After Married – 3

After Married

Author: Fi_ss

Tittle: After Married – 3 – Agreement

Lenght: Chapter

Cast: Im Yoona and Lee Donghae

Other Cast: Kim Heecul, Tiffany Hwang, Nicholas, Jung Wheein, Kim Taehyung, Jung Nara, etc

Genree: Romance, married life, Family, etc

Rate : 17+

Author Note: Hai ini chapter 3, silahkan dibaca dan maaf klo masih banyak typo ya~

Makasih yang udah ikutin dari chapter 1-2 dan udah kasih voment. Jangan pernah malas dan bosan ngikutin ceritanya ya, karena cerita ini memang panjang.

Jangan lupa juga komentarnya ya reader-nim…

Happy reading dan Leggo~

-AGREEMENT-

Yoona POV

Sudah seminggu berlalu sejak Donghae kembali ke Korea. Dan hubungan kami masih sama seperti orang tidak saling mengenal. Karena aku sebisa mungkin tidak berpapasan atau berkomunikasi dengannya. Seperti yang sudah ku rencanakan. Dan untungnya berjalan lancer.

Diminggu pertama aku memang beberapa kali bertemu dengannya tapi aku berusaha untuk segera menjauh. Kebetulan setiap kali kami bertemu dirumah, dia kedatangan tamu dari kantor atau sedang membahas pekerjaan dengan seseorang – mungkin asisten atau sekretarisnya. Jadi aku beruntung, ketika bertemu, Donghae dalam keadaan sibuk bekerja.

Tapi hal seperti itu hanya terjadi diminggu pertama. Di minggu kedua, aku sudah tidak pernah melihatnya dirumah. Awalnya kupikir karena memang waktuku keluar dari kamar mungkin bertepatan dengan Donghae berangkat kerja atau belum pulang. Tapi anggapan itu hanya bertahan beberapa hari. Karena penasaran akan keberadaan Donghae, hari ini aku berusaha bangun pagi-pagi untuk bisa menemukan pria itu. Bukan karena khawatir. Hanya ingin memastikan saja, pria itu masih tinggal dirumah ini atau sudah kembali ke Kanada. Jika dia kembali ke Kanada, aku akan bebas. Tapi jika dia masih ada di rumah ini, maka aku harus tetap bersembunyi.

Aku beranjak dari kamar tepat jam 7 pagi. Sebelum benar-benar meninggalkan kamar, seperti biasa terlebih dahulu memastikan pintu tertutup dan mesin pengaman pintu bekerja. Lalu aku menuruni tangga, menuju dapur.

Dengan langkah hati-hati aku menuju dapur sambil sesekali menoleh kesekitar, siapa tahu Donghae ada dibelakangnya atau diruang tamu atau dimanapun selain Dapur. Tapi memang keberadaan pria itu tidak ada disana. Karena tetap tidak melihat Donghae, aku semakin yakin pria itu ada didapur. Aku pun menuju dapur dengan mengendap-endap. Ketika sudah mencapai pintu, aku tidak langsung masuk, hanya mengintip saja.

Tapi aku tidak bisa melihat seluruh isi dapur yang terlalu luas jika hanya mengintip. Aku harus masuk kedalam agar bisa melihat keseluruhan isinya. Merasa keberadaan Donghae tidak ada di seluas mataku mengintip. Akhirnya aku memberanikan diri untuk masuk tapi masih melangkah dengan berlahan.

Tiba-tiba seseorang menyentuh punggungku dan dengan secepat kilat aku berbalik dan mundur hingga hampir terjatuh.

Ketika aku berhasil menjaga keseimbanganku, barulah aku bisa melihat siapa yang menyentuhku tadi. Dan disana sedang berdiri seorang maid dengan senyum lebarnya – tanpa merasa bersalah sedikitpun.

“apa yang sedang nona lakukan?”, tanya maid itu dengan polosnya. Tidak sadar jika aku masih dalam keadaan takut ketika dia menyentuhku tadi. Kupikir orang yang menyentuh punggungku tadi adalah Donghae. Tapi ternyada gadis tengik yang selalu membuatku kesal dan marah.

“aish… kau membuat ku hampir mati ditempat”, ujarku kesal. Tapi dia tetap tersenyum.

“habisnya nona mengendap-endap seperti seorang pencuri”, balasnya.

“bagaimana bisa kau berpikir aku mencuri dirumahku sendiri?”, ucapku semakin kesal. Dia maid dirumahku, tapi kenapa dia selalu berani berdebat denganku? Ckkk

“kan aku hanya mengatakan seperti pencuri nona. Bukan pencuri sungguhan. Nona jangan langsung marah seperti itu. Nanti kecantikan nona bisa luntur”, ucapnya menggodaku dengan tangan yang ingin mencolek daguku, tapi dengan cepat aku menghindar.

“ups~ maaf nona aku lupa, nona tidak bisa disentuh”, ucapnya polos tapi bagiku seperti ejekan.

“sudah! kau pergi saja bekerja, jangan menggangguku”, ucapku, mengusirnya.

“Nona yakin ingin mengusirku?”

“memangnya apa untungnya kau ada disini?”, balasku cuek. Tapi dia malah tersenyum lebar.

“karena aku ada informasi penting buat nona”

“tentang apa? Jika tidak benar-benar penting aku akan memotong gajimu atau memecatmu”, ancamku.

“ckkk… nona selalu mengancamku seperti itu”, rajuknya tapi aku menanggapinya hanya dengan mengangkat bahu.

“jadi apa informasinya? Cepat, aku tidak punya banyak waktu”, ucapku sambil mengedarkan pandanganku disekitar dapur. Siapa tahu Donghae ada disana sedang bersembunyi. Bodoh!

“ini tentang orang yang sedang nona hindari beberapa minggu ini, hingga saat ini mungkin lebih tepatnya”, godanya tapi aku terkesan santai saja.

“bisa keintinya saja?”, ucapku malas karena maid itu terlalu banyak membuang waktuku yang sangat berharga ini. Dia mendesah karena aku mungkin terlalu to the point.

“jadi… beberapa hari ini, Tuan muda jarang pulang kerumah”, ucapnya diawal. Aku mengerutkan kening penasaran kemana pria itu sampai tidak pulang ke rumah. Ingat, aku bukan khawatir. Hanya penasaran saja.

“tapi kemarin malam, Tuan muda pulang dalam keadaan sangat kacau. Bahkan Tuan masih mengenakan kemeja yang sama ketika terakhir kalinya dia berangkat dari rumah menuju kantor tiga hari yang lalu. Dan coba nona pikirkan. Kira-kira dimana Tuan muda selama tiga hari ini?”, tanyanya, aku hanya diam tidak menjawab walaupun dalam hati aku pun bertanya-tanya kemana pria itu selama tiga hari tidak pulang.

“hanya ada dua tempat yang paling memungkinkan”, ucapnya sambil mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf V.

“pertama…. Kantor. Mungkin Tuan banyak pekerjaan hingga harus menginap dikantor. Tapi kemungkinannya hanya 50%. Karena jika memang dikantor, Tuan muda pasti memiliki pakaian ganti dikantornya.”, simpul maid itu. Dan aku dengan bodohnya membenarkan itu.

“lalu yang kedua?”, tanyaku. Kali ini aku menjadi penasaran.

“yang ini mungkin yang terburuk. Tempat yang lain adalah …. Ho-tel!”, ucapnya mendramatisir. Aku mengerti mengapa dia mengatakan hotel secara berlebihan. Karena memang aneh rasanya seorang pria yang sudah menikah menginap di hotel sedangkan rumahnya masih dapat dijangkau.

“dan lebih parahnya lagi, Tuan terlihat sangat kacau, berantakan. Nona… apa jangan-jangan Tuan dihotel bersama dengan seorang wanita?”, ucapnya hati-hati bahkan terdengar seperti bisikan. Aku terkejut dengan kesimpulan yang diambil maid itu.

Apa benar Donghae bersama seorang wanita menginap dihotel? Brengsek!

Jika benar, maka dia berselingkuh. Ada perasaan tidak terima dalam diriku. Kemarin pria itu bahkan menuduhku membawa selingkuhan ke rumah. Tapi lihat sekarang apa yang dilakukannya. Dia yang sedang selingkuh.

“ekhmmm…. sepertinya ada yang cemburu”, goda maid itu. Sadar jika aku yang sedang digoda. Segera menatap maid itu tajam.

“aku tidak akan pernah cemburu dengan orang yang tidak kukenal”, ucapku tegas.

“ya ya ya… nona tidak mungkin cemburu. Karena nona tidak mengerti hal-hal seperti itu”, ucapnya mengejek. Maid ini benar-benar tidak takut sedikitpun padaku, walaupun aku sudah menatapnya tajam. Sial!

“kau-“, belum sempat aku mengatakan apapun, maid itu kembali berkata.

“dan nona tahu, tadi pagi-pagi sekali, sekitar jam 4 pagi, Tuan muda sudah pergi entah kemana. Tapi anehnya Tuan tidak dijemput oleh sekretaris Kim”, ucapnya berbisik.

Sekretaris Kim?

Apa yang dimaksud pria yang selalu berada disamping Donghae? Pria kaku itu?

“Tapi yang menjemput Tuan adalah seorang wanita”, lanjutnya. Kali ini aku tidak bisa menyembunyikan wajah kagetku.

Pria itu benar-benar brengsek!

Aku terus memaki-maki pria itu dalam hati. Pria itu perlu diberi pelajaran sepertinya. Tapi… bagaimana caranya? Melihatnya saja aku tidak memiliki keberanian.

Aku benar-benar kesal karena tidak bisa membalas perbuatan Donghae.

“ekkkmmmm….”, tiba-tiba suara seseorang mengejutkan kami. Dengan cepat aku dan maid itu menatap kearah asal suara itu.

Disana berdiri seorang pria dengan menyandarkan tubuhnya pada pintu dapur yang terbuka. Aku menelan saliva ku dengan susah payah. Karena orang yang menjadi objek perbincanganku tadi adalah pria itu. Lee Donghae ada di sana. Bagaimana ini? apa aku harus lari lagi. Tapi bagaimana aku bisa lari jika pria itu sedang berdiri dipintu – satu-satunya jalanku bisa keluar dari dapur ini. Sial!

“apa kalian sedang membicarakanku?”, tanyanya. Aku dan maid itu secara bersamaan menggelengkan kepala.

“aku sudah berdiri disini sejak 3 menit yang lalu. Kalau aku tidak salah dengar, kalian membicarakan ku yang dijemput seorang wanita tadi pagi-pagi sekali”, ucapnya sambil menatap kami bergantian.

Matilah aku. Donghae mendengar apa yang sedang kami bicarakan. Apa yang harus ku lakukan. Aku ingin menjawabnya, tapi aku malah seperti orang bisu. Tanpa ku sadari aku melangkah mundur.

“KAU DIAM DISANA YOONA!”, tiba-tiba suara Donghae menggelegar didapur itu. Membuatku tersentak kaget bahkan beberapa detik aku seperti tidak bisa bernapas. Aku akhirnya terdiam kaku karena Donghae menatapku tajam.Tubuhku bahkan mulai bergetar lagi.

Tidak! Jangan sekarang. Ku mohon, aku berusaha mengendalikan tubuhku, tapi sangat sulit rasanya.

“dan kau…kembalilah bekerja”, lanjutnya memerintah maid yang sepertinya sama takutnya denganku.

“ta-tapi Tuan-”

“apa kau tidak mendengar?”, Donghae terlihat semakin menatap tajam karena maid itu berusaha menentang Donghae.

Maid itu berbalik menatapku dengan perasaan bersalah, mungkin karena harus menuruti perintah Donghae. Aku menggeleng dengan cepat. Seolah meminta maid itu untuk tetap didapur. Aku tidak akan sanggup menghadapi Donghae seorang diri didapur ini. Tapi aku kecewa ketika maid itu malah mengacungkan kedua tangannya yang dikepal didepan dadanya, menyemangatiku dengan bibir yang bergerak mengucapkan ‘semangat’ tanpa suara. Lalu maid itu keluar dari dapur.

Rasanya aku ingin menangis sekarang ini. Aku tidak akan bisa menghadapi ini seorang diri.

Setelah memastikan maid itu sudah pergi, Donghae melangkah masuk sedangkan aku dengan cepat mundur. Merasa aku semakin menjauh, Donghae pun akhirnya berhenti dengan hembusan napas berat.

“ok.. ok.. aku tidak akan mendekatimu”, ucapnya menyerah dengan kedua telapak tangannya diangkat keatas. Aku sedikit merasa lega, tapi masih tetap waspada. Siapa tahu Donghae hanya berbohong. Ketika aku lengah dia bisa saja akan mendekatiku lagi.

Lalu Donghae menarik satu kursi yang paling ujung yang ada dimeja makan. Duduk disana menatapku dengan dagu yang bergerak menunjuk kearah kursi yang ada di seberangnya.

“aku bukan orang jahat. Aku suamimu”, ucapnya kesal karena aku hanya membalasnya dengan gelengan kepala.

“aku hanya ingin bicara sebentar. Tidakkah kau merasa hubungan kita ini aneh? Lalu sampai kapan kau akan selalu bersembunyi dariku?”, ucapnya dengan pertanyaan beruntun.

Aku bingung harus menjawab apa. Jantungku berdegup dengan sangat kencang dan tubuhku masih bergetar.

“ok… jika kau tidak ingin duduk. Kau bisa tetap berdiri disana”, ucapnya dengan lembut. Mungkin sudah menyerah memaksaku.

“Begini… kau sudah tahukan aku suamimu. Walaupun dulu kita sudah pernah bertemu ketika kita masih terlalu muda, tapi kurasa kau tidak mengingatku, begitupun denganku. Yang ingin ku bicarakan adalah… kita pasangan suami istri. Tapi sayangnya hubungan kita tidaklah seperti hubungan suami istri pada umumnya. Tapi aku tidak akan mempermasalahkannya selama kita bisa saling menjaganya”, ucapnya panjang lebar.

Saling menjaga?aku tidak mengerti, batinku.

“aku tidak tahu apa yang membuatmu begitu ketakutan ketika melihatku dan takut bersentuhan dengan orang lain. Tapi kau tenang saja, aku tidak akan bertanya apapun tentang itu. Itu privasimu, aku tidak akan menggangu privasimu, tapi ku harap kau pun demikian”, lanjut pria itu. Aku merasa lega mendengarnya. Karena privasikulah yang paling penting dari semua.

“tapi.. ada syaratnya”, ucap Donghae membuatku kembali waspada.

“a-apa?”, ucapku terbata.

“akhirnya kau mau mengeluarkan suara emasmu itu”, ucapnya menyindirku. Aku hanya diam walaupun aku merasa tersinggung.

“kita akan membuat perjanjian secara tidak tertulis. Isi perjanjian yang pastinya tidak akan merugikan satu sama lain”, lanjutnya.

Perjanjian? Sebenarnya apa yang sedang Donghae bicarakan? Aku tidak mengerti.

“karena kau hanya diam, aku anggap kau setuju”, ucapnya sesuka hati. Padahal aku masih berpikir perjanjian apa yang sedang Donghae bicarakan. Aku masih tidak mengerti. Tapi pria ini seolah tidak peduli dengan kebingunganku.

“isi perjanjian ada 8 point. Kita akan membagi rata. Dimulai dariku. Yang pertama, tidak akan ikut campur dengan urusan pribadi masing-masing. Kau setuju?”, tanyanya. Aku mengangguk dengan cepat, karena itu adalah point yang sangat penting.

Bahkan setelah mengerti jika perjanjian ini akan membuatku bisa kembali melakukan aktivitasku dengan nyaman, membuatku memikirkan banyak hal agar tidak berinteraksi dengan Donghae.

“Sekarang giliranmu”, ucapnya menyadarkanku dari lamunanku.

“mmm…ha-harus menjaga jarak jika bertemu dan tidak boleh melakukan skinship”, ucapku cepat dengan satu tarikan napas. Donghae mengangguk menyetujui.

“ok… point ke empat adalah ti-“

“point tiga”, ucapku, memotong ucapannya ketika dia salah menghitung.

“tidak. Kau sudah menyebutkan point dua dan tiga tadi”, jawabnya.

“tidak… aku hanya menyebutkan satu point tadi”, balasku tapi Donghae menggeleng dengan senyum miring.

“point dua, harus menjaga jarak jika bertemu. Point tiga, tidak boleh melakukan skinship. Kau tadi menyebutkan dua point”, jelasnya. Kembali mengulang ucapanku namun dengan memisahkannya menjadi dua kalimat.

Sialan! Aku tertipu. Dia sangat licik ternyata.

Bahkan sekarang dia menatapku dengan senyum mengejek, penuh kemenangan. Aku sangat kesal karena kebodohanku. Entah kemana perginya rasa takutku tadi. Karena kini yang ada aku dipenuhi dengan amarah.

“point empat, harus saling menghormati. Contohnya, karena aku lebih tua darimu, ada baiknya jika kau memanggilku ‘oppa’.”, Donghae tersenyum lebar ketika mengucapkan point ke empat. Bahkan aku sampai merinding melihat senyumnya.

Oppa?Yang benar saja? aku tidak pernah memanggil oppa kepada pria lain selain tunangan bibiku

Tapi jika aku menggunakan dua syarat lagi, yang bisa membuatku tidak harus berbicara dengan Donghae, maka akupun tidak harus memanggilnya ‘oppa’. Baiklah, aku akan menyetujui point empat ini.

“point lima… tidak ada yang boleh tahu kita suami istri selain keluarga dan orang dirumah ini”, ucapku cepat menyela Donghae yang ingin mengatakan sesuatu.

Kulihat dia terdiam sesaat. Sepertinya dia tidak setuju. Tapi tiba-tiba pria itu menganggukkan kepalanya – setuju.

“Point enam dan tujuh, setiap hari sabtu harus bertemu dan menceritakan keseharian masing-masing dalam seminggu yang sudah berlalu”

Apa? Jadi, ada hari yang diharuskan untuk bertemu dan harus menceritakan keseharian selama seminggu yang sudah berlalu? Ckkk… ini sama saja dengan syarat yang ku tentukan tidak berarti apapun. Kami tetap berinteraksi walaupun tidak setiap hari, Tapi bagiku itu tidak ada bedanya. Intinya kami tetap berinteraksi. Aku tidak mau.

Aku menggeleng tidak setuju. Ku lihat dia menghembuskan napas berat, tapi tidak kaget dengan penolakanku seolah dia tahu aku pasti akan menolak isi point enam dan tujuh itu.

“tenang saja. kembali kepoint pertama, tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing. Privasi. Jika kau merasa tidak perlu menceritakannya, maka kau jangan lakukan. Ceritakan saja hal sepele yang kau lakukan. Seperti kau yang terlambat bangun, atau kau memarahi salah seorang maid, atau apapun yang ingin kau ceritakan”

Ok, alasan Donghae cukup bisa dipercaya. Tapi apa yang harus kulakukan jika kami bertemu setiap hari sabtu? Sedangkan aku tidak bisa bertahan terlalu lama dalam jarak yang dekat dengannya.

“Dan soal hari sabtu, tenang saja. Kita tidak akan melakukan skinship, walaupun sebenarnya aku ingin melakukannya”, ucap Donghae menggoda. Aku dengan cepat memeluk diriku sendiri dengan menatap pria itu tajam.

“hehehehe…. Kau tenang saja. Kita hanya makan malam bersama, didapur ini dengan posisi duduk yang berjauhan. Aku disini dan kau diujung sana”, tambah Donghae sambil menunjuk posisi dirinya dan posisi kursi diujung-seberangnya.

“ok… sekarang point terakhir”, ucapnya menatapku. Menunggu apa yang ingin kuucapkan. Aku memilin baju tidurku, mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan point terakhir.

“ke delapan, Jika… jika salah satu diantara kita ada yang melanggar salah satu isi perjanjian, maka…kita…berpisah saja”, ucapku terpenggal-penggal, entah kenapa aku terlalu gugup mengatakan kalimat terakhirku.

“APA?”, teriak Donghae dengan nada suara meninggi.

“ma-maksudmu… ce-cerai?”, ucapnya terbata. Aku pun mengangguk tidak begitu yakin sebenarnya. Cerai yang ku inginkan. Tapi sungguh aku tidak sanggup jika ada Donghae berkeliaran disekitarku. Jadi aku harus mencari cara agar Donghae melanggar perjanjian.

“TIDAK. KAU KIRA PERNIKAHAN SEBUAH PERMAINAN? KAU GILA. AKU TIDAK SETUJU”, ucap Donghae marah. Dia menakutkan ketika sedang marah seperti sekarang. Sorot matanya tajam seolah-olah dapat menembus apapun yang dilihatnya.

“ka-karena itu, jangan melanggar perjanjian”, aku berusaha membela diri.

“tidak. Aku tidak setuju. Walaupun tidak ada satupun diantara kita yang menginginkan pernikahan ini, tapi aku sudah bertekat hanya akan menikah sekali seumur hidup, jadi aku tidak ingin bercerai. Kau harus pikirkan syarat yang lain”, ucapnya dengan cepat.

“Bagaimana jika ada yang melanggar, akan terkena hukuman. Menuruti apapun yang diminta oleh yang tidak melanggar. Bagaimana?”, tawar Donghae.

“apapun?”, tanyaku ketika mendapat ide baru jika memberi hukuman untuk Donghae jika pria itu melanggar perjanjian. Menghapus point enam dan tujuh

“ya apapun, selain cerai”, jawab Donghae dengan tegas.

“ba-baiklah”, ucapku setuju.

“bagus kalau begitu ki-“, aku segera melangkah dengan cepat kearah pintu tanpa menunggu Donghae selesai bicara. Ini karena pria itu tiba-tiba beranjak dari duduknya, membuatku takut dia mendekatiku.

“aku pergi~”, ucapku dengan cepat berlari menuju kamarku.

TBC

Jika kalian berpikir mereka seperti kawin kontrak, maka aku langsung jawab aja. TIDAK.

Ini hanya trik Donghae agar bisa mengenal dan mengendalikan Yoona.

Ok, jangan lupa komentarnya ya…

Sampai ketemu hari sabtu/minggu~

|16 Mar 2017|

Advertisements

29 thoughts on “After Married – 3

  1. KasMha PyrooLiers

    Itu trikmuu ajhakan hae…hhaa
    nahh tuh han ahjummah blum cerita gtu soal keanehan yoong? Ato crta tp cmn sbtas ‘gak bisa skinshp’ hoo ayolahhh pnsrann tngkatt himalayaaahh maahh akuu iniii:D

  2. Iedhaaniyagirl ipethaa

    Masih heran bin penasaran ama so yong kok trauma ama sntuhan, dn apa yong punya kekasih ak Baca part Sbelumny kayaknya so yoong pnya kekasih

  3. uly assakinah

    semoga aja yoona mau berbuka dengan donghae dan tidak terlalu tertutup, biar mereka bisa deket….

  4. ichus

    Yaampuunn Yoona Yoona.. punya suami ganteng gtu kok y di sia sia in. Susah hloh itu nemunya 😁
    Donghae emang cerdas yah.. cara buat mengenal istrinya sendiri bner2 jempol deh.. Good Good

  5. tryarista w

    kok mkin pendek dri part pertma sichhhh,,,,,,,,
    kyaknya,,,,,,donghae jtuh cinta pd yoona nichhh,,,
    mkannya dia bkin perjnjian sma yoona hhhh,,,
    aplgi dia langsung marah saat yoona mengtakan poin yg terakhir minta pisah ckckckckck

  6. haru yoonhae

    Masih penasaran kenapa yoona takut di sentuh org… Apa dia pernah dapat tindakan pelecehan, pembullyan atau penganiayaan yg membuatnya trauma…. Ditunggu next chap.nya…

  7. sulistiowati_06

    good boy, usahanya dongek buat nyari cara ngedekitin yoona emang sip. tapi bakalan ragu kalo mereka ga bakal ngelanggar salah satu persyaratannya, bisa aja mereka nanti saling jatuh cinta trus terjadi skinship. kira2 sifat yoona yang ga mau terjadi kontak sama orang baru kenapa ya? masih penasaran. ditunggu next chapnya authornim

  8. Bagus kak…
    Yoonhae lucu deh. Sampe bikin syarat segala. Jadi penasaran kenapa donghae gk pulang dan dijemput sama perempuan lain. Semoga di next chapter terjawab semua pertanyaannya. Ditunggu next chap ya kak. Semangat!!

  9. Lina Indri

    Kyaknya donghae udh mulai trtarik sma yoona dngan buat prjajnjian sma yoona next eon di tunggu ☺

  10. Sfapyrotechnics

    Aigoooo lama2 yoong pnya ketertarikan sndri ma hae meski dia sllu nyangkal :v Hae sabar(?) amat hdpin yonng yg sllu ngehindar :v tpi dgn adanya ide ini lmyan buat mrk dkt prlhn :v Next kk.. Fighting!!

  11. Donghae pinter ide yg cukup cemerlang mengingat sikap yoona seperti itu mungkin ini salah satu trik agar mrk bs berkomunikasi walaupun hanya sabtu minggu lumayanlah dari od tdk sama sekal hehe daebak gimaeo sdh update chingu fighting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s