My Lovely Doctor – Chapter 6

mld2

Author: Fi_ss

Tittle: My Lovely Doctor Chap – 6

Lenght: Chapter

Cast: Im Yoona and Lee Donghae

Other Cast: Choi Sooyoung, Cho Kyuhyun, Lee Chorong, Kim Suho, etc

Genree: Romance, Hurt, Comedy (maybe), Friendship

>>>>>> 

aku… ingin berkencan dengan mu

Hening. Hanya detak jarum jam dinding yang terdengar. Sepasang manusia yang sedang terdiam kaku dengan jalan pikiran masing-masing. Yoona dengan tarikan napas yang tertahan menanti jawaban dari sang pria, sedangkan Donghae dengan detak jantung yang awalnya melemah kini berdetak dengan tidak karuan.

“ayo berkencan”, ucap Yoona lebih singkat dan jelas. Namun Donghae masih tetap diam tidak ada reaksi sidikitpun.

“wae? Kau tidak mau?”, ucap Yoona cepat ketika Donghae kembali berbalik membelakanginya.

“ini tidak lucu Im Yoona”, balas Donghae dingin. Merasa ucapan Yoona tidak masuk akal. Apa dia sedang ingin mempermainkanku?

“apa aku terlihat seperti bercanda? Kau pikir disaat-saat seperti ini aku masih dapat bercanda? AKU SERIUS. AKU INGIN KITA BERKENCAN”, ucap Yoona dengan penekanan pada ucapannya. Donghae langsung menghadap Yoona. Menatap langsung ke manik mata gadis itu. Dia serius, pikir Donghae. Tapi pria itu masih terlihat bingung dengan keinginan Yoona yang tidak masuk akal itu.

“Kenapa? Kenapa kita harus berkencan Im Yoona?”, tanya Donghae masih dengan nada datar dan dinginnya. Donghae ingin tahu, alasan dibalik keinginan gadis itu

“karena… karena aku ingin mewujudkan salah satu keinginanmu”, jawab Yoona.

“sepertinya aku menjadi pria yang paling menyedihkan di dunia ini sehingga kau harus mengasihaniku”, Donghae tersenyum miris ketika membalas alasan yang Yoona utarakan.

“aku tidak mengasihanimu. Karena sebenarnya itu juga salah satu keinginanku, berkencan dengan mu” Yoona menatap Donghae yang sudah menunduk.

“ini tidak benar Yoona. Ini salah”, balas Donghae dengan nada putus asa.

“tidak. Ini tidak salah. Saat ini aku belum milik orang lain. Aku gadis yang bebas. Dan kau bisa memiliki ku saat ini. Aku tidak peduli jika kau menganggapku gadis murahan. Yang aku inginkan sekarang hanya bersamamu. Kita berdua tanpa ada orang lain, tanpa memikirkan apa yang akan terjadi esok hari. Aku… aku hanya ingin bersamamu Donghae”, ucap Yoona dengan nada serak. Mata Yoona berkaca-kaca ketika mengucapkan keinginannya itu.

“aku mohon… hanya malam ini. Setelahnya aku tidak akan mengganggumu lagi”, tambah Yoona untuk meyakinkan pria yang masih dalam diamnya. Tiba-tiba Donghae berbalik, melangkah ke arah Yoona. Ketika jarak mereka semakin dekat, jantung Yoona berdetak kencang, menanti respon Donghae. Namun pada detik selanjutnya, Yoona merasa seperti jatuh kedalam jurang terdalam, tanpa pencahayaan. Donghae melewatinya begitu saja, dengan raut wajah datar dan tanpa sepatah kata pun terucap.

Tubuh Yoona langsung terjatuh dilantai. Kakinya seperti tidak bertulang, tidak ada topangan. Yoona menangis, menangisi nasib percintaannya yang memilukan. Kenapa disaat dia sudah bertemu dengan orang yang sudah dinantikannya hampir sepanjang hidupnya, kini harus berpisah dan tidak akan ada kata kembali lagi. Sungguh Yoona tidak ingin menjalani kisah seperti ini. Harus menyakiti orang yang sangat dicintainya. Cinta? Ya kali ini Yoona yakin jika dia memang mencintai Donghae, seperti yang Sooyoung ucapkan.

Tapi sekarang, apalah gunanya cinta itu. Dia tidak akan pernah memiliki Donghae. Tidak. Karena pada dasarnya pun pria itu tidak menginginkannya lagi. Donghae merelakannya. Donghae melepaskannya. Tidak bisakah pria itu sekali ini saja untuk egois? Egois untuk mendapatkan kebahagiaan walaupun…hanya sementara.

Tiba-tiba Yoona merasakan kehangatan melingkupinya. Sebuah jaket menyelimutinya. Yoona mendongak, melihat Donghae yang berdiri dihadapannya. Dan… Oh ya Tuhan, pria itu tersenyum, hingga Yoona tidak dapat lagi berkata apapun. Yang Yoona bisa lakukan hanya langsung berdiri dan memeluk erat pria itu. Seerat mungkin agar tidak bisa terlepas walau hanya untuk malam ini. Yoona sangat bahagia ditambah Donghae membalas pelukannya.

“jadi pertama-tama apa yang harus kita lakukan di kencan kita ini?”, tanya Donghae masih dalam keadaan mereka saling berpelukan. Yoona masih diam, masih menikmati aroma tubuh pria dalam pelukannya ini. Air mata Yoona sudah tidak terbendung lagi, setetes demi setetes telah jatuh, mengaliri pipinya. Donghae yang merasakan tubuh Yoona bergetar, semakin mengeratkan pelukannya. Mengelus punggung Yoona dengan penuh kasih sayang.

“Yoona, bisakah kita duduk? Aku lelah berdiri”, ucap Donghae ketika Yoona masih tetap tidak ada pergerakan dalam pelukannya, walaupun Donghae tahu Yoona dalam keadaan baik-baik saja.

Mendengar itu, Yoona segera melepas pelukannya dengan cepat. Memandang Donghae dengan raut wajah khawatir dan bersalah. Yoona melupakan jika Donghae dalam keadaan sakit sekarang ini.

“oh maafkan aku. Ayo kita duduk dulu”, ucap Yoona sambil membimbing Donghae duduk di salah satu sofa single. Lebih tepatnya mereka duduk di sofa single yang diperuntukkan untuk satu orang itu. Bagaimana bisa? Tentu saja Donghae dengan cepat menarik tubuh Yoona hingga gadis itu terduduk diatas pangkuan Donghae. Yoona kaget dengan tindakan cepat pria itu. Bukankah tadi dia berkata lelah? Tapi lihat saja tadi bagaimana pria itu dapat menarik tubuhnya.

“A-apa yang kau lakukan?”, tanya Yoona gugup. Ini kali pertamanya Yoona duduk dalam pangkuan seorang pria.

“mmm, ini mungkin salah satu yang dilakukan pasangan ketika berkencan. Aku pernah menontonnya dalam drama yang sedang Chorong tonton”, jawab Donghae polos. Mendengarnya Yoona langsung terkekeh. Donghae terlihat sangat lucu dengan pemikiran polosnya. Sepertinya benar jika pria ini belum pernah berkencan, batin Yoona.

“kenapa kau tertawa?”, tanya Donghae dengan lengannya yang sudah melingkari pinggang Yoona. Menahan tubuh gadis itu agar tidak beranjak sedikitpun.

“tidak apa-apa. Aku hanya terlalu senang”, jawab Yoona dengan senyum lebarnya. Senyuman gadis itu seolah-olah menular, hingga kini Donghae pun tersenyum. Yoona memang sangat ahli dalam memporak-porandakan perasaannya.

Donghae mengamati wajah Yoona dengan seksama. Ingin merekam semua yang ada dalam diri Yoona. Mulai dari kening indahnya, mata bulatnya – yang walaupun saat ini tidak terlihat karena Yoona masih terkekeh dengan pikirannya yang Donghae tidak tahu. Hidung, pipinya yang bersemu memerah, hingga bibir tipis gadis itu. Entah setan mana yang sedang merasuki Donghae saat ini, karena dia ingin merasakan bibir itu sekarang.

Yoona tiba-tiba terdiam, ketika sadar Donghae sedang menatapnya dengan sangat serius. Yoona sadar arah tatapan Donghae jatuh pada bibirnya, membuat jantung Yoona rasanya ingin keluar karena berdetak sangat kencang, seperti meminta ingin dikeluarkan dari tubuhnya. Apa dia akan menciumku lagi?, pikir Yoona sambil menggigit kecil bibir bawahnya.

“jangan menggigitnya seperti itu. Kau nanti bisa terluka”, ujar Donghae dengan menarik dagu Yoona mendekat kearahnya dan kini ibu jarinya mengelus-elus sudut bibir Yoona yang tadi gadis itu gigit. Yoona merasa sesak sekarang. Padahal dia tidak ada riwayat penyakit pada sistem pernapasannya. Tapi tindakan Donghae ini benar-benar melumpuhkannya.

Cup~

Donghae mengecup bibir tipis itu singkat. Hanya kecupan.

“bernapas Im Yoona”, ucap Donghae dengan bibir yang masih diatas bibir Yoona. Donghae tersenyum tipis dengan reaksi Yoona yang sangat kaku.

“aku penasaran seperti apa reaksimu ketika ciuman pertamamu diambil orang lain”, ucap Donghae terkekeh. Menyadari Donghae sedang mentertawakannya, Yoona langsung menarik tubuhnya, membuat jarak dengan wajah Donghae.

“tidak ada yang lucu”, ucap Yoona kesal. Bukankah mereka tadi sedang dalam kondisi romantis, tapi kenapa pria ini harus merusaknya dengan pertanyaan-pertanyaan konyol.

“kenapa? Aku penasaran. Siapa dia dan bagaimana dia melakukannya?”, Donghae masih dalam topik first kiss Yoona.

“…”

“apa dia tunanganmu?”, tanya Donghae dengan hati-hati. Sebenarnya dia tidak ingin berpikir first kiss Yoona terjadi dengan tunangannya itu. Donghae merasa terluka sekarang ditambah dengan sikap diam Yoona yang seolah-olah membenarkan pemikirannya.

Yoona terkejut dengan tuduhan Donghae yang membawa-bawa Siwon dalam pembicaraan mereka. Dan raut wajah Donghae langsung berubah, terluka dan sedih.

“bisakah kita tidak membawa-bawa dia dalam kencan kita ini? Aku ingin melupakannya sekarang”, ucap Yoona.

“aku ingin hanya ada kita berdua saja malam ini. Tanpa memikirkan yang lain”, tambah Yoona sambil mengelus pipi Donghae dengan lembut. Donghae merasakan kehangatan disekujur tubuhnya.

“bisakah?”, tanya Yoona ingin memastikan hanya ada dirinya saat ini dalam pikiran Donghae. Donghae menatap Yoona tepat dimanik matanya. Kemudian sebuah senyuman terbit diwajahnya.

“baiklah. Ya… walaupun sebenarnya aku masih penasaran”, ujar Donghae.

“aku melakukannya dengan orang lain”, jawab Yoona asal. Ingin memenuhi keingintahuan pria itu.

“A-APA?”, kaget Donghae. Sial, jika bukan tunangannya lalu siapa pria sialan itu, batin Donghae dengan sedikit geraman, marah. Senyum kecil terpantri di wajah Yoona.

“kau tahu, kejadiannya sangat tiba-tiba. Terjadi begitu saja. Tapi setelah ku pikirkan kembali, kurasa dia melakukannya dengan sengaja berpura-pura meminta bantuanku”, Yoona ingin sedikit bermain-main dengan perasaan Donghae sepertinya.

“dia meminta bantuan apa?”

“mmm, dia mintaku memasangkan dasinya. Tapi ketika aku membantunya, dia dengan begitu saja mencuri ciumanku. Licik bukan”, Yoona mengucapkannya dengan nada kesal.

Donghae terdiam. Merasa Dejavu, pernah mengalami yang Yoona katakan. Tiba-tiba sekelebat kejadian ketika Yoona baru tinggal diapartemennya terlintas dalam ingatannya. Gadis itu merawatnya dengan sangat baik. Dan juga tidak segan-segan dalam membantunya dan bisa juga dikatakan memaksa Donghae sebenarnya.

“tunggu dulu… jika yang kau bicarakan itu adalah aku, jangan memfitnah nona Im. Saat itu aku tidak meminta bantuanmu, kau yang merampas dasiku begitu saja”, seru Donghae, tidak terima dengan ucapan Yoona yang menuduhnya mencari kesempatan dalam kesempitan saat itu. Dia pria baik-baik. Saat itu dia hanya terbawa perasaan saja. Ya begitulah.

“benarkah? Aku tidak percaya. Jelas-jelas waktu itu kau melakukannya dengan sangat baik. Seperti sudah direncanakan”, tuduh Yoona.

“TIDAK. Aku tidak seperti itu”, sangkal Donghae.

“ya sudahlah. Kita tidak perlu membahasnya”, ujar Yoona santai. Berpura-pura tidak menyadari jika kini Donghae sedang kesal kepadanya. Donghae menggeram, kesal. Tapi kemudian dia tersenyum.

“jadi itu aku?”, tanya Donghae dengan nada menggoda. Yoona langsung tersipu malu.

“apa kau pernah melakukannya dengan yang lain? Atau dengan tu-“

“Tidak. Hanya denganmu”, Yoona langsung menjawab sebelum Donghae menyelesaikan ucapannya. Yoona tahu kemana arah pertanyaan Donghae. Pria ini benar-benar pencemburu berat, batin Yoona. Lihatlah pria ini sudah seperti orang idiot yang tersenyum sangat lebar.

Cup cup cup~

Donghae langsung menghadiahi Yoona kecupan-kecupan singkat yang membuat Yoona kaget.

“malam ini aku akan memberikanmu yang banyak. Sebagai hadiah karena aku yang menjadi first kissmu”, ujar Donghae, dan lagi-lagi memberikan kecupan dibibir tipis Yoona. Walaupun aku tidak bisa menjadi yang terakhir untukmu, tambah Donghae dalam hati.

“hentikan. Kau sangat mesum”, seru Yoona sambil menghindar dari serangan Donghae. Yoona sebenarnya tidak ingin menolak kecupan bertubi-tubi dari Donghae. Tapi dia terlanjur malu, jadi berpura-pura menolak ciuman dari pria itu.

“aku pria normal. Jika aku tidak berpikir seperti itu sedangkan kondisi sangat mendukung dan banyak kesempatan, itu baru tidak normal”, alasan Donghae membuat Yoona memicingkan matanya.

“sudahlah, kita akhiri  pikiran kotormu itu. Kita harus berkencan sekarang”, ucap Yoona.

“mmm, kau benar. Jadi apa yang akan kita lakukan?”, tanya Donghae. Dia belum pernah berkencan diusianya yang sudah matang itu. Sangat memperihatinkan.

“aku ingin kita makan di tenda-tenda pinggir jalan, berjalan kaki sambil bergandengan tangan, membeli barang-barang couple, makan ice cream, mmm… apalagi ya”, Yoona mencoba mengingat-ingat hal-hal apa saja yang diinginkannya jika ingin berkencan.

“ckckck… kita sedang berkencan Im Yoona bukan sedang berekreasi” Donghae memperingatkan gadis itu, ketika mendengar hal-hal yang ingin Yoona lakukan di acara kencan mereka. Dan semuanya itu terdengar sangat kekanak-kanakan. Mereka bukan lagi pasangan yang baru mengalami pubertas, baru merasakan kencan. Ya walaupun ini adalah kencan pertama mereka. Tapi mereka kan sudah merumur sekarang ini.

“lalu kau ingin yang seperti apa?”, ujar Yoona kesal.

“aku ingin kencan yang dewasa”, ucap Donghae.

“kencan dewasa?”, tanya Yoona tidak mengerti. Namun tiba-tiba matanya membulat ketika mengerti kemana arah kencan dewasa yang Donghae inginkan. Yoona segera beranjak dari pangkuan Donghae. Namun tidak bisa, karena Donghae memeluk pinggangnya dengan kencang.

“kau mau kemana?”, tanya Donghae.

“tidak. Aku tidak ingin ikut dalam acara kencan dewasa mu itu Lee Donghae”, ucap Yoona dengan mata yang tertutup dan berusaha menjauhkan Donghae darinya.

“Awww”, rintih Yoona karena merasakan sentilan cukup kencang dikening indahnya.

“sebenarnya bukan aku yang mesum, tapi kau. Sebenarnya apa yang kau pikirkan diotak cantikmu ini ckckck”, Donghae mendesis kemudian terkekeh.

“la-lalu apa maksud mu dengan kencan dewasa?”

“dengar, aku tidak ingin memikirkan apa yang sedang kau pikirkan saat ini, walaupun aku sebenarnya menginginkannya”, jawab Donghae.

“lihat.. aku benarkan”, seru Yoona sambil mendorong dada Donghae menjauh.

“dengar dulu aku belum selesai bicara”, ucap Donghae tegas. Yoona pun terdiam.

“aku ingin kencan dewasa. Dinner, bukan makan di tenda-tenda pinggir jalan. Membeli perhiasan, bukan barang-barang couple yang kekanak-kanakan, dan lain-lain. Kita harus membuat kencan kita ini menjadi kencan yang tidak akan pernah terlupakan. Aku ingin seperti itu”, ucap Donghae panjang lebar. Mendengar penjelasan Donghae, membuat Yoona tersenyum kikuk. Pasalnya dia sudah berpikir yang tidak-tidak. Mungkin Donghae benar, dirinyalah yang mesum.

“jadi apa yang akan kita lakukan pertama kali?”, tanya Yoona sambil melihat jam tangan yang melingkar ditangan Donghae. Sudah pukul 07.35 PM, waktu mereka tidak banyak, harus dimanfaatkan sebaik mungkin.

“Ayo ikut aku”, ajak Donghae sambil menarik Yoona berjalan keluar dari apartement. Yoona pasrah saja Donghae menariknya dengan telapak tangan yang saling menggenggam. Walaupun sedikit kesulitan menyamai langkah pria itu, Yoona tetap merasa bahagia. Biarlah diwaktu yang singkat ini hanya ada Donghae dihidupnya. Tanpa memikirkan orangtuanya dan juga tunangannya yang menyebalkan dan egois.

>>>>>>>

Mereka kini sedang duduk disalah satu taman, di tepi Sungai Cheonggyeon sambil ditemani popcorn  ukuran medium dan juga coffee untuk Yoona dan green tea untuk Donghae. Mereka menikmati waktu mereka saat ini. Tidak. Lebih tepatnya hanya Donghae yang menikmatinya. Sedangkan Yoona sedari tadi menggerutu tidak jelas.

“sudah aku tidak akan apa-apa. Hanya sebentar saja”, ucap Donghae sambil memakan popcorn digenggaman tangannya.

“apanya yang tidak apa-apa? Disini sangat dingin. Dan angin malam tidak baik untuk kesehatanmu”, marah Yoona.

“dan… apa ini? kau bilang ingin kencan dewasa. Tapi lihat, ini kah kencan dewasa yang kau maksud? Makan popcon, coffee dan green tea di taman kota. Sebenarnya kau yang kekanak- kana… mmm”, Donghae langsung membungkam bibir Yoona dengan bibirnya agar tidak mengeluarkan semburan kemarahannya lagi. Donghae melepas pagutannya, dan see, gadis itu langsung terdiam. Donghae kemudian melingkarkan lengannya ditubuh Yoona, memeluknya erat. Menyandarkan kepala Yoona didada bidangnya. Yoona pun tidak berkomentar lagi.

“cukup seperti ini, aku akan baik-baik saja. ini lebih hangat dari apapun”, ucap Donghae lembut sambil menghirup rambut Yoona yang beraroma stroberi.

Hampir setengah jam mereka duduk disana, dalam diam. Menikmati suasana disekitar taman yang cukup tenang dan juga lampu-lampu taman dan pantulan cahaya dari gedung-gedung pencakar langit disekitarnya. Biasanya Sungai kecil yang mengalir dari pusat kota Seoul menuju ke sungai Hangang cukup ramai dikunjungi pada siang sampai sore hari. Mungkin karena hari sudah gelap, sekitaran sungai termasuk taman kecil yang Donghae dan Yoona kunjungi menjadi tampak sepi. Namun ini sangat mendukung kencan mereka. Itulah yang Donghae pikirkan.

Donghae merogoh saku jaketnya, mengeluarkan handphonenya yang bergetar. Donghae menggotak- atik benda pipih itu, kemudian memasukkannya kembali kedalam saku jaketnya.

“ok, ayo kita ke tempat kencan selanjutnya”, ajak Donghae. Yoona menegangkan tubuhnya dengan kening yang mengerut. Sungguh dia seperti orang bodoh sekarang. Dia tidak tahu kencan seperti apa yang sebenarnya Donghae rencanakan. Setiap dia bertanya, pasti Donghae akan menjadi seperti orang bisu atau tuli. Dan itu membuat Yoona kesal setengah mati.

“aku tidak mau”, tolak Yoona.

“kau akan menyesal jika menolaknya”, rayu Donghae.

“kau yakin? Mood ku sedang buruk sekarang karena jalan pikiranmu yang tidak aku mengerti, jadi jangan membuatnya semakin buruk”, peringat Yoona. Donghae hanya membalasnya dengan senyuman mautnya sambil menarik tangan Yoona untuk bangkit berdiri.

“sesampainya disana, kau akan semakin jatuh cinta kepadaku”, ucap Donghae santai sambil menggiring Yoona menuju mobil yang terparkir di sisi jalan.

Yoona menghentikan langkahnya, membuat Donghae ikut berhenti.

“kenapa lagi?”, tanya Donghae malas. Donghae ingin segera sampai ditempat yang sudah disusunnya sedemikian rupa dengan bantuan Kyuhyun. Tapi gadis keras kepala itu lagi-lagi ingin protes.

“a-aku tidak pernah bilang aku mencintaimu”, ucap Yoona setegas mungkin walaupun masih terbata di awal kalimatnya. Mendengar itu Donghae langsung tersenyum miring.

“kau mencintaiku Yoona”, balas Donghae.

“ti-tidak. Kau terlalu percaya diri”, elak Yoona. Donghae menghela napas berat. Tidak ingin memperpanjang masalah mencintai atau tidak mencintai itu. Walaupun Donghae kecewa dengan jawaban Yoona, tapi bagi Donghae, gadis itu mencintainya, tapi tidak ingin berterus terang.

“sudahlah. Kau akan menyakitiku jika perdebatan ini tetap dilanjutkan”, ucap Donghae, melanjutkan langkahnya meninggalkan Yoona dibelakangnya. Melihat perubahan raut wajah Donghae, Yoona segera sadar dia salah bicara. Yoona mengejar Donghae, merangkul lengan kanan pria itu.

“jangan marah. Aku hanya bercanda”, ucap Yoona dengan nada manja.

“aku tidak marah. Hanya saja kau mengatakan hal yang berkebalikan dengan yang terpancar dimatamu”, balas Donghae sambil menatap mata indah Yoona. Gadis itu tersenyum mendengar perkataan Donghae. Baguslah Donghae tahu tanpa Yoona harus mengutarakannya.

Karena jika diharuskan untuk mengungkapkan perasaannya sekarang, gadis itu tidak sanggup. Bukan hatinya yang tidak sanggup menerima bahwa dirinya telah jatuh cinta kepada pria itu. Tapi keadaan Yoonalah yang tidak sanggup atau lebih tepatnya tidak mau menerima perasaan itu ada padanya. Jadi biarlah seperti ini. Yang terpenting Donghae menyadarinya dan mungkin juga pria itu tahu mengapa Yoona tidak bisa mengungkapkannya.

Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju tempat yang Donghae katakan akan membuat Yoona akan semakin mencintainya. Yoona penasaran seperti apa tempat itu. Benarkah tempat itu akan semakin membuat Yoona semakin mencintai pria itu? Ya walaupun tanpa tempat itu, Yoona akan tetap larut semakin dalam pada cinta Donghae yang memabukkan.

“ayo turun”, ucapan Donghae mengembalikan kesadarannya yang ternyata sejak tadi melamun. Yoona keluar dari mobil, menghampiri Donghae yang menunggunya di depan.

“ini dimana?”, tanya Yoona yang merasa asing dengan tempatnya sekarang. Tempat ini terlihat seperti restoran outdoor, tapi terlihat sangat indah. Karena bangunannya berdiri diatas air, dengan pencahayaan yang sangat terang.

“nanti kau akan tahu”, balas Donghae. Mereka pun memasuki pintu utamanya dan Yoona langsung dikejutkan dengan pemandangan taman dengan beberapa pondok-pondok kecil yang juga berdiri diatas air. Jalan menuju setiap pondok, dibantu dengan jembatan kayu yang terlihat elegan. Sambil tetap berjalan mengikuti Donghae, Yoona memandang sekitar dan baru menyadari jika ternyata seluruh bangunan restoran berdiri diatas kolam bunga hias. Didasar kolam berbagai bunga hias ditata dengan sangat indah dengan menyelipkan lampu-lampu kecil disekitarnya sehingga membuat warna dari setiap bunga semakin terpancar seolah-olah seperti bunga hidup.

“duduk dulu”, seru Donghae ketika mereka sudah tiba disalah satu pondok yang sudah pria itu booking. Yoona pun duduk dikursi yang Donghae tarik untuknya.

“terima kasih”, ucap Yoona masih sambil memperhatikan sekitar. Donghae membalasnya dengan senyuman sambil duduk dikursinya, berhadapan dengan Yoona.

“tempat yang sangat indah bukan?”, ujar Donghae.

“mmm”, gumam Yoona sambil mengangguk-angguk cepat.

“sangat indah. Dari mana kau tahu tempat ini?”, tanya Yoona.

“ini restoran milik Ahra Noona, kakak Kyuhyun”

“pantas saja kau bisa dengan mudah mendapatkan tempat. Karena kurasa tempat ini sangat berkelas”

“tanpa bantuan Kyuhyun pun aku bisa mendapatkan tempat dengan uangku”

“ohh pria kaya yang sombong”, desis Yoona.

“permisi”, sapa seorang pelayan sambil menghidangkan sajian makanan pembuka dan juga sebotol anggur merah. Yoona memperhatikan semua hidangan yang ada diatas meja, membuat air liurnya hampir menetes. Yoona sangat lapar sekarang.

“jadi apa kita bisa mulai makannya?”, tanya Donghae pada Yoona.

“mmmm? Apa?”, tanya Yoona tidak mengerti menegakkan kembali kepalanya yang sedari tadi memandang makanan diatas meja. Pelayan yang menghidangkan makanan lezat itu bahkan sudah tidak ada disekitar mereka.

“makan Im Yoona. Aku membawamu kesini bukan hanya untuk memandang makanan sampai air liurmu menetes”, ucap Donghae sambil terkekeh.

“air liurku tidak menetes”, ucap Yoona cemberut, namun tangannya tetap melap sekitaran bibirnya.

“Selamat makan”, seru Donghae. Yoona pun segera menggapai sendok dan garpunya, mulai menyantap makanan satu persatu.

Beberapa jam mereka menyantap hidangan yang disajikan pelayan sambil bercanda disela-sela makan mereka. Walaupun Yoona tidak memesan satu pun menu yang dihidangkan, tapi semua hidangannya Yoona sangat sukai. Yoona yakin Donghae yang memilihkan semuanya itu sebelumnya, entah kapan pria itu melakukannya.

“Hae..”

“mmm”

“kau tahu impianku?”

“…”

“aku ingin melakukan dinner special dengan orang yang sangat berarti dalam hidupku. Dinner disebuah tempat yang indah, dengan alunan musik romantis, dengan menu makanan yang lezat, dibawah bintang-bintang dan bulan yang bersinar terang”, ucap Yoona seperti gumaman sambil memandang langit malam yang penuh dengan bintang dan cahaya bulan yang benderang.

“dan kau sudah mendapatkannya”, ucap Donghae menimpali ucapan Yoona. Yoona mengalihkan pandangannya kearah pria tampan yang memang benar karena tempat ini membuatnya semakin dan semakin jatuh cinta pada pria itu.

“kau benar dan aku sangat bahagia. Terima kasih”, ujar Yoona sambil menyembunyikan tangannya pada telapak tangan Donghae yang besar dan sedikit dingin. Dengan tangan yang satunya Yoona menggosong punggung tangan Donghae yang menggenggam tangannya, untuk menghangatkan.

Donghae mengecup punggung tangan Yoona yang menggosok-gosong tangannya. Kemudian memandang tepat dimanik mata Yoona.

“harusnya aku yang berterima kasih padamu. Karena kau hadir dihidupku dan menemaniku ditempat indah ini”, balas Donghae. Yoona tersenyum dengan mata yang mulai berkaca-kaca dan bibir yang bergetar. Tidak ingin Donghae melihat keadaannya, Yoona memalingkan wajahnya, mendongak memandang langit malam. Sesuatu yang menganjal didadanya terasa sangat menyakitkan. Ini kenangan indah yang tidak akan pernah dilupakannya sepanjang umurnya. Kenangan indah sekaligus menyakitkan untuk dikenang. Larut dengan emosinya, Yoona tidak sadar jika air matanya sudah jatuh membasahi pipinya. Sebuah jari tangan sudah mengusapnya.

“berjanjilah setelah ini semua berlalu, jangan pernah menangis lagi”, ucap Donghae lembut sambil membawa kepala Yoona bersandar didadanya. Yoona mengangguk walaupun air matanya tidak kunjung berhenti mengalir. Sebenarnya mata Donghae juga sudah berkaca-kaca, tapi pria itu manahannya sekuat mungkin.

“baiklah, kita lanjutkan kencan kita”, Donghae mencoba mengalihkan suasana yang tampak mulai terbawa emosional mereka kembali. Yoona mengangguk dan berdiri diikuti oleh Donghae. Yoona sejenak memandang sekitarnya. ‘aku akan merindukan tempat ini’, batin Yoona. Setelahnya Yoona dan Donghae keluar ke gedung utama restoran itu, menuju pintu utama.

Yoona menunggu sejenak Donghae  didepan pintu utama, pria itu sedang mengurus pembayaran ke kasir. Beberapa menit kemudian Donghae sudah kembali. Dan mereka melanjutkan petualangan kencan dadakan mereka.

>>>>>>>

Kali ini mereka melanjutkan kencan mereka di Itaewon Street. Sesuai keinginan Donghae mereka akan membeli perhiasan atau barang couple untuk versi Yoona. Gadis itu pun mengusulkan Itaewon Street.

“ayo. Kau berjalan seperti kura-kura Lee Donghae”

“kenapa harus kesini?”

“apa? Bukannya kau yang menginginkan barang couple?”

“iya, tapi tidak disini. Setidaknya masih ada COEX Mall dengan kualitas terbaik”

Mendengar jawaban Donghae, Yoona langsung melepas genggaman tangannya dari pria itu. Terlihat wajah kesal disana.

“dengar ya Tuan kaya raya dan sombong. Aku tahu COEX Mall itu menjual produk-produk yang mahal dan berkualitas. Tapi pikirkan kembali kita tidak punya waktu yang banyak, Itaewon Street yang terdekat. Dan bicara soal kualitas, lihat sekelilingmu…”, Yoona mengedarkan padangannya kesekeling mereka dan Donghae pun melihatnya. Sangat banyak pengunjung. Baik turis maupun penduduk lokal.

“kau lihat? Jika disini tidak menjual barang-barang yang bagus, tidak mungkin serame ini. Lihat banyak turis yang datang untuk berbelanja disini. Jadi bisa disimpulkan jika disini juga memberikan kualitas terbaik. Sudah mengerti Tuan”, ucap dengan satu tarikan napas dan nada suara yang menggeram kesal.

Donghae tersenyum menatap Yoona. Dari pada merusak suasana lebih baik Donghae mengalah. Diraihnya kembali tangan Yoona, menggenggamnya erat.

“ayo..”, ajak Donghae polos tanpa merasa bersalah karena membuat Yoona kesal.

“menyebalkan”, gerutu Yoona sambil mengikuti langkah pria itu.

Mereka memilih salah satu toko perhiasan yang tampak sepi. Donghae membuka pintu kemudian masuk diikuti oleh Yoona dari belakang.

“selamat datang”, seru beberapa karyawan yang ada di dalam, berdiri dibalik etalase-etalase kaca yang di dalamnya dipajang berbagai perhiasan.

“ada yang bisa kami bantu Tuan?”, tanya salah satu dari karyawan itu.

“mmm, aku membutuhkan perhiasan untuk pasangan. Tolong pilihkan kualitas terbaik dengan harga termahal sekalipun boleh”, jelas Donghae. Setelahnya pria itu merintih kesakitan. Bukan dadanya yang sakit, tapi lengannya lah yang sakit akibat cubitan dari Yoona.

“kau..”

“aku tahu ini pertama kalinya untukmu. Tapi setidaknya jadilah pria sejati. Kau ingin membahagiakan pasanganmu, jadi harus totalitas jangan meminta orang lain yang memilih”, ucap Yoona langsung memotong ucapan Donghae.

“tapi aku tidak tahu bagaimana memilihnya”, bela Donghae.

“lihat aku. Setidaknya pilihlah sesuatu yang mencirikan seperti apa aku untukmu. Kau mengerti?”, jelas Yoona. Donghae mengamati Yoona dengan baik.

Hingga beberapa menit, Donghae masih mengamati gadis itu. Membuat Yoona menjadi salah tingkah. Sedangkan karyawan yang ada disana mengamati mereka dengan senyum tertahan.

“ke-kenapa kau melihatku seperti itu?”

“kau yang menyuruhku tadi”, jawab Donghae santai namun membuat Yoona tidak bisa berkutik.

“ta-tapi kan tidak perlu selama itu”

“memangnya kenapa? Aku suka memandangmu tiap hari, tiap jam, tiap menit bahkan tiap detik. Aku ingin memandangmu terus menurus. Dan kau terlihat sangat cantik seperti malaikat”, balas Donghae yang langsung membuat Yoona meleleh karena pujian Donghae.

“aish…”, decak Yoona untuk menutupi dirinya yang sudah tersipu malu.

“benar bukan? Dia seperti malaikat. Malaikat yang cantik”, ucap Donghae yang meminta pendapat karyawan yang berdiri didepannya. Dan karyawan itupun ikut tersipu malu padahal kata-kata yang Donghae lontarkan bukan untuk dirinya. Tapi siapapun wanita yang mendengar pujian Donghae pasti akan tersipu malu.

“baiklah… aku akan memilih cincin yang mencerminkan malaikat yang cantik”, guman Donghae sambil mulai mengamati satu-persatu perhiasan yang terpajang di dalam estalase kaca itu. Yoona masih terdiam ditempat mengamati pergerakan Donghae dengan pipi yang masih tersipu malu.

Hampir setengah jam Donghae mencari apa yang sesuai dengan keinginannya hingga pandangannya jatuh ke sudut estalase sebelah kirinya yang sudah berulang kali dipandanginnya sedari tadi. Hingga kini benda itu menarik perhatiaannya.

TBC

Next chapter masih dengan YH Moment ya…

Makasih yg masih setia nunggu FF ini dan makasih juga yg udah komen dan like FF ini.

makasih banget loh #terharu

Advertisements

12 thoughts on “My Lovely Doctor – Chapter 6

  1. Iedhaaniyagirl ipethaa

    Ya ampun kok ak nyrsrk sich pdahal ini adegannya romantis. Hnya brharap happy ending

  2. yoonhaeina90

    Moment ny sweet bgt tp knpa aku malah nyesek dgn kata” yoong
    Mereka be2 saling cinta tp keadaan yg memaksa 😥

  3. ichus

    Finally dipost juga.
    Antara bahagia dan nau nangis sma moment2 yh. Smoga yoona gk jdi sma siwon.. donghae juga cpet sehat lgi.

  4. akhirnya update juga thor setelah sekian lamaaaa, tapi kenapa sedikit ya thor? ga puas rasanya, kurang greget gimana gitu. ah abaikan dan maaf ya thor atas komentarnya~~
    tapi dari semuanya semoga donghae bisa sembuh, semoga YH bersatu biar makin banyak moment YH nyaa.
    ditunggu next chapnya, jangan lama2 ya thor~~

  5. Sfapyrotechnics

    Setelah penantian yg panjang,, akhirnya update jga :v Moment nya bkin senyum gaje,, mereka bertengkar kecil dan itu lucu :v Huwaaa nggk sabar nunggu chapter slnjutnya.. next.. fighting yah!! jgn lma² :v

  6. Setelah sekian lama menanti akhirnya publish juga ni ff gomawo chingu sdh mengobati rindu sama ni couple, tapi syg terlalu pendek klo bs next chapnya yg panjang ya biar puas bacanya hehe semoga yoonhae bersatu amin fighting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s