LOCO – Chapter 1

Loco

Title : Loco– Chapter1

Author : Fi_ss

Cast : Lee Donghae and Im Yoona

Genre : romance, LifeSchool, Fantasi, etc

Note : Annyeong~ Fi_ss Back. Akhirnya setelah menghilang selama beberapa bulan dari dunia per-FF-an, akhirnya aku bisa nulis lagi. Maaf ya lama. Aku lagi sibuk banget. Akibatnya baru FF ini dan My Lovely Doctor yang sempat aku lanjut. Ini juga gak tahu, buatnya benar, feelnya dapat atau gak. Untuk FF baru ini, termasuk kategori fantasi, hanya khayalan aku aja. Tapi mudah-mudahan feelnya dapat ya. Oh iya, mungkin ada yang gak tahu apa arti dari judul FF ini. Loco diambil dari bahasa Spanyol yang artinya gila. Kenapa gila? Nanti ngerti sendiri kok kalau udah ngikutin jalan cerita YH yang unik atau bisa dikatakan gila? Jadi silahkan menikmati ceritanya ya. Sorry kalau typonya masih banyak. Jangan lupa kritik dan sarannya ya reader-nim… Happy reading and Lego~

*******

Banyak orang mengatakan semasa SMA adalah masa yang paling mengesankan. Tapi tak banyak juga berpikiran yang sama seperti itu. Semua tergantung bagaimana kita menjalaninya bukan? Dimasa SMA umumnya penuh dengan tawa, banyak teman, banyak tugas, jam pelajaran tambahan, guru yang cerewet, dan… jangan lupakan soal ASMARA. Bicara soal asmara, seperti apa type kekasih yang kalian inginkan. Apakah pintar, tampan atau cantik, dan juga kaya? Atau bodoh, namun tampan atau cantik dan kaya? Atau pintar, penampilan biasa-biasa saja, dan aneh?

Jika disuruh memilih bukankah pilihan pertama yang akan mendapat voting paling tinggi. Ya begitulah jalan pikiran anak SMA pada umumnya. Tapi apa yang terjadi jika kau terjebak di situasi yang mengharuskanmu selalu berada didekat seseorang yang sudah kau anggap seperti musuh, yang selalu berusaha menyaingimu, merebut perhatian guru-guru, namun selalu memperlihatkan wajah polos bagaikan malaikat kecil yang sangat menggemaskan. Membuatmu seperti orang gila karena harus menghadapinya. Stress. Hanya kata itu yang mampu mengungkapkan bagaimana menghadapi situasi seperti itu.

 

“Yoong, kau sudah lihat pengumuman?”, tanya Sooyoung sambil memakan roti cokelat kesukaannya. Yeoja yang dipanggil Yoong itu menoleh sesaat kepada sahabatnya itu, melemparkan senyum disertai gelengan.

“belum. Nanti saja”, jawab yeoja itu santai. Bukan. Lebih tepatnya dia malas untuk melihat pengumuman yang ada dimading. Karena dirinya yakin namanya pasti ada pada urutan pertama lagi. Tentu saja, siapa yang dapat mengalahkan kepintaran seorang Im Yoona. Yeoja cantik, tinggi, pintar, kaya. Siapa yang tidak terkagum-kagum dengan kesempurnaan yeoja itu.

“mmm, kau yakin tidak ingin melihatnya?”, tanya Taeyeon , sigadis pendek namun memiliki wajah seperti anak kecil. Merasa Taeyeon seperti ingin menyatakan sesuatu dari pertanyaannya itu, Yoona memandang ketiga sahabatnya yang duduk didepannya. Mereka memperhatikan Yoona yang sedang menyusun tugas-tugas yang baru saja dikumpulkan untuk diserahkan kepada Kim songsaengnim.

“ada apa?”, tanya Yoona penasaran. Ketiganya hanya diam, tidak enak hati untuk mengungkapkan hasil pengumuman yang pastinya akan membuat Yoona murka.

“entahlah. Aku tidak yakin harus mengatakannya atau tidak. Lebih baik kau lihat saja sendiri”, jawab Yuri dengan senyum kikuk.

“dan sepertinya kita akan kedatangan siswa baru dari kelas sebelah”, tambah Taeyeon. Yoona mengerutkan kening. Ada perasaan gelisah yang dirasakan yeoja itu sekarang.

“si-siapa?”, tanya Yoona terbata. Pasalnya dia tahu, jika ada siswa yang masuk ke dalam kelas A – kelasnya sekarang – maka siswa itu adalah siswa yang pintar. Tidak sembarangan siswa yang dapat masuk ke kelas A. SMA Kirin memang sekolah menengah atas yang memiliki kelas khusus berkumpulnya siswa-siswa yang memiliki IQ diatas rata-rata. Jadi dapat masuk ke SMA Kirin dan masuk di Kelas A, maka itu adalah hal yang paling luar biasa. Terlebih lagi jika mendapat peringkat teratas di kelas A selama dua tahun berturut-turut yang artinya peringkat pertama untuk seluruh siswa yang seangkatan. Nama Im Yoonalah yang selalu tertulis pertama kali disetiap papan pengumuman untuk peringkat siswa. Tapi mendengar ada siswa pindahan dari kelas sebelah, menandakan jika terjadi sesuatu dengan peringkatnya. Jangan-jangan…

“yak, kau mau kemana?”, teriak Sooyoung ketika Yoona berlari cepat keluar kelas, menghamburkan beberapa kertas yang tadi disusun rapi, kini terjatuh dilantai.

“hahh, padahal kita belum mangatakan siapa orangnya, tapi dia sudah seperti kesetanan seperti itu”, ujar Yuri.

“apalagi jika dia sudah tahu siapa orangnya. Maka dia akan berubah menjadi singa kelaparan yang siap menerkam siapa saja”, tambah Taeyeon.

“dan aku lebih memilih untuk menjauhinya dari pada mati diterkam”, ucap Sooyoung, bergidik ngeri membayangkan kemarahan Yoona. Mereka bertiga pun mengambil alih pekerjaan Yoona, menyusun kertas-kertas yang sudah berserakan itu.

 

Yoona berlari kencang menuju mading yang ada di tengah dari area sekolah. Didepan mading itu dipenuhi oleh siswa-siswa yang ingin melihat peringkat dan penempatan kelasnya. Karena pengumuman kali ini adalah hasil untuk kenaikan kelas ketingkat tiga, jadi ada kemungkinan pergantian kelas. Tergantung bagaimana nilai dari siswa tersebut.

“permisi. Permisi. Aku juga ingin lihat”, ucap Yoona sambil bergerak menerobos kerumunan siswa tersebut. Beberapa siswa namja yang melihat Yoona dibelakang mereka, langsung terkesima dan memberi jalan untuk yeoja cantik itu.

“gomawo”, ucap Yoona disertai senyuman. Yoona memandangi papan itu mencari urutan pertama. Jantungnya tiba-tiba berdebar kencang bahkan telapak tangannya berkeringat dan juga gugup. Ketika pandangannya sudah mendapatkan namanya, Yoona mengalihkan pandangannya ke kanan untuk melihat peringkat. Mata Yoona membesar dan kepalanya menggeleng-geleng tidak percaya dengan apa yang terjadi. Dia ada diurutan kedua. ‘tidak. Tidak mungkin’, batin gadis itu. Tubuhnya gemetar, matanya mencari urutan pertama yang sudah dengan kurang ajarnya mengusik kedudukannya. Mata Yoona kali ini semakin besar. Jika tadi perasaan gugup menghinggapinya, kali ini perasaan marah dan dendamlah yang merasukinya. ‘Lee Donghae sialan’, maki Yoona pada nama siswa yang berada diurutan pertama. Donghae adalah siswa pindahan ketika tingkat dua. Memang ada gosip yang mengatakan jika namja itu cukup pintar. Tapi karena SMA Kirin tidak dapat dengan begitu saja memasukkan Donghae ke kelas A, jadi untuk sementara namja itu dimasukkan ke kelas B. Yoona tidak menyangka jika namja itu memang sangat pintar. Bagi Yoona jika ada siswa yang berani menyainginya maka siswa itu akan menjadi musuhnya seumur hidup.

“WAHHHH…. Lee Donghae. Yak, bagaimana kau bisa melakukannya? Kau memang hebat teman”, teriak seorang namja yang tak jauh dari Yoona. Yoona memandang namja yang berteriak sambil merangkul namja lain yang hanya tersenyum polos. Polos? Tidak bagi Yoona itu bukan senyum polos, tapi itu senyum hinaan baginya.

“ohhh, Im Yoona. Lihat kau ada diurutan kedua. Dimana kepintaran yang selalu kau agung-agungkan itu?”, teriak namja itu ketika melihat Yoona berada didekat mereka. Yoona menatap tajam namja yang bernama Lee Eunhyuk itu. Tapi sayangnya namja itu bukannya takut, malah menyengir kuda bahkan tertawa. Yoona mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ingin rasanya Yoona menghancurkan jejeran gigi namja itu. Yoona memandang namja polos yang ada disamping Eunhyuk. Beberapa saat manik mata mereka bertemu. Yoona dengan tatapan tajam dan tidak suka sedangkan namja itu dengan mata teduhnya. Merasa canggung Donghae malah membungkuk hormat kepada Yoona.

“a-anyeonghaseyo Yoona-ssi”, sapa Donghae ragu. Tidak begitu yakin sebenarnya untuk menyapa Yoona. Dan benar saja yeoja itu sudah pergi begitu saja bahkan menyinggung bahu Donghae keras secara sengaja. Tubuh Donghae sedikit terhuyung kebelakang karena dorongan dari bahu Yoona itu.

“aish, benar-benar gadis yang tidak sopan. Untuk apa pintar tapi tidak memiliki sopan santun”, ucap Eunhyuk tidak terima dengan tindakan Yoona.

“sudahlah Hyuk, dia mungkin marah padaku karena peringkatnya turun”, ucap Donghae.

“itu hukuman karena dia terlalu tinggi hati. Lihatkan sekarang kau yang ada diurutan pertama. Selamat ya…”, ucap Eunhyuk.

“Ne, gomawo”, balas Donghae.

“tapi bagaimana nanti kau menghadapi yeoja itu. Kau kan akan dipindahkan ke kelas A. Kau harus berhati-hati mulai sekarang”, ucap Eunhyuk.

“tidak. Yoona-ssi tidak akan melakukan itu”, sangkal Donghae.

“aish inilah yang selalu membuatku selalu kesal terhadapmu. Kau itu terlalu polos dan lugu. Kau selalu menganggap semua orang itu baik”, kesal Eunhyuk dibalas kekehan dari Donghae.

“sudahlah. Ayo pulang. Aku akan meminta omma memberikan makanan gratis untukmu”, Donghae segera menarik Eunhyuk dari kerumuman siswa itu.

“sungguh. Aku bisa makan gratis dikedai ibumu?”, tanya Eunhyuk senang.

“Iya. Ayo, aku sudah lapar”, balas Donghae. Kedua namja itu berjalan sambil saling merangkul menuju gerbang sekolah. Tidak menyadari seseorang yang menatap tajam mereka dari lantai dua gedung SMA Kirin.

“aku tidak akan memaafkanmu Lee Donghae”, gumam orang itu.

 

>>>>>>>

“omma~ tidak perlu diantar sampai ke dalam sekolah. Sampai sini saja”, ucap Donghae pada wanita paruh baya yang memaksa ingin mengantarkan putra satu-satunya ke sekolah. Kemarin ketika mengetahui putranya mendapat peringkat pertama, dipindahkan ke kelas A, ditambah mendapatkan beasiswa, wanita paruh baya itu merasa sangat bahagia. Rasa lelah seharian mengurusi pelanggan yang datang ke kedainya, langsung menghilang setelah mendengar berita bahagia itu. Bahkan karena bahagianya, wanita itu memberikan semua pelanggan yang sedang makan pada hari itu mendapatkan makanan gratis.

“tidak. Omma ingin masuk sebentar, setidaknya omma harus memberi salam kepada wali kelasmu yang baru dan memberi sedikit makanan ini”, ucap wanita itu.

“omma~”, seru Donghae. Dia harus menghentikan sikap memalukan ibunya itu. Karena banyak siswa yang melihat tingkah ibunya itu dan terlihat berbisik-bisik seperti menghina. Donghae tidak malu jika memang orang-orang mengatakan dirinya miskin dan hanya bermodal beasiswa masuk ke SMA Kirin. Donghae tidak mempermasalahkan itu. Tapi sekarang yang menjadi bahan bisikan mereka adalah ommanya. Donghae tidak suka jika ada orang yang berani menjelek-jelakkan ibunya. Jadi Donghae harus segera menghentikan niat ibunya itu dan segera pulang kerumah.

“sebentar saja Donghae”, pinta wanita itu. Donghae menggeleng.

“tidak omma. Biar aku saja yang memberikannya pada Mrs Kim. Omma pulang saja. Appa pasti mengalami kesulitan mepersiapkan kedai”, ucap Donghae. Wanita itu menghela napas berat. Merasa apa yang Donghae ucapkan benar. Suaminya pasti kesulitan sendirian menyiapkan kedai untuk dibuka kembali.

“baiklah kalau begitu. Sampaikan salamku pada wali kelasmu itu”, wanita itu menyerah. Lalu dipeluknya Donghae erat. Merasa begitu bangga pada putranya itu. Donghae membalas pelukan itu.

“belajarlah yang baik”, ucap wanita itu.

“Ne omma. Hati-hati dijalan”, balas Donghae. Setelah menyerahkan tas berisi makanan yang ingin diberikan kepada Mrs Kim kepada Donghae, barulah wanita itu pulang. Donghae masih memandang ibunya itu sampai tidak terlihat lagi. Donghae tersenyum sambil berbalik memasuki gerbang sekolah. Namun senyum itu tak bertahan lama ketika matanya secara tidak sengaja bertemu dengan mata tajam Yoona yang juga baru datang. Yeoja itu memandang Donghae sangan tajam, sampai-sampai Donghae kesulitan untuk melangkahkan kalinya. Ketika Yoona sudah berlalu darinya barulah Donghae dapat melangkahkan kakinya kembali.

“hahh, sepertinya ini akan sulit”, gumam Donghae.

Donghae berjalan memasuki kelas barunya. Perasaan canggung langsung melingkupinya ketika baru saja selangkah memasuki kelas itu, semua siswa yang ada dikelas itu langsung memandangnya seperti menilai. Donghae terdiam di depan kelas itu, bingung harus berbuat apa. Tiba-tiba sebuah tepukan dipunggungnya mengagetkannya. Donghae dengan cepat berbalik melihat siapa yang melakukan itu.

“Kau Lee Donghae kan?”, tanya yeoja yang kini berdiri didepan Donghae dengan senyum.

“N-ne. Lee Donghae-imnida”, jawab Donghae gugup. Yeoja itu tersenyum lebar.

“selamat datang dikelas kami. Aku Kwon Yuri. Ini Choi Sooyoung dan si kecil ini Kim Taeyeon”, ucap Yuri memperkenalkan diri dan juga dua yeoja yang juga berdiri disampingnya. Donghae membungkuk hormat.

“a-anyeonghaseyo”, sapa Donghae. Dibalas senyuman bahkan kekehan dari Sooyoung karena merasa lucu karena untuk apa Donghae harus membungkuk hormat seperti itu untuk orang seumuran dengannya.

“Ne, semoga kau dapat bersosialisasi dikelas ini”, balas Taeyeon.

“Ne, kamsahamnida. Tapi… apa aku boleh bertanya?”, tanya Donghae ragu.

“mmm, tentu saja”, jawab Yuri.

“di-dimana meja yang kosong?”, tanya Donghae.

“mmm, kurasa yang dibelakang itu kosong”, jawab Sooyong menunjuk meja yang ada dipojok kiri paling belakang.

“Yoona, meja sebelahmu kosong bukan?”, seru Sooyoung pada Yoona yang duduk dibelakang asyik membaca buku. Merasa tidak ada tanggapan dari yeoja yang namanya dipanggil, Sooyoung berteriak memanggil lagi.

“IM YOONA APA KAU MENDENGARKU?”, teriak Sooyoung. Mendengar teriakan itu Yoona langsung mengarahkan pandangannya kearah sahabatnya itu dengan tajam sambil menutup bukunya dengan kasar. Sooyoung menelan ludah susah payah.

“sepertinya aku bertanya pada orang yang salah”, gumam Sooyoung, dibalas kekehan dari Yuri dan Taeyeon.

“dasarnya kau juga yang bodoh. Ini kelasmu tapi kau tidak tahu mana meja yang kosong”, seru Yuri.

“meja yang dibelakang itu memang kosong. Kau bisa duduk disana Donghae”, ucap Taeyeon.

“ne, kamsahamnida”, Donghae beranjang ke meja belakang. Donghae mendudukkan diri sejenak, lalu meletakkan tasnya di keranjang tas dibawah kursinya. Entah perasaannya saja atau tidak, tapi namja itu seperti merasakan aura hitam disekitarnya, seperti ada yang memperhatikannya terus. Dengan ragu, Donghae memutar kepalanya kesebelah kiri dan matanya langsung bertemu dengan mata Yoona yang menatapnya tajam. Donghae dengan cepat meluruskan kembali pandangannya kedepan. ‘lebih baik aku dikelas yang lama dari pada di kelas elit ini.aku merasa hidupku terancam dikelas ini’, batin namja itu. Sedangkan Yoona masih tetap menatap tajam kearahnya.

Untuk menutupi perasaan tidak nyamannya, Donghae membersihkan mejanya dengan sapu tangannya. Lalu ketika membersihkan laci mejanya, Donghae merasa seperti ada yang menggelitiknya tangannya. Dengan cepat Donghae mengeluarkan tangannya dari dalam laci itu beserta tumbukan sampah dan juga… kecoak.

“AHHHKKK”, teriak Donghae, kaget dan langsung melempar sampah yang ada ditangannya ke lantai. Siswa yang ada dikelas itu langsung menoleh kebelakang menjadikan Donghae pusat pandangan mereka. Sadar dengan teriakannya yang terlalu kencang, Donghae langsung membungkuk meminta maaf karena teriakannya sudah mengganggu. Dan seketika itu juga siswa yang ada disana melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.

Donghae merutuki sikapnya yang bodoh. Tiba-tiba Donghae mendengar kekehan dari seberangnya. Donghae menoleh kesamping, terlihat Yoona yang sedang membaca buku tapi telapak tangannya membekap mulutnya yang mengeluarkan tawa. Donghae mendesah berat. Donghae tahu pasti yeoja itu sudah memulai aksinya. ‘kuatkan aku Tuhan’, doa Donghae.

 

>>>>>>>

Sudah dua minggu berlalu sejak Donghae memasuki kelas A. Bukannya merasa senang menjadi salah satu siswa yang ada dikelas elit itu, yang ada namja itu selalu mengalami hal-hal sial dan juga memalukan. Diminggu pertama, dimulai dengan tumpukan sampah dan juga kecoak dilaci mejanya, lalu dilanjut dengan celananya yang robek karena tiba-tiba terpeleset ketika berjalan menuju mejanya. Entah dari mana tiba-tiba ada minyak dilantai dekat mejanya. Donghae menahan mati-matian rasa malunya sambil berlari keluar menuju loker untuk mengambil celana olahraga sebagai pengganti celananya yang robek. Lalu diminggu kedua, ketika pelajaran bahasa inggris- mata pelajaran yang dibawakan oleh Kim songsaemnim, wali kelas mereka, ketika Donghae membuka tasnya tiba-tiba keluar beberapa tikus dan membuat semua siswa yang ada dikelas itu ketakutan dan berhamburan keluar kelas dan tentu saja hal itu membuat Mrs Kim marah dan memberi hukuman membersihkan toilet selama dua minggu penuh.

Pagi ini entah apa yang akan terjadi lagi menimpa namja itu. Donghae berjalan dengan hati-hati menuju anak-anak tangga yang akan membawanya menuju lantai dua, kelasnya. Donghae berusaha untuk datang pagi-pagi ke sekolah agar dirinya dapat mencegah hal-hal buruk lagi. Karena jika dia lebih dulu datang, sekolah pasti masih sepi dan tidak akan ada yang mengusili dia lagi. Ketika Donghae sedang berjalan menyusuri kelas dilantai bawah, tiba-tiba tubuhnya diguyur air yang berasal dari lantai dua. Seketika Donghae langsung basah kuyup, padahal saat itu masih pagi. Donghae dalam keadaan rapi berangkat dari rumah, tetapi sesampainya disekolah yang didapat malah dirinya yang bau. Bau yang berasal dari air yang sepertinya bekas air untuk mengepel lantai.

“ahhh, sial. Ternyata aku masih kurang lebih cepat datang”

“apa sih salah ku?”, Donghae bergumam sendiri merutuki kesialannya. Donghae berjalan ke lokernya dan lagi-lagi dengan terpaksa Donghae harus memakai baju olahraga lagi hari ini. Tapi yang pasti Donghae tahu siapa dalang dibalik semua kesialannya itu. Dari semua kejadian yang menimpanya, ada satu orang yang selalu ada ditempat kejadian dia mengalami kesialan itu. IM YOONA. Hanya nama itu yang ada dikepala Donghae saat ini. Semua sangat jelas bagi Donghae untuk dapat mencap Yoona sebagai tersangka dari semua ini. Ketika insiden kecoak, Yoona tertawa senang saat itu. lalu ketika terpeleset hingga celana Donghae robek, juga tikus yang keluar dari tasnya, Yoona juga ada dikelas itu dan dengan santainya tersenyum sinis, mengejeknya. Lalu kejadian air bekas kain pel tadi, Donghae yakin yeoja itu jugalah pelakunya, karena tadi dia masih sempat melihat ada seseorang diatas yang dengan cepat menghindar dari pandangannya. Selesai ganti baju, Donghae menuju ke kelasnya. Sampai dikelas dugaannya benar, lagi-lagi ada Im Yoona. Hanya ada Im Yoona dikelas saat ini. Sepertinya yeoja itu datang pagi-pagi sekali kesekolah untuk mengerjainya lagi. Donghae berjalan berlahan menuju mejanya sambil melirik Yoona yang asyik membaca, tidak lebih berpura-pura membaca.Tapi walaupun tahu semuanya itu ulah dari Yoona, tapi Donghae tidak ingin membalasnya. Namja itu memilih diam saja.

Yoona yang melihat Donghae yang tidak ada niat untuk membalas atau menunjukkan amarahnya sedikitpun, semakin membuat yeoja itu geram dan marah. ‘aish sialan. Kenapa dia terlihat santai saja? sepertinya air tadi masih belum cukup untuk membuatnya menyerah’, Yoona membatin sambil meremas pinggiran buku yang sedang pura-pura dibacanya. Yoona terus memutar otak untuk dapat membuat Donghae sampai tidak menyadari kelas sudah mulai rame. Sedangkan Donghae memilih keluar, lebih baik bertemu dengan Eunhyuk dari pada harus setiap hari di sekitar orang yang penuh dengan aura permusuhan.

 

>>>>>>>

“nah karena saat ini materi yang sedang kita bahas tentang perilaku konsumen, Saem akan membagi kalian dalam bentuk kelompok. Setiap kelompok terdiri dari empat orang. Tapi karena jumlah kalian hanya 34 orang saja, jadi bapak membentuk 9 kelompok dan ada satu kelompok yang terdiri dari dua orang”, jelas Nam Songsaengnim, guru mata pelajaran ekonomi. Perlu diketahui kelas A di SMA Kirin akan mendapatkan semua mata pelajaran, tidak ada penjurusan. Baik ilmu sains maupun  sosial, kelas A akan mendapatkan semuanya itu.

“nah, karena Saem ingin kalian semua bekerja di setiap kelompok masing-masing, ada baiknya jika yang unggul dipisahkan bukan?”, ucap Nam Songsaengnim dan langsung dibalas dengan seruan tidak setuju dari siswa yang ada dikelas itu. Mereka tahu maksud dari Nam Songsaengnim. Peringkat atas akan dipisahkan dari mereka.

“menurut Saem ini cukup baik untuk kalian. Jangan selalu mengandalkan orang lain. Kalian bisa melakukannya juga, kalian hanya malas saja”, nasehat Nam Songsaengnim.

“nah, jadi Saem tetapkan Im Yoona dan Lee Donghae menjadi kelompok yang terakhir. Dan selebihnya akan Saem acak menurut daftar absensi”, ujar Nam Songsaengnim lagi.

“ya, ada apa Im Yoona?”, tanya Nam Songsaengnim ketika melihat Yoona mengulurkan tangannya keatas.

“Saem, apa tidak bisa aku bergabung dengan yang lain saja. Aku berjanji tidak akan mengerjakannya sendirian. Aku akan membagi tugas dengan merata”, bujuk Yoona. Dia tidak mau menjadi satu kelompok dengan musuhnya.

“tidak bisa nona Im. Ini sudah menjadi keputusan Saem. Lagi pula…”, Nam Songsaengnim menjeda ucapannya. Memandang Yoona lalu ke Donghae, begitu seterusnya. Mr Song merasakan ada aura permusuhan diantara kedua siswanya itu, tapi yang terlihat paling jelas adalah ada pada Yoona. Yeoja itu seperti orang yang siap berperang sampai titik darah penghabisan.

“Nona Im, bukankah ada baiknya jika kita ada disekitar musuh kita agar kita tahu apa titik kelemahan musuh kita? Menurut Saem itu strategi yang cukup baik. Kau pasti mengerti apa yang Saem maksud”, jelas Nam Songsaengnim dengan senyum lebarnya. Yoona langsung menunduk, menyerah. Sepertinya tidak ada cara lain, selain menerima. Melihat Yoona langsung menunduk Nam Songsaengnim tersenyum sangat lebar, entah apa yang dipikirkan oleh guru muda itu.

“nah untuk kelompak pertama…”, Nam Songsaengnim membagi untuk kelompok yang lain. Yoona tidak memperdulikan apa yang dikatakan oleh Nam Songsaengnim lagi. Yeoja itu sibuk dengan gerutuannya karena merasa sial, sekelompok dengan musuhnya. Yoona menoleh kesamping kiri, Donghae sedang memandangnya.

“mwo?”, ucap Yoona galak dengan suara pelan. Donghae langsung menggeleng dan kembali memperhatikan Nam Songsaengnim yang sekarang menjelaskan apa yang akan mereka kerjakan dalam kelompok masing-masing.

 

>>>>>>>

Waktu pulang sekolah sudah berlalu sejak sejam yang lalu, tapi Yoona masih ada didalam kelas membereskan perlengkapan kelas dibantu oleh Yuri, Taeyeon dan juga Sooyoung. Yoona yang diunjuk sebagai ketua kelas mempunyai kewajiban untuk selalu merapikan perlengkapan kelas ketika jam pelajaran sudah selesai.

“Yoona, apa kau benar-benar sangat membenci Donghae?”, tanya Sooyoung. Yoona mengerutkan kening menanggapi pertanyaan Sooyoung.

“jangan kira kami tidak tahu jika kau dibalik semua kejadian buruk yang menimpa Donghae”, ujar Yuri sambil membersihkan white board.

“sangat. Sampai rasanya aku ingin gila”, balas Yoona dengan menggebu-gebu. Percuma menghindar. Ketiga sahabatnya itu sangat mengenalnya dengan baik. Jadi tidak ada gunanya berbohong.

“tapi kau sepertinya sudah melewati batas Yoong”, ujar Taeyeon.

“tidak. Ini belum seberapa Taeng”, balas Yoona cepat.

“aku harus membuatnya menyerah dan memilih kembali ke kelasnya semula. Dan kalian harus mendukungku. Tapi tenang saja, aku tidak akan melibatkan kalian didalamnya”, tambah Yoona bersemangat sedangkan ketiga sahabatnya itu hanya dapat menggeleng, pasrah. Mereka akan membiarkan Yoona. Lagipula dengan sendirinya Yoona akan menyerah juga.

“ahh, aku rasa semua sudah rapi. Kalian tunggulah di depan gerbang, aku akan menyerahkan buku absensi ini ke ruang guru sebentar”, ucap Yoona. Mereka pun berjalan beriringan kemudian berpisah dipertigaan lorong. Yoona menuju kekiri ruang guru dan ketiga sahabatnya itu kekanan menuju tangga.

 

Tok tok tok

“permisi”, ucap Yoona berlahan ketika pintu sudah dibukanya. Yoona berlahan mendekati meja Kim Songsaengnim.

“Kim Saem, ini buku absensi kelas A”, ucap Yoona ketika sudah berhadapan dengan meja seorang guru yang sudah memasuki usia kepala empat namun masih terlihat seperti anak SMA itu.

“ohh, Im Yoona. Terima kasih. Sudah membantu pekerjaan Saem”, ucap Kim Songsaengnim.

“Ne. Kalau begitu, saya permisi Saem”, balas Yoona sambil membungkuk hormat.

Namun ketika ingin keluar dari ruangan itu, tiba-tiba terlintas dalam pikiran yeoja itu untuk mencoba kembali, siapa tahu kali ini dia beruntung. Dengan berlahan Yoona berjalan mendekati meja guru lain yang sedang asyik dengan laptopnya.

“anyeonghaseyo Nam Saem”, sapa Yoona.

“ohhh, nona Im”, seru Nam Songsaengnim terlalu keras sambil menutup laptopnya dengan cepat. Sepertinya Nam Songsaengnim sedang melihat sesuatu yang tidak benar dilayar laptopnya itu. Terlihat dari wajahnya memerah dan ketakutan jika ketahuan. Untuk saja ruang guru itu sudah sepi. Hanya ada beberapa guru saja yang tinggal.

“mmm, tentang tugas kelompok itu, apa saya memang tidak bisa masuk kekelompok lain saja Saem?”, ujar Yoona. Berharap kali ini gurunya itu mau merubah pikirannya. Tapi harapan hanyalah harapan. Nam Songsaengnim menggeleng pertanda tidak untuk pertanyaannya itu.

“sudah saem bilang, ini strategi nona Im. Kau harus memanfaatkannya dengan baik”, jelas Nam Songsaengnim.

“baiklah. saya permisi”, balas Yoona dengan suara lemah. Tidak ada gunanya berbicara dengan Nam Songsaengnim. Yoona langsung keluar dari ruangan itu.

“ada apa?”, tanya Kim Songsaengnim pada Nam Songsaengnim.

“seperti biasa Noona. Permintaan anak muda zaman sekarang aneh-aneh”, jawab Nam Songsaengnim santai pada yeoja yang lebih tua sepuluh tahun darinya itu.

“itu karena mereka diajari oleh guru yang aneh seperti kau Nam Saem”, ujar Kim Songsaengnim.

 

Yoona menunduk sambil menggerutu. Memaki Nam Songsaengnim lalu memaki Lee Donghae atau siapa pun yang dapat dibuat sebagai pelampiasan kekesalannya.

“Nam Saem memang gila. Bagaimana biasa dia membuatku satu kelompok dengan namja itu? ahkkkk”, gumam Yoona sambil mengacak-acak rambutnya.

“aku benar-benar bisa gila sekarang. Bagaimana aku harus menghadapi Lee Donghae? Sedangkan aku sudah membuat namja itu sengsara selama dua minggu ini”

“bagaimana ketika kerja kelompok dia balas dendam lalu melakukan yang tidak–tidak? Bagaimanapun aku seorang yeoja?”, Yoona berbicara seorang diri merutuki perbuatannya. Memperkirakan hal-hal negatif yang kemungkinan dapat Donghae lakukan untuk membalasnya. Tanpa memperhatikan langkah kakinya yang menuruni  anak-anak tangga, tiba-tiba Yoona tidak dapat mengendalikan keseimbangan tubuhnya karena salah menjatuhkan pijakannya.

“ahkkkk”, teriak Yoona. Yoona yakin jika dalam kasus seperti ini, terjatuh dari tangga, minimal anggota tubuhnya pasti ada yang patah dan terparahnya mungkin dia mati dengan berlumuran darah. Tapi yang Yoona rasakan malah dekapan hangat yang tidak pernah dirasakannya. Sebuah tangan melingkari pinggangnya. Dengan berlahan, Yoona membuka matanya, memastikan apa yang terjadi. Ketika matanya benar-benar terbuka, hal pertama yang dilihatnya adalah mata sendu. Yoona menyukai mata sendu itu. Mata yang memancarkan kelembutan dan kehangatan. Dan mata itu milik… Deg. Jantung Yoona langsung berdebar kencang tidak terkendali. Posisinya sedang berdiri lurus diatas salah satu anak tangga dan punggungnya merapat di dinding kanan tangga dengan tangan kanan seorang namja melingkari pinggangnya dan tangan yang satunya menempel di dinding tepat disamping kepala Yoona, menahan beban tubuhnya. Ini pertama kalinya Yoona melihat wajah seorang namja yang sudah dianggapnya seperti musuh, dalam keadaan sangat dekat. Hanya satu yang dapat dikatakan oleh Yoona, untuk menggambarkan keadaan namja yang menolongnya itu. Sexy. Dengan rambut basah dan kening yang dialiri keringat, namja yang berada tepat didepannya itu sangat sexy dan juga tampan dimatanya. Yoona adalah gadis populer di SMA Kirin dan tentu saja menjadi pujaan hati namja yang ada disekolah itu. Tapi walaupun begitu tidak ada satupun yang dapat menarik hati yeoja itu, tidak ada yang dapat membuatnya berdebar seperti sekarang ini. Ini kali pertama.

“kau baik-baik saja Yoona-ssi?”, pertanyaan itu segera mengembalikan Yoona kembali keorientasinya. Mata Yoona langsung membesar ketika sadar siapa yang ada didepannya sekarang ini dengan kondisi hampir menempel dengan dirinya. Lee Donghae

Dengan cepat Yoona mendorong bahu Donghae, menjauh darinya. Ada apa dengannya sampai bisa tidak sadar jika beberapa menit tadi dia sedang mengagumi seorang Lee Donghae. Namja itu terhuyung kebelakang, untung besi pembatas tangga dapat menahan tubuhnya.

“ahkkk”, rintih Donghae ketika punggungnya terbentur besi pembatas tangga. Mendengar rintihan itu Yoona merasa bersalah. ‘apa aku terlalu keras mendorongnya?’, batin Yoona.

“a-apa yang kau lakukan?”, ucap Yoona tajam, berpura-pura marah padahal sedang menutupi kegugupannya, dan pipinya terasa hangat.

“tentu saja menolongmu. Tadi Yoona-ssi hampir terjatuh dari tangga”, balas Donghae sambil menggosok-gosok punggungnya yang sakit.

“untung saja aku masih sempat menjangkau tubuhmu. Jika tidak, mungkin Yoona-ssi sudah pasti terjatuh”, tambah Donghae dengan ucapan formalnya. Terdengar sangat kaku di pendengaran Yoona.

“ta-tapikan tidak perlu sampai kau harus menempel sedekat itu”, ujar Yoona kesal.

“maaf aku tidak sengaja. Itu hanya gerakan spontanitas dan aku tidak dapat menghindarinya”, bela Donghae.

“alasan. Bilang saja kau mencuri kesempatan”, ucap Yoona. Mencari-cari kesalahan yang dapat menjatuhkan namja itu.

“tidak, sungguh”, bela Donghae lagi.

“dan kau…”, ucap Yoona menjeda. Donghae memandangnya dan lagi mata sendu itu berhasil menariknya kealam bawah sadar.

“aku kenapa? Jangan bilang Yoona-ssi akan memanfaatkan kejadian ini dengan melaporkannya sebagai tindakan pelecahan. Sungguh, aku benar-benar tidak sengaja. Aku hanya berusaha agar Yoona-ssi tidak sampai terjatuh”, kali ini suara Donghae seperti memohon. Bisa sangat fatal jika sampai Yoona melaporkannya. Bisa-bisa orangtuanya akan dipanggil kesekolah. Donghae tidak mau hal itu sampai terjadi.

Yoona terkejut dengan jalan pikiran Donghae. Yoona tidak berpikir sedikitpun untuk memanfaatkan kejadian ini untuk membalas dendam. Namja itu berpikir terlalu jauh. ‘apa aku sejahat itu sampai dia berpikir seperti itu?’, ada perasaan terluka yang Yoona rasakan mendengar ucapan Donghae.

“kau… Bau”, ucap Yoona sambil menutup hidungnya dengan telapak tangannya.

“apa?”, tanya Donghae.

“kau bau Lee Donghae. Menjauhlah. Kau merusak indra penciumanku”, ulang Yoona lebih jelas. Donghae mengendus sekitarnya, lalu kebajunya. Dan benar, dia bau. Dirinya sendiri mengakui itu.

“hehehe, maaf. Aku baru selesai membersihkan toilet. Menjalankan hukumanku”, ucap Donghae tersenyum sambil menggarut kepalanya yang tidak gatal. Dia malu.

“pergi. Kau benar-benar menyebalkan”, usir Yoona.

“baiklah. Tapi Yoona-ssi benar tidak apa-apakan?”, tanya Donghae lagi.

“iya. Sudah, sana”, usir Yoona lagi. Kali ini suaranya sudah meninggi.

“syukurlah. Baiklah, aku pergi. Lain kali hati-hati Yoona-ssi”, nasehat Donghae, lalu menaiki tangga. Yoona masih diam ditempat, hingga Donghae tidak terlihat lagi barulah yeoja itu langsung terduduk disalah satu anak tangga itu. Kakinya terasa lemas. Pipinya merona dan jantungnya masih berdebar-debar.

“ada apa ini dan tadi itu apa? Apa yang kulakukan. Aku mengagumi Lee Donghae. Lee Donghae. Ya Tuhan. Aku benar-benar sudah gila”, dengan berlahan Yoona bangkit berdiri, membawa tubuhnya keluar dari gedung sekolah.

“aku gila. Aku gila”, guman Yoona.

“STRESS”, teriak Yoona sambil menjambak rambutnya.

“Yak, kenapa kau berteriak?”, tegur Yuri. Yoona memandang sekitar, ternyata dia sudah sampai didepan gerbang sekolah.

“ada apa denganmu? Dan kenapa pipimu memerah Yoong?”, tanya Taeyeon. Yoona dengan cepat menyentuh pipinya, menutupinya dengan kedua telapak tangannya, lalu menggeleng.

“tidak. Tidak. Ha-hanya saja sepertinya aku kelelahan”, bohong Yoona. Tidak mungkin dia mengatakan pipinya memerah karena Lee Donghae.

“benarkah? Kalau begitu ayo kita pulang, biar kau bisa langsung istirahat”, ujar Taeyeon. Yuri membimbing Yoona berjalan keluar dari gerbang sekolah. Untung Yuri membantunya berjalan, karena sejujurnya kakinya sudah sangat lemas. Sekilas Yoona mengarahkan pandangannya kebelakang, tepatnya ke lantai dua. Deg Jantung Yoona langsung berdebar kembali. Dialihkannya pandangannya kedepan. Donghae sedang ada disana, dilantai dua sambil memandangnya.

“bi-bisakah kita lebih cepat berjalan. Kepalaku pusing”, ucap Yoona. Sebenarnya hanya alasan, di takut jika bertemu dengan Donghae nantinya. Sooyoung yang memperhatikan tingkah aneh Yoona, memandang kearah Yoona tadi. Sooyoung melihat seorang namja berpakaian olahraga, berjalan dengan santai sepertinya ingin menuruni tangga. Lee Donghae. Sooyoung yakin itu Lee Donghae. Tapi bukan itu permasalahnya sekarang. Yang jadi permasalahannya, kenapa Yoona menjadi seperti orang yang ketakutan melihat Donghae. ‘pasti terjadi sesuatu tadi’, yakin yeoja tinggi itu. Yakin jika telah terjadi sesuatu diantara Yoona dan Donghae. Sooyoung tersenyum tipis. Hobbynya yang suka menonton hal-hal berbau misteri, sangat mendukung dalam menghadapi hal-hal yang diluar nalar manusia. Termasuk kasus Yoona kali ini. Membuat yeoja tinggi itu bersemangat dan penuh keingintahuan.

 

>>>>>>>

Sudah seminggu berlalu sejak insiden ditangga itu dan Yoona selalu menghindar dari Donghae. Segala cara Yoona usahakan untuk tidak bertemu pandang atau berpapasan dengan namja itu. Walaupun tidak dapat semudah itu, karena namja itu duduk di sebelah mejanya.

“Yo-Yoona-ssi”, panggil seorang namja. Namun tidak ada jawaban dari Yoona. Yeoja itu sedang melamun. Hingga sebuah sentuhan di lengannya barulah yeoja itu sadar. Yoona meendongak, memandang orang yang dengan berani mengusiknya.  Mata teduh. Kata-kata itu yang terlintas pertama kali dalam pikiran Yoona.

“Yo-Yoona-ssi, maaf bisa kita bicara sebentar? Aku ingin diskusi tentang tugas kelompok dari Nam Saem”, ucap Donghae. Yoona tidak merespon, dia hanya diam membeku ditempat.

“Yoona-ssi?”, panggil Donghae karena tidak ada respon dari orang yang dipanggilnya.

“a-aku ada urusan”, ucap Yoona cepat dan langsung pergi begitu saja dari hadapan Donghae. ‘apa aku salah lagi? Aku membuatnya marah’, batin namja itu. Namja itu mengerutkan kening, bingung dengan tingkah Yoona yang beberapa hari ini seperti menghindarinya.

 

Yoona berjalan cepat menuju toilet. Yoona langsung masuk ke salah satu bilik toilet, duduk diatas closed duduk. Yoona menyentuh kedua pipinya yang diyakininya pasti memerah lagi. ‘Apa aku salah lagi? Aku membuatnya marah’. Tiba-tiba terdengar suara seseorang. Yoona memandang sekitar. Tidak mungkin ada orang lain dibilik toilet yang dimasukinya itu terkhusus suara itu suara namja. Yoona bergidik ngeri. Sebenarnya ini bukan yang pertama kalinya Yoona mendengar suara itu, ini sudah yang kesekian kalinya. Dan Yoona mengenal suara itu.

“tidak. Ini tidak mungkin”

“Pergi. Pergi. Pergi”, teriak Yoona. Akibat teriakan itu beberapa siswi yang ada didalam toilet segera mengetok pintu bilik toilet yang Yoona gunakan.

“Yoona, kau baik-baik saja?”, seru siswi itu bergantian.

“pergi. Ku mohon pergilah. Jangan ganggu aku. Aku minta maaf. Aku tidak akan berbuat jahat lagi. Ku mohon”, Yoona memohon entah kepada siapa sambil menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya. Yoona seolah-oleh tuli, tidak mendengar gedoran pintu. Yang ada dipendengarannya hanya suara itu. Suara sendu yang terdengar sedih. Dan kesedihan itu akibat dari dirinya sendiri. Yoonalah yang menyebabkannya.

Suara pintu yang digedor terus terdengar. Hingga terdengar teriakan yang sangat kencang dari beberapa siswi yang sangat Yoona kenal.

“Yoona, Yoong, IM YOONA”, Yuri, Taeyeon dan Sooyoung memanggil nama Yoona. Hingga teriakan terakhir dari Sooyoung yang sangat keras, barulah Yoona sadar. Yoona menyentuh pipinya yang basah karena menangis. Yoona mengedarkan pandangannya kesekeliling toilet sempit itu. Tidak ada siapa-siapa. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa aku bisa mendengar suaranya? Apa ini karma karena aku selalu berbuat jahat padanya dan dia tidak mengeluh?

“YOONA”, terdengar teriakan dari Sooyoung lagi. Yoona beranjak diri, mengusap wajahnya yang masih basah lalu merapikan rambut dan seragamnya. Merasa semua kembali rapi, Yoona menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya. Dengan berlahan Yoona membuka pintu toilet yang ada didepannya. Yoona terkejut, sudah banyak siswi didepannya. Menatapnya khawatir terkhusus tiga sahabatnya. Dengan cepat, Yoona langsung merasakan kehangatan akibat pelukan dari Yuri disusul Taeyeon dan Sooyoung.

“Ada apa? Kau kenapa Yoona?”, tanya Yuri lembut sambil mengelus rambut Yoona.

“iya kau kenapa? Kau berteriak seperti orang ketakutan Yoong”, tanya Taeyeon juga.

“katakan ada apa? Kenapa kau mengatakan pergi?”, tanya Sooyoung sambil melirik kedalam bilik toilet, dibelakang Yoona.

“apa didalam ada hantu?”, bukannya takut, Sooyoung malah terlihat antusias mengatakannya. Memang gadis ini sangat menyukai hal-hal seperti itu.

“auwww, kenapa memukulku”, adu Sooyoung ketika mendapatkan sakit di lengannya.

“jaga bicaramu. Bisa tidak pikiran anehmu itu tidak muncul disaat seperti ini”, marah Yuri.

“kenapa? Aku kan hanya bertanya. Awww, YAK”, Sooyoung berteriak kesakitan karena kali ini pukulan dari Taeyeon.

“aish kau ini”, marah Taeyeon. Siswi yang ada disana sudah terkekeh, lucu dengan kesakitan yang Sooyoung rasakan. Yeoja tinggi itu memang sangat terkenal dengan jalan pikirannya yang aneh. Tapi walaupun seperti itu, Sooyoung tipe gadis yang pintar dan gampang bergaul. Jadi Sooyoung tetap punya banyak teman walau aneh.

“sudahlah. Dia hanya terlalu khawatir dan… mungkin juga penasaran. Bukan begitu Soo?”, Yoona tersenyum melihat tingkah sahabat-sahabatnya itu. Mungkin jika bukan mereka yang memanggilnya, jika bukan suara mereka yang Yoona dengar tadi, mungkin saja dia sudah pingsan didalam toilet itu. Yoona senang selalu ada meraka disaat-saat senang dan sulit sekalipun.

“Hehehe, tapi walaupun seperti itu, syukurlah kau baik-baik saja”, balas Sooyoung dengan cengiran kudanya.

“jadi apa yang terjadi?”, tanya Yuri.

“nanti akan aku ceritakan. Tapi sepertinya aku perlu ke UKS untuk istirahat. Kepalaku pusing”, ujar Yoona. Sahabatnya itu segera menuntun Yoona keluar dari toilet. Ketika baru keluar dari toilet, jantung Yoona langsung berdebar-debar kencang, tubuhnya membeku seketika. Didepannya Donghae berdiri memandangnya khawatir. Tiba-tiba Yoona penasaran apa yang sedang dipikirkan namja itu. Tapi sayangnya suara itu tidak terdengar sedikitpun. Kenapa? Kenapa ketika berada didekatnya, suara itu malah tidak terdengar, Yoona membatin.

“Yoona, ada apa?”, tanya Taeyeon. Yoona langsung tersadar dari diamnya.

“ohh… ti-tidak ada”, jawab Yoona terbata. Mereka melanjutkan langkah mereka. Ketika jaraknya semakin menjauh, langkah Yoona terhenti. ‘Dia kenapa?’ Suara itu, lagi. Suara itu terdengar. Dengan cepat Yoona berbalik, menghadap kearah Donghae yang masih menatapnya. Beberapa saat tatapan mereka menyatu. ‘kau baik-baik saja Yoona-ssi? Semoga iya’ Suara itu terdengar. Yoona dapat mendengarnya. Jika tadi ditoilet dia seperti orang ketakutan mendengar suara itu, sekarang berbanding terbalik. Yang ada kini dia sudah seperti Sooyoung. Sangat penasaran dan antusias. Kening Yoona berkerut. Ada yang aneh dengan datangnya suara itu. Wajah Yoona tampak serius dan kaku sambil memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Namun Donghae salah mengartikan raut wajah Yoona itu. Donghae berpikir jika Yoona sedang menatapnya dengan penuh kebencian. Sehingga Donghae memutuskan untuk berbalik, masuk kedalam toilet namja.

“ini sangat aneh”, gumam Yoona.

“apa yang aneh?”, seru Sooyoung. Yoona langsung memandang wajah sahabat-sahabatnya. Sepertinya tidak ada salahnya bercerita sedikit kepada mereka tentang apa yang ada dipikirannya.

“ayo, kita ke UKS. Akan kuceritakan disana. Tapi sepertinya jam pelajaran akan dimulai. Nanti saja kalau begitu”, Yoona tersadar jika jam pelajaran sebentar lagi akan masuk. Tidak mungkin sahabatnya itu harus membolos.

“aish, siapa yang peduli dengan pelajaran disaat-saat seperti ini”, seru Taeyeon. Yoona, Yuri dan Sooyoung kaget dengan seruan gadis mungil itu. Pasalnya diantara mereka berempat, Taeyeonlah yang paling tidak suka membolos saat jam pelajaran. Tapi lihat sekarang, gadis itu malah tidak peduli jika dirinya akan ketinggalan pelajaran kesenian – pelajaran favoritenya.

“kenapa? Memangnya kalian tidak penasaran dengan apa yang terjadi dengannya?”, tanya Taeyeon kepada Sooyoung dan Yuri. Keduanya mengangguk setuju.

“nah, tunggu apa lagi, ayo ke UKS”, seru Taeyeon bersemangat, bahkan gadis mungil itu sudah terlebih dahulu berjalan menuju ruang UKS.

“hahaha, ada apa dengannya? Sepertinya dia terserang virus Sooyoung “, seru Yuri sambil tertawa disambut juga tawa dari Yoona bahkan Sooyoung sendiri ikut tertawa. Padahal Yuri sedang mengatakan dirinya sebagai virus. Tapi itulah Sooyoung, dia tidak mudah sakit hati atau tersinggung. Dia malah senang jika orang disekitarnya ikut gila sepertinya.

 

TBC

Hehehe, maaf ya. Sampai disini dulu untuk chapter awalnya. Gimana? Apa aneh?

Entahlah, aku juga gak begitu yakin. Tapi setidaknya ada bahan bacaaan. Bukan begitu reader-nim? Ditunggu komentarnya ya. Biar ada bahan masukan. Misalnya kejadian aneh dan gila yang mungkin pernah reader-nim alami atau khayalan kalian yang sedikit gila juga akan aku tamping dengan baik.

Ok, See You next time

Lego~

Advertisements

20 thoughts on “LOCO – Chapter 1

  1. KasMha PyrooLierd

    Genrenyakan fantasi.. Aku kira yg fantasi kek gmna.. Terxta yoong bs denger apa yg hae pikirkan yah.. Hahaha

  2. ichus

    Jdi namja pasrah amat ngeekkk dibully gtu sma yoona??
    Spertix donghae naruh hati ke yoona.. dan juga yoona mulai agak” terpesonah sma donghae. Asyiiikkk seru nih
    next jgn lama dianggurin ya thor

  3. Hahaha GILA. Baru kali ini baca ff karakter ongekk kya gini. Unik banget thor
    Ntuh yoong kok bisa dnger suara ongekk dr jauh ya ? Apa karma ? Ntahlah
    Next chap cepetan dong thor. Keep writing ! Hwaiting

  4. uly assakinah

    hahhahaha yoona unnie kena karma. suka sama donghae orang yang dia benci. sekarang jadinya dia sendiri yang ngindar. next min

  5. tryarista w

    kyaknya hae bkn org kya,,,& knpa yoonaa bnci bget ma hae,,,,cuma gara2 dia lbih pintar dr yoona,,,,
    heeem hae sbr bget hadapi tingkah yoona

  6. hanasumi

    Seruuuuu. Yoona bisa denger isi hati Donghae?? Wahhhh baru nih nemu kaya gini hihi jangan lama yaaaaa 😁

  7. Sfapyrotechnics

    Hahahah 😀 orang yg yoong benci malah buat dia terPESONA :v Mata teduh 🙂 Apa yoong bisa denger suara hatinya hae?? Kerennn. lanjutin cepat eon 🙂

    FIGHTING!!

  8. irma nytha

    yoong gak perlu takut gitu, donghae gak gigit kok ^^
    aku senang kalau sooyoung, taeyeon ataupun yuri jadi teman yoona disini, karakter mereka mendukung disini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s