My Lovely Doctor – Chapter 5

mld2

Author: Fi_ss

Tittle: My Lovely Doctor Chap – 5

Lenght: Chapter

Cast: Im Yoona and Lee Donghae

Other Cast: Choi Sooyoung, Cho Kyuhyun, Lee Chorong, Kim Suho, etc

Genree: Romance, Hurt, Comedy (maybe), Friendship

Author Note: Annyeong… Author Fi_ss back… Makasi buat reader-nim yang masih setia nunggu (mungkin) dan baca FF gaje ini. Maaf banget karena aku baru bisa ngepost lanjutan MLD lagi. Harusnya sih udah selesai. Tapi karena aku belum ada waktu untuk ngecek ulang, hasilnya, FF nya jadi terbengkalai. Ok gak mau banyak ngomong, sekali lagi mianhae dan …

Happy reading..

Leggo~

 >>>>>>>

Keesokan harinya Donghae sudah sadarkan diri. Dengan ditemani Chorong dan Sooyoung, yang sudah sejak pagi menunggu namja itu siuman. Sedangkan Kyuhyun, menghendel semua pekerjaan Donghae. Chorong sedang heboh membicarakan cerita lucu selama perkuliahannya. Berniat untuk menghibur oppanya tersebut yang terlihat hanya diam dan murung semenjak siuman. Hanya Sooyounglah yang mendengar ceritanya.

Namun Chorong menyadari ada yang ganjil dengan oppanya tersebut. Ada perubahan raut wajah ketika dokter memeriksa keadaannya tadi. Dokter Im Yoona. Ketika dokter Im dan seorang suster datang memeriksa kondisi Donghae, Chorong tidak keluar dari ruang rawat itu. Chorong dan Sooyoung duduk disofa menunggu hasil pemeriksaan. Dan dari hasil penglihatan Chorong, oppanya tersebut terus memandang dokter yeoja itu dengan serius, dan juga dingin. Dingin? Ada apa sebenarnya? Chorong penasaran.

Malam harinya Chorong tinggal sendiri menjaga Donghae. Karena Sooyoung pulang sebentar untuk mengambil baju ganti. Donghae sudah tertidur, dimanfaatkan Chorong untuk keluar sebentar menghirup udara dimalam hari. Chorong berjalan menuju ujung lorong yang membawanya pada area yang sedikit terbuka. Sepertinya tempat menunggu bagi para pengunjung. Disana Chorong mendudukkan diri pada sebuah kursi besi. Diamatinya langit malam yang tampak gelap. Tidak ada setitik cahaya disana. Terlihat kosong dan menyedihkan.

Chorong meratapi nasib Donghae yang sangat memprihatinkan. Dosa apa yang telah dibuat oleh keluarganya sebelumnya, hingga mengakibatkan saudara satu-satunya itu harus selalu menderita. Donghae adalah kepala keluarga yang sangat bertanggungjawab dan selalu membanggakan keluarga. Bahkan dengan kemampuannya, oppanya itu sudah dapat menyelesaikan studi masternya hanya dalam setahun dan melanjutkan perusahaan keluarga mereka dalam jenjang usia yang masih tergolong muda. Yang jelas Chorong selalu bangga memiliki saudara seperti Donghae. Tapi entah nasib apa yang Tuhan sedang berikan kepada Donghae, hingga dia harus menderita karena penyakitnya itu. Terkadang Chorong merutuki jalan yang Tuhan berikan buat saudaranya itu.

Pandangan Chorong kembali menunduk, namun pandangnnya tiba-tiba tertuju pada seorang yeoja berjas putih yang akhir-akhir ini Chorong ketahui adalah dokter yang merawat Donghae. Chorong melihat dokter itu berjalan masuk ke ruang rawat Donghae. Chorong menyipitkan kedua matanya, menaruh curiga pada dokter itu. Dengan berlahan Chorong melangkah mendekati pintu rawat Donghae. Dibukanya dengan berlahan pintu itu, membuat sedikit celah, agar dirinya dapat melihat apa yang terjadi didalam ruang rawat Donghae itu. Seketika mata Chorong membesar melihat apa yang terjadi didalam sana.

>>>>>>>

Yoona duduk disisi ranjang Donghae. Mengamati wajah pucat Donghae yang sedang tertidur pulas. Yoona mengarahkan jari-jari lentiknya ke wajah Donghae, merapikan anak rambut yang menutupi kening Donghae. Lalu dengan berlahan menunduk dan memberikan kecupan lembut dikening Donghae. Kemudian Yoona kembali menegakkan tubuhnya, namun matanya langsung  membulat ketika matanya bertemu dengan mata Donghae. Namja itu memandangnya dalam, namun datar dan dingin. Sesuatu seperti menusuk-nusuk ulu hati Yoona .

“apa yang kau lakukan?”, tanya Donghae lemah.

“….”

“apa yang kau lakukan Im Yoona?”, tanya Donghae lagi. Tapi Yoona tetap diam seribu bahasa. Matanya sudah berkaca-kaca, ingin menangis tapi tidak ingin Donghae melihatnya.

“apa kau menganggapku sebagai mainanmu saja? aku tahu hidupku tidak akan lama lagi, tapi aku tetaplah manusia. Aku memiliki perasaan Im Yoona. Jadi jangan mempermainkan perasaanku. Aku sangat sakit, kau tahu?”, ucap Donghae kali ini nada suaranya sudah meningkat, emosi merajai Donghae. Mengakibatkan namja itu sedikit terengah karena system pernapasannya belumlah stabil.

Yoona menggeleng mendengar perkataan Donghae. Tidak. Yoona tidak seperti yang Donghae katakan. Yoona ingin mengatakan jika dia tidak ingin menyakiti Donghae. Tapi Yoona tidak tahu kemana suaranya pergi, tenggorokannya terasa kering.

Karena tidak ada sedikitpun suara yang Yoona lontarkan, Donghae menghela napas, menyerah. Dia sudah lelah dengan semua ini. Jika semuanya memang harus berakhir seperti ini, mati sekarang juga pun tidak akan menjadi masalah baginya.

“keluarlah aku ingin istirahat”, usir Donghae.

“dan….”, Donghae menggantung ucapannya. Melirik Yoona sejenak.

“dan mulai besok aku akan meminta Kyuhyun untuk menggantikan tugasmu. Aku ingin tidur”, setelah mengucapkannya Donghae langsung memposisikan badannya menyamping, membelakangi Yoona. Yoona syok mendengar Donghae secara tidak langsung mendorongnya menjauh. Sampai-sampai mencari dokter lain untuk merawatnya. Sebenci itukah Donghae kepadanya? Setitik airmata sudah menetes, mengalir dipipinya. Namun dengan cepat Yoona menghapusnya.

Yoona beranjak dari duduknya, merapikan selimut Donghae sebentar. Tidak ada reaksi dari Donghae. Yoona beranjak pergi. Namun baru selangkah Yoona kembali berbalik menghadap Donghae. Mungkin ini terakhir kalinya Yoona dapat melihat Donghae lagi.

“a-aku minta maaf karena sudah menyakitimu”, Yoona mengucapkannya lirih.

“aku tidak ingin hubungan kita berakhir seperti ini. Tapi aku tidak bisa berbuat apapun. Jika aku menuruti keinginanku, banyak orang yang akan terluka. Jadi, aku minta maaf, karena memilih kau yang menjadi tersakiti. Aku sangat minta maaf Hae”, jujur Yoona.

“dan dua minggu lagi, aku… aku akan me-menikah”, leher Yoona seperti tercekik ketika mengucapkan kalimat terakhirnya. Yoona kembali melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan itu dengan cepat karena air matanya kembali keluar tidak tertahankan lagi. Yoona berjalan cepat keruangannya. Untuk saja, jam berkunjung sudah selesai, lorong-lorong rumah sakit tampak sepi. Yoona tidak ingin ada orang lain yang melihat kondisinya. Namun yang Yoona tidak sadari sedari tadi, seorang yeoja bersandar disisi dinding pintu luar, meneteskan air mata, menatapnya tajam dengan kedua tangan mengepal, kuat.

“aku… tidak akan memaafkanmu”, ucap yeoja itu dengan penuh kenekanan karena amarahnya. Kemarahannya semakin meningkat ketika sayup-sayup yeoja itu dapat mendengar isak tangis dari ruangan itu. Sungguh ini untuk pertama kalinya bagi yeoja itu mendengar Donghae menangis sampai terisak-isak. Bahkan ketika beberapa kali mengalami kesakitan dan menjalani serangkaian operasi semenjak kecil, Donghae tidak pernah menangis seperti itu.

“op-oppa~”, gumamnya, prihatin pada Donghae.

>>>>>>>

Cahaya pagi menelisik, mengusik tidur seorang yeoja yang matanya tampak sembab karena menangis. Yeoja itu pun terbangun, menyesuaikan penglihatannya pada cahanya yang masuk dari celah-celah pentilasi ruang kerjanya.

“noona?”, ujar seseorang yang tiba-tiba menerobas masuk, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

“mmm”, balas Yoona.

“ada apa ini? kenapa noona digantikan oleh dokter Kwon untuk merawat Tuan Lee?”, tanyanya dengan nada tinggi. Mendengar itu, seketika mengembalikan ingatan Yoona pada percakapan terakhirnya dengan Donghae. Yoona menunduk sedih. Melihat itu, Suho menghampiri Yoona. Menyentuh bahu Yoona, lalu menepuk-nepuk punggungnya lembut.

“ada apa noona? Apa yang terjadi?”, tanya Suho lembut.

“dia membenciku suho. Dia menyuruhku menjauh darinya. Dia menginginkan orang lain yang merawatnya”, adu Yoona dengan tubuh yang mulai bergetar. Suho menghela napas berat. Beginilah jika pekerjaan dilibatkan pada perasaan. Semuanya akan kacau berantakan.

“jangan langsung beranggapan negatif noona”, hibur Suho, namun dengan cepat Yoona menggeleng.

“tidak Suho. Dia… Dia sendiri yang mangatakannya padaku. Dia ingin menggantiku dengan dokter lain”, ujar Yoona. Dia ingin menangis lagi sekarang. Seakan air matanya tak ada habisnya untuk menangisi nasibnya.

“tapi kenapa noona? Sebenarnya apa yang sudah terjadi diantara kali-”, Brakk Tiba-tiba pintu ruang kerja Yoona terbuka keras, menghentikan ucapan Suho. Disana, didepan pintu itu berdiri seorang yeoja dengan tatapan ingin membunuh. Suho dan Yoona mengerutkan kening ketika menyadari siapa yang ada didepan pintu itu.

“nona Lee”, sapa Suho dengan senyum. Namun orang yang disapa tidak menanggapi. Dia terus melangkah mendekati posisi Yoona dengan tatapan yang sama. Dendam dan kebencian. Merasa akan terjadi hal yang buruk, dengan cepat Suho menutup kembali pintu itu. Jika tidak akan menjadi bahan tontonan orang lain, dan mencoreng nama Yoona.

“nona Lee ada a..”, plak suara keras menghentikan sapaan Yoona. Seketika pipinya memerah, sakit menjalari.

“nona Lee apa yang kau lakukan?”, ucap Suho dan langsung menahan tangan Chorong yang ingin menampar Yoona lagi.

“lepaskan aku. Aku harus memberikan pelajaran padanya karena sudah dengan beraninya menyakiti oppaku. LEPASKAN”, teriak Chorong.

“nona Lee kumohon tenanglah”, pinta Suho.

“bagaimana aku tenang, jika… hiks jika karena dia oppaku harus menderita seperti ini hiks”, tangis Chorong pecah.

“siapa kau sebenarnya? Apa yang sudah kau lakukan pada oppaku?”, tanya Chorong, masih dengan tangisnya. Yoona tetap diam menunduk.

“oppaku adalah namja yang baik. Kenapa kau memperlakukannya seperti ini?”, ujar Chorong lagi.

“a-aku minta ma-maaf”, ucap Yoona terbata.

“noona”, seru Suho ketika melihat Yoona yang menegakkan kepala dengan pipi memerah dan air mata yang sudah mengalir dipipinya. Tidak ada isakan yang terdengar dari bibir Yoona. Suho tahu, Yoona menahannya mati-matian.

“jangan meminta maaf, jika kau tidak bisa mengembalikan oppa ku, sialan”, umpat Chorong, membuat Suho pun marah dengan ketidak sopanan Chorong.

“jaga ucapanmu nona Lee”, geram Suho.

“aku… hiks… aku tidak bisa. Aku… minta maaf. Aku juga menginginkan dirinya, tapi…. Tapi aku… tidak bisa”, jujur Yoona, akhirnya isakannya pilu pun terdengar, membuat Suho bahkan Chorong pun terdiam. Isakan pilu itu seperti ikut mereka rasakan. Chorong terdiam melihat Yoona yang berlutut meminta maaf dengan tangis, dihadapannya. Akhirnya Chorong mengerti satu hal. Mereka – Donghae dan Yoona – pasangan yang saling menginginkan tapi tidak bisa saling memiliki.

Clek

Pintu terbuka menampilkan sosok yeoja lain yang terlihat syok dengan keadaan yang ada diruangan itu. Suho yang sedang menahan Chorong agar tidak bertindak kasar lagi, dan Yoona yang berlutut  sambil menangis.

“a-ada apa ini? Chorong-ah kenapa kau ada disini?”, tanya Sooyoung.

“unnie, yeoja ini.. dia.. dia”, Chorong tidak dapat melanjutkan ucapannya. Tenggorokannya serasa kering ketika mendengar tangis Yoona.

“Yoong kau kenapa? Yoong~”, Sooyoung membujuk Yoona untuk berdiri tapi Yoona tidak ingin.

“aku.. hiks.. aku harus minta maaf dulu”, ucap Yoona.

“ada apa sebenarnya?”, Sooyoung menatap Suho seolah bertanya pada namja itu.

“tanyakan saja pada noona langsung. Dia tidak mau mengatakan apapun. Aku akan meninggalkan kalian”, jawab Suho dan langsung menarik Chorong ikut keluar walau ada pemberontakan yang terjadi. Suho menutup pintu ruangan Yoona, lalu menarik Chorong lagi ke lorong yang tampak sepi dan gelap. Menyudutkan Chorong di dinding, meletakkan kedua tangannya dikedua sisi tubuh Chorong, menguncinya.

“a-apa yang kau lakukan?”, ucap Chorong, tiba-tiba gugup dengan kedekatan tubuhnya dengan Suho.

“kau benar-benar gadis yang tidak memiliki sopan santun dan temperamental”, ucap Suho sinis. Chorong pun langsung marah mendengarnya. Didorongnya tubuh Suho sekuat tenaga agar menjauh darinya.

“aku tidak memiliki urusan denganmu dokter. Ohh jangan-jangan karena kau, yeoja itu membuang oppaku?”, balas Chorong. Suho menggeram marah. Suho paling tidak suka ada yang menghina keluarganya, noonanya.

“jaga ucapanmu. Sifatmu sangat buruk, seperti orang yang tidak berpendidikan. Pantas saja kau tidak juga bisa lulus dari jurusan kedokteran. Bagaimana nasib pasien jika ada dokter temperamental sepertimu”, hina Suho. Suho yang pernah berbincang-bincang dengan Kyuhyun ketika menunggu Donghae siuman, bercerita sekilas tentang keluarga Lee, termasuk tentang studi dari saudara perempuan Donghae.

“apa hakmu untuk menilaiku? Kau bukan dosenku. Kau bukan keluargaku. Kau tidak ada hak untuk menilaiku”, marah Chorong karena Suho berani mengungkit-ungkit masalah studinya.

“ya, aku bukan siapa-siapa untukmu. Tapi aku… selaku dokter yang lulus dari univesitas yang sama denganmu, yang secara otomatis aku adalah seniormu, merasa keberatan jika ada seorang calon dokter sepertimu”, jelas Suho. Melihat Chorong yang langsung terdiam, Suho tersenyum, sumringah, merasa menang.

“sial”, gumam Chorong.

“ohhh lihat, bahkan kau berani memaki sunbae (senior) mu”, ujar Suho, pura-pura marah. Chorong langsung menutup mulutnya dengan talapak tangannya. Suho mengamati Chorong dari atas sampai kebawah. Merasa prihatin dengan keadaan Chorong yang tampak berantakan dan terlihat lelah. Suho tahu selama dua hari lebih Donghae dirawat, yeoja itu tak beranjak sedikitpun, setia menjaga Donghae.

“aku harus menjelaskan sesuatu. Aku tidak yakin kau dapat menerimanya atau tidak, tapi aku harus tetap mengatakannya”, jeda Suho. Melihat Chorong tidak ada perlawanan, Suho pun melanjutkan.

“aku tidak tahu sebenarnya apa yang sudah terjadi. Tapi karena aku tahu bagaimana hubungan antara Tuan Lee dan dokter Im, aku sedikit mengerti. Jangan menyalahkan dokter Im. Tapi bukan berarti aku menyalahkan Tuan Lee. Tapi keadaanlah yang membuat mereka tidak bisa bersama. Kau dengar sendirikan, dokter Im juga menginginkan Tuan Lee, tapi keadaannya, keadaan yang memaksa dokter Im harus menjauh. Jika tidak Tuan Lee akan semakin tersakiti”, jelas Suho. Chorong memandang Suho serius. Menunggu kelanjutan ceritanya.

“kau tahu dokter Im bisa sampai seperti sekarang ini karena siapa?”, tanya Suho. Chorong langsung menggeleng.

“mana ku tahu”, jawab Chorong acuh.

“Tuan Lee. Oppamu itu”, jawab Suho. Chorong langsung mengerutkan kening tidak mengerti.

“mereka memiliki kenangan dimasa lalu yang Tuan Lee belum mengingatnya. Tapi dokter Im selalu mengingatnya bahkan menjadikan Tuan Lee sebagai motivasinya hingga menjadi dokter ahli spesialis jantung termuda dirumah sakit ini, bahkan di Jerman”

“dia ingin suatu saat ketika dia kembali bertemu dengan tuan Lee, dia yang akan menjaga taun Lee. Dan memang akhirnya mereka bertemu, namun dengan keadaan tuan Lee yang memburuk. Dokter Im pun bertekat akan mempertaruhkan segalanya untuk Tuan Lee, sampai Tuan Lee sembuh. Tapi, tiba-tiba bencana datang, membuat semua impiannya itu harus sirna. Bahkan membuat dirinya sendiri menambah luka pada Tuan Lee. Dan tidak memperdulikan luka yang juga dia alami sendiri. Jadi jangan menyalahkannya, jangan membencinya. Dia pun terluka untuk semua ini”, jelas Suho panjang lebar.

“yang bisa kita lakukan hanya berdoa untuk kesembuhan Tuan Lee dan mendukung segala keputusan yang mereka ambil”, tambah Suho bijak.

“jadi… benar dia… maksudku dokter Im juga menyukai oppaku?”, tanya Chorong dan dibalas anggukan dari Suho. Chorong terdiam sejenak.

“jadi kau mengertikan keadaan mereka?”, tanya Suho berharap Chorong sudah bisa menerima Yoona. Chorong pun mengangguk.

“tapi, aku tidak akan tinggal diam. Aku akan membantu mereka”, tekat Chorong yang tiba-tiba bersemangat untuk mempersatukan Yoona dan Donghae. Suho mendesah pasrah namun selanjutnya tersenyum melihat tingkah Chorong dengan sifat yang dalam hitungan menit dapat berubah-ubah.

>>>>>>>

Yoona menceritakan semuanya kepada Sooyoung, termasuk pernikahannya yang dipercepat. Sooyoung terkejut mendengar semuanya. Terkhusus tentang rencana pernikahan itu. Yoona tidak pernah cerita jika dirinya sudah bertunangan. Ini sangat berat bagi Donghae, terkhusus Yoona.

Sooyoung masih memeluk Yoona yang sedari tadi tidak berhenti menangis. Sooyoung seolah-olah dapat merasakan kesakitan yang sahabatnya itu rasakan. Mengingat sesuatu, Sooyoung melepas pelukannya, menatap wajah Yoona dengan matanya yang sembab.

“jujur padaku, sebenarnya apa hubunganmu dengan Donghae oppa?”, ujar Sooyoung. Yoona terdiam. Mengerti maksud kata ‘hubungan’ yang sahabatnya itu lontarkan. Cerita masa lalunya.

“sebenarnya aku mengenalnya sudah sangat lama”, mulai Yoona. Sooyoung mengerutkan kening.

“kau ingatkan, dulu, ketika kita masih sekolah dasar, aku pernah bercerita bertemu dengan seorang namja yang bersekolah disatu yayasan dengan kita”, lanjut Yoona. Sooyoung tampak berpikir, hingga kemudian mengangguk setelah mengingat cerita yang Yoona maksud.

“kau ingatkan, waktu dia menyelamatkanku, kami terjatuh dan dadanya terluka? Dan ketika aku mencari bala bantuan, namja itu sudah tidak ada di tempat dia kutinggalkan? Akhirnya aku bertemu lagi dengannya”, tambah Yoona.

“dimana?”, tanya Sooyoung.

“disini. Dirumah sakit ini. dan dia adalah sepupumu”, jawab Yoona.

“sepupu yang ma… APA? Mak-maksudmu Do-Donghae oppa?”, Sooyoung langsung membelalakkan mata ketika tersadar sepupunya yang Yoona maksud adalah Lee Donghae. Yoona mengangguk lemah.

“oh God, dunia ini memang sangat sempit. Lalu apa oppa mengingatmu?”, tanya Sooyoung.

“aku rasa tidak. Tapi aku sudah berusaha untuk memberi clue padanya. Tapi sepertinya dia tetap tidak ingat”, jawab Yoona.

“kenapa kau tidak beritahu langsung saja?”, tanya Sooyoung lagi. Yoona menggeleng.

“entahlah. Aku tidak tahu. aku hanya merasa itu bukan hal yang penting untuknya. Tapi kau tahu dia siapa untuk ku. Dia inspirasiku, karena dia aku bisa sampai seperti sekarang ini”, jelas Yoona.

“kau mencintainya?”, tanya Sooyoung cepat, hingga membuat Yoona terkejut. Cinta? Apakah Yoona memang mencintai Donghae? Atau hanya balas budi saja? Yoona tidak tahu. Yang Yoona sadari sejak bertemu dengan Donghae kembali adalah waktunya untuk menyalurkan apa yang sudah dia perjuangkan selama ini, hingga Donghae bisa sembuh. Ilmu kedokterannya.

“aku… tidak tahu”, jawab Yoona jujur. Sooyoung menggeleng-geleng kepala, dengan jawaban Yoona.

“bagaimana bisa sampai sekarang kau belum mengerti dengan perasaanmu sendiri. Kau menangisinya berhari-hari. Kau tidak ingin kehilangannya. Kau selalu mengkhawatirkan dirinya. Itu apa artinya jika bukan cinta. Sadarlah Yoong, kau mencintainya”, jelas Sooyoung.

“apa benar aku mencintainya?”, tanya Yoona masih ragu. Dibalas Sooyoung dengan anggukan mantap.

“tidak inginkah kau memperjuangkan cintamu seperti kau memperjuangkan nyawanya?”, Sooyoung mencoba memberi dorongan untuk Yoona.

“aku tidak bisa. Aku akan menyakiti keluargaku dan juga keluarga tunanganku Soo, jika aku sampai membatalkan pernikahan itu”, jelas Yoona.

“sampai kapan kau akan seperti ini? egois sekali saja untuk kebahagianmu sendiri itu perlu Yoong”, bujuk Sooyoung.

“nanti akan kupikirkan kembali”, jawab Yoona. Sebenarnya Yoona masih tetap pada keputusan awalnya untuk tetap melanjukan pernikahan itu. Tapi Sooyoung tidak boleh tahu.

“ya sudah kalau begitu. Segera perbaiki penampilanmu, terkhusus wajahmu itu. bisa-bisa pasienmu lari ketakutan melihat wajah mengerikan itu”, ejek Sooyoung, berharap Yoona dapat sedikit terhibur dan merubah moodnya.

Yoona pun beranjak masuk ke kamar mandi yang ada didalam ruangannya. Dan Sooyoung keluar dari ruangan itu, menuju ruangan Donghae. Lebih tepatnya mencari Chorong.

>>>>>>>

Sudah seminggu tepatnya Donghae tidak pernah melihat Yoona lagi. Terakhir kali ketika pertengkaran mereka di rumah sakit. Setelahnya Yoona seperti hilang ditelan bumi. Ada sedikit harapan yang Donghae rasakan untuk melihat sekali saja wajah Yoona. Setelah seminggu tidak bisa bertemu dengan Yoona, Donghae akhirnya mengalah. Tidak ada gunanya marah, karena pada akhirnya Yoona akan tetap pergi dari hidupnya. Donghae berpikir ada baiknya menikmati hidupnya yang singkat ini untuk bersenang-senang saja dari pada harus memikirkan peliknya kisah percintaannya. Beristirahat, menonton, membersihkan apartemen, memasak – walaupun dirinya belum pernah memasak. Apapun, yang penting Donghae dapat melupakan Yoona. Bahkan dua hari yang lalu Donghae memaksa Chorong kembali ke Jerman untuk melanjutkan studinya. Donghae ingin menikmati hari-harinya seorang diri. Dia tidak ingin bertemu dengan siapapun. Hanya menghabiskan waktu di apartemen.

Akibatnya, Kyuhyun harus membackup semua pekerjaan Donghae seorang diri. Kyuhyun mengerti perasaan Donghae sekarang, Sooyoung sudah menceritakan semuanya. Ada perasaan iba pada pasangan yang harus saling menyakiti walaupun mereka sebenarnya saling mencintai. Perasaan yang sangat rumit. Kyuhyun tidak menyukai keadaan ini. Tapi entah apa yang terjadi, hari ini Donghae ingin keluar rumah. Katanya ingin berolahraga sebentar. Mendengar itu Kyuhyun pun dengan semangat datang menjemput Donghae untuk olahraga ditaman tidak jauh dari kawasan apartemen Donghae.

“ayo Kyu cepatlah. Kau lamban sekali”, cibir Donghae ketika lagi-lagi Kyuhyun ketinggalan dibelakang.

“aku sudah lelah hyung. Ini sudah putaran kelima. Bagaimana bisa hyung tidak lelah sama sekali?”, balas Kyuhyun setelah perjuangan mati-matian dapat menyamakan posisi larinya dengan Donghae.

“aku sedang sangat bersemangat sekarang. Energiku seolah-olah sedang berkobar-kobar seperti api membara”, ujar Donghae sambil menoleh kekiri untuk menatap Kyuhyun yang terlihat sangat lelah dengan napas yang tersegal-segal.

“tapi kan tetap saja ini berlebihan. Hyung tidak boleh terlalu lelah. Ingat perkataan dokter Kwon”, peringat Kyuhyun.

“tenang, aku baik-baik sa… akkhhh”, perkataan Donghae terhenti karena tubuhnya menabrak sesuatu yang keras. Donghae terhuyung kebelakang, untuk saja Kyuhyun dengan sigap menahan tubuh Donghae agar tidak terjatuh.

“ohhh maaf. Apa anda baik-baik saja?”, tanya seorang namja. Donghae mendongak sedikit. Karena tubuh namja dihadapannya itu sedikit lebih tinggi darinya.

“anda baik-baik saja?”, tanya namja itu lagi.

“ohh ya. Aku baik-baik saja. seharusnya akulah yang meminta maaf karena tidak memperhatikan jalan”, jawab Donghae.

“ohhh sepertinya aku tidak asing dengan wajah anda”, ujar namja itu lagi.

“aku Choi Siwon”, namja itu memperkenalkan diri.

“Lee Donghae. Dan ini Cho Kyuhyun”, jawab Donghae.

“mmm Lee Donghae. Nama anda sepertinya sangat familiar. Apa anda seorang artis? Atau atlit atau..”

“CEO. Dia CEO Lee Hosp”, ujar Kyuhyun cepat. Dia tidak suka dengan pemikiran-pemikiran namja asing itu tentang Donghae. Jadi dia langsung menyela.

“waaa Lee Hosp? Jadi anda CEO yang terkenal sangat dermawan itu? aku sangat mengagumi anda”, seru Siwon. Dan Donghae hanya membalasnya dengan senyuman saja.

“aku bekerja di sebuah perusahaan konstruksi dan baru-baru ini mendapatkan sebuah proyek di Jepang. Dan disana nama anda sangat di elu-elukan”, jelas Siwon.

“ya terima kasih”, jawab Donghae seadanya saja. Siwon tersenyum lebar, sesaat matanya melihat seorang gadis yang tampak kebingungan seperti mencari seseorang.

“Yoona… disini”, teriak Siwon pada orang yang sedang kebingungan tersebut. Mendengar nama itu, mata Donghae langsung membulat, jantungnya langsung berdetak sangat kencang. Sudah lama dia tidak mendengar nama itu. Donghae merindukan nama itu. Tepatnya pemilik nama itu.

“oppa dari mana saja. aku mencarimu sedari tadi”, ujar gadis itu.

“ohh maaf sayang, aku tadi sedang pemanasan, tapi tanpa sengaja bertemu dengan orang hebat ini”, jelas Siwon. Yoona mengerutkan kening. Yoona beralih pandangan pada seorang namja yang masih membelakanginya. Tapi melihat namja yang berdiri disebelahnya adalah orang yang sangat dia kenal, kemungkinan besar orang yang masih betah memunggunginya itu adalah orang yang sangat dia kenal juga. Jantung Yoona langsung berdegup sangat kencang.

“selamat pagi dokter Im”, sapa Kyuhyun.

“se-selamat pagi”, jawab Yoona terbata. Yoona sangat gugup sekarang, terlebih lagi namja yang memunggunginya itu sudah berbalik arah, menunjukkan wajah tampannya yang Yoona sangat rindukan. Jika saja saat ini mereka hanya berdua saja, tidak ada Siwon, mungkin saja Yoona akan langsung melemparkan diri pada namja itu, memeluknya dengan sangat erat. Yoona merindukan namja itu.

“ohh kau mengenal mereka sayang?” , tanya Siwon. Kyuhyun menggeram dengan tingkah Siwon yang seperti sedang memamerkan kisah percintaannya kepada semua orang.

“Dokter Im adalah dokter yang merawat Lee sajangmin selama beberapa bulan ini”, jawab Kyuhyun.

“benarkah?”, Siwon terkejut.

“n-nde”, jawab Yoona sangat pelan.

“tapi itu dulu. Sekarang sudah tidak lagi. Bukankah begitu dokter Im?”, ujar Donghae tiba-tiba.

“n-nde”, jawab Yoona semakin tidak terdengar.

“wah aku tidak menyangka ternyata kau menjadi salah satu orang yang sangat berjasa untuk hidup seseorang yang sangat luar biasa ini Yoong”, bangga Siwon. Melihat Siwon seperti orang yang tidak sadar dengan situasi, Yoona merasa geram, ingin rasanya mencekik leher Siwon sekarang ini.

“terima kasih karena sudah pernah mempercayakan tanggung jawab seperti itu kepada tunangan saya”, ujar Siwon. Tu-tunangan? Mendengar itu membuat Donghae terdiam kaku, seperti baru saja tersambar petir walaupun hari terlihat sangat cerah.

“aku dengar minggu depan kalian akan melangsungkan pernikahan. Selamat kalau begitu. Aku doakan semoga kalian selalu bahagia dan tetap saling mencintai”, ujar Donghae. Tubuh Yoona langsung tegang dan matanya sudah sangat berat untuk menahan bendungan air mata yang ingin jatuh. Perkataan dan doa Donghae agar dia bahagia dengan Siwon, membuatnya sangat terluka. Yoona membenci keadaan ini. Yoona tidak suka dengan ucapan Donghae.

“ohh terima kasih banyak. Saya berharap anda bisa hadir diacara pernikahan kami”, balas Siwon masih dengan wajah yang penuh dengan kebahagian. Tapi menurut Kyuhyun raut wajah yang Siwon perlihatkan sangat berlebihan. Seperti anak remaja yang baru mengalami pubertas.

“maaf, aku sedang ada pekerjaan pada hari itu. Menyangkut hidup dan mati. Jadi sekarang saja ku ucapkan selamat. Karena mungkin aku tidak bisa datang”, jawab Donghae dengan senyum menawannya.

“ohh sayang sekali”, ujar Siwon sedikit kecewa.

“ahh kalau begitu kami permisi dulu”, ujar Donghae dan langsung berbalik, melangkah keluar dari area taman itu dengan Kyuhyun yang mengikuti dari belakang. Kyuhyun khawatir, Donghae akan mengurung diri lagi karena kejadian tadi. Kyuhyun ingin marah pada Yoona. Tapi Kyuhyun pun tidak bisa menyalahkan Yoona sepenuhnya. Karena keadaanlah yang membuat semua menjadi seperti ini.

“ayo sayang, kita pemanasan dulu”, seru Siwon dan mulai melangkah sambil menggerak-gerakkan tubuhnya untuk pemanasan. Tidak menyadari jika Yoona masih terdiam membatu memandang kepergian Donghae dan Kyuhyun.

“op-oppa~”, ucap Yoona sendu. Yoona melangkahkan kakinya dengan cepat, keluar dari taman itu. tidak memperdulikan Siwon yang memanggil-manggil namanya. Bahkan kini Yoona sudah berlari dengan cepat dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.

>>>>>>>

“ada apa denganmu? Apa kau sakit?”, tanya Siwon pada Yoona yang masih dengan diamnya. Setelah kejadian tadi pagi Siwon terus-menerus menghubungi Yoona, tapi gadis itu menghiraukannya. Hingga sekarang, tepatnya pukul sepuluh malam, Siwon datang kerumahnya untuk meminta kejelasan.

“Yoona apa yang terjadi sayang?”, tanya Siwon sambil menggenggam tangan Yoona. Namun dengan cepat Yoona menarik tangannya kembali. Kening Siwon berkerut.

“pulanglah. Aku sedang ingin sendiri oppa”, jawab Yoona.

“tidak. Sebelum kau memberitahu aku apa yang sedang terjadi”, balas Siwon. Yoona menegakkan kepalanya yang sedari menunduk.

“bisakah oppa sekali saja tidak memaksakan kehendak oppa saja? aku juga memiliki kehidupan sendiri. Dan aku memiliki hak untuk itu”, ucap Yoona dengan nada meninggi. Untung saja mereka sedang ada di taman depan rumah Yoona, sehingga kedua orang tua Yoona tidak perlu melihat kejadian sekarang ini.

“wae? Kenapa kau menjadi seperti ini? apa karena pernikahan kita yang dipercepat? Kau tidak setuju? Atau…”, Siwon menggantung ucapannya. Menatap Yoona dalam dengan rahang yang sudah mengeras.

“kau mencintai namja lain?”, tambah Siwon. Yoona langsung terdiam kaku.

“aku anggap sikap diam mu ini sebagai jawab ya untuk pertanyaan terakhir ku itu”, simpul Siwon. Salah satu sudut bibir Siwon terangkat, menunjukkan kesinisannya.

“kau mencintai namja penyakitan itu kan. Padahal hidupnya sudah tidak akan lama lagi. Apa yang kau harapkan darinya? Tapi walaupun begitu, aku tidak peduli. Yang jelas, minggu depan kita akan tetap melangsungkan pernikahan dan kau akan menjadi milikku”, ucapa Siwon angkuh.

“aku baru sadar, jika oppa sangat picik”, balas Yoona dingin. Yoona tidak menyangka jika Siwon dapat berkata seperti itu. terlebih mengejutkannya adalah Siwon tahu Yoona menyukai Donghae. Siwon pasti sudah mencari tahu semua kegiatan Yoona selama kembali ke korea. Yoona sangat membencinya.

“kau belum mengenalku dengan baik sayang. Aku bisa melakukan apapun untuk bisa mendapatkan apa yang aku mau. Termasuk dirimu”, ucap Siwon sambil mengelus pipi Yoona. Dengan cepat Yoona mengingkirkan tangan Siwon dari wajahnya.

“aku tidak sudi melihat wajahmu lagi”, ucap Yoona dengan penekanan pada setiap katanya lalu melangkah keluar dari gerbang rumah. Melangkah, menjauh dari Siwon. Di tengah malam seperti ini, entah kemana gadis itu akan pergi. Yang gadis itu inginkan hanya menjauh dari Siwon.

>>>>>>>

Donghae merebahkan dirinya diatas sebuah karpet tebal di ruang TV. Donghae ingin bersantai-santai, membaca buku sambil meneguk secangkir cokelat hangat. Donghae membolak balik sebuah buku yang isinya membuat Donghae berpikir ulang, karena isinya tidak sesuai dengan yang Donghae harapkan.

“tidak asyik”, gerutu Donghae pada buku itu.

Ting nong ting nong

Suara bel pintu membuat Donghae langsung bangun, melangkah mendekati pintu. Beranggapan mungkin itu Kyuhyun. Tidak mungkin orang lain datang berkunjung tengah malam seperti ini. hanya Kyuhyun yang selalu datang mengganggunya dimalam hari karena bertengkar dengan Sooyoung.

“ada apa lagi kau dengan soo-“, ucapan Donghae langsung berhenti ketika melihat bukan Kyuhyun yang ada di depan pintunya.

“a-apa yang kau lakukan malam-malam seperti ini?”, ucap Donghae.

“ahh maaf mengganggu istirahatmu. Aku hanya ingin mengemasi barang-barangku saja”, jawab Yoona.

“ohh, silahkan”, Donghae mempersilahkan Yoona masuk dan membiarkan gadis itu langsung menuju kamar yang pernah Yoona gunakan diapartemen itu. Donghae lebih memilih kembali keruang TV, menikmati buku barunya dan juga secangkir cokelat hangat. Namun dalam beberapa menit Donghae sudah berpaling, melihat pada pintu bercat cokelat yang Yoona masuki tadi. kenapa dia lama sekali? Donghae bertanya-tanya apa yang Yoona lakukan didalam sana. Namun dengan cepat menggeleng, agar pikiran tentang Yoona segera pergi. Donghae kembali sibuk dengan buku-bukanya. Memaksakan diri untuk sibuk. Tiba-tiba terdengar suara gesekan sebuah benda dengan lantai yang semakin lama semakin dapat Donghae dengar. Donghae yang sedang rebahan diatas karpet mendongak keatas memandang Yoona yang berdiri menjulang didepannya dengan sebuah koper yang cukup besar dan sebuah tas selempang.

“aku akan pergi”, ucap Yoona terlebih dahulu. Donghae menggangguk kemudian kembali membaca bukunya. Melihat itu Yoona menggeram marah. Donghae seperti tidak mengangapnya ada sekarang.

“apa kau akan terus seperti ini?”, geram Yoona. Donghae mengerutkan kening mendengar suara Yoona yang meninggi.

“apa?”, tanya Donghae tidak mengerti.

“apa kau bodoh. Apa tidak pernah terlintas dalam pikiranmu sekali saja untuk menahanku agar tidak pergi dari mu?”, ucap Yoona kini dengan suara yang serak.

“untuk apa? Memangnya jika aku melakukannya kau akan membatalkan pernikahanmu?”, tanya Donghae, sambil bangun, berdiri menghadap Yoona. Yoona terdiam, tidak bisa menjawab.

“tidak bisakan? Kau jelas tahu apa yang akan terjadi. Jadi aku hanya tidak ingin semakin terluka, jadi aku merelakanmu”, ucap Donghae tenang.

“aku tidak akan mengharapkanmu lagi. Aku tidak akan mengharapkan mu lagi menjadi orang yang dapat menyelamatkan hidupku, menjadi gadis satu-satu yang sangat ingin ku ajak berkencan, gadis yang ingin ku miliki seutuhnya, gadis yang membuatku termotivasi untuk tetap bisa bertahan hidup. Tapi sekarang tidak lagi”, ucap Donghae dalam sekali tarikan napas.

Yoona tertegun dengan keinginan Donghae sebelum kejadian yang menyesakkan ini terjadi. Donghae sangat mengharapkannya. Donghae menginginkannya. Tapi apa yang terjadi sekarang, Yoona malah yang menghancurkan keinginan namja berhati lembut ini.

“pergilah. Aku sudah mereka merelakanmu”, tambah Donghae. Kemudian berbalik, melangkah menuju kamarnya. Namun baru beberapa langkah, langkah Donghae terhenti karena sesuatu menahannya. Kehangatan melingkupinya. Sebuah tangan melingkar erat dipinggangnya. Yoona memeluknya dari belakang.

“apa yang kau lakukan Im Yoona. Lepaskan”, ucap Donghae sambil berusahan melepas lingkaran tangan Yoona dipinggangnya. Tapi tidak bisa. Yang ada Yoona semakin mengeratkan pelukannya.

“Yoona ini tidak benar. Kau seorang gadis yang sebentar lagi akan menikah. Dan tidak baik jika kau memeluk pria lain”, ucap Donghae mencoba menyadarkan Yoona. Tapi Yoona seperti orang tuli sekarang. Donghae mendesah berat, pusing dengan tingkah laku Yoona yang sulit dimengerti.

“baiklah. sekarang apa mau mu?”, tanya Donghae akhirnya mengalah. Dan seketika Yoona langsung melepas pelukannya, dan membalik tubuh Donghae menghadapnya.

“aku… ingin berkencan dengan mu”, jawab Yoona dengan senyum lebar.

tbc

Next part special YH Moment

Advertisements

17 thoughts on “My Lovely Doctor – Chapter 5

  1. uly assakinah

    astaga tuh siwon ternyata orang yang licik. padahal dia tau kalo yoona suka sama donghae, jadi kejadian di taman itu dia hanya pura-pura gk tau aja.

  2. KasMha PyrooLiers

    Prnukahan dipercepat krna siqon dah tau hbngan yoonhae… Trus ngajak berkencan dlm artian apa ini..?? Kumohon jng beri hrapan palsu lg.. Ckup hae skit krna pnyakitnya… Jng tambah sakit karna patah hTi… Sia udh berbsar hti mrelakanmu yoong.. Tp klo kamu srius dng hae skli2 kamu hrua egois demi kbhagianmuuu..
    #SaveYoonHae… Ditunggu next partnya!!!

  3. Lilih

    Nyesek bnget bacanya, Kasian yoonhae nya. 😢 smoga hea mau kencan lg ama yoong..
    Udg ga sbr pengen bca yoonhae moment nya

  4. tryarista w

    akhirnya,,,,
    pi knapa ceritanya mkin bkin nyesekkkk,,,,
    pasti tuch siwon dah tau hub yoonhae mkanya pernikahannya dipercepat,,,,,kok bsa mereka bertunangan ,,,,
    chorong ayo bntu yoonhae bersatu

  5. Kasian yoonhae siwon knp kamu egois bgt sih hikhik kasian kan mrk semoga mrk bs bersatu kembali dan semoga hae cepet sembuh buat happyend ya thor gonawo and tetap berkarya fighting

  6. ichus

    Ihhh siwon trnyta gtu sikapnya.. not good.
    yoona donghae berjuang donk untuk pertahanin cinta klian. Terbuka perasaan msing” dan yakin deh psti orang tua yoona juga dkung klo emng yg bwt yoona bhagia itu donghae.
    Can’t wait for next chapter 😄

  7. Akhirnya stelah skian lama nunggu updatean nnya :v Huwaaaaa awalnya nyesekk amat.. untung aja bgian² akhrnya romance :v Siwon tau yah klo yoong ska ma hae?? benci bnget ama sfat siwon,, seakan² dia pamer ama HaeKyu + dia egois.. Next part special YHM ya? Seruuu donk :v jgan lama² yah 🙂

    Fighting!

  8. sulistiowati_06

    aigo mudah2an donghae bisa bener2 sembuh dari penyakitnya itu. gila siwon picik banget jadi orang, lebay banget sifatnya. mudah2an yoonhae segera bersatu ya. udah ngarep yoonhae momentnya. ditunggu jangan lama2 chingu. lanjutan loconya juga ditunggu. gomapta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s