After Married – 4

After Married

Author: Fi_ss

Tittle: After Married – 4 – Injury

Lenght: Chapter

Cast: Im Yoona and Lee Donghae

Other Cast: Kim Heecul, Tiffany Hwang, Nicholas, Jung Wheein, Kim Taehyung, Jung Nara, etc

Genree: Romance, married life, Family, etc

Rate : 17+

Author Note:

Sorry klo masih banyak typo. Jangan lupa komentarnya ya…

Happy reading & Leggo~

>>>>>>>

INJURY-

Donghae POV

Aku melangkah keluar dari dapur setelah Yoona kabur begitu saja setelah terjadi kesepakatan diantara kami. Dia sangat aneh tapi juga menggemaskan. Sebenarnya ada beberapa point dari isi perjanjian yang sebenarnya tidak begitu penting, bahkan point pertama, agar tidak mencampuri urusan pribadi satu sama lain, hanyalah bualanku saja.

Tidak mungkin aku tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh istriku sendiri. Kami sudah menikah. Tidak boleh ada rahasia lagi diantara kami. Terlebih lagi aku memiliki istri yang bertingkah sangat aneh, membuatku penasaran.

Beberapa hari yang lalu aku menyewa seseorang untuk mencari tahu tentang Yoona. Jadi, biarpun aku melanggarnya, isi perjanjian point 8, hanyalah hukuman bukan perceraian.

Ngomong-ngomong soal kata cerai yang keluar dari bibir mungil gadis itu, sempat membuatku kehilangan kendali untuk berteriak. Padahal aku sudah merencanakan sedari awal agar terlihat tenang dan lembut ketika berbicara dengannya. Tapi untunglah dia setuju isi point 8, jika melanggar akan kena hukuman.

Tidak akan ada perpisahan diantara kami. Aku janji itu!

Aku masuk kekamarku sambil melepaskan satu persatu kancing bajuku. Kemudian masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.

Beberapa hari ini terasa sangat melelahkan. Sedang ada proyek baru yang sedang ku jalankan di kantor. Karena ini adalah proyek pertama yang kujalankan di Korea, aku ingin semuanya berjalan lancar. Aku harus memantau semua pekerjaan mereka. Dimulai dari bagian produksi kain, lalu desaign, hingga tahap akhir, produk jadi yaitu sebuah karpet.

Beberapa hari ini pun aku jarang pulang ke rumah. Aku menginap di kantor dengan Kim Taehyung. Kami bekerja kerasa untuk meneliti laporan-laporan hasil produksi ditahun lalu hingga sekarang. Karena ditahun sebelumnya, perusahaan sudah pernah memproduksi karpet, tapi sayangnya tidak laku dipasaran. Aku ingin mencoba keberuntungan dengan memproduksinya kembali dengan perbaikan disana sini.

Memilih desain dan motif karpetlah yang paling sulit. Harus menyesuaikan pasaran terkhusus rumah tangga.

Tadi pagi pun dilakukan pepotretan seorang model untuk mempromosikan karpet itu. Aku harus kembali ke studio pemotretan pagi-pagi sekali untuk melihat hasil kerja mereka. Kim Taehyung sudah ada distudio itu karena memang dia kuperintahkan untuk tetap distudio sedari semalam, untuk mempersiapkan segalanya.

Jadilah aku menyuruh Taehyung mengirimkan seseorang untuk menjemputku. Soalnya aku tidak bisa mengemudi. Dan ketika jemputan datang, ternyata asisten Jung yang menjemputku. Dia adik sekaligus asisten dari model yang melakukan pemotretan, Jung Nara. Model ini sudah beberapa kali menjalin kerjasama dengan perusahaan BONGUAN yang ada dikorea. Begitulah yang kutahu tentang model itu dari hasil laporan yang diberikan Taehyung. Ketika bertemu untuk tanda tangan kontrak pun, model ini orang yang menyenangkan diajak bekerja sama. Ketika tadi, beberapa jam memantau jalannya pemotretan, semua berjalan dengan lancar. Jung Nara bekerja dengan sangat baik.

Lalu Kim Taehyung memintaku untuk pulang saja. Karena semuanya sudah hampir selesai, dia bisa mengontrol semuanya sendiri. Aku pun setuju. Karena sebenarnya aku pun merasa mulai tidak enak badan beberapa hari ini. Mungkin karena kurang istirahat.

Setelah selesai membersihkan diri, aku keluar kamar mandi dengan pakaian santai, celana pendek dan kaos oblong.

Aku keluar kamar menuju dapur untuk sarapan pagi yang sempat kulewatkan karena terlalu pagi keluar rumah. Belum ada maid yang mulai bekerja jam 4 pagi.

Sesampainya didapur, disana ada Han Ajumma sedang menata peralatan dapur.

“selamat pagi Ajumma”, sapaku.

“pagi Tuan”, balas Han Ajumma dengan sedikit membungkuk, memberi hormat.

“aku ingin coklat hangat dan roti saja Ajumma”, ucapku ketika melihat Ajumma mengeluarkan bahan makanan dari kulkas.

“baik Tuan”, balasnya, mengembalikan bahan makanan yang sempat diambilnya, kembali ke dalam kulkas. Lalu segera melakukan apa yang kuminta.

“aku belum sempat berbincang-bincang lagi dengan Ajumma tentang Yoona. Pekerjaanku sangat banyak”, ucapku memulai obrolan kami.

“saya mengerti Tuan”, balas Han Ajumma dengan senyum.

“jadi, apa yang ingin Tuan ketahui tentang nona?”, tanya wanita paruh baya itu.

“banyak. Tapi yang paling membuatku penasaran adalah sikap ketakutan Yoona. Dia ketakutan setiap melihatku dan semakin menjadi-jadi ketika aku semakin mendekatinya”, jelasku.

“bukan hanya Tuan yang diperlakukan seperti itu tapi semua orang terkhusus orang asing yang baru bertemu dengannya”, jawab Han Ajumma.

“apa? Bagaimana bisa? Apa dia memang sudah sedari dulu seperti itu?”, tanyaku tidak habis pikir dengan tingkah aneh Yoona.

“Tidak. Saya yang menjaga nona sedari kecil. Nona tidak seperti itu Tuan. Bahkan dulu nona selalu ceria dan bersemangat. Tidak tahu apa yang membuat nona menjadi seperti sekarang”

“apa dia dididik keluarga terlalu keras?”

“mmm… Nyonya besar mamang sedikit terlalu keras pada nona. Nyonya selalu memarahi nona jika melakukan hal-hal yang tidak disukainya. Ketika kuliahpun nona dimasukkan kesekolah bisnis, padahal nona tidak suka. Ketika menolak, nona akan habis-habisan dimarahi hingga nona menangis”, jelas Han Ajumma.

Aku tidak tahu kalau mertuaku orang yang cukup keras. Ketika bertemu di Ottawa, pada pertemuan keluarga, dia terlihat seperti seorang omma yang lembut. Tapi mungkin saja mertuaku seperti itu untuk mendidik Yoona agar lebih baik.

“tapi ku rasa, itu tidak sampai mengakibatkan Yoona seperti sekarang ini”, jawabku.

“Tuan benar. Karena ketika dimarahi Nyonya, nona hanya menangis, tidak sampai ketakutan”

“melihat Yoona seperti ini tidak ada tindakan dari orangtuanya?”

“sudah beberapa kali Nyonya membawa seorang psikiater, tapi tidak ada hasil. Mereka hanya mengatakan nona depresi, lalu memberi obat penenang. Tapi tetap saja tidak ada efeknya”

“apa telah terjadi sesuatu yang mungkin tidak ada orang yang tahu? Mungkin..trauma”, ucapku tidak begitu yakin. Ada perasaan takut dalam diriku jika memang telah terjadi sesuatu dengan Yoona dulu. Han Ajumma terdiam sejenak, seperti mengingat-ingat kembali kejadian dimasa lalu. Aku terdiam menunggu dengan perasaan takut.

“mmm… sebenarnya ada kejadian aneh yang terjadi dulu. Tapi saya tidak begitu yakin ini ada kaitannya dan kejadian itu hanya saya yang tahu, karena nona yang memintanya. Tapi karena Tuan adalah suaminya, Tuan berhak untuk tahu”, Aku mengangguk dengan penuturan Han Ajumma.

“dulu…kalau saya tidak salah, ketika masih senior high school, nona pulang kerumah malam hari dalam keadaan terluka. Dipipinya terdapat lebam dan baju sekolahnya sangat kotor”

“a-apa? Apa yang terjadi?”, tanyaku dengan terbata. Ada perasaan takut dalam diriku ketika menunggu Han Ajumma kembali melanjutkan ceritanya.

“saya tidak tahu pasti Tuan. Waktu itu yang saya tahu nona ada les tambahan disekolah, jadi nona pulang malam. Tapi entah mengapa tiba-tiba nona pulang lebih cepat dan dalam keadaan demikian. Nona terus menangis tanpa mengatakan apapun sambil saya mengompres lebam diwajahnya. Saat itu hanya ada saya dirumah, Nyonya dan Tuan dalam perjalanan bisnis ke Hongkong. Saya bingung harus melakukan apa, jadi saya putuskan untuk membiarkan nona untuk sendirian dulu tanpa memberitahu Nyonya dan Tuan. Setelah beberapa hari berlalu, nona menjadi aneh. Dia hanya diam dan terus melamun. Akhirnya karena sudah tidak tahan dengan sikap nona, dengan hati-hati saya bertanya”

“apa? Apa yang dikatakannya?”, tanyaku tidak sabaran. Entah mengapa aku memiliki firasat jika Yoona dilukai seseorang. Brengsek! Jika benar itu yang terjadi, sampai keujung dunia akan kucari mereka. Akan kubunuh mereka.

“nona hanya mengatakan dia terjatuh dari tangga sekolah”

“terjatuh? Han Ajumma percaya dengan ucapannya?”

“tentu saja tidak Tuan, luka lebam diwajah nona terlihat seperti bekas pukulan. Ahhh… saya sampai merinding ketika mengingat keadaan nona saat itu”, ucap Han Ajumma sambil menggosok-gosok lengannya.

“lalu tidak ada hal lain yang dikatakannya?”

“saya mengatakan pada nona jika saya tidak percaya jika nona terjatuh. Tapi nona berkata : ‘kumohon percayalah, walaupun pada kenyataannya Ajumma tidak percaya’. Saya bingung pada awalnya, tapi beberapa menit berlalu, saya akhirnya mengerti. Memang telah terjadi sesuatu, tapi nona ingin saya percaya saja. Saya menatap mata nona dengan berlinang air mata. Tergambar luka dan ketakutan dimatanya”, jelas Han Ajumma dengan mata berkaca-kaca. Aku terdiam kaku dengan kedua tanganku mengepal kuat.

Apa Yoona korban bully?

Atau dia berkelahi dengan teman-temannya?

Atau… dia… korban pelecehan seksual?

Aku langsung menggeleng cepat dengan pemikiranku. Tidak. Tidak mungkin Yoona korban pelecehan seksual. Aku tidak sanggup untuk dapat menerima jika memang Yoona mengalami itu.

“saya rasa apa yang Tuan pikirkan sama dengan saya”, ucap Han Ajumma tiba-tiba.

“tidak Ajumma. Tidak mungkin”, bela ku.

“saya juga tidak ingin berpikir demikian, tapi hanya kejadian seperti itu yang mengakibatkan trauma seperti nona”, jelas Han Ajumma.

Sebenarnya ucapan Han Ajumma memang ada benarnya. Yoona takut bertemu orang lain. Yoona takut bersentuhan dengan orang lain yang akhirnya menyebabkan dia menjadi anti-sosial. Hal seperti ini biasanya dialami oleh korban pelecehan seksual. Tapi…entah mengapa hati nuraniku berkata untuk tidak percaya. Tapi pikiranku selalu mengarah pada pelecehan seksual.

Ajumma apa yang harus kulakukan?”, tanyaku dengan menutup wajahku dengan kedua telapak tangan. Aku frustasi memikirkan kebenaran dibalik kelakuan Yoona.

“saya tidak tahu Tuan. Saya hanya bisa berpesan, jika memang Tuan menyayangi nona, jagalah dia. Percayalah Tuan, nona pasti berjuang mati-matian untuk menyelamatkan dirinya dari kejadian itu. Saya bisa melihatnya dari cara nona menatap saya waktu itu. Nona gadis yang baik dan berhati lembut. Walaupun yang terlihat sebaliknya.”, nasehat Han Ajumma.

Benar! Aku harus percaya sepenuhnya. Aku harus percaya Yoona masih menjaga dirinya dengan baik sampe sekarang, batinku mencoba meyakinkan bahwa Yoona masih menjaga dirinya untukku – suaminya.

“mmm…bagaimana jika Tuan mencari tahu tentang nona dimasa lalu”, saran Han Ajumma. Aku mengangguk setuju.

“aku sudah menugaskan seseorang untuk melakukan itu. Tapi ada baiknya jika saya menyuruhnya lebih fokus mencari tahu masa sekolah Yoona. Saya akan menghubunginya”, ucapku sambil mengeluarkan ponsel dari saku celanaku, kemudian menghubungi orang suruhanku.

“kau sudah mendapatkan sesuatu?”, tanyaku langsung ketika tersambung dengan orang yang kuhubungi.

“hanya sedikit Tuan. Karena nona lebih banyak dirumah setiap harinya”, balas seseorang diseberang sana.

“lalu apa yang sudah kau dapat?”

“saya hanya tahu dari security dirumah Anda, bahwa nona beberapa kali dalam sebulan akan keluar rumah seorang diri untuk menemui adik perempuan ibunya”

“maksudmu Tiffany Hwang?”, tanyaku karena aku tahu satu-satunya saudara mertuaku adalah gadis itu. Dia sahabatku ketika kuliah dulu, walaupun sebenarnya status kami berbeda. Aku suami keponakannya.

“benar Tuan. Tapi tidak ada yang tahu untuk apa nona bertemu dengan designer terkenal itu karena mereka selalu bertemu di restoran dengan memesan ruangan privasi. Bahkan saya sudah mencoba meminta rekaman CCTV diruangan yang pernah mereka gunakan, tapi sayangnya, mereka tidak mau memberikannya Tuan”, jelasnya. Aku menghela napas berat. Ternyata masih ada satu orang lagi yang mengetahui keadaan Yoona. Aku harus bertemu dengannya secepatnya

“tidak apa-apa. Sampai saat ini kerjamu sudah bagus. Hanya saja lebih fokuslah pada masa sekolahnya, terkhusus Senior High School. Cari tahu siapa saja temannya semasa sekolah, siapa orang yang dekat dengannya dan… kejadian lain diluar sekolah dan rumah. Cari tahu sedetail mungkin dan secepatnya”, perintahku pada orang itu.

“baik Tuan saya mengerti”, balasnya patuh. Aku pun memutuskan sambungan itu.

Aku terdiam dalam dudukku didapur. Menatap lurus kedepan, dengan tatapan tajam. Aku membayangkan bagaimana kehidupan Yoona selama sekolah dulu. Gadis itu pasti sangat tertekan.

Aku menyesal kenapa tidak sedari dulu aku kembali ke Korea. Walaupun aku tidak bisa langsung menyembuhkannya, tapi setidak aku bisa menemaninya melalui hari-harinya yang berat.

>>>>>>>

Hari ini event perkenalan produk baru perusahaan. Kami menyelenggarakannya disebuah aula hotel bintang lima yang ada dipusat kota. Setelah kerja keras semua tim kemarin, akhirnya kami bisa membuat event ini. Dan undangan yang datang pun sangat banyak dan respon mereka sangat baik. Beberapa wartawan dan media televisi terbaik diundang dalam event ini untuk meliput jalannya acara.

“apa semuanya berjalan dengan baik?”, tanyaku ketika Taehyung datang menghampiriku yang sedang menikmati minumanku bersama undangan lain.

“semua lancar sajangnim. Tapi beberapa wartawan ingin mewawancarai Anda sebentar”, ucapnya. Aku pun menatap kumpulan wartawan yang ada diruangan itu. Sebenarnya aku tidak suka diwawancarai. Karena biasanya para wartawan itu akan melebih-lebihkan informasi yang mereka dapat. Tapi karena ini adalah kemunculanku yang pertama selama di Korea, jadi aku mengangguk saja.

“ayo”, ajakku pada Taehyung setelah permisi pada undangan yang ada disekitarku.

Kudekati para wartawan yang sudah menyiapkan alat tulis, dan alat perekam mereka. Aku tersenyum menatap mereka.

Kim Taehyung memimpin mereka kesalah satu sudut ruangan, agar kegiatan wawancara ini tidak mengganggu para undangan untuk menikmati jalannya acara.

“selamat siang, Saya Lee Donghae, CEO BONGUAN Corp”, sapaku terlebih dahulu dan dengan cepat kilatan kamera langsung menyambar wajahku. Para wartawan itu sudah mulai meliput.

“Pertama-tama saya ingin mengucapkan selamat untuk kesuksesan acara event produk baru perusahan Anda”, ucap salah satu wartawan yang mengenakan kacamata.

“terima kasih”, balasku.

“boleh kami tahu, mengapa Anda memilih untuk memproduksi karpet lagi? Karena setahu saya, BONGUAN sudah beberapa kali memproduksi karpet dan bisa dikatakan hasilnya kurang memuaskan”, lanjut wartawan berkacamata itu.

“karena bagi saya kegagalan bukan berarti membuat saya berhenti untuk mencoba. Kegagalan adalah jalan saya untuk introspeksi diri untuk mengulangnya kembali hingga berhasil. Demikian juga dengan BONGUAN. Kami belajar dari kegagalan kami dimasa lalu. Oleh karena itu kami memproduksi karpet lagi”, ucapku dengan bijak.

“dan saya rasa BONGUAN sudah berhasil mengatasi kegagalannya”, ucap wartawan itu. Aku tersenyum menanggapi ucapannya.

“ohhh nona Jung Nara, bisa Anda bergabung sebentar. Kami ingin bertanya sedikit tentang event ini”, ucap seorang wartawan gendut kepada Jung Nara. Gadis itu kebetulan lewat.

Dia menatapku sejenak sebelum menyanggupi permintaan wartawan gendut itu. Aku menatapnya dengan senyum sebagai jawaban tidak apa-apa jika dia ingin bergabung.

Dia pun melangkah, berdiri disampingku. Kilatan jepretan kamera tiada hentinya dan semakin menjadi setelah Nara bergabung.

“bagaimana event ini Nara-ssi. Saya rasa Anda menjadi kunci dari keberhasilan produk baru BONGUAN ini”, ucap wartawan gendut ini.

“mmm, tidak juga. Anda terlalu melebih-lebihkan. Ini memang karena hasil kerja dari seluruh tim BONGUAN. Mereka bekerja dengan sangat baik. Saya merasa sangat terhormat ketika Tuan Lee memilih saya secara langsung sebagai model dalam promosi produk baru mereka. Ini merupakan suatu pencapaian yang akan saya kenang semasa karir saya”, jawab Nara tanpa ada keraguan dinada suaranya. Dia memang model yang profesional.

“benarkah Tuan Lee Anda sendiri yang memilih Nara-ssi sebagai modelnya?”, tanya wartawan lain.

“Ya benar. Ketika saya melihat riwayat karir Nara-ssi, saya langsung tertarik untuk bekerja sama dengannya”, balasku.

“saya ingin bertanya sedikit keluar dari konten, tapi saya selalu penasaran dengan kehidupan pribadi Anda Tuan Lee. Saya dengar ketenaran Anda tidak hanya sebatas karena Anda seorang pebisnis muda, tapi Anda juga sangat terkenal dikalangan kaum hawa. Terkhusus model-model yang pernah bekerja sama dengan perusahaan Anda. Saya rasa juga Anda dan Nara-ssi cukup dekat”, ucapnya dengan lancar tanpa rasa takut sedikitpun. Nara pun terlihat seperti salah tingkah dan sedikit malu. Ucapan wartawan tersebut bahkan memicu keributan diantara wartawan lainnya. Aku tidak suka jika sudah ada yang bertanya tentang kehidupan pribadiku. Aku ingin membantah ucapan wartawan itu dan menyatakan aku seorang suami. Aku memiliki istri. Tapi apalah daya, aku tidak bisa mengatakan itu, karena aku sudah berjanji pada istri cantikku.

“aku tidak tahu informasi yang Anda dapat dari mana sumbernya. Jika saya terlihat dengan seorang wanita, saya memang selalu diberitakan menjalin hubungan dengan wanita tersebut dan saya tidak pernah menyanggahnya karena bagi saya itu tidak penting. Tapi karena sepertinya beritanya semakin meluas, saya akan menegaskan bahwa saya tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun, saya masih seorang diri”, balasku dengan senyum lembut. Percuma marah-marah pada wartawan, yang ada nantinya bisa menjadi masalah yang besar.

Aku menatap Taehyung sebagai kode untuk menyelesaikan masalah ini. Pria itu pun mengangguk mengerti dengan tatapanku.

“maaf saya harus undur diri terlebih dahulu, karena saya harus menghadiri acara penting lainnya. saya rasa sekretaris saya bisa menjawab pertanyaan kalian selama masih berhubungan dengan event ini. Terima kasih”, ucapku sopan lalu beranjak pergi meninggalkan Taehyung dan Jung Nara yang masih dalam kerumunan para wartawan.

Aku melangkah keluar ruangan. Menatap jam tanganku yang menunjukkan pukul 5 sore. Aku harus pulang cepat. Ini hari sabtu, sesuai dengan isi perjanjian, waktunya berkumpul dengan keluargaku –  istriku.

Tapi bagaimana caranya aku pulang. Tidak ada seorang pun yang bisa diminta untuk mengemudi. Aku memperhatikan sekitar, tidak ada orang dilobby.

Ting~

Suara dentingan lift terdengar. Aku menatap kearah lift itu berharap seseorang muncul dari dalam lift itu. Ketika pintu lift terbuka, seseorang keluar  dengan senyum langsung terbit diwajahku.

>>>>>>>

“saya merasa  seperti supir Anda sajangnim. Ini sudah ketiga kalinya saya mengantar jembut Anda”, omel seorang gadis mungil dibalik kemudi. Aku terkekeh mendengar omelan asisten Jung, adik Jung Nara. Ya gadis mungil inilah yang muncul dari dalam lift tadi. Aku sangat bersyukur akan itu

“Nona Jung saya akan sangat berterimakasih jika Anda memang ikhlas mengantar saya”, ucapku dengan senyum cerah dibangku penumpang bagian belakang.

“ya baiklah saya ikhlas. Anggap saja ini sebagai balas budiku karena sajangnim sudah memberi kakak saya pekerjaan”, balasnya masih dengan nada mengomel.

“tapi ngomong-ngomong sajangnim, kenapa Anda pulang? Acaranya kan belum selesai”, tanya gadis mungil itu.

“mmm…ada seseorang yang mungkin sedang menungguku dirumah”, balasku santai.

“seseorang? Wanita?”, tanyanya heboh.

“kau bisa menjaga rahasia?”, tanyaku memastikan.

“Tentu! Saya sangat baik menjaga rahasia seseorang. Saya bisa mempertaruhkan nyawa saya untuk menjaga rahasia seseorang”, bela gadis itu. Aku tersenyum mendengarnya. Entah kenapa aku percaya saja.

“YA!”, ujarku singkat.

Hening. Tidak ada sahutan dari gadis yang masih fokus mengemudi itu.

“nona Jung, Anda mendengar sa-“

“WAWWW~”, serunya tiba-tiba.

“benarkah seorang wanita sajangnim?”

“mmm”

“sesuai dugaan saya. Tidak mungkin sajangnim meminta ingin cepat pulang jika hanya ingin menemui orang biasa. Dia pasti wanita yang sangat special sampai-sampai Anda rela meninggalkan pekerjaan demi dia”, ucapnya.

“Ya dia sangat special”, balasku. Memang betul Yoona sangat special. Dia istriku

“wahhh, saya iri dengan wanita itu”, ujarnya dengan seruan lirih.

“boleh aku bertanya sesuatu?”

“ya sajangnim”

“wanita yang akan kutemu ini sifatnya sangat kaku. Dia sangat pendiam dan mungkin pemalu”

“mmm, apa sajangnim sedang melakukan konsultasi cinta denganku?”, ucapnya menggoda.

“ya anggaplah begitu”, ucapku asal.

“sebenarnya cukup sulit untuk mendekati seorang wanita pendiam, tapi itulah tantangannya. Mmm..,sajangnim harus menciptakan moment-moment  yang bisa membuatnya terkejut sekaligus merasa terharu. Lambat laun dia pasti akan luluh juga”, saran gadis mungil itu.

“contohnya?”

“Anda bisa memberikan dia bunga atau hadiah”

“idemu cukup brilian, tapi ku rasa aku tidak bisa melakukan itu sekarang mengingat ini sudah hampir sampai rumah”

“benar juga. Ahhh… bagaimana dengan memasak?”, sarannya lagi. Sepertinya dia memiliki banyak ide. Dia gadis yang cerdas.

“memasak?”

“Ya, sajangnim bisa memasak?”

“mmm… sedikit”

“baguslah. Sajangnim bisa memasak untuknya. Buatkan dia masakan enak. Tidak perlu masakan yang berlebihan. Yang terpenting itu Anda memasaknya sepenuh hati, hingga dia bisa merasakan perasaan Anda dari masakan itu”, lanjutnya. Waww aku salut pada gadis ini. Ku rasa dia jauh lebih muda dariku, tapi sepertinya dia lebih banyak mengerti dunia percintaan.

“apa kau sekolah dijurusan filsafat”, tanyaku asal.

“hahahaha… Anda bisa juga melucu sajangnim. Aku tidak sekolah, aku hanya lulusan senior high School. Aku tahu itu semua karena aku sering membacanya dinovel-novel genre romance”, ucapnya sambil tertawa. Aku pun ikut tertawa, karena pertanyaan yang ku lontarkan memang terkesan bodoh.

Kami terus berbincang-bincang tentang apapun, terkhusus resep masakan yang gadis mungil itu ketahui. Aku sampai membuat note di ponselku untuk mencatat resep masakan darinya.

“kita sudah sampai sajangnim”

“mmm… terimakasih banyak. Kau sangat banyak membantuku.”, ucapku tidak seformal tadi. Karena aku merasa nona Jung bukan orang yang kaku. Dia terlihat sangat easy going.

“sama-sama sajangnim. Ku harap resep itu cukup bisa mencuri hatinya”

“kurasa ini akan berhasil mengingat ini resep darimu yang seorang ahlinya”, balasku sebelum beranjak dari dudukku.

“hehehe… maaf sajangnim, aku tidak bisa memasak kalau itu yang sajangnim artikan sebagai ahli”

“apa?”, seruku heran. Bagaimana bisa seorang yang tidak ahli memasak mengingat semua resep makanan sengat mendetail.

“aku hanya mengingat apa yang tertulis dibuku masak yang pernahku baca”, balasnya dengan senyum lebar.

“waw~”, seruku kagum.

“biar sajangnim tahu, aku adalah gadis dengan ingatan terbaik di negara ini”, bisiknya seolah-olah ucapannya itu adalah rahasia negara yang tidak boleh diketahui oleh orang lain. Aku tertawa mendengar ucapan nona Jung.

“baiklah aku akan mencoba resepmu nanti”

“semangat sajangnim, semoga berhasil”, ucapnya menyemangati.

Aku pun keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah. Terlihat beberapa maid masih bekerja menata beberapa perabotan rumah.

“Eunji-ssi~”, panggilku ketika melihat Eunji.

“ya Tuan?”, ucapnya ketika menghampiriku.

“dimana Yoona?”

“ada diruang santai Tuan, sedang menonton TV”

“mmm baguslah. Oh ya, tolong kosongkan bangunan utama. Kalian bisa kembali keruangan kalian sekarang”, ucapku memerintah.

“tapi Tuan kami..”

“tidak apa-apa. Kalian bisa istirahat”, ucapku cepat memotong ucapannya.

“baiklah Tuan”

“ohh katakana juga pada Han Ajumma. Aku ingin menggunakan dapur seorang diri”, ucapku menambahi. Dan Eunji hanya mengangguk dan pergi melakukan apa yang ku perintahkan.

Dengan santai aku melangkah menuju ruang santai yang tidak begitu jauh dari ruang tamu. Ketika masuk, yang pertama kali kulihat adalah belakang kepala gadis yang sedang duduk disofa panjang menghadap ke TV yang sedang menayangkan beberapa berita entertainment. Dia tidak menonton. Terlihat jelas karena gadis itu sedang menunduk.

Dengan hati-hati aku mendekatinya. Penasaran apa yang sedang dilakukannya. Ketika aku sudah berdiri dibelakang sofa, dia masih tetap belum menyadari keberadaanku. Dia terlalu asyik dengan ponselnya. Dia terlihat serius membuka beberapa artikel disana.

Aku menunduk hingga kepalaku tepat berada disamping kepalanya, diatas bahu kirinya. Dari posisi ini terlihat jelas artikel apa yang sedang dibacanya. Artikel yang gadis itu baca membuat tentang diriku, mulai dari profil, karir hingga gosip-gosip yang tidak benar.

“ckk.. ternyata dia seorang player”, gumamnya tapi dengan jarak ku yang masih belum disadari gadis itu, terdengar jelas gumaman itu.

“yang ini tidak benar. Aku tidak pernah berhubungan dengannya. Dan yang ini juga lebih tidak masuk akal. Aku tidak pernah tidur dengan gadis manapun”, ucapku santai sambil mengarahkan telunjuk kiriku kelayar ponselnya menunjukkan artikel yang mana saja yang tidak benar beritanya.

Karena tidak ada tanggapan dari Yoona, aku mengarahkan kepalaku kesamping, dan terlihatlah Yoona yang terdiam kaku dengan mata membulat, sepertinya dia sangat terkejut dengan keberadaanku yang sanagt dekat dengannya.

“hai~”, sapaku dengan senyum.

“AHHKKKK…”, teriaknya tiba-tiba tepat ditelingaku. Membuatku dengan cepat menjauhkah kepalaku darinya. Telingaku sangat sakit karena teriakannya.

“aish… bisakah kau tidak berteriak seperti itu. Aku bukan hantu”, ucapku kesal. Aku menatapnya yang sudah berdiri menjauh dari sofa.

“ka-kau… apa yang kau lakukan?”, ucapnya terbata.

“kau sedang mencari tahu tentang diriku, jadi aku hanya ingin memberitahumu mana artikel yang benar dan mana yang hanya gosip”, ucapku santai.

“ta-tapi kau… kau terlalu dekat. Kau… melanggar perjanjian”, ujarnya.

“apa? Aku rasa tidak. Isi perjanjian harus menjaga jarak. Dan yang tadi aku masih memiliki jarak dengan dirimu. Jika aku tadi sampai menyentuh mu barulah itu melanggar perjanjian. Tidak ada jarak dan terjadi skinship. Tapi nyatanya hal itu tidak terjadi”, belaku dengan santai.

Dia terdiam, tapi menatapku dengan kesal. Sedangkan aku hanya tersenyum lebar. Aku tersenyum karena aku melihat Yoona dengan ekspresi wajah yang baru. Tidak selalu kaku, dingin dan kosong. Kali ini raut wajahnya menunjukkan kekesalan. Ini jauh lebih baik. Yoona terlihat seperti lebih hidup.

“ngomong-ngomong ini hari sabtu. Waktunya kita untuk makan malam bersama. Ayo ke dapur. Aku akan memasakkan sesuatu untukmu”, ujarku melangkah menuju dapur.

“me-memangnya kau bisa.. memasak?’, tanya terbata. Dia berjalan dibelakangku.

“jangan meremehkanku. Aku bisa melakukan apapun”, balasku sombong. Aku mendengarnya mendesis jengah setelah aku mengucapkan kalimat terakhirku.

TBC

Jangan lupa like & komentarnya ya~

See U

|18 Mar 2017|   

Advertisements

27 thoughts on “After Married – 4

  1. KasMha PyrooLiers

    Sombong skli dirimu hae syng 😀
    baru ajha tau resep udh sombong minta dicium..eh?? Hhaa
    oklahh udh ada kmjuannn wlo yoongnnya msh jaga jarakk gtuu..
    Anw soal jarak hae bisa ajha ngeyelnya 😀
    taetae gemez akuu hhaa

  2. Iedhaaniyagirl ipethaa

    Ya ampun so have pinter banget. Msih heran ama yoong pngen cpwt tau ap pnyebabnya mudh2an bukan pelecehan sexsual

  3. uly assakinah

    jadi yoona trauma karena apa?? pelecehan seksual kah??
    semoga yoona mau cerita tentang masalalu dia ke donghae.

  4. Keren kak…
    Yoonhae makin ngegemesin aja. Tambah penasaran ama masa lalunya yoona. Donghae juga makin berani aja ngedeketin yoona, semoga aja yoona cepet luluh. Ditunggu next chap ya kak. Semangat…

  5. ichus

    Hahahaha kelakuan Donghae ya ampunn.. lucu bgt nih laki 😍 Usaha keras yah biar Yoona bisa nerima kmu sbg suami dan mulai terbuka.
    Mm ttg trauma Yoona, klo itu ttg pelecehan seksual mungkin iya. Tp aku yakin itu gk sampe diperkosa sih . Semoga aja lah

  6. avrillia

    Wah makin keren ceritanya un… Lebih banyak dong mement nya un…slnya biar lebih kesem sem baca nya…. Next ya un… Gomawo

  7. tryarista w

    jgn sampe yoona korban pelecehan sexsual,,,,
    cieeee donghae ,,,,,,
    msa dia g bsa nyetir sichhhhhh,,,
    heeem mkin bnyak moment yoonhae,,,,mkin sweet,,,

  8. sulistiowati_06

    mungkin iya yoona kena gangguan pelecehan seksual dulu, soalnya dia ga mau deket sama orang asing apalagi bersentuhan. tapi masih penasaran phobianya yoona kenapa dulunya. mudah2an dongek bisa ngasih support biar yoona ga phobia lagi. udah pingin yang ada moment romancenya yoona sama dongek. next part ditunggu authornim

  9. Aku baru tau kalau ada postan ff baru disini, btw berhubung aku baru tau dan langsung baca dari part 1 sampe 4 sekaligus jadi gak pph kan kalau aku koment itu sekalian disini biar simple aja tapi ntar” kalau di lanjut pasti insyaallah koment di setiap chapternya ko.. hehe
    Oh iya ngomongin soal ff nya aku suka, jalan ceritanya unik tapi bisa gk un kalau karakter Yoona nya jangan terlalu di bikin kaku dan dingin banget.. soalnya liat Donghae nya udag kaya yg friendly plus ramah banget jadi berasa kasian aja kalau sikap Yoona juga kalu gitu.. dan soal perjanjian aku gak terlalu setuju sama perjanjian yg gak ada yg boleh tau kalau mereka udah nikah kecuali keluarga.. itu biasanya yg bakal bikin orang salah paham soalnya tapi mungkin itu emang jalan ceritanya kali yaa jadi ya terserah yg buat aja itu cuma ganjelan di hati aja yg berasa pengen di ungkapin ^^
    di tunggu lagi nextnya un.. semoga di next chap ada skinship nya hehe #maksa

  10. Sfapyrotechnics

    Jdi hae nggk bisa nyetir?? Lalu yg cwe itu cmn model + adik asisten jung?? Huwaaa 😭😭 jd yoong wktu sma prnh dibully kah?? Cieee yg udh mlai ada pningkatan 😁😉

    Next kk.. fighting!

  11. laylee18

    jdi penasaran kejadian yg menimpa yoona hingga bisa berubah sikap kyak gtu.. semoga aja donghae cepet tau masalah yg dihadapin yoona.. next ditambahin lgi yoonhae momentnya kak.. fighting

  12. Aduh makin kepo baca part ini, sedikit demi sedikit sdh mulai terbuka knp sikap yoona jd seperti ini semoga apa yg dibayangin hae dan ha ahjuma tdk benar watir sama yoona. Tapi cukup lega karena yoonhae sdh ada moment lucu walaupun masih minim heheh semangat terus chingu di tunggu selalu kelanjutannya jgn terlalu lama ya dan ko bs dipanjangin lagi hihi mawar.com mianhe fighting chingu

  13. meliii

    Dikit2 kasus ny yoona yg anti sosial sama gak mau di sentuh itu mulai kebuka tp masih kepo dia kenapa wkwkw
    Dan hub donghae ama yoona dah mulai baik yeay
    Next chap please
    Fighting!!

  14. indira

    hae manis Bangt mau masakin Buat yoona, Jung nara kira2 ntar Bakal suka engga ya Sama hae kalaui ia kan gawat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s