My Lovely Doctor – Chapter 7

mld2

Author: Fi_ss

Tittle: My Lovely Doctor Chap – 7

Lenght: Chapter

Cast: Im Yoona and Lee Donghae

Other Cast: Choi Sooyoung, Cho Kyuhyun, Lee Chorong, Kim Suho, etc

Genree: Romance, Hurt, Comedy (maybe), Friendship

Author Note: Maaf ya baru bisa lanjut FF ini. oh ya jika reader-nim tidak sabar menunggu lanjutan FF ini, kalian bisa cek di wattpad aku @fi_ssmoo (nanti diakhir chap ini aku kasi screenshot watty-nya). Bagi yang punya app wattpad bisa follow aku. Soalnya aku lebih cepat nge-post di wattpad. Alasannya nanti aku kasi tahu di akhir ya…

So Happy reading and Leggo~

>>>>>>>

Setelah mereka keluar dari toko perhiasan itu, mereka memilih melanjutkan kencan mereka dengan berjalan-jalan disekitaran Itaewon Street.

Donghae memandang daerah sekitarnya, tampak sepi. Dia menghentikan langkahnya, membuat Yoona yang berjalan dibelakangnya juga ikut berhenti.

“kenapa?”, tanya Yoona. Donghae berbalik, menghadap Yoona dengan senyum yang merekah.

“ke-kenapa kau tersenyum seperti itu”, ucap Yoona terbata karena salah tingkah. Tatapan dan senyum pria itu benar-benar membuatnya kesulitan.

Donghae melangkah dengan berlahan mendekati Yoona. Membuat gadis itu semakin gugup.

“mmmm… aku ada satu permintaan”, ujar Donghae setelah melirik jam tangannya.

“kita masih ada waktu dua jam lagi”, tambahnya.

“apa?”, tanya Yoona. Entah karena apa jantungnya berdetak tidak karuan.

Donghae melangkah hingga jaraknya dengan Yoona hanya berjarak sekitar tiga puluh sentimeter.

“mmmm…. Bagaimana ini? ini terlihat konyol dan mungkin aneh”, gumam Donghae namun masih dapat Yoona dengar.

“apa? Katakan saja. Apapun akan aku penuhi. Kita masih punya cukup waktu”, ucap Yoona.

“apapun?”

“YA”, yakin Yoona.

“a-aku…”, Donghae tidak dapat menanjutkan ucapannya. Pria itu terlihat gugup sekarang.

“ ya, kau kenapa? Kau ingin mengatakan cinta padaku?”, tanya Yoona dengan seringaian menggoda pria itu.

“ohh… ti-tidak”, balas Donghae, membuat Yoona cemberut.

“lalu apa?”, tanya Yoona kesal.

“mmmm… aku…, bo-bolehkah aku me-melamarmu”, ucap Donghae terbata-bata. Tapi Yoona masih dapat mengerti yang pria itu ucapkan.

“Hae.. kau…”, Yoona tidak tahu ingin mengucapkan apa. Karena menurutnya permintaan Donghae sangat sulit atau bahkan bisa dikatakan tidak mungkin.

“ku mohon, untuk kali ini saja. Izinkan aku merasakan bagaimana rasanya melamar seorang gadis yang aku cintai”, mohon Donghae. Membuat Yoona terdiam kaku. Bahagia karena Donghae secara tidak langsung menyatakan bahwa pria itu mencintainya. Tapi bercampur sedih juga karena lamaran ini seolah-olah hanya skenario, tidak nyata.

“Yoona… Please”, pinta Donghae dengan wajah penuh harap. Melihat itu Yoona semakin terharu.

“baiklah, tapi… kau tahukan, setelah ini akan semakin menyakitkan untuk kita, terkhusus untuk mu”, jelas Yoona. Donghae mengangguk, merasa seperti tidak keberatan dengan hal yang akan terjadi setelahnya.

Donghae hanya berpikir, hanya sekaranglah dia memiliki waktu untuk menyatakan perasaannya dengan benar kepada Yoona, juga melamar gadis itu. Jika orang lain mengatakan ‘kau bisa melamar gadis lain kelak’. Tapi bagi Donghae tidak ada kata ‘kelak’. Donghae sadar dirinya tidak akan sanggup menghadapi keesokan harinya dengan kondisi fisik yang semakin buruk. Jadi Donghae memutuskan, jika tidak sekarang maka tidak akan ada juga kelak.

Hening beberapa detik. Donghae mempersiapkan dirinya sedangkan Yoona terdiam mengamati pria itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Dipinggir jalan yang sepi, hanya beberapa orang yang berlalu lalang, Donghae berlutut dihadapan Yoona sambil mengarahkan kotak cincin yang Donghae pilih tadi.

“hahh… aku sangat gugup sebenarnya. Tapi aku akan tetap melakukannya”, gumam Donghae. Membuat Yoona tertawa ringan melihat kegugupan pria itu. Mendengar tawa Yoona, membuat pria itu mendongak, hingga senyum terukir diwajahnya. Tawa Yoona memberi kekuatan untuknya.

“mmm, kau tahu, ini pertama kalinya aku menyatakan perasaan kepada seorang gadis”

“ya, aku tahu. itu terlihat dari kegugupanmu”, jawab Yoona, membuat Donghae terkekeh karena malu. Donghae menatap manik mata Yoona dengan serius.

“pertama kali kita bertemu, ku rasa aku sudah menyukaimu. Aku suka ketika kau serius ketika merawatku kemudian memarahiku ketika melanggar aturan yang sudah kau utarakan untuk kesehatanku. Aku suka ketika kau memilih pakaian kantor untuk ku juga memakaikan dasi untukku”, jujur Donghae.

“dan jangan lupakan ciuman”, goda Yoona.

“hahaha, ya dan aku suka ciuman kita”, jujur Donghae.

“tapi diatas semua rasa suka ku itu, aku lebih suka dengan Im Yoona. Aku mencintaimu Im Yoona melebihi apapun”, ucap Donghae dengan senyum lebar. Kali ini Yoona sudah tidak sanggup membendung air matanya. Ini moment pengungkapan cinta yang tidak pernah diinginkannya namun tidak ingin melewatkannya juga. Pria yang sangat di cintainya, menyatakan perasaannya di pinggir jalan yang cukup sepi, namun membuat beberapa orang yang melintasi mereka terdiam ikut menyaksikan kejadian langka itu.

“maukah kau menerimaku sebagai pria satu-satunya yang menemani mu menjalani waktu yang singkat ini?” ujar Donghae. Kata-kata lamaran Donghae memang tidak seperti pada umumnya seseorang melamar kekasihnya. Dan orang-orang yang menonton mereka sepertinya tidak begitu memperdulikan hal tersebut. Mereka hanya tahu jika yang mereka tonton sekarang adalah lamaran yang romantis. Tapi bagi Yoona, kata-kata Donghae sangat menyakitkan.

“berdirilah”, ujar Yoona. Menarik tubuh Donghae berdiri menghadapnya.

“sebenarnya aku tidak suka dengan kata ‘singkat’ yang kau ucapkan tadi. Karena aku akan selalu mencintaimu selamanya, tidak hanya diwaktu yang singkat ini”, jelas Yoona dengan air mata yang masih membasahi pipinya. Donghae mengusap air mata gadis itu dengan lembut.

“jadi?”, tanya Donghae.

“Tentu saja Ya. Aku menerimamu menjadi satu-satunya pria yang selalu dan selamanya ku cintai”, balas Yoona. Donghae tersenyum senang. Diraihnya salah satu cincin dari kotaknya, menarik tangan kiri Yoona, kemudian menyematkannya di jari manis Yoona.

“giliranmu”, ujar Donghae. Yoona pun melakukan hal yang sama seperti yang pria itu lakukan kepadanya. Beberapa yang menonton mereka bertemuk tangan dengan meriah.

“sangat indah”, ucap Yoona sambil mengamati cincin yang melingkari jarinya.

“aku mencintaimu”, ucap Donghae.

“aku juga mencintaimu”, balas Yoona. Dengan berlahan Donghae membawa Yoona kedalam pelukannya. Memeluknya, memberi kehangatan.

“sepertinya semakin banyak orang. Sebaiknya kita segera pergi dari sini”, usul Donghae setelah melepas pelukannya. Yoona memandang sekitarnya yang memang semakin banyak yang menjadikan mereka bahan tontonan. Donghae menggenggam tangan Yoona, melangkah menjauh dari orang-orang mulai mengambil beberapa foto mereka.

“hihihi, tadi lamaran yang baru pertama kali ku lihat dan aku merasakannya langsung”, ucap Yoona masih melangkah mencari area yang bisa mereka jadikan tempat istirahat.

“romantis bukan? ohh itu belum seberapa, masih ada yang belum lengkap”, bangga Donghae.

“memangnya apa lagi?”, tanya Yoona penasaran.

“ini..”, dengan cepat Donghae meraih kedua pipi Yoona, kemudian menyatukan bibirnya dengan bibir tipis gadis itu. Donghae melumat bibir atas dan bawah Yoona secara bergantian dengan lembut. Yoona pun terbawa arus ciuman Donghae yang selalu membuatnya meleleh. Tanpa sadar tangannya secara berlahan mengalung di leher Donghae. Merasakan Yoona yang menerima tindakannya, tangan Donghae beralih, meraih pinggang Yoona semakin mengikis jarak mereka hingga tidak ada jarak sedikitpun. Mereka menikmati kehangatan yang mereka rasakan melalui kontak fisik yang mereka lakukan. Suhu mendekati 10 derajat, namun sepertinya mereka tidak merasakannya sama sekali.

>>>>>>>

Masih berada disekitaran Itaewon Street, Yoona dan Donghae masih menikmati kencan mereka dengan berjalan sambil bergandengan tangan.

“udara sepertinya semakin dingin”, keluh Yoona. Donghae hanya membalasnya dengan senyum.

“ohh, disana. Ayo..”, seru Yoona ketika melihat tenda kecil yang menjual makanan jalanan.

Mereka membeli beberapa makanan dan dua cup teh hangat. Kemudian mencari area yang tidak begitu ramai untuk sekedar memakan makanan yang tadi mereka beli.

“mmm, ini enak”, seru Donghae dengan riang. Yoona terkekeh mendengar seruan Donghae yang terdengar seperti anak kecil yang mendapatkan kembang gula.

“ya ini tteokpokki yang paling enak yang pernah ku makan”

Setelahnya terjadi keheningan, mereka menikmati makanan mereka dalam hening.

Dalam keheningan, tiba-tiba Yoona menatap Donghae dengan kening berkerut. Merasa diperhatikan, Donghae membalas tatapan Yoona.

“kenapa?”, tanya Donghae.

“bernapaslah dengan normal”, perintah Yoona sambil meletakkan tangannya didada kiri Donghae.

“apa yang ingin kau lakukan?”

“diam, lakukan saja”, bentak Yoona. Donghae pun diam dan bernapas dengan normal, sesuai perintah.

Tiba-tiba Yoona berdiri, merapikan tas juga sisa makan mereka, lalu membuangnya.

“kita pulang”, ujar Yoona sambil merapikan bungkusan sisa makanan mereka. Donghae terkejut.

“APA? Kenapa?”, Donghae pun ikut beranjak, mengikuti Yoona yang membuang sampah ke tempat sampah terdekat dari posisi mereka.

“pokoknya kita pulang”

“tapi kenapa?”, Donghae kesal karena Yoona tidak memberi tahu alasan kenapa mereka harus pulang.

“kita harus pulang”, ucap Yoona lagi sambil merapikan jaket Donghae, lalu mengusap pipi Donghae dengan lembut.

>>>>>>>

“ayolah Yoona. Aku tidak apa-apa”, bujuk Donghae yang kini duduk di bangku penumpang disamping Yoona yang mengemudi. Tadinya Donghae ingin mengajak Yoona bermain ke Lotte World. Tapi ketika sebelum Donghae mengutarakan keinginannya itu, tiba-tiba Yoona berseru keras, meminta pulang dan alasannya adalah karena detak jantung Donghae tidak teratur dan tangan Donghae yang semakin dingin. Dan akhirnya seperti inilah yang terjadi. Mereka mengakhiri petualangan kencan mereka, dan pulang. Donghae sangat kesal sekarang, tapi Yoona tampak tidak peduli.

“tidak Donghae. Kita harus pulang, hampir saja aku melupakan keadaanmu karena buaian kencan dadakan ini”, balas Yoona cepat sambil berkonsentrasi mengemudi.

“tapi aku hanya sedikit lelah saja”, Donghae masih tetap membujuk Yoona untuk melanjutkan kencan mereka.

“tidak. Kau tidak hanya sedikit lelah. Tapi kau kelelahan. Aku langsung tahu dari deru napas dan detak jantungmu”, balas Yoona. Kali ini Donghae menyerah. Yoona dokter yang hebat dan keahliannya tidak bisa dikalahkan untuk orang yang tidak mengerti dengan dunia medis seperti dirinya. Donghae menghela napas berat, menyerah. Donghae mengatur posisi bangkunya senyaman mungkin, kemudian menyandarkan kepalanya pada kursi sambil memejamkan mata. Benar saja, dirinya merasa lelah sekarang. Sebuah usapan Donghae rasakan di kepalanya.

“tidurlah, nanti akan ku bangunkan”, ucap Yoona sambil sesekali melirik Donghae kemudian kembali ke jalanan. Karena usapan itu Donghae benar-benar terlena dan masuk kedalam dunia bawah sadarnya.

>>>>>>>

Setelah menempuh perjalanan hampir sejam, dengan bantuan GPS, mereka tiba di apartement Donghae. Yoona memarkirkan mobil Donghae, melepas seatbeltnya, kemudian beranjak keluar. Dibukanya pintu mobil yang satunya, tempat Donghae yang masih tertidur dengan pulas.

“oppa, bangun. Kita sudah sampai”, bisik Yoona ditelinga Donghae. Tidak begitu berharap Donghae mendengar bisikannya, karena dia menggunakan kata oppa. Namun sayangnya pria itu terusik dari tidurnya. Membuka kelopak matanya berlahan dan yang pertama kali dilihatnya adalah wajah gadis yang sangat dicintanya sedang tersenyum kepadanya. Andaikan seperti ini setiap waktunya, bantin Donghae.

“kita sudah sampai”, ucap Yoona lembut sambil mengusap pipi Donghae. Pria itu mengangguk, kemudian keluar dari mobil. Yoona sejenak merapikan jaket Donghae agar tetap menghangatkan tubuh pria itu. Bahkan Yoona menyempatkan diri memeluk pria itu agar sedikit memberi kehangatan.

“kita harus segera masuk. Disini terlalu dingin”, perintah Yoona. Membawa Donghae memasuki lobby, menuju lift yang akan membawa mereka ke pintu apartement Donghae.

Sesampainya didalam apartement Yoona langsung menyibukkan diri dengan mengatur penghangat ruangan, menyiapkan sandal rumah untuk Donghae. Lalu berlari kearah pintu kamar Donghae dan kembali keluar dengan membawa selimut tebal. Sedangkan Donghae hanya diam duduk disofa memperhatikan Yoona yang terlihat mondar-mandir, melakukan semua dengan cepat.

“tunggu disini dan jangan kemana-mana”, perintah Yoona sambil menyelimuti Donghae, memastikan selimut itu dapat menutupi seluruh tubuh Donghae. Setelahnya Yoona beranjak kearah dapur. Lalu beberapa menit kemudian, kembali membawa baskom besar berisi air panas yang uapnya mengepul menutupi wajah cantik Yoona. Yoona meletakkannya dibawah kaki Donghae. Kemudian menyelupkan handuk kecil disana, memerasnya dengan sesekali memekik karena merasakan panas pada kulitnya.

“hati-hati. Tunggu sedikit lebih dingin”, tegur Donghae. Namun Yoona hanya tersenyum mendengarnya. Yoona tetap memeras handuk itu, menahan sedikit sengatan panas dikulit tangannya.

“berikan tanganmu”, Donghae mengulurkan kedua tangannya dan Yoona langsung mengusap handuk itu pada lengan Donghae dengan hati-hati takut kulit Donghae terkejut dengan panas dari handuk tersebut. Donghae hanya diam memperhatikan perbuatan Yoona. Yoona terlihat cekatan dan sangat mahir merawat orang sakit. Donghae tersenyum kecil melihat wajah Yoona yang masih terlihat kaku, karena terlalu mengkhawatirkannya.

“masih dingin?”, tanya Yoona. Donghae menggeleng dengan memberi senyuman pada Yoona.

“syukurlah. Sekarang kakimu”, Yoona mulai melepas sandal pria itu, menarik selimut yang menutupi kaki Donghae hingga ke paha. Lalu menggulung celana panjang Donghae.

“aku bisa melakukannya sendiri Yoona”, ucap Donghae, melerai Yoona mengusap kakinya juga.

“diamlah”, hanya satu kata itu yang terlontar dari mulut Yoona. Dan satu kata itu seolah-olah tidak ingin dibantah. Donghae pun pasrah saja.

Yoona mengusap-usap handuk kecil itu lagi ke kaki Donghae berulang-ulang. Kemudian Yoona menyelupkan tangannya ke air yang ada dibaskom, mengukur suhunya.

“masukkan kakimu, ini sudah tidak terlalu panas ku rasa”, ucap Yoona, mendekatkan baskom itu kebawah kaki Donghae, menuntun kaki Donghae masuk kedalam baskom itu. Seketika rasa hangat melingkupi tubuh Donghae. Donghae bersandar disofa, menikmati kehangatan dari air panas itu.

Yoona kembali kedapur menyiapkan cokelat hangat untuk mereka. Kembali menghampiri Donghae yang hampir tertidur di sofa dengan kaki masih terendam didalam baskom. Yoona tersenyum melihat Donghae yang menahan ngantuk. Yoona meletakkan dua cangkir cokelat hangat itu diatas meja, kemudian duduk disamping Donghae. Mengusap dengan lembut wajah Donghae, membuat pria itu tersadar.

“kau mengantuk?”, tanya Yoona sambil tersenyum.

“mmm, air panas ini sangat menenangkan”, gumam Donghae.

“aku sudah buatkan cokelat hangat, minumlah”, ucap Yoona meraih kedua cangkir itu, menyerahkan salah satunya pada Donghae. Donghae memperbaiki posisi duduknya, lalu meraih cangkir itu dari Yoona. Mereka menikmati cokelat hangat itu dalam diam.

>>>>>>>

Mereka kini sudah ada dikamar Donghae. Pria itu sudah berbaring dengan nyaman dan Yoona duduk disampingnya, merapikan selimut Donghae.

“kenapa diluar sangat dingin? Menyebalkan”, gerutu Donghae tiba-tiba.

“ini karena sudah mau memasuki musim dingin. Tentu saja cuaca diluar sangat dingin”, jelas Yoona.

“tapi kenapa harus sekarang? Kencan kita jadi batal, juga penyakit menyebalkan ini selalu datang diwaktu yang tidak tepat”, Donghae terus-menerus mengomel karena batalnya kencan mereka.

“sudahlah. Ini mungkin pertanda untuk kau istirahat. Tidurlah”, Yoona mulai mengusap-usap lengan Donghae, membuai pria itu hingga mulai menutupkan mata. Yoona diam memperhatikan raut wajah lelah Donghae. Yoona tahu Donghae sejak ditaman tadi hingga makan direstoran, pria itu menahan sakitnya. Tapi entah datang dari mana keegoisan dalam diri Yoona, meyakinkan bahwa Donghae dapat bertahan. Hingga beberapa jam yang lalu ketika tiba Yoona tersadar dari keegoisannya, lalu memaksa pulang.

Yoona memandang wajah polos Donghae yang sepertinya sudah mulai tertidur dengan deru napas yang mulai teratur.

“maafkan aku karena egois memaksakan keadaanmu untuk kencan ini”, ucap Yoona lembut dan suara yang bergetar. Gadis itu ingin menangis sekarang. Pria ini sakit parah, dan kencan mereka tidak dapat berjalan seperti yang mereka rencanakan. Lalu setelah ini mereka tidak akan bisa bersama lagi. Semuanya berakhir. Tapi apakah cintanya pada Donghae seiring waktu juga akan berakhir?

>>>>>>>

Hingga tiga puluh menit kemudian, setelah merasa Donghae benar-benar masih dalam dunia dibawah alam sadarnya, Yoona mulai beranjak dari sisi Donghae. Merapikan jaketnya, lalu berbalik, melangkah menjauhi tempat tidur Donghae. Tapi baru dua langkah, Yoona berhenti. Menunduk, meremas dadanya. Ada sesuatu yang terasa mengganjal dan membuat dia merasakan kesakitan yang tidak dapat terkatakan lagi.

Yoona berbalik, kembali mendekati Donghae. Gadis itu menunduk mengamati wajah Donghae dengan air mata yang sudah mulai mengalir. Yoona menggigit bibir bawahnya untuk menahan isakannya takut mengganggu tidur pria itu.

“ku pikir dengan menghabiskan waktu dengan mu malam ini, akan mempermudah ku untuk melepasmu”

“tapi… hiks… ini bahkan lebih sulit lagi”

“bagaimana aku mengucapkan salam perpisahan oppa? Jika pada kenyataannya aku tidak ingin sedikitpun jauh darimu”

“apa yang harus kulakukan?”

Yoona menutup mulutnya dengan telapak tangannya untuk meredam tangisnya. Tiba-tiba Donghae bergerak, sepertinya isakan Yoona mulai mengusiknya. Membuat Yoona segera menghapus air matanya. Menahan sekuat tenaga agar matanya tidak memproduksi air mata lagi. Untung saja Donghae tidak terbangun. Pria itu kembali dalam tidurnya.

Yoona merapikan beberapa anak rambut yang menutupi kening pria itu. Mengusap kening itu dengan lembut.

“maafkan aku karena tidak bisa mengucapkan kata perpisahan. Karena aku tidak sanggup melakukannya oppa. Maaf…”

Yoona mengecup bibir pria itu dengan lembut, lalu segera pergi meninggalkan kamar itu dengan memendam semua kesakitannya.

Ketika Yoona sudah tiba di depan pintu, diraihnya knop pintu itu. Namun tiba-tiba terdengar suara gaduh dari belakangnya. Tapi sebelum sempat berbalik untuk melihat apa yang terjadi, tiba-tiba sesuatu menubruk punggungnya hingga membuat Yoona sedikit terdorong kedepan.

Mata Yoona membulat, terkejut dengan kejadian yang dalam sekejam terjadi. Ditambah sesuatu yang melingkar semakin erat dipinggangnya. Sepasang lengan kekar melingkari pinggangnya dengan erat. Membuat tubuhnya menghangat sekaligus gemetar. Dan lagi-lagi air matanya sudah membasahi pipinya.

“aku… aku juga tidak sanggup berpisah denganmu”, ucapan lirih itu sangat jelas Yoona dengar.

Tanpa Yoona sadari sejak sedari awal Donghae tidak benar-benar bisa tidur dengan tenang. Donghae masih ingin bersama Yoona. Tapi karena gadis itu terlalu mengkhawatirkannya, Donghae memilih lebih baik berpura-pura tidur berharap sedikit mengurangi kekhawatiran gadis itu.

“jangan pergi”, pinta Donghae.

“kumohon jangan pergi”, dengan suara serak Donghae memohon dengan memeluk Yoona lebih erat. Yoona tidak dapat berkata-kata lagi. Gadis itu hanya dapat menangis sesunggukan dengan badannya yang bergetar hebat. Bahkan kini Donghae pun ikut menangis walaupun tidak sampai sesunggukan seperti Yoona. Donghae menangis dalam diam. Air matanya mengalir membasahi pipinya. Donghae meletakkan dagunya di bahu Yoona. Donghae pun merasakan hal yang sama seperti yang gadis itu rasakan. Seperti ada tekanan dari dalam diri mereka yang ingin meluap tapi seperti ada penghalang. Mengakibatkan rasa sesak di dada. Air mata pun tak cukup untuk menggambarkan betapa sakitnya pasangan itu.

>>>>>>>

“tidurlah”, ucap Yoona. Namun Donghae tetap menggelengkan kepala. Yoona sudah berulang kali meminta Donghae untuk tidur tapi pria itu keras kepala tidak ingin tidur, bahkan memejamkan mata pun tidak.

Setelah meminta terus-menerus agar Yoona tidak pergi, akhirnya gadis itu mengalah. Yoona akan pergi ketika pagi hari. Donghae pun setuju. Walaupun tidak rela Yoona tetap akan meninggalkannya, tapi dari pada tidak ada Yoona sama sekali, lebih baik menambah jam kebersamaan mereka yang seharusnya sudah selesai sedari tadi, yang mana Yoona harusnya sudah pulang ke rumahnya.

Kini mereka berbaring diatas tempat tidur king size Donghae. Mengambil masing-masing sisi tempat tidur dengan posisi menyamping, saling berhadapan.

Yoona mengelus-elus rambut Donghae agar pria itu mau tidur. Tapi mata pria itu masih terbuka lebar dengan sedikit bengkak karena aksi saling tangis mereka beberapa saat yang lalu. Yoona yakin keadaan dirinya pasti tidak jauh berbeda dengan pria dihadapannya itu. Bahkan mungkin lebih buruk.

“kau harus tidur”, ujar Yoona.

“aku tidak mau. Nanti kau pergi meninggalkanku”, balas Donghae dengan nada memelas seperti anak kecil. Yoona tersenyum lebar. Prianya sangat menggemaskan. Prianya? Bisakah Yoona mengatakan Donghae sebagai prianya? Miliknya? Donghae mencintainya begitu pun sebaliknya. Jadi tidak ada salahnya mereka saling memiliki bukan, setidaknya untuk saat ini.

“aku tidak akan pergi”

“janji?”

“mmm”, Yoona menggangguk tegas.

Melihat itu Donghae sedikit lega, dia percaya pada Yoona. Gadis ini tidak pernah berniat menyakitinya, hanya saja pada kenyataannya gadis itu membuatnya sakit. Sakit karena jatuh cinta pada gadis yang tidak akan pernah menjadi miliknya.

“apa yang kau pikirkan?”, tanya Yoona ketika melihat Donghae tampak melamun.

“kau”, jawab Donghae dengan senyum bahagianya, dia berusaha keras menutupi segala kesediahan yang melingkupinya.

“aku? Aku kenapa?”, tanya Yoona ingin lebih tahu.

“kau cantik”, jawab Donghae dengan senyum menggoda.

“ckkk, dasar penggoda”, desis Yoona. Namun berikutnya mereka tertawa bersama.

Setelahnya hening beberapa saat. Mereka sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing. Hingga tiba-tiba Donghae menarik tubuh Yoona untuk lebih dekat kepadanya. Yoona pun masuk dalam pelukan hangat Donghae. Donghae mencium kening indah Yoona setelah mennyisihkan beberapa helai rambut gadis itu ke belakang teliga. Kemudian Donghae mengangkat dagu Yoona, membuat mereka kini saling tatap. Manik mata kedua sejoli itu bertemu, saling memahami makna dari tatapan pasangan mereka.

“berjanjilah sesuatu untuk ku”, ucap Yoona kembali membuka pembicaraan mereka. Salah satu alis Donghae naik, merasa penasaran, menunggu Yoona menyelesaikan ucapannya. Namun gadis itu malah diam.

“janji apa?”, tanya Donghae akhirnya karena gadis itu tidak kunjung bicara.

“tapi kau harus janji dulu akan menepatinya”, balas Yoona. Donghae mendesah kesal. Yoona terlalu berbelit-belit. Tidak to the point saja.

“baiklah. cepat katakan”. ucap pria itu. Yoona mengirup napas sesaat lalu mulai berkata.

“berjanjilah kau akan bertahan hingga semuanya selesai. Operasimu selesai, dan berusahalah untuk pulih hingga sehat”, Yoona mengatakan semua isi doa yang selalu dimintanya kepada Tuhan. Walaupun tidak bisa bersama pria ini, setidaknya Yoona masih bisa melihatnya sehat dan menjalani hari-harinya seperti orang normal pada umumnya. Melihat dari kejauhan.

Donghae tidak menyangka Yoona akan meminta hal itu disaat-saat seperti ini. Donghae pikir gadis itu akan memintanya untuk melupakan gadis itu, tapi nyatanya tidak. Gadis ini sangat peduli pada kesehatannya.

“baiklah. Tapi ada syaratnya”, jawab Donghae. Tidak ada jawaban dari Yoona, tapi Donghae menganggap diamnya gadis itu sebagai persetujuan.

“ada dua syarat. Yang pertama…. Jangan pernah menangis lagi. Aku tidak sanggup melihatmu menangis apalagi penyebabnya aku”, Donghae jeda sesaat. Mata Yoona sudah berkaca-kaca, Donghae pun langsung mendesis.

“ckk… lihatlah aku baru mengatakannya, tapi kau sudah melanggarnya”,  ujar Donghae menunjuk mata Yoona yang mulai memproduksi air mata lagi, dengan dagunya. Yoona menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya berlahan.

“yang kedua?”, tanya Yoona dengan suara yang bergetar.

“berjanjilah, kau akan bahagia”, hanya kalimat sesingkat itu yang Donghae ucapkan namun mampu membuat Yoona teriksa lagi.

“aku akan selalu mendukungmu asalkan kau bahagia. Bagiku tidak ada yang lebih penting selain kau bahagia”, perkataan Donghae semakin membuat isak tangis Yoona mengencang.

Bagaimana bisa pria ini masih memikirkan kebahagiaan Yoona sementara gadis itu sudah menghancurkan perasaannya tanpa tersisa. Bukankah jika seperti ini Yoona seperti gadis jahat yang tidak berperasaan. Tapi seperti banyak orang berkata, cinta tak harus memiliki. Jika memang seperti itu, baiklah, Donghae mengalah. Mungkin benar, cintanya kepada Yoona hanya sebatas ini saja, dia tidak bisa memiliki gadis itu.

“kau akan selalu bahagiakan?”, yakin Donghae dengan senyum yang dipaksakan. Yoona tidak menjawab, hanya menganggukkan kepala saja.

“baguslah”, ucap Donghae sambil membawa gadis itu semakin masuk kedalam pelukannya. Yoona menyurukkan wajahnya di dada bidang Donghae mencoba meredam tangisnya. Tanpa gadis itu sadari, air mata Donghae pun sudah membasahi wajahnya. Namun tangannya mengusap-usap punggung gadis rapuh itu seolah-olah hanya Yoona yang lebih butuh ketenangan.

Beberapa menit kemudian, tidak terdengar lagi tangis Yoona. Karena penasaran Donghae menilik sedikit ke wajah Yoona dan ternyata gadis itu sudah tertidur. Wajah Yoona menggambarkan kelelahan yang amat sangat tapi walaupun begitu bagi Donghae gadis itu tetap cantik seperti malaikat.

“aku akan selalu mencintaimu. Selamanya”, dikecupnya kening Yoona, lalu memejamkan mata, ikut bersama Yoona memasuki alam bawah sadar mereka.

>>>>>>>

Yoona memarkirkan mobilnya digarasi rumahnya. Kini waktu menunjukkan pukul dua pagi. Yoona baru kembali dari apartemen Donghae.

Tadi gadis itu terbangun ketika merasa handphone di dalam saku celananya bergetar, ada panggilan dari Suho. Dengan berlahan dijauhkannya tangan Donghae yang melingkari tubuhnya.

“I love you oppa”, bisik Yoona di telinga Donghae yang masih lelap tertidur. Kemudian beranjak pergi sebelum air matanya mulai jatuh lagi. Ya begitulah akhir kebersamaan mereka. Tanpa ada salam perpisahan yang dapat mereka sampaikan.

Suho menghubunginya karena ada pasien yang ditanganinya butuh tindakan lanjut. Jadi pria itu membutuhkan saran Yoona.

Yoona keluar dari mobilnya dan langsung diterpa angin kencang yang seketika membuat tubuh Yoona menggigil kedinginan. Dengan langkah cepat Yoona memasuki rumah namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika melihat seseorang yang duduk di teras rumahnya, menatapnya tajam. Kilat kemarahan terpancar dari mata itu, sangat menakutkan. Namun hal itu tidak memberi efek kepada Yoona. Gadis itu tetap melangkah menggapai knop pintu rumahnya. Tetapi belom sempat pintu itu terbuka, tubuhnya dipaksa berbalik oleh seseorang.

“dari mana saja kau?” ucap pria itu dengan penekanan disetiap katanya. Terlihat sekali pria itu menahan amarahnya. Yoona mendongak, menatap pria itu tepat di manik matanya. Yoona tidak takut sedikitpun. Karena baginya pria yang berdiri dihadapannya sekarang ini tidak lebih dari seekor rubah bermuka dua. Penuh dengan kebohongan dan juga licik.

“aku sedang bertanya Im Yoona. JAWAB”, kali ini suara pria itu sudah meninggi.

“bukan urusanmu”, jawab Yoona tegas.

“ckk… katakan saja bahwa kau baru saja bertemu dengan pria penyakitan itu kan”, ucap Siwon sinis. Mendengar Donghae dihina membuat Yoona ikut marah.

“Kau…”, telunjuk tangan Yoona mengarah tepat didepan wajah Siwon, pria yang entah sejak kapan menunggu di depan rumahnya. Yoona tidak memperdulikan soal sopan santun sekarang walaupun dia tahu Siwon lebih tua darinya. Tapi siapa yang peduli.

“ku peringatkan kepadamu hanya sekali ini saja. Jangan pernah menjelek-jelakkan Donghae di depanku, karena…. Kau tidak layak. Kau bukan apa-apa dibandingkan dia. Ingat itu”, ujar Yoona dengan menahan geram hingga suara giginya yang saling bergesekan terdengar. Setelahnya Yoona kembali berbalik, membuka pintu kemudian menutupnya dengan cepat. Tidak peduli dengan pria yang menahan amarahnya sedari jadi.

“brengsek”, maki Siwon dengan tangan yang mengepal sangat kuat.

>>>>>>>

Ketika Donghae terbangun karena merasa tenggorokannya terasa kering, Donghae tersadar waktu masih terlalu pagi untuk melakukan aktivitas. Karena jam masih menunjukkan pukul tiga pagi, tapi walaupun begitu, Donghae tahu Yoona sudah tidak ada lagi di apartemennya.

Setelah meneguk habis segelas air yang selalu tersedia di atas nakas disamping tempat tidurnya, pria itu berniat ingin melanjutkan tidurnya lagi. Dia terlalu malas untuk melakukan apapun sekarang. Tapi niatan tersebut harus diurungkannya karena menerima pesan singkat di layar handphonenya dari nomor yang tidak terdaftar dikontaknya. Tapi Donghae tahu siapa yang ingin mengajaknya bertemu itu.

Dan disinilah Donghae, duduk didepan seseorang yang mengirimnya pesan singkat tadi. Mereka duduk disudut ruangan sebuah Café yang buka 24 jam.

Namun sudah hampir tiga puluh menit mereka disana, tapi tidak ada salah satupun diantara mereka yang memulai bicara. Merasa ini seperti membuang-buang waktunya, Donghaelah yang memulai pembicaraan mereka.

“Apa yang ingin Anda katakan sehingga menyuruh saya datang dipagi buta seperti ini?”, mulai Donghae.

Pria yang sedari tadi asyik menyesap coffeenya, mulai terlihat raut wajah kaku diwajahnya dan tatapan matanya dingin dan tajam.

“aku hanya ingin memperingatkan posisi mu diantara aku dan Yoona”, ucap pria itu sinis. Donghae menyerutkan keningnya, merasa tidak mengerti dengan apa yang pria itu katakan.

“saya tidak mengerti Siwon-ssi”, balas Donghae masih dengan bahasa formal walaupun Siwon membalasnya dengan bahasa informal. Padahal mereka bukan orang yang cukup dekat hingga pria itu sampai berani berbicara informal kepadanya.

“jangan berpura-pura bodoh. Kau…”, ujar Siwon dengan penekanan diakhir kalimatnya menatap Donghae tajam dan dengan sedikit geraman. Pria ini marah dan sepertinya sedikit mabuk, batin Donghae. Tapi walaupun seperti itu Donghae masih terlihat tenang menanggapinya.

“kau hanyalah orang ketiga yang merusak kebahagian kami. Kau tidak lebih dari seorang pecudang”, maki Siwon. Kali ini amarah Donghae mulai tersulut. Namun Donghae masih menahan diri.

“pecundang? Apa kau tidak salah?”, tanya Donghae dengan sinis. Kali ini Donghae sudah menunjukkan ketidaksukaannya kepada pria yang terlihat kebingungan kali ini.

“kalau kau memang benar-benar mencintainya, seharusnya kau bermain terus terang saja. Tidak perlu menyuruh orang suruhanmu memata-matai Yoona dan… mungkin aku juga”, kali ini Siwon benar-benar tidak dapat berkata. Donghae sudah mencurigai ada seseorang yang selalu mengikuti Yoona setiap mereka bersama. Donghae yang merasa tidak nyaman, menyuruh orang  lain untuk menyelidikinya. Dan benar adanya jika memang sepanjang hari ada seorang pria yang memakai baju serba hitam selalu mengikuti kemanapun Yoona pergi dari pagi hingga Yoona kembali ke rumahnya. Menurut informasi yang Donghae terima, pria itu tidak lebih dari mengikuti Yoona, tidak berbuat yang macam-macam. Donghae bersyukur akan itu sehingga tidak menindak lanjuti ke pihak hukum. Namun ada sesuatu yang selalu dilakukan pria berbaju serba hitam itu yaitu menelepon seseorang yang entah siapa, melaporkan semua apa yang Yoona lakukan. Ini membuat Donghae penasaran dan curiga apa maksud dari orang yang menjadi dalang disemua ini.

Kecurigaan Donghae pun jatuh pada Siwon karena pria itu selalu tahu dimanapun Yoona berada terkhusus jika bersama dengan dirinya. Pria itu akan segera mengganggu mereka dengan panggilan telepon ke handphone Yoona. Ditambah lagi pertemuan pertama mereka di taman ketika Donghae dan Kyuhyun berolah raga. Siwon dan Yoona ada disana. Taman itu cukup jauh jika dari rumah Yoona. Itu semakin menambah ke curigaannya.

Dan sekarang pria ini mengetahui nomor handphonenya bahkan rumahnya karena isi dari pesan yang pria ini kirimkan sangat singkat namun menambah keyakinan Donghae bahwa Siwon memang memata-matai Yoona dan dirinya.

Kita bertemu di café dekat apartemenmu

Hanya satu kalimat itu. Donghae langsung curiga, Siwonlah yang ada dibalik semua ini. Tidak mungkin Siwon mengirimkan kalimat seperti itu jika pria itu tidak tahu dimana apartemennya dan café tempat mereka sekarang.

“kalau kau memang benar-benar mencintainya, kau akan memilih untuk menanyakan langsung apa yang Yoona lakukan dalam kesehariannya, bukan dengan menyuruh orang lain dan kau sibuk dengan ambisimu untuk bisa menguasai perusahaan tempatmu bekerja sekarang”, setelah mengatakan itu Siwon menggembrak meja didepannya. Wajah Siwon memerah dengan tangan mengepal siap memberi pukulan kepada Donghae. Donghae pun pasrah karena dengan kondisinya sekarang pasti dia kalah.

“jangan pernah ikut campur dengan pekerjaanku dan juga Yoona. Ku peringatkan kau sekali lagi”, ancam Siwon. Namun Donghae malah terkekeh lucu dengan ucapan pria itu.

Donghae pun ikut berdiri, menatap tajam mata pria yang lebih tinggi darinya itu.

“apa kau sedang mengancamku? Kau tahu betul siapa aku dan siapa dirimu sekarang ini. Aku… yang kau katakan si pria dermawan ini jika sudah marah akan berubah juga menjadi iblis tanpa belas kasihan. Sekali saja kau berani menyakiti Yoona, aku bisa dengan mudah menghancurkanmu. Kau tahu persis itu. Jadi jangan pernah sekalipun mengancamku”, peringat Donghae kemudian pergi dari hadapan Siwon. Sedangkan pria itu masih terdiam kaku setelah mendengar ancaman yang dibalikkan Donghae kepadanya.

Donghae dengan langkah cepat tiba di depan gedung apartemennya yang memang tidak jauh dari café itu, dia menuju parkiran apartemennya, mengambil kunci mobil disaku jaketnya yang kebetulan masih ada didalam saku jaketnya ketika pergi kencan dengan Yoona. Dengan cepat Donghae menyalakan mobilnya, melaju dengan kecepatan diatas rata-rata. Donghae meluapkan kemarahannya dengan mengendalikan mobilnya dengan semberautan dan tidak memperdulikan peraturan lalu lintas. Untung saja jalanan masih sepi. Aktivitas masyarakat di sana belom dimulai.

Pikiran Donghae sedang berkecamung. Tadi sebenarnya ia ingin memberikan sedikit pelajaran pada Siwon. Ingin memberikan pukulan bertubi-tubi pada pria itu. Tapi Donghae sadar diri, dia tidak akan bisa mengelak jika Siwon memberi pukulan balik. Donghae tidak suka dengan kebohongan-kebohongan pria itu, tidak suka dengan ambisinya yang terlihat seperti haus akan jabatan. Semua itu Donghae tahu dari orang suruhannya.

Donghae tidak rela Yoona bersama orang yang seperti itu. Siwon tidak tulus mencintai Yoona, dia hanya berambisi memiliki Yoona. Tidak memperdulikan bagaimana sebenarnya perasaan Yoona kepada pria itu. Tapi kenapa Yoona memutuskan tetap memilih pria itu? Keputusan Yoona itu yang membuat Donghae tidak habis pikir. Donghae ingin mencegah tapi apa daya, Donghae sudah terlanjur berjanji akan mendukung sepenuhnya keputusan gadis yang dicintainya itu. Donghae sekarang sangat kesal karena tidak dapat berbuat apapun.

Donghae menghentikan mobilnya ditepi jalan yang sangat sepi, bahkan tidak ada rumah atau bangunan didaerah itu, hanya ada pepohonan besar di pinggir jalan. Donghae tidak sepenuhnya sadar ketika melajukan mobilnya tadi. Akhirnya disinilah dia, diam dibalik kemudi menatap kosong ke jalanan yang hanya diterangi lampu jalan yang remang-remang.

Donghae menunduk, menghirup napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya berlahan. Emosinya sedang tidak terkendali sekarang. Donghae meletakkan keningnya pada setir mobilnya, mencoba mengistirahatkan diri dengan memejamkan mata.

Tiba-tiba handphonenya berdering, ada panggilan. Nama Lee Chorong tertera di layar itu. Donghae mengusap layarnya ke symbol berwana hijau. Kemudian mengarahkan benda persegi panjang itu ke telinga kanannya.

“OPPA DIMANA. AKU SUDAH MENEKAN BEL APARTEMEN OPPA BERULANG KALI. TAPI TIDAK ADA JAWABAN. OPPA DIMANA SIH…”, belum sempat Donghae mengucapkan sepatah kata pun ketika menyaktifkan panggilan diterima, gadis cerewet yang menghubunginya itu sudah berkata dengan nada keras lengkap dengan suara melengkingnya. Membuat Donghae harus menjauhkan handphonenya jika tidak ingin telinganya rusak tiba-tiba.

Karena tidak ada respon dari Donghae, Chorong menjadi khawatir.

“op-oppa? Kau masih disana bukan?”, ucapnya dengan nada khawatir.

“kau sudah selesai bicara Lee Chorong? Dasar tidak sopan, terus berbicara tanpa memberi kesempatan kepada orang lain untuk bicara”, ujar Donghae. Terdengar helaan napas dari seberang sana. Sepertinya Chorong menghela napas.

“maaf. Aku tadi khawatir karena oppa tidak juga membuka pintu apartemen oppa”, jelas Chorong dengan tidak enak hati.

“aku tidak sedang diapartemen”, jawab Donghae pelan tiba-tiba seperti ada sengatan kecil yang dirasakannya di dada kirinya.

“oppa dimana?”, tanya Chorong. Namun Donghae sudah tidak begitu mendengar lagi. Donghae meremas dada kirinya yang sakit bahkan keringat sebesar biji jagung sudah terlihat di keningnya. Donghae menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya berlahan. Melakukan pertolongan pertama pada dirinya sendiri. Tetapi tarikan dan hembusan napas Donghae cukup kencang hingga terdengar oleh Chorong diseberang sana.

“oppa? Oppa baik-baik saja? kata oppa dimana sekarang, aku akan kesana menjemputmu”, ucap Chorong dengan nada suara panik dan tidak sabaran. Tapi sayangnya Donghae tidak bisa mengatakan apapun karena rasa sakit yang dirasakannya, Donghae tidak sanggup bertahan lagi, dan kesadarannya pun hilang.

Handphone Donghae terjatuh dibawah kakinya dengan masih aktif tersambung dengan Chorong disana.

“OPPA….”

TBC

Ok, sampai disini dulu chapter ini.

Nih mau lanjut author note diatas. Klo kalian bertanya-tanya kenapa kalian harus baca wattpad aku, alasannya adalah karena biasanya aku terlebih dahulu post lanjutan FF di wattpad dari pada di worpress aku ini. Tapi bagi reader-nim yang tidak menggunakan wattpad jangan takut gak bisa baca lanjutan FF ini. karena isi di wattpad dan wordpress aku sama aja kok. perbedaannya hanya pada chapternya. Nah ini juga yg jadi alasan aku kenapa lama post lanjutan FF di wordpress aku ini.

Reader kan selalu komentar kurang panjang, kependekan dan semacamnya, padahal udah 40000+ word. Sedangkan di wattpad aku hanya post 2000+ kata per chapternya (hal yang lazim di dunia per watty-an). Cth nya chapter ini, klo di wordpress, chapter ini adalah chapter 7. sedangkan di wattpad ini chapter 7 dan 8. Itu aja sih bedanya…

Nah bagi reader-nim yang pengen tahu wattpad aku silahkan search @fi_ssmoo

screenshot_2017-02-13-14-34-05

Jangan lupa like dan komentarnya ya…

aku tunggu loh..

Ok See Ya….

Advertisements

19 thoughts on “My Lovely Doctor – Chapter 7

  1. Wahh kamu tinggalan..
    Ini udah lama update
    Clue pw ada di menu password ya
    Klo gk bisa nebak pw, kontak aku ada di menu about..

  2. Sekian lama nunggu ff ini ternyata baru update atau aku nya yg baru baca ya? Sedih nasib mrk berdua terhalang oleh sakit ya haeppa dan siwon, buat yoonhae bersatu dong chingu gk tega baca mrk hrs berpisah hikhik oya chap 8 nya sdh ada y? Tp di pw gmn caranya tuk dapetin pw nya

  3. tryarista w

    hiks_hiks y ampun donghae oppa ,,,,,
    disaat kmu mlawan pnyakitmu,,,disaat itu pula kau kehilangan org yg kau cintai,,,semoga tdk trjdi apa2,,,
    $iwon jhat bgets sichhhh

  4. Intansrhdt

    Senang dan sedih diwaktu yg sma, knp sangat sulit untuk mereka bersama. Itu yg bgian akhir donghae nya knp duhhhhh…..
    Keep writing thor 🙂

  5. ichus

    Mewek… ditemani lagunya kyuhyun A million pieces. Pas bgt sama moment kebersamaan Yoonhae td dan musti pisah. Siwon ya ampuun pngen nonjok tuh holang.
    Donghae fine kn thor?? Ntar ditemuin siapa klo dia pingsan di pinggir jalan gtu? Hduuh Yoona pilih sama donghae aja lah 😣

  6. Sfapyrotechnics

    romantis skaligus mengharukan.. huwaaa knpa merka nggk jdian aja sih?? knpa mesti ada siwon yg jdi pnghlang?? Huwaaa yoonhaeeeee.. hae knpa?? dia baik2 aja kan??

    nextkk..fighting! ohiyaa loco apa kbar kk?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s