After Married – 6

Mockups Design
After Married Cover Ebook

Author: Fi_ss

Tittle: After Married – 6 – Betrayal

Lenght: Chapter

Cast: Im Yoona and Lee Donghae

Other Cast: Kim Heecul, Tiffany Hwang, Nicholas, Jung Wheein, Kim Taehyung, Jung Nara, etc

Genree: Romance, married life, Family, etc

Rate : 17+

Author Note: ini udah aku buat biar lebih panjang ceritanya (4000+++). Selamat membaca dan jangan lupa like dan komentarnya ya…

Happy reading and … Leggo~

>>>>>>>

– BETRAYAL –

Yoona POV

Keesokan paginya, jam 9 pagi, aku keluar kamar untuk sarapan. Semalam aku tidak bisa tidur tenang karena… entahlah. Jadi kuputuskan untuk bekerja saja. Akibat karena terlalu asyik bekerja, aku baru bisa tidur sekitar jam 3. Sehingga aku baru bangun sekarang. Ya, siklus jam tidur, bekerja dan makanku, kembali seperti biasanya.

“Ha-”, niatan ingin memanggil Han Ajumma ku batalkan. Lantaran ada Donghae didapur sambil meyesap teh hangat sambil sesekali mengusap hidungnya dengan tissue. Terlihat sekali jika pria itu sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Sepertinya Donghae sakit.

Apa karena hujan kemarin?

mmm… kasihan sekali dia

Aku terus mengamati pria itu yang sedang berbincang-bincang dengan Han Ajumma.

“ohh… nona sudah bangun?”, tiba-tiba suara Han Ajumma menyadarkanku yang masih berdiri diambang pintu. Kulihat sekarang pun Donghae beralih menatapku. Tiba-tiba kejadian semalam melintas dalam ingatanku. Sikap manis Donghae yang begitu perhatian dan berkorban untukku membuatku sedikit terharu. Mengingat kejadian itu aku menjadi gugup ditambah pria itu terus menatapku.

Aku memasuki dapur dengan mengalihkan tatapanku kearah lain, yang penting tidak kearah Donghae.

“nona ingin sarapan apa? Roti seperti biasanya?”, tanya Han Ajumma yang mulai melangkah ke meja memasak.

“mmm… aku ingin ramen Ajumma”, ucapku sambil berpikir.

“ramen? Dipagi hari? Kau gila?”, omel Donghae langsung dengan nada suara yang meninggi. Aku sampai menyerngit karena mendengar responnya yang berlebihan.

“memangnya kenapa?”, ucapku polos.

“kau bisa sakit perut jika makan ramen dipagi hari”, jawab Donghae dengan suara sumbang, kerena hidungnya sepertinya bermasalah.

“tapi aku ingin ramen sekarang”, tuntutku. Dia mendesah jengkel melihatku. Dia beralih menatap jam tangannya dan kembali mendesah. Kemudian beranjak dari duduknya. Responku pun sangat cepat dengan menjauhkan tubuhku dari jangkauan Donghae.

“ckkk… siapa yang ingin menyentuhmu? Kau terlalu percaya diri”, sindirnya padaku. Aku pun langsung salah tingkah karena terlalu berpikir berlebihan.

“lihat saja apa yang akan ku lakukan jika sampai kau sakit perut karena makan ramen dipagi hari. Aku akan mengurungmu digudang belakang”, ancam Donghae kepadaku. Tapi aku tidak takut. Donghae tidak mungkin melakukan hal sekejam itu. Aku hanya menaikkan bahu membalas ancamannya.

“aku pergi”, pamit Donghae masih dengan suara sumbangnya.

Seperginya Donghae aku membuka layar ponselku, disana banyak notifikasi panggilan telepon yang tidak ku jawab dan juga pesan serta email. Ketika ingin membuka notifikasi pesan tiba-tiba Han ajumma berseru memanggil Donghae.

“Tuan muda~”, panggil Han Ajumma, tapi sayang Donghae sudah tidak terlihat lagi didapur. Aku mengerutkan kening melihat wanita paruh baya itu.

“ada apa Ajumma?”, tanyaku.

“ini nona… obat Tuan ketinggalan”, ucap Han Ajumma dengan raut wajah khawatir sambil mengulurkan tangannya yang menggenggam bungkusan kecil. Aku mengamati bungkusan itu.

‘Ternyata benar dia sakit’, batin ku.

“mmm…bisakah nona memberikannya kepada Tuan?”, ucap Han Ajumma dengan hati-hati.

“aku? Kenapa harus aku? Kenapa tidak ajumma saja?”, aku menolak. Aku belom berani berbicara untuk sekarang ini dengan Donghae.

“jika saya yang memberikannya, bagaimana dengan masakan saya nona? Nona bisa melihat masakan saya sebenar?”, tawar Han Ajumma dan aku dengan cepat menggeleng. Jangan izinkan aku ada didapur dengan segala bahan masakan dan kompor, bisa-bisa dapur meledak seketika.

“lalu bagaimana ini? Kasihan Tuan jika tidak meminum obatnya dengan teratur, bisa-bisa demam dan flunya semakin parah. Tadi pagi bahkan Tuan mengeluh tidak bisa tidur karena flunya,  dia sulit bernapas”, kata-kata Han Ajumma seperti batu yang dilepar tepat kewajahku. Jelas-jelas ini adalah kesalahanku juga. Seandainya saja aku tidak membeli es krim malam-malam, mungkin kami tidak akan terkena hujan. Andai saja aku tidak keras kepala untuk menerobos hujan, pasti Donghae pun tidak akan basah kuyup hingga sakit seperti sekarang.

“baiklah…saya rasa saya masih sempat mengejar Tuan sebentar sebelum air ramennya mendidih”

“biar aku saja”, aku langsung mencegah Han Ajumma yang hampir melangkah mengejar Donghae. Han Ajumma langsung tersenyum menggoda kepadaku.

“Biar aku saja. Aku tidak ingin ramenku terlalu mengembang dan airnya habis”, ucapku mengalihkan tatapanku kelain arah. Sebenarnya aku khawatir Donghae tidak minum obat, tapi aku juga malu memperlihatkannya pada Han Ajumma, jadilah aku berbohong.

“terima kasih nona”, ucap Han Ajumma sambil menyerahkan bungkusan obat itu. Aku dengan cepat melangkah keluar, mengejar Donghae. Ketika keluar dari pintu rumah, aku melihat Donghae baru memasuki mobil.

Tapi tidak jauh dari mobil aku melihat seorang pria yang para maid sebut dengan Sekretaris Kim. Ku hampiri pria itu dengan langkah lebar karena pria itu pun sedang menuju mobil Donghae.

“hei… tunggu”, panggilku. Pria itu pun langsung berbalik dan menatapku. Ketika aku sudah berdiri dihadapannya, dia langsung menunduk hormat.

“kau sekretaris Donghae kan?”, tanyaku dan dia mengangguk saja. Aku memperhatikan pria itu dari bawah sampai atas. Dan penilaian pertamaku adalah pria ini sangat kaku dan kuno.

“ada yang bisa saya bantu”, ucapannya menyadarkanku.

“oh…berikan ini pada Donghae, kata Han Ajumma dia melupakannya didapur”, ucapku masih tetap membawa nama Han Ajumma.

“baik nona”

“jangan mengatakan jika aku yang memberikannya. Cukup katakan Han Ajumma yang memberikan”, ucapku memerintah. Dia pun hanya diam. Karena merasa seperti berbicara dengan patung, aku segera meninggalkan pria kaku itu.

Aku masuk ke dalam rumah dan langsung menuju dapur. Dimeja makan ternyata Han Ajumma sudah menghidangkan ramen dan juga beberapa makanan lainnya. Aku pun langsung duduk dan memakan hidangan lezat itu. Tanpa memperdulikan Han Ajumma dan seorang maid yang entah sejak kapan ada didapur, menatapnya seperti sedang menunggu aku mengatakan sesuatu. Tapi maaf, tidak ada yang perlu kubicarakan dengan mereka. Mereka terlalu penasaran dengan kehidupan majikannya.

Selesai makan, aku kembali kekamarku. Tapi tiba-tiba ponselku berbunyi. Dilayarnya tampil nama ‘Tiff Imo/Unnie”. Aku langsung mendesah kesal melihat nama si penelepon. Tapi tetap saja aku menerima panggilan tersebut.

“ada apa imo”, ucapku to the point ketika mengawali panggilan itu.

“YAK… SUDAH BERAPA KALI KUKATAKAN JANGAN MEMANGGILKU IMO? AKU TIDAK SETUA ITU. AKU MASIH GADIS BELIA YANG CANTIK”, teriak si penelepon, secara spontan aku langsung menjauhkan telingaku dari ponselku. Dia berteriak seperti  sedang berada dihutan rimba.

‘apanya yang masih gadis belia yang cantik? Teriakannya saja sudah seperti seorang pendemo di depan istana negara”, umpatku dalam hati. Tidak mungkin aku mengatakannya secara langsung, aku bisa mati dalam hitungan menit dibuatnya.

“maaf unnie… aku lupa”, ujarku memberi alasan.

“awas saja jika kau memanggilku seperti itu lagi, kau tidak akan pernah selamat”, ancamnya. Aku hanya menanggapinya dengan mengangkat bahu – tidak peduli.

“iya… iya…jadi ada apa unnie meneleponku?”, tanyaku langsung keintinya.

“semalam aku sudah berpuluh-puluh kali meneleponmu tapi kau tidak mengangkatnya. Lalu sudah berapa ratus pesan yang ku kirim tapi tetap saja kau tidak membalasnya. Kemana saja kau?”, omelnya lagi dengan kalimat yang dilebih-lebihkan. Jelas-jelas panggilan tidak terjawab hanya ada 5 dan pesan 3. Tapi dia sudah mengatakan puluhan bahkan ratusan. Ingin rasanya aku memaki gadis yang satu itu. Tapi aku harus tetap menjaga rasa hormatku. Dia adik dari ommaku walaupun usia kami hanya berbeda 3 tahun. Karena perbedaan usia yang tidak begitu jauh itulah menjadi dasar, mengapa aku harus memanggilnya unnie – sebenarnya dia yang memaksaku memanggilnya seperti itu. Dia gadis yang cerewet sama seperti ommaku. Sister sibling.

“semalam aku bekerja unnie”, balasku jujur.

“ckkk… selalu saja bekerja. Memangnya hasil dari proyek yang baru ini masih kurang?”, ucapnya kesal.

“tidak… hanya saja aku sedang mendapatkan ide baru saja”, balasku.

“terserah kau saja. Aku hanya ingin mengingatkan kau harus datang ke pesta malam ini”

“pesta? Pesta apa?”, tanyaku tidak mengerti.

“ckkk… dasar gadis bodoh dan pelupa”, ucapanya memakiku. Aku hanya diam tidak ingin menyangkalnya. Pada kenyataannya aku memang seorang pelupa, makanya unnie selalu memanggilku si keledai bodoh.

“malam ini kau harus datang ke pesta ulang tahun butikku yang ke 5 tahun. Sekarang sudah ingat?”

“ahhh… aku baru ingat”, balasku polos.

“baguslah kalau kau sudah ingat. Jadi, jam 8 malam aku sudah harus melihatmu diacara itu. Dan ingat tidak ada penolakan dan tidak ada alasan”, ucapnya sebelum aku sempat mengatakan ‘aku tidak bisa’. Dia tahu banyak tentang sifatku yang tidak suka pergi keacara seperti itu. Pasti banyak orang.

“ta-“ tutttt~

Sambungan teleponnya sudah diputus secara sepihak dan tanpa salam penutup. Unnie benar-benar gadis yang sopan.

Aku mendesah berat memasuki kamarku. Lalu merebahkan diri dikasur single ku. Memikirkan apa yang harus kulakukan selama acara nanti. Aku sudah putuskan akan datang walaupun terpaksa. Jika tidak, seperti yang kukatakan, aku tidak akan selamat dari imo ku itu.

Aku bangkit dari tiduranku menuju lemari pakaian. Mencari apa kira-kira dress yang cocok untuk acara itu.

>>>>>>>

Donghae POV

Akibat dari kehujanan semalam aku terserang flu dan demam. Ingin rasanya hari ini tidak melakukan apa-apa. Tapi aku harus kekantor, ada rapat yang harus ku hadiri dan juga memenuhi undangan pesta ulang tahun butik Tiffany. Jadinya aku memaksakan diriku untuk bisa beranjak dari kamarku.

Aku sudah ada didalam mobil menunggu Taehyung yang sedang mengambilkan beberapa berkas yang tertinggal diruang kerjaku.

“maaf menunggu lama Sajangnim”, ucapnya ketika masuk dan duduk dikursi kemudi. Aku hanya mengangguk.

“dan ini…”, Taehyung mengulurkan tangannya ke belakang – tempat ku duduk. Aku menerima bungkusan yang kuketahui adalah obat yang dibelikan Han Ajumma tadi. Sepertinya aku melupakannya.

“dari nona muda”, lanjutnya singkat. Mendengar itu aku langsung mengerutkan kening tidak mengerti. Tapi senyum sudah terbit diwajahku. Aku sudah mulai bisa membuat Yoona mulai memperhatikanku.

Mobil pun mulai melaju keluar dari gerbang rumah.

>>>>>>>

Hari sudah semakin gelap ketika aku keluar kantor. Ingin rasanya aku pulang, tapi apalah daya, aku harus datang ke undangan pesta ulang tahun BLESS – butik Tiffany. Lagi pula sudah sangat lama kami tidak bertemu sejak kelulusan kuliah dulu.

“Anda yakin tetap datang Sajangnim?”, tanya Taehyung sambil mengamati wajahku.

“tidak apa-apa”, aku berbohong. Sebenarnya aku merasa tubuhku sangat lemas, aku hanya memaksakan diri.

“baiklah”, ucap pria kaku itu, lalu keluar dari mobil dan membukakan pintu untukku.

“terima kasih”, ucapku. Lalu aku memasuki hotel menuju aulanya, tempat acaranya dilangsungkan.

Sesampainya disana, aku mencari keberadaan Tiffany. Akhirnya aku menemukannya sedang berbicara dengan beberapa orang, sepertinya model karena disana ada Jung Nara.

“Fany-ah”, panggilku. Gadis itu pun langsung berbalik menatapku kaget tapi dengan cepat gadis itu datang menghampiriku. Kami saling berpelukan sebentar.

“aigoo Donghae-ah. Sudah lama kita tidak bertemu. 2 tahun? 3 tahun?”, tanyanya dengan raut wajah sangat bahagia.

“3 tahun”, jawabku.

“coba kulihat… mmm… kau masih sama seperti dulu. Pria yang selalu tampil rapi tapi…kenapa wajahmu terlihat pucat?”, tanyanya.

“ahh…hanya sedikit kurang enak badan”, jawabku.

“kalau begitu kau tidak perlu memaksakan diri”, ucap Tiffany tidak enak hati. Aku menggelengkan kepala.

“aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin bertemu denganmu. Ku dengar kau baru bertunangan”, kulihat raut wajahnya langsung berubah.

“kenapa?”, tanyaku ketika melihat wajah sedihnya.

“tidak apa-apa. Aku hanya tidak ingin membahas tentang itu sekarang”, jawabnya kali ini sudah kembali ceria. Aku hanya mengangguk. Tiffany gadis yang akan menceritakan apapun jika dia merasa siap untuk berbagi cerita dengan orang lain.

“lalu bagaimana dengan is-“, aku dengan cepat menutup mulutnya dengan tanganku sebelum gadis itu sempat melanjutkan ucapannya. Disini pasti banyak wartawan. Bisa-bisa statusku yang sudah menikah akan menjadi Breaking New besok pagi. Aku tidak ingin orang tahu bukan karena isi perjanjian. Tapi lebih pada, aku ingin Yoona siap untuk menerima diriku dan orang-orang yang ada disekitarnya.

Tiffany melepaskan tanganku yang menutup mulutnya.

“maaf”, ucapku tidak enak hati sudah berbuat tidak sopan.

“tidak apa-apa. Hanya saja kalian ingin merahasiakannya?”, tanyanya heran dan aku hanya mengangguk menjawab.

“ini pasti permintaan dari keledai bodoh itu”, umpat Tiffany.

“keledai.. bodoh?”

“istrimu”, bisiknya. Aku keget Tiffany memanggil Yoona keledai bodoh.

“kenapa?”

“dia tipe pemalas. Tidak suka keluar dari kamarnya. Persis seperti keledai. Pelupa dan otaknya tidak bisa digunakan selain de..”, kulihat Tiffany menghentikan ucapannya ketika melihat kearah pintu masuk. Aku pun ikut melihat kearah yang sama. Aku melihat seorang pria yang beberapa kali menghadiri rapat pemegang saham di perusahaanku. Dia Nicholas, CEO HENNEY Corp. Sebenarnya bukan pria itu yang menjadi pusat perhatianku, tapi gadis yang datang bersamanya. Aku meremas jari-jari tanganku kuat. Mengepalnya disisi tubuhku. Walaupun dia tidak sampai bersentuhan atau bergandengan tangan dengan Nicholas, tapi tetap saja aku tidak terima. Kenapa dengan pria itu dia terlihat tidak ketakutan, sedangkan dengan ku – suaminya sendiri, dia ketakutan. Aku terus mengamati mereka berjalan sampai berdiri dihadapanku. Aku terus menatap Yoona, gadis yang datang bersama Nicholas. Kulihat dia terlihat seperti menghindari tatapanku. Dia hanya menatap Tiffany.

“kalian sudah datang ternyata”, ucap Tiffany. Aku beralih menatap Tiffany karena nada bicaranya sedikit berbeda. Seperti ada sesuatu yang ditahannya. Tiba-tiba aku teringat dengan tunangan Tiffany.

‘jangan-jangan, Nicholas ini tunangannya?’

‘apa karena Nicholas datang bersama Yoona?’

Aku mengerti jika yang dirasakannya adalah cemburu. Karena aku pun merasakannya sekarang. Istriku datang ke pesta dengan pria lain. Sialan!

“senang bisa berjumpa dengan anda lagi”, sapa Nicholas kepadaku sambil mengulurkan tangannya. Beberapa detik aku hanya menatap tangan itu, tapi kemudian aku menjabatnya sambil melayangkan senyum lebarku. Walaupun sebenarnya aku lebih ingin melayangkan sebuah pukulan di wajah pria itu yang sialnya sangat tampan. Aku yakin siapapun gadis yang melihat Nicholas, pasti langsung terpesona, tak terkecuali Yoona. Sialan!

Akhirnya aku menjadi membicarakan bisnis dengan Nicholas. Sedangkan Tiffany dan Yoona entah ada dimana. Aku tidak menyadari kepergian mereka tadi.

>>>>>>>

Author POV   

“akhirnya kau datang juga”, ucap Tiffany pada Yoona. Sedangkan Yoona hanya mendengus kesal.

“karena diancam”, balas Yoona. Dan terlihat setelah itu Tiffany tertawa atas kemenangannya.

“agar kau tidak terlihat seperti keledai bodoh, kau itu harus keluar dari rumah besarmu itu”, sindir Tiffany.

“tapi unnie… bagaimana bisa ada Donghae disini?”, tanya Yoona penasaran.

“tentu saja dia harus ada disini. Dia undangan Khusus”, ucap Tiffany dengan senyum cerah.

“undangan khusus?”, tanya Yoona tidak mengerti.

“butikku banyak menggunakan kain produksi dari BONGUAN. Dan selain itu, suami tampanmu itu adalah sahabat baikku semasa kuliah dulu”, jawab Tiffany sambil berbisik.

“benarkah? Wahh… berarti unnie tahu banyak tentang pria itu”, simpul Yoona.

“tentu saja. Ya selama dia masih belum berubah. Tapi kurasa dia masih sama seperti dulu. Tampan dan mempesona”, puji Tiffany.

“unnie… dia suamiku”, rajuk Yoona.

“cemburu?”, goda Tiffany.

“Tidak”

“bohong. Sebaiknya kau jangan menyia-nyiakan pria seperti suamimu itu. Tidak banyak pria baik seperti dia sekarang ini. Karena rata-rata pria dizaman sekarang ini brengsek”, nasehat Tiffany. Yoona hanya diam menanggapi.

“contohnya jangan datang ke pesta dengan pria lain”, sindir Tiffany. Yoona pun langsung tersenyum mendengar sindiran Tiffany.

“cemburu?”, kali ini Yoona yang menggoda Tiffany.

“tentu saja. Dia tunanganku”, balas Tiffany tegas.

“Unnie berlebihan. Kami hanya tidak sengaja bertemu di depan pintu masuk tadi”, ujar Yoona. Tapi tetap saja Tiffany merajuk. Yoona mungkin melihat Tiffany seperti tunangan yang kekanak-kanakan. Tapi jauh didalam lubuk hati Tiffany, luka yang diakibatkan tunangannya itu semakin menganga lebar.

“baiklah aku harus meninggalkanmu sebentar karena sepertinya sebentar lagi acaranya akan dimulai. Aku harus menyampaikan sedikit kata sambutan”, pamit Tiffany. Tapi gadis itu kembali kehadapan Yoona dengan raut wajah serius, membuat Yoona waspada. Tiffany terkadang bisa gila entah karena apa.

“jangan kemana-mana. Aku bisa melihatmu dari depan sana. Jika aku tidak melihatmu, siap-siap saja aku akan menyebutkan nama mu dari depan sana sehingga orang-orang akan tahu kebenaran yang selama ini disembunyikan BLESS ”, ancam Tiffany dan Yoona langsung mengangguk cepat. Tidak ingin mencari masalah dengan Tiffany.

“bagus. Bye~”, pamit Tiffany.

Yoona mengamati sekitar. Sangat banyak orang, membuat Yoona tidak nyaman. Ingin pulang, tapi Tiffany sudah mengancamnya. Jadi Yoona memutuskan untuk duduk disalah satu meja yang tidak berpenghuni. Yoona duduk disana sambil tetap waspada mengamati sekitarnya.

“akkmmm…. Terima kasih untuk semua undangan yang sudah datang…”, tiba-tiba suara Tiffany menggema diseluruh ruangan. Gadis itu sedang menyampaikan kata sambutannya. Yoona pun memusatkan perhatiannya pada Tiffany yang berdiri dengan dress panjangnya diatas panggung.

“maaf bisa saya bertanya sesuatu?”, tanya seorang gadis yang tiba-tiba duduk dihadapan Yoona. Yoona langsung mengerutkan kening merasa tidak mengenal gadis itu. Yoona memperhatikan gadis mungil dengan potongan poni yang sangat pendek dan juga kaca mata bulat yang membingkai wajahnya.

“kau…siapa?”, tanya Yoona datar.

“bukan siapa-siapa. Hanya gadis yang penasaran dengan siapa sebenarnya desiner yang membuat dress indah itu”, ucapnya sambil menunjuk kearah beberapa dress yang dipajang didepan estalase kaca. Yoona langsung merasa kesulitan bernapas. Gadis mungil itu pun langsung menyadari perubahan raut wajah Yoona.

“dan juga dress yang unnie pakai”, ucapnya dengan senyum polos. Yoona semakin gelisah karena sepertinya gadis mungil itu sudah mengetahui siapa dirinya. Tapi dari mana? Tidak ada yang tahu siapa Yoona sebenarnya.

“sebenarnya aku tidak ahli dibidang design. Hanya saja aku suka melihat sketsa-sketsa rancangan beberapa desiner. Dan ketika pertama kali dress itu dikeluarkan, aku mengamati secara mendetail setiap bentuk, jahitan dan ada satu keunikan yang mungkin tidak banyak orang yang menyadarinya. Dibagian perpotongan leher dan dada selalu terkesan menggantung. Hampir menutupi seluruh dada, tapi sebenarnya tidak. Seperti hanya ingin menutupi sesuatu. Mungkin tulang-tulang persambungan leher dengan bahu yang terlalu menunjul. Dress itu dikhususkan untuk wanita berbadan kurus dan tulang-tulang didada yang terlalu menonjol. Seperti unnie”, ucapnya dengan senyum senang bisa menyampaikan seluruh pendapatnya.

“a-apa yang kau katakan. Aku tidak mengerti”, Yoona berusaha menyangkal semua ucapan gadis itu.

“benarkah? Tapi dress yang unnie gunakan memiliki model yang sama. Dan aku belum pernah melihat dress yang unnie gunakan. Sebenarnya unnie kan desiner dress itu?”

“tidak”, jawab Yoona cepat. Karena terlalu cepat membuat gadis mungil itu semakin yakin jika ucapannya benar.

“tapi aku melihat unnie sempat berbincang-bincang dengan desiner Hwang tadi. Tapi unnie tidak perlu takut, aku tidak akan memberitahukan siapapun. Aku hanya penasaran saja”, ucapnya dengan senyum yang setelah Yoona perhatikan dengan baik setiap gadis mungil itu tersenyum, muncul dimple (lesung pipi). Membuat gadis itu semakin terlihat menggemaskan. Entah kenapa timbul keinginan Yoona untuk mengentuh dimple itu. Ingin memastikan seberapa dalam dimple itu tercetak dipipi gadis mungil itu.

_20170113_071905

“benarkan unnie desiner dress itu yang sebenarnya?”, ucapnya menyadarkanku dari kekaguman akan dimple gadis itu.

“a-aku sudah bilang tidak”, balas Yoona dengan nada pura-pura kesal, lalu beranjak pergi. Tidak ingin gadis itu semakin bertanya lebih banyak lagi.

“unnie tunggu dulu~”, panggil gadis mungil itu tapi Yoona tidak hiraukan. Yoona memutuskan untuk kemeja bar saja, meminta minuman.

“orange juice”, ucap Yoona pada pelayan yang ada disana. Gadis itu menunggu pesanannya sambil menatap sekeliling tapi tatapannya langsung mengarah pada Donghae yang sedang berjalan kearahnya dengan seorang gadis. Yoona mengerutkan keningnya ketika Donghae dan gadis itu sudah berdiri berhadapan dengannya.

“perkenalkan ini Jung Nara”, Donghae memperkenalkan Nara pada Yoona.

‘Jung Nara? Nara? Sepertinya aku tidak asing dengan nama itu’, pikir Yoona. Lalu diamatinya wajah gadis dihadapannya yang terlihat tegang. Yoona terus mengingat-ingat wajah gadis dihadapannya. Tiba-tiba Yoona membulatkan matanya, langsung mundur – beberapa langkah kebelakang.

Yoona kaget dan juga tidak menduga dia akan bertemu kembali dengan gadis bernama Jung Nara itu lagi. Donghae pun menyadari kelakukan Yoona yang memulai menunjukkan ketakutannya lagi. Tapi Donghae berpura-pura tidak melihatnya.

“kenapa? Kalian sudah saling mengenal sebelumnya?”, tanya Donghae dengan santai.

“Tidak”, ucap Yoona dan Nara bersamaan.

‘Dasar penghianat’, maki Yoona dalam hati.

‘sial! Kenapa aku harus bertemu Yoona sekarang. Aku harus segera pergi sebelum gadis bodoh ini membuka mulutnya lagi’, batin Nara

“ma-maaf sajangnim, saya harus segera pergi. Saya masih ada jadwal pemotretan malam ini”, ucap Nara dengan cepat, segera berlalu tanpa menunggu Donghae menanggapi ucapannya.

Donghae hanya diam mengamati kepergian Nara. Lalu beralih menatap Yoona yang mulai terlihat gelisah. Ketika hendak ingin berbicara dengan Yoona, seseorang sudah datang menyapa Donghae.

“Yak Lee Donghae… ternyata kau ada disini juga”, sapa Heechul sambil merangkul Donghae. Donghae langsung tersenyum menyambut pria itu.

“aku tidak tahu hyung diundang juga oleh Tiffany”, balas Donghae sambil sesekali melirik Yoona yang semakin terlihat ketakutan karena kemunculan Heechul.

“kau pasti datang kesini tidak seorang diri. Kau mengajak istrimu yang kau bilang cantik itu? dimana dia?”, tanya Heechul antusias. Aku pun langsung menoleh kearah Yoona yang jaraknya semakin menjauh dari kami.

“itu dia”, ucap Donghae sambil menunjuk Yoona. Heechul pun langsung memandang kearah telunjuk Donghae. Dan disaat itu juga seolah ada petir yang menyambar tubuh Heechul ketika melihat Yoona.

Heechul pun terlihat tegang disini Donghae. Donghae pun menyadari itu. Tapi tidak ingin berkomentar apapun. Dongae ingin menunggu sebentar lagi seperti apa reaksi Yoona.

“ahh… Hae… aku ketoilet dulu sebentar”, ucap Heechul tiba-tiba dan langsung pergi. Donghae hanya diam memandang Yoona yang terlihat seperti orang yang kehilangan arah.

Yoona melangkah secara berlahan menuju pintu keluar tapi dengan cepat Donghae mencegahnya.

“kau mau kemana?”, tanya Donghae sambil menatap mata Yoona yang terlihat kosong. Tatapannya tidak tentu arah.

“tunggu disini sebentar. Kita pulang bersama. Aku akan pamitan dengan Tiffany sebentar”, ucap Donghae lalu segera pergi mencari keberadaan Tiffany. Meninggalkan Yoona seorang diri.

Dengan pikiran kosongnya, Yoona tetap melangkah keluar dari gedung yang penuh dengan orang-orang tersebut. Sesekali tubuhnya menambrak orang-orang dan langsung membuat Yoona mengusap-usap tubuhnya seperti takut kuman menempel ditubuhnya akibat bersentuhan dengan orang lain. Yoona terus berjalan keluar dari area hotel dengan pikiran yang sudah melayang kekejadian masa lalunya.

Dilain sisi, ketika Donghae kembali ketempat dimana dia meninggalkan Yoona sendiri, tapi gadis itu sudah tidak ada disana, membuat Donghae kalut. Pria itu segera berlari keluar dari aula dan berpapasan dengan Taehyung.

“sajangnim..”

“kau melihat Yoona?”

“tidak sajangnim”

“bawa mobil dan ikuti aku dari belakang. Sekarang!”, ucap Donghae tegas. Lalu berlari mencari keberadaan Yoona. Setelah keluar dari area hotel pun Donghae tidak menemukan Yoona.

“Yoona… Kau dimana?”, teriak Donghae. Tapi tidak ada sahutan. Donghae belok kiri, dan berlari menyusuri trotoar jalan yang sepi. Dan tidak jauh darinya terlihat Yoona yang berjalan sempoyongan seperti orang yang mabuk. Donghae mempercepat langkahnya tapi hanya sebatas 3 meter dibelakang Yoona. Donghae mengikuti Yoona kemanapun gadis itu melangkah.

“AKKHHHH”, sesekali Yoona menjerit lalu menjambak rambutnya. Mendengar jeritan Yoona, seperti ada puluhan pisau yang menancap didadanya. Donghae merasa sedih dengan Yoona yang seperti itu.

“apa aku sudah keterlaluan Yoona? Apa aku terlalu cepat ingin tahu semua masa lalumu?’, guman Donghae.

Beberapa jam yang lalu , sebelum berangkat memenuhi undangan Tiffany, Donghae menerima email dari orang suruhannya. Terdapat sebuah file dan beberapa foto. Pertama-tama Donghae membuka file itu, membaca seluruh isinya. Mulai dari nama sekolah dan beberapa orang yang pernah dekat dengan Yoona semasa sekolahnya. Setelah itu Donghae membuka satu persatu foto itu. Di awal-awal hanya foto Yoona ketika melakukan olahraga disekolah dan juga berangkat sekolah. Tapi difoto berikutnya ada foto Yoona bersama beberapa gadis. Dan salah satu dari mereka adalah Jung Nara. Dan yang lebih mengejutkan Donghae adalah difoto terakhir. Difoto itu adalah foto selfie seorang pria dengan latar belakang Yoona seperti sedang berada ditaman sambil melukis disebuah kanvas. Ukuran Yoona sangat kecil difoto itu. Yang menjadi sorotan adalah pria difoto itu dengan ukuran wajah yang tercetak besar. Pria itu adalah Heechul.

Pada kenyataannya orang-orang yang pernah ada dimasa lalu Yoona, ternyata ada disekitarnya, membuat Donghae semakin pusing.

Sepanjang perjalanan hanya nama Jung Nara dan Kim Heechul yang ada dalam pikiran Donghae. Jika Nara dan Heechul mengenal Yoona, pasti mereka juga tahu dengan masa lalu Yoona. Terutama Nara yang terlihat sangat dekat dengan Yoona difoto itu.

Ketika diacara pesta tadi, Donghae memang tidak merencanakan untuk mengenalkan Nara pada Yoona, tapi melihat ada kesempatan untuk tahu lebih banyak tentang Yoona, membuat Donghae berpikir untuk mengenalkan model itu dengan Yoona. Dan sesuai dugaan Donghae, mereka saling mengenal, walaupun mereka menyangkalnya.

Dan soal Heechul, Donghae benar-benar tidak tahu jika pria itu ada dipesta itu. Karena kemunculan pria itu dan ekspresi Yoona yang semakin ketakutan, Donghae semakin yakin jika Nara dan Heechul ada sangkut pautnya dengan kejadian yang membuat Yoona seperti sekarang ini.

Donghae terus berjalan dibelakang Yoona, tapi tiba-tiba gadis itu terjatuh.

“Yoona..”, dengan cepat Donghae berlari menghampiri gadis itu. Ternyata Yoona pingsan. Donghae langsung menggendong tubuh Yoona, berbalik arah menuju hotel kembali, tapi suara klakson menyadarkan Donghae ternyata Taehyung sudah menyusulnya dari belakang. Dengan cepat Donghae menghampiri mobilnya, dan Taehyung langsung membukakan pintu belakang.

Dimobil Donghae hanya diam mengamati wajah Yoona yang terlihat pucat. Sesekali diusapnya wajah pucat itu. Sedangkan Taehyung sesekali melirik kaca spion untuk melihat keadaan Donghae dan Yoona dibelakang.

Yoona terbangun ketika Donghae sedang mengusap pipinya. Gadis itu pun langsung menjauh dari Donghae, hingga tubuhnya membentur pintu mobil cukup keras.

“ja-jangan menyentuh ku, ku mohon”, ucap Yoona dengan nada suara bergetar.

“tenanglah Yoona”

“tidak… kumohon. Hentikan mobilnya, turunkan aku disini”, ucap Yoona semakin tidak jelas. Donghae dan Taehyung semakin bingung dengan ucapan Yoona.

“tolong.. aku ingin pulang”, ucap Yoona lagi.

“iya.. kita akan pulang Yoona”, ucap Donghae sedikit keras, agar Yoona sadar dari kekalutannya. Sepertinya pikiran Yoona sedang bercabang-cabang. Bahkan dia seperti tidak mengenali Donghae.

“AKU MAU PULANG~”, teriak Yoona sambil meremas rambutnya.

“SIALAN”, maki Donghae. Langsung dikeluarkannya ponsel dari saku jasnya. Lalu menghubungi seseorang,

“CARI TAHU TENTANG JUNG NARA DAN KIM HEECHUL SEKARANG JUGA”, teriak Donghae pada orang diseberang sana dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.

“tidak… jangan… kumohon.”, pinta Yoona dengan wajah semakin ketakutan. Kali ini gadis itu sudah menangis memohon pada Donghae. Tapi karena amarah sudah lebih mendominasi perasaan Donghae, pria itu seolah tuli, tidak mendengar ucapan Yoona yang terus memohon.

Melihat dan mendengar keributan dibelakangnya, membuat Taehyung semakin mempercepat laju mobilnya.

‘Jung Nara? Kenapa sajangnim membawa-bawa nama Nara? Ada apa ini sebenarnya?’, pikir Taehyung dengan tetap fokus melajukan mobil dengan kecepatan penuh.

>>>>>>>

Sesampainya dirumah, Donghae langsung membuka pintu mobil disamping Yoona, memaksa gadis itu yang masih menangis, keluar dari mobil.

“tidak… jangan…”, hanya itu kata-kata yang Yoona ucapkan sepanjang perjalanan. Membuat Donghae semakin marah karena tidak mengerti apa yang Yoona ucapkan. Karena Yoona memberontak, dengan terpaksa, Donghae membopong tubuh Yoona kepundaknya, membawa gadis itu seperti sedang membawa karung beras. Yoona semakin berontak tapi Donghae tetap bertahan, membawa gadis itu memasuki rumah lalu menuju belakang rumah. Donghae tidak peduli dengan tatapan kaget dari para maid dan Han Ajumma. Donghae tetap berjalan menuju belakang rumah.

“buka pintunya”, perintah Donghae pada orang-orang yang mengikutinya dari belakang.

“AKU BILANG BUKA PINTUNYA” teriak Donghae karena tidak ada seorangpun yang melakukan perintahnya. Mendengar Donghae berteriak, membuat mereka semua ketakutan termasuk Han Ajumma. Seorang security membukakan pintu gudang itu lebar- lebar untuk Donghae.

“tidak… kumohon…Jangan … hiks hiks hiks”, ucap Yoona memohon sambil menangis, tapi Donghae benar-benar mengabaikannya. Donghae pun masuk ke gudang gelap itu, lalu meletakkan Yoona dilantai gudang. Setelahnya Donghae pergi meninggalkan gadis itu seorang diri didalam gudang itu, mengunci pintunya dari luar.

“TOLONG… KELUARKAN AKU DARI SINI”

“AKHHH…”

“TOLONG…. AKU TAKUT”, histeris Yoona.

Donghae tetap diam didepan pintu, mendengarkan semua jeritan Yoona. Han Ajumma datang menghampiri Donghae.

“Tuan…apakah ini tidak keterlaluan?”, ucap Han Ajumma hati-hati. Takut membuat Donghae semakin marah.

“aku sedang tidak ingin mendengarkan siapapun sekarang ini Ajumma. Kalian kembalilah bekerja atau beristirahatlah”, balas Donghae tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya dari pintu gudang itu. Hatinya seperti diremas-remas ketika harus melakukan ini, agar Yoona bisa mengeluarkan segalanya yang dia pendam. Jika memilih untuk egois, Donghae bisa saja langsung membuka pintu itu dan memeluk Yoona. Tapi ini semua Donghae lakukan demi kebaikan Yoona. Gadis itu harus membuka masalalunya agar dapat sembuh dari ketakutannya.

Han Ajumma pun tidak bisa berkata apalagi, wanita paruh baya itu langsung  menyuruh semua maid untuk kembali melakukan aktivitasnya. Han Ajumma hanya bisa mempercayakan semuanya pada Donghae saja walaupun menurutnya ini sedikit keterlaluan.

Setelah seluruh maid pergi, hanya terdengar suara teriakan Yoona yang meminta tolong.

“tuan..”, tiba-tiba suara seseorang membuat Donghae berbalik. Menatap maid yang masih diam disana menatap pintu gudang itu dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya.

“aku sedang tidak ingin mendengar apapun Eunji-ssi”, balas Donghae dingin.

“aku satu-satunya orang kepercayaan nona, tidak ada yang tahu itu. Aku tahu semua masa lalu nona. Dan kurasa Tuan juga sudah mulai mencurigai saya sejak Tuan memergoki saya didepan pintu kamar nona”, ucap Eunji.

“tapi Tuan kurasa ini sudah keterlaluan. Tuan tidak ada bedanya dengan Nyonya besar”, ucap Eunji sambil menatap Donghae dengan kebencian. Donghae kaget dengan sorot mata tajam itu.

“apa maksudmu?”, tanya Donghae.

“karena selalu gagal dalam terapi menyembuhkan phobia nona, Nyonya besar marah dan memasukkan nona kedalam gudang selama seminggu lebih. Bukannya sembuh, Nona semakin ketakutan…”, ucap Eunji berhenti sejenak lalu melanjutkan ucapannya.

“Tuan…. Nona takut gelap sejak kejadian dia dikurung digudang”, ucap Eunji.

“APA?”, ucap Donghae kaget dengan ucapan Eunji.

TBC

Jangan lupa komentarnya ya~

|26 Mar 2017|

Advertisements

32 thoughts on “After Married – 6

  1. KasMha PyrooLiers

    Nahkan udh mulai tercuat dipermukaan…
    Yoona, nara and si princess heechul …
    Anw yoong desaigner..hmmm…

    Anw tug taetae polos kaku ato apasih…hahha udh dblang jng katakan dri dia tp dri han ahjumma msh ajha keceplos ituu mulutt.. Type yg jujur 😀

  2. Sebenarnya kejahatan apa yang dilakukan jung nara dan kim heechul terhadap yoona sampai yoona punya phobia. Kasihan yoona. Bahkan eommanya juga keterlaluan pada anak sendiri. Lanjut baca yuk.

  3. Yuni krismawati

    Kok ngakak ya pas yoona bilang ini ‘apanya yang masih gadis belia yang cantik? Teriakannya saja sudah seperti seorang pendemo di depan istana negara”, ke tiffany wkwk
    Yoona seorang disainer?
    Donghae udah mulai tau masalalu nya yoona, uhh makin penasaran

  4. uly assakinah

    apa eunji tau masalalu yoona semoga aja kalo tau dia cerita’in ke donghae biar donghae tau cerita yang sebenarnya.

  5. ichus

    Kyaknya musuh Yoona juga bertebaran yah.. uh sedih.
    Eunji tolong bongkar semua yg kmu tahu ttg Yoona ke Donghae, biar semua jelas. Jadi Donghae juga bisa mengatasi tanpa ada kesalahan lagi. Yoona juga biar bisa hidup normal 😣

  6. sulistiowati_06

    kasian dongek sampek demam sama flu gara2 mayungin yoona sama jaketnya tapi dianya ujan2. belum full romance dari yoonhae nih. aigo ada hubungan apa jung nara sama yoona dimasa sekolahnya, trus gimana juga kok ada sangkut pautnya sam hecul. penasaran kok bisa sampek bikin yoona trauma gitu. kasian dikurung digudang yang gelap gitu yoona, untung dongek segera nyelametin dari trauma gelapnya. next part on the way

  7. Donghae bisa marah sampe segitunya yaa ..
    Dan baru tau juga kerjaan yg slama ini Yoona lakuin dengan sembunyi” itu ngedesain baju buat butik Tiffany ??? kirain apa abis misterius banget di awal hehehe
    Dan gak nyangka juga kalau Heechul sama Nara terlibat sama masa lalu Yoona ?? aku berharap Donghae segera beresin masalah itu .
    Taehyung juga kayanya kenal Nara ?? apa hubungan mereka yaa ???
    Trus soal Tiffany ,dia tunangan sama Nicholas kenapa kaya gak ada interaksi gitu dan Tiffany malah ngerasa luka yg di buat tunangannya makin dalam ???
    Aku ko takut masalah mereka saling berhubungan ,tapi yaudah di tunggu next nya lagi un semoga di next chapter bisa nemu YH moment kaya di chapter 5 waktu itu ^^

  8. yoonhaeina90

    Jd eunji yang dekat sama yoong ku kira
    mlh han ahjumma
    Hae kamu terlalu kasar sm yoong
    Tw klw tu maksud ny baik tp cara ny salah

  9. trywach

    coment ku masuk g ya ??
    heeemmm jd yoona itu designer,,,,
    nara_heechul_yoona dlu pnya hub apa ? Jangan” yg bkin yoona phobia anti sosial itu gra 2 mereka ber2,,,
    pi hae sudah menyelidiki mereka ,semga bsa bantuin yoona biar sembuh dr phobianya dsn bsa normal lgi ,,,
    knpa sich hae malah ngurung yoona digudang ,,,& aplgi yoona takut gelap !!!!!

  10. FITA

    Semiga masalalu yoona cepet terungkap, kasian diaaa. Mudah2an eunji ngasih tau semua rahasia yoona ke donghae, dan semoga yoona ga benci sama donghae te tang insiden dia dikunciin digudang sama donghaee. nextnya ditunggu banget thor

  11. Wow……. Keren…. Abis….
    Mungkin ini akan jadi chapter terfavorit. Soalnya keren banget…… Awal2 nya q ketawa, trus penasaran tingkat akut, trus pengin nangis. Penasaran banget kak….
    Apa hubungan yoona sama jung nara dan heechul. Kenapa tiffany sakit hati. Dan kayaknya yoona designer deh….
    Akhirannya bikin nangis aja, donghae tega banget sama yoona. Kayaknya yoona dah mulai suka sama donghae. Penasaran abis…. Sama next chap. Ditunggu ya kak. Semangat!

  12. Kasian yoona, sepertinya dulu dia di bulli sama haechul dan nara oke asaranpake banget sumpah semoga donghae bisa sedikit demi sedikit mengobati hati yoona supaya yoona terbuka sama haeppa di tunggu kelanjutannya fighting

  13. avrillia

    Wah donghae tega banget…. Adu aku makin penasaran nih unn… Ceritanya Daebakk… Banget… Next nya crpetan ya unn….

  14. Meliii

    Ternyata yang bkin yoona sprti itu si nara ama heechul tp mereka ngelakuin apa sampai2 yoona phobia sprti itu?
    Wah yoona kasihan di kurung di gudang😭😭

    Next chap please
    Fighting

  15. laylee

    oh jdi yoona tuh fhobia sma gelap.. donghae jahat banget ngurung yoona di gudang,, next kak jangan lama2 ya

  16. Husni Lailili Qurrahman

    Wah kasian yoong d kurung d gudang, ;( donghae tega amat sih.
    Semoga hae dpat menyembuhkan fobia ny yoong.

  17. Sfapyrotechnics

    OOOHH jadi nara ma heechul yg jdi pnyebab yoong anti sosial?? Huwaa knpa mereka mesti muncul lagi ?? Ayooo hae berantas kedua orng itu.. Dan ayo kluarin yoong lgi dri gudang.. kasiang😭😭 Jdi slma ini eunji kan yg jdi maid krcyaan yoong?? Kasian bnget yoong yg teriak ketakutan 😭😭 Trus fany ma tunangannya ada masalah apa?? Kok yoong deket ma tunangannya pany??

    Next kk.. Fighting!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s