After Married – 1

After Married

Author: Fi_ss

Tittle: After Married – 1 – Meet Again

Lenght: Chapter

Cast: Im Yoona and Lee Donghae

Other Cast: Kim Heecul, Tiffany Hwang, Nicholas, Jung Wheein, Kim Taehyung, Jung Nara, etc

Genree: Romance, married life, Family, etc

Rate : 17+

Author Note: Kita mulai dengan cerita baru ya. Move on dari My Lovely Doctor. Mereka udah selesai di cerita sebelah. Sekarang kita ikutin kisah mereka di cerita baru ini ya. Tapi ini bukan lanjutan dari MLD ya. Ini udah beda cerita, beda karakter, beda main cast kecuali YoonHae pastinya.

Selamat membaca… jangan lupa komentarnya ya…

Leggo~

>>>>>>>

– Meet Again 

Donghae POV

Perjalan dari Bandara Internasional Macdonald-Cartier, Ottawa, Kanada menuju Bandara Internasional Incheon, Seoul, memakan waktu kurang lebih sepuluh jam. Perjalan dengan pesawat ini memang cukup melelahkan, begitulah yang ku rasakan setibanya di Seoul.

Setelah 10 tahun berlalu, akhirnya aku kembali ke negara kelahiranku ini. Waktu itu usiaku masih 14 tahun ketika aku harus ikut dengan orangtua ku ke Ottawa karena urusan bisnis keluarga.

Aku menarik koperku menuju pintu keluar bandara. Hari sudah gelap. Ku lirik jam tanganku. Jam 8 malam.

Tring tring tring

Ponselku berbunyi, ada panggilan internasional.

Yeoboseo”, jawab ku.

“apa kau sudah sampai?”, tanya wanita yang sangat berarti dihidupku.

“Ini baru sampai Omma. Wae?”, tanyaku lembut.

Nothing. Ibu hanya ingin mengingatkan lagi agar kau pulang ke rumahmu. Rumah mu dengan gadis mungilku…”, ibuku terus berceloteh tentang apa yang harus dan tidak harus ku lakukan setibanya di Korea. Aku hanya bisa memutar bola mataku. Jengah dengan semua ucapan ibuku yang bahkan seminggu sebelum keberangkatanku, selalu itu saja yang dibicarakannya, gadis mungilnya.

Gadis mungil?

Bagaimana bisa omma masih memanggilnya gadis mungil. Ini sudah 10 tahun berlalu, tidak mungkin dia masih menjadi gadis mungil. Kalau aku tidak salah, ketika pertama kali kami bertemu, usianya baru 11 tahun, berarti sekarang usianya sudah 21 tahun, usia yang tidak bisa dikatakan gadis mungil lagi. Aku yakin dia sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik mungkin. Aku tidak tahu pastinya.

Memang harus ku akui, dulu dia adalah gadis kecil yang cantik dan kurasa sekarang pun masih tetap sama, atau mungkin semakin cantik.

Ohh aku jadi tidak sabar ingin bertemu dengannya. Penasaran seperti apa dia sekarang.

“Lee Donghae, kau masih mendengar omma?”, teriak omma, membuatku tersadar. Sepertinya aku melamun tadi, sehingga aku tidak mendengar apa yang omma ucapkan diseberang sana.

“iya omma, aku dengar”, balas ku berbohong. Biarlah lagi pula aku sudah hapal apa yang diucapkan omma tadi, walaupun aku tidak dengar.

Pulang kerumah bukan hotel

Temui gadis mungilku

Bicara yang seriusnya

Jangan bersikap dingin

Jangan membuat gadis mungilku menangis

Berikan apapun yang dia minta

Kira-kira itulah pesan dan nasehat yang omma ucapkan sejak seminggu yang lalu hingga kini pun aku yakin masih sama. Sebenarnya masih banyak lagi, tapi aku malas mengingatnya.

“baiklah, omma harus mengakhiri ini. Appamu sudah merajuk karena aku belum menyiapkan pakaian kantornya”, ucap omma yang ku balas dengan tawa.

“baiklah, salam pada Appa”, setelah itu sambungan itu pun terputus.

Orangtua ku memang pasangan yang aneh, kekanak-kanakan. Bahkan tanpa rasa malu sedikitpun, mereka suka bermesraan di hadapanku. Walaupun usia mereka semakin bertambah, bahkan rambut mereka mulai memutih, tapi mereka bertingkah seperti pasangan muda yang baru merasakan cinta. Terkadang aku merasa malu jika melihat mereka seperti itu. Tapi walaupun begitu aku sangat menyayangi mereka. Mereka adalah panutanku untuk keluarga masa depanku nantinya.

Keluarga!

Sebenarnya aku sudah memilikinya, aku dan pasanganku. Orang yang akan tinggal bersamaku mulai sekarang. Siapa lagi jika bukan gadis mungil yang selalu dibicarakan oleh omma.

“selamat datang Sajangnim”, sapa seseorang pria berpakaian rapi, ketika aku tiba dipintu keluar bandara. Sebelah alisku naik, tidak mengenal siapa yang menyapaku.

“ohh kau mengenalku?”, tanyaku pada pria yang masih menunduk hormat padaku. Pria itu pun menegakkan tubuhnya. Akhirnya aku bisa melihat wajahnya. Sepertinya dia pria yang pendiam dan kaku.

“saya Kim Taehyung, sekretaris pribadi Anda selama Anda di Korea”, pria itu memperkenalkan diri.

“mmm, Taehyung, bisakah aku memanggilmu seperti itu?”, tanyaku sopan. Aku tidak suka suasana yang terlalu formal jika tidak sedang berurusan dengan pekerjaan.

Pria itu mengangguk sopan, menyetujui caraku memanggilnya.

“silahkan sajangnim”, ucap pria itu langsung membukakan pintu mobil untukku. Aku pun masuk dan dia segera beralih ke kursi pengemudi. Dia orang yang cekatan.

“apa kau ditugaskan dari kantor?”, tanyaku ketika kami dalam perjalanan menuju suatu tempat, mungkin rumah.

“lebih tepatnya saya ditugaskan oleh Nyonya besar”, jawabnya datar. Aku menghela napas, pria ini terlalu kaku, ini akan menjadi perjalanan yang membosankan.

“ahh, omma. Baiklah. Terima Kasih”, ucapku, tapi tidak ada balasan dari Taehyung. Aku pun menyerah untuk bicara lagi dengannya. Aku pun memutuskan untuk tidur. Tubuhku terasa kaku semua karena berjam-jam harus duduk di pesawat.

>>>>>

Aku terbangun dari tidurku. Ternyata aku benar-benar tertidur di mobil yang kini sudah berhenti disebuah halaman yang luas. Kim Taehyung pun sudah tidak ada dikursi kemudi. Ku regangkan otot-otot tubuhku yang terasa kaku. Lalu keluar dari mobil.

“kenapa kau tidak membangunkanku?”, ucapku pada Taehyung yang ternyata berdiri, diam, disamping pintu mobil.

“maafkan saya. Anda terlihat sangat lelah, jadi saya tidak tega membangunkan Anda”, balasnya kaku. Aku hanya dapat menghela napas karena sifatnya.

Rumah-Mewah

“jadi ini rumahku?”, tanyaku lagi sambil melangkah menuju pintu rumah yang cukup besar itu. Kim Taehyung mengikutiku dari belakang. Aku tiba-tiba berhenti, berbalik menghadap pria kaku itu.

“kau tahu, aku sangat tidak suka dengan sifat kaku mu itu”, ucapku terus terang. Terlihat Taehyung terkejut namun secepat kilat mengembalikan ekspresinya, datar.

“maafkan saya”, balasnya sopan. Lagi-lagi aku menghela napas.

“jadi, jika kau sedang bersamaku dan aku sedang bicara denganmu, jangan berdiri dibelakangku tapi disampingku”, ucapku tegas.

“ba-baik”, ucapnya sedikit terbata. Mungkin dia kaget karena suaraku sedikit meninggi. Aku pun kembali berjalan menuju pintu rumah yang terasa sangat jauh itu.

Aku tidak suka ini. rumah ini terlalu luas, terkesan mewah tapi terasa kosong. Bahkan aku harus menempuh berpuluh-puluh langkah dari halaman menuju pintu utama.

Aku menolehkan kepalaku sedikit kebelakang karena Taehyung tidak juga berjalan disampingku. Tapi seolah mengerti dengan kode yang ku berikan, pria itu pun segera mensejajarkan langkahnya denganku.

“aku tidak suka dengan prinsip ‘tingkatan derajat’ yang kau anut itu”, omelku padanya. Sepertinya Taehyung akan selalu mendapat omelan dari ku jika terus bersikap seperti ini.

“bagiku kita kini sama saja, tidak ada derajat. Kita bisa menjadi teman jika kau juga menginginkannya. Kau mengerti?”, ujarku berhenti tepat didepan pintu besar itu. Aku menatap namja itu dengan seksama.

“saya mengerti”, jawabnya sambil sedikit membungkukkan badannya.

Segera dibukanya pintu besar itu. Dan lagi-lagi aku menghela napas karena pemandangan pertama yang ku dapatkan adalah lagi-lagi bertemu dengan orang-orang yang kaku yang terlalu tunduk dengan aturan. Didepanku sudah berdiri beberapa maid sedang membungkuk hormat. Rasanya aku ingin segera berbalik, keluar dari rumah ini. Terlalu banyak orang-orang kaku disekitarku. Namun ada satu dari mereka yang menatapku langsung, terdiam seperti mengagumiku. Mungkin karena ketampananku.

“awww”, rintihnya karena tiba-tiba salah satu maid yang usianya terlihat lebih tua dari beberapa maid itu, mencubit tangannya karena secara terang-terangan mengagumiku. Seperti mengerti kesalahannya, maid itu segera menunduk hormat, mengikuti teman-temannya.

“selamat datang Tuan muda. Saya Kepala Pelayan Han”,  maid yang usianya lebih tua itu memperkenalkan diri.

“terima kasih… Han Ajumma”, sapa ku dengan santai. Pelayan Han terlihat kaget dengan sapaan ku. Seketika aku tertawa dengan reaksinya.

“jangan terlalu formal, santai saja. Kalian mengerti”, ucapku sambil tersenyum. Maid yang ada dibelakang Han Ajumma langsung menegakan tubuhnya, menatapku penuh kagum.

“Han Ajumma?”, panggilku ketika wanita tua itu tidak juga memberi respon.

“baik Tuan muda”, balas wanita itu dengan senyum.

“mmm… dimana dia?”, tanyaku tidak ingin menyebutkan namanya atau menyebutkan status orang yang kutanya keberadaannya.

“maksud Tuan, Nona muda?”, tanya Han Ajumma tidak begitu mengerti pertanyaanku.

“Ya, Nona muda kalian”, jawabku asal, tidak begitu yakin nona muda yang Han Ajumma maksud sama dengan orang yang kucari.

“mmm… ini jam Nona muda bekerja”, jawab Han Ajumma.

“bekerja? Pekerjaan apa yang dia lakukan dimalam hari seperti ini?”, aku tidak mengerti pekerjaan jenis apa yang harus dikerjakan mendekati tengah malam seperti ini.

“saya tidak tahu Tuan. Nona memang selalu bekerja dijam seperti ini”, jawab Han Ajumma. Aneh!

ruang-tamu-rumah-mewah-untuk-interior-rumah-mewah-besar

Aku memandang sekeliling rumah. Bersih dan tertata dengan rapi. Lalu pandanganku jatuh pada lima orang didepanku. Tiga orang maid wanita dan dua orang pria berpakaian seperti security.

“apa kalian juga tinggal disini?”, tanyaku  pada maid yang sedari tadi terang-terangan memandangku. Aku penasaran dimana tempat tinggal orang-orang yang sudah berjasa merawat rumah ini.

“Be-benar Tuan. Ka-kami tinggal di bangunan belakang dari bagunan utama ini”, jawab maid itu terbata.

“siapa namamu?”, tanyaku lagi. Maid yang satu ini terlihat pemberani dan ceria, aku menyukainya.

“Eunji. Han Eunji Tuan”, balasnya bersemangat.

“Han? Apa kau keluarga Han Ajumma?”, tanyaku lagi.

“Ya dia keponakan saya Tuan. Maaf atas ketidaksopanannya”, kali ini Han Ajumma yang menjawab. Bukan Eunji.

“tidak apa-apa. Aku lebih suka jika kalian bersikap seperti Eunji-ssi. Lebih santai. Oh iya kalian bisa kembali ke kamar kalian, ini sudah waktunya istirahat dan jangan lupa makan malamlah terlebih dahulu. Kalian terlihat sangat lelah”, ucap ku sambil memperhatikan wajah para maid itu.

“tapi Tuan muda, ini belum jam istirahat kami. Nona muda masih belum selesai bekerja”, jawab Han Ajumma cepat.

“tidak apa-apa Ajumma. Biarkan mereka istirahat. Aku rasa Ajumma saja yang tinggal disini dulu, sekalian aku ingin menanyakan banyak hal pada Ajumma”, jelasku.

“beristirahatlah dan terima kasih untuk kerja keras kalian hari ini”, ucapku berterima kasih. Mereka terlihat kaget dengan ucapanku. Kenapa? Memangnya salah jika seorang majikan berterima kasih pada maidnya? Aku rasa tidak. Memang sudah seharusnya jika seseorang yang membantu kita – seperti para maid – mendapatkan ucapan terima kasih dari majikannya. Karena dengan adanya mereka pekerjaan rumah bisa jauh lebih ringan.

“Eunji-ssi… tolong pastikan segela keperluan yang dibutuhkan untuk security yang jaga malam ini. Sediakan minuman dan cemilan untuk mereka. Juga selimut agar mereka tidak kedinginan”, perintahku pada Eunji.

“baik Tuan muda”, balasnya.

“istirahatlah”, ucapku pada mereka. Mereka pun membungkuk hormat lalu pergi.

“kau juga tinggal disini Kim Taehyung?”, tanyaku ketika berbalik memandang Taehyung yang sedari tadi berdiri dibelakangku. Ckkk sepertinya dia melupakan perintahku tadi untuk berdiri disampingku, bukan dibelakang.

“tidak sajangnim. Saya tingga di sebuah Apartemen tidak jauh dari sini”, jawabnya datar. Aku pun mengangguk, mengerti.

“kalau begitu kau bisa pulang”, ucapku.

“baik sajangnim. Besok pagi saya akan datang untuk menjemput Anda menuju kantor”,

“mmm”

“kalau begitu saya permisi”, ucapnya membungkuk hormat lalu pergi.

Tinggallah aku dan Han Ajumma sekarang. Rumah ini pun terasa semakin sepi.

Han Ajumma meraih koper ku berniat untuk membawanya ke kamarku, namun aku menolaknya.

“biar aku saja Ajumma. Sekarang bisakah Ajumma membuatkan cokelat hangat untukku? Sekalian kita bisa berbincang-bincang sebentar”, pintaku pada Han Ajumma.

“baik Tuan”, jawabnya. Kemudian melangkah menuju suatu ruangan, mungkin dapur. Aku pun mengikutinya.

Set-Meja-Makan-Elegan-Cat-Putih-Ukir-Mewah

Aku memasuki dapur yang sangat luas, setengahnya dijadikan ruang makan. Ada meja cukup besar disana dan beberapa kursi. Ini menurutku berlebihan. Jika memang hanya ada gadis itu dirumah ini, aku rasa meja ini terlalu besar. Karena aku yakin para maid dan security tidak makan dimeja ini.

Aku melangkah mendekati meja bar, tidak meja makan.

“sepertinya banyak yang harus diubah dirumah ini”, ucapku pertama kali ketika Han Ajumma duduk di sampingku. Sepertinya dia sudah tidak canggung lagi dengan ku.

“maksud Tuan?”

“aku tidak suka beberapa perabotan rumah ini. Contohnya meja makan itu”, tunjukku pada meja makan besar dibelakangku.

“itu terlalu besar jika memang hanya digunakan untuk dua orang”, lanjutku. Han Ajumma pun mengangguk setuju dengan pendapatku.

“dan peraturan dirumah ini. Siapa yang membuat aturan dirumah ini?”, tanya ku.

“Nyonya besar. Ny Im”, jawab Han Ajumma.

“maksud Ajumma mer-mertuaku? Ah… bisakah aku menyebutnya seperti itu, terdengar aneh”, gumamku diakhir kalimat.

“sepertinya Tuan belum terbiasa dengan pernikahan Tuan dan Nona”, balas Han Ajumma sambil tersenyum.

Aku mengangguk sambil menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal, aku malu.

“Ajumma pasti sudah tahu bukan bagaimana pernikahan kami terjadi?”, Han Ajumma mengangguk. Sebagai kepala pelayan sepertinya Han Ajumma cukup tahu banyak tentang keluarga Im dan juga keluargaku.

“10 tahun yang lalu ketika Tuan dan Nona masih terlalu muda untuk melakukan sebuah pernikahan”, jawabnya.

“saya sudah bekerja pada keluarga Im sejak Nona muda lahir. Saya yang menjaganya hingga nona sendiri yang meminta saya untuk menemaninya tinggal dirumah ini”, lanjut wanita tua itu.

“berarti Ajumma datang diacara pernikahan itu”, simpulku dan Han Ajumma mengangguk.

“saya sedih ketika pernikahan itu berlangsung. Sebelumnya saya minta maaf Tuan, saya kasihan pada Tuan dan Nona saat itu”, ucap Han Ajumma hati-hati.

Ya akupun kasihan pada diriku sendiri pada saat itu.

“tidak apa-apa Ajumma. Terima kasih sudah menjaga istri saya dan rumah ini dengan baik. Tapi sekarang, biar saya yang mengambil alih menjaga istri saya, dia tanggung jawab saya”, jawabku tegas. Han Ajumma tersenyum sambil mengangguk.

Kusesap cokelat hangatku yang mulai terasa dingin.

Hariku akan dimulai besok. Dimana aku akan mengubah semua yang ada dirumah ini dan juga istri misteriusku yang tidak muncul juga.

>>>>>>>

Kring Kring Kring

Suara merisik alarm mengganggu tidur nyenyakku. Aku memaksa mataku terbuka, seketika cahaya dari luar mengenai mataku, membuatku kembali menutup mata. Aku belum terbiasa dengan cahaya yang masuki dari celah-celah jendela kamarku.

Ku dudukkan tubuhku, meregangkan tubuh sejenak lalu meranjak mendekati pintu yang membawaku ke balkon kamar.

Ketika aku membuka pintu kaca yang membatasi lantai kamarku dengan balkon, seketika udara pagi yang segar menerpa wajahku.

Kulangkahkan kakiku semakin mendekati pagar pembatas balkon. Menghirup udara sebanyak-banyaknya lalu menghembuskannya berlahan.

Hari ini pasti akan menjadi hari yang sangat sibuk terkhusus di kantor. Acara menyambutan ku sebagai CEO baru menggantikan Appa di perusahaan keluargaku yang bergerak dibidang industry tekstil. BONGUAN Corp. Salah satu perusahan industry tekstil terbesar di Korea dan urutan ketiga dimancanegara.

Jadi pagi ini harus ku nikmati sebaik mungkin, menyiapkan energy yang banyak sebelum mulai berperang.

Balkon kamarku mengarah kebelakang rumah, memperlihatkan taman bunga yang sangat indah dan juga satu bangunan cukup besar yang ku yakini adalah ruangan para maid dan security. Karena beberapa dari mereka ada yang baru keluar dari ruangan itu dengan setelan pakaian kerja mereka.

Kupandangi sekeliling balkonku, mataku tiba-tiba tertuju pada pintu balkon sebelah kamarku. Pintu balkon yang terbuat dari kaca itu, gordennya tidak tertutup seluruhnya sehingga memperlihatkan sedikit bagian isi ruangan itu. Disana terdapat seorang gadis yang kepalanya tergeletak diatas meja, sepertinya tertidur.

“siapa dia? Maid? Ah tidak mungkin”, gumamku. Tiba-tiba mataku membulat.

“jangan-jangan….dia…istriku? Im Yoona?”, ucapku terputus-putus, tidak percaya jika gadis yang sedang tertidur diatas meja itu, dikamar sebelah, adalah gadis mungil yang sangat disukai omma. Jantungku berdebar-debar tidak karuan. Wajahnya tidak terlihat seluruhnya karena tertutupi rambut. Tapi dari apa yang ku lihat, aku yakin dia gadis yang sangat cantik.

>>>>>>>

Aku turun dari lantai dua menuju ruang makan. Tubuhku sudah terasa segar setelah mandi. Aku memakai pakaian kantorku. Hanya celana bahan dan kemeja biru lengkap dengan dasi yang melingkari leherku. Sedangkan jas ku untuk sementara menggantung di lengan kiri ku. Setibanya disana, beberapa maid termasuk Han Ajumma dan Eunji sedang sibuk menata makanan diatas meja besar.

Aku tidak suka meja itu!

Kalimat itu selalu mucul begitu saja dalam benakku setiap melihat meja makan itu.

“Morning~”, sapaku pada mereka. Mereka langsung membungkuk hormat. Sedangkan Eunji selalu tidak melakukan yang sama.

“seharusnya kalian menjawab sapaanku bukan membungkuk seperti itu”, omelku.

“selamat pagi Tuan muda”, seru mereka bersamaan.

“Tuan sangat tampan”, puji Eunji yang segera mendapatkan pukulan dikepalanya dari Han Ajumma. Aku tertawa melihatnya. Melihatku tertawa mereka pun ikut tertawa. Aku senang melihat mereka seperti itu, lebih hidup.

“nah, begitu lebih baik dan terima kasih atas pujiannya Eunji-ssi”, balasku tersenyum.

“oh ya aku ingin sarapan di meja bar saja. Tolong pindahkan ke sana”, perintahku sambil melangkah mendekati meja bar, meletakkan jas ku di salah satu kursi, lalu duduk dengan nyaman. Mereka pun langsung melakukan yang kuperintahkan.

“apa dia belum keluar juga dari kamarnya?”, tanyaku pada Han Ajumma.

“ini belum jamnya Tuan. Mungkin sekitar dua jam lagi baru Nona akan turun untuk sarapan”, jawab Han Ajumma dan aku hanya bisa mengangguk. Sebagian besar tentang Im Yoona sudah Han Ajumma ceritakan semalam. Dari jadwal bangun paginya sekitar pukul 9 pagi, lalu sarapan. Setelahnya kembali kekamarnya untuk tidur lagi. Lalu di jam 7 malam dia akan kembali turun ke dapur untuk makan malam, dan setelahnya dia akan bekerja, entah apa yang gadis itu kerjakan. Tidak ada satupun orang dirumah ini yang tahu apa yang dikerjakan oleh gadis itu dikamarnya dimalam hari. Dan begitulah siklusnya setiap hari. Jarang keluar rumah dan tidak bersosialisasi. Mungkin bisa disimpulkan Yoona orang yang introverted.

“Tuan muda, sekretaris Kim sudah datang menjemput”, ucap salah satu maid.

“terima kasih”, balas ku. Segera keteguk minumanku lalu beranjak keluar dari dapur. Tapi tiba-tiba pandanganku jatuh pada gadis yang menuruni tangga dengan gaun tidurnya yang sepanjang lulut. Dia mengusap-usap matanya, sepertinya masih mengantuk. Sesekali diliriknya ponsel yang ada digenggaman tangannya.

Yeoja itu terus berjalan menuju dapur tidak memperhatikanku yang berdiri tidak jauh dari pintu dapur.

ajumma…mana roti panggangku. Eunji, Jina, ambil baju kotor dan juga kantong sampah di depan pintu kamarku”, ucap gadis itu memerintah satu-bersatu maid, sambil duduk dimeja makan. Sikap gadis itu yang memerintah sesuka hatinya membuat ku kesal.

“ini Nona~”, ucap Han Ajumma sigap menyiapkan roti panggang yang gadis itu minta.

“Ajumma jangan berikan”, perintahku sebelum Han Ajumma meletakkan piring yang berisi roti panggang itu.

“ta-tapi…”

“siapa kau?”, pertanyaan dingin itu dilontarkan dari bibir gadis itu. Dia manatapku tajam dan dingin, mungkin juga marah karena aku mengganggu sarapannya.

“letakkan piring itu di meja bar Ajumma. Biar dia sendiri yang ambil. Dia punya kaki dan tangan”, ucapku lagi pada Han Ajumma.

Han Ajumma menurut, tapi tiba-tiba gadis itu menahan lengan Han Ajumma yang ingin menjauhkan piring itu.

“letakkan Ajumma”, perintah gadis itu dingin.

“jangan ajumma. Berikan padaku”, kuraih  piring itu, meletakkannya di meja bar dengan asal-asalan.

“KAU… Beraninya mengganggu sarapanku. Siapa kau dan kenapa kau ada dirumahku?”, tanyanya marah.

“Oh ini rumahmu? Tapi ini juga rumahku”, balasku santai.

“apa? Beraninya kau mengaku-ngaku sebagai pemilik rumah ini. Rumah ini milikku dan…”, ucapnya berhenti. Dia seperti berpikir.

“dan?”, tanyaku menggodanya.

“dan seseorang”, ucapnya singkat.

“seseorang itu siapa? Kau memiliki simpanan dirumah ini?”, tuduhku berpura-pura untuk menggodanya.

“apa? Tidak. Kau kira aku gadis seperti apa? Sialan”, ucapnya kasar. Tapi aku tidak pedulikan.

“lalu siapa?”, tanyaku didepannya dengan kedua tangan ku masukkan kedalam saku celanaku.

“dia…dia…suamiku”, jawabnya terbata.

“mmm, suamimu. Lalu siapa suamimu?”, tanyaku lagi dengan senyum menyeringai.

“untuk apa kau tahu. Kau bukan siapa-siapa”

“ohh ayolah, biar kita bisa selesaikan masalah tentang kepemilikan rumah ini. Ahh… Han Ajumma siapa nama suami gadis tidak punya etika ini?”, tanyaku pada Han Ajumma sambil mengedipkan mata. Han Ajumma tersenyum, mengerti bahwa aku sedang ingin menggoda nona muda mereka.

“Lee Donghae Tuan”, jawab Han Ajumma.

“ohh Lee Donghae? Nama yang bagus. Dan kurasa dia juga namja yang tampan”, ucapku memuji diri sendiri.

“sok tahu. Aku saja tidak tahu dia seperti apa, apalagi kau”, balas gadis itu.

“kau ingin tahu seperti apa dia? Maka lihatlah aku”, ucapku singkat. Gadis itu diam saja dengan wajah bingung. Lalu sepersekian detik wajahnya terlihat kaku. Sepertinya sudah mengerti arti ucapanku tadi.

“Ya… aku adalah Lee Donghae, pemilik rumah ini dan juga…suamimu”, balasku mendekatinya. Namun responnya diluar dugaanku.

Dia langsung berdiri dari duduknya dengan cepat, melangkah mundur, menjauhiku. Dia terlihat tegang dan ketakutan

Ketakutan?

Apa aku membuatnya takut? Aku rasa wajah tampanku tidak dalam kategori menyeramkan. Ada apa dengannya?

Dia terus melangkah mundur menjauh dari dapur, kemudian berlari menjauhi dapur.

“ada apa dengannya?”, tanya ku kebingungan.

“entahlah. Nona muda memang selalu bereaksi seperti itu terhadap orang baru, terlebih lagi jika terjadi skinship Tuan”, jawab Han Ajumma. Ini semakin membuatku bingung juga penasaran.

“nanti saya akan ceritakan semuanya kepada Tuan. Sebaiknya Tuan muda segera berangkat”, ucap Han Ajumma. Aku pun mengangguk. Walaupun aku sangat penasaran sebenarnya. Tapi ada tanggung jawab lain yang harus ku lakukan – pergi ke kantor.

Nanti akan kucari tahu lagi tentang kebiasaan dan kelakuan aneh Yoona.

TBC

 

Gimana? Aneh ya? Atau gak ada feelnya sama sekali. Maaf ya…

Masih awal-awal. Belum banyak interaksi dari Yoona dan Donghae. Karena emang pada dasarnya sifat Yoona sedikit aneh.

Ok jangan lupa vote dan komentar ya …

Chap 2 akan aku post hari sabtu ya…

So stay tuned~      

 

|09 Mar 2017|

Advertisements

30 thoughts on “After Married – 1

  1. KasMha PyrooLiers

    Bayangin gak sih mereka nikah saat usia mereka masih belia…hhaaa….
    Anw nikah krna apa yah trus yoona jg knpa…yeeee lanjut ajha biar gk pnsrann 😀

  2. ichus

    Ya ampuun mreka hidup di zaman apa sih?? Suami istri tp gk tau wajah masing2.. kelakuan Yoona juga. Aneh, kgk ada anggun2 nya sbg wanita. Nyuruh ini nyuruh itu.. etdaahh manja. Stelah ketemu Donghae apa yg akan berubah dr Yoona.?? Penasaran

    Ohya, btw ini aku kok kgk update yah smpe udah ada sequel MLD dan ff baru lgi 😣 minta pw nya gmna thor??

  3. tryarista w

    apakah yoonhae sudah nikah ,,,,
    apa bsa mereka menikah pdhal mereka msih kecil2 bget,,,,
    dan sebnernya ada apa dgn yoona ??

  4. avrillia

    Wah… Wah ad post an baru nih..? …yoona kok ketakutan liat hae oppa…??? Eah jadi penasaran hrs cepat 2buka link selanjutnya nih…. Thor jangg deh

  5. Setelah sekian lama gk buka link ini ternyata banyak yg baru sukaaaa sama ceritanya mengingatkanku sama theK2 sifat yoona hihi ijin baca kelanjutannya ya thor? Oya boleh aku mnta pw yg lovly my doctor please itupun kalau author berkenan sebelumnya terimakasih fighting

  6. Lina Indri

    Dari awal bca seru eon makin pnasaran knapa yoonanya bsa kyak gitu ke donghaebnext ya eon fighting ☺

  7. meliii

    Annyeong aku new reader
    Salam kenal thor ama ijin baca ya
    Cerita ny keren apalagi sifat ny yoona yg bkin penasaran
    Next chap thor
    Fighting

  8. Seru banget jd penasaran gmna nanti mereka jatuh cinta pasti bakalan banyak adegan bertengkar mulu ahh jd ga sabar nunggu kelanjutannya

  9. Annyeong…. Aku reader baru. Ijin baca ya kak. Menurut aku ceritanya Bagus dan menarik. Sifatnya yoona jg bikin penasaran. Kisah tentang pernikahan mereka, dan gimana perasaan diantara mereka bikin penasaran banget. Ditunggu next chap ya kak….

  10. Sfapyrotechnics

    Yoong aneh yahh :v jdi mereka nikah dari kecil dan mungkin(?) itu bru ktmu ktika bsar?? knpa yoong kyk gitu? ktkutan sma orang baru?? next kk.. fighting!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s