After Married – 15

Mockups Design
After Married Cover Ebook

Author: Fi_ss

Tittle: After Married – 15 – Resemble

Lenght: Chapter

Cast: Im Yoona and Lee Donghae

Other Cast: Kim Heecul, Tiffany Hwang, Nicholas, Jung Wheein, Kim Taehyung, Jung Nara, etc

Genree: Romance, married life, Family, etc

Rate : 17+

Author Note: Maaf agak lama updatenya. Tadi niatnya mau update siang, tapi gak tau kenapa koneksi internet aku bermasalah. Maaf ya….

Oh ya aku mau ucapin makasi banyak untuk support dan juga komentar-komentar kalian selama ini (maaf belum bisa balas satu-satu tapi aku baca kok). *Bow

Ini chapter 15 yang udah aku janjikan semalam. Semoga feelnya dapat ya…

Dan sorry klo masih banyak typo

Happy reading & Leggo~

>>>>>>>

– RESEMBLE –

Author POV

Disebuah ruangan, dua orang gadis sedang sibuk menggores-goreskan mata pensil diatas kertas dengan posisi duduk saling berdampingan. Namun suasana diruangan itu sangat hening dan terkesan canggung. Walaupun mereka sedang asyik dengan pekerjaan mereka, tapi pikiran mereka sedang berkelana entah kemana.

Sejak kejadian semalam, Wheein menjadi canggung terhadap Yoona. Dimana awalnya ternyata Yoona mengetahui bahwa Nara adalah unnienya ditambah dengan adu mulut antara Yoona dan Ny Im yang langsung disaksikan dengan mata kepala gadis mungil itu. Wheein bukan merasa takut, hanya saja dia ingin menjaga perasaan Yoona yang mungkin masih terguncang.

Namun pemikiran Wheein tersebut salah besar karena pada dasarnya Yoona sudah merasa baik-baik saja. Sedari tadi Yoona diam saja karena dia merasa malu pertengkarannya dengan ommanya harus disaksikan oleh orang lain. Jika sebatas maid, Yoona sudah biasa diperlakukan seperti itu oleh ommanya. Tapi Wheein yang pada dasarnya adalah orang baru yang mulai rutin datang kerumahnya, melihat dirinya diperlakukan seperti semalam benar-benar membuatnya malu.

“mmm… unnie…aku ambil air minum dulu”, ucap Wheein canggung. Yoona hanya diam saja karena memang dia sedang melamun, tidak mendengar ucapan Wheein. Yoona tersadar ketika gadis mungil itu sudah tidak ada disampingnya. Yoona mendesah, resah harus bersikap seperti apa pada Wheein sekarang ini.

Sedangkan didapur Wheein sedang menuangkan segelas air minum digelas pemberian Han Ajumma.

“ada apa? Kenapa wajah nona seperti itu?”, tanya Han Ajumma ketika melihat Wheein menekuk wajahnya.

“aku dan unnie merasa canggung hari ini. Mungkin karena kejadian semalam Ajumma. Sepertinya suasana hati unnie masih kurang baik”, jawab Wheein.

“tidak…sebenarnya suasana hati nona muda mudah sekali berubah-ubah. Dan Ajumma rasa nona sudah baik-baik saja”, balas Han Ajumma.

“tapi sedari aku datang dan mulai bekerja, unnie hanya diam saja Ajumma”, ujar Wheein sambil duduk didepan meja bar sambil bertopang dagu. Han Ajumma yang melihat raut wajah resah Wheein tersenyum lembut.

“bukankah Ajumma sudah pernah mengatakan bahwa apa yang keluar dari mulut nona tidak sama dengan apa yang dirasakannya. Dia selalu melakukan hal yang berlawanan dengan perasaannya karena nona orang yang pemalu”, jelas Han Ajumma. Wheein langsung menatap Han Ajumma dengan penuh harap.

“maksud Ajumma… unnie diam saja karena dia malu padaku? Malu Karena aku melihat dirinya bertengkar dengan ommanya?”, tanya Wheein. Han Ajumma hanya membalasnya dengan anggukan dan senyum lembut khasnya.

“ahhh… syukurlah. Tadinya aku sangat khawatir unnie tidak suka aku bekerja lagi dengannya”, keluh Wheein.

“nona itu memiliki hati yang lembut hanya saja dia selalu menutupinya dengan sikap tidak pedulinya”, tambah wanita paruh baya itu.

“kalau begitu apa aku yang harus memulai berbicara terlebih dahulu?”

Han Ajumma langsung mengangguk, menjawab pertanyaan gadis mungil itu. Wheein langsung beranjak dari duduknya

“aku akan membuatkan kopi untuk unnie dan membawakannya cemilan”, seru Wheein mulai merealisasikan perkataannya. Han Ajumma membiarkan begitu saja Wheein mengobrak-abrik dapur – daerah kekuasaannya.

Setelah membuat secanngkir kopi, Wheein beralih membuka pintu kulkas besar yang ada didapur tersebut untuk mencari cemilan. Setelah mengeluarkan beberapa bungkus keripik, pandangan Wheein jatuh pada wadah berisi buah-buahan. Sebuah senyum langsung terbit diwajah gadis mungil itu.

“Ajumma… unnie suka strawberry kan?”, seru Wheein.

“iya nona”, balas Han Ajumma.

“OK…”, teriak Wheein karena terlalu senang. Wheein mengeluarkan ponselnya dari sakunya lalu meraih sepotong buah dari dalam kulkas itu sambil mengabadikannya menjadi sebuah foto. Setelah itu Wheein mengutak-atik ponselnya lalu setelah itu dia menyisihkan strawberry dalam sebuah mangkuk kaca.

>>>>>>>

Yoona sedang memilih-milih bahan kain yang akan digunakannya ketika tiba-tiba ponselnya berdering. Yoona mengambil ponselnya diatas meja dan keningnya langsung mengerut ketika ada notifikasi chat dari Wheein.

“bukankah dia dibawah? Kenapa dia mengirim chat”, guman Yoona masih menatap notifikasi dilayar ponselnya. Yoona pun membuka notifikasi itu. Dan setelahnya Yoona hanya bisa tersenyum lebar melihat foto yang Wheein kirim.

IMG_20170117_055643

Strawberry yang sangat nikmat~

Aku akan membawakannya khusus untuk unnie yang cantik ❤

– WI

Lihat betapa lucunya gadis mungil itu. Bagaimana bisa Yoona mengabaikannya. Yoona pikir Wheein akan menjadi canggung seterusnya. Sebenarnya sedari Wheein pergi kedapur, Yoona terus-menerus memutar otak, memikirkan topik apa yang akan dibicarakannya dengan gadis mungil itu agar mereka tidak canggung. Tapi ternyata gadis itu yang memulai terlebih dahulu.

Tok tok tok

Pintu kamarnya terbuka, menampilkan Wheein yang dengan hati-hati membawa nampan ditangannya. Setelah menutup pintu dengan kakinya, Wheein menatap Yoona dengan senyum khasnya yang langsung memperlihatkan dimple-nya.

“ini untuk unnie”, ujar gadis mungil itu setelah sebelumnya menyisihkan kertas-kertas diatas meja lalu meletakkan sebuah mangkuk kaca berisi potongan-potongan strawberry dengan garpu.

“apa kau sedang berusaha untuk menyogok ku?”, tanya Yoona datar. Wheein kaget dengan pertanyaan Yoona.

“hahhh… tidak. Untuk apa?”, balas Wheein dengan raut wajah masih kaget.

“karena unnie mu”, jawab Yoona santai. Sedangkan Wheein langsung tertunduk lesu. Wheein menipiskan bibirnya lalu mengambil tas selempangnya diatas kursi, mengalungkannya dibahunya. Dia menunduk hormat pada Yoona lalu dia melangkah menuju pintu.

“kau mu kemana gadis kecil?”, tanya Yoona sambil melipat tangan didadanya, menatap Wheein dengan kening mengerut.

“pulang”, jawab Wheein singkat.

“kenapa kau pulang?”

“unnie kan tidak mau lagi mengajariku. Jadi untuk apa lagi aku disini”, jelas Wheein dengan nada rendah.

“kapan aku mengatakan tidak mau mengajarimu lagi?”

“tadi unnie mengungkit-ungkit Nara unnie. Jadi ku pikir unnie memang tidak bisa menerima seseorang yang berhubungan dengan orang yang unnie benci”, jawab Wheein dengan polosnya. Bukannya merasa bersalah karena sudah membuat gadis mungil itu sedih, Yoona malah tertawa terbahak-bahak.

“kenapa unnie tertawa?”, tanya Wheein dengan sebelah alisnya yang naik.

“karena kau… kau sangat menggemaskan seperti puppy. Sekarang aku akan memanggilmu wheepup”, jawab Yoona disela-sela tawanya.

“wheepup?”, tanya Wheein tidak mengerti.

“Wheein puppy”, tambah Yoona. Seketika itu Wheein langsung cemberut.

“unnie jahat!!!”, ucap Wheein kesal.

“terus saja tertawa sampai perut unnie sakit”, kutuk Wheein. Seketika itu Yoona langsung menghentikan tawanya.

“yak… beraninya kau mengutukku. Kemari kau..”, ujar Yoona sambil menggerak-gerakkan jari tangannya, menyuruh Wheein mendekat.

“tidak mau”, balas Wheein.

“kau ingin aku tetap mengajarimu tidak? Jika tidak mau… ya sudah kau bisa pulang”, ucap Yoona dan secepat kilat Wheein langsung berlari dan duduk dikursi yang biasa ditempatinya.

“dasar kekanak-kanakan”, cibir Yoona sambil duduk disamping gadis mungil itu. Wheein hanya tersenyum lebar sampai memperlihatkan gigi putihnya.

“aku sudah bilang aku tidak membencimu. Jika aku membenci Nara, ya itu sebatas pada Nara saja, tidak ada hubungannya denganmu. Kau mengerti?”, jelas Yoona sambil mulai memakan potongan strawberry itu. Wheein langsung mengangguk patuh.

“Nah sekarang lanjutkan pekerjaanmu”, perintah Yoona. Wheein pun mengambil kertas yang tadi dicorek-coret olehnya. Sedangkan Yoona melanjutkan memakan strawberry itu sambil memperhatikan pekerjaan Wheein.

Mata Yoona mengarah pada pipi Wheein yang mencetak lubang kecil – dimple yang selalu membuat Wheein semakin menggemaskan dimatanya. Jika dia memiliki seorang anak nanti, Yoona berharap anaknya akan memiliki dimple seperti Wheein. Pasti sangat menggemaskan.

‘anak?’, Yoona tersadar dari pikiran anehnya tentang anak. Yoona menggeleng-gelengkan kepalanya menyangkal dirinya akan memiliki anak.

“unnie kenapa?”, tanya Wheein pada Yoona.

“ohh tidak apa-apa. Hanya saja kau sedikit penasaran. Seberapa dalam dimple mu ini?”, tanya Yoona sambil mengarahkan jari kelingkingnya masuk ke dimple Wheein.

“0,4 cm”, balas Wheein cepat sedangkan Yoona sontak terkejut dengan jawaban Wheein.

“kau mengukurrnya?”, tanya Yoona tidak habis pikir dengan ulah gadis mungil itu.

“temanku pernah mengukur kedalamannya. Mereka sangat gemas dengan dimple ku sama seperti unnie”, balas Wheein dengan santai sedangkan Yoona mengangguk-angguk.

Setelah perbincangan mereka, kedua gadis itu pun mulai sibuk dengan pekerjaan mereka. Suasana didalam kamar itu hening, hanya terdengar suara goresan-goresan mata pensil di atas kertas.

“unnie bisakah kita menyetel musik?”, tanya Wheein

“tidak. Aku tidak suka kebisingan”, balas Yoona cuek tanpa menatap Wheein. Gadis mungil itu mendengus. Dia tidak suka dengan suasana hening seperti ini. Dia menjadi cepat bosan jika dalam suasana hening. Biasanya untuk mengisi waktu luangnya, Wheein isi dengan mendengar lagu atau bermain alat musik sambil bernyanyi.

“kalau aku memakai handfree tidak masalah bukan”, pikir Wheein. Setelah itu dia memasang handfree di ponselnya dan mulai menyetel lagu-lagu kesukaannya.

Bang bang into the roon , I know ya want it

Bang bang all over you, I’ll let ya have it

Wait a minute lemme take you there, ah

Wait a minute till ya—

Wheein menyanyikan bait dari lagu yang didengarnya sambil menggerak-gerakkan badannya. Tidak menyadari Yoona yang menatapnya tajam karena walaupun tidak mendengar lagu yang gadis itu dengar, tapi tetap saja jika Wheein menyanyikannya dengan suara yang cukup kencang, akan mengganggu Yoona. Dengan cepat Yoona melepaskan handfree di telinga kanan Wheein hingga membuat gadis itu kaget dan menatap Yoona yang belas menatapnya dengan tajam.

ups~ maafkan aku unnie”, ucap Wheein dengan cengiran kudanya. Setelah itu Yoona kembali melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Wheein pun kembali bekerja tanpa memakai handfree lagi. Wheein menggoyang-goyangkan kakinya bahkan menghembuskan napas berat sesekali untuk mengusir rasa bosannya.

“unnie~ aku bosan~”, rengek Wheein akhirnya, dia sudah tidak sanggup menahan rasa bosannya.

Yoona langsung menatap gadis itu yang merengek seperti anak kecil. Yoona mendengus kesal karena tingkah Wheein yang tidak profesional.

“kau ini baru bekerja sebentar sudah mengeluh”, balas Yoona marah.

“tapi aku benar-benar bosan unnie. Aku tidak biasa bekerja dalam suasana hening seperti ini”, jelas Wheein masih dengan rengekannya.

“lalu kau mau apa?”, tanya Yoona menyerah.

“aku punya ide… bagaimana jika kita pergi keluar, menikmati secangkir kopi sambil bekerja. Pasti akan sangat menyenangkan. Bagaimana unnie?”, usul Wheein. Yoona terdiam sejenak, dia belum pernah membawa pekerjaannya keluar rumah.

“unnie….ayolah~”, bujuk Wheein. Yoona mendesah berat, tidak ada salahnya mencoba hal yang baru. Yoona pun mengangguk dan dengan cepat gadis mungil itu kembali mengalungkan tas selempangnya dibahunya. Sedangkan Yoona mengambil jaket dari lemarinya.

>>>>>>>

Tok tok tok

“masuk”, seru Donghae dan pintu langsung terbuka memperlihatkan seorang gadis yang sedari tadi sudah ditunggunya. Gadis itu tersenyum pada Donghae seperti tidak terjadi apapun sebelumnya.

“maaf sajangnim saya sedikit terlambat. Tadi saya terjebak macet”, alasan Nara. Donghae hanya mengangguk dan mempersilahkan Nara duduk disofa, lalu disusul olehnya.

Suasana ruangan kantor itu hening beberapa detik hingga Nara mulai berbicara.

“kalau boleh saya tahu ada apa sajangnim memanggil saya?”, tanya Nara.

“kurasa kau sudah tahu untuk apa aku memanggilmu. Yang ingin aku tanya adalah apa yang menyebabkan kau bertengkar dengan Yoona?”, tanya Donghae to the point.

“itu…saya…saya awalnya tidak tahu apa-apa, tiba-tiba saja dia duduk dimeja yang sudah saya booking dan menuduhku yang tidak-tidak”, jawab Nara. Donghae mengerutkan kening mendengar jawaban Nara.

“menuduh apa?”, tanya Donghae lagi. Kali ini terlihat Nara yang panik, kesulitan untuk menjawab.

“kenapa kau tidak menjawab? Sebenarnya apa hubunganmu denngan Yoona dimasa lalu?”, tanya Donghae yang semakin menyudutkan Nara.

“a-aku tidak begitu mengenalnya, hanya saja kami sekolah di senior high school yang sama dulu”, jawab Nara dengan sedikit kebohongan.

“apa kau sedang berusaha mempermainkanku? Jika kau lupa aku siapa, aku akan menjelaskannya kembali. Aku tidak suka bekerja dengan seseorang yang suka berbohong. Aku bisa melakukan apapun agar hal-hal yang tidak kusukai lenyap”, ujar Donghae dingin. Nara langsung menegang mendengar perkataan Donghae. Bahkan gadis itu beberapa detik menahan napasnya karena takut.

“sa-saya…”

“kau perlu ingat..sekali saja kalian menyentuh Yoona, aku tidak akan pernah melepaskan kalian”, ancam Donghae. Tubuh Nara langsung bergetar. Jika sebelumnya dia berkata pada Yoona, jika Donghae mengetahui masa lalu Yoona, nasib karir Nara tidak akan begitu berpengaruh adalah sebuah kebohongan. Karena pada kenyataannya jika sampai Donghae tahu, maka karirnya akan selesai. Ditambah dia akan membayar denda yang sangat besar pada BONGUAN Corp karena melanggar kontrak kerja.

Tring tring tring~

Ponsel Nara tiba-tiba berbunyi membuat Nara terlonjak kaget. Diliriknya ponselnya didalam tas tangannya. Dia menggeram kesal karena si penelepon menghubunginya tidak tepat waktu.

“kenapa kau tidak mengangkatnya?”, tanya Donghae datar.

“i-ini dari photographer sajangnim… sepertinya pemotretan berikutnya sudah dimulai”, jawab Nara dengan tangan yang sudah mengepal kuat menahan ketakutannya.

Donghae tahu Nara berbohong. Karena ketika gadis itu menilik ponselnya, Donghae dapat melihat raut wajah Nara yang terkejut. Donghae yakin yang menghubungi gadis itu bukanlah photographer.

“baiklah kau bisa pergi”, ucap Donghae, mengizinkan Nara pergi. Gadis itu pun dengan cepat bangkit dari duduknya, menunduk hormat pada Donghae. Lalu dengan langkah yang terburu-buru Nara segera keluar dari ruangan Donghae. Sedangkan Donghae menatap kepergian Nara dengan raut wajah datar. Tindakannya saat ini memang hanya sebatas ancaman untuk Nara agar gadis itu tidak mendekati Yoona. Donghae sedang menunggu informasi dari orang suruhannya tentang Janghyuk dan Hyosok, seperti yang Heechul ucapkan waktu itu. Ketika Donghae sudah mendapat bukti yang lebih kuat, Donghae tidak akan segan-segan untuk memberi mereka pelajaran.

Diluar ruangan secara sembunyi-sembunyi Nara menerima panggilan telepon itu.

“Apa yang oppa lakukan? Hampir saja Donghae mengetahui bahwa kita saling berhubungan. Apa oppa gila?”, marah Nara sambil sesekali menatap sekelilingnya, takut Donghae mengikutinya.

“kau sedang di BONGUAN?”, tanya Heechul.

“iya… dan oppa tahu Lee Donghae sudah mulai mencurigaiku. Bahkan dia tahu aku memiliki hubungan dengan Yoona dimasa lalu”, ujar Nara.

“Ya aku tahu itu. Dia sepertinya secara diam-diam mencari informasi tentang Yoona dan termasuk kita. Bahkan aku harus masuk rumah sakit karena dihajar habis-habisan oleh Donghae”, cerita Heechul.

“apa? Donghae memukul oppa?”, tanya Nara kaget. Tubuhnya semakin menegang mendengar cerita Heechul. Berarti sebentar lagi gilirannya. Bahkan Donghae sudah memulainya tadi.

“iya kau hati-hati. Jangan sampai melakukan hal-hal yang mencurigakan”, peringat Heechul.

“lalu apa yang harus kulakukan sekarang?”, tanya Nara panik.

“sebisa mungkin jangan bertemu dengan Yoona saat ini agar Donghae tidak semakin curiga. Kau mengerti”, ujar Heechul dari seberang sana.

“ba-baiklah”, jawab Nara terbata. Setelah itu Nara memutus sambungan telepon itu. Dia menggigit kukunya yang selalu menjalani perawatan disalon. Nara berpikir bagaimana caranya agar dia tidak terlibat dengan Yoona lagi. Nara harus bisa menghindar, persetan dengan Heechul jika pria itu tertangkap. Yang penting sekarang adalah dirinya sendiri.

“apa yang kau lakukan disini”, tiba-tiba suara bariton mengejutkan Nara. Gadis itu langsung berbalik dan menemukan Taehyung yang menatapnya dengan kening mengerut. Secepat kilat Nara langsung mengubah ekspresi wajahnya dengan senyum lebar.

“ahh tadi aku sedang menerima telepon dari temanku”, bohong Nara. Setelah itu Nara langsung memeluk Taehyung, menghirup aroma maskulin pria itu. Sedangkan Taehyung tidak membalasnya, hanya memberi usapan singkat dipunggung gadis itu.

“aku harus segera pergi, ada pemotretan”, ucap Nara dengan raut wajah menyesal dan perasaan tidak rela harus menyudahi perjumpaan mereka yang bisa dikategorikan sangat jarang.

Taehyung menganggu dan Nara memberikan kecupan dipipi pria kaku itu.

“sampai ketemu nanti malam”, seru Nara sambil melampaikan tangannya pada Taehyung. Pria kaku itu menatap punggung Nara hingga tidak terlihat lagi dengan raut wajah datar. Sedangkan tangannya mengepal disisi tubuhnya.

‘bersabarlah Kim Taehyung’, batin Taehyung, menguatkan dirinya.

“akkmmm”, mendengar suara itu, Taehyung langsung berbalik dan menemukan Donghae menatapnya datar. Sejak pertengkaran Yoona dan Nara semalam, yang melibatkan Taehyung dilokasi kejadian, membuat Donghae bersikap dingin pada pria kaku itu.

“apa foto dan video itu sudah dihapus semuanya?’, tanya Donghae datar.

“sudah sajangnim”, ucap Taehyung.

“bagus. Aku akan keluar sebentar”, ucap Donghae langsung melangkah memasuki lift meninggalkan pria kaku itu yang hanya terdiam.

>>>>>>>

Yoona dan Wheein tiba disebuah kafe yang tidak jauh dari kompleks rumah. Sesuai permintaan Wheein, mereka ingin bekerja outdoor dan pilihan gadis itu jatuh pada kafe yang tampak sepi beberapa kilometer dari rumah.

“biar aku saja yang memesan unnie. Unnie mau apa?”, ucap Wheein ketika mereka memasuki kafe.

“ice Americano dan cemilannya terserah kau saja”, ucap Yoona dan dia pun memilihkan meja untuk mereka.

Wheein baris dalam antrian untuk memesan. Ada sekitar empat orang yang mengantri didepannya. Wheein dengan sabar menanti gilirannya.

“apa yang kau lakukan disini?”, ucap seseorang tiba-tiba dan Wheein langsung menoleh, menatap kesumber suara tersebut. Seorang wanita paruh baya dan pria paruh baya yang ternyata mengantri didepannya adalah orang tuanya. Wheein bahkan tidak menyadari itu sebelumnya, mungkin karena dia sudah jarang bertemu dengan orang tuanya karena sibuk menjaga putri kesayangan mereka yang super manja.

“o-omma… appa…”, ucap Wheein terbata.

“apa yang kau lakukan disini? Dimana Nara?”, tanya mereka. Wheein sempat terdiam karena lagi-lagi orangtuanya mengabaikannya. Lebih memilih menanyakan kabar putri kesayangan meraka yang selalu berulah tapi Wheein yang selalu menanggung semua akibatnya. Seperti sekarang. Nara pergi dari apartemen tanpa mengatakan apapun pada Wheein, meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Dan akibatnya photographer yang akan mengambil sesi pemotretan hari ini marah besar pada Wheein, menganggap kinerja Wheein sebagai asisten Nara tidak baik. Padahal Wheein sudah berusaha untuk bisa membantu unnienya itu agar selalu menjadi model yang akan selalu dicari perusahan-perusahaan besar untuk dijadikan brand ambasador mereka. Tapi lihat apa yang didapatnya. Tidak ada!

“aku tidak tahu omma”, jawab Wheein jujur.

“kau ini bagaimana bisa menjawab sesantai itu? Bagaimana jika Nara dikejar-kejar fans dan terluka? Nara itu model terkenal, tubuhnya sangat berharga”, ujar wanita itu lagi.

“tapi aku benar-benar tidak tahu omma. Unnie pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun”, balas Wheein masih berusaha mengendalikan emosinya. Sekarang mereka sudah menjadi bahan tontonan orang-orang yang ada dikafe itu.

“kau ini bagaimana sih. Kau itu asistennya, kau harus mengikuti kemanapun Nara pergi. Bila perlu bersikaplah seperti anjing yang bijak, selalu mengikuti kemanapun tuannya pergi”, ucap wanita itu begitu saja tanpa memikirkan jika orang yang disuruhnya bersikap seperti hewan adalah putri bungsunya.

“tapi omma aku juga memiliki pekerjaan lain”, balas Wheein berusaha mengabaikan kata-kata ommanya yang sangat menyakitkan.

“nanti saja pekerjaanmu itu. Nara yang paling penting. Pokoknya omma tidak mau tahu kau harus mencari Nara secepatnya. Nanti, ketika omma meneleponmu, kau harus sudah bersama Nara”, ucap wanita paruh baya itu tegas lalu melangkah keluar dari kafe itu sambil dituntun oleh pria paruh baya disampingnya yang sedari tadi hanya diam saja melihat perlakukaan istrinya yang berlebihan.

Wheein terdiam sejenak, lalu menghembuskan napasnya berat.

‘bersabarlah…semua akan berakhir setelah kau sudah mengumpulkan uang yang cukup”, ucap Wheein dalam hati, menyemangati dirinya sendiri.

“nona anda ingin memesan?”, tanya si pelayan kafe yang langsung menyadarkan Wheein dalam lamunannya.

“ah… iya… maaf”, ucap Wheein dan langsung menyebutkan semua yang dipesannya.

Setelah membayar seluruhnya, Wheein membawa nampan berisi semua yang dipesannya dan juga yang Yoona pesan.

Wheein duduk berhadapan dengan Yoona yang terus menatapnya.

“kenapa unnie menatapku seperti itu?”, tanya Wheein sambil meletakkan semua pesanannya diatas meja.

“kau baik-baik saja?”, tanya Yoona hati-hati.

Wheein menatap Yoona dengan raut wajah kebingungan, tapi detik berikutnya dia langsung mengerti. Tantu saja Yoona menanyakan keadaanya karena pertemuannya dengan orangtuanya tadi. Wheein baru sadar jika meja yang Yoona pilih cukup dekat dengan meja tempatnya memesan tadi.

“ohhh unnie melihatnya?”, tanya Wheein santai. Bahkan Yoona kaget dengan sikap santai yang Wheein perlihatkan. Yoona mengangguk menanggapi.

“aku baik-baik saja. Dan akan selalu baik-baik saja”, jawab Wheein.

“apa benar mereka orangtuamu?”

“tentu saja unnie”, jawab Wheein riang.

“tapi mereka me-“, ucapan Yoona tidak selesai diucapkannya karena Wheein langsung memotongnya.

“tidak apa-apa. Anggaplah sebagai balas budi dariku karena sudah melahirkanku. Setelah semuanya beres aku bisa terlepas dari mereka”, balas Wheein.

“kau akan pergi?”, tanya Yoona. Dan Wheein mengangguk cepat.

“tanpa ada yang tahu, aku juga bekerja ditempat lain untuk mengumpulkan uang”, ucap Wheein jujur.

“kau tidak hanya bekerja sebagai asisten Nara?”, tanya Yoona.

“ya…aku bekerja sebagai penghibur disebuah kafe dimalam hari unnie”, Yoona yang salah menanggapi kata penghibur langsung membulatkan matanya.

“ahhh tunggu dulu, sepertinya unnie salah mengartikannya. Kami yang bekerja dikafe itu mengebut diri kami sebagai penghibur. Tapi bukan seperti penghibur di club malam. Kami menyebutnya penghibur karena kami akan menari, bernyanyi bahkan membuat lelucuan diatas panggung kecil, menghibur semua pengunjung yang datang. Unnie jangan salah paham”, jelas Wheein. Yoona mendesah lega, dia terlalu berpikir yang tidak-tidak.

“lain kali unnie harus datang ke kafe tempatku bekerja. Aku akan mengirim alamatnya pada unnie nanti”, lanjut Wheein. Yoona hanya mengangguk seadanya. Dia tidak terlalu suka dengan hal-hal yang berisik.

“memangnya jika uangmu sudah terkumpul semuanya, kau ingin pergi kemana?”, tanya Yoona kini dia sudah mulai menyeruput ice Americanonya.

“kemanapun selama aku tidak melihat mereka lagi. Dan juga…aku ingin melanjutkan study ku. Aku ingin kuliah”, jawab Wheein sambil tersenyum lebar membayangkan jika cita-citanya untuk bisa kuliah tercapai.

“kau tidak kuliah?”, tanya Yoona dengan mata membulat.

“tidak…aku hanya lulusan senior high school saja. Ketika lulus sekolah, orangtuaku memaksaku menjadi asisten unnie yang saat itu sedang naik daun. Padahal saat itu aku sangat ingin kuliah. Tapi karena mereka sudah berkata tidak, apa boleh buat. Jadilah seperti ini”, jelas Wheein lagi. Yoona menatap Wheein dengan iba. Betapa sulitnya hidup gadis mungil itu. Hidup tanpa dianggap oleh orang lain. Diperlakukan tidak layak oleh orang-orang disekelilingnya.

“unnie jangan menatapku seperti itu. Aku tidak suka dikasihani”, ucap Wheein.

“mulai saat ini, aku akan menjadi keluargamu. Aku akan menjadi appa, omma dan unnie untukmu. Jadi jangan merasa sendiri lagi, jangan sedih dan jangan menangis”, ujar Yoona sambil menggenggam jangan Wheein dengan matanya yang mulai berkaca-kaca, sedangkan Wheein terlihat biasa saja.

“hehehe terima kasih unnie. Jangan khawatir, aku tidak akan menangis, karena aku tidak tahu caranya menangis”, balas Wheein dengan kekehannya.

“apa? Yang benar saja, kau tidak tahu caranya menangis?”, seru Yoona menatap Wheein seperti alien yang datang dari planet lain.

“sungguh aku tidak tahu bagaimana caranya menangis unnie. Bahkan aku lupa kapan terakhir kalinya aku menangis. Mungkin ketika orangtuaku memaksaku untuk menjadi asisten Nara unnie”, balas Yoona polos sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“daebak… apa kau manusia?”, tanya Yoona dengan bodohnya. Wheein tertawa mendengar pertanyaan Yoona.

“tentu saja aku manusia. Manusia langka dengan tingkat keimutan tiada tara. Bukan begitu unnie?”, ucap Wheein sambil meletakkan dagunya diatas kedua telapak tangannya, tersenyum lebar. Yoona yang melihat gadis itu hanya bisa menggelengkan kepala sambil tertawa.

Mereka yang awalnya ingin bekerja outdoor pun akhirnya terbengkalai karena mereka menjadi asyik bercerita atau Wheein yang bertingkah konyol atau membuat lelucuan. Yoona sangat menikmati kebersamaannya dengan Wheein hari ini. Sesuai dengan prediksinya ketika melihat Wheein pertama kali, Yoona yakin kelak, gadis mungil itu akan menjadi orang yang sangat hebat.

>>>>>>>

Donghae mengamati rumah yang berada tidak jauh dari mobilnya terparkir. Donghae menatap orang yang duduk dibalik kemudi menunggu kejelasan dari orang tersebut. Seorang pria dengan rambut panjangnya yang dikuncir seperti wanita dan wajah yang terlihat sangat mulus itu, mengeluarkan beberapa kertas dan memberikannya pada Donghae.

“ini adalah Hyosok dan ini Janghyuk”, jelas pria suruhannya itu sambil menunjukkan dua foto yang berbeda. Donghae menatap serius pada dua foto ditangannya.

“Saya minta maaf jika informasi tentang Janghyuk belum saya dapat sedikit pun. Hanya saja baru-baru ini saya menemukan informasi tentang Hyosok. Dia tinggal dirumah bercat biru itu Tuan, dengan seorang istri dan putrinya yang baru berusia 4 tahun”, jelas pria yang bernama Yoon Jeong Han tersebut.

“kau yakin dia tinggal disana”, tanya Donghae memastikan.

“benar Tuan. Saya sudah melihat langsung Hyosok memasuki rumah itu”, jawab Jeong Han.

“baiklah…ayo kita kesana”, ajak Donghae. Mereka pun keluar dari mobil dan berjalan menuju rumah bercat biru itu.

Sesampainya didepan pintu rumah itu, Jeong Han menekan bel pintu beberapa kali, tapi tidak ada jawaban. Lalu Donghae mengetuk pintu itu juga tidak ada jawaban. Suasana dirumah itu memang tampak sepi, seperti tidak berpenghuni.

“kau yakin ini memang rumahnya?”, tanya Donghae lagi. Pria berambut panjang itu mengangguk yakin karena memang dua hari yang lalu dia melihat langsung Hyosok dan putrinya memasuki rumah itu.

“tapi kurasa tidak ada orang dirumah ini. Mungkin mereka sedang tidak ada dirumah”, ujar Donghae.

“saya rasa juga begitu Tuan”, ucap Jeong Han.

“ya sudah… besok kita kesini lagi”, putus Donghae, mereka pun berbalik kembali menuju mobil. Tapi ketika baru keluar dari pekarangan rumah itu seorang pria tua mendekati mereka.

“apa kalian mencari orang yang tinggal dirumah ini?”, tanya pria tua itu.

“benar Ajussi. Apa Ajussi tahu kemana mereka pergi?”, tanya Donghae.

“aku tidak tahu kemana mereka pergi. Hanya saja semalam, ketika tengah malam aku melihat keluarga ini keluar dari rumahnya dengan membawa koper dan beberapa tas besar, seperti ingin pergi atau pindah rumah”, jawab si pria tua itu.

Donghae langsung mengepalkan tangannya karena sepertinya Hyosok sudah mengetahui dirinya sedang terancam. Dan satu-satunya orang yang dapat memberitahu Hyosok tentang tindakan Donghae yang mungkin mencarinya adalah Kim Heechul.

‘Sial! Aku terlambat’, maki Donghae dalam hati.

“terima kasih Ajussi. Kalau begitu kami permisi dulu”, pamit Donghae, sedikit membungkukkan tubuhnya, memberi hormat pada pria tua itu.

Mereka kembali kedalam mobil dengan perasaan kesal, terkhusus Donghae yang kurang cepat mendatangi Hyosok.

“maafkan saya Tuan”, ucap Jeong Han dengan nada penyesalan. Donghae menatap pria itu yang lebih terlihat seperti wanita.

“tidak apa-apa. Hanya saja sepertinya Heechul sudah mulai bertindak. Kita harus lebih cepat. Secepatnya cari keberadaan Hyosok”, perintah Donghae dan pria yang duduk dibalik kemudi itu mengangguk patuh. Donghae menatap tajam pada rumah bercat biru itu sambil bersumpah dalam hati akan segera menemukan pria penghuni rumah itu.

>>>>>>>

Donghae tiba dirumah sekitar jam 8 malam. Pria itu langsung menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Tubuhnya sangat lengket karena hampir seharian diluar dan berkeringat. Donghae melepas jas dan kemejanya lalu memasuki kamar mandi.

Setengah jam kemudian Donghae luar dari kamar mandi dengan setelan baju tidurnya seperti biasa – kaus oblong dan celana trening. Sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk, Donghae membuka layar ponselnya mencek hasil pekerjaan dari kantor.

Setelah itu Donghae meregangkan tubuhnya. Dia butuh istirahat sekarang ini. Donghae menuju pintu kamarnya bukan ranjangnya. Dia keluar dari kamarnya menuju kamar Yoona. Setelah PIN dimasukkannya pintu terbuka dan Donghae langsung masuk dan menemukan Yoona sedang bersandar dikepala ranjangnya, duduk sambil membaca majalah fashionnya. Yoona menatap Donghae dengan sebelah alisnya yang naik sedangkan pria itu membalasnya dengan senyum lebar seperti orang idiot dimata Yoona.

“untuk apa oppa masuk kekamarku?”, tanya Yoona ketus.

“tentu saja untuk melihatmu”, balas Donghae santai bahkan kini dia sudah duduk dipinggir ranjang.

“ckkk”, dengus Yoona. Gadis itu pun kembali melanjutkan membaca majalahnya, tidak memperdulikan Donghae.

Donghae pun dengan cepat memaksa dirinya mendapatkan bagian ditempat tidur itu hingga Yoona harus bergeser. Tapi walaupun begitu Yoona diam saja, tidak memperdulikan tingkah Donghae. Karena merasa diabaikan, Donghae melakukan berbagai upaya mengganggu Yoona yang sedang membaca. Hingga akhirnya Yoona menyerah, ditutupnya majalahnya dengan kasar karena kesal. Yoona menatap Donghae tajam, dengan maksud agar Donghae mengatakan apa yang diinginkan pria itu.

“aku ingin mengatakan sesuatu, jadi perhatikan aku sebentar saja. Lagi pula bagaimana kau bisa lebih memilih menatap majalah itu dibandingkan pria tampan disampingmu”, gerutu Donghae.

“baiklah Tuan yang terlalu percaya diri. Katakan”, balas Yoona malas.

“mmm… semua foto dan video pertengkaranmu dan Nara sudah dihapus. Kau sudah bisa tenang sekarang”, ujar Donghae. Yoona pun mengangguk menanggapi pria itu. Setelah itu Yoona kembali membuka majalahnya.

“kau tidak ingin mengucapkan terima kasih?”, tanya Donghae dengan nada kesal.

“terima kasih”, balas Yoona cepat, agar Donghae tidak banyak berkomentar lagi tapi sepertinya memang Donghae tidak pernah puas.

“hanya itu saja?”, tanya Donghae.

“lalu apa lagi?”, balas Yoona dengan nada suara yang mulai meningkat.

Donghae mengetuk-ngetuk bibirnya dengan jari telunjuknya. Yoona yang kaget dengan permintaan Donghae secara spontan langsung mendorong bahkan menendang Donghae hingga jatuh kelantai. Lagi-lagi Donghae harus merasakan sakit ditubuhnya karena bertubrukan dengan lantai.

“DASAR MESUM”, maki Yoona, sedangkan Donghae hanya mengaduh kesakitan.

“kau ini pelit sekali pada suami sendiri”, ucap Donghae masih mengusap-usap bokongnya yang sakit.

Kembali Donghae ingin naik keatas ranjang Yoona tapi dengan cepat Yoona mencegahnya.

“aku mau tidur”, rengek Donghae.

“ya sudah kembali kekamar oppa”, balas Yoona. Donghae menggeleng tidak setuju.

“aku tidak mau, aku ingin tidur disini”, ujar Donghae lagi.

“tidak boleh”, ucap Yoona tegas

“aku mau disini titik”, ucap Donghae tidak terbantah lagi. Yoona mendengus dan langsung melemparkan bantal pada Donghae.

“kalau begitu oppa tidur dilantai”, balas Yoona dan langsung memposisikan dirinya ditengah ranjangnya agar tidak ada sisi yang bisa ditempati Donghae.

“kau kejam sekali”, keluh Donghae.

“kalau oppa tidak mau ya sudah oppa bisa keluar dari kamarku”, balas Yoona. Donghae pun mendengus kesal. Diletakkannya bantal yang dilempar Yoona itu dilantai dengan perasaan kesal lalu meletakkan kepalanya diatas bantal itu. Donghae menatap Yoona yang kembali serius melihat majalahnya. Bibir Donghae bahkan sudah mengerucut, cemberut. Tapi sayangnya Yoona tidak peduli.

Dalam keadaan terbaring, Donghae menatap Yoona yang tetap fokus pada majalahnya. Selang beberapa menit ruang itu hening. Merasa waktunya sudah tepat, dengan gerakan cepat Donghae langsung bangkit dari tidurnya mendekati Yoona. Yoona yang panik, otomatis langsung menggeser tubuhnya hingga menempel didinding. Yoona memejamkan matanya ketika Donghae semakin mencondongkan tubuhnya. Tapi beberapa detik berlalu tidak ada yang terjadi selain suara decitan ranjangnya. Yoona membuka matanya dan menemukan Donghae sudah duduk manis diatas ranjangnya sambil menutupi kakinya dengan selimut.

“apa yang oppa lakukan? Turun!”, ucap Yoona kesal.

“Aku tidak mau”, ucap Donghae santai. Yoona berusaha mendorong tubuh Donghae tapi tidak bergeser sedikit pun. Akhirnya Yoona menyerah. Diperbaikinya posisi duduknya seperti semula dan kembali membuka majalahnya.

“ayo ceritakan apa yang kau lakukan hari ini”, ajak Donghae.

“sekarang bukan hari sabtu, jadi tidak ada sesi perbincangan tentang keseharian masing-masing”, jawab Yoona cepat tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya pada Donghae. Donghae yang sedari tadi terus diabaikan kembali cemberut.

“menyebalkan!”, umpat Donghae. Pria itu pun langsung meluruskan badannya, terbaring diatas ranjang Yoona yang sempit. Pria itu menutup seluruh tubuhnya hingga wajahnya dan membelakangi Yoona.

“apa salahnya jika hari ini bukan hari sabtu. Memangnya salah jika suami istri saling menceritakan kesehariannya? Dasar istri tidak peka”, gerutu Donghae dibalik selimutnya. Sedangkan Yoona yang sedari tadi memperhatikan tingkah Donghae hanya bisa menggelengkan kepala, tidak menyangka Donghae bisa bertingkah kekanak-kanakan seperti itu. Yoona tersenyum lebar mendengar gerutuan Donghae.

Yoona pun ikut berbaring dan membelakangi Donghae, sehingga punggung mereka yang bertemu. Yoona berusaha memejamkan matanya agar tertidur. Tapi tiba-tiba sebuah lengan melingkari pinggangnya. Yoona terhentak dan langsung membeku.

“kau ini benar-benar menyebalkan”, bisik Donghae tepat ditelinga Yoona dan Yoona langsung merasa geli akibat terpaan napas Donghae ditelinganya.

“oppa jauh lebih menyebalkan”, balas Yoona.

“aku kan hanya ingin tahu apa yang istriku lakukan seharian ini. Apa dia makan dengan baik, istirahat cukup, apa dia baik-baik saja dan lain-lain. Aku ingin tahu apapun yang kau lakukan”, ucap Donghae.

Yoona pun membalikkan tubuhnya hingga kini mereka saling berhadapan. Mereka terdiam dengan mata yang saling menatap.

Cup~

Dengan cepat Donghae memberi kecupan dibibir Yoona. Yoona pun langsung menggeram dengan tindakan Donghae. Yoona bahkan memukul-mukul dada Donghae untuk melampiaskan kekesalannya. Sedangkan Donghae tertawa karena melihat pipi Yoona yang memerah.

“aku merindukanmu”, ucap Donghae tiba-tiba membuat Yoona membatu. Yoona menatap Donghae tepat dimanik matanya. Mencari kebohongan, mencari tahu jika pria itu sedang menjahilinya. Tapi yang Yoona lihat hanya kesungguhan  dimata teduh itu.

“hari ini aku melihat orang yang mirip denganku”, ucap Yoona mula-mula. Entah kenapa dia ingin menceritakan apa yang dialaminya hari ini. Donghae mengerutkan kening karena bukannya membalas ucapan rindunya, Yoona malah membahas hal lain. Tapi tidak apa-apa, Donghae pun penasaran dengan keseharian Yoona.

“dia gadis yang selalu terlihat tegar, selalu menunjukkan keceriannya didepan orang-orang bahkan didepan keluarganya yang sudah menorehkan banyak luka untuknya”, lanjut Yoona. Donghae hanya diam mendengar.

“hari ini aku melihatnya secara langsung seperti diriku. Tidak dianggap dalam keluarganya. Aku sangat sedih melihatnya seperti itu. Dipermalukan didepan umum, dan diperlakukan seperti maid atau pesuruh. Aku menangis melihatnya diperlakukan seperti itu. Tapi gadis itu tidak menangis sedikitpun, dia malah tersenyum. Dia bahkan mengatakan dia tidak tahu bagaimana caranya menangis. Dia tidak pernah bisa mengekspresikan perasaan sedihnya”, lanjut Yoona panjang lebar.

“siapa?”, tanya Donghae.

“gadis mungil itu. Dia memiliki banyak luka dalam dirinya yang tidak pernah diperlihatkannya pada orang lain”, jelas Yoona.

“maksud mu Jung Wheein? Asisten Jung?”, tanya Donghae memastikan. Yoona mengangguk.

“lalu aku mengatakan padanya aku akan menjadi keluarganya. Mulai sekarang dia tidak boleh merasa sendiri lagi. Aku akan menjadi appa, omma dan unnie untuknya”, ucap Yoona dengan mata berkaca-kaca. Donghae tersenyum sambil mengusap-usap kepala Yoona. Merasa bangga pada tindakan Yoona terhadap Wheein. Gadisnya memang memiliki hati yang sangat mulia.

“seperti aku yang akan selalu menjadi keluarga untukmu”, balas Donghae. Yoona menatap Donghae dengan serius hingga sudut bibirnya tertarik keatas, menciptakan senyuman lembut, sebagai ungkapan terima kasih.

“terima kasih oppa”, guman Yoona tapi masih dapat Donghae dengar.

Donghae mengeratkan pelukannya pada tubuh Yoona. Gadis itu mendongak menatap Donghae, mengagumi paras Donghae yang selalu tampan, mempesona. Donghae sedikit menundukkan kepalanya dan langsung bertemu dengan mata Yoona. Dengan berlahan Donghae mendekatkan wajahnya pada wajah Yoona. Gadis itu sudah memejamkan matanya, tahu apa yang akan Donghae lalukan. Hingga bibirnya dapat merasakan benda kenyal yang berusaha melumat bibir atas dan bawahnya secara bergantian dengan lembut. Yoona mengalungkan lengannya dileher Donghae bahkan tanpa disadarinya sesekali dia menekan tengkuk Donghae agar pria itu memperdalam pagutannya.

Sungguh Yoona sangat menyukai perlakukan lembut dari pria yang memeluknya ini. Yoona selalu merasa tenang dan damai bersama pria itu. Yoona ingin merasakan kebersamaan ini untuk selamanya.

TBC

Gimana chapter ini reader-nim? Semoga kalian suka ya…

Jangan lupa like dan komentarnya ya…

Oh ya aku mau kasi tahu sedikit bocoran untuk next chapternya:

– dua chapter berikutnya adalah cerita diluar dari YH. Karena banyak yang nanya Nic itu siapa? Kok bisa tunangan sama tiffany? Taehyung itu siapa? Kok bisa pacaran sama Nara dan apa hubungannya ma Wheein? Apa Taehyung penghianat juga? Etc

– chapter 18 (setelah dua chapter diatas dipublish), akan ada YH moment dan juga sedikit konflik dari Donghae tentang masa lalunya.

Oh ya satu lagi, yang bertanya tentang Ebooknya aku harus bilang ini akan memakan waktu cukup lama karena baru jalan 50%. *maafkan

Ok itu aja dulu yang bisa aku sampaikan….

See U

|16 Apr 2017|

Advertisements

36 thoughts on “After Married – 15

  1. KasMha PyrooLiers

    Semakin lamma semakinn ane peng timpukkk ..haha soalx ane gemez sihh..
    Sweet tauu
    ‘aku merindukanmu’ itu untuk yoong tp aku yg klepek2…hahah

  2. Kasian wheein..ternyata nasibnya dia hampir sama kaya yoona.gk dianggap di keluarganya.bahkan orang tuanya wheein sampai nyuruh dia jadi anjing pesuruh bagi nara…tega banget orang tuanya wheein 😦

  3. Kasihan sekali Wheein. Dia benar2 tidak dianggap oleh keluarganya. Semakin senang dengan hubungan Yoona dan Donghae yang semakin dekat dan romantis.

  4. sulistiowati_06

    ah kasian whein, pasti dia ga dianggap gara2 orang tuanya lebih ngeutamain nara yang jadi model terkenal. tapi whein tegar jadi orang, si yoona kedua yang selalu kuat. ngek mulai nyelidikin nara sambil terus ngawasin hecul yang mulai melarikan diri, kejar2an ceritanya. dongek faiting, gampang banget ngeluluhin yoona sama hal2 yang romantis. senyum2 sendiri bacanya. daebak authornim

  5. Iedhaaniyagirl ipethaa

    Serum ff nya Thor sangat menghibur twrima ksih SDH mnghibur kmi Smua dng ff mu

  6. “Aku merindukanmu”… wihhh dahsyat banget. Simpel sih moment yoonhae nya tapi meaningful kebangetan… setelah dari awal banyak konflik part ini ditutup dengan manisssss banget sama moment yang bikin melting. Ahhh suka banget…
    Terus semangat nulis thor 😁…

  7. Daebak suka bgt sama ni ff, yoona sdh mulai membuka diri dengan haeppa, yoona melihat dirinya dari sosok whein bahkan whein mungkin lebih kuat dibandingkan yoona suka bgt yoonhae moment nya diakhir walaupun sedikit hihi pokoknya selalu di tunggu kelanjutannya dan tentang ebook aku siapa menanti kon pun itu karena aku sdh jatuh cinta sama ni ff hehehe fighting chingu

  8. ichus

    Yuhuuuu yeaayyy yess asyiikk
    YoonHae gemesin bgt deh. Mkasih Yoona udah mulai nerima Donghae.
    ahhh lope lope dah sama nih part.. next

  9. Meliii

    Makin keren cerita nya authornim
    Ternyata wheein nasib nygak jauh beda ama yoona
    Next chap please ^^

  10. ulfa intan agustien

    Ternyata wheein jga punya penderitaan yg sama kaya yoona kasiann, semoga konflik sma donghaenya gak sampe mereka bercerai
    Semngat ka

  11. Lina indri

    Sedih deh dnger cerita wheein sma kyak yoona trnyata semoga yoona bsa jdi unnie yg baik buat wheein udh mulai kbongkar 1 per 1 sma donghae
    Maaf ya eon keasyikan bca jdi lupa comment tpi aku udh comment dri chap 1-7 kok eon ☺

  12. aprilia DY

    daebak eonni. kasian wheein dan yoona hidup nya sama sama di perlakukan seperti pembantu oleh keluarga nya sendiri.
    di lanjut chapter selanjutnya eonni ☺ jgn lama lama ne
    fighting ✊ 👌

  13. Keren kak….
    Ternyata wheein sama ya kayak yoona. Kasihan dia. Paling gk yoona gk sendirian lg. Q jd penasaran sama taehyung. Dia itu beneran suka sana nara gk sih??
    Semoga, aja pelaku kejahatan yoona cepet ketangkep, gk sabar bgt nungguny. Akhirannya Bagus deh, q suka sm yoonhae moment nya. Donghae makin berani dan posesif juga. Semoga dichapter chapter selanjutnya yoona bs cepet nerima donghae seutuhnya. 2 chapter berikutnya bakaljwb pertanyaanya ya kak? Tp q request dong tetep ada yoonhae momentnya. Makasih kak. Ditunggu next chap ya kak. Semangat…!!

  14. yoonhaeina90

    suka bangt sama jalan cerita ny
    n kedekatan yoonhae mkn keceee
    selalu nunggu ff d sn
    kalau bisa malah d post setiap hari hihihihi

  15. Taehyung ..masih bingung sebenernya dia itu suka beneran sama Nara apa gimana sih ???? pas tadi baca moment dia sama Nara dia kaya kurang suka …
    Trus Wheein ..sikap orang tua dia gak beda jauh sama orang tua Yoona yaa ..sama sama menyebalkan !
    Trus YoonHae nya moment manis banget di akhir ,tapi kurang panjang yaa hehehe ..mau minta lebih nanti harus nunggu dlu sampe chapter 18 release ..di tunggu secepatnya deh ^^

  16. uly assakinah

    heechul, nara, nic, taehyung penghianat semoga aja semuanya bisa terungkap. di tunggu lanjutan thor

  17. laylee18

    ohh jadi yoona sma wheein itu senasib ya,, kasian jga mereka punya keluarga tpi kyak yg gak punya keluarga,, yoonhae momentnya lucu dan akhirnya yoona udah mulai suka sma donghae
    next kak ditunggu kelanjutannya kamis depan

  18. FITA

    Kasian wheein, yoonhae momentnya banyakin thor. oh iya, itu yg maksud author konflik donghae tentang masa lalunya yoona itu gimana? Donghae konflik sama yoona apa donghae konflik sama orang2 yang nyakitin yoona? Nextnya dipercepat ya thor hehe

  19. sintayoonhae

    malem2 baca ff author smpe ketiduran selesai bacanya lol feelnya dpt bgt aplgi yg terakhirnya sweet bgt yoonhae,,, hrus nggu smpe hari kamis lgi nihh… dtggu next partnya ya Thor fighting 😀

  20. trywach

    kasihan jg yaw wheein trnya kisah hidupnya sama dgn yoona,,,,dia g dianggap sbgai ank ,,,,
    dia sampe g kuliah hnya gara2 jd asissten nara…
    heeeemmmm yoonhae mkin lengkeett,,,
    seneng dech yoona dah mulai terbiasa dgn donghae,,,
    aplgi klau mereka skinsip mkin gemes dechhh

  21. Sfapyrotechnics

    Wheein ma yoona 11 12 😂😂 Yoong cma bisa bersikap ceria ama maid, donghae dan wheein aja trus ama fany jga.. Nara jg udh mulai dpt ancaman dri hae dan heechul ttp aja jht.. Hae krng cpt.. Ayo dptkan tuh 2 org trus minta pnjlsan dan hajar dia 😂😂 Ciee hae manja amat ke yoong dan yoong oke-oke aja tuh 😂😂 Jdi critanya nie udh mulai tidur seranjang 😂😂 Knpa nggk skalian aja satuin kamar kalian 😂😂

    Next yah kk.. Ditunggu yah 😉 Fighting!!

  22. dhewi

    Akhirnya di publis juga..
    Heechul dah curiga bisa ribet ni urusan
    Yoonhae momentnya kurang😥
    #fighting unnie untuk ebooknya,,klo dah jadi kabar kabarin ya unn 💪

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s