After Married – 2

After Married 

Author: Fi_ss

Tittle: After Married – 2 – Hidden

Lenght: Chapter

Cast: Im Yoona and Lee Donghae

Other Cast: Kim Heecul, Tiffany Hwang, Nicholas, Jung Wheein, Kim Taehyung, Jung Nara, etc

Genree: Romance, married life, Family, etc

Rate : 17+

Author Note: Baru sadar setelah baca chaper 1 banyak banget typo, padahal aku udah baca ulang sebelum nge-postingnya. Padahal mata aku udah 4 tetap aja bisa kelewat typonya. Hehehe… maaf ya buat kalian gak nyaman bacanya. Udah aku perbaiki tadi. Dan tadah~ chapter 2 udah muncul nih. Silahkan dibaca dan diperhatiin dari sudut siapa chapter ini dibuat. Setiap chapternya berganti-ganti sudut pandangnya. Jadi harus diperhatikan biar gak salah paham~

Ok itu aja, jangan lupa like & komentarnya ya~

Sorry klo masih banyak typo

Happy reading and Leggo~

>>>>>>>

– HIDDEN –

Yoona POV

Aku terbangun dari tidurku terlalu pagi. Ini bukanlah jam bangunku. Padahal aku baru tidur pukul 4 pagi. Bahkan aku sampai tertidur dimeja kerjaku. Jam dinding dikamarku menunjukkan pukul 7 pagi, yang mana ini menyatakan bahwa aku hanya tertidur selama tiga jam saja. Tapi entah bagaimana aku bisa bangun sepagi ini. Kuregangkan otot-otot tubuhku yang pegal. Tertidur dalam keadaan terduduk dan kepala yang tergeletak diatas meja, membuat tubuhku seperti mati rasa.

Kulihat sekitar kamarku. Sangat luar biasa berantakannya. Disegala tempat perserakan kertas dan kain-kain. Tapi aku tidak terkejut. Ini sudah menjadi hal biasa bagiku. Melihat kamarku yang lebih pantas dikatakan gudang ini. Mungkin bila orang lain masuk ke kamarku akan menganggapku sebagai gadis yang kotor dan berantakan. Tapi aku tidak peduli dengan itu. Karena hanya ada aku dikamar ini. Tidak ada yang pernah masuk ke dalam kamar ini, dan mengetahui apa yang aku kerjakan dikamar ini selain salah seorang dari maid dirumah ini. Maid yang satu-satunya dapat ku percaya sekaligus yang paling sering membuatku marah karena selalu menggangguku ketika bekerja.

Tiba-tiba aku merasa lapar dan haus. Ku raih gelas minumku diatas meja, dan sialnya kosong. Dengan terpaksa aku bergerak keluar untuk mengisi perutku yang keroncongan. Ku raih benda paling berharga dalam hidupku – ponselku. Tidak ada yang lebih penting dari ponsel. Hanya benda persegi itulah satu-satunya yang dapat mengatasi keterbatasanku.

Kurapikan sedikit kamarku. Mengumpulkan sampah yang berserakan menjadi satu tempat dan juga pakaian kotorku yang ada didalam keranjang. Kutarik keranjang pakaian kotor itu dan juga kantong sampah itu keluar dari kamarku. Lalu meletakkannya disamping pintu luar kamarku.

Sebelum beranjak menuruni tangga, aku memastikan terlebih dahulu pintu kamarku tertutup dengan baik dan mesin pengaman pintu kamarku berfungsi.

Mesin pengaman!

Jangan heran jika kamarku memiliki mesin pengaman. Bukankah sudah ku katakan hanya aku yang boleh masuk ke kamarku, pengecualian untuk maid yang satu itu.

Aku menuruni tangga sambil mengucek-ucek mataku, karena rasanya masih mengantuk tapi perutku benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Sambil menuruni tangga, kubuka ponselku, untuk membaca beberapa berita untuk hari ini dan beberapa info penting untuk pekerjaanku.

Sesampainya didapur kulihat beberapa maid sedang bekerja termasuk Han Ajumma – kepala pelayan dirumahku. Kutarik salah satu kursi dimeja makan besar yang ada didapur. Duduk dengan santai walaupun aku tahu para maid itu sudah mengadari keberadaanku dan aku yakin mereka heran melihatku dijam sepagi ini sudah bangun. Karena biasanya aku akan bangun jam 9 pagi.

ajumma…mana roti panggangku. Eunji, Jina, ambil baju kotor dan juga kantong sampah di depan pintu kamarku”, ucap ku memerintah satu-persatu maid tanpa menatap mereka karena aku masih sibuk membuka aplikasi yang ada diponselku.

“ini Nona~”, ucap Han Ajumma dengan cepat menyiapkan roti panggang yang selalu ku konsumsi setiap pagi. Aku tidak suka makan makanan berat dipagi hari.

Ajumma jangan berikan”, tiba-tiba suara berat dari arah pintu dapur memerintah Han Ajumma.

“ta-tapi…”, Han Ajumma mencoba berbicara tapi sebelum itu aku sudah memotongnya. Menatap pria dengan setelan pakaian rapi itu – yang melarang Han Ajumma memberikan sarapan pagiku.

“siapa kau?”, pertanyaan dingin itu kulontarkan sambil manatap pria itu tajam.

“letakkan piring itu di meja bar Ajumma. Biar dia sendiri yang ambil. Dia punya kaki dan tangan”, bukannya menjawab pertanyaanku, pria itu kembali memerintah Han Ajumma.

Han Ajumma melakukan apa yang pria itu perintahkan, tapi aku dengan cepat menahan lengan Han Ajumma yang ingin menjauhkan piring itu.

“letakkan Ajumma”, perintahku dengan nada dingin.

“jangan ajumma. Berikan padaku”, ujar pria itu sambil mendekat, meraih piring yang berisi roti panggangku, lalu meletakkannya di meja bar dengan asal-asalan. Melihat tindakan pria yang semakin semena-mena itu membuatku marah.

“KAU… Beraninya mengganggu sarapanku. Siapa kau dan kenapa kau ada dirumahku?”, tanyaku dengan nada suara yang meninggi, marah padanya.

“Oh ini rumahmu? Tapi ini juga rumahku”, balasnya dengan santai. Jawabannya itu semakin menyulut emosiku. Berani-beraninya dia mengaku-ngaku sebagai pemilik rumah ini. Ini rumahku!

“apa? Beraninya kau mengaku-ngaku sebagai pemilik rumah ini. Rumah ini milikku dan…”, ucapku namun tidak dapat melanjutkannya hingga selesai. Aku tiba-tiba teringat jika rumah ini sebenarnya milikku dan… suamiku yang keberadaannya entah dimana. Aku hanya tahu dia ada di Kanada. Itu saja, tidak lebih. Bahkan wajahnya pun aku tidak tahu seperti apa sekarang. Dan aku pun tidak berusaha untuk mencari tahunya dengan ponsel pintarku karena kata omma suamiku itu seorang pebisnis yang sukses dan terkenal. Pada dasarnya aku memang tidak tertarik. Pekerjaanku jauh lebih menarik dari pada mencari informasi orang lain yang tidak penting untukku. Dia sebagai suamiku hanyalah sebatas status. Karena aku tidak membutuhkannya. Sampai saat ini aku masih bertahan walaupun aku penuh dengan keterbatasanku. Pria yang berstatus sebagai suamiku itu entah ada dimana ketika aku mengalami semua kejadian buruk yang hingga saat ini menjadi ketakutanku dan berakibat menjadi phobia dan anti-sosial.

“dan?”, tanya pria itu menyadarkanku dari perang batinku.

“dan seseorang”, ucapku asal, tidak ingin mengatakan ‘suamiku’ pada pria yang sangat menyebalkan itu. Karena dia tersenyum. Tersenyum seperti menggodaku.

“seseorang itu siapa? Kau memiliki simpanan dirumah ini?”, tuduhnya, membuatku kaget dengan tuduhan itu. Aku tidak terima dengan tuduhan itu. Aku saja tidak memiliki teman atau orang terdekat. Bagaimana bisa aku sampai memiliki selingkuhan seperti yang dituduhkan pria itu? Sialan!

“apa? Tidak. Kau pikir aku gadis seperti apa? Sialan”, ucapku kasar. Tapi dia terlihat tidak terpengaruh dengan ucapan kasarku.

“lalu siapa?”, tanyanya lagi sambil berjalan mendekatiku dengan kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celana. Apa dia sedang bergaya seperti model-model pria tampan yang sering ada dimajalah fashionku? Ckkk, tidak cocok sama sekali.

“dia…dia…suamiku”, jawabku terbata karena aku mulai merasa tidak nyaman dengan jarak kami yang terlalu dekat. Ini hal yang paling ku benci ketika berinteraksi dengan orang lain.

“mmm, suamimu. Lalu siapa suamimu?”, tanya pria itu lagi dengan senyum menyeringai.

“un-untuk apa kau tahu? Kau bukan siapa-siapa”, balasku masih dengan terbata, walaupun aku sudah berusaha sebaik mungkin untuk menutupi kegelisahanku. Ini salah satu keterbatasanku. Kesulitan berinteraksi dengan orang lain ketika jarak ku dengan orang lain itu terlalu dekat.

“ohh ayolah, biar kita bisa selesaikan masalah tentang kepemilikan rumah ini. Ahh… Han Ajumma siapa nama suami gadis  tidak punya etika ini?”, Apa? Dia bilang aku tidak memiliki etika? Jelas-jelas dia yang merusak suasana sarapan pagiku, merebut sarapanku. Dan sekarang dia mengatakan aku yang tidak memiliki etika? Brengsek! Ini pertama kalinya ada yang mengatakan aku tidak memiliki etika selain… ibuku. Nenek sihir yang selalu membuatku tidak bisa melakukan apapun.

“Lee Donghae Tuan”, jawab Han Ajumma. Tuan? Yang benar saja. Kenapa Han Ajumma memanggilnya seperti itu.

“ohh Lee Donghae? Nama yang bagus. Dan kurasa dia juga pria yang tampan”, pendapat pria itu seolah-olah dia tahu siapa Lee Donghae.

“sok tahu. Aku saja tidak tahu dia seperti apa, apalagi kau”, balasku.

“kau ingin tahu seperti apa dia? Maka lihatlah aku”, ucapnya singkat.

Keningku mengerut, tidak mengerti dengan ucapannya itu. Melihat dia agar bisa tahu seperti apa suamiku sebenarnya? Aku tidak mengerti. Apa dia sedang berusaha menyamakan dirinya dengan suamiku?

Aku menatap pria itu masih dengan memutar otak untuk bisa mengerti dengan ucapannya tadi. Tiba-tiba terlintas sebuah pemikiran didalam otak ku.

Dia berkata rumah ini juga miliknya. Lalu dia menuduhku memiliki selingkuhan seolah-olah dia tahu aku sedang menjalin hubungan dengan seseorang. Lalu dia terlihat akrab dengan Han Ajumma. Dia cukup tahu tentang isi rumah ini. Dia terlihat santai dalam menghadapiku.

Jangan-jangan dia…  

Sepersekian detik kemudian tubuhku menegak ketika aku mendapatkan jawabannya. Dia… Lee Donghae. Rasanya aku ingin mati saja. Kenapa tidak ada yang memberitahu jika dia akan datang ke Korea.

“Ya… aku adalah Lee Donghae, pemilik rumah ini dan juga…suamimu”, ucapnya semakin membenarkan pemikiranku. Tidak… ini tidak mungkin. Kenapa dia ke korea? Untuk apa dia datang ke rumah ini? Kenapa?

Telapak tanganku bahkan sudah berkeringat dan tubuhku bergetar. Aku… aku ketakutan. Entah apa yang kutakutan. Hanya saja aku ingin segera berlari, bersembunyi didalam kamarku. Satu-satunya tempat yang bisa membuatku tenang dan nyaman.

Secara spontan aku langsung bangkit dari dudukku ketika melihatnya mengulurkan tangannya ingin menyentuhku. Dengan pikiran yang kacau, aku melangkah mundur sambil memperhatikan sekelilingku. Para maid yang ada disana melihatku dengan tatapan kebingungan. Tapi bagiku itu terlihat seperti tatapan kasihan padaku. Salah satu dari antara mereka menggeleng seperti menguruhku agar tidak ketakutan tapi aku tidak bisa mengontrol diri lagi. Aku berbalik dan berlari keluar dari dapur, dengan cepat menaiki tangga menuju kamarku.

Brak

Karena terlalu takut aku tidak memperhatikan langkahku, hingga aku terjatuh di persambungan lantai dua dengan anak tangga paling atas. Tidak memperdulikan dengan kakiku yang sakit, aku kembali berdiri menuju pintu kamarku. Dengan cepat ku masukkan PIN pengaman pintu kamarku agar terbuka. Setelah terbuka, aku dengan cepat masuk dan menutup kembali pintu itu dengan cepat dan menguncinya. Ku langkahkan kakiku kearah pintu balkon, menutup gordennya hingga pencahayaan kamarku minim.

Aku berlari menuju kamar mandi. Dengan tangan gemetar aku menghidupkan shower hingga air mengalir deras dan aku mendudukkan diriku dibawah shower itu. Seketika aku langsung basah kuyup. Aku memeluk tubuhku erat-erat agar tidak gemetaran lagi. Tapi itu tidak berpengaruh sedikitpun.

Ku gigiti kuku jari tangan kananku sambil berpikir apa yang harus ku lakukan selanjutkan. Sikap seperti apa yang harus kutunjukkan pada Lee Donghae setelah ini. Pria itu pasti bertanya-tanya kenapa aku bertingkah seperti tadi. Dia pasti menganggapku aneh. Tapi memang seperti itulah yang selalu orang-orang perlihatkan dari tatapannya setiap melihatku. Sebenarnya aku tidak suka dianggap aneh, tapi aku pun tidak bisa mengatakan pada orang lain jika aku merasa tidak nyaman dengan mereka. Karena jika aku mengatakannya sama saja aku menyinggung perasaan mereka. Jadi biarlah mereka berpikir seperti itu.

Sekarang permasalahannya adalah Donghae pulang. Pria yang berstatus sebagai suamiku itu ada dirumah ini, yang aku tidak tahu apa dia hanya tinggal sesaat atau menetap. Jika hanya untuk beberapa hari solusinya cukup menghindar saja. Tapi bagaimana jika dia menetap?  Tidak mungkin aku terus menghindar. Aku harus bisa menyembunyikan sifat ketakutanku ini. Dan sebisa mungkin menjaga jarak terkhusus skinship. Ketakutanku selalu muncul jika seseorang mulai menyentuhku. Walaupun hanya seujung jari, aku pasti bereaksi berlebihan.

Tapi tidak ada cara lain selain bersikap dingin, menyembunyikan semuanya dan bersikap seolah-olah tidak peduli padanya. Berusaha sebisa mungkin tidak berinteraksi. Ya aku harus bisa melakukannya!

>>>>>>>

Donghae POV

Selama perjalanan menuju kantor yang ku pikirkan hanyalah sikap Yoona. Dia sangat aneh namun sekaligus membuatku penasaran. Dia tadi sangat ketakutan melihatku? Kenapa? Apa aku melakukan sesuatu? Aku rasa tidak. Ini pertama kalinya kami pertemu setelah 10 tahun berlalu. Jadi kemungkinan untuk aku melakukan sesuatu padanya sangatlah mustahil.

Lalu karena apa dia ketakutan? Aku harus mencari tahu secepatnya.

“sajangnim… kita sudah sampai”, tiba-tiba suara Taehyung mengejutkanku. Mungkin karena selama perjalanan aku sibuk memikirkan Yoona, jadi aku tidak menyadari jika sudah sampai dikantor.

Taehyung sudah membukakan pintu mobil untukku. Aku pun segera keluar, merapikan sedikit jas yang ku kenakan. Lalu aku berjalan memasuki lobby kantor diikuti oleh Taehyung disampingku. Sepertinya dia sudah mulai mengerti apa yang kuperintahkan sebelumnya kepadanya. Berdiri disampingku.

Ketika aku memasuki kantor, dikanan kiri sudah berdiri para karyawan, menyambutku. Kali ini aku tidak protes jika diperlakukan seperti ini. Karena ini sudah berhubungan dengan pekerjaan. Perlu adanya sikap menghormati atasannya.

“selamat datang sajangnim”, ucap mereka secara bersamaan sambil menunduk hormat.

“terima kasih”, balasku sambil memberi senyum kepada mereka. Aku menatap mereka satu persatu. Walaupun aku tidak bisa langsung mengingat wajah mereka satu persatu, tapi setidaknya aku harus melihat wajah mereka, anggap saja sebagai perkenalan. Dan pandanganku jatuh pada seorang pria dengan rambut panjangnya yang ditata dengan rapi, tersenyum kepadaku. Aku pun membalasnya dengan senyum.

“selamat datang” , ucapnya ketika mendekatiku.

“terima kasih hyung sudah menggantikan tugasku selama ini”, ucapku sambil memberikan pelukan persahabatan pada pria yang ku panggil hyung itu.

“ckkk… kau lama sekali pulang. Kau tidak tahu, karena menggantikanmu, aku tidak memiliki waktu untuk bertemu dengan gadis-gadisku”, ucapnya dengan nada kesal namun aku tahu dia hanya bercanda.

Pria ini adalah sahabatku. Kim Heechul. Dia yang selama ini menangani perusahaan yang ada di Korea. Sedangkan aku menangani yang ada di Ottawa.

“ayo, biar kutunjukkan ruanganmu”, ajaknya. Aku pun mengangguk.

Kami memasuki lift yang sepertinya dikhususkan untuk orang-orang yang memiliki jabatan tinggi diperusahaan ini.

“jadi… bagaimana?”, tanyanya ketika kami sudah ada didalam lift.

“apa?”, tanyaku tidak mengerti.

“wanitamu”, ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya. Aku hanya tersenyum simpul menanggapinya.

“apa kau sudah melakukannya?”, tanya Heechul lagi terlihat antusias.

“melakukan apa?”, tanyaku pura-pura tidak mengerti.

“ohhh c’mon Lee Donghae. Jangan bertingkah seperti pria baik-baik. Jelas-jelas kau mengerti maksudku”

“entahlah hyung. Terlalu cepat untuk melakukan itu. Karena berkomunikasi dengannya saja sangat sulit”, balas ku acuh.

“Apa? Jadi kalian belum melakukannya? Yang benar saja? Bahkan kau melakukannya dengan wanita lain selama di Ottawa”, ucapnya terdengar kecewa.

“Yak… aku tidak sepertimu hyung”, ucapku kesal karena ucapannya yang secara tidak langsung mengatakan aku seorang pria yang suka bergonta-ganti pasangan untuk diajak tidur. Aku tidak seperti itu.

“baiklah-baiklah. Jadi seperti apa dia? Cantik? Sexy?”

“cantik”, ucapku singkat. Karena hanya kata itu yang terlintas dalam benakku ketika pertama kalinya melihat gadis itu dari balkon kamarku.

“ckkk… cantik itu realistis. Lebih spesifiknya?”, ucap Heechul tidak puas.

“entahlah. Aku belum bisa menilainya secepat itu. Karena aku baru bertemu dengannya ketika akan berangkat ke kantor”, ucapku.

“mmm… kau harus bergerak cepat. Kalian sudah terlalu lama menikah, aku ingin seorang keponakan”, ucapnya menggodaku.

“itu masih jauh. Lagi pula hyung tahu bagaimana kami bisa menikah”, ucap ku malas-malasan.

“ya aku tahu. Kau ingin melihat-lihat isi kantor? Aku bisa menemanimu jika kau ingin”, tawarnya, tapi aku menolak.

“tidak perlu hyung. Biar Kim Taehyung yang menemaniku”, ucapku sambil menatap kearah Taehyung yang hanya diam di belakang kami.

Ting~

Bunyi lift yang terbuka, membuat kami menghentikan sejenak perbincangan kami.

“Oh… jadi kau Kim Taehyung? Yang mendapat nilai terbaik dalam test masuk ke perusahaan ini?”, tanya Heechul berbalik menatap Taehyung, menilai pria kaku itu. Kim Taehyung membungkuk hormat tanpa mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab pertanyaan Heechul.

“waww~”, seru Heechul mungkin kaget dengat respon yang pria kaku itu berikan. Dan aku hanya terkekeh melihatnya. Pasti Heechul merasa kesal karena diacuhkan seperti itu. Aku sudah merasakan itu.

“baiklah. silahkan hyung beristirahat atau berkencanlah dengan gadis-gadismu itu”, ucapku sambil tersenyum.

“yak.. jangan terlalu sering tersenyum seperti itu”, tegurnya.

“kenapa?”

“kau terlihat seperti anggota boyband yang selalu memberikan senyum manis untuk fansnya. Itu tidak baik untuk pekerjaanmu. Kau CEO perusahaan ini. Kau harus sedikit lebih dingin dan berwibawa agar mereka tunduk dan tidak menyepelekanmu”, nasehatnya. Aku hanya mengangguk saja.

“baiklah… aku pergi”, ucapnya ketika ponselnya berbunyi. Aku mengangguk. Mungkin dari teman kencanya.

Setelah Heechul pergi, aku memasuki ruangan yang didepan pintunya terpahat tulisan CEO. Aku memasuki ruanganku yang ternyata sangat luas. Aku mengamati sekeliling ruangan itu sambil melangkah menuju meja yang diatasnya dipajang ukiran namaku diatas sebuah kaca tebal.

“jadi apa jadwalku hari ini?”, tanyaku pada Taehyung.

“Sejam lagi, Anda harus menghadiri rapat dengan para pemegang saham yang lain dan sekaligus sebagai penyambutan sajangnim. Lalu jam dua siang Anda akan berkeliling mengunjungi setiap divisi. Dan setelahnya Anda hanya perlu melakukan pengecekan laporan tahunan dan proyek baru yang akan dilakukan bagian divisi desaign”, jawab pria kaku itu dengan lancar tanpa adanya note atau catatan kecil sebagai pengingat untuknya. Pria kaku itu memiliki ingatan yang sangat baik.

Baguslah! Aku menyukai orang-orang cerdas yang tidak banyak bicara jika sedang bekerja seperti ini.

“ok~”, ucapku mengerti.

“kalau tidak ada lagi yang Anda perlukan, saya permisi”, ucap Taehyung, dan aku mengangguk.

Setelah Taehyung keluar, aku mengamati lebih mendetail ruanganku sambil menyesuaikan diri. Hari pertamaku bekerja sepertinya akan melelahkan. Walaupun jadwalku hari ini tidak banyak, tapi durasinya memakan waktu yang cukup lama.

>>>>>>>

Waktu menunjukkan pukul 7 malam ketika aku menyelesaikan seluruh pekerjaanku. Cukup melelah memang, tapi mau bagaimana lagi. Banyak yang harus ku periksa untuk mengetahui seluruh seluk-beluk perusahaanku. Tanpa sadar hari sudah gelap.

Sekarang aku sudah ada didalam mobil dengan Taehyung yang mengemudi. Alunan musik piono dari pemutar musik mobil menemaniku sambil membaca laporan-laporan yang tadi belum sempat ku selesaikan.

Jangan berpikir menyalakan pemutar musik adalah tindakan dari Taehyung. Pria kaku itu kurasa tidak mengerti caranya menikmati hidup. Aku yang memintanya. Karena ini adalah kebiasaanku ketika sedang membaca – sambil mendengarkan musik instrument.

Sejam kemudian, setelah melalui macetnya jalanan. Akhirnya kami tiba dirumah. Aku ingin segera mandi dan makan malam bersama istriku – mungkin.

Aku memasuki rumah dengan disambut oleh beberapa maid yang sepertinya masih bekerja. Taehyung tidak lagi bersamaku. Aku sudah menyuruhnya untuk pulang.

“selamat datang Tuan muda”, sapa Eunji. Aku tersenyum. Gadis itu segera meraih tas kantorku.

“tolong siapkan makan malam. Aku akan membersihkan diri sebentar”, ucapku pada Eunji. Aku melangkah menaiki satu persatu anak tangga sambil melonggarkan dasi yang sedari pagi melingkar dileherku.

Brak

Ketika hampir mencapai lantai dua, tiba-tiba terdengar suara pintu yang ditutup terlalu keras. Mengadari dari mana arah suara itu, aku mempercepat langkahku. Tapi setibanya dia lantai dua, tidak ada siapapun disana. Aku menatap kearah pintu yang tadi dengan cepat ditutup itu. Aku mengerutkan kening ketika menyadari disisi kanan pintu terpasang mesin pengaman pintu. Semalam aku tidak menyadari adanya benda itu. Mungkin karena lelah.

Aku mendekati pintu yang tertutup dengan rapat itu. Kusentuh mesin pengaman itu sambil menggelengkan kepala tidak habis pikir dengan kelakuan Yoona. Gadis itu lebih-lebih dari seorang presiden jika kamarnya saja sampai dipasang mesin pengaman. Aku yakin suara tadi itu berasal dari pintu kamar Yoona. Sepertinya gadis itu baru masuk kamar, atau ingin keluar kamar tapi tidak jadi karena mengetahui aku sudah pulang. Gadis itu bersembunyi.

“sebenarnya apa yang kau sembunyikan dikamar ini? apa yang kau lakukan didalam sana? Dan… apa yang membuatmu ketakutan?”, gumamku sambil menyentuh pintu itu. Bertanya walaupun tidak akan ada jawaban dari orang yang ada didalam sana.

“baiklah. Aku akan memulainya dengan berlahan”, ucapku. Kemudian melangkah menuju kamarku sambil mendesah kecewa ketika menyadari aku akan malam sendirian. Mungkin tadi aku terlalu berharap sesampainya dirumah akan disambut oleh Yoona dan makan malam bersama. Tapi melihat tingkah Yoona yang seperti ini, bersembunyi, sangat mustahil untuk bisa mewujudkan keinginanku itu.

TBC

Chapter 2 nih. Kita main tebak-tebakan dulu ya dengan sifat Yoona sekaligus mengenal cast yang lain yang secara berlahan akan muncul satu persatu disetiap chapter.

Karena cerita ini memang kategori long story, harus sabar ya mengikuti jalan ceritanya…

Dan maaf karena semalam gak bisa update karena aku harus mengurus skripsi dulu #deritamahasiswatingkatakhir

Like & Commentnya jangan lupa ya~

Kalian bisa mengutarakan pendapat kalian tentang apa pekerjaan Yoona yang sebenarnya atau kenapa Yoona bersikap seperti itu ke Donghae.

Sampai ketemu di hari kamis~

Bye bye~

|12 Mar 2017|

Advertisements

33 thoughts on “After Married – 2

  1. KasMha PyrooLiers

    itu alien taetae knpa jadi kaku gtuu…haha kamu gk aneh yah disini 😀 (abaikan ini)
    ketakutan krna masalaluu hmmm kamu knpa mbak yoong…
    Next…
    Pnsrann dng tndkan mas hae 😀

  2. Yoona kenapa sih? Apa dia punya masa lalu yang buruk? Apa dia pernah mengalami sesuatu yang membuatnya terpukul, pelecehan kah atau apa? Sampai2 dia gak mau ketemu orang yg dianggapnya asing.

  3. ichus

    Penyebab yoona jadi anti sosial.. itu yg jadi teka teki.
    Pekerjaannya mlem2.. apaan?? Haisshh kyaknya semua ttg yoona itu misteri deh 😰

  4. tryarista w

    sebnernya Apa yg mybabkan yoona jd phobia terhdap skinsip & anti sosial ,,,
    heeem semoga donghae bsa bkin yoona sembuh dari phobianya,,,

  5. laylee18

    sebenernya yoona tuh knp si? trus phobia apa? kok sikapnya kyak gtu.. kyaknya yoona tuh designer ya?? #sotoy

  6. Penasarannn sama sikap yoona deh apa kira2 yg ada di dalam kamarnya ya sampe di privat kaya cloude nine aja hehehe selalu di tunggu dengan sabar thor apalagi cast nya yoonhae all sabar fighting author

  7. Seru… Bikin tambah penasaran. Sebenernya yoona kenapa? Kok bisa phobia dan anti sosial gitu. Semoga aja donghae tetep sabar ngadepin yoona. Ditungggu next chap ya kak…

  8. sulistiowati_06

    yoona kenapa?
    dia agak susah bergaul sama orang baru ya? trus dia kerjanya apa? designer kah?
    omo mudah2an hubungan yoona sama donghae segera akur biar ga kejar2an kayak kucing sama tikus yaa

  9. yhnoviah05

    Keren, seru ceritanya….
    Bikin penasaran gimana kisah Cinta Yoonhae selanjutnya?
    Next kak .. jangan lama-lama ya^^

  10. Designer? Benar gak ya?
    Maidnya siapa? Pokoknya maid itu mau dr sisi mana pun berbeda banget dr Yoona. Makanya selalu gk biasa akur tuh berdua. Tp tetap soal kepercayaan, cuma maid itu…

    Makasi ya udah komen~

  11. Sfapyrotechnics

    Oohhh jdi yoong anti sosial yah?? makanya dia sllu di kmrnya.. trus apa pekerjaannya?? kok ada kain ma kertas2?? dia designer?? Kasian hae :v mau mkn mlm ma yoong,, eh yoong nya mlh smbnyi :v Fighting hae :v Ohiyaa siapa tuh maid yg dket ma yoong?? dan bisa kluar-masuk kmr dia??

    Next.. Fighting kk!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s