keadaanya kembali”,, jelas dokter itu.

“terima kasih banyak dokter”, ucap Nic.

“ya sama-sama Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu”, setelah itu dokter itu pergi. Meninggalkan Nic dan Tiffany.

“Omma selamat…omma bisa sembuh”, gumam Nic sambil menatap Tiffany. Gadis itu pun tersenyum lebar dengan mata berkaca-kaca.

Tiffany mengelus rambut pria itu sebagai ungkapan dia juga senang karena wanita yang sudah dianggapnya seperti ommanya itu, bisa melewati operasinya dengan baik.

>>>>>>> 

Setelah Ny Henney sadar 2 hari yang lalu, wanita itu sudah mulai bersikap seperti biasanya. Penuh dengan permintaan dan harus dituruti. Kali ini permintaan Ny Henney cukup membuat Nic dan Tiffany tidak tahu harus melakukan apa selain menuruti permintaan wanita itu.

Ny Henny meminta Nic untuk meminta restu pada keluarga Tiffany dan sekaligus memperkenalkan diri pada keluarga Tiffany.

Dengan perasaan gelisah, Tiffany dan Nic tiba di rumah unnienya. Jennie Hwang. Sebelumnya Tiffany sudah mengabari unnienya itu jika dia akan datang dan ingin memperkenalkan seseorang. Tiffany sempat ragu untuk datang kerumah itu karena hubungannya dengan Jennie Hwang sedang tidak baik karena unnienya itu selalu menentang profesi yang dijalani Tiffany sekarang – seorang desiner. Mereka akan bertengkar setiap kali Ny Im membahas tentang pekerjaan Tiffany yang dianggap tidak menghasilkan apa-apa. Unnienya itu selalu beranggapan menjadi seorang pebisnis adalah yang terbaik, seperti dia.

“unnie… perkenalkan… ini Nic tunanganku”. Ucap Tiffany ragu.

“APA?”, teriak Ny Im kaget.

“sayang kecilkan suaramu”, tegur suaminya.

“apa kau hamil?”, bisik Ny Im tapi masih dapat didengar orang-orang yang ada disana.

“unnie… unnie pikir aku gadis seperti apa. Aku masih menjaganya dengan baik”, ucap Tiffany kesal.

“ohhh ku pikir tadinya seperti itu. Kalian datang sangat mendadak dan tiba-tiba saja mengatakan kalian sudah bertunangan”, ujar Ny Im.

 “memang sangat mendadak karena omma ingin melihat kami bertunangan sebelum menjalankan operasinya. Maafkan saya karena sudah membuat kalian kaget”, balas Nic sambil menundukkan badannya, meminta maaf.

“tidak apa-apa. Kami hanya terlalu kaget”, ujar Tuan Im.

“oh ya dimana Yoona?”, tanya Tiffany pada unnienya itu.

“ahh… kau tahu dia seperti apa. Aku sudah pusing mengurusnya”, keluh Ny Im.

“YOONA….. TIFFANY DATANG… KUA TIDAK INGIN TURUN”, teriak Ny Im menggelegar.

Mereka menatap ke lantai dua, kamar Yoona ketika mendengar suara pintu terbuka. Yoona muncul ditangga berjalan berlahan menuju Tiffany.

“kau baik-baik saja?”, tanya Tiffany sambil menatap keponakan yang hanya terpaut 3 tahun usianya dengannya. Mereka bahkan terlihat seperti adik-kakak. Yoona mengangguk untuk merespon pertanyaan Tiffany. Tapi Tiffany tahu Yoona sedang tidak baik-baik saja. Terlihat dari pergelangan tangannya yang membiru. Mungkin unnienya itu memaksa Yoona lagi untuk berkonsultasi lagi dengan psikiater.

“ah.. aku hampir lupa. Perkenalkan ini tunanganku… Nicholas Henney”

Mendengar nama itu Yoona langsung menegakkan kepalanya merasa pernah mendengar nama itu. Yoona membulatkan matanya ketika melihat wajah Nic lebih jelas. Melihat respon Yoona, Tiffany mengerutkan kening.

“kau mengenalnya?”, tanya Tiffany. Yoona pun mengangguk.

“mmm… dia sering menjadi pembicara diseminar yang dilaksanakan dikampusku”, jawab Yoona jujur.

“ohhh kau mahasiswa di Kyunghee University?”, tanya Nic kaget. Memang selain sebagai seorang pebisnis, Nic juga sering menjadi pembicara di seminar yang dilaksanakan di Kyunghee University – tempat dirinya dulu juga mengemban ilmu.

Yoona mengangguk. Nic tersenyum melihat tingkah Yoona yang terlihat malu-malu. Entah mengapa dia senang melihat gadis itu.

“lain kali jika aku menjadi pembicara lagi, kita harus saling menyapa diluar”, ujar Nic dengan santai disertai senyum lembutnya. Sedangkan Yoona hanya menanggapi Nic dengan anggukan kepala. Tanpa Nic sadari, Tiffany memperhatikannya sedari tadi. Tiffany dapat menyimpulkan satu hal melihat raut wajah Nic saat ini. Senyum lebar pria itu, matanya yang berkilat seperti melihat berlian, bahasa tubuhnya, hingga nada bicara pria itu, Tiffny perhatikan. Dan ini pertama kalinya Tiffany melihat pria itu seperti sekarang. Nic… menyukai Yoona!

>>>>>>> 

Mereka tiba dirumah Nic yang masih sama seperti dulu, megah. Dan walaupun sudah begitu sering datang ke rumah itu, Tiffany masih selalu terkagum-kagum.

“ommonim…”, seru Tiffany ketika melihat Ny Henney sedang sibuk menata makanan dibantu seorang pelayan, diruang makan.

“ohhh sayang… akhirnya kalian datang juga Aku sudah sangat merindukanmu”, ucap wanita itu sambil memeluk Tiffany. Mereka saling berpelukan beberapa saat lalu melepaskannya.

“ayo duduklah… semua sudah siap. Kalian pasti sudah lapar”, ucap Ny Henney.

Seperti biasa, Ny Henney akan duduk berdampingan dengan Tiffany dan Nic yang duduk dihadapan Tiffany.

“aku sedang tidak lapar omma”, ujar Nic, merusak suasana.

“tidak ada penolakan. Duduk”, tidak Ny Henney namanya jika tidak bisa mengendalikan Nic. Pria itu mendengus kesal karena tidak bisa menolak permintaan ommanya itu. Tiffany yang melihat tingkah Nic yang seperti terpaksa membuatnya sedikit kesal. Jika memang pria itu tidak suka karena ada dirinya disini, Tiffany tidak akan marah, karena pria itu sudah sering memperlihatkan ketidaksukaannya. Tapi tidak jika dihadapan Ny Henney. Karena yang wanita paruh baya itu ketahui adalah hubungan mereka baik-baik saja. Tapi sayangnya tidak demikian.

Mereka pun makan siang bersama ditemani segala ocehan dari Ny Henney yang tiada henti-hentinya. Tiffany pun sesekali menanggapinya dengan candaan yang membuat Ny Henney tertawa. Sedangkan Nic… pria itu sibuk dengan ponselnya sambil tersenyum-senyum seperti orang gila. Tiffanya diam-diam memperhatikan pria itu.

“jadi apa kau akan mengikuti kompetisi itu?”, tanya Ny Henney pada Tiffany.

“aku belum tahu, apa aku bisa ikut. Karena ada persyaratan minimum usianya. Mungkin aku akan memberikannya pada temanku atau yang lain saja”, balas Tiffany 

“mmm… sayang sekali. Tapi tidak apa-apa karena ommonim dan Nic akan selalu mendukungmu. Benarkan Nic”, tanya Ny Henny pada putranya yang terlihat sibuk dengan ponselnya.

“Nic”, tegur Ny Henney.

“aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan. Lagi pula untuk apa aku tahu, aku sudah pusing dengan pekerjaanku, jangan tambahi bebanku lagi”, ucap pria itu ketus. Mendengar itu Tiffany merasa terluka lagi. Nic tidak ingin tahu apapun tentang dirinya, dan merasa terbebani dengan adanya Tiffany.

“Nic jaga ucapanmu. Kau ini”, marah Ny Henney. Bukannya minta maaf Nic malah bangkit dari duduknya.

“jika kau sudah selesai,  kita pulang saja. Aku sedang banyak pekerjaan. Tapi jika kau masih ingin tinggal, aku akan pulang sendiri”, ucap Nic dan langsung berlalu begitu saja. Tiffany tidak bisa mengatakan apapun, lidahnya seperti tidak bisa bergerak untuk membalas kata-kata pria itu.

“Nicholas… ada apa denganmu? jika kau sedang ada malasah jangan melampiaskannya seperti itu. Kau menyakiti perasaan Tiffany”, omel Ny Henney tapi sayang Nic sudah tidak terlihat lagi.

“maafkan dia… mungkin dia sedang ada masalah dikantor”, ujar Ny Henney. Tiffany hanya mengangguk. Gadis itu tahu dirinyalah yang menjadi masalah pria itu.

>>>>>>>

Kembali Tiffany harus merasakan suasana yang tidak menyenangkan didalam mobil Nic. Pria itu hanya diam saja dan fokus mengemudi.

Tiffany merutuki dirinya karena baru sekarang dia menyesali keputusannya untuk menerima permintaan Nic menjadi tunangan pria itu. Dan lebih bodoh lagi karena kebersamaan mereka, membuat Tiffany benar-benar jatuh cinta pada pria itu. Sedangkan pria itu tidak memiliki perasaan apapun padanya.

“jangan menatapku seperti itu”, ujar Nic tanpa menatap Tiffany.

“Kenapa? Kau tunanganku. Aku memiliki hak untuk menatapmu kapan pun aku mau”, balas Tiffany.

“kita hanya bertunangan untuk sementara sampai aku bisa mengalihkan perasaan omma darimu”, ucap Nic.

“sampai kapan? Sampai kapan aku harus menganggapmu sebagai tunanganku? Apa sampai aku mengatakan perasaanku lagi padamu”, tanya Tiffany kali ini nada suaranya sudah meninggi. Dua bulan yang lalu dalam susana makan malam mereka berdua, dengan bodohnya Tiffanya mengatakan perasaannya pada Nic. Sementara pria itu tidak memberi tanggapan sedikitpun hingga saat ini. Tapi Tiffany tahu diamnya Nic sebagai jawaban jika pria itu tidak memiliki perasaan sedikitpun padanya. Di mata pria itu hanya ada keponakannya seorang. Tiffany ingin berteriak karena kemarahannya, karena parasaan sakit yang dirasakannya karena pria yang dicintainya lebih memilih gadis lain sedangkan dirinya – yang selalu ada disisi pria itu, terbuang begitu saja.

“tolong jangan membahas itu lagi”, jawab Nic.

“kenapa? Kau tidak suka? Tapi sayangnya aku tidak ingin berhenti. Aku harus mengatakan ini sekarang. Aku tidak ingin merasakan sakit lagi”, ucap Tiffany.

“jika kau memang tidak ingin melihatku lagi, segara selesaikan semuanya. Katakan pada ommonim jika kita selama ini membohonginya, kita hanya berpura-pura bertunangan. Tapi jika kau memang tidak sanggup mengatakannya, tolong jaga sikapmu terkhusus didepan ommonim. Aku tahu kau bersikap seperti tadi karena ada aku disana, aku mengerti itu. Tapi jangan tunjukkan sikap brengsekmu itu didepan ommonim karena dia bisa berpikir yang tidak-tidak sehingga menurunkan kondisinya lagi. Selebihnya terserah kau, kau ingin berkata kasar, mengumpat, atau memakiku sekali pun ketika kita sedang bersama, silahkan. Karena ketika hanya kita berdua, aku akan menutup telingaku rapat-rapat agar tidak mendengarmu”, ucap Tiffany panjang lebar. Nic hanya terdiam mendengar penuturan gadis itu. Dia tidak tahu ingin mengatakan apapun.

“tolong berhenti didepan”, ucap Tiffany. Dengan patuh Nic menghentikan mobilnya.
“terima kasih sudah mau datang menemui ommonim”, ucap Tiffany dan langsung keluar dari mobil itu. Meninggalkan Nic yang terdiam kaku didalam mobilnya. Kalimat terakhir Tiffany sangat menusuk hatinya.

Tiffany berjalan menjauh dari mobil itu hingga tiba disebuah halte yang tanpak sepi. Hanya ada dua orang disana. Tiffany duduk di ujung bangku halte itu. Dia menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong. Pikirannya sedang tidak menentu. Tapi walaupun seperti itu dia tetap merasakan sakit yang luar biasa ketika harus mengatakan semuanya didepan pria itu. Itu pertama kalinya dia bisa mengatakan semua perasaannya selama ini pada Nic dan melihat respon pria itu jauh lebih menyakitnya.

Tiffany menundukkan kepalanya, menatap sepatunya dengan pandangan mengabur. Matanya berkaca-kaca mengakibatkan pandangannya tidak jelas. Selang beberapa detik terdengar sisak tangis dari gadis itu. Dadanya terasa sangat sakit. Dipukul-pukulnya dadanya hingga berulang kali tapi bukannya membaik, tapi terasa semakin sakit. Seperti ada luka yang menganga di hatinya.

Kedua orang yang ada dihalte itu menatap Tiffany dengan perasaan iba walaupun tidak mengerti apa yang Tiffany tangisi. Gadis itu pun tidak peduli dengan mereka. Dia hanya ingin menangis, untuk sekali ini saja. Lain kali dia tidak akan menangisi pria brengsek itu lagi.

TBC

Like dan komentarnya jangan lupa ya…

Next chapter Wheein – Taehyung – Nara

 

See U

|20 Apr 2017|

Advertisements

34 thoughts on “After Married – 16

  1. sulistiowati_06

    aih kasian tiffany, ternyata dua cuma pura2 tunangan sama nic. tapi mudah2an lain waktu nic bisa nyadarin tulusnya cinta tiffany. kasian tiffany harus pura2 tegar dihadapan ibunya nic, padahal dia ngerasain sakit yang mendalam. kudu strong jadi tiffany. mudah2an dia bisa bahagia sama nic atau pria lain yang bisa tulus nerima tiffany..
    gomawo authornim

  2. Kasian sama tiffany ternyata tunangannya hanya pura2.padahal tiffany udh rela korbanin perasaannya dia meskipun perasaanya disakitin terus sama Nic tapi perlakuan nic ke tiffany seperti itu 😦

  3. Kalau sudah begitu menderita, lebih baik tiffany jauhi nic. Kasihan tiffany. Cowok seperti nic tidak layak buat wanita sekelas tiffany. Next chapter ya chingu.

  4. laylee18

    ternyata nic beneran suka sma yoona, nic jahat banget sma tiffany, kan kasian tiffany. emang dasar nic gak punya perasaan! ngorbanin cewek sebaik tiffany

  5. icutHY

    Kasihan banget tiffany…aku berharap suatu saat nic bakalan menyesal udh perlakuin tiffany kaya gitu.. dan moga aja nic bakalan cinta bneran sma tiffany ^^

  6. Nic jahat. Kasihan tiffany….
    Semoga aja nic bisa sadar kalo tiffamy itu bener” Cinta sama dia. Chap ini bener” menjawab pertanyaan tentang nic dan Fanny. Ditunggu chapter” berikutnya ya kak…. Semangat!!

  7. Author maafin aku baru meninggalkann jejak di chapter 16 ini, karena aku bacanya ngebut dalam sehari jadi lupa buat komen 😦 kasian tiffnya, tapi jangan biarin nic gangguin yoonhae lagi 😦

  8. ulfa intan agustien

    Kasian baget tiffany harus d’perlakukan sama nic, jahat bageett.
    Semoga d’chapter2 selnjut’y nic dpet balasan’y
    Okee next ka fighting

  9. asty

    Msh penasaran sm 2 org d ms lalu nya yoona,,,sypa sey dia bikin yoona jd trauma gt,,,??? ….jg kangen sm situasi romence nya yoonhae,,,hihihi lanjuutttt ahahaha

  10. sintayoonhae

    akhirnya terjwb sdh sikap nic ke tiff sedihhh,,, jahat bgt nicnya…. mdh2n gk berdmpk tiff jdi benci yoong…. eeuuuhhh,,, dtggu next partnya thor, kngn yh moment 😩 fighting Thor 😀

  11. ichus

    Nasibnya tiffany nyesek juga yak. Dia pura2 gk terjadi apa2 pdahal dia tahu klo nic suka sama yoona. Beruntung sih dia gk benci yoona.
    Smoga stelah tiffany ngomong bnyak tdi.. nic bisa lebih bisa buka hati buat tiffany. Biar Yoona Donghae juga hidup bahagia.

  12. trywach

    ternyta nic ma tiffany cma pura2 tunangan slma ini,,,,dan sbnernya fany bnr cinta sma nic,,,,pi nic kyaknya tertarik dgn yoona,,
    heeem kasihan bget fany yaw

  13. Kasian Tiffany ..
    Pas awal mereka ketemu sikap Nic terlihat bersahabat dia berubah dingin semenjak dia ketemu dan kenal Yoona ya ?? huh dasar laki” brengsekk ..
    Kalau udh gini aku pengen Tiffany ambil jalan bagus aja ,tinggalin Nic karna nanti dia juga yg bakal bingung jelasin sama ibunya kemana Tiffany dan harus repot” ngurus ibunya kalau penyakitnya datang tiba” !!!!
    Mau dapetin Yoona ,dia juga udah jadi milik Donghae ..biar tau rasa hah

  14. Husni Laili Qurrahman

    Kasian tiffany mencintai nic tpi nic tdk mencintai dia.;(
    nic malah mencintai yoong.:(
    next thor semangat.

  15. Husni Laili Qurrahman

    Kasian tiffany mencintai nic tpi nic mencintai dia.;(
    Nic malah cinta dgn yoong.:(
    next thor.

  16. Meliii

    Mereka ternyata tunangan pura2
    Kasihan tiffany yg udah jatuh cinta ama nic tp nic gak cinta sma dia

    Next chap
    Fightiing

  17. uly assakinah

    kasihan ya tiffany harus suka sama org yang menyukai orang lain terlebih keponakannya sendiri.

  18. Sfapyrotechnics

    Jdi fany sma nic itu bisa tunangan karna eommanya nic dan smua itu cmn pura² 😱😭 Fany udh jtuh cinta ma nic tpi nic malah terpesona(?) ma yoong 😂😂 Kasian fany nya 😭😭

    Next kk.. Fighting!!

  19. Chacha

    Wow.
    Sorry baru comment di part ini
    Cerita nya keren sedikit2 mulai terbuka misterinya.
    Ditunggu next part nya
    Semangat

  20. Ternyata mrk bertunangan bohongan toh, kasian tif padahal dia sdh jatuh cinta pd nic tapi niv sepertinya jatuh cinta pada yoona fuuuhhh semoga perasaan nic bs berubah lebih care sama tiffdaebak fighting chingu ☺😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s