After Married – 9

Mockups Design
After Married Cover Ebook

Author: Fi_ss

Tittle: After Married – 9 – Jealous

Lenght: Chapter

Cast: Im Yoona and Lee Donghae

Other Cast: Kim Heecul, Tiffany Hwang, Nicholas, Jung Wheein, Kim Taehyung, Jung Nara, etc

Genree: Romance, married life, Family, etc

Rate : 17+

Author Note: Hai.. hai… aku balik lagi untuk after married. Makasi buat reader-nim yang selalu support dan komen suka cerita aku ini. Dan pengen nagih terus setiap selesai baca satu persatu chapternya. Aku senang karena kalian suka cerita ini. Makasi yang udah selalu baca dan kasi komentar. Walaupun aku gak bisa balas semuanya, tapi aku baca kok komentar kalian. Ini chapter 9-nya. Semoga kalian suka ya

Sorry klo masih banyak typo

Happpy reading & Leggo~

>>>>>>>

– JEALOUS –

Yoona POV 

Aku berdandan didepan kaca dengan raut wajah kesal. Beberapa menit yang lalu omma menelepon menyuruhku menghadiri acara seorang kolega bisnis mereka. Alasannya tentu saja karena omma melihat Donghae disana juga tanpa kehadiranku. Sudah kukatakan omma lebih memilih pencintraan didepan orang-orang agar selalu terlihat sebagai orang yang terpandang.

Aku berdandan seadanya saja dan mengenakan dress hitam selutut dan heels hitam. Sebenarnya Aku sedang malas untuk keluar rumah tapi omma sudah memaksa dengan kata-kata mengancam. Apa boleh buat, aku harus memaksakan diriku.

1001928_626728124027265_2100976290_n

Sesampainya dialamat yang omma kirimkan, aku memarkir mobilku. Aku memasuki rumah besar dengan segala barang-barang mewahnya yang tertata rapi disana. Aku memasuki area halaman belakang yang sangat luas atas petunjuk seorang pelayan yang mengantarkanku.

Disana sudah banyak orang yang sedang berkumpul dan membentuk kelompok-kelompok, berbincang-bincang. Aku bingung harus kemana, tapi tiba-tiba seseorang menepuk bahuku. Dengan cepat aku berbalik dan bersikap siaga. Ternyata Donghae yang melakukannya. Aku menatap pria itu dengan datar. Ditambah seorang wanita disampingnya yang sudah seperti lintah, menempal terus dengan Donghae. Dimana pun suamiku itu berada, pasti ada dia juga.

“kenapa kau ada disini?”, tanya Donghae.

“disuruh omma”, jawabku singkat.

“kenapa kau tidak memberitahu ku, kau ingin datang kesini? Setidaknya kita bisa berangkat bersama”

“untuk apa? Kan sudah ada dia yang menemani oppa”

“bu-“

“sudahlah, oppa bergabung saja dengan kolega-kolega oppa. Aku sedang tidak ingin diganggu. Dan bawa juga wanita ular ini menjauh dariku”, ucapku sambil menatap Nara yang sudah menatapku juga tak kalah tajamnya. Aku mengepalkan kedua tanganku untuk menguatkan diri.

‘Aku tidak akan kalah dengan penghianat ini’, ucapku dalam hati.

Tanpa memberi kesempatan untuk Donghae bicara lagi, aku pergi mencari tempat yang sepi. Aku menemukan meja kecil disudut taman. Aku duduk disana seorang diri. Tapi dari jauh aku melihat seorang wanita paruh baya melangkah lebar menuju kearahku. Aku menghembuskn napas berat.

“apa yang kau lakukan disini seperti orang bodoh”, ucap omma setibanya didepanku.

“kau harus mendampingi Donghae. Bukannya duduk dengan bodohnya disini seperti orang introverted”, omel omma lagi.

“Donghae secara berlahan akan meninggalkanmu jika kau tidak bisa bersosialisasi dengan baik. Lihatlah…Donghae bahkan memperlakukanmu seperti orang yang tidak dikenal. Omma yakin dia pasti malu mengenalkanmu pada kolega bisnisnya”, tambah omma.

“aku tidak mengenal siapapun disini omma”, ujarku memberi alasan yang sebenarnya.

“maka dari itu kau harus bersama Donghae dan memperkenalkan diri dengan kolega bisnis Donghae, agar kau dikenal orang-orang disini. Jangan mempermalukan keluarga seperti ini”

“jika aku bergabung dengan mereka, yang ada omma akan semakin malu. Seperti yang omma selalu bilang. Aku hanyalah gadis bodoh dan introverted. Jika mereka menilaiku seperti itu, omma pasti akan semakin malu”, balasku sambil beranjak dari dudukku, meninggalkan omma yang terdiam menatapku tajam. Mungkin omma akan semakin marah karena aku melawan ucapannya. Ini pertama kalinya aku berbicara panjang lebar, membalas perkataan omma. Sudah kukatakan aku sedang tidak dalam keadaan mood yang baik hari ini. Tapi semua orang seperti tidak bisa diajak bersahabat. Dimulai dengan Donghae yang muncul dengan Nara. Lalu sekarang omma. Nanti siapa lagi?

Aku berkeliling lagi mencari tempat sepi dan akhirnya aku menemukannya. Sebuah meja kayu yang menyatu dengan batang sebuah pohon. Aku duduk disana, lalu mengeluarkan ponselku. Bermain game sepertinya akan mengurangi rasa bosanku.

“kau tidak pernah berubah”, ucap seseorang. Aku mendongak dan langsung memasak wajah datar dan mendengus jengkel.

“aku sedang tidak ingin diganggu. Pergilah”, usirku.

“kau tidak memiliki hak untuk mengusirku. Pemilik acara ini adalah sahabat appaku”, balas Nara.

“aku tidak menyuruhmu meninggalkan acara ini. Aku hanya menyuruhmu untuk meninggalkanku sendiri”, jelasku dengan nada datar.

“ckkk…kau masih sama seperti dulu. Penyendiri dan aneh”, ucap Nara tapi kali ini aku tidak membalasnya. Aku memilih diam, dan memainkan game diponselku. Tapi seolah tidak puas menghinaku, Nara tetap berbicara.

“aku penasaran, apa waktu itu mereka benar-benar melakukan sesuatu padamu?”, pertanyaan Nara kali ini membuatku terdiam kaku.

“ohh melihat reaksimu, sepertinya mereka benar-benar melakukannya”, lanjut Nara dengan nada suara seperti prihatin.

“bisakah kau katakan saja apa yang kau inginkan? Tidak perlu mengungkit-ungkit masa lalu yang semakin mengingatkanku, betapa menjijikannya dirimu”, ucap ku membalasnya.

“hahh.. menjijikkan? Kau tidak salah mengakatakan aku menjijikkan? Kau lah gadis yang menjijikkan. Bahkan kau sudah kehilangan harta berhargamu tanpa suamimu ketahui”, aku langsung menegang mendengar perkataan Nara.

“aku datang menolongmu saat itu, tapi kau menjadikanku sebagai barang mainan mereka. Sedangkan kau lari begitu saja meninggalkanku. Penghianat!”, balasku dengan mata yang berkaca-kaca. Mengingat kejadian itu, betapa takutnya aku harus menghadapi tiga orang pria, sedangkan aku seorang diri.

“aku akan melakukan apapun asalkan aku selamat, termasuk mengorbankanmu”, balas Nara dengan senyum miring. Aku menggeram mendengar ucapannya. Betapa liciknya gadis ular itu.

“sebenarnya apa maumu?”, tanyaku langsung pada intinya. Aku sudah tidak kuat melihat wajah licik itu. Nara tersenyum semakin menyeramkan.

“tutup mulutmu. Jangan pernah mengatakan apapun pada Lee Donghae”, ucap Nara sambil menatapku tajam.

“kau takut?”, tanyaku sambil tersenyum miring. Ku lihat dia menggeram marah.

“aku tidak pernah takut pada apapun. Yang harusnya takut adalah kau”, balas Nara.

“apa maksudmu?”, tanyaku dengan kening mengerut.

“jika Lee Donghae sampai tahu kejadian itu, akibatnya aku paling hanya kehilangan beberapa kontrak kerja dengan perusahaannya. Sedangkan kau….apa kau yakin Donghae masih mau berada disisimu? Donghae pasti akan meninggalkanmu begitu saja ketika tahu keadaanmu yang sebenarnya”, jawab Nara dengan senyum kemenangannya.

Seperti ada batu besar yang menimpa tubuhku ketika Nara mengatakan itu. Memikirkan Donghae pergi meninggalkanku disaat aku mulai berharap pria itu bisa membantuku, adalah sesuatu yang tidak terbayangkanku untuk saat ini. Jika  tadi omma juga mengatakan Donghae akan meninggalkanku karena sifatku, aku tidak begitu memikirkannya. Tapi ketika Nara yang mengatakannya, aku menjadi kepikiran.

“cukup tutup mulutmu dan semua aman”, ucap Nara lalu beranjak dari hadapanku. Tapi baru beberapa langkah Nara melangkah, aku berkata dengan nada suara bergetar.

“apa kau membenciku karena Heechul memilihku saat itu? kau cemburu?”, ucap ku lemah tanpa berniat berbalik untuk menatap Nara yang pasti sudah diam dibelakangku.

“Ya… Aku membencimu karena semua orang lebih memilihmu menjadi modelnya, termasuk Heechul. Kau tahu aku menyukai Heechul saat itu, tapi kau malah merebutnya dariku. Kau merebut semua yang aku inginkan”, ucap Nara dengan nada meninggi. Setelah mengatakan itu aku mendengar langkah kaki Nara yang pergi meninggalkanku.

“aku tidak pernah mendekati Heechul. Dia sendiri yang selalu mengikutiku”, ucapku, melakukan pembelaan, walaupun Nara sudah tidak ada lagi didekatku.

Aku meletakkan kepalaku diatas meja. Memejamkan mata, dan air mataku sudah tidak bisa kubendung lagi.

“aku kalah”, gumamku berulangkali. Aku kalah menghadapi masa laluku. Sepertinya memang sudah menjadi takdirku, harus memendam semuanya seorang diri. Walaupun aku belum merencanakan untuk menceritakannya pada Donghae, tapi sebagai seseorang yang mau menganggapku sebagai keluarga, sebelumnya aku sedikit berharap Donghae bisa membantuku. Tapi setelah Nara mengatakan apa yang akan terjadi jika sampai Donghae mengetahui semua masa laluku, aku baru tersadar bahwa aku memang tidak bisa berbuat apapun. Bahkan untuk melawan mereka yang sudah berbuat jahat kepada ku pun aku tidak bisa. Aku… Kalah.

>>>>>>>

Author POV   

Tring~

Yoona membuka layar ponselnya. Disana terdapat pesan dari Eunji.

Nona, kain pesanan nona udah sampai. Apa nona masih lama disana?

Begitulah isi pesan yang Eunji kirim. Lalu Yoona membalasnya, mengucapkan terima kasih. Setelah itu Yoona mendongak keatas, menatap ranting-ranting pohon diatasnya. Tangannya sesekali menghapus air matanya yang masih mengalir. Setelah merasa lebih baik, Yoona beranjak dari duduknya untuk pulang. Tapi tiba-tiba suara seseorang yang sangat Yoona kenal, sedang berbicara dengan nada yang meninggi.

“kan aku sudah bilang, aku ada acara besok. Bilang saja pada photografernya”, ucap Nara pada seseorang, entah siapa. Yoona tidak bisa melihat siapa orang yang sedang berbicara dengan gadis itu karena tertutupi tubuh Nara.

“tapi unnie, aku harus bilang apa? Sedangkan jadwal perilisan majalahnya sudah dekat. Bisa-bisa mereka marah jika unnie lagi-lagi membatalkan pemotretan”, jawab seorang gadis yang suaranya cukup familiar ditelinga Yoona.

“pokoknya aku tidak mau tahu, kau urus semuanya. Besok aku ada acara penting dengan Taehyung”, ucap Nara lalu berlalu pergi.

Yoona yang sedari tadi menguping, mengerutkan kening ketika Nara menyebutkan nama Taehyung.

‘Taehyung? Kim Taehyung? Apa hubungan Jung Nara dengan pria kaku itu?”, batin Yoona. Ketika Yoona kembali menatap kearah posisi Nara berbicara tadi, gadis licik itu sudah tidak ada disana. Tapi sebelah alis Yoona naik ketika menemukan gadis yang berbicara dengan Nara tadi adalah gadis mungil yang dulu pernah bertanya identitas Yoona yang sebenarnya.

Yoona melihat gadis itu hanya duduk terdiam dimeja yang sama ketika Yoona bertemu ommanya tadi. Sesekali gadis itu menghembuskan napas berat lalu memaksakan tersenyum. Tapi Yoona menyadari gadis mungil itu pasti mengalami hari-hari yang berat. Terlihat sekali dari senyum yang dipaksakannya itu.

Tidak tahu dorongan dari mana, Yoona malah melangkah mendekati gadis mungil itu. Yoona berdiri dibelakangnya, tapi gadis itu belum menyadarinya. Yoona mengintip apa yang sedang gadis itu lakukan. Yoona mengerutkan kening ketika melihat gadis itu sedang menggambar sesosok pria diatas sehelai tissue. Gadis itu menggambar dengan sangat bagus. Yoona menyukai gambar gadis itu.

Menyadari seperti ada seseorang yang berdiri dibelakangnya, gadis itu berbalik cepat. Kaget melihat seseorang berdiri diam dibelakangnya. Tapi beberapa detik kemudian dia tersenyum dengan mata yang berbinar. Yoona yang melihat gadis itu tersenyum dengan dimple andalannya itu ditambah matanya yang berbinar, Yoona seperti melihat puppy. Anak anjing dengan mata berbinarnya karena melihat makanan enak. Yoona hampir saja tersenyum melihat gadis yang menggemaskan itu.

“siapa namamu?”, tanya Yoona. Gadis itu langsung berdiri dari duduknya, menghadap Yoona.

“aku?”, tanya gadis itu seperti tidak percaya Yoona sedang mengajaknya bicara.

“tidak ada orang lain disini selain kau”, ucap Yoona datar.

“Wheein… Jung Wheein”, jawabnya antusias sambil mengulurkan tangannya. Tapi gadis itu harus menelan kecewa karena Yoona tidak menyambut uluran tangannya. Walaupun begitu Wheein masih tetap tersenyum lebar. Menatap Yoona seperti baru menemui artis idolanya secara langsung.

Yoona mengambil tissue yang tadi Wheein jadikan sebagai wadah untuk menggambar. Yoona mengambil pulpen yang tergeletak dimeja itu. Lalu menuliskan sesuatu disana. Gadis mungil itu hanya diam mengamati apa yang Yoona lakukan. Setelah itu Yoona pergi meninggalkan Wheein begitu saja. Wheein mengamati kepergian Yoona sampai tidak terlihat lagi dari jarak pandangnya.

Wheein mengambil tissue yang Yoona tuliskan sesuatu tadi. Wheein membaca apa yang Yoona tulis tadi. Sebuah alamat yang Wheein belum ketahui itu alamat apa.

“mungkin ini alamat rumah atau tempat kerja unnie itu”, gumam Wheein. Gadis itu tersenyum lebar ketika menemukan ada tulisan kecil diatas gambarnya.

Gambar yang bagus

Begitulah yang Yoona tuliskan dengan ukuran tulisan yang sangat kecil. Tapi wheein masih bisa membacanya.

Wheein melipat tissue itu dengan rapi lalu menciumnya beberapa kali. Kemudian memasukkan tissue yang sangat berharga baginya itu kedalam dompetnya agar tidak tercecer.

>>>>>>>

Yoona berjalan menuju pintu keluar, tapi tiba-tiba berhenti ketika melihat Tuan Im sedang berbincang-bincang bersama seorang pria. Yoona berpikir sudah berapa lama ia tidak bertemu appanya itu. Bahkan mereka tidak pernah saling berbicara lagi sejak Yoona memutuskan untuk tinggal sendiri dirumah yang disediakan oleh keluarga Lee untuk dirinya dan Donghae. Rumahnya sekarang.

Yoona menatap pria paruh baya itu dengan pikiran kosong. Tidak tahu harus menghampiri Tuan Im atau berlalu begitu saja. Jika Yoona menghampiri, pasti pria yang bersama Tuan Im akan menanyakan siapa dirinya. Belum tentu Tuan Im akan mengakui Yoona sebagai putrinya, atau bisa jadi sikap Yoona yang pendiam dan tidak bersahabat, membuat Tuan Im malu.

Akhirnya Yoona memutuskan tetap melanjutkan langkahnya melewati Tuan Im begitu saja.

Tapi niatan ingin segera pulang Yoona urungkan karena melihat Ny Im sedang berkumpul bersama dengan teman-temannya didekat pintu keluar.

‘Sial!’, umpat Yoona dalam hati. Yoona pun dengan cepat berbalik, kembali masuk kedalam sebelum Ny Im melihatnya. Yoona mendengus kesal karena tidak bisa keluar dari rumah besar itu. Tiba-tiba Yoona merasa haus. Sesampainya dirumah besar itu memang Yoona belum menyentuh sedikitpun makanan maupun minuman.

Yoona menghampiri meja besar, yang diatasnya terhidang berbagai macam makanan dan juga minuman. Yoona mengambil gelas yang berisi cairan berwarna bening. Yoona tidak tahu itu minuman apa, gadis itu hanya asal pilih saja. Disesapnya sedikit minumannya. Merasa minuman itu enak, Yoona langsung membawa dua gelas untuknya. Mencari tempat sepi agar tidak bertemu dengan siapapun termasuk tidak bertemu dengan Donghae, orangtuanya, teruma dengan Jung Nara.

“minuman ini sangat enak”, ucap Yoona sambil mengamati isi gelasnya yang isinya tinggal seperempat. Dengan sekali teguk Yoona menghambiskan sisanya tersebut. Tanpa henti Yoona meminum kembali semua isi gelas keduanya.

“wah… sebenarnya ini minuman apa? Aku akan menyuruh Han Ajumma untuk membeli minuman seperti ini”, tambahnya. Merasa yang diminumnya masih kurang, Yoona beranjak menuju meja besar itu lagi. Penglihatannya sudah sedikit kabur entah karena apa. Mungkin efek dari minuman tersebut. Tapi sepertinya Yoona tidak menyadarinya.

Ketika mencari-cari jenis minuman yang sama seperti yang tadi diminumnya, Yoona tidak sengaja mendengar percakapan beberapa wanita yang juga sedang memilih makanan.

“pria tampan itu namanya Lee Donghae. Beberapa kali dia datang keperusahaan suamiku. Andaikan putriku ada disini, aku akan berusaha menjodohkan mereka.”

“bukankah putrimu sudah memiliki kekasih?”

“kekasihnya itu tidak setampan dan sekaya Lee Donghae”

“aku rasa dia lebih cocok dengan putriku. Putriku seorang model terkenal dan cantik. Sangat cocok bersanding dengan Lee Donghae”

Mendengar percakapan wanita-wanita itu membuat Yoona menggenggam gelasnya sangat kuat. Untung saja gelas itu tidak sampai pecah.

Ingin rasanya dia berteriak pada mereka dan semua orang disini, bahwa Lee Donghae adalah suaminya. Yoona cemburu pada semua wanita yang bisa dengan bebasnya mendekati Donghae, sedangkan dirinya sendiri dengan bodohnya selalu berusaha menjauhi pria itu. Padahal jika dibandingkan dengan wanita-wanita itu, Yoona menang banyak. Lee Donghae adalah suaminya, miliknya.

Dengan perasaan marah Yoona mengambil dua gelas lagi dan langsung berlalu dari kumpulan wanita yang terus memperebutkan Donghae untuk dijadikan menantu.

>>>>>>>

Donghae terus mengamati gerak-gerik Yoona. Mulai dari Yoona bertemu dengan Ny Im, dengan Jung Nara, hingga kegilaan gaadis itu meminum white wine. Kemanapun Yoona pergi, Donghae tetap mengawasi gadis itu. Donghae khawatir Yoona membuat masalah atau Nara menyakitinya.

Tadi ketika bertemu dengan Yoona, Donghae benar-benar kaget Yoona bisa berada diacara itu. Dan soal Jung Nara, Donghae tidak tahu mengapa, gadis itu seperti mengikutinya terus akhir-akhir ini. Nara pasti sudah mulai menyadari bahwa dirinya terancam sejak pertemuannya dengan Yoona. Heechul dan Nara pasti sudah merencanakan sesuatu. Tapi Donghae berusaha bersikap biasa saja didepan Heechul dan Nara, seperti tidak mengetahui apapun. Tapi Donghae sudah menyuruh orang suruhannya untuk bergerak lebih cepat untuk mencari informasi yang dibutuhkannya.

Donghae mengerutkan kening ketika tidak menemukan Yoona lagi. Karena merasa khawatir, Donghae permisi sebentar pada teman-teman bisnisnya. Donghae mengedarkan pandangannya, mencari gadisnya.

Donghae mengelilingi semua area halaman rumah itu tapi tidak menemukan Yoona.

“kemana gadis itu pergi? Apa dia sudah pulang?”, gumam Donghae sambil tetap mencari Yoona. Dari jarak yang cukup jauh, Donghae melihat seseorang tertidur diatas meja, dibawah pohon. Merasa itu adalah Yoona, Donghae mempercepat langkahnya menghampiri gadis itu.

Sesuai dugaannya, orang yang tertidur itu adalah Yoona. Gadis itu meletakkan kepalanya diatas meja. Sedangkan sepatunya dilepas begitu saja.

“Yoona~”, panggil Donghae lembut, menyentuh punggung Yoona. Dengan cepat gadis itu langsung terduduk tegak. Matanya menyipit, memastikan siapa orang yang ada disampingnya. Kepalanya terasa pusing, penglihatannya pun mengabur. Yoona mengucek-ngucek matanya hingga bisa melihat Donghae lebih cepat.

“ohh… Lee Donghae”, ucap Yoona sambil menyengir kuda.

“apa yang kau lakukan disini?”, tanya Donghae. Bukannya menjawab, Yoona malah mengedarkan pandangannya, seperti mencari seseorang.

“dimana omma?”, tanya Yoona.

“aku tidak tahu”

“huhhh… padahal aku ingin memperlihatkan pada wanita tua cerewet itu, bahwa oppa datang menghampiriku. Oppa…masih peduli padaku”, ucap Yoona. Donghae mengerutkan kening tidak mengerti apa yang gadis itu katakan.

“ayo kita pulang. Sepertinya kau sudah mabuk”, ucap Donghae. Donghae memakaikan sepatu Yoona, lalu menuntun tubuh Yoona, untuk pulang.

“aku…tidak… mabuk. Aku hanya… merasa sangatttt….senang”, ucap Yoona sambil menyentuh kepalanya yang sakit.

“iya… iya”, balas Donghae, mengalah.  Ketika melewati pintu besar untuk keluar dari rumah mewah itu, Taehyung datang menghampiri Donghae.

“ayo kita pulang”, ujar Donghae pada Taehyung. Pria kaku itu pun dengan sigap membantu Donghae memapah Yoona menuju mobil Donghae.

“tunggu sebentar. Sepertinya dia membawa mobilnya kesini”, Donghae pun langsung merogoh tas tangan Yoona. Dan benar ada kunci mobil gadis itu didalam tasnya.

“hubungi supir pengganti untuk membawa mobil Yoona pulang”, perintah Donghae pada Taehyung.

Setelah Donghae dan Yoona masuk ke mobil, Taehyung langsung melaksanakan perintah Donghae.

>>>>>>>

Donghae POV

Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya sampai harus mabuk seperti ini. Dan lihat, gadis ini dengan nyamannya menyandarkan kepalanya di pundakku. Ini suatu hal yang sangat langka karena gadis ini tidak suka dalam jarak sedekat ini denganku. Ini melangggar perjanjian. Tapi ini bukanlah salahku. Gadis ini yang melanggarnya.

Kuamati wajah tidurnya. Cantik. Hanya kata itu yang terlintas dibenakku.

Tiba-tiba Yoona bergerak. Aku terdiam membatu. Aku takut dia terbangun dan sadar jika jarak kami sangat dekat. Dia pasti marah atau ketakutan seperti pertama kalinya kami bertemu kembali atau seperti kejadian di lift semalam. Tapi hal yang tidak ku duga terjadi.

Yoona memelukku – lebih tepatnya memeluk lenganku. Gadis ini memeluk lenganku dengan erat seakan takut aku akan pergi meninggalkannya sendiri. Tidak! Aku tidak akan melakukannya. Aku akan selalu bersama Yoona – istriku.

Kembali kupandangi wajah polosnya yang tertidur lelap. Dengan berlahan kuarahkan jari-jari tanganku ke wajah. Menyentuh pipinya dengan hati-hati dengan ujung jari telunjukku, lalu menariknya kembali. Yoona tetap diam. Lalu kulakukan kembali hal yang sama. Menyentuh pipi gadis itu dengan ujung jariku. Tapi Yoona masih tetap tidak merespon.

Melihat itu aku tersenyum lebar. Seakan aku mendapatkan hadiah mainan yang selama ini kudambakan.

Kali ini bukan hanya ujung jari ku yang menyentuh wajahnya. Aku sudah menggapai wajahnya, mengelusnya dengan lembut. Aku sangat senang entah karena apa. Intinya aku sangat senang. Aku tidak dapat menggambarkan seperti apa rasa senang yang kurasakan. Aku tersenyum semakin lebar ketika ujung bibir Yoona tertarik keatas – tersenyum. Sepertinya dia sedang bermimpi hal yang indah.

Mungkin Taehyung yang sedang mengemudi sudah berasa jijik dengan senyum lebarku ini. Tapi aku tidak peduli. Istriku bisa tersenyum itulah yang lebih ku pedulikan.

Sesampainya kami di rumah, Yoona masih dalam keadaan tertidur. Dengan hati-hati ku bawa Yoona keluar dari mobil, menggendongnya memasuki rumah.

“kau pulang saja. Karena sepertinya kau pun sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja”, ujarku tiba-tiba ketika Taehyung mengikuti langkahku memasuki rumah. Karena tidak ada jawaban, dengan masih menggendong Yoona, aku berbalik menghadap pria itu.

Dia hanya terdiam menatapku dengan tatapan kosong.

Benarkan! Dia sedang tidak baik-baik saja. Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Walaupun ini baru sebulan sejak kami pertemu, tapi aku tahu Taehyung adalah pria yang lebih banyak bekerja dari pada bicara. Dan walaupun tatapannya selalu datar, bukan berarti dia tidak memperhatikan sekelilingnya, tidak seperti sekarang, dia terlihat semakin menyedihkan.

Aku ingin bertanya, tapi aku harus menahan diri. Karena selain pekerjaan, hubungan kami bukanlah apa-apa. Lagi pula jika bertanya pun ku rasa dia tidak akan menjawab. Jadi lebih baik diam saja, memberinya waktu sendiri.

“selesaikan masalahmu secepatnya dan kembali bekerja dengan baik”, ucapku lagi. Setelah itu aku kembali melangkah menaiki tangga menuju kamar, meninggalkan pria itu.

Rumah sudah tampak sepi, bahkan sudah tidak ada lagi seorang pun maid yang bekerja. Aku melirik jam tanganku. Ternyata sekarang sudah jam 11 malam. Pantas saja rumah tampak sepi. Para maid pasti sudah istirahat.

Kurasakan Yoona bergerak dalam gedonganku. Kudekati pintu kamar Yoona. Meraih knop pintunya namun tiba-tiba terdengar dentingan nyaring dari mesin pengaman kamar itu. Aku mendesah berat, baru sadar jika pintu kamar Yoona menggunakan pintu pengaman yang otomatis akan membuka dan mengunci pintu kamar itu.

Berlahan ku letakkan Yoona sejenak bersandar didepan pintu dalam posisi terduduk. Kemudian mendekati mesin pengaman itu. Berpikir sejenak. Kira-kira deretan angka berapa yang istriku itu gunakan sebagai PIN-nya.

Pertama-tama aku memasukkan tanggal lahir Yoona. 300590. Tittt~

Salah. Aku berpikir kembali. Lalu memasukkan deretan angka lagi. Kali ini tanggal lahirku. Walaupun pikiranku ini terlalu bodoh karena Yoona tidak mungkin menggunakan tanggal lahirku sebagai PIN-nya, tapi tidak ada salahnya mencoba. Tittt~

Tetap tidak bisa. Aku menggerutu kesal karena tidak ada angka yang terlintas lagi dalam pikiranku. Aku ingin bertanya pada Eunji tapi ini sudah tengah malam. Tidak enak membangunkan orang yang sedang beristirahat. Security yang berjaga di gerbang juga pasti tidak tahu PIN kamar Yoona.

Sambil memutar otak, memikirkan angka-angka dari mulai yang mudah  hingga yang rumit. Mencoba memasukkan ke mesin itu. Tapi tidak bisa juga. Sial!

“ahhhkkkk…”, tiba-tiba Yoona bergumam dalam tidurnya. Aku menatap gadis itu dengan seksama. Wajahnya sangat polos ketika tertidur. Berbanding terbalik ketika gadis ini dalam keadaan sadar. Dia pasti akan sedingin es dikutub utara ketika terdiam dan sangat cerewet ketika mulai membantah perintahku. Jika sedang tertidur seperti ini dia terlihat seperti anak kecil tanpa beban. Tiba-tiba sebuah deretan angka muncul dalam otakku. Walaupun sangat ragu akan berhasil, tapi tetap saja aku mencoba. Kumasukkan 6 digit angka itu dan Bip~ Pintu terbuka.

Aku terdiam sejenak, terkejut karena angka yang tidak pernah ku duga itu menjadi PIN kamar Yoona. Aku kagum. Bukan pada kepintaranku menebak PIN itu, tapi lebih pada mengagumi Yoona. Mengagumi entah ini bisa dikatakan terlalu polos atau bodoh. Bagimana tidak aku mengatainya bodoh jika kamarnya, tempat persembunyiannya ini hanya diberi angka “000000” sebagai pengaman. Yoona benar-benar bodoh. Atau aku yang sebenarnya bodoh karena harus menebak angka-angka yang rumit sedangkan angka yang benar adalah deretan angka mudah.

“WAW~ sungguh? Dia menggunakan angka itu sebagai PIN kamarnya? Yang benar saja?”, gumamku.

Aku mendekati Yoona, menggendongnya kembali dengan kekehan. Mentertawakan kebodohan Yoona.

Kuletakkan Yoona di ranjang singlenya yang menempel dengan dinding kamar. Ranjang itu kecil hanya cukup menampung satu orang saja. Kuselimuti tubuh Yoona dengan selimut hingga sebatas lehernya. Kemudian menyisihkan helaian-helaian rambut yang menutupi wajahnya. Lalu entah dorongan dari mana, aku mendekatkan wajahku tepat didepan wajah tidurnya. Mengamati wajah itu sejenak kemudian memberi kecupan dikeningnya. Seolah belum cukup, dengan jantung yang berdegup sangat kencang, aku memberi sedikit sentuhan dibibir Yoona, dengan bibirku. Hanya beberapa detik. Kembali aku mengamati wajah Yoona dengan menipiskan bibirku. Aku ingin tersenyum karena terlalu senang, bisa mencium Yoona – lagi.

Sialan! Aku jadi ingin merasakannya lagi

Tenang Lee Donghae. Nanti ada waktunya

Aku berperang dengan pikiran dan nafsuku. Yoona benar-benar mampu membuat pertahananku goyah. Ku tarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya berlahan – berusaha mengendalikan diri.

Setelah memastikan posisi tidur Yoona sudah benar, aku beranjak keluar. Tapi baru berbalik mengarah ke pintu, aku terkejut dengan pemandangan sekelilingku. Ketika masuk tadi aku tidak begitu memperhatikan isi kamar Yoona. Kamar Yoona jauh dari kata rapi. Kamar ini bahkan lebih buruk dari gudang dibelakang rumah.

Banyak kertas dan potongan-potongan kain yang berserakan di meja dan juga lantai. Ada juga gulungan kain yang disusun bertumpuk di sudut kamar dan beberapa patung mannequin.

Aku mengambil selembar kertas yang paling dekat dengan jarakku berdiri. Salah satu alisku naik mengamati kertas ditanganku. Dikertas itu terdapat coretan-coretan, seperti sketsa gaun. Tapi aku tidak begitu yakin, karena gambarnya tidak begitu jelas, seperti dibuat asal-asalan.

Aku tersenyum ketika menyadari apa yang selama ini Yoona kerjakan dikamarnya ini. Aku merapikan sedikit kertas-kertas yang ada dilantai, meletakkannya di atas meja yang disana pun terdapat lebih banyak lagi kertas sketsa. Senang rasanya ketika mengetahui salah satu rahasia Yoona.

Sambil merapikan meja kerja Yoona, aku menguap. Aku sangat mengantuk sekarang. Aku pun memutuskan untuk segera keluar dari kamar Yoona.

“ahhhhkkk… hiks…hiks…pergi… pergi kalian”, tiba-tiba aku menghentikan langkah kakiku didepan pintu karena mendengar Yoona menangis. Aku kembali menutup pintu kamar Yoona, lalu mendekati gadis itu yang sepertinya bermimpi buruk. Bahkan pipi Yoona sudah basah karena menangis.

“Yoona~”, panggilku sambil mengguncang tubuhnya hingga gadis itu terbangun.

Secara berlahan kelopak mata Yoona terbuka. Dia menatapku dengan sedih. Oh ya Tuhan apa yang sudah terjadi pada istriku sampai dia terlihat sesedih ini. Apa yang sudah dilakukan orang-orang brengsek itu pada istriku.

“oppa~”, ucapnya lemah. Aku menghapus air mata dipipinya dengan lembut.

“ya… aku disini”, balas ku lembut. Tanpa kuduga dia mengalungkan kedua lengannya dileherku lalu menarikku. Memelukku dengan erat. Awalnya aku kaget tapi lambat laun aku membalas pelukan gadis itu dengan satu lengan saja. Kerena satu lengan lagi kugunakan untuk menopang tubuhku agar tidak menindih tubuh Yoona.

“jangan tinggalkan aku”, ucapnya dengan nada yang sangat sedih. Bahkan aku bisa merasakan kesedihan gadis itu. Pasti memang terjadi sesuatu. Mungkin ketika Yoona bertemu dengan ommanya dan juga dengan Nara. Mereka pasti membicarakan sesuatu yang membuat Yoona merasa sedih, bahkan sampai mabuk.

“aku tidak akan pernah meninggalkanmu”, balasku sambil melepas pelukannya. Kutatap wajahnya yang masih basah karena air matanya. Aku tahu Yoona belum sadar sepenuhnya dari mabuknya.

“jangan menangis…aku tidak akan meninggalkanmu”, ucapku dengan tangan yang masih aktif menghapus air matanya.

“kau percaya padaku kan?”, ucapku lagi. Mata Yoona menatap tepat kemanik mata ku. Seperti mencari kebenaran dimataku. Lalu selanjutnya Yoona mengangguh. Aku lega dia mau mempercayaiku. Kami diam cukup lama dengan posisi Yoona yang masih mengalungkan lengannya dileherku dan wajah kami yang berjarak sangat dekat. Mata kami masih saling bertemu. Aku tidak tahu jantungku berdetak sangat kencang. Ada perasaan baru yang aku sendiri tidak tahu perasaan apa itu. Hanya saja perasaan ini selalu muncul ketika berada didekat Yoona. Apa aku mulai menyukai Yoona?

Tidak tahu siapa yang memulainya duluan. Aku sudah mendaratkan bibirku diatas bibir Yoona. Melumat bibir atas dan bawah Yoona bergantian dengan sangat lembut. Hanya beberapa detik. Setelah itu aku melepas bibir Yoona. Menatap gadis itu yang menatapku dengan sendu. Aku mengusap kepalanya dengan lembut membuat Yoona memejamkan matanya. Tapi jari-jari tangan Yoona mulai memainkan ujung rambut belakangku.

Karena semakin terbawa suasana yang semakin intim ini, aku kembali menundukkan kepalaku, meraup bibir tipis Yoona yang sepertinya akan menjadi candu untukku. Aku melumat bibir tipis itu dengan lembut. Sesekali Yoona membalasnya. Tapi terasa sekali Yoona tidak berpengalaman berciuman – sangat kaku.

Tanpa melepas pagutan bibir kami, aku menggeser tubuh Yoona hingga merapat kedinding, menyisakan sedikit bagian ranjangnya untukku merebahkan diri. Kami berciuman cukup lama. Tanpa ada penolakan dan tanpa ada perdebatan. Kami seolah melupakan isi perjanjian kami. Persetan dengan perjanjian itu!

Ini jauh lebih indah dari apapun. Rasanya isi perutku seperti meledak-ledak, seperti kembang api. Intinya aku menyukai keintiman kami ini.

 

TBC

Nah gimana untuk chapter ini? reader-nim suka?

Chapter 10 bakalan masuk dengan konflik yang lebih serius. Tapi walaupun banyak konflik, selalu tetap ada YH Moment nya. Seperti yang aku bilang sebelum-sebelumnya, kalian gak akan nyesal ngikutin tiap chapternya. Karena pasti ada aja part bagian YH, walaupun gak banyak.

Sedikit bocoran untuk next chapter :

Jung Wheein yang sebenarnya adalah adik sekaligus asisten Jung Nara akan bergabung dengan Yoona. Wheein disini bukan berpihak pada Nara. Karena Wheein tidak tahu tentang masalah Yoona dan kakaknya. Yoona menjadikan Wheein menjadi asistennya.

Nara dan Heechul juga bakalan mulai menjalankan rencana mereka (rahasia!!!)

Dan terakhir tentunya pasti ada YH moment

 

Udah itu aja dulu yang bisa aku kasi tau bocorannya.

Jangan lupa like dan komentarnya ya…

See U

|01 Apr 2017|

Advertisements

35 thoughts on “After Married – 9

  1. KasMha PyrooLiers

    Tae syng jng bilang kau bergabung dng nara…
    Pllissss aku tak suka ituu…eh? Hhee…
    Hhhmmmm moga yg terjdi gk seperti ituu…
    Semogaa… Tp mw gmna lagiii yahhh ….
    Yoong yg sabarrr

  2. Parah banget si jung nara itu,udh ditolongin malah berbuat jahat sama yg nolongin >.< kira2 apa ya yg direncanakan heechul dan nara untuk yoona?
    Hubungan yoona dan donghae semakin ada kemajuan ^^

  3. Jadi benar apakah Yoona korban pemerkosaan. Kasian sekali dia. Apa nanti setelah donghae tau mengenai kondisi Yoona, donghae akan merasa kecewa? Kumohon semoga Yoona tidak benar2 mengalami pelecehan.

  4. Nara memang cewek kurang ajar. Bukannya merasa bersalah. Malah mengancam yoona. Kasihan banget yoona mengalami hal setragis itu. Semoga donghae tidak pernah meninggalkan yoona setelah tau masa lalu yoona. Keep writing chingu.

  5. uly assakinah

    semoga nextnya gk lama. kira-kira rencana apa ya yang akan di lakukan heechul dan nara…

  6. ulfa intan agustien

    Salam kenal eonni, maf baru komen d’part ini soal’y penasaran baget. Ff’y bagus, bikin greget jdi penasaran sma masa lalu’y yoona? Penasaran juga ending’y gmn? Cepetan d’lnjut eonni. Fighting
    Trima kasih

  7. ulfa intan agustien

    Salam kenal eonnie, aqu reader baru, maf ya eonni aqu baru komen d’part terakhir. Seru, bagus, bikin greget, jdi pngen tw endingnya gmn? Masa lalu yoona eonni’y gmn? Cepet d’post ya eonni buat part selanjutnya. Fighting eonni, trima ksih

  8. ichus

    Nanti mereka melakukan “itu” thor?? Asiikk ada dedek bayi donk bentar lagi 😂
    konflik?? Huh nyiapin mental deh, suka ikut kesel berlama2, tp smoga emng Donghae gk pernah ninggalin Yoona.

  9. Sweeet….
    Bagus kak, menjawab beberapa pertanyaan yg selalu ditanyakan. Kasihan yoona, jd dia korban “itu” semoga ja donghae tetep bersatu sama yoona.
    Hahaha…. Lucu banget passwordnya yoona, kreatif. 😁😂. Wah… Next part yoona dah punya asisten, Bagus donk yoona jadi gk takut lagi. Penasaran banget apa rencana heechul dan nara? Semoga aja yoona tetep strong. Penasaran next chap gimana. Ditunggu ya kak, semangat…!

  10. aprilia DY

    cerita nya bagus eonni di tunggu chapter selanjutnya
    fighting 😊
    jgn lama lama ne eonni ☺

  11. trywach

    huuuuuuuhhhhhhh yoonhae mkin sweet aja,,,skinsip mereka ada peningkatan ,wlpun yoona dlm keadaan mbuk,
    heeeemmmm jd dulu heechul suka ma yoona yaww,,,pi knpa sekarang kya bnci ke yoona,,,
    dan lagi hub taehyung ma nara apa ???
    apa yoona bner2 jd korban pemerkosaan,
    Dasar jung nara dah ditolong mlah ninggalin yoona gitu aja !!!!

  12. laylee18

    kyaknya yoona pernah mengalami pelecehan seksual ya?? dan itu karna yoona mau ngebantuin si nara tpi malah di tinggal? sahabat macem apa kayak gtu? jdi makin kesel sma si nara.. next kak jangan lama lama ya hehe

  13. sulistiowati_06

    apalagi ini yang nyebabin phobianya yoona dimasa lalu? ribet banget gara2 ada hubungannya juga sama perasaan. heechul jung nara juga kenapa sampek takut juga kalo yoona buka suara? trus yoona apa bener udah kehilangan hartanya kayak yang nara omongin? aigo makin ribet dan mudah2an konflik selanjutnya ga parah2 banget. skinshipnya mulai jauh ya yoona sama dongek. mudah2an mereka cepet nyadarin perasaannya dan segera punya calon baby. next part ditunggu hari ini ya authornim hehe. ga sabar nunggu lanjutannya

  14. sintayoonhae

    Author maafkan reader barumu ini, udh lma bgt gk baca ff yh krna ksbukan mahasiswa -_- #mlahcurhat… jdi baru bisa koment dipart ini,, 🙏🙏 btw ffnya bgus bgt feelnya beuhh TOP bgt,, smpe maraton baca dri part 1 smpe 9 hahaha #matakuatgila lol… dtggu next partnya ya thor fighting 🙂

  15. yoonafishy

    Jangan buat yoona jadi korban pemerkosaan please, nanti gak enak bacanya. Mungkin pelecehan srksual aja jangan sampai diperkosa.
    Btw part selanjutnya panjangin lagi boleh gak hweheheh

  16. yoonhaeina90

    wow akhir ny yoona udh bs skinship sm org lain jg terutama sm hae
    smg next chapter bisa d post hari ini atau besok hari minggu
    enggak mw lama” d bwt nunggu hihihi
    ff ny bwt penasaran

  17. Makin seruuu
    Ih gatau diri nara, udah ditolongin yoona malah sekarang mau ngejahatin.
    Semoga Yoonhae baik2 aja dan makin romantis. Lanjuuut authoor~~

  18. Meliii

    Wah moment mereka😍😍😍
    Makin penasaran masalah yoona ama nara dan heechul pd masa lalu
    Next chap please
    Fighting authornim!!

  19. Sukaaaaaaa bgt sama chap ini yoonhae sweet moment semoga kedepannya mrk bahagia Amin sdh gk sabar baca part selanjutnya gomaeo autornim sdh buat ff keren ini ditunggu all karya2 indahmu lainnya fighting

  20. Sfapyrotechnics

    Woooooaaahh 😱😱😍😍 Jdi sbnarnya yoong dulu itu nyelamatin nara toh?? Tpi nara malah ninggalin yoong dan apa yg terjdi dsna?? Dan nara benci ma yoong krn yoong yg sllu di plih jdi model?? jdi yoong dlu model yah?? tpi stlah dia trauma(?) dia jdi desaigner?? Huwaaaa 😍😍😍 Yoonhae ada pningakatan pesat dlm hal skinship 😂😍😍 Jdi malam itu mereka tdur berdua?? ciuman spnjng malam?? 😍😍 Blum lakuin itu kan?? *otak lgi geser nih 😂😍 Huwaaa kliatannya tuh adik skligus asistennya nara ngeidolain yoona bnget 😂😍😍 Next kk.. Fighting!!

  21. Ahhh lagi enak baca tiba” nemu tbc ..huh chapter ini gak sepanjang chapter 8 kemaren yaa ..

    Makin suka selalu hahaha ..
    Btw semoga yg nara omongin kalau Yoona itu udah kehilangan kehormatannya gak bener ..
    Berharap Donghae bisa segera ungkap semuanya dan jangan terus”an kehilaatan gak tau apa” di depan nara ..kasian Yoona kalau masih harus di teken terus sama ancaman mereka ..
    Soal Taehyung aku juga masih bingung sama dia ,dan malah takutnya dia penghianat ..kenapa dia deket sama nara ? hubungannya apa ? itu tuh bikin bertanya tanya ..

    Oh iya mau kasih sedikit masukan nih supaya kalimatnya ada yg di perbaiki lagi kaya misalnya tadi nemu kalimat ‘disuruh omma’ mungkin bakal lebih bagus kalau di ganti jadi ‘omma yg menyuruhku’ ..hehe itu cuma masukan aja sih gak di pake juga pph ^^

    yaudah di tunggu banget next chapternya semoga lanjutin yg di akhir chap ini ya ..itu moment paling gemesin soalnya ..semoga makin panjang dan konfiknya gak berat” banget 🙂

    oh iya satu lagi penasaran sama cowok yg di gambar jung wheein di tissue bukan Donghae kan ?? jangan deh semoga haha aku worry kalau itu Donghae .

  22. yoongtaeyeon

    suka bgt sama chapter ini..
    makasii ya thor udh d update dgn cepat hehehe
    ditunggu chap selanjutnya thor 🙂

  23. rahmania

    apa yoona pernh jd korban pemerkosaan gara2 menolong nara.mudah2an gk sampai diperkosa.gmn nnti klo donghae tau 😭😭😭😭😭😭

  24. Ahh yes sukaak dgn semua moment yoonhae
    Shit!! jung nara betul2 menjengkelkan. Semogaa donghae gak bakal ninggalin yoona dan selalu melindungi yoona dari rencana2 jahat heechul dan nara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s