My Lovely Doctor – Chapter 4

mld2

Author: Fi_ss

Tittle: My Lovely Doctor Chap – 4

Lenght: Chapter

Cast: Im Yoona and Lee Donghae

Other Cast: Choi Sooyoung, Cho Kyuhyun, Lee Chorong, Kim Suho, etc

Genree: Romance, Hurt, Comedy (maybe), Friendship

Author Note: Annyeong… Author Fi_ss back… Makasi buat reader-nim yang masih setia nunggu (mungkin) dan baca FF gaje ini. Pada tahap ini mulai muncul konflik dari orang-orang dalam dan luar pasangan YH. Mudah-mudahan feelnya dapat ya… Happy reading..

Synopsis : Seorang wanita yang berjiwa pahlawan selalu mempersulit hidup seorang pria kaya. Bukan mempersulit secara negatif sebenarnya. Hanya saja si pria kaya selalu tidak bisa mengontrol detak jantungnya didepan wanita itu yang memang sebelumnya sudah sakit semakin bertambah sakit. Dimulai dengan pertemuan yang cukup unik, kemudian dilanjutkan dengan tindakan si wanita yang diluar dugaan, juga teriakan yang mereka lontarkan satu sama lain. Dan tak lupa cerita masa lalu mereka.

*****

My Lovely Doctor Chapter 4mi

Dimalam memasuki musim semi, memang cukup membuat penduduk korea harus membawa jaket tebal untuk menghangatkan diri bahkan membuat beberapa orang lebih memilih menghangatkan diri didalam rumah saja. Namun berbeda dengan pasangan ini.

Sebuah restoran ditepi pantai dengan konsep outdoor, dengan tatanan meja dan kursi yang disusun rapi dan juga bunga-bunga serta cahaya lampu yang menerangi tepi pantai itu, menjadi pilihan pasangan itu. Lebih tepatnya pilihan namja itu, sedangkan sang yeoja masih menggerutu, merutuki kebodohan Donghae yang tidak tahu memilih tempat yang tepat untuk dinner mereka.

“Sepertinya dia tidak pernah dinner dengan seorang yeoja sebelumnya”, cibir Yoona atas pilihan Donghae yang membuatnya harus merasakan dinginnya malam ini hingga menusuk ketulang-tulangnya. Kemeja putih bergaris hitam dan juga rok sebatas lutut benar-benar tidak bisa menghangatkan dirinya. Sedangkan namja yang masih berbicara dengan seorang pelayan untuk memesan makanan, terlihat nyaman dengan jas yang membungkus dirinya.

Ckck, benar-benar namja yang tidak berperasaan, batin Yoona, menatap tajam namja itu

“matamu bisa keluar bila terus menatapku seperti itu Nona Im”, seru Donghae santai.

“ckck, Lee Donghae apa kau tidak berpikir terlebih dahulu sebelum memilih tempat ini? Ini terlalu berlebihan. Kita hanya makan malam. Ahhh, atau kau memang berpikir kita sedang berkencan?”, gerutu Yoona.

“Well, may be”,  balas Donghae dengan santai tanpa beban. Dia sedang dalam kondisi amat sangat bahagia malam ini entah karena apa. Mungkin karena yeoja yang duduk didepannya yang masih menggerutu tidak jelas.

“A-apa?”, Yoona tidak menyangka Donghae akan mengatakan kalimat itu, benar-benar diluar dugaannya.

“Restoran ini tempat favorite ku. Tempat ini sangat indah, diiringin alunan melodi yang tenang, dan juga suara ombak yang saling bersahutan. Tidakkah menurutmu ini sangat bagus? Kau pasti menikmatinya”, jelas Donghae.

Menikmati katanya? Hahh, yang benar saja. Dia tidak tahu aku sudah sangat kedinginan? Ck, batin Yoona. Walaupun sebenarnya apa yang dikatakan namja itu benar, tempat ini sangat indah. Tapi sangat disayangkan tidak dalam musim yang tepat untuk berkunjung ketempat ini.

“kau sering datang kesini?”

“Ya, bila aku ingin menghilangkan penat dari segala pekerjaanku dan bila aku ingin sendiri, aku akan datang kesini”, Yoona melihat sekelilingnya. Memenag tidak ramai, dan cocok untuk menenangkan pikiran. Yoona hanya mengangguk-angguk saja.

“permisi, ini pesanan Anda”, ucap seorang pelayan. Menyajikan pesanan Donghae dan menatanya dengan rapi diatas meja mereka.

“terima kasih”, seru Yoona, pelayan itu membungkuk dan segera pergi.

“selamat makan”, ujar Yoona sangat bersemangat melihat berbagi makanan tersaji didepannya, sangat menggugah selera. Donghae tersenyum lebar melihat tingkah gadis yang dari tadi selalu menggerutu, dan sekarang lihat bahkan dia sepertinya melupakan gerutuannya tadi.

Menu-menu yang disajikan di restoran itu memang bukan menu-menu makanan seperti restoran bintang lima, menunya sangat sederhana. Namun rasanya jangan diremehkan. Terbukti semua menu yang dipesan Donghae tadi habis semua, sebenarnya Yoona yang lebih banyak memakannya. Satu hal yang Donghae tahu malam ini bahwa Yoona seorang yang gila makan, seperti sepupunya Sooyoung. Pantas saja mereka menjadi sahabat, mereka memiliki kemiripan.

“Wahh, aku sangat kenyang. Kita harus kesini lagi lain waktu Hae”, ujar Yoona yang sudah mulai menikmatinya suasana direstoran outdoor itu. Donghae mengangguk setuju. Lantunan lagu dari IL DIVO yang berasal dari speaker restoran itu menambah ketenangan ditepi pantai itu.

I used to think that I was strong

I realise now I was wrong

‘Cause every time I see your face

My mind becomes an empty space

And with you lying next to me

Feels like I can hardly breathe

Tiba-tiba Donghae berdiri, melangkah kesamping Yoona sambil mengulurkan telapak tangan kanannya. Yoona mendongak, mengerutkan kening, tidak mengerti dengan perlakuan Donghae. Donghae mengarahkan dagunya seolah-olah menunjukkan sesuatu dibelakang Yoona. Yoona segera berbalik, terlihat sepasang manusia sedang menari, saling tersenyum, sangat bahagia.

“Ohh, astaga, kau ingin berdansa?”, tanya Yoona dan Donghae hanya mengangguk.

“ta-tapi a-aku tidak bisa ber-berdansa”, aku Yoona gugup. Debaran jantungnya sudah sangat kencang, tak terkontrol. Dia tidak menyangkan akan merasakan hal seperti ini. Gugup hanya karena diajak berdansa.

“aku juga tidak bisa. Lagi pula ini bukan panggung audisi dansa. Cukup nikmati musiknya saja Yoona”, Donghae masih dalam posisinya mengulurkan tangannya. Akhirnya Yoona menyambut uluran tangan Donghae untuk berdiri walaupun dirinya sendiri tidak yakin dengan tindakannya itu.

Ahh, Yoona kau sangat bodoh. Jangan seperti ini. Tenanglah, batin Yoona mencoba menenangkan diri. Tiba-tiba Yoona merasakan hangat menjalari bahunya. Donghae menghampirkan jasnya dibahu Yoona.

“kau pasti sangat kedinginan, aku tidak mau kau sampai terserang flu”, ucap Donghae dengan senyum dan mata yang terkena cahanya lampu, terlihat indah, seolah-olah menghipnotis Yoona.

Donghae mengarahkan kedua tangan Yoona pada bahunya dan tangannya sendiri melingkar dipinggang Yoona.

Dengan berlahan Donghae melangkah kekiri lalu kekanan berulang-ulang, mengikuti irama musik. Yoona mengikuti gerakan namja itu dengan kaku, namun seiring berjalannya waktu mulai terbiasa dan terlihat rileks.

I close my eyes

The moment I surrender to you

Let love be blind

Innocent and tenderly true

So lead me through tonight

But please turn out the light

‘Cause I’m lost every time I look at you

“kau tahu judul lagu ini?”, tanya Donghae memecah keheningan mereka.

“Il Divo – Every Time I Look At You”, balas Yoona. Walaupun ini bukan genre musik yang dia sukai, tapi pria-pria tampan yang bergabung dalam Il Divo itu sangat terkenal dikalangan para wanita semasa dia kuliah dulu.

Donghae tersenyum semakin lebar dan ada maksud lain dari senyum itu, membuat alis Yoona menyatu, bingung.

“tidakkah kau merasa lagu ini terdengar romantis?”, tanya Donghae lagi. Yoona mengangguk setuju. Donghae tersenyum semakin lebar.

“kau benar tapi aku lebih suka lagu pop,beat dari pada lagu sendu seperti ini”, jelas Yoona.

“ya, sudah ku duga. Sesuai dengan sifatmu. Periang”, jawab Donghae. Setelahnya terjadi keheningan diantara mereka. Mereka hanya menikmati alunan musik dengan hikmat.

Donghae melirik Yoona sekilas lalu menghembuskan napas secara berlahan. Donghae harus melakukan sesuatu sekarang.

“mmm, Yoona”, panggil Donghae. Yoona mendongak untuk memandang wajah Donghae. Donghae manatap tepat di manik mata Yoona. Ada apa ini? Kenapa dia terlihat tegang?dan kenapa jantungku pun berdetak sangat kencang?, batin Yoona.

“a-apa?”, tanya Yoona gugup.

“mmm, aku ingin mengatakan sesuatu. Tapi aku mohon jangan memotong ucapanku. Dengarkan saja. kau mengerti?”, Donghae harus dapat mencegah Yoona untuk menghancurkan semua rencananya. Yoona mengangguk, mengerti. Sebenarnya yeoja itu tidak mengerti apa yang Donghae katakan. Otaknya terasa kosong sekarang.

“baiklah”, Donghae menghembuskan napas berat. Jantungnya terasa sakit sekarang, tapi tampaknya namja itu tidak ingin menghancurkan rencananya karena rasa sakit itu.

“mmm, aku sebenarnya tidak tahu harus dari mana memulainya terlebih dahulu. Aku tidak tahu dari mana mulanya aku merasakan semua ini. Aku merasa tidak asing dengan mu. Tapi aku sudah berusaha untuk mengingatnya. Tapi aku masih belum mengingat apapun. Aku merasa berada di dekatmu, aku akan aman. Aku tidak akan merasakan sakit ini. Jika ada kau aku sanggup untuk melawan penyakit ini. Aku rasa aku menyukaimu”, Donghae berhenti sejenak, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Sedangkan Yoona hanya diam, mematung.

“aku tahu ini terasa tidak masuk akal. Kita baru bertemu tidak lebih dari sebulan. Awalnya pun aku berpikir seperti itu. Tapi sungguh aku tidak bisa mencegah perasaan ini. Apalagi selama dua minggu kau selalu muncul dihadapanku. Aku menyukaimu Im Yoona”, akhirnya Donghae dapat mengutarakan semua perasaannya.

“Do-Donghae..”, Yoona terbata. Yoona tidak tahu harus mengatakan apa. Ada perasaan senang yang meluap-luap dalam dirinya tapi secara persamaan muncul rasa sakit sekaligus. Yoona selalu ingin bersama dengan Donghae. Bahkan namja itulah yang memotivasinya sampai bisa sesukses ini. Tapi Yoona tidak bisa.

“Donghae.. maafkan aku”, ucap Yoona lirih. Bahkan matanya kini sudah berkaca-kaca. Donghae merasakan sakit yang luar biasa, Yoona tahu itu. Karena Yoona pun merasakan hal yang sama ketika harus mengatakannya.

“Yo-Yoona, kau tidak harus menjawabnya sekarang. Aku akan menunggu jawabanmu sampai kapan pun”, ucap Donghae masih berharap Yoona tidak akan menolaknya. Tapi sayangnya Yoona menggeleng tidak setuju.

“apa karena aku sakit-sakitan? Aku akan  sembuh Yoona. Sesuai dengan syarat pertama yang kau ajukan. Aku akan sembuh. Aku janji. Yang terpenting kau bersama ku, tidak dengan yang lain”, Donghae berusaha membujuk Yoona.

“tidak Donghae. Ini bukan karena penyakitmu. Aku akan menyembuhkan mu bahkan sampai titik darah penghabisan akan kulakukan. Aku janji itu. Tapi … untuk selalu bersamamu, aku tidak bisa”, Jelas Yoona. Mendengar itu secara berlahan tangan Donghae yang awalnya melingkar dipinggang Yoona, terlepas. Bahkan gerakan tubuh mereka pun terhenti.

“Yo-Yoona.. tidak bisakah..”,

“tidak Donghae. Bahkan jika kau menungguku hingga puluhan tahun, jawabku akan tetap sama. Aku tidak bisa. Maaf Hae..”, Yoona langsung memotong ucapan Donghae. Yoona mundur selangkah, mengamati Donghae yang menunduk. Beberapa detik berlalu dan Donghae tetap diam berdiri. Yoona merasa khawatir, diulurkannya tangannya untuk menyentuh lengan Donghae tapi namja itu dengan cepat menjauh.

“sudahlah. Tidak apa-apa. Aku… aku akan baik-baik saja”, Donghae berusaha menahan rasa sakitnya ditambah sakit dijantungnya pun semakin menjadi. Yoona ingin mengatakan sesuatu tapi tiba-tiba handphonenya yang ada diatas meja berdering.

Yoona mengamati layar handphonenya. Tertera nama Choi simon disana. Donghae dapat melihat layar handphone itu juga karena jaraknya yang hanya selangkah dari  Yoona,. Yoona terdiam melihat handphonenya itu berkedip-kedip, pertanda panggilan masuk.

“angkatlah”, ucap Donghae singkat lalu berlahan duduk kembali dimeja yang sudah dipesannya tadi.

“tunggu sebentar”, ucap Yoona. Dengan berat hati yeoja itu menjauh dari Donghae untuk mengangkat telepon dari orang yang sangat tidak diharapkannya muncul disaat-saat seperti ini.

“yeoboseyo~”, jawab Yoona.

“ohhh, kau sedang bekerja sayang?aku baru pulang dari Jepang”, balas orang diseberang sana.

“Ne, aku sedang bekerja oppa”, jawab Yoona seadanya. Pikiran Yoona sedang tidak bisa memikirkan hal lain. Hanya Donghae yang ada dalam pikirannya.

“ohh, maaf aku mengganggumu. Tapi kau tidak bisa meluangkan waktu hanya beberapa menit untuk ku? Aku sudah ada didepan rumah sakit. Kau tidak merindukan tunanganmu yang tampan ini?”, goda namja si penelepon itu.

“a-apa? Oppa sudah didepan rumah sakit?”, tanya Yoona meyakinkan.

“Ne, aku sangat merindukanmu”

“se-sebenarnya aku sedang ada pekerjaan diluar oppa”, jawab Yoona berbohong. Apakah berkencan dengan pasiennya termasuk pekerjaan? Benar-benar kebohongan yang tidak masuk akal. Tapi mau bagaimana lagi. Tidak mungkin Yoona mengatakan yang sejujurnya kepada tunangannya itu.

“sungguh kita tidak bisa bertemu?”

Yoona kebingungan. Sebenarnya dia tidak ingin bertemu dengan namja itu. Tapi sepertinya namja itu secara tidak langsung memaksanya.

“ba-baiklah. kita akan bertemu. Oppa tunggu saja di café dekat rumah sakit. Aku akan kesana”, akhirnya Yoona memutuskan menyerah. Lagi pula dia harus mengatakan sesuatu dengan namja itu. Sesuatu yang sangat besar dan sangat penting karena menyangkut hidup dan matinya.

“baiklah. sampai ketemu sayang”, balas namja itu namum tidak ditanggapi Yoona karena yeoja itu langsung memutus sambungan teleponnya. Yoona mendesah berat. Dia harus melakukannya. Aku harus melakukannya, yakin Yoona dalam hati.

Yoona melangkah kembali ke meja dimana Donghae sedang menunggunya.

“Hae…”, panggil Yoona ragu. Tiba-tiba kejadian beberapa menit yang lalu terlintas kembali dalam ingatannya. Dia melukai perasaan namja yang sangat berarti dalam hidupnya.

Mendengar panggilan itu, Donghae yang semula melamun memandang kearah pantai, mendongak melihat Yoona yang sudah kembali. Seulas senyum tipis terukir diwajahnya. Sangat tipis, seolah-olah senyum itu sebenarnya tidak ingin ditunjukkan.

“ohh kau sudah kembali. Duduklah”, ucap Donghae lembut. Melihat tingkah Donghae yang terlihat santai, semakin membuat hati Yoona terasa sakit. Donghae sedang berusaha untuk tidak memperlihatkan kesedihannya itu.

“mmm, maafkan aku. Sepertinya aku harus pergi sekarang. Ada seseorang yang harus kutemui Hae. Maaf..”, ucap Yoona tidak enak hati. Lagi-lagi Donghae membalasnya dengan senyum tipis.

“baiklah. Tidak apa-apa. Apa perlu aku mengantarkanmu?”, balas Donghae. Dengan cepat Yoona menggeleng. Tidak. Yoona tidak ingin Donghae sampai harus bertemu dengan tunangannya. Tidak. Tidak untuk sekarang ini.

“ohh, tidak perlu. Aku akan naik taksi saja”

“baiklah kalau begitu”

“tapi kau masih ingin disini?’, tanya Yoona. Donghae mengangguk.

“ya, sebentar lagi aku akan pulang”, jawab Donghae.

“tapi jangan lama-lama. Aku tidak ingin kau kelelahan dan berakibat buruk pada jantungmu”, nasehat Yoona. Bahkan sekarang pun sudah sangat sakit Yoona. Kenapa kau tidak bisa mengetahuinya?, batin Donghae.

“baik Dokter”, balas Donghae sedikit bergurau.

“aku mungkin akan pulang malam. Jadi aku akan menginap dirumah orangtua ku. Kau tidak perlu menungguku”, Donghae mengangguk.

“baiklah aku pergi”, Yoona meraih tasnya lalu mulai melangkah menjauh. Donghae ikut berdiri dari duduknya untuk menghantarkan kepergian Yoona. Yoona memandang punggung Yoona yang melangkah menjauhinya. Namun tiba-tiba yeoja itu berhenti dan kembali mendekati Donghae.

Yoona melepas jas Donghae yang membungkus tubuhnya.

“aku hampir melupakan ini. Terima kasih”, ucap Yoona sambil membungkuskan jas itu pada bahu Donghae. Jarak mereka sangat dekat. Bahkan Donghae dapat merasakan hembusan napas Yoona di sekitar lehernya. Mata Donghae tiba-tiba membulat. Namja itu merasakan merasaan yang tidak bisa dia mengerti. Yoona memeluknya. Memeluknya sangat erat dalam beberapa detik.

Entah apa yang sedang Yoona pikirkan sekarang. Tiba-tiba saja tangannya bergerak melingkari punggung Donghae. Maafkan aku oppa, ucap Yoona dalam hati.

“maaf”, hanya itu kata-kata terakhir yang Donghae dengar dari Yoona dan setelahnya yeoja itu sudah melangkahkan kakinya kembali, menjauh darinya.

Donghae memandang punggung itu semakin menjauh hingga tidak terlihat lagi. Donghae masih dalam posisi berdiri, kemudian mengedarkan pandangannya kesegala arah.

“Tempat ini adalah tempat favoriteku tapi sekarang rasanya aku begitu sesak dan tidak nyaman disini”, gumam Donghae lirih. Dengan berlahan Donghae melangkah keluar dari restoran itu. Tapi bukannya menuju parkiran, Donghae malah berjalan menuju tepi pantai.

Sesampainya di tepi pantai, Donghae melepas jasnya, meletakkannya diatas pasir pantai kemudian menjadikannya alas duduk. Donghae mengamati tepi pantai yang sepi. Hanya ada dirinya seorang disana. Donghae mengeluarkan handphone dari sakunya. Menekan beberapa tombol hingga terdengan alunan musik dari speaker handphone itu. Donghae meletakkan benda itu disampingnya.

Donghae menikmati hembusan angin dan juga suara deburan ombak ditemani alunan musik. Namun sayangnya kenikmatan itu hanya berlalu beberapa menit. Mata namja itu sudah berkaca-kaca. Donghae memeluk kedua kakinya erat. Lalu terdengar erangan kesakitan dari namja itu. erangan disertai tangisan pilu yang menyayat hati.

“sakit”, lirihnya.

“ini sangat sakit Im Yoona”, tambahnya lagi sambil meremas dada kirinya. Sakit pada jantungnya dan sakit yang diakibatkan yeoja yang menolaknya tadi, bercampur menjadi satu. Dan Donghae tidak sangggup untuk memendamnya lagi.

 

*******

 

Yoona turun dari taksi yang membawanya menuju café tempat iya berjanjji dengan tunangannya. Yoona menghembuskan napas berat kemudian berlahan mendorong dorong pintu café itu. Yoona mengedarkan pandangannya kesekeling mencari tunangannya itu.

“Yoona”, panggil seorang namja yang sudah sangat Yoona hapal suaranya. Ketika Yoona menemukan dari mana arah suara itu, bukannya melangkah mendekati orang yang memanggilnya, Yoona malah terdiam kaku ditempat. Namja itu, namja yang mengaku tunangannya itu sedang duduk disebuah meja yang cukup besar dan ditemani empat orang lainnya dan Yoona pun mengenal mereka.

Karena tidak ada reaksi dari Yoona, salah satu dari mereka menghampiri yeoja itu. Seorang wanita paruh baya mendekatinya, menyadarkan Yoona dari diamnya.

“Yoong, kau kenapa?”, tanya wanita itu.

“om-omma, ada apa ini?”, bukannya menjawab pertanyaan ibunya, Yoona malah balik bertanya.

“omma juga belum tahu sayang. Tiba-tiba Siwon menelepon kami, dan menyuruh berkumpul disini. Katanya ada yang ingin disampaikannya”, jawab Ny Im.

“apa?”

“omma juga belum tahu. makanya ayo kita duduk dulu. Kita dengar apa yang akan disampaikan siwon”

“tapi aku merasa ini bukan topik yang menyenangkan”

“tenanglah dulu. Tidak akan terjadi apa-apa”, Ny Im mencoba menenangkan gejolak perasaan putrinya yang kacau. Dengan berlahan Ny Im membawa Yoona mendekati meja itu.

“ohh Yoona sayang, akhirnya kau datang”, sapa Ny Choi terlebih dahulu.

“annyeonghaseyo~”, sapa Yoona kepada semua orang yang ada disana. Semua orang yang ada disana tersenyum senang.

“duduklah sayang”, ujar Tuan Im. Yoona pun duduk disamping Ny Im. Mencoba menenangkan hatinya. Hening beberapa detik hingga Ny Choi memecah keheningan itu.

“nah karena Yoona sudah datang, jadi mari kita mula. Dan sebaiknya Siwon yang berbicara terlebih dahulu”, saran Ny Choi.

“khmmm, terima kasih karena kalian semua sudah mau datang dan maaf karena mengadakan pertemuan dadakan seperti ini, terkhusus buat Ajusshi Im dan Ajumma Im”

“tidak apa-apa nak”, balas Tuan Im.

“terima kasih. Sebenarnya, aku ingin mengatakan sesuatu. Hal ini sebelumnya sudah ku bicarakan dengan omma dan appa dan mereka sejutu. Maka dari itu aku juga perlu mengatakan ini kepada pihak wanita”, hening sejenak. Yoona hanya memperhatikan Siwon yang berbicara dengan lugas didepan kedua orang tuanya.

“aku memenangkan proyek besar di Jepang. Dan karena itu juga aku harus menetap disana dalam kurun waktu yang cukup lama. Oleh karena itu, dikarenakan tanggal pernikahan akan dilakukan sebulan lagi, menurutku ada baiknya tanggal pernikahannya dipercepat saja. karena aku takut karena pekerjaan ini ada kemungkinan akan menghambat proses dari persiapan pernikahan. Bagaimana menurut ajusshi dan ajumma serta kau Yoona?”, tanya Siwon setelah mengatakan semua rencananya.

Hening tidak ada pembicaraan. Ny Im dan Tuan Im saling memandang beberapa saat. Lalu kemudian menatap Siwon.

“mmm, sebenarnya aku senang, jika memang seperti itu rencanamu nak. Tapi diatas itu semua, kami hanya bisa menyerahkan pada orang yang lebih bersangkutan. Jadi biar Yoona yang putuskan”, jawab Tuan Im bijak.

Hening kembali, tidak ada yang memulai berbicara. Mereka memusatkan pandangan mereka pada seorang yang sedari tadi hanya menunduk, terdiam kaku. Melihat sikap diam Yoona, Ny Im berinisiatif menyadarkan putrinya itu. Dengan lembut digenggamnya tangan Yoona, mengelus punggung tangan Yoona. Ny Im tahu, putrinya itu tidak nyaman dengan keadaan sekarang ini. Tapi bagaimanapun mereka harus tetap menjaga sopan santun terhadap calon keluarga putrinya.

Akibat genggaman itu, Yoona akhirnya tersadar. Yoona memandang wajah ibunya yang tersenyum terlihat bahagia. Namun elusan tangan ibunya itu pada punggung tangannya menandakan ibunya itu khawatir dengan keadaannya.

“Siwon bertanya, apa kau setuju dengan mempercepat tanggal pernikahan?”, tanya Ny Im lembut. Tubuh Yoona langsung bergetar. Yoona tidak tahu harus melakukan apa. Sejak awal Yoona tidak pernah setuju, termasuk perjodohan ini. Jadi bagaimana ceritanya untuk setuju dengan mempercepat tanggal pernikahan. Yoona tidak mencintai Siwon. Siwon hanyalah seorang namja yang sudah dianggap seperti kakaknya. Tidak mungkin baginya untuk mencintai namja itu. Yoona ingin menikah, tapi tidak dengan namja itu. Tapi bagaimana caranya menolak, jika ayahnya sendiri lebih mendukung calon menantunya itu.

“Yoona? Bagaimana sayang?”, kali ini suara Ny Choi yang mendesaknya. Yoona mengedarkan pandangannya pada seluruh orang yang ada disana. Berharap salah satu dari mereka ada yang mengerti perasaannya. Yoona memandang wajah wanita paruh baya yang duduk disampingnya. Yoona dapat merasakan remasan yang cukup kuat pada jari-jarinya yang digenggam wanita. Terima kasih omma. Beberapa detik tatapan Yoona dan Ny Im bertemu, hingga Ny Im mengangguk. Walau tidak ungkapkan dengan kata-kata, tapi Yoona mengerti maksud anggukan ibunya itu.

“aku… aku sangat terkerjut dengan rencana ini dan aku pun belum siap”, ucap Yoona hati-hati. Yeoja itu menghirup oksigen sejenak. Tiba-tiba sistem pernapasannya tidak berfungsi dengan baik. Seluruh orang yang ada disanapun terlihat tegang, termasuk siwon. Wajahnya terlihat kaku dan dingin. Rahangnya mengetat.

‘Maafkan aku oppa, aku tidak bisa menepati janjiku’, batin Yoona. Sekali lagi Yoona meyakinkan dirinya dengan keputusan yang akan diambilnya. Yoona meremas kuat tangan Ny Im, berharap dapat memberinya kekuatan.

“tapi.. jika memang semuanya setuju, aku akan setuju juga. Aku akan berusaha”, ucap Yoona dalam satu tarikan napas.

“benarkah?”, seru Siwon terlihat sangat bahagia. Yoona mengangguk. Setelahnya terdengar kebahagian dari seluruh orang yang ada dimeja itu. Yoona menunduk, ingin rasanya dia menangis sekarang ini. Dadanya terasa sangat sesak. Ia ingin teriak sekeras-kerasnya, tapi tidak bisa. Dia tidak bisa melakukan apapun sekarang ini.

“aku permisi ketoilet sebentar”, ucap Yoona dengan nada suara yang sebisa mungkin terdengar normal. Yang lain hanya mengangguk. Yoona melangkah dengan cepat menuju toilet.

Didalam toilet, Yoona berdiri didepan washtafel dan berhadapan dengan cermin besar. Yoona menyalakan kran air, lalu membasuh wajahnya. Yoona memandang dirinya sendiri yang terpantul dari cermin. Matanya langsung berkaca-kaca dan tubuhnya bergetar. Selanjutnya yang terdengar adalah isakan tangisnya.

“oppa hiks …maafkan aku. Aku telah menyakitimu oppa. Maafkan aku hiks hiks hiks…”, guman Yoona yang terdengar disela-sela isakannya. Tubuh Yoona terjatuh dilantai dengan tubuh bergetar. Semua sudah berakhir. Tujuan hidupnya sudah gagal. Semua perjuangannya selama ini sudah berakhir. Hidupnya sudah berakhir.

 

>>>>>>>

“OPPA… BUKA PINTUNYA. OPPA KENAPA? OPPA”, Chorong terus mengetuk pintu kamar Donghae dengan keras. Beberapa menit yang lalu Chorong yang sedang asyik bersantai diruang TV sambil menonton, tiba-tiba dikejutkan dengan gebrakan pintu yang terbuka dengan keras. Lalu memunculkan wajah Donghae yang sangat kacau. Donghae mabuk. Chorong dapat mencium bau alkohol dari seluruh tubuh Donghae. Ketika Chorong berniat ingin membantu Donghae yang berjalan, Donghae menolak dan meminta membiarkan dirinya sendiri sekarang ini.

Dan sekarang Donghae sedang mengurung dirinya didalam kamar sudah berjam-jam. Kekhawatiran Chorong pun muncul. Kakaknya itu tidak begitu suka berlama-lama didalam kamar. Dia lebih suka bersantai di ruang TV sambil mengerjakan beberapa pekerjaan kantornya. Chorong yakin pasti sudah terjadi sesuatu. Yeoja berlari menuju meja ruang TV, meraih handphonenya untuk menghubungi seseorang.

“Kyu oppa. Cepat datang kesini. Hae oppa sudah berjam-jam tidak keluar kamar. Cepat oppa”, ucap Chorong dengan cepat lalu langsung menutup sambungan telepon itu tanpa menunggu Kyuhyun diseberang sana memberi jawaban.

 

Tiga puluh menit kemudian, Kyuhyun sudah tiba di apartemen Donghae. Masih dengan napas yang tidak teratur Kyuhyun menekan bell. Pintu terbuka memunculkan wajah seorang yeoja muda yang sudah seperti adiknya sendiri. Gadis itu menangis.

“oppa~”, ucapnya sendu. Kyuhyun dengan cepat memeluk Chorong.

“oppa, Donghae oppa..”, Chorong berguman terus. Kyuhyun menenangkan gadis itu sambil mengusap-ucap punggungnya.

“katakan dengan berlahan Chorong-ah. Apa yang terjadi?”, tanya Kyuhyun.

“itu… Donghae oppa tiba-tiba pulang dalam keadaan mabuk dan kacau. Lalu mengurung diri dikamar hingga beberapa jam. Oppa kan tahu, Hae oppa tidak suka berlama-lama didalam kamar. Pasti terjadi sesuatu oppa”, jawab Chorong masih dengan tangisnya.

“kenapa dia minum? Dokter mangatakan dia tidak boleh minum alkohol. Ada apa ini?”, ucap Kyuhyun.

Prang…

Tiba-tiba terdengar suara pecahan kaca dari dalam kamar Donghae. Dengan cepat Kyuhyun dangan Chorong berlari kedepan kamar Donghae.

“Donghae… Lee Donghae. Buka pintunya”, teriak Kyuhyun. Tapi tidak ada tanggapan.

“oppa… buka pintunya”, seru Chorong juga sambil mengetuk pintu itu dengan keras.

“Kyu oppa,,, bagaimana ini?”, panic Chorong.

“tidak ada jalan lain”, ucap Kyuhyun dan langsung memdobrak paksa pintu itu. Beberapa kali Kyuhyun melayangkan tendangan ke pintu itu tapi masih belum terbuka. Kyuhyun berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam lalu dengan kekuatan penuh Kyuhyun melayangkan tendangan yang lebih keras lagi. Dan akhirnya terbuka. Terlihat Donghae yang terkapar dilantai dengan beberapa pecahan gelas kaca yang berserakan disekitaran tangannya. Sepertinya Donghae terjatuh ketika ingin meraih gelas itu.

“OPPA…”, teriak Chorong, berlari menghampiri Donghae.

“Hyung… Donghae Hyung…”, teriak Kyuhyun sambil mengguncang tubuh Donghae. Tapi tidak ada reaksi. Donghae tetap diam.

“Chorong-ah, tolong bantu oppa”, ucap Kyuhyun. Mereka harus segera membawa Donghae ke rumah sakit. Kyuhyun menggendong Donghae dengan bantuan Chorong di belakangnya.

Setelah sampai dilobby, security yang melihat Kyuhyun sedang kesulitan segera datang membantu. Kyuhyun menyerahkan Donghae pada security itu sebentar. Kyuhyun berlari menuju parkiran mobil. Seharusnya dia menelepon ambulance tapi tidak ada waktu. Dengan mobilnya, mereka bisa lebih cepat sampai dirumah sakit. Begitulah pemikiran Kyuhyun.

Kyuhyun terlebih dahulu menghubungi pihak rumah sakit Healthy Hospital untuk bersiap-siap disana. Lalu Kyuhyun membawa mobilnya menuju lobby apartemen, lalu security itu membantu Chorong memasukkan Donghae kedalam kursi penumpang. Setelah Chorong juga masuk, dengan cepat Kyuhyun melajukan mobilnya menuju rumah sakit.

Hanya butuh waktu lima belas menit bagi Kyuhyun untuk tiba dirumah sakit. Beberapa Dokter dan suster sudah menuggu didepan lobby rumah sakit. Mereka langsung membawa Donghae menuju ruang ICU.

“anda tidak boleh masuk nona”, larang seorang suster pada Chorong yang berniat ingin ikut masuk melihat kondisi Donghae.

“tidak…, aku harus melihat oppa ku”, tolak Chorong sambil mendorong suster itu.

“nona tolong. Anda memperlambat kerja kami”, peringat suster itu tegas. Kyuhyun yang melihat itu, dengan cepat menarik Chorong.

“Chorong-ah, tenanglah. Donghae akan baik-baik saja”, ujar Kyuhyun. Lalu pintu ruang ICU itu pun tertutup.

“oppa bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Hae oppa?”

“tidak. Tidak akan terjadi apa-apa”, jawab Kyuhyun dengan tegas. Walaupun sebenarnya dirinya juga sangat ketakutan sekarang.

Beberapa menit sudah berlalu, tapi belum ada kabar bagaimana keadaan Donghae. Kyuhyun dan Chorong masih menunggu dengan cemas didepan ruangan itu. Tiba-tiba langkah kaki yang cepat mendekati mereka.

“Dokter Im”, seru Kyuhyun ketika melihat Yoona sudah tiba. Yoona datang setelah menerima telepon dari rumah sakit. Ketika menerima telepon itu, Yoona masih bersama dengan keluarganya dan keluarga Siwon untuk membicarakan pernikahan yang dipercepat. Tapi ketika mendapat telepon itu, Yoona segera pamit pergi walaupun Siwon dan keluarganya sudah melarangnya. Bagi Yoona tidak yang lebih penting dari pada kesehatan Donghae. TIDAK ADA.

“apa yang terjadi?”, tanya Yoona.

“Donghae tadi mabuk?”, jawab Kyuhyun.

“APA? Bagaimana bisa dia mabuk? Aku sudah bilang dia harus selalu dalam pengawasan”, omel Yoona.

“dengar dulu. Tadi dia mengatakan akan pergi makan malam dengan seseorang. Ketika ku tanya siapa, dia tidak memberitahu. Dan dia mengatakan dia bersama orang yang bisa menjaganya. Itu yang dikatakannya. Jadi aku percaya saja”, bela Kyuhyun. Sedangkan Yoona terdiam kaku. Sadar orang yang sedang Kyuhyun bicarakan adalah dirinya. Dialah yang bersama Donghae. Dialah orang yang Donghae katakan dapat menjaganya. Tapi nyatanya dirinyalah yang membuat Donghae sampai masuk rumah sakit lagi.

“Dokter Im”, panggil Kim Suho yang keluar dari ruang ICU. Suho sebenarnya tidak biasa memanggil Yoona secara formal seperti itu. Tapi dia harus profesional dalam bekerja.

“ohhh, bagaimana keadaannya?”, jawab Yoona.

“tidak apa-apa. Hanya kelelahan dan stress. Juga sedikit luka ditangan”

“syukurlah. Tapi kenapa bisa ada luka ditangan?”, tanya Yoona pada Suho. Suho mengangkat bahunya keatas pertanda tidak tahu. Yoona pun mengalihkan pandangannya pada Kyuhyun. Merasa dirinya ditatap, Kyuhyun menghela napas. Yoona pasti akan mengomelinya lagi. Dasar dokter cerewet.

“sebenarnya aku tidak tahu kejadian sebenarnya. Dia pulang dalam keadaan mabuk lalu mengurung diri dikamar. Karena khawatir,  adiknya, Lee Chorong meneleponku. Ketika aku tiba di apartemennya, tiba-tiba terdengar suara pecahan kaca dari kamarnya. Aku mendobrak pintu kamarnya dan dia sudah tergeletak dilantai dengan pecahan dari gelas kaca”, cerita Kyuhyun.

“sepertinya dia ingin meraih gelas itu, tapi mungkin karena kelelahan dia terjatuh dan gelas itu pun ikut jatuh dan pecah”, tambah Kyuhyun. Yoona mengerutkan keningnya. Ada yang janggal dari cerita Kyuhyun.

“tapi jika memang seperti itu, tidak mungkinkan tangannya sampai terluka?”, seru Yoona.

“benar juga. Dokter ini benar oppa. Tidak mungkin tangan Hae oppa terluka seperti itu jika kejadiannya seperti yang oppa ceritakan”, ujar Chorong tiba-tiba ikut bergabung dalam pembicaraan mereka. Yoona memandang Chorong dengan serius, dia tidak mengenal gadis itu. ‘Apa dia selingkuhan Kyuhyun? Kurang ajar, berani-beraninya dia menghianati sahabatku’, batin Yoona kali ini memandang Kyuhyun tajam. Kyuhyun yang menyadari tatapan tajam Yoona segera membela diri.

“dia Lee Chorong. Adik Donghae”, jelas Kyuhyun. Seketika wajah Yoona terlihat normal kembali. Ada perasan tidak suka yang timbul akibat gadis itu terlalu dekat dengan Kyuhyun dan terlalu mengkhawatirkan Donghae-nya. Apa? Donghae-nya? Sadarlah Im Yoona. Kau tidak pantas untuknya. Kau bahkan sudah menyia-nyiakan cintanya’, sadar Yoona yang lupa sesaat akan perbuatannya sebelumnya.

“sudahlah jangan dipikirkan itu dulu. Yang penting keadaan Tuan Lee sudah membaik. Sebentar lagi Tuan Lee akan dipindahkan keruang rawat”, seru Suho.

Pintu ruang rawat pun terbuka, terlihat beberapa suster mendorong ranjang Donghae yang terbaring tidak sadarkan diri diatasnya.

“oppa”, panggil Chorong. Yeoja itu dan Kyuhyun pun ikut membantu suster itu membawa Donghae keruang rawat. Kini tinggal Suho dan Yoona yang ada disana.

“Suho-ya dia baik-baik saja kan?”, tanya Yoona khawatir. Suho terdiam, bingung akan memberitahukan yang sebenarnya atau tidak. Sebenarnya sebagai dokter, Yoona harus mengetahuinya. Tapi sayangnya yeoja itu juga melibatkan perasaan dalam pekerjaannya. Jadi kemungkinan untuk bisa tetap tenang sangatlah sulit.

“noona”, ucap Suho hati-hati. Sadar dengan ucapan Suho yang terdengar sangat hati-hati, Yoona yakin jawaban atas pertanyaan yang dia ajukan tadi tidaklah jawaban yang baik.

“ka-katakan. Katakan yang sebenarnya Suho”, pinta Yoona terbata.

“sebenarnya keadaanya semakin memburuk. Bahkan dengan rencana yang sudah kita buat, kemungkinan berhasilnya semakin kecil”, jelas Suho. Mendengar itu tubuh Yoona langsung terjatuh dilantai. Tungkai kakinya langsung lemas seperti tidak bertenaga.

“noona. Ku mohon tenang, jangan panik noona”, ujar Suho sambil membantu Yoona kembali berdiri, kemudian menuntunnya ke kursi tunggu yang ada didekat mereka.

“berapa? Berapa persen keberhasilannya?”, tanya Yoona.

“sangat buruk. Hanya 10%”, jawab Suho. Yoona menghela napas berat. Kenapa masalah datang secara bertubi-tubi dalam satu hari ini. Tidak ada yang berjalan dengan baik.

“kita harus segera melakukannya noona, jika tidak Tuan lee akan …”, ucapan Suho berhenti.

“tidak. Itu tidak akan terjadi”, seru Yoona.

“maka dari itu noona kita harus segera bertindak”, ucap Suho. Yoona terdiam. Jika memang harus melakukan operasi itu, mereka butuh waktu dua minggu untuk mempersiapkan kondisi Donghae memang dalam keadaan stabil. Tapi bagaimana Yoona bisa melakukan operasi jika dua minggu lagi dia juga akan sibuk dengan pernikahannya.

“suho-ya, sepertinya aku tidak akan bisa melakukan rencana itu”, ucap Yoona.

“wae? Kenapa noona? Apa noona belum siap? Kita masih ada waktu dua minggu untuk mempersiapkannya sambil menunggu kondisi Tuan Lee benar-benar stabil”, Suho mendesak Yoona untuk menjawab.

“bukan karena itu. tapi karena aku tidak bisa datang untuk melakukan operasi itu”, jujur Yoona.

“wae? Noona kemana? Noona ada tugas keluar? Kita kan bisa membicarakannya kepada kepala depertemen”, ujar Suho.

“dua minggu lagi aku akan menikah Suho-ya”, jawab Yoona.

“APA? Bu-bukanlah seharusnya masih ada tiga bulan lagi?”, tanya Suho kaget. Karena kedekatan Yoona dan Suho semasa kuliah dulu, apa pun yang Yoona alami pasti Yoona akan ceritakan pada Suho. Termasuk bagaimana sebenarnya perasaan Yoona pada tunangannya itu.

“tiba-tiba dia berencana menpercepat tanggal pernikahan karena dia ada penempatan tugas ke Jepang. Dan semua orang setuju dengan rencananya itu tanpa memikirkan bagaimana perasaanku. Aku.. aku tidak ingin menikah dengannya. Tapi aku tidak bisa melihat mereka kecewa dengan keputusanku jika menolak. Jadi aku.. setuju”, cerita Yoona.

“ohh Ya Tuhan. Cobaan apa ini”, ujar Suho. Namja itu mengelus punggung Yoona. Suho kasihan pada sunbaenya itu. Terlalu banyak cobaan untuk yeoja itu.

“aku… aku harus ba-bagaimana Suho-ya”, ujar Yoona dengan suara yang terdengar serak, seperti akan menangis.

“aku-aku tidak ingin menikah dengannya”

TBC

Hohoho, maaf ya baru bisa ngelanjutin sampe sini. Tapi aku janji, aku akan menyelesaikan FF ini. hanya saja gak bisa janji untuk setiap minggunya untuk ngeposting. Tapi walaupun begitu aku masih berharap reader-nim masih setia menunggu dan juga memberi komentar. Karena terkadang aku butuh referensi untuk FF ini. Gomawo sudah membacanya dan sorry kalau masih banyak typo…

Sampai ketemu di chapter selanjutnya dan juga FF Loco…

Bye Bye…. Lego~

Advertisements

19 thoughts on “My Lovely Doctor – Chapter 4

  1. Iedhaaniyagirl ipethaa

    Jgaaaaaaaaaaaaaaaannnnn……
    Jgn smpai yoona eonnie menikah ama siwon oppa buat siwon oppa berhianat pliiiiiiissssssssszzszzs

  2. Rara

    I don’t know, tapi aku tidak suka ada pihak yg tersakiti😭😭😭😭
    Tolong bahagiakan Siwon oppa 😭😭😭😭

  3. KasMha PyrooLiers

    Knpa sprti ini.. Tdk bsakah prnikhan dibatalkan.. Hae oppa smkin tersiksa.. Yoong jg.. Buat apa mnikah jika rk ada knyamanan diantara keduany

    Percuma

  4. Ichus

    Ehh kok gini nasibx abang donghae 😢 yoong tlonglah bersikap tegas. Kamu gk hnya mlukai donghae tp juga qm sndiri,
    kuharap yoong lebih mmilih brsama donghae , sadarlah yoong 😯
    next dtunggu thor, good job fighting 😉😉

  5. tryarista w

    aduchhhh disaat hae ngungkapin perasaannya pd yoona ,,,ech ternyta tunangannya datang dan parahnya dia minta pernikahannya dipercepat,,,???
    kasihan bget hae ,,,,disaat dia menemukan cintanya mlah ditolak dan lbih sakit lagi penyakitnya dah bner2 parah ,dan bnerkah yoona g bsa nolak perjdohan itu,,,,apa dia setega itu pda hae,,,

  6. yygg30

    Yahhh yoona jangan nikah sama siwon dong, kasian donghaenya
    Donghae yg kuat ya
    Ffnya menguras emosi duh

    Ditunggu next chapternya

  7. Semoga hae baik baik saja, yoong hatusnya kau jujur saja kalau kau tdk suka dengan siwon oppa dari pada nyakitin perasaan smua org termasuk dirimu sendiri hikhik gk rela klo hae nya mati please thor buat happy end ya jgn sad end yoonhae harus bersatu please gomawo untuk waktunya nyempetin buat ff ini di tunggu kelanjutannya ya authornim fighting

  8. Sfapyrotechnics

    Andwaeeeeeeeeeee …. aku nangis saat yoong nolak hae dan hae masuk rmh skit lagi dan pnykitnya tmbh parah ditmbh lgi yoong mau nikah.. 😥 😥 yoong sbnarnnya nggk mau ma siwon kan?? Bgaimana critanya mrk d jdhin??

    Next.. palliwaa eonni… Fighting 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s