LOCO – Chapter 2

1473389958005

Title : Loco – Chapter 2

Author : Fi_ss

Cast : Lee Donghae and Im Yoona

Genre : romance, LifeSchool, Fantasi, etc

Note : Hello~ I’m back. Ayo pasti pada kesal karena yang di post bukan MLD chap 6. Hehehe, mianhae belum bisa post, karena aku masih butuh referensi utk special chap itu. Aku suka cerita berbau romances tapi waktu nuanginnya ke dalam cerita ternyata susah. Jadi tolong bersabar sebentar. Nikmatin ff yang satu ini dulu. Semoga menghibur..

Sorry kalau masih banyak typo and happy reading  Leggo~

>>>>>>>

Keempat yeoja itu sedang duduk diatas sebuah ranjang di ruang UKS. Yuri, Sooyoung, dan Taeyeon, fokus memandang Yoona yang tampak sedang berfikir, mempertimbangkan bagian mana yang pantas dan tidak diceritakannya.

“jadi? “, Taeyeon bertanya dengan tidak sabaran. Yuri dan Sooyoung pun tampak mengangguk menyetujui pertanyaan Taeyeon. Yoona memandang satu persatu sahabatnya itu. ‘Aku tidak akan bisa menghindar jika wajah mereka sudah seperti itu. Tidak sabaran’, batin Yoona.

“jadi… “, Yoona mulai menceritakannya. Ketiga sahabatnya itu pun mendekatkan diri pada Yoona.

“sebenarnya aku ingin mengaku sesuatu terlebih dahulu. Sebenarnya kejadian yang menimpa Donghae akhir-akhir ini adalah ulahku.”

“ya kami tahu”, seru Yuri cepat. Yoona menghela napas, tidak menyangka Yuri akan menjawab secepat itu.

“dan kami rasa itu sangat keterlaluan”, tambah Taeyeon dengan wajah kecewa disambut anggukan kepala oleh Yuri dan Sooyoung.

“ya… Aku tahu itu. Dan ku rasa aku sudah mendapatkan balasannya. Aku…. Aku dapat mendengarkan suara Donghae”, jujur Yoona.

“tentu saja kau bisa mendengar suara Donghae. Memangnya selama ini kau merasa Donghae bisu?”, ujar Sooyoung.  Yoona menggeleng. Bukan ‘bisa mendengar’ dalam artian seperti yang Sooyoung utarakan tadi yang Yoona maksud.

“bukan seperti itu Soo. Aku bisa mendengar suara Donghae. Suara batin Donghae”, jelas Yoona. Hingga beberapa detik terjadi keheningan diruangan UKS itu. Yoona menunggu respon dari sahabatnya itu. Ketiga sahabatnya itu memandang Yoona dengan serius. Sooyoung mengarahkan punggung tangannya ke kening Yoona.

“dia tidak demam dan wajahnya pun tidak pucat lagi. Jadi kurasa dia sungguh-sungguh”, simpul Sooyoung, berbicara kepada Yuri dan Taeyeon. Yoona menjauhkan tangan Sooyoung dari keningnya.

“aku tidak sedang mengada-ada. Aku sungguh-sungguh. Awalnya juga aku tidak percaya, tapi hal itu terjadi berulang-ulang”, jelas Yoona lagi, sedikit kesal karena sahabatnya itu tidak mempercayainya.

“apa kau berteriak di toilet juga karena mendengar suara Donghae?”, Tanya Yuri dibalas anggukan dari Yoona.

“ohh tidak mungkin. Bagaimana bisa hal seperti itu terjadi. Aku tidak percaya ini”, seru Taeyeon sambil menggeleng-geleng. Diantara mereka berempat, Taeyeonlah yang paling tidak percaya hal-hal diluar nalar manusia. Seperti contohnya kejadian yang Yoona alami sekarang.

“tapi kau harus percaya Tae”, balas Yoona. Tapi Taeyeon masih tetap menggeleng tidak percaya.

“kau bisa membuktikannya?”, tantang Taeyeon.

“tentu. Tapi…”, Yoona tersadar. Bagaimana jika dia tidak dapat mendengar suara Donghae nantinya. Dia pasti akan dianggap seorang pembohong. Karena terkadang suara Donghae memang tidak bisa terdengar.

“tapi apa?”, tanya Yuri.

“mmmm…. Ada kalanya aku tidak bisa mendengar suaranya sama sekali”, jelas Yoona.

“biasanya dalam keadaan seperti apa sampai kau tidak bisa mendengar suaranya?”, tanya Sooyoung. Yoona berpikir sejenak.

“Pertama kali aku dapat mendengar suara itu ketika aku sedang tidur-tiduran dikamar. Lalu ketika berangkat sekolah, dalam toilet dan yang terakhir tadi. Ketika kami berhadapan cukup jauh”, Yoona menceritakan kapan dan dimana saja dia dapat mendengar suara itu.

“ketika kau mendengar suara itu, apa Donghae ada disekitarmu?”, tanya Sooyoung. Sepertinya Sooyoung mulai mendapat mencerahan dari kejadian yang menimpa Yoona.

“Ya, kecuali tadi didepan toilet itu”, jawab Yoona.

“tapi jarak kalian cukup jauh tadi. Ahhh, aku sudah tahu sekarang”, seru Sooyoung.

“apa?”, tanya Yoona, Yuri dan Taeyeon bersamaan. Mereka sudah sangat penasaran sekarang.

“Ketika Yoona mendengar suara itu, Yoona dan Donghae tidak dalam lingkungan yang sama. Tapi mengingat jika tadi didepan toilet, dengan jarak yang cukup jauh, Yoona dapat mendengar suara Donghae, maka aku simpulkan suara Donghae dapat Yoona dengar jika mereka dalam jarak yang cukup jauh. Seperti didepan toilet tadi. Mungkin 5 – 10 meter”, jelas Sooyoung dengan wajah berbinar-binar seperti orang yang baru menemukan harta karun yang tersembunyi puluhan tahun.

“ahhh, kau benar Soo”, seru Yoona.

“tadi didepan pintu toilet kita sempat berpapasan dengan Donghae. Apa kau tidak mendengar apapun?”, Tanya Yuri.

“ne, aku tidak mendengar apapun”, jawab Yoona.

“tapi ketika jarak kita cukup jauh darinya kau tiba-tiba mendengar suaranya?”, tanya Taeyeon.

“Ne. Makanya aku berbalik memandangnya karena terkejut dapat mendengar suaranya lagi”, jawab Yoona.

“wahhh, daebak”, ucap Taeyeon, Yuri dan Sooyoung bersamaan.

“tapi bagaimana hal ini bisa terjadi? Apa sebelum itu kau mengalami sesuatu? Misalnya deman tinggi atau sakit perut, atau terjatuh?”, tanya Yuri penasaran dengan asal mula dari kejadian yang menimpa Yoona. Yoona langsung membeku ketika Yuri mengatakan ‘terjatuh’. Yoona ingat seminggu yang lalu dia hampir terjatuh dari tangga sekolah tapi untungnya Donghae menyelamatkannya. Dan jangan lupakan Yoona yang terpesona dengan ketampanan Donghae.

“apa karena itu?”, gumam Yoona.

“apa?”, tanya ketiga yeoja yang ada disekitar Yoona itu. Yoona tersadar jika gumamannya dapat didengar oleh sahabatnya itu.

“ahhh, tidak. Tidak apa-apa”, jawab Yoona cepat. Sahabatnya itu pun percaya saja. Yoona bernapas lega namun tidak sadar jika Sooyoung yang duduk disampingnya, menatapnya curiga.

“jadi apa yang terjadi sebelumnya?”, tanya Yuri lagi.

“mmm, aku tidak ingat. Tapi ku rasa tidak terjadi apa pun”, jawab Yoona pura-pura santai.

“sudah nanti saja kita bicarakan itu. Sekarang aku ingin buktinya jika itu benar-benar terjadi”, Taeyeon mengingatkan kepada yang lain jika dia masih belum percaya.

“yak kau benar. Aku juga masih belum sepenuhnya percaya”, ucap Yuri.

“aku ada ide”, seru Sooyoung.

“kemari, mendekatlah”, tambah Sooyoung. Yoona, Yuri dan Taeyeon mendekat pada Sooyoung. Dengan lengan panjangnya, Sooyoung dapat merangkul ketiga gadis itu hingga membentuk seperti lingkaran. Sooyoung pun membisikkan gagasannya untuk membuktikan kebenarannya.

“bagaimana?”, tanya Sooyoung ketika idenya sudah tersampaikan.

“ku rasa itu tidak sulit dilakukan. Bagaimana dengan mu Yoona?”, tanya Taeyeon.

“kurasa aku bisa. Asalkan jarakku cukup jauh darinya”, jawab Yoona.

“itu bisa diatur. Kau duduk saja di depan, dikursiku dan aku akan duduk dibelakang”, ucap Yuri. Semuanya pun mengangguk setuju.

“baiklah, ayo kita mulai rencana kita”, seru Sooyoung. Mereka pun beranjak keluar dari ruang UKS menuju kelas. Walaupun sudah terlambat untuk masuk ke kelas, tapi mereka harus masuk, agar rencana mereka dapat berjalan dengan lancar. Untuk alasan keterlambatan mereka, biarlah Sooyoung yang mengarang alasannya nanti kepada Baek Saem – guru kesenian.

Taeyeon dan Yuri jalan didepan dan Sooyoung serta Yoona dibelakang mereka. Sooyoung menggenggam lengan kiri Yoona. Yoona melirik Sooyoung sejenak dan benar saja yeoja tinggi itu sedang menatapnya dengan serius. Yoona pun menghentikan langkahnya diikuti Sooyoung.

“apa?”, tanya Yoona.

“kau menyembunyikan sesuatukan?”, tanya Sooyoung dengan penuh kecurigaan.

“ti-tidak. Apa yang bisa kusembunyikan dari kalian”, jawab Yoona terbata.

“jangan berbohong. Mengaku saja Yoong”, paksa Sooyoung.

“su-sungguh Soo”, Yoona tetap tidak mau mengaku.

“aku tidak percaya jika kau tidak sedang menye-“

“yak, apa yang sedang kalian bicarakan. Ayo cepat”, ucapan Sooyoung terpotong karena teriakan Yuri yang memanggil mereka. Merasa ada kesempatan untuk menghindar dari pertanyaan Sooyoung, Yoona dengan cepat melangkah mendekati Yuri dan Taeyeon.

“apa yang sedang kalian bicarakan?”, tanya Taeyeon setibanya Yoona didekat mereka.

“ahh, tidak ada. Ayo”, ajak Yoona. Mereka pun berjalan beriringan, meninggalkan Sooyoung dibelakang yang sedang memutar otak, menebak apa yang sedang Yoona sembunyikan. Sooyoung menyentuh lehernya yang pegal. Yeoja itu mendongakkan kepalanya keatas untuk meregangkan lehernya yang kaku. Namun tiba-tiba Sooyoung tersenyum lebar ketika dari posisinya sekarang yang ada dilantai dasar, dapat melihat seorang namja dilorong lantai dua sedang berjalan untuk memasuki kelas mereka. Lee Donghae

“Im Yoona kau salah jika bisa menyembunyikan sesuatu dari Choi Sooyoung. Aku mengenalmu dengan baik”, ucap Sooyoung dengan senyum lebar kemudian tertawa seorang diri. Selain rencana dikelas, Sooyoung pun memiliki rencana lain yang langsung tersusun rapi diotak pintarnya itu.

>>>>>>>

“ohh Yuri-ssi, kenapa duduk disitu?”, tanya Donghae ketika Yuri duduk di kursi Yoona.

“itu… Yoona sedang ingin duduk didepan”, jawab Yuri sedikit terbata, karena Yuri tidak pintar berbohong. Melihat Yuri tampak kesulitan menghadapi Donghae, Sooyoung dan Taeyeon datang menghampiri Yuri.

“apa Yoona-ssi marah lagi padaku?”, gumam Donghae.

“tidak… dia tidak sedang marah padamu. Yoona memang biasanya seperti itu, suka berganti-ganti tempat duduk. Setiap meja dikelas ini sudah pernah didudukinya secara bergantian”, ucap Sooyoung tiba-tiba membuat Donghae terkejut.

“ahhh, begitu”, balas Donghae tapi masih dengan raut wajah tidak enak.

“Donghae?”, panggil Taeyeon.

“Ya..”, jawab Donghae.

“apa aku bisa meminta bantuanmu?”, tanya Taeyeon . Saatnya memulai rencana mereka. Untung saja ketika mereka tiba dikelas, Baek Saem belum masuk ke kelas. Sepertinya sedang ada urusan lain diruang guru. Jadi itu memberi kemudahan bagi mereka untuk menjalankan rencana.

“ne, tentu saja. Apa yang bisa ku bantu Taeyeon-ssi?”, sahut Donghae.

“aish, jangan seformal itu. kita ini seumuran bahkan satu kelas. Jadi jangan memakai embel-embel –ssi”, ujar Sooyoung. Yeoja itu selalu risih jika Donghae sudah berbicara formal seperti itu.

“ba-baiklah, Sooyoung”, ucap Donghae sedikit kaku.

“Donghae, bisakah kau membacakan tulisan ini. Aku sedikit kesulitan membacanya”, Taeyeon menjulurkan selembar kertas berisi tulis tangan Taeyeon sendiri. Tapi gadis itu berkata kesulitan membaca tulisan itu – tulisannya sendiri.

Donghae meraih kertas itu, lalu mulai membacanya dengan suara yang cukup keras. Tapi Taeyeon segera menyela.

“bukan. Bukan seperti itu Donghae. Maksudku, bisakah kau membacanya dalam hati?”, ucap Taeyeon. Kening Donghae langsung berkerut. Terasa aneh dengan permintaan Taeyeon. Bagaimana bisa Taeyeon tahu apa yang tertulis dikertas itu, jika Donghae tidak menyuarakannya?

“kau bisa?”, tanya Taeyeon lagi. Donghae masih terdiam mengamati kertas itu kemudian ke Taeyeon secara bergantian.

“lakukan saja. Dia memang terkadang aneh. Kami pun sering disuruh melakukan hal-hal aneh seperti itu. Anggap saja sebagai awal perkenalan dari Taeyeon”, bisik Sooyoung kepada Donghae, namun masih dapat didengar oleh Taeyeon.

“baiklah”, ucap Donghae. Dan mulai membaca setiap kata yang tertulis dikertas itu, sesuai dengan yang gadis mungil itu minta. Taeyeon menatap tajam Sooyoung. Karena sudah mengatainya aneh. Yeoja yang sudah seperti tiang listrik itu tidak sadar jika ide untuk menyuruh Donghae membaca dalam hatikan rencananya sendiri. Dan sekarang lihat, nama baik Taeyeon dimata Donghae menjadi rusak. Sooyoung yang melihat itu malah tersenyum lebar.

Lima menit berlalu, hingga akhirnya Donghae selesai membaca isi dari kertas itu.

“ini… sudah ku baca”, ujar Donghae sambil mengembalikan kertas itu pada Taeyeon.

“gomawo Donghae”, balas Taeyeon dengan senyum.

“ohh bisakah kau mengucapkan ‘Gomawo Calista’ dalam hati”, tambah Sooyoung.

“Nde?”

“ayo katakan saja ‘gomawo Calista”, paksa Sooyoung.

“baiklah”, jawab Donghae. Gomawo Calista, batin Donghae.

“Sudah?”, tanya Sooyoung. Donghae pun mengangguk.

“gomawo Donghae-ya”, ucap Sooyoung sambil menepuk-nepuk punggung Donghae, seolah-oleh mereka teman dekat.

“ohhh, dimana Yoona. Aku ingin mengajaknya pulang sekolah nanti ke toko kue”, seru Sooyoung dengan topik pembicaraan yang tiba-tiba dialihkan tanpa terarah. Membuat Yuri yang sedari tadi diam karena tidak dapat berbohong dengan baik dan juga Taeyeon mendesah pasrah. Biarlah Sooyoung melakukan sesuka hatinya. Karena mereka berdua pun tidak akan dapat menghentikannya.

“ohh itu dia”, seru Sooyoung lagi. Bahkan terdengar seperti teriakan. Padahal mereka berada didalam kelas yang tidak begitu luas. Tapi Sooyoung harus berteriak tidak jelas.

“ayo, kita temui Yoona”, ajak Sooyoung pada Yuri dan Taeyeon.

“sekali lagi, gomawo Donghae”, ucap Taeyeon lagi sebelum Sooyoung menarik tangannya menjauh.

Ketika jarak mereka dari Donghae cukup jauh, Yuri langsung mencubit lengan Sooyoung.

“awww~”, rintih Sooyoung.

“kau gila ya. Yoona pasti akan membunuhmu”, ucap Yuri.

“dan kau pun berhutang juice strawberry sebagai ganti sudah menjelek-jelekkanku di depan Donghae”, tambah Taeyeon.

“ya, ya. Baiklah. Aku minta maaf. Tapi ini sangat menyenangkan bukan?”, balas Sooyoung tidak merasa bersalah sedikitpun.

“aish kau ini”, cibir Yuri.

Dilain sisi, Yoona masih mematung dengan jari tangannya masih mengapit sebuah pulpen diatas sebuah kertas yang berisi tulisan tangannya. Yang menjadi pusat penglihatannya adalah kertas bertulis tangan itu. Lebih tepatnya pada kata-kata terakhir yang ditulisnya. ‘Gomawo Calista’. Kenapa tiba-tiba Donghae mengucapkan kata-kata itu. Yoona tahu yang menyusun kata-kata romantis yang Donghae ucapkan tadi pastilah Taeyeon. Gadis mungil itu ahlinya dalam menyusun kata-kata manis dan menyentuh. Tapi Yoona yakin juga Taeyeon tidak mungkin menambahkan kalimat terakhir itu. Calista. Nama itu adalah nama yang Yoona gunakan ketika dirumah. Ibu dan ayahnya selalu menyebutnya namanya Calista. Karena ketika Yoona lahir, kedua orang tuanya sangat ingin menggunakan nama itu untuk putrid pertamanya. Namun sayangnya, neneknya tidak setuju. Neneknya lebih menyukai nama Yoona. Im Yoona.

Yoona tetap diam memandang kaliamat itu. Bukannya tidak suka. Hanya saja, ketika suara Donghae yang Yoona dengar menyebutkan namanya, ada perasaan senang, berdebar, dan seperti ada ribuan kupu-kupu diperutnya. Untuk pertama kalinya Yoona menyukai nama Calista.

“Yoona…”, panggil Sooyoung.

“ohhh”, sadar Yoona.

“kau sudah menulis semuanya?”, tanya Taeyeon. Yoona kembali ingat dengan rencana mereka. Hampir saja dia lupa jika mereka sedang dalam misi pembuktian kemampuannya itu.

“ne, sudah. Ini… coba samakan”, jawab Yoona sambil menyerahkan kertas kertas yang bertulis tangannya kepada Taeyeon. Taeyeon mulai menyamakan kertas asli yang ada di tangan kirinya dengan kertas yang baru Yoona berikan. Sooyoung dan Yuri juga ikut menyamakannya. Dan semuanya persis sama. Tidak ada yang kurang sedikitpun.

“wawww… Ini luar biasa”, seru Taeyeon, akhirnya percaya dengan kemampuan Yoona.

“benarkan? Aku tidak sedang berbohong. Aku benar-benar bisa mendengarnya”, bangga Yoona ketika mendengar seruan Taeyeon.

“tapi…”, Sooyoung menggantung ucapannya, membuat Yoona mengerutkan kening.

“kenapa? Ada yang terlewatkan?”, tanya Yoona.

“Bukan. Semuanya sempurna. Hanya saja… ini..”, Sooyoung mengambil kedua kertas yang ada ditangan Taeyeon, kemudian meletakkannya dimeja, tepat didepan Yoona.

“lihat kalimat terakhir ini”, Sooyoung menunjuk kalimat terakhir yang Yoona tulis.

“tapi aku benar. Donghae mengatakan itu”, bela Yoona.

“ya aku tahu. Aku yang menyuruhnya mengatakan itu”, jujur Sooyoung.

“sialan, beraninya kau…”, kesal Yoona.

“ampun tuan putri, aku hanya bercanda tadi. Lagi pula dia tidak tahu Calista itu adalah dirimu. Jadi kau jangan marah dulu”, bela Sooyoung.

“tapikan tetap saja dia menyebutkan nama lainku”, ucap Yoona.

“tapi kau sangat menyukainya kan”, goda Sooyoung. Pipi Yoona langsung memerah. Dia langsung gugup dan gelisah.

“ti… tidak. Siapa yang bilang”, bela Yoona, terbata.

“tidak ada yang bilang. Tapi ini sudah membuktikan”, jelas Sooyoung, sambil menunjukkan simbol ‘love’ yang tergambar disamping nama Calista. Mereka berempat mengamati kerta itu baik-baik. Yoona semakin panik. Dia tidak sadar ketika menggambar lambang hati itu. ‘kapan aku membuat itu. ohh Tuhan, aku benar-benar sudah gila’, batin Yoona.

“a-aku ti-tidak membuat itu”, ucap Yoona cepat.

“aish… ini jelas-jelas tulisanmu. Sudah mengaku saja. Kau menyukainya”, kali ini Yuri pun ikut menggoda Yoona. Membuat pipi Yoona semakin memerah.

“lihat… wajahnya sudah seperti kepiting rebus”, Taeyeon menunjuk-nunjuk wajah Yoona yang memerah, dengan tawa. Sooyoung dan Yuri pun ikut mentertawakan Yoona.

“diam. Kalian sangat menyebalkan”, umpat Yoona dengan nada yang mulai meningkat. Ketiga sahabatnya itu pun langsung terdiam. Bahkan siswa yang ada dikelaspun ikut terdiam sambil mengarahkan pandangan pada keempat yeoja yang sedang berkumpul dimeja depan itu. Walaupun sedang dipandangi seluruh siswa yang ada dikelas itu, tapi Yoona tidak peduli. Yang dipikirkannya bagaimana lepas dari godaan sahabatnya itu.

“sudah ku bilang aku tidak membuat itu. titik. Tidak ada komentar lagi”, jelas Yoona, namun kali ini suaranya sudah dapat dikontrol dengan baik. Yoona langsung meremas kedua kertas itu menjadi sebuah gundukan bola, lalu memasukkannya kedalam laci mejanya. Seolah-olah membuangnya.

Sooyoung mengedipkan mata pada Yuri dan Taeyeon. Menandakan agar tidak perlu melanjutkan ini lagi. Yuri dan Taeyeon pun mengangguk masih dengan senyuman mereka.

“baiklah tuan putri, jangan marah-marah. Nanti kau cepat tua. Kami akan pergi, jadi jangan marah lagi”, ucap Sooyoung sambil mengajak Yuri dan Taeyeon untuk kembali ke meja mereka masing-masing.

“sialan…”, gumam Yoona setelah sahabatnya itu pergi. Sebenarnya Yoona marah bukan pada sahabatnya itu, bukan pada Donghae juga. Tapi lebih tepatnya marah pada dirinya sendiri. Marah karena dirinya tidak bisa mengendalikan diri jika sudah berurusan dengan Donghae. Namja itu membuat dirinya hilang kendali.

>>>>>>>>

Sepulang sekolah, Yoona dengan cepat keluar dari kelas. Tugasnya sebagai ketua kelas yang harus memastikan kelas dalam keadaan bersih sepulang sekolah, dialihkannya pada Oh Sehun – wakil ketua kelas. Yoona cepat-cepat keluar dari kelas untuk menghindari sahabat-sahabatnya. Yoona tidak ingin digoda terus menerus. Yoona sangat malu.

Karena terlalu cepat keluar dari kelas, jemputan Yoona pun yeoja itu abaikan begitu saja. Yoona ingin sendiri sekarang. Menikmati jajanan jalanan sepertinya menyenangkan untuk mengisi perut kelaparannya. Keluar dari lingkungan sekolah, Yoona menuju sebuah kompleks yang biasanya disepanjang jalan akan banyak yang berjualan, dan Yoona sangat menyukai semua makanan itu. Walaupun berasal dari keluarga kaya raya, tapi jika berurusan dengan makanan, Yoona tidak akan pandang buluh. Yoona pemakan segalanya, sama seperti Sooyoung. Sehingga ketika kedua gadis itu bersama, berbagai menu yang terhidang diatas meja besar pun, dapat mereka habiskan. Luar biasa bukan.

Hampir dua jam Yoona menikmati perjalanan kulinernya. Hingga perutnya serasa ingin meledak karena terlalu banyak yang dia makan.

“ahhh, aku sangat kenyang”, seru Yoona sambil sesekali bersenandung senang. Menghilangkan stress dengan makan-makan memang sangat cocok untuknya. Yoona melangkah untuk keluar dari kompleks itu, namun tiba-tiba Yoona berhenti. Yoona mendengar sesuatu. Yoona mendengar suara seseorang yang akhir-akhir ini selalu mengganggunya.

‘Apa yang harus kulakukan. Aku tidak mungkin memberikannya’

Suara itu membuat Yoona mencari si pemilik suara. Pasalnya nada suara itu terdengar sedang kesulitan. Yoona mengedarkan pandangannya kesekitarnya.

“dimana?”, gumam Yoona. Yoona melangkah cepat mencari dimana si pemilik suara itu. Ada perasaan khawatir yang timbul dalam benaknya. Setelah mencari terus menerus, pandangan Yoona jatuh pada sebuah rumah yang tampak sepi, sepertinya tidak berpenghuni. Disisi kiri rumah itu ada sebuah gang kecil yang tampak gelap. Yoona memberanikan diri mendekati gang itu. Dengan berlahan, Yoona melangkah. Namun tiba-tiba terdengar teriakan seseorang dari arah gang gelap itu, hingga membuat Yoona terlonjak, melangkah mundur. Yoona menghirup oksigen banyak-banyak, mencoba memberanikan diri, lalu melangkah, kembali mendekati gang itu.

“CEPAT BERIKAN…”, teriak seorang namja, yang juga tidak asing ditelinga Yoona.

“ma-maaf. Tapi aku tidak punya uang lagi”, jawab namja lain. Yang sepertinya menjadi korban disana. Dan namja itu Yoona yakini adalah Donghae. Yoona mendekat lagi ke gang itu hingga akhirnya Yoona dapat melihat apa yang terjadi di gang gelap itu.

Disana, terlihat tiga namja yang sedang berdiri memojokkan seorang namja lain. Sesekali ketiga namja itu melayangkan tendangan pada kaki namja yang disudutkan. Donghaelah yang jadi korban disana. Penampilan Donghae sudah berantakan. Seragam sekolahnya  kotor.

“apa yang dilakukannya? Kenapa tidak melawan?”, gumam Yoona masih mengamati kejadian itu.

“bukankah itu Kangin, Leeteuk dan juga Kyuhyun? Kenapa mereka mengganggu Donghae?”, gumam Yoona lagi.

“CEPAT BERIKAN. Atau kau akan kami telanjangi dan kami permalukan didepan orang-orang. Cepat”, teriak Leeteuk.

‘apa aku berikan saja?. Tapi ini uang untuk membeli kado ulang tahun omma. Tapi jika aku tidak memberikannya, mereka akan melukaiku dan ketika pulang nanti omma akan bertanya-tanya kenapa aku terluka. Omma tidak boleh khawatir’, batin Donghae yang juga dapat Yoona dengar. Yoona merasa iba dan terharu dengan jiwa berbakti Donghae pada orangtuanya. Ketika Yoona melihat Donghae diantarkan oleh ibunya kesekolah, sebenarnya Yoona merasa iri. Pasalnya Yoona tidak pernah merasakan hal itu lagi. Ketika orangtuanya mulai sibuk dengan pekerjaannya, orangtuanya seperti hilang ditelan bumi. Yoona tidak pernah bertemu orangtuanya dalam jangka waktu yang lama. Paling pun bertemu dirumah hanya beberapa menit, setelahnya mereka sudah pergi lagi. Yoona bahkan lupa bagaimana rasanya memiliki orangtua.

Yoona kembali fokus memandang keadaan Donghae. Kali ini Donghae mengarahkan tangannya pada Kangin. Memberikan uang yang sudah ditabungnya selama beberapa bulan ini untuk membeli kado ulang tahun pada ibunya minggu depan. Dengan berat hati namja itu memberikannya.

“hahahaha, lihat. Ternyata dia takut juga”, tawa Kangin. Sambil menghitung uang yang Donghae berikan. Donghae menunduk sedih. ‘omma, maafkan aku’, batin Donghae.

“tapi ku rasa jumlah uang ini terlalu sedikit” seru Kangin.

“berikan lagi”, paksa Kyuhyun.

“aku tidak punya lagi”, jawab Donghae sambil menggeleng. Sungguh 1 won pun dia sudah tidak punya. Entah bagaimana dia nanti bisa pulang.

“aish… kau benar-benar lebih suka kekerasan ya”, ucap Kangin.

“cepat gledah dia”, perintah Kangin. Kyuhyun dan Leeteuk pun menggledah seluruh saku dan tas Donghae.

“tidak ada hyung”, seru Kyuhyun pada Kangin.

“sialan, kau benar-benar namja miskin. Dan lihat penampilanmu, sungguh pemprihatinkan. Aku yakin tidak akan ada yeoja yang menyukaimu. Ckkk….cepat telanjangi dia”, setelah menghina Donghae, Kangin lalu memerintah Leeteuk dan Kyuhyun untuk membuka pakaian Donghae. Leeteuk pun langsung membuka paksa kemeja Donghae, lalu dilanjut membuka celana Donghae. Hingga meninggalkan Donghae yang hanya memakai boxer saja. Donghae memberontak ketika Kyuhyun ingin membuka boxer itu juga.

“jangan, ku mohon”, pinta Donghae.

“tidak. Cepat telanjangi dia”, perintah Kangin tidak terbantahkan.

“jangan. Ku mohon, maafkan aku Sunbae-nim”, mohon Donghae. Ketika Kyuhyun sudah dapat meraih lingkaran pinggang boxer Donghae tiba-tiba terdengar teriakan suara seorang yeoja.

“Hentikan. Apa yang sedang kalian lakukan?”, teriak Yoona.

“Yoona”, seru Kangin, Leeteuk dan Kyuhyun. Yoona berjalan mendekati mereka. Yoona menatap tajam Leeteuk dan Kyuhyun yang seketika langsung menunduk. Kedua namja itu akhir-akhir ini sedang mati-matian mendekati sahabatnya Taeyeon dan Sooyoung. Leeteuk menyukai Taeyeon dan Kyuhyun menyukai Sooyoung. Kehadiran Yoona saat ini pasti akan menggagalkan pendekatan mereka pada sahabatnya yeoja itu.

“Kangin-ssi. Aku rasa kau sudah sangat keterlaluan”, ucap Yoona.

“apa urusanmu. Pergilah sebelum kau celaka”, balas Kangin dengan wajah marah. Kangin adalah namja yang tinggal satu kompleks dengan Yoona. Namja ini sudah berulang kali pindah sekolah karena kenakalannya. Bahkan ibunya sampai jatuh sakit karena memikirkan Kangin. Tapi sepertinya hal itu tidak membuat Kangin jera.

“memang bukan urusanku. Tapi untuk kedua temanmu itu, aku mempunyai urusan dengan mereka. Nyawa mereka bahkan ada ditanganku. Bukan begitu Leeteuk-ssi, Kyuhyun-ssi”, jawab Yoona dengan santai.

“apa maksudnya?”, tanya Kangin pada Leeteuk dan Kyuhyun.

“maaf hyung. Sooyoung dan Taeyeon sahabat Yoona”, aku Kyuhyun dengan wajah penyesalan sekaligus meminta pengertian dari Kangin.

“Ne Kangin-ah”, jawab Leeteuk juga.

“aish kalian ini”, Kangin berbalik, menghadap pada Donghae yang memeluk dirinya sendiri, untuk menutupi tubuhnya yang hanya berlapis boxer saja.

“tapi ku rasa bukan hanya karena teman-temanku ini kau datang menolong namja miskin ini”, tuduh Kangin. Yoona terdiam. Berusaha memutar otak untuk mencari perlawanan.

“owww, apa kau menyukai namja kampungan dan miskin ini?”, tambah Kangin.

“Jangan asal bicara. Aku tidak menyukainya. Ti-tidak akan pernah”, jawab Yoona tegas, walau diakhir kalimatnya Yoona sidikit ragu. Donghae menatap Yoona serius. Yoona pun sempat melihat raut wajah Donghae yang datar, namun berpura-pura tidak pernah melihat wajah datar itu.

“ohh, ku kira kau sudah kehilangan akal sampai-sampai menyukai namja seperti ini”, Kangin lega Yoona tidak menyukai Donghae. Kangin resah jika ada yang menyukai Donghae. Donghae harus berada dibawah levelnya. Tidak boleh lebih sedikitpun.

“tidak. Aku tidak menyukainya. Tapi kau jangan salah sangka, walaupun dia seperti itu, masing ada seorang gadis yang menyukainya”,

“hahahh, yang benar saja. kurasa gadis itu sudah gila”, pekik Kyuhyun tiba-tiba. Yoona langsung menatap tajam Kyuhyun. Tatapan tajam seolah-olah dapat menyampaikan ‘berani sekali kau bicara’ kepada Kyuhyun. Kyuhyun pun langsung terdiam.

“aku tidak percaya itu”, jawab Kangin.

“suatu hari kau akan melihatnya dengan gadis itu”, ujar Yoona. Sebenarnya Yoona hanya mengarang cerita saja. Yoona sendiri pun tidak mengerti untuk apa harus melakukan kebohongan yang tidak masuk akan hanya untuk membela Donghae.

“aku harus melihatnya nanti”, ucap Kangin penasaran dengan gadis yang Yoona maksud.

“jadi kita melanjutkan perdebatan ini? ku rasa teman-temanmu ini sudah tidak bisa bertahan lama disini. Jika tidak…”, Yoona mengarahkan jari tangannya menggesek lehernya seoleh-oleh seperti tersayat pisau. Leeteuk susah payah menelan ludah.

“Kangin-ah~”, panggil Leeteuk memelas. Kangin menghembuskan napas keras. Tidak suka dengan keadaan dimana dia harus kalah dari orang lain.

“kalau bukan karena aku menghargai teman-temanku, kau sudah tamat hari ini”, ucap Kangin sarkatis kearah Donghae, kemudian pergi dari tempat itu. Leeteuk dan Kyuhyun menghampiri Yoona, memohon pada gadis itu.

“Yoona, aku mohon jangan ceritakan ini pada Tae”, mohon Leeteuk.

“Ya, jangan juga pada Soo”, Kyuhyun pun memohon. Yoona memandang mereka dengan malas.

“baiklah, pergilah dari hadapanku”, ucap Yoona, mengusir kedua namja itu.

“ne, gomawo Yoona”, balas mereka lalu pergi.

Setelah ketika namja itu pergi, terjadi keheningan. Yoona masih berdiri membelakangi Donghae yang masih terduduk dengan tubuh hanya berlapiskan boxer. Sebenarnya Yoona tidak nyaman dengan keadaan hening seperti ini, tapi jika dia berbalik menghadap Donghae, dia juga malu harus melihat tubuh Donghae yang cukup mempesona itu. Memikirkan itu membuat pipi Yoona memerah. Yoona mendengar suara gemerisik dari belakangnya. Yoona menilik sedikit, terlihat Donghae yang sedang memakai kembali celananya. Namun ketika ingin memakai kemejanya, Donghae menghela napas berat. Kemejanya sudah tidak layak pakai. Selain kotor, terdapat robekan dibeberapa bagian. Melihat itu Yoona merasa iba. Tiba-tiba terlintas sesuatu dikepala Yoona. Gadis itu merogoh tasnya kemudian mengeluarkan jaket hitam milik Yuri yang dia pinjam ketika diruang UKS tadi.

“ini pakailah. Sepertinya ukurannya masih cukup untuk menutupinya”, ucap Yoona menyerahkan jaket itu pada Donghae, tanpa menatap langsung lawan bicaranya. Donghae berpikir sejenak, namun kemudian menerima jaket itu, lalu memakainya.

“masih kekecilan. Tapi tidak apa-apa. Gomawo-yo”, ujar Donghae. Yoona pun berbalik, mmelihat menampilan Donghae. Sedikit meringis karena jaket itu masih ketara kekecilan ditubuh Donghae.

Terjadi keheningan diantara mereka. Hingga Donghae mulai berbicara.

“terima kasih Yoona-ssi”, ucap Donghae lagi.

“ekhm… tidak perlu berterima kasih. Anggap saja balas budi”, jawab Yoona.

“balas budi?”

“kau sudah menyelamatkanku ketika ditangga sekolah waktu itu, ya walaupun sebenarnya aku tidak menginginkannya” ‘karena kau aku menjadi semenderita ini’, lanjut Yoona dalam hati.

“ohhh, begitu”, balas Donghae.

“dan soal yang kukatakan tadi pada Kangin… sepertinya aku harus memberi bukti pada Kangin, Jika tidak, mungkin korban selanjutnya adalah aku”, ujar Yoona ketika teringat dengan kebohongan yang diciptakannya tadi.

“ta-tapi aku memang tidak memiliki kekasih”, jawab Donghae.

“benarkah? Malang sekali kau ini”, cibir Yoona. Donghae hanya diam, tidak protes walaupun Yoona sedang mengolok-oloknya. Diamnya Donghae membuat Yoona tidak enak hati.

“tapi kau harus punya”, paksa Yoona.

“tapi..”

“tidak ada penolakan. Besok aku akan melakukan training khusus untukmu agar segera memiliki kekasih”, tegas Yoona, tidak terbantahkan. Donghae kaget dengan perintah Yoona. Berpikir jika Yoona mungkin masih belum sehat mengingat kejadian di sekolah tadi.

“aku baik-baik saja”, jawab Yoona tiba-tiba, membuat Donghae terkejut.

“a-aku tidak mengatakan apapun”, ujar Donghae dengan kening berkerut. Yoona menegang. Merasa bodoh karena menjawab pikiran-pikiran Donghae yang tidak namja itu sampaikan secara langsung.

“memangnya salah jika aku berkata seperti itu? tidak kan”, ucap Yoona pura-pura kesal.

“sudahlah, pokoknya besok setelah pulang sekolah kita bertemu diatap gedung sekolah”, tambah Yoona kemudian dengan begitu saja pergi meninggalkan Donghae sendiri.

Donghae masih terdiam, mencerna semua yang Yoona ucapkan. Tidak masuk akal, karena dia dan Yoona dapat berbicara banyak hari ini. Biasanya yeoja itu hanya memberikan tatapan tajam setiap harinya. Kali ini berbeda. Yeoja itu banyak bicara dan… cerewet. Tiba-tiba sebuah senyuman tipis tergores diwajah tampan itu.

TBC

Advertisements

13 thoughts on “LOCO – Chapter 2

  1. ana

    Daebak yoona bisa baca pikirannya donghae😂😂 .
    Ayo dilanjutin LOCO part 3 nya min udah gk sabar ,😘😘

  2. KasMha PyrooLiers

    Gk ush training2 sgla… Tawarin diri sndiri ajh… Yakin dah tuh lngsung kepilih tanpa ditraining.. HahH

  3. ichus

    Ceillaaahhh ada training privat toh??
    Asyiikk bkalan penuh moment nih next chapternya 😀
    authornim gomawoyo… ffx keren bgt deh pokokx 👍

  4. sulistiowati_06

    aigo yoona bisa telepati sama donghae. cie2 yang mulai tumbuh benih2 cinta ke donghae, mudah2an sukses nyariin pasangan buat donghae. kangin iteuk sama kyuhyun jadi gankster jahat, padahalkan donghae jadi saeng kesayangannya iteuk, tapi sekarang malah jadi yang ngebully. sabar ya ikan ganteng *plakk

  5. Wooowww,, akhirnya yoong ngakuin apa yg dia alami slama ini k shabt² nya :v Sooyoung bisa tiba² jdi dektektif :v Lancar bnget klo maslah cri alasan dan ide gila :v Kasian bnget hae, di gituin ma KangTeukKyu 😦 hae bakti ma eommany 🙂 siapa yg bkal di calonin jdi pcrnya hae, versi yoong :v Asal ngomong sih :v nanti malah dia lagi yg kepincut ma hae :v

    next.. fighting. ditungguyah MLD part 6 nya sma Loco part 3 nya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s