I Hate U (Epilog)

I HATE YOU2

Title                 : I Hate U (Epilog)

Author             : Fi_ss

Cast                 : Im Yoona and Lee Donghae

Genre              : Romance, Hurt, Sad, ect

Length             : Chapter

Author Note    : ok ini epilog dari chapter ini. Gomawo untuk reader-nim yang udah kasi komentar mulai dari awal sampai akhir FF ini, baik yang wp pribadi maupun SOY. Makasih banyak, Reader-nim, you’re the best. Karena ini epilog, aku buat seperti apa yang reader-nim minta di setiap komentar kalian. Untuk adegan romantisnya aku gak begitu yakin feelnya kesampaian, karena aku gak pintar buat kata-kata manis (walaupun sebenarnya aku suka genre romance). Tapi semoga sesuai dengan harapan reader-nim semua ya..

Happy Reading and…… Lego~


Pagi yang cerah menyambut Yoona, membuat ibu hamil itu tersenyum cerah. Dirabanya sisi sebelah kirinya. Kosong. Tidak ada suaminya disana. Secara berlahan, yeoja itu mendudukkan dirinya diatas tempat tidur, mengedarkan pandangannya untuk mencari suami tampannya. Hingga terdengar suara dari kamar mandi. Yoona mengerutkan keningnya sambil berlahan berjalan menghampiri pintu kamar mandi.

Tok tok tok

Yoona mengetuk pintu berlahan. Tapi tidak ada jawaban, membuat Yoona khawatir. Yoona membuka pintu itu berlahan, tidak dikunci. Dan ketika pintu sudah terbuka lebar, terlihat suaminya yang sedang membungkuk didepan washtafel, dengan wajah pucat. Donghae mengalami morning sickness lagi.

“oppa”, panggil Yoona. Donghae menegakkan tubuhnya menatap Yoona yang berjalan menghampirinya. Namja itu tersenyum walaupun sakit dikepala dan perutnya masih sangat menyiksanya karena tiada henti memuntahkan semua isi perutnya,.

Setelah sampai didepan suaminya itu, Yoona menyentuh pipi Donghae, mengelusnya dengan lembut. Rasa khawatir selalu menghinggapinya setiap kali Donghae mengalami morning sickness, yang seharusnya dirinyalah yang mengalami semua itu.

“aku tidak apa-apa sayang”, ucap Donghae ketika Yoona hanya diam dengan raut wajah khawatir.

“apanya yang tidak apa-apa. Jelas-jelas oppa masih muntah-muntah. Padahal ini sudah masuk bulan ke sembilan kehamilanku tapi kenapa oppa masih mengalami semua ini?”, ucap yeoja itu dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Donghae segera memeluk istrinya itu, mengelus punggung wanitanya itu dengan lembut.

“tidak apa-apa. Sungguh. Ini karena aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin kau mengalami kesakitan seperti ini, jadi aku bersyukur aku yang mengalami semuanya ini, bukan kau sayang”, ucap Donghae lembut. Mendengar itu air mata Yoona langsung jatuh, terharu dengan ucapan suaminya itu.

Yoona melepas pelukan itu ketika tubuh Donghae bergetar, dan Donghae pun dengan cepat membungkuk lagi didepan washtafel, mengeluarkan lagi isi perutnya.

“hahhh”, suara kelegaan dari Donghae. Perutnya terasa sakit. Yoona memijat-mijat tengkuk Donghae, berharap dapat mengurangi rasa sakit itu.

“apa oppa bisa berjalan ketempat tidur?”, tanya Yoona ketika Donghae kembali menegakkan tubuhnya. Namja itu mengangguk. Dengan berlahan Yoona menuntun Donghae keluar dari kamar mandi menuju tempat tidur.

“aku akan membuat teh mind agar mual oppa bisa hilang”, ucap Yoona. Kemudian meninggalkan Donghae yang sudah berbaring ditempat tidur.

Beberapa menit kemudian Yoona sudah kembali kekamar dengan nampan berisi segelas susu hamilnya dan segelas teh mind untuk Donghae. Yoona meletakkan nampan itu diatas meja kecil disamping tempat tidur, lalu duduk ditepi tempat tidur.

“oppa~”, panggil Yoona sambil menyentuh lengan suaminya itu. Donghae membuka matanya, menatap Yoona kemudian bangkit dari tidurnya. Mereka duduk berhadapan sekarang. Yoona menyentuh wajah Donghae yang masih pucat.

“apa sangat sakit?”, tanya Yoona. Donghae mengangguk.

“mianhae, aku tidak bisa membantu mengurangi sakit yang oppa rasakan”, ucap Yoona. Donghae langsung menggeleng, tidak setuju dengan perkataan Yoona.

“kaulah obatku. Dengan kau selalu ada disisiku, itu sudah sangat membantuku Yoong”, balas Donghae. Donghae dengan berlahan mengecup kening Yoona dengan lembut. Kemudian mereka saling memandang, dan senyum pun terbit diwajah mereka.

“ini tehnya. Kata Sooyoung, ini dapat meredakan rasa mualnya, dan mudah-mudahan ini juga dapat mengurangi mual oppa”, ucap Yoona sambil menyerahkan teh mind itu kepada Donghae. Donghae menghirup aroma dari teh itu, membuat Donghae lebih rileks. Lalu menyesap teh itu sedikit demi sedikit.

“bagaimana oppa?”, tanya Yoona dibalas Donghae dengan anggukan.

“ini enak”, ucap Donghae. Yoona tersenyum lega. Yeoja itu pun meminum susu hamilnya.

“sudah berapa usia kandungan Sooyoung?”, tanya Donghae ketika Yoona masih sibuk menghabiskan susunya. Yoona menjauhkan gelas susunya yang sudah habis, meletakkannya kembali keatas nampan. Lalu berpikir sejenak untuk menjawab pertanyaan Donghae.

“mmm, mungkin sekitar 3 minggu”, jawab Yoona.

“apa dia mengalami yang sama denganku?”, tanya Donghae. Yoona mengangguk.

“kasihan sekali dia. Kenapa tidak Kyuhyun saja yang mengalaminya”, gumam Donghae. Yoona hanya tersenyum mendengar ucapan Donghae. Yoona jadi ingat beberapa hari yang lalu Sooyoung memberitahu kabar kehamilannya bertepatan ketika dia, Sooyoung, Donghae dan Kyuhyun selesai mengurus surat adopsi Ji Chun yang akan diadopsi oleh Kyuhyun dan Sooyoung. Seminggu sebelum itu, entah karena apa Sooyoung tiba-tiba mendiamkan mereka semua karena Ji Chun akan diadopsi oleh Yoona dan Donghae. Memang benar, Sooyoung dan Kyuhyun yang telah menikah sebulan setelah pernikahan Yoona dan Donghae, juga memiliki hak untuk mengadopsi Ji Chun. Namun sejak awal mereka sudah setuju ketika Yoona yang mengadopsi Ji Chun, tapi bertepatan ketika akan mengurusnya kepanti asuhan, Sooyoung berulah. Dengan paksaan dari Yoona, akhirnya Sooyoung mau mengutarakan keinginannya agar dia dan Kyuhyun yang mengadopsi Ji Chun. Semua orang sempat terkejut dengan keinginan yeoja tinggi itu. Dan menambahkan alasan, jika Yoona yang mengadopsi Ji Chun terasa tidak adil karena Yoona juga sebentar lagi akan melahirkan, sedangkan dirinya belum mendapatkan tanda-tanda kehamilan. Akhirnya Yoona mengalah, walaupun Ji Chun akan menyandang marga keluarga Kyuhyun, Yoona masih akan tetap menganggap Ji Chun seperti anaknya. Akhirnya Ji Chun seminggu yang lalu sah menjadi Cho Ji Chun. Dan ketika mereka sedang makan bersama, tiba-tiba Sooyoung memberitahu kehamilannya, bahkan Kyuhyun jika terkejut dengan berita bahagia itu.

“sayang~”, panggilan itu menyadarkan Yoona dari lamunannya. Yoona memandang Donghae yang memandangnya dengan kening berkerut.

“apa yang kau pikirkan?”, tanya Donghae.

“aku teringat dengan tingkah konyol Sooyoung ketika kita ingin mengadopsi Chun”, ucap Yoona disertai kekehan dan Donghae pun ikut tertawa.

“Sooyoung sepertinya mengidam ingin mengadopsi Chun waktu itu”, ucap Yoona.

“apa kau tidak sedih? Sooyoung dan Kyuhyun yang menjadi orang tua Chun yang sah sekarang”, ujar Donghae. Wajah Yoona pun langsung berubah sendu. Tapi beberapa detik kemudian, dia kembali tersenyum.

“ya awalnya aku sedih karena bukan marga oppa yang Chun gunakan. Tapi setelah dipikir-pikir, walaupun Chun menjadi anak sah dari Kyuhyun dan Sooyoung, Chun akan tetap menjadi anakku”, ucap Yoona.

“kau merindukannya?”, tanya Donghae lagi. Yoona Mengangguk, dia benar-benar merindukan Ji Chun sekarang.

“aku ingin bertemu dengan anak itu, tapi untuk sekarang aku tidak boleh terlalu sering bertemu dengannya. Selain karena aku sudah hamil besar, aku juga ingin Ji Chun membiasakan dirinya tinggal bersama Kyuhyun dan Sooyoung, agar anak itu mengenal keluarganya yang sekarang”,  Donghae tersenyum. Walaupun sifat manja Yoona ketika mereka masih kanak-kanak dulu kembali lagi karena hormon kehamilannya, tapi jika sudah berbicara soal keluarga dan anak, yeoja itu selalu terlihat dewasa.

Cup~ Dalam sekejam Donghae mengecup bibir Yoona, bahkan Yoona hanya terdiam dengan tindakan cepat suaminya itu. Pipi Yoona pun sudah memerah sekarang. Setiap Donghae menciumnya, pipinya langsung memanas, padahal mereka sudah sering melakukannya.

“jangan sedih. Kita pun sebentar lagi akan bertemu dengannya”, ucap Donghae sambil mengelus perut besar Yoona. Yoona tersenyum mendengarnya. Yoona menggeser posisi duduknya menjadi disamping Donghae dan segera memeluk suaminya itu dari samping.

“menurut oppa, anak kita namja atau yeoja?”, tanya Yoona. Donghae langsung memandang Yoona terkejut.

“kau sudah mengetahuinya? Yak, bukankah kita berjanji untuk tidak mengetahui jenis kelaminnya, supaya menjadi kejutan ketika kelahirannya? Kau curang Yoong”, ucap Donghae cepat. Mereka sudah berjanji untuk tidak menanyakan kepada dokter kandungan Yoona apakah anak mereka namja atau yeoja.

“tidak. Aku tidak curang. Aku juga tidak menanyakannya pada dokter. Aku hanya bertanya saja oppa”, jelas Yoona kesal. Tidak suka dengan tuduhan suaminya itu.

“ohh begitu”, ucap Donghae tidak enak telah menuduh Yoona berbuat curang.

“jadi menurut oppa bagaimana?’, tanya Yoona lagi, walaupun masih ada nada kesal disana.

“mmm, kurasa yeoja”, ucap Donghae.

“aku juga merasa seperti itu. Akhir-akhir ini aku suka memakai pakaian yang cerah, dan suka berdandan”, ucap Yoona menyejutui pendapat Donghae.

“lalu oppa sudah menyiapkan nama untuknya?”, tanya Yoona lagi. Kini dia sudah kembali menyandarkan kepalanya didada bidang suaminya.

“jika dia memang yeoja aku akan memberi nama Lee Haena. Jika dia namja, Lee HaeJoon. Bagaimana?”, tanya Donghae meminta pendapat Yoona.

“mmmm, aku suka”, Yoona setuju.

“baiklah, ayo kita sarapan sayang”, ajak Donghae. Sepertinya namja itu sudah mulai kelaparan. Yoona mengangguk, ikut beranjak dari tempat tidur. Mereka berjalan keluar dari kamar menuju dapur.

 

>>>>>>>

“Chun-ah, bagun sayang”, ucap Sooyoung lembut. Akhir-akhir ini Sooyoung sangat suka bangun pagi-pagi lalu membangunkan Ji Chun untuk bersiap ke sekolah. Ji Chun yang berusia 7 tahun sudah mulai memasuki sekolah dasar dan Sooyoung sangat bersemangat ketika mendaftarkan Ji Chun kesebuah sekolah tidak jauh dari kompleks perumahan mereka.

“Pagi sayang”, ucap Sooyoung ketika Ji Chun sudah mulai membuka matanya. Ciuman hangat Sooyoung berikan dipipi anak kecil itu.

“pagi omma”, balas Ji Chun yang masih berusaha untuk membuka matanya.

“ayo, kau harus segera mandi dan bersiap-siap sekolah. Jika tidak kau akan terlambat”, ucap Sooyoung sambil membujuk anak itu agar segera beranjak dari tidurnya. Akhirnya Ji Chun mau turun dari tempat tidurnya, berjalan terseok-seok menuju kamar mandi.

“jangan lama-lama”, ingat Sooyoung karena Ji Chun jika mandi sendiri, akan memakan waktu sangat lama. Anak itu sangat suka bermain-main air dan sabun ketika mandi.

“Ne omma~”, balas Ji Chun, lalu menutup pintu kamar mandi. Setelahnya Sooyoung keluar dari kamar itu. Dia masih mempunyai satu tugas lagi. Membangunkan beruang kutub yang akhir-akhir ini selalu bermalas-malasan, bahkan sudah beberapa hari ini tidak masuk kerja. Suaminya – Cho Kyuhyun. Namja itu lebih suka berguling-guling diatas tempat tidur king size mereka, dibandingkan bekerja. Sejak Sooyoung dikabarkan hamil, namja itu jadi lebih sering menghabiskan waktunya dirumah dari pada dikantor.

“Kyu kau tidak ingin masuk kerja lagi?”, tanya Sooyoung ketika duduk ditepi tempat tidur mereka. Kyuhyun masih asik dengan dunianya dibalik selimut.

“mmm”, hanya itu jawaban dari namja itu. Sooyoung menghembuskan napas.

“kau ini kenapa sih? Biasanya kau lebih mencintai pekerjaanmu dari pada membuang-buang waktu bermalas-malasan seperti ini”, ucap Sooyoung kesal.

“jika sikapmu masih seperti ini, bagaimana nanti ketika anak kita lahir? Dia pasti malu memiliki appa yang malas bekerja”, tambah Sooyoung lagi, kali ini terdengar seperti omelan ditelinga Kyuhyun. Dengan cepat nama itu menarik tubuh istrinya itu kedalam pelukannya. Lalu mencium dengan ganas bibir istrinya itu, hanya beberapa detik, lalu terlepas.

“kau semakin cerewet”, ucap Kyuhyun, lalu dirapikannya rambut yang menutupi wajah gadis itu yang masih terdiam kaku. Lalu Kyuhyun memberikan senyum lebar kepada istrinya itu.

“biar kau tahu saja, aku masih mempunyai banyak uang untuk menafkahi keluarga kita. Bahkan tidak hanya untuk satu anak, sepuluh anak pun masih cukup. Jadi kau jangan khawatir soal masalah uang”, ucap Kyuhyun santai. Sooyoung membalas dengan wajah malas menghadapi kesombongan dari kata-kata yang suaminya ucapkan.

“bukan masalah soal uang. Tapi… tanggungjawab Kyu. Kau punya tanggungjawab besar sebagai presdir dikantor. Jika kau bermalas-malasan seperti ini, aku rasa itu bukan contoh yang baik bagi karyawanmu”, nasehat Sooyoung. Hingga beberapa menit tidak ada balasan dari namja itu. Sooyoung yang awalnya menenggelamkan wajahnya di dada suaminya itu, mendongak, menatap wajah Kyuhyun yang tampak seperti berpikir keras.

“kenapa kau diam?”, tanya Sooyoung.

“sedang memikirkan kata-katamu”, jawab Kyuhyun.

“yang kau katakan benar. Tapi aku juga memiliki tanggungjawab lain, yaitu keluargaku, terutama kau dan calon anak kita”, tambah Kyuhyun dengan diakhir kalimat yang terdengar sendu. Sooyoung mengerti perasaan suaminya yang khawatir dengan kehamilannya, yang dokter vonis lemah. Tapi Sooyoung sudah berjanji kepada Tuhan jika dia memang benar-benar hamil, dia akan menjaga kehamilannya dengan baik.

Sooyoung menaikkan tubuhnya keatas, agar sejajar dengan wajah Kyuhyun. Lalu dielusnya rahang suaminya itu. Mereka saling memandang. Kyuhyun dengan tatapan khawatirnya sedangkan Sooyoung dengan tatapan menyakinkan bahwa dia dan calon anak mereka akan baik-baik saja.

“aku akan menjaganya dengan segenap jiwaku. Jadi kau jangan khawatir”, ucap Sooyoung lembut.

“tapi aku juga ingin ikut menjaganya”, balas Kyuhyun. Sooyoung tersenyum membalas.

“kau sudah menjaganya. Jika kau dirumah, kau akan menjaganya. Tapi jika kau dikantor, biar aku yang menjaganya. Lagi pula kita memiliki satu jago lagi dirumah kita. Ji Chun terlihat sangat perhatian pada kehamilanku, katanya dia tidak sabar ingin bertemu dengan adiknya. Jadi kemanapun aku pergi, Chun akan selalu menemaniku, menjagaku”, ucap Sooyoung. Kyuhyun mengangkuk.

“ya, aku bangga menjadi appanya”, ucap Kyuhyun senang mendengar sikap Ji Chun yang selalu menjaga ommanya dan juga calon adiknya.

“jadi, kau akan ke kantor?”, tanya Sooyoung.

“izinkan aku satu hari lagi untuk menemanimu full 24 jam. Aku janji besok aku akan masuk kerja”, pinta Kyuhyun dengan wajah memohon. Dia masih ingin bersama dengan istrinya. Sooyoung menghembuskan napas berat.

“ya sudah kalau begitu. Tapi jangan tidur lagi. Selagi kau ada dirumah, ayo jalan pagi sekaligus mengantar Chun sekolah. Sejak Chun mulai masuk sekolah, kau belum pernah mengantarnya ke sekolah”, Kyuhyun seperti dilempar batuan besar ketika Sooyoung berkata seperti itu. Pasalnya karena kesibukannya, dia sering berangkat pagi-pagi kekantor, tidak pernah memberangkatkan anak pertamanya yang sudah mulai masuk sekolah. Kyuhyun langsung terduduk, sadar masih ada tugas yang lain lagi yang harus dilakukannya yaitu mengantar Ji Chun.

“kau benar. Baiklah, aku akan siap-siap”, jawab Kyuhyun dengan penuh semangat. Sooyoung tersenyum melihat tingkah suaminya yang seperti anak berumur lima tahun itu.

 

>>>>>>>

“morning jagoan”, sapa Kyuhyun pada Ji Chun yang sedang makan roti di meja makan, sudah rapi dengan setelan seragam sekolahnya. Memandang Kyuhyun, lalu tersenyum namun juga heran, karena tidak biasanya di jam tujuh pagi, appanya masih dirumah. Biasanya sudah tidak ada lagi dirumah, pergi ke kantor. Kyuhyun mengelus kepala namja kecil itu.

“morning appa”, balas Ji Chun. Kyuhyun duduk disamping Ji Chun, mengambil roti yang sudah diolesi selai cokelat. Lalu Sooyoung datang dari dapur membawakan tiga gelas susu. Meletakkannya satu persatu dihadapan Ji Chun, lalu ke Kyuhyun, dan terakhir untuknya.

“bagaimana sekolahmu? Apa kau sudah ada teman?”, tanya Kyuhyun, mencoba mencari tahu keseharian anaknya itu.

“mmm, ada appa. Min Hyuk. Tapi dia sangat cerewet, seperti yeoja. Terkadang membuatku kesal karena sangat berisik”, beritahu Ji Chun.

“tidak apa. Yang penting dia baik dan tidak menyakitimu”, balas Kyuhyun dan Ji Chun mengangguk setuju.

“oh ya, jika kau sudah selesai, appa dan omma akan mengantarmu sekolah. Sekalian omma ingin berjalan santai pagi ini”, jelas Sooyoung dan mata Ji Chun langsung membulat terkejut lalu memandang Kyuhyun yang sudah mengukirkan senyum diwajahnya.

“benarkah appa akan mengantarku sekolah?”, tanya anak itu serasa masih kurang yakin dengan pendengarannya. Dan Kyuhyun membalasnya dengan anggukan. Ji Chun terdiam sejenak, lalu anak itu dengan cepat menghabiskan susu dan rotinya, kemudian beranjak meraih tasnya.

“ayo appa, omma. Aku sudah siap”, ajak anak itu dengan penuh semangat. Kyuhyun dan Sooyoung tersenyum lebar melihat Ji Chun.

 

>>>>>>>

Lobby rumah sakit tampak sangat ramai, sehingga mempersulit langkah dari seorang namja. Wajahnya penuh dengan kepanikan dan kehawatiran.

“maaf”, ucap Donghae ketika tidak sengaja menabrak seorang. Dan setelahnya namja itu kembali berlari. Sesampainya di depan sebuah ruangan, Donghae langsung disambut oleh keluarga Lee dan Im yang menunggu di depan ruangan itu.

“omma”, panggil Donghae. Ny Lee langsung berdiri, langsung memeluk putranya itu.

“Yoona masih dalam pemeriksaan dokter. Omma sangat panik ketika dia tiba-tiba menjerit kesakitan. Padahal ketika kami memasak bersama, Yoona masih dalam keadaan baik-baik saja. bagaimana ini?”, ucap wanita paruh baya itu. Donghae mengelus punggung ommanya itu. Menenangkan, walaupun sebenarnya dirinya sendiri pun dalam keadaan tidak baik.

“Yoona akan baik-baik saja omma. Yoona yeoja yang kuat”, ucap Donghae sekaligus sebagai doanya. Ny Im dalam pelukan Tuan Im sedang tersedu-sedu.

Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, memunculkan wajah dokter kandungan Yoona dan juga beberapa suster yang mendorong tempat tidur. Diatas tempat tidur itu Yoona berbaring lemah. Donghae langsung menghampiri dokter itu.

“dokter bagaimana keadaan istri saya?”, tanya Donghae.

“istri anda sudah memasuki pembukaan ke lima. Tapi sepertinya posisi kepala bayinya belum tepat. Jadi kami harus melakukan operasi”, jelas dokter itu.

“saya mohon, lakukan yang terbaik”, mohon Donghae pada dokter itu. Dokter itu mengangguk, menyanggupi. Donghae berjalan menghampiri Yoona yang masih setengah sadar. Digenggamnya tangan istrinya itu, berharap dapat menyalurkan tenaga kepada Yoona. Diciumnya kening Yoona lembut. Yoona memandang Donghae dengan senyum.

“kau pasti bisa. Kau harus kuat demi anak kita Yoong”, ucap Donghae.

“ne oppa~”, balas Yoona lemah.

“Tuan Lee, kami harus segera membawa istri anda keruang operasi”, dokter menginterupsi interaksi calon orangtua baru itu. Donghae pun melepas genggaman tangannya. Ny Im menghampiri Yoona, mengelus pipi putrinya itu.

“omma sudah mengalami semua ini, dan omma berhasil melahirkan putri yang cantik. Jika omma bisa, kau juga pasti bisa. Kau harus berjuang sayang”, semangat Ny Im. Yoona tersenyum, dengan air mata yang sudah mengalir dipipinya.

“ayo, cepat”, perintah suster salah satu suster kepada suster yang lain untuk segera mendorong tempat tidur itu menuju ruang operasi yang tidak jauh dari ruangan tempat Yoona menjalani pemeriksaan tadi. Yoona sudah masuk ke dalam ruang operasi. Donghae mulai panik, dan mondar-mandir didepan pintu operasi. Namja itu tidak ada persiapan untuk menghadapi kondisi dadakan seperti ini. Dia tidak menyangka jika hari inilah Yoona akan melahirkan. Karena dokter memeriksa kandungan Yoona mengatakan Yoona akan melahirkan beberapa minggu lagi. Tadinya Donghae sedang menghadiri rapat para pemegang saham. Tapi mendengar kabar Yoona masuk rumah sakit, Donghae dengan sangat bersalah, meminta maaf kepada seluruh anggota rapat karena dia harus meninggalkan rapat. Bagi Donghae tidak ada yang lebih penting selain keluarganya.

“Hae duduklah. Bukankah kau yang mengatakan Yoona akan baik-baik saja?”, Tuan Im menepuk bahu Donghae.

“appa~”, ucap Donghae dengan mata yang berkaca-kaca.

“percayalah, Yoona akan baik-baik saja”, ucap Tuan Im menenangkan. Akhirnya Donghae duduk, memandang terus pintu ruang operasi itu.

 

Hingga dua jam lebih, mereka menunggu operasi Yoona selesai. Dan kepanikan Donghae kembali muncul karena operasi Yoona tak kunjung selesai.

“ahhkkk, kenapa lama sekali”, gumam Donghae.

“bersabarlah Donghae”, ucap Tuan Lee.

“tapi appa, ini sudah terlalu lama. Bagaimana jika terjadi sesuatu? Bagaimana jika Yoona tidak selamat, atau anak kami tidak selamat?”, Donghae mulai terlihat frustasi.

“itu tidak akan terjadi Hae. Tenanglah”, kali ini Tuan Im kembali menenangkan. Dan bertepatan dengan itu, pintu ruang operasi terbuka. Dokter keluar sambil melepas maskernya.

“Dokter”, panggil mereka semua. Dokter itu tersenyum dan dengan senyum itu, semua orang yang ada disana langsung bernapas lega. Bahkan Donghae hampir terjatuh karena kakinya yang bergetar.

“selamat Tuan Lee. Anak anda lahir dengan selamat juga dengan ibunya”, ucap dokter itu sambil menjabat tangan Donghae.

“anak anda akan dibawa keruang incubator untuk sementara dan istri anda akan dibawa kembali keruang rawat. Ny Lee masih dalam pengaruh bius, jadi kita harus menunggu sampai istri anda sadarkan diri”, jelas dokter itu.

“tapi istri saya tidak kenapa-kenapa kan dokter?”, tanya Donghae.

“Ny Lee baik-baik saja”, jawab dokter itu. Barulah Donghae dapat bernapas lega.

“terima kasih dokter. Terima kasih banyak”, ucap Donghae sambil membungkuk sembilan puluh derajat. Setelah dokter itu pergi, Yoona yang terbaring ditempat tidur keluar didorong oleh beberapa suster. Donghae pun dengan sigap membantu mendorong tempat tidur Yoona menuju ruang rawat.

 

Malam sudah tiba, Yoona tersadar dari tidurnya. Yoona mengedarkan pandangannya pada sekeliling. Semua tampak serba putih. Lalu Yoona tersenyum ketika pandangannya jatuh pada sebuah sofa yang ditiduri oleh seorang namja. Terlihat namja itu tidak nyaman dengan posisi tidurnya dengan kaki yang dilipat, agar muat pada panjang sofa yang sebenarnya tidak sesuai dengan tinggi tubuhnya.

“oppa~”, panggil Yoona. Tapi tidak ada reaksi dari namja itu.

“Donghae oppa~” panggil Yoona lagi. Dan kali ini mata namja itu terbuka berlahan. Lalu matanya langsung tertuju pada Yoona yang tersenyum. Dengan cepat namja itu – Donghae, langsung berdiri melangkah cepat mendekati tempat tidur Yoona.

“oh kau sudah sadar? Kau memerlukan sesuatu sayang?”, tanya Donghae. Yoona mengangguk.

“aku haus”, ucap Yoona lemah. Donghae membantu Yoona bersandar ditempat tidur rumah sakit yang sudah disetting sedikit melengkung. Lalu Donghae membantu Yoona minum berlahan dengan bantuan sedotan.

“ada yang kau perlukan lagi?”, tanya Donghae.

“dimana anak kita oppa?”, tanya Yoona. Donghae tersenyum.

“dia masih diruang incubator. Haena baik-baik saja, dia putri yang sangat cantik”, ucap Donghae.

“Haena? Anak kita yeoja?”, tanya Yoona dan Donghae mengangguk.

“aku sangat ingin melihatnya oppa”, ucap Yoona. Donghae memperhatikan wajah Yoona yang masih pucat pasca selesai operasi.

“tapi kau baru sadar Yoong. Apa tidak lebih baik jika kau istirahat dulu, besok pagi suster pasti akan membawa putri kita kesini”, ujar Donghae. Yoona langsung menggeleng.

“aku sudah baik-baik saja oppa. Aku ingin melihat Haena”, ucap Yoona lagi. Kali ini disertai dengan nada suara memelas. Donghae mendesah berat.

“tunggu sebentar”, ucap Donghae. Lalu namja itu berlari keluar, menghilang dibalik pintu. Beberapa menit kemudian, Donghae kembali sambil mendorong kursi roda.

“aku tadi bertanya pada suster apa kau bisa keluar, dan untung saja bisa”, ucap Donghae. Yoona langsung tersenyum senang. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan buah hatinya itu. Donghae memindahkan infus digantungan kursi roda, lalu dengan hati-hati mengangkat tubuh Yoona dari tempat tidur, meletakkannya dikursi roda. Merasa Yoona sudah nyaman, dengan berlahan Donghae mendorong kursi roda itu keluar.

 

“dia sangat cantik”, seru Yoona dari balik kaca yang membatasi dirinya dengan incubator putri mungil mereka.

“ya, secantik ibunya”, balas Donghae. Pipi Yoona langsung merona, memerah. Donghae terkekeh melihat pipi istrinya yang memerah. Dengan cepat mengecup kening istrinya.

“terima kasih, sudah berjuang dan memberikan hadiah terindah ini”, ucap Donghae. Yoona tersenyum lebar, memandang mata suaminya yang berbinar bahagia. Lalu memandang wajah putrinya yang tertidur lelap. Terimakasih Tuhan, batin Yoona mengucap bersyukur.

 

>>>>>>>

5 Tahun Kemudian

“unnie, aku mau lagi”, ucap gadis yang lebih muda sambil merengek.

“tidak boleh. Ini punya Chun oppa”, ucap gadis yang lebih tua hampir setahun itu. Mendapat penolakan, mata gadis yang lebih muda langsung berkaca-kaca dengan bibir yang maju kedepan, cemberut. Melihat itu gadis yang lebih tua – Haena, langsung panik. Takut Ji Won menangis. Dengan cepat Haena memberikan kue cokelat milik Ji Chun kepada Ji Won. Dan benar saja dalam sekejap mata Ji Won langsung berbinar senang. Sedangkan Haena mendesah berat. Apa yang harus dikatakannya pada Ji Chun jika namja itu menagih kue cokelatnya. Yang sekarang sudah tinggal setengah, karena setengahnya lagi sudah masuk ke mulut Ji Won, adik Ji Chun.

Melihat Ji Won makan dengan lahap membuat Haena kesal. Dengan langkah kaki yang dihentak-hentakkan, Haena duduk disamping ibunya. Yoona yang awalnya sedang merangkai bunga di vas, memandang putrinya dengan kening berkerut.

“ada apa dengan wajah cantik putri omma?”, tanya Yoona, Haena menggeleng. Masih tidak ingin cerita apa-apa. Yoona lalu meraih setangkai bunga mawar putih dan setangkai bunga lily. Menunjukkannya didepan putrinya itu.

“menurut Haena mana yang lebih cantik?”, tanya Yoona. Haena memandang Yoona sejenak, lalu memandang kedua tangkai bunga itu. Beberapa detik kemudian Haena menunjuk bunga mawar putih. Yoona tersenyum, lalu mengangguk, meletakkan bunga itu pada vas bunga.

“jadi… Haena mau membantu omma memilih bunga-bunga ini?”, tanya Yoona. Haena dengan cepat mengangguk. Haena sangat menyukai bunga dan suka berkebun. Ketika Yoona sedang merawat taman bunga di pekarangan rumah, maka dengan semangat Haena akan ikut bergabung. Menyiram bunga, mencabut rumput-rumput liar, juga memetik bunga untuk hiasan di rumah.

“omma~”, panggil Haena ketika mereka sedang asik merangkai bunga-bunga.

“mmm?”, jawab Yoona.

“jika Haena berbuat salah, apa bisa minta maaf dengan bunga?”, tanya Haena. Yoona langsung memandang Haena dengan kening berkerut.

“Haena berbuat salah pada siapa?”, tanya Yoona hati-hati. Menghadapi putrinya itu harus ekstra lembut, tidak boleh dengan paksaan. Jika tidak, jangan harap putrinya itu mau berbicara selama beberapa hari. Haena gadis yang sangat sensitive tapi bukan berarti cengeng. Hanya saja Haena terlalu peka dengan lingkungannya.

“Ji Chun oppa”, ucap Haena singkat. Yoona mengangguk.

“biasanya jika appa berbuat salah pada omma, appa akan memberikan bunga lily ini pada omma. Dan omma akan langsung memaafkan appa”, ucap Yoona sambil menyerahkan setangkai bunga lily pada Haena. Gadis kecil itu ragu sejenak, namun kemudian meraih bunga itu.

“apa menurut omma, Chun oppa akan memaafkan Haena?”, tanya Haena lagi.

“tentu. Tapi memangnya apa kesalahan yang Haena buat?”, tanya Yoona merasa yakin jika suasana hati Haena sudah mulai melunak.

“mmm, itu… tadi sebelum Chun oppa pergi bermain, dia meminta Haena menyisihkan satu kue cokelat yang omma masak tadi untuknya. Tapi tiba-tiba Ji Won meminta kue cokelat lagi. Padahal itu tinggal untuk Chun oppa. Haena sudah mengatakan pada Ji Won itu punya oppa, tapi Ji Won merengek dan hampir menangis. Akhirnya Haena memberikannya. Omma, bagaimana jika Chun oppa marah?”, ucap Haena dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Yoona mengelus rambut panjang Haena dengan lembut sambil memberi senyum.

“tidak apa-apa sayang. Chun oppa tidak akan marah. Asalkan Haena mau memberitahu yang sebenarnya. Bisa juga dengan memberi bunga ini”, saran Yoona. Haena masih terdiam, lalu memandang wajah ibunya sesaat. Yoona mengelus pipi Haena lembut. Haena benar-benar sangat sensitive. Padahal ini bukanlah salahnya, tapi gadis kecil itu merasa itu adalah kesalahannya.

“omma~ aku pulang”, teriak seorang namja dari arah pintu masuk. Dengan serentak Yoona dengan Haena memperhatikan kearah ruang tamu, hingga memunculkan seorang namja dengan baju bola sambil menenteng sepatu dan juga sebuah bola.

“ohh kau sudah pulang? Aigo, kau bermain bola atau bermain lumpur Chun-ah. Ayo cepat mandi”, ucap Yoona sambil memperhatikan baju Ji Chun yang sangat kotor. Ji Chun senyum hingga deretan gigi putihnya yang rapi terlihat.

“SIAP OMMA”, ucap Ji Chun sambil memperagakan gerakan menghormat ala militer. Yoona tertawa dengan kelakuan Ji Chun. Lalu pandangan Yoona beralih pada putrinya yang masih diam sedari tadi. Yoona menyentuh bahu Haena, lalu mengarahkan dagunya kearah perginya Ji Chun. Lalu Haena pun berlari kearah Ji Chun menghilang.

 

“oppa”, panggil Haena. Ji Chun yang sudah hampir masuk ke kamar mandi menoleh, memandang Haena.

“wae?”, tanya Ji Chun. Haena terdiam sejenak, berpikir apa yang harus dikatakannya pertama kali.

“wae? Kau sakit?”, tanya Ji Chun menghampiri Haena yang masih tetap diam. Haena menggeleng.

“lalu?”, tanya Ji Chun.

“mmm, itu… kue cokelat punya oppa”, ucap Haena ragu.

“ohh, kue cokelat. Kebetulan sekali, oppa sudah lapar. Oppa akan memakannya nanti”, ujar Ji Chun.

“oppa~”, ucap Haena sendu. Menyadari nada suara Haena yang berbeda, Ji Chun memandang Haena.

“itu… kue cokelatnya sudah habis. Tapi sungguh aku sudah menyisihkan satu untuk oppa. Tapi…tapi Ji Won meminta punya oppa. Karena tidak ingin Ji Won menangis, Haena memberikannya”, jelas Haena dengan sedikit tergagap. Hening, tidak ada percakapan lagi. Dengan berlahan Haena mendongak memandang namja yang lebih tinggi darinya itu. Ji Chun tersenyum lebar bahkan hampir terkekeh. Lalu Ji Chun mengacak rambut Haena.

“aigo, kau sangat lucu”, seru Ji Chun, gemas dengan tingkah Haena.

“Tapi oppa..”,

“tidak apa-apa. Haena tidak bersalah. Gomawo karena tidak membiarkan Ji Won sampai menangis. Dan soal kue… oppa akan merayu omma, agar omma mau membuatkannya lagi”, ucap Ji Chun. Haena langsung merasa lega. Senyum sudah terbit diwajah mungilnya.

“ohh iya. Kata omma, ketika appa berbuat salah, appa akan memberikan bunga ini untuk minta maaf”, ucap Haena sambil memberikan bunga lily yang digenggamnya. Ji Chun meraih bunga itu.

“gomawo”, ucap Ji Chun.

“jadi oppa memaafkan Haena?”, tanya Haena dibalas anggukan dari Ji Chun. Haena langsung tersenyum senang.

“omma~ Chun oppa sudah memaafkan Haena”, teriak Haena karena terlalu senang, berlari menuju dapur tempat Yoona merangkai bunga. Sedangkan Ji Chun tertawa mendengar teriakan gadis itu.

 

>>>>>>>

Mereka kini sedang makan bersama. Ji Chun, Haena, Ji Won yang dibantu oleh Yoona. Tadi pagi Kyuhyun dan Sooyoung menitipkan Ji Chun dan Ji Won dirumahnya kerena mereka harus ke Busan, Ny Cho tiba-tiba sakit. Jadilah, Yoona yang menjaga Ji Chun dan Ji Won. Untuk Ji Chun Yoona tidak perlu kontrol yang berlebihan. Ji Chun tumbuh dengan baik dengan didikan Kyuhyun dan Sooyoung. Namun Ji Won cukup berbeda. Gadis kecil itu cukup rewel dan banyak maunya. Tapi karena Yoona sudah terbiasa menjaga Ji Won dan juga Haena yang dengan bijak berperan sebagai kakak bagi Ji Won, sangat membantu pekerjaan Yoona dalam menjaga Ji Won.

“ohhh, kalian ternyata disini”, seru seorang namja dengan suara berat yang tiba-tiba memasuki dapur. Semua yang ada didapur itu langsung menoleh kearah suara itu.

“appa~”, teriak Haena senang. Berlari menghampiri Donghae dan dengan sigap Donghae menggendong putrinya itu. Haena memberikan kecupan dipipi Donghae.

“ohh putri appa yang cantik”, ucap Donghae. Kemudian Donghae beralih kebawah ketika merasa celananya ditarik-tarik. Donghae langsung tersenyum ketika melihat Ji Won menarik-narik celananya. Donghae pun ikut menggendong gadis kecil itu. Haena di lengan kanan dan Ji Won dilengan kiri.

“aigo aigo, putri-putri appa ini sepertinya semakin berat saja”, ucap Donghae ketika merasa kesulitan menyeimbangkan tubuhnya karena Haena dan Ji Won bergerak-gerak sambil memeluknya.

“Ji Won sudah makan?”, tanya Donghae lembut pada Ji Won.

“Ne appa. Dibantu Yoong omma”, ucap Ji Won.

“bagus. Lalu Haena?”, tanya Donghae pada putrinya.

“sedikit lagi appa”, jawab Haena.

“baiklah, appa harus mandi. Appa sudah bau”, ucap Yoona untuk menyudahi acara gendong-gendong itu. Donghae pun menurunkan kedua gadis kecil itu. Dan keduanya langsung kembali duduk ditempat duduknya semula.

“ohh, ternyata pangeran juga disini”, seru Donghae sambil mengacak rambut Ji Chun.

“appa~ aku bukan anak kecil lagi”, balas Ji Chun tidak suka dengan sebutan pangeran yang selalu Donghae lontarkan untuknya.

“baiklah jagoan. Jangan marah. Jadi berapa gol untuk hari ini?”, tanya Donghae ketika ingat tadi siang pertandingan sepak bola sekolah Ji Chun dengan sekolah tetangganya.

“tiga. Dua dariku dan satu lagi dari Minhyuk”, jawan Ji Chun sambil membanggakan diri.

“owww, tentu saja. kau anak appa, kau yang terbaik”, jawab Donghae juga ikut bangga. Pasalnya Donghaelah yang mengajari Ji Chun bermain bola. Kyuhyun? Jangan tanya namja itu. Kyuhyun sangat payah dalam bidang olahraga. Karena Ji Chun hobby bermain bola, jadi Donghae yang juga gemar bermain bola, yang mengajarinya. Tapi jika sudah berurusan dengan akademik, barulah Kyuhyun yang turun tangan. Sebagai appa mereka membagi tugas dengan baik untuk mengurus anak-anak mereka.

“appa mandilah. Appa bau”, ucap Ji Chun dan langsung membuat Donghae sedikit kesal.

“aish anak ini..”, Donghae mendesis.

“stop. Jangan bertengkar. Oppa, cepatlah mandi dan Ji Chun, lanjutkan makanmu”, Yoona langsung menyela ucapan Donghae yang Yoona yakini akan berujung pada perdebatan diantara kedua namja beda generasi itu. Yoona heran dengan suaminya itu, jika sudah bersama dengan Ji Chun, Donghae menjadi seperti namja berumur lima tahun, kekanak-kanakan. Kedua namja itu langsung tersigap mendengar interupsi Yoona dan mereka melakukan perintah Yoona,

“nah, Haena, Ji Won setelah ini jangan lupa untuk menggosok gigi ya”, ingat Yoona pada kedua gadis kecil yang ada disana.

“Haena, bantu Ji Won ooo”, ujar Yoona.

“ne omma”, balas Haena.

“Won-ah, ayo”, ajak Haena pada Ji Won dan kedua gadis itu pun beranjak ke kamar mandi.

“kau juga Chun”, ingat Yoona juga pada Ji Chun yang merapikan piring yang ada dimeja agar Yoona lebih mudah mengangkutnya ke washtafel.

“Ne omma”, jawan Ji Chun.

“good boy”, ucap Yoona mengelus rambut pendek namja itu.

Lalu Yoona beranjak menuju kamar, menyiapkan baju tidur Donghae. Dan mengajak suaminya itu untuk makan bersama. Yoona yang berpikir Donghae mungkin sudah hampir selesai mandi, malah terkejut melihat namja itu sedang tidur diatas tempat tidur tanpa melepas baju kantornya terlebih dahulu.

“oppa”, panggil Yoona. Donghae bergerak sedikit, lalu memandang Yoona yang berlahan menghampirinya.

“mmm”, jawab Donghae.

“wae?”, tanya Yoona ketika melihat wajah pucat suaminya itu. Padahal tadi ketika tiba dirumah, Donghae baik-baik saja, ya walaupun wajah pucat itu sudah ada. Tapi tadi Donghae masih memiliki tenaga menggendong Haena dan Ji Won sekaligus bahkan masih bersemangat untuk berdebat dengan Ji Chun. Tapi sekarang yang ada hanya Donghae yang lemah dengan wajah pucat. Yoona duduk ditepi tempat tidur. Menyentuh kening Donghae. Demam. Kening Donghae terasa sangat panas.

“oppa demam”, ucap Yoona. Donghae hanya mengangguk.

“Ganti bajulah oppa. Aku akan mengambil kompres dan makan malam agar oppa dapat meminum obar”, ucap Yoona lagi. Yeoja itu langsung beranjak cepat keluar kamar.

Yoona menyiapkan air dan handuk kecil di dapur juga nasi dimangkuk dan segelas air minum, meletakkan semuanya dalam satu nampan. Lalu mengambil kotak P3K dari lemari dekat dapur. Yoona berhenti sejenak lalu melangkah mendekati kamar Haena. Mencheck apa anak-anak sudah tidur atau belum.

Yoona membuka pintu kamar Haena berlahan, takut membangunkan kedua gadis kecil yang ada disana. Yoona mengerutkan kening ketika masih ada gadis yang belum tidur.

“Haena kenapa belum tidur”, tanya Yoona ketika mendekati tempat tidur putrinya itu. Ji Won sudah tertidur pulas disamping Haena, sedangkan Haena duduk sambil menggambar sesuatu dibuku gambarnya.

“appa dimana omma?”, tanya Haena. Yoona mendesah berat. Haena sudah terbiasa sebelum tidur ditemani oleh Donghae dan Yoona sekedar bercerita atau bercanda-canda. Sekarang Donghae tidak bisa menemani Haena dan percuma saja Yoona berbohong pada putrinya itu, yang ada Haena akan semakin penasaran dengan keberadaan appanya itu.

“appa sedang sakit. Haena ingin bertemu sebentar?”, tanya Yoona. Haena terkejut, langsung turun dari tempat tidur.

“ayo omma”, ajak Haena. Yoona merapikan posisi tidur Ji Won dan juga selimutnya. Kemudian mengecup kening gadis kecil itu.

“mimpi indah sayang”, bisik Yoona pada Ji Won. Lalu melangkah menyusul Haena yang sudah keluar kamar terlebih dahulu. Ketika keluar dari kamar Yoona bertemu dengan Ji Chun.

“omma, ada apa? Kenapa Hena berlari seperti itu?”, tanya Ji Chun langsung ketika melihat Haena berlari kekamar appa dan ommanya.

“appa sakit”, jawab Yoona. Ji Chun terdiam sebentar, keningnya berkerut.

“tidak apa-apa. Hanya demam. Tolong bantu omma”, tambah Yoona. Ji Chun mengangguk. Mengikuti langkah Yoona kedapur. Yoona menyerahkan kotak P3K pada Ji Chun dan dirinya sendiri membawa nampan.

Setibanya dikamar, Haena sudah ada dalam pelukan Donghae. Dan gadis kecil itu menangis. Donghae tersenyum sambil mengelus rambut putrinya itu. Haena memang selalu menangis jika salah satu orang tuanya ada yang sakit.

“appa tidak apa-apa sayang. Besok pasti sembuh”, ucap Donghae sambil menenangkan.

“dia langsung menangis ketika masuk”, ucap Donghae pada Yoona yang sedang meletakkan nampan diatas meja dekat tempat tidur.

“dia mencarimu tadi. aku tidak bisa berbohong, jadi ku beritahu saja oppa sakit”, jawab Yoona, Donghae mengangguk.

“kau belum tidur juga jagoan”, sapa Donghae pada Ji Chun yang duduk disisi tempat tidur.

“kenapa appa sangat mudah sakit”, ucap namja itu dingin.

“bagaimana appa bisa menjaga omma dan Haena jika appa sakit terus”, tambah Ji Chun.

“ckkkk, anak ini”, Donghae mendesis dengan ucapan Ji Chun.

“bukankah kita ada pertandingan dua hari lagi? Jika seperti ini kemenangan sudah jelas ada ditanganku. Dan appa kalah”, ucap Ji Chun lagi. Mengingatkan Donghae, bahwa dirinya menantang Ji Chun bermain bola dua hari lagi.

“jangan terlalu berharap. Appa tidak akan kalah semudah itu Chun-ah. Lihat saja besok appa pasti sudah sembuh. Kau cukup bersiap diri saja menahan serangan dari appa”, balas Donghae. Ji Chun menggangguk santai. Tidak takut dengan gertakan Donghae. Yoona yang hanya sebagai pendengar, hanya bisa menggeleng melihat perdebatan kedua namja itu.

“Haena, jika Haena terus menangis appa tidak akan bisa istirahat dan akan sakit terus”, ucap Yoona membujuk putrinya itu.

“benar yang omma katakan. Appa harus cepat sembuh, agar bisa menemani Haena lagi tidur dan juga bisa melawan oppa mu yang tampan ini”, ucap Donghae sambil melirik Ji Chun. Haena mendudukkan dirinya. Menatap Donghae masih dengan air mata yang mengalir dipipinya. Donghae menghapusnya lembut.

“Haena harus kembali kekamar dan tidur ooo”, ucap Donghae. Haena pun mengangguk.

“jagoan, appa minta tolong temani adikmu sampai dia tertidur”, pinta Donghae pada Ji Chun.

“Ne”, jawan Ji Chun. Dia lalu melangkah, tapi tiba-tiba berhenti. Berbalik menghadap Donghae. Mengulurkan tangan kanan dengan jari yang mengepal kehadapan Donghae.

“berjanjilah, besok appa akan sembuh”, ucap Ji Chun pelan. Donghae tersenyum. Walaupun mereka selalu berdebat dan beradu mulut, tapi Donghae tahu Ji Chun menyayanginya sebagaimana dirinya juga menyayangi anak itu.

“tentu”, jawab Donghae dengan mengarahkan kepalan tangannya, menumbruk kepalan tangan Ji Chun yang mengarah kepadanya.

“cepat sembuh appa”, ucap Ji Chun cepat dan langsung membawa Haena keluar dari kamar tanpa menunggu balas dari Donghae. Anak itu selalu malu menunjukkan perhatiannya pada Donghae. Dan Donghae tidak keberatan dengan itu, Donghae malah senang.

“selamat tidur appa”, ucap Haena yang masih dapat Donghae dengar walau pintu kamarnya sudah tertutup.

“selamat tidur juga sayang”, balas Donghae dengan sedikit berteriak. Karena terlalu bersamangat berteriak, hingga namja itu terbatuk-batuk. Lalu Donghae bersandar dikepala tempat tidur.

“cckk, oppa seperti anak kecil”, ucap Yoona sambil memukul pelan lengan namja itu. Donghae terkekeh mendengar ucapan Yoona.

“itu karena mereka sangat menggemaskan. Membuat tenagaku langsung meluap-luap ketika bertemu dengan mereka”, jawab Donghae. Yoona mengabaikan celotehan suaminya itu, lebih berminat mengompres kening Donghae.

“Kyuhyun dan Sooyoung belum pulang?”, tanya Donghae.

“tadi Sooyoung mengirim pesan mereka akan pulang sore hari. Mungkin mereka sudah dalam perjalanan”, jawab Yoona.

“kau pasti lelah”, ujar Donghae.

“lelahku tidak sebanding dengan lelah oppa yang seharian dikantor”, jawab Yoona sambil merapikan rambut Donghae yang basah karena air yang keluar dari handuk kompres itu.

“kemari”, ajak Donghae membawa tubuh Yoona mendekat. Cup~

Dengan cepat Donghae mengecup bibir Yoona. Mata Yoona membulat, terkejut dengan tindakan cepat suaminya itu.

“itu obat agar lelahmu berkurang”, ucap Donghae dengan senyum.

“itu hanya akal-akalan oppa saja. Dasar mesum”, balas Yoona. Donghae langsung terkekeh karena istrinya tahu maksud lain dari ciumannya.

“sungguh itu obat. Karena aku sudah menghilangkan lelahmu, sekarang giliranmu yang menghilangkan lelahku”, ucap Donghae. Yoona langsung menggeleng.

“tidak. Oppa segera makan dan minum obat. Lalu tidur”, ucap Yoona cepat.

“ayolah. Sekali saja, ani, dua kali”, tawar Donghae.

“tidak oppa”

“Yoong, ayolah”, kali ini Donghae merengek. Benar-benar kekanak-kanakan.

“baiklah. tapi sekali saja”, ucap Yoona menyerah.

“atau tidak sama sekali”, tambah Yoona cepat ketika Donghae ingin protes. Yoona merapikan rambut Donghae yang menutupi kening namja itu. Yoona mendekatkan wajahnya mendekati wajah Donghae. Hingga jarak wajah mereka tinggal beberapa centi lagi tiba-tiba terdengar bel pintu. Donghae mengerang kesal. Kenapa harus ada yang mengganggu ketika moment romantisnya hampir terjadi.

“itu pasti Sooyoung dan Kyuhyun”, ucap Yoona langsung beranjak keluar dari kamar. Meninggalkan Donghae yang menggerutu.

 

Yoona membuka pintu, dan benar. Kedua sahabatnya itu yang datang.

“aigo, diluar sangat dingin”, ucap Sooyoung langsung masuk begitu saja.

“maaf karena sudah menyusahkan kalian”, ujar Kyuhyun yang ikut masuk.

“tidak apa. Kenapa kalian malam sekali sampainya?”, tanya Yoona.

“kami terjebak macet Yoong”, jawab Sooyoung dan Yoona mengangguk.

“jadi bagaimana keadaam Cho ajumma?”, tanya Yoona lagi.

“sudah baikan. Tekanan darah terlalu rendah kerena kelelahan saja”, jawab Kyuhyun.

“ohh syukurlah”, ucap Yoona.

“jadi mana anak-anak?”, tanya Kyuhyun.

“Ji Won sudah tertidur. Sepertinya terlalu lelah bermain sehingga dia tertidur cepat. Ji Chun sepertinya masih menemani Haena. Donghae oppa sakit, jadi tidak bisa menemani Haena tidur”, jawab Yoona.

“ohh, Donghae hyung sakit?”, tanya Kyuhyun.

“hanya demam. Mungkin kelelahan karena proyek kemarin”, jawab Yoona lagi.

“kalian tidak ingin menginap saja? ini sudah terlalu malam untuk kalian pulang”, saran Yoona sambil melangkah mendekati kamar Haena.

“tidak apa-apa. Kami sudah terlalu merepotkan kalian”, ujar Kyuhyun.

“ohh, sepertinya dia sangat lelah”, ucap Sooyoung ketika melihat putrinya yang tertidur disamping Haena. Sedangkan Ji Chun tertidur dengan terduduk disamping tempat tidur.

“dia berlari kesana kemari. Bahkan Haena tidak sanggup mengimbanginya. Dia persis sepertimu Soo, sangat energic”, ucap Yoona. Mereka tersenyum memandang anak-anak mereka.

“ohh dan lihat mereka. Tidakkah menurut kalian Ji Chun dan Haena cocok”, ujar Sooyoung tiba-tiba.

“Soo~ jangan memulainya lagi”, peringat Kyuhyun pada istrinya yang suka mengkhayal dan berfantasi dengan dunianya yang terkadang diluar batas.

“apa? Kalian tidak merasakan aura dari mereka? Ji Chun akan tumbuh menjadi namja yang tampan dan hebat. Haena akan tumbuh menjadi yeoja cantik, pintar dan juga digilai para namja. Bukankah jika kita menjodohkan mereka, mereka akan menjadi pasangan yang sempurna”, Sooyoung mengerukan pendapatnya.

“mereka masih terlalu kecil untuk mengerti hal-“, ucapan Kyuhyun terpotong.

“tidak buruk”, seru Yoona. Membuat Sooyoung dan Kyuhyun terkejut dengan mata membulat memandang Yoona tidak percaya dengan apa yang baru saja Yoona ucapkan. Pasangan itu tahu, Yoona tidak begitu suka dengn hal-hal yang berbau romance.

“tidak ada salahnya. Aku sudah mengenal Chun dari kecil, dan aku percaya padanya untuk menjaga Haena kami”, jelas Yoona.

“tapi ini masih terlalu awal untuk kita membahasnya”, ucap Kyuhyun.

“ya kau benar. Tunggu mereka sampai tumbuh menjadi orang-orang hebat kelak”, balas Yoona. Kyuhyun berlahan mengangkat tubuh Ji Won, masuk dalam pelukannya. Sedangkan Sooyoung mencoba membangunkan Ji Chun.

“Chun-ah. Bangun sayang”, ucap Sooyoung pelan agar Haena tidak terbangun. Ji Chun membuka matanya berlahan, menguceknya beberapa kali.

“ohh omma dan appa sudah pulang”, ucap Ji Chun. Sooyoung mengangguk

“ayo pulang, appa sudah menunggu”, ajak Sooyoung.  Ketika Sooyoung dan Ji Cuhn beranjak keluar kamar, Yoona merapikan selimut yang menutupi tubuh Haena, mengecup kening putrinya itu. Lalu beranjak menuju ruang tamu. Kyuhyun dan Ji Won dalam gendongannya sudah menunggu.

“baiklah kami pulang. Sampaikan salam kami pada hyung. Dan semoga cepat sembuh”, ucap Kyuhyun.

“gomawo Yoong untuk hari ini”, ucap Sooyoung.

“mmm, tidak apa. Hati-hati”, ucap Yoona.

“selamat malam omma. Sampaikan salamku pada appa”, ucap Ji Chun. Yoona mengecup kening Ji Chun.

“selamat malam juga sayang. Mmm omma akan sampaikan pada appa”, ujara Yoona. Yoona mengantar mereka hingga mobil silver yang membawa keluarga Cho itu tidak terlihat lagi. Yoona kembali ke kamar untuk melihat kondisi Donghae. Yeoja itu menghampiri tempat tidur dimana Donghae sudah berbaring, sepertinya sudah tidur. Donghae sudah meminum obatnya. Terbukti dari mangkuk nasi yang sudah tandas dan bungkus pil obat yang sudah terbuka.

Dalam posisi berdiri disamping tempat tidur, Yoona membungkuk lalu meletakkan telapak tangannya di kening Donghae untuk memastikan demam suaminya itu sudah turun atau tidak. Yoona lega karena demam Donghae sudah turun. Hingga beberapa menit berlalu yeoja itu masih dalam posisinya yang membungkuk dengan wajah yang dekat dengan wajah suaminya itu. Tidak memperdulikan jika nantinya dia akan mengalami kesakitan di pinggangnya. Dia telah hanyut dalam pesona wajah polos Donghae yang sedang tertidur. Mengagumi setiap sudut wajah Donghae yang semakin hari semakin tampan di matanya. Dengan senyum yang sudah terukir diwajahnya, jari-jari tangan Yoona sudah menjalar mengelus wajah Donghae dengan lembut. Walaupun wajah Donghae tampak pucat, tapi bagi Yoona ketampanan suaminya itu tidak pernah pudar. Bahkan semakin hari semakin tampan. Karena ketampanan suaminya itu kadang kala membuatnya resah jika suaminya itu semakin banyak dikagumi kaum hawa diluar sana. Walaupun dirinya yakin, posisinya selalu nomor satu dihati namja itu. Tapi tetap saja dirinya harus tetap waspada bukan, untuk kemungkinan terburuk.

Asik dengan pemikiran dan kekagumannya pada ketampanan Donghae, tiba-tiba tubuhnya sudah terhempas ke tempat tidur. Yoona terkejut dengan kejadian yang sangat tiba-tiba itu. Matanya membulat melihat Donghae yang sudah ada diatasnya, menindihnya dengan salah satu sudut bibirnya yang sudah tertarik keatas. Menatap Yoona dalam. Tanpa Yoona sadari, dia sudah menahan napas sedari tadi.

“aku semakin tampankan?”, ucap Donghae percaya diri.

“N-nde?”, jawab Yoona gugup.

“kau sedari tadi sibuk mengagumi ketampananku kan? Dan kau semakin dalam jatuh dalam pesonaku”, ucap Donghae lagi.

“ckk, kau terlalu percaya diri oppa. Minggir. Oppa berat”, balas Yoona santai, berusaha menekan kegugupannya.

“tidak. Sebelum kau mengatakan, apa yang kau pikirkan tadi”, ucap Donghae. Yoona menatap wajah Donghae yang hanya berjarak sejengkal dari wajahnya. Yoona yakin tidak akan dapat menghindar kali ini. Setiap kali yeoja itu ketahuan sedang melamun, Donghae akan langsung menanyakan apa yang sedang dipikirkan yeoja itu. Dan Yoona dengan segala alasan dapat menghindari pertanyaan itu. Tapi kali ini, dengan sikap Donghae yang sudah memaksa seperti ini, Yoona tidak dapat menghindar lagi. Yoona menelan air liurnya dengan berat.

“jadi… apa yang sedang kau pikirkan sayang?”, tanya Donghae lembut namun sekaligus tersirat desakan.

“mmm, a-aku hanya berpikir apa oppa akan tetap disisiku atau tidak. Aku ta-takut”, ucap Yoona akhirnya. Donghae mengerutkan kening tidak mengerti maksud dari ucapan istrinya itu.

“apa yang kau takutkan?”, tanya Donghae.

“mmm… oppa bo-san”, jawab Yoona dengan akhir kata yang terpenggal.

“bosan?”

“aku tahu type wanita yang oppa suka. Dan aku sangat jauh berbeda dari itu. Aku yakin oppa pasti bosan dan..”, Yoona terhenti, tidak yakin apa harus melanjutkan ucapannya atau tidak.

“dan?”, Donghae mulai mendesak Yoona untuk melanjutkan. Awalnya namja itu berpikir topik pembicaraan mereka hanya seputar masalah biasa. Tapi nyatanya istrinya itu memikirkan sesuatu yang sangat penting dalam hubungan mereka. Jadi Donghae perlu tahu semuanya apa yang dipikirkan Yoona dan secepatnya menyelesaikannya. Hening. Yoona masih terdiam.

“aku memberikan kesempatan beberapa menit untukmu berpikir. Setelahnya kau harus mengatakannya. Semuanya tanpa ada yang terlewatkan”, ucap Donghae memecah lamunan Yoona. Donghae kembali berbaring disisi Yoona namun tidak berniat untuk melepas tubuh Yoona. Donghae memeluk yeoja itu erat. Wajah Yoona yang awalnya berhadapan dengan dada bidang Donghae mulai mendongak menatap wajah suaminya itu yang ternyata sedang menunduk dengan mata yang tertutup. Yoona menggerakkan tangannya menyentuh wajah Donghae. Namja itu pun membuka matanya. Mata mereka langsung bertemu, saling tersenyum.

“oppa tahu, terkadang aku berpikir apa aku orang yang tepat untuk oppa. Oppa orang hebat, sukses dan dikagumi oleh banyak orang. Semua wanita juga mengagumi ketampanan oppa”

“ohh, aku suka kalimat yang terakhir itu. Kau harus sering-sering mengatakan aku tampan mmphh”, Yoona membekap mulut Donghae dengan tangannya karena Donghae menyela ucapannya membuat Yoona kesal. Dia sudah susah payah untuk bisa jujur tapi suaminya itu malah ingin bercanda.

“dengarkan aku dulu oppa. Jangan menyela”, ucap Yoona. Donghae pun mengangguk.

“aku membaca beberapa buku tentang hubungan suami dan istri. Disana dikatakan seorang suami atau istri harus sering-sering memuji atau mengatakan hal-hal yang manis agar pasangan mereka merasa bahagia dan hubungan mereka selalu awet. Tapi oppa sendiri tahu seperti apa aku. Mungkin jika aku kembali ke tiga belas tahun yang lalu, aku mungkin masih sanggup mengatakan itu. Tapi karena setelah itu aku membenci oppa dan juga diriku sendiri hingga bertahun-tahun, aku menjadi sulit untuk mengatakan perasaanku yang sebenarnya kepada orang lain. Dan sekarang pun aku masih sangat sulit untuk melakukannya. Hanya ketika aku hamil Haena dulu aku melakukannya dan itu semua karena hormon ibu hamil”, Yoona menjeda ucapannya.

“aku kesulitan mengatakan perasaanku ke pada oppa walaupun oppa pasti tahu seperti apa perasaanku. Sedangkan oppa dengan mudahnya mengatakan semua perasaan oppa kepadaku setiap harinya, tanpa ada kesulitan sedikit pun. Karena itu aku takut oppa lelah dan bosan terhadapku lalu pergi mencari yang lebih bammphh”, Yoona tidak dapat melanjutkan ucapannya karena bibirnya sudah dibekap oleh Donghae. Bukan dengan tangannya melainkan dengan bibir namja itu. Yoona membeku dengan perlakukan tiba-tiba itu. Beberapa detik kemudian Donghae melepas ciumannya. Memandang Yoona, merapikan helaian rambut Yoona yang menutupi wajah yeoja itu.

“dengar. Aku hanya akan mengatakan ini sekali saja dan aku tidak mau membahas tentang ini lagi dan aku juga berharap kau juga tidak memikirkan tentang ini lagi. Jika kau masih memikirkan ini, kau tidak hanya menyakiti dirimu sendiri tapi kau juga menyakitiku karena kau tidak mempercayai besarnya cintaku kepadamu”, ucap Donghae.

“Aku tahu kau membenciku waktu itu. Tapi aku sangat yakin dibalik perasaan bencimu itu pasti ada setitik cinta yang masih tertinggal. Jadi aku bertekat untuk memperbesar setitik cinta itu menjadi sangat besar. Hingga kau akan sesak dan kesulitan bernapas jika aku tidak ada disisimu. Jadi kau akan selalu membutuhkan ku. Dan soal type wanita…”, Donghae menjeda ucapannya.

“mmm, aku rasa selera seseorang bisa berubah. Aku tidak lagi menyukai wanita dewasa, sexy atau berpenampilan menarik. Type wanitaku sekarang, berambut panjang, mata bulat, memiliki kening yang indah, sangat cantik walaupun sangat cerewet. Lalu sangat menyayangi keluarga, pandai mengurus keluarga dan sangat mahir mendidik anak”, ucap Donghae. Yoona masih diam mendengar ucapan Donghae walaupun hatinya berdesir mendengarnya.

“ahhh, satu lagi namanya harus IM YOONA”, tambah Donghae dengan penekanan diakhir kalimat.

“ku rasa hanya ada satu wanita yang mencerminkan itu semua”, ucap Yoona dengan senyum mengembang diwajahnya. Donghae semakin mengeratkan pelukannya pada Yoona.

“tentu saja. dan sekarang dia sudah menjadi milikku. Jadi aku tidak perlu khawatir lagi”, balas Donghae.

“berjanjilah oppa tidak akan pernah meninggalkanku”, ucap Yoona serius.

“lihat aku. Jika aku melakukan itu, kau bisa langsung membunuhku disini”, balas Donghae sambil menepuk dada kirinya, letak jantungnya. Yoona langsung terkekeh dengan sikap Donghae yang terlalu mendramatisir ucapannya.

“sebenarnya kau tidak perlu takut aku akan meninggalkanmu. Akulah sebenarnya yang takut kau akan pergi dariku. Pergi ke pria lain yang tidak akan pernah menyakitimu karena aku selalu membuatmu sedih dengan sikap egoisku. Terlalu banyak pria yang mengagumimu, dan rasanya aku ingin membunuh mereka saat itu juga”, ucap Donghae dengan nada kesal.

“tidak ada pria yang seperti itu oppa”, balas Yoona.

“banyak sayang. Lihat saja si tuan arsitek itu. Bahkan dia masih tetap melajang padahal usianya sudah semakin tua. Apa dia sedang menunggumu jika saja aku mau melepasmu? Bermimpi saja dia”, ucap Donghae kesal. Tahu siapa si tuan arsitek yang suaminya itu maksud, Yoona langsung tertawa keras.

“wae? Kenapa kau tertawa? Tidak ada yang lucu”, ujar Donghae kesal.

“Kenapa oppa selalu cemburu pada Max? Jika dia merayuku, itu hanya candaan saja. tidak lebih oppa”, jelas Yoona. Selalu menjadi hal yang lucu baginya jika Donghae sudah cemburu pada sahabatnya itu.

“tapi rayuannya itu yang selalu membuatku kesal”, jawab Donghae masih kesal.

“oppa tenang saja aku tidak akan terpengaruh”, ucap Yoona meyakinkan.

“ahhh, sudahlah. Aku rasa pembicaraan kita sudah selesai. Ayo tidur”, ucap Donghae cepat walaupun masih ada nada kesal diucapannya itu. Donghae menarik tubuh Yoona semakin mendekat padanya, memeluknya erat, lalu menutup matanya. Hening. Tidak ada lagi yang berbicara. Yoona menatap wajah Donghae yang sebenarnya pura-pura tidur. Yoona menggigit bibir bawahnya, berusaha meyakinkan dirinya.

“gomawo karena oppa sudah bersabar dan berjuang untuk mengembalikan cintaku”, ucap Yoona sangat lembut, bahkan sebenarnya nyaris tidak terdengar. Tapi Donghae yang berada disampingnya tentu saja masih dapat mendengarnya. Namja itu membuka matanya berlahan, menatap tepat dimanik mata Yoona.

“a-aku sangat mencintai op-oppa”, ucap Yoona dengan terbata. Dia terlalu malu untuk mengatakannya. Yeoja itu tidak terbiasa mengatakan hal-hal manis seperti itu. Padahal untuk mengatakan hal manis kepada Haena, yeoja sangat mudah.

“lagi”, ucap Donghae. Yoona mengerutkan kening tidak mengerti.

“katakan lagi”, jelas Donghae. Kali ini Yoona mengerti maksud ‘lagi’ yang Donghae ucapkan.

“a-aku sangat men-mencintaimu oppa”, ulang Yoona. Donghae menggeleng, tidak puas.

“bukan seperti itu. Kau harus mengatakannya dengan yakin sayang. Seperti ini…”

“aku sangat mencintaimu Yoona”, lanjut Donghae.

“seperti itu. Ayo katakan lagi dengan yakin”, ucap Donghae. Yoona terdiam sejenak. Dia harus bisa, demi hubungan mereka yang semakin baik.

“aku.. sangat mencintaimu oppa”,

“lagi”

“aku sangat mencintaimu oppa”

“lagi”

“aku sangat memcintaimu oppa. Rasanya aku seperti orang gila karena terlalu mencintaimu”, ucap Yoona lantang. Lalu disusul oleh tawa mereka berdua. Ada perasaan lega dalam relung hati yeoja itu. Akhirnya dapat mengucapkan perasaan cintanya kali ini dengan yakin dan percaya diri.

“ayo tidur”, ucap Yoona. Tiba-tiba yeoja itu gugup Karen Donghae memandangnya dengan sangat serius.

“ngomong-ngomong aku suka dengan kata-kata manis itu”, ucap Donghae.

“tidak perlu dibahas”, ucap Yoona cepat karena malu.

“wae? Kau sangat menggemaskan ketika mengatakan cinta ditambah..”,

“stop. Aku sudah bilang tidak perlu dibahas lagi”, ucap Yoona langsung memotong ucapan Donghae.

“kau malu?”, tanya Donghae. Yoona langsung menyembunyikan wajahnya didada Donghae. Donghae dapat merasakan pergerakan kepala Yoona yang mengangguk. Donghae pun terkekeh.

“tidak perlu malu. Lagi pula hanya aku yang mendengarnya”, ujar Donghae.

“tetap saja”, balas Yoona.

“berjanjilah, jika kau merasa ingin mengucapkannya, maka jangan tahan dirimu, katakan saja. aku akan selalu mendengarmu”, ucap Donghae.

“mmm”, balas Yoona.

“baiklah. ayo tidur, sepertinya obatnya sudah mulai bekerja”, ajak Donghae. Mereka saling berpelukan, membagi kehangatan satu sama lain. Dibawah bulan yang bersinar, mereka mulai memasuki alam bawah sadar mereka.

“Nado saranghae~”, bisik Donghae tepat ditelinga Yoona.

 

>>>>>>>

“Samchoooonn~”, teriak Haena, langsung berlari mendatangi Max yang masih berdiri didepan pintu rumah mereka. Dengan sigap Max langsung membawa gadis kecil itu dalam gendongannya. Haena memberi kecupan dipipi namja itu. Sedangkan Donghae berdecak kesal. Pasalnya tadi Haena sedang asik mewarnai sebuah gambar dibuku gambar putrinya itu, sampai kedatangan tamu yang selalu membuat dirinya kesal setengah mati itu, merusak semuanya. Lihat saja, Yoona yang berdiri didepan pintu, Max dan Hae dalam gendongannya, tidakkah mereka seperti keluarga bahagia. Tidak hanya istrinya yang berhasil dirayu oleh namja itu, bahkan putrinya satu-satunya juga berhasil termakan oleh pesona namja itu. Dan Donghae sangat kesal jika mengingat itu.

“aigo hyung jangan perlihatkan wajah seperti itu. Kau membuatku seperti lelaki perusak keluarga orang lain. Kau pencemburu berat” , ucap Max ketika melihat wajah Donghae yang ditekuk dan bibir yang berkomat-kamit tidak tahu apa yang sedang diucapkan namja itu.

“jika kau sadar diri, lalu kenapa kau datang kesini. Kau benar-benar menyebalkan”, ucap Donghae sinis.

“aish kalian selalu berdebat. Aku pusing”, ucap Yoona sambil berjalan, lalu duduk di sofa disamping Donghae. Max pun melakukan yang sama dengan Haena yang masih dalam gendongannya.

“tenang saja hyung. Aku tidak akan lama. Aku hanya ingin mengunjungi keponakanku yang sangat cantik ini. Jadi hyung tidak perlu marah-marah seperti itu”, balas Max. Walaupun sudah mendengar alasan Max datang kerumahnya, tapi sepertinya Donghae masih tetap kesal.

“jadi Selamat ulang tahun princess dan ini kado untuk mu”, ucap Max pada Haena. Mata gadis kecil itu langsung berbinar senang. Hari ini tepat umur Haena yang ke lima tahun. Tidak ada perayaan khusus. Hanya makan malam keluarga saja. Dan sedari pagi sampai siang ini, Donghae dan Yoona hanya ingin menghabiskan waktu menemani Haena melakukan segala aktivitasnya. Gadis kecil itu pun memilih dirumah saja dari pada diluar. Dengan alasan diluar sangat panas dan gadis itu tidak suka dengan panas matahari yang menyengat seperti siang ini.

“wahhh, gomawoyo samchon”, ucap Haena sambil menerima kado itu. Gadis itu langsung turun dari pangkuan Max, mendudukkan diri dilantai yang berlapis karpet, lalu membuka kado dari Max.

“wahhhh, omma. Ini yang ada ditoko kemarin”, ucap Haena antusias. Seminggu yang lalu Yoona mengajak Haena berjalan-jalan di mall. Dan ketika melewati toko mainan, tiba-tiba gadis itu melihat sebuah boneka merah berbulu yang dapat tertawa terbahak-bahak sambil bergerak bahkan dapat berguling-guling. Menurut Haena boneka itu sangat lucu. Haena lalu mengamati seluruh tubuh boneka itu, mencari dimana tombol ON.

“disini princess”, ucap Max, menunjuk tombol ON yang tersembunyi di bagian kepala boneka yang tertutupi rambut lebat. Dan selanjutnya yang terjadi boneka itu mulai tertawa dan berguling-guling. Haena pun ikut tertawa melihat boneka itu.

“omma, appa, dia sangat lucu”, ucap Haena disela-sela tawanya sambil menunjuk boneka itu pada Yoona dan Donghae. Mereka pun tersenyum menanggapinya.

“hahh, baiklah aku harus pergi”, interupsi Max.

“secepat ini? Kau tidak ingin minum atau makan dulu?”, tanya Yoona.

“aku sangat ingin. Tapi aku harus menjemput seseorang”, jawab Max sedikit kecewa karena harus melewatkan masakan Yoona yang selalu dapat menggugah seleranya.

“seseorang? Nugu?”, tanya Donghae langsung karena penasaran.

“yeoja?”, tambah Donghae. Dan Max mengangguk dengan santai.

“nugu?”, tanya Donghae lagi. Ada perasaan senang yang hinggap dalam diri Donghae. Jika memang benar yeoja dan mereka menjalin kasih, maka dirinya aman. Tidak akan ada lagi yang akan merayu istri dan putrinya.

“rahasia”, balas Max. Donghae langsung kecewa. Dirinya sudah terlanjur penasaran dengan siapa yeoja yang berhasil meraih hati namja tinggi itu. Sedangkan Yoona yang langsung tahu siapa yeoja yang akan dijemput oleh sahabatnya itu langsung tersenyum.

“sampaikan salamku padanya, ya walaupun aku tidak begitu yakin dia mau menerimanya”, ucap Yoona dan Max langsung mengangguk.

“baiklah aku pergi”, pamit Max. Yoona dan Donghae pun mengantarkan Max keluar dari rumah mereka hingga mobil Max melaju meninggalkan rumah merka

 

>>>>>>>

Hari ini matahari sangat bersemangat dalam memberikan kehangatan. Sehingga membuat seorang yeoja dengan wajah sedikit pucat harus mengelap keringat yang mengalir dari keningnya. Sambil berjalan menuju pintu besar yang akan membawanya kembali kedunia nyata. Dimana dirinya harus memulai semuanya lagi dari nol. Didepan pintu yang masih tertutup rapat itu, dia menghembuskan napas beberapa kali. Dia gugup.

Dengan berlahan, dibukanya pintu itu dan udara luar langsung menyapanya. Sangat berbeda dengan udara yang ada didalam ruangan yang selama hampir lima tahun ini, mengurungnya. Dengan berlahan dihirupnya udara segar itu hingga memenuhi paru-parunya. Dia tersenyum dengan sangat lebar bahkan setetas air mata sudah jatuh dari sudut matanya karena terlalu bahagia. Yeoja itu pun mulai melangkah menelusuri jalan setapak, sambil sesekali bersenandung.

Senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Tapi hal itu tidak bertahan lama karena didepannya sedang berdiri seorang namja sambil bersandar pada badan mobil. Senyum itu hilang seketika digantikan dengan perasaan bersalah, malu yang bercampur dengan rindu yang sangat besar.

Namja itu berjalan secara berlahan menghampirinya dengan kedua tangan yang masuk kedalam saku celananya. Dari jarak hanya beberapa meter darinya, ketika namja itu berjalan menghampirinya, dia menahan napas gugup.

“hai”, sapa namja itu gugup. Yeoja itu tidak menjawab, hanya memperhatikan tingkah namja yang berdiri dihadapannya itu.

“kau tidak ingin bicara? Baiklah”, namja itu bertanya dan namja itu yang menjawab. Dengan cepat ditariknya tubuh yeoja itu, masuk kedalam pelukannya. Hening beberapa saat, bahkan yeoja itu masih dengan wajah terkejutnya tanpa membalas perlakukan namja itu.

“aku merindukanmu”, ucap Max lembut, bahkan sangat lembut hingga membuat jantung yeoja itu berdebar tidak karuan.

“aku sangat merindukanmu Clara”, ulang Max lagi lengkap dengan nama yeoja itu.

“a-aku..”, Clara ingin mengatakan jika dirinya juga sangat merindukan namja itu. Selama lima tahun terkurung dalam jeruji penjara, hanya satu hal yang sangat dirindukan olehnya, yaitu namja ini. Namja yang sedang memeluknya sangat erat ini.

Max melepas pelukannya, menetap wajah Clara yang tirus, sepertinya yeoja itu banyak kehilangan berat badannya. Clara ingin mengatakan sesuatu tapi tidak jadi karena jari telunjuk Max menginterupsinya.

“kau tidak perlu mengatakan apapun. Aku masih memiliki perasaan yang sama seperti dulu. Dan Ayo kita mulai lagi dari awal”, ucap Max.

“ta-tapi Max… aku-“, ucapan Clara terpotong oleh kecupan singkat Max dibibir pucatnya.

“tidak ada tapi-tapian. Kali ini kau yang harus mendengarkanku”, perintah Max.

“ayo kita rayakan kebebasanmu. Kau harus makan banyak untuk mengembalikan tubuh idealmu itu”, tambah Max. Clara terkekeh.

“ini sudah ideal”, ucap Clara.

“tidak, kau terlalu kurus. Ayo, kita makan banyak hari ini”, balas Max dan Clara mengangguk patuh. Mereka pun berjalan menuju mobil Max.

“ohh ya, Yoona menitipkan salam untuk mu”, ucap Max ketika mereka sudah ada didalam mobil. Clara langsung terdiam. Yoona? Apa Max dan Yoona sudah bersama? Lalu apa arti ciuman tadi?, pikir yeoja itu.

“Yoona sudah menikah dengan Lee Donghae lima tahun yang lalu dan memiliki seorang putri yang sangat cantik”, tambah Max, ketika tahu kemana arah pikiran yeoja yang duduk disampingnya itu. Clara tersenyum malu karena apa yang ada didalam pikirannya dapat dengan mudah diketahui oleh Max.

“sampaikan terimakasihku untuknya”, balas Clara. Ya dia harus berterima kasih kepada Yoona karena sudah memberikan pelajaran berharga untuknya. Beberapa kali Yoona mengiriminya surat walaupun dirinya belum pernah membalasnya sekalipun. Isi suratnya selalu kata-kata penyemangat tapi juga disertai umpatan kesal yeoja itu kepadanya. Tapi Clara senang, dibalik kejahatan yang sudah dilakukannya, ternyata masih ada yang peduli padanya.

 

>>>>>>>

“jadi yeoja itu Clara?”, tanya Donghae masih tidak percaya. Yoona sedang didapur membuatkan secangkir kopi untuk suaminya itu.

“Iya oppa. Oppa lupa? Hari ini masa hukumannya selesai”, jelas Yoona yang datang dari dapur sambil membawa secangkir kopi, memberikannya pada Donghae.

“ahh, iya. Aku hampir lupa. Tapi benarkah Max masih mencintai Clara? Ini kan sudah lima tahun berlalu”, ucap Donghae. Yoona duduk disamping namja itu lalu memperhatikan Haena yang masih bermain dengan boneka pemberian Max.

“memangnya kenapa? Aku bahkan masih mencintai oppa walaupun oppa meninggalkanku tujuh tahun lamanya”, balas Yoona. Donghae diam. Merasa ucapan Yoona tentang kesalahannya selalu berhasil membungkam bibirnya untuk membalas.

“aku hanya tidak menyangka Max mencintai Clara sebesar itu”, ucap Donghae.

“namanya juga sudah cinta”, balas Yoona.

Cup~

Kecupan singkat Donghae berikan dibibir tipis Yoona, sangat cepat.

“woowww, sepertinya kau mulai terbiasa mengatakan hal-hal manis seperti itu”, goda Donghae.

“aish oppa, ada Haena disini”, tegur Yoona dengan pipi yang memerah, merona. Donghae memandang Haena yang masih asik dengan mainannya. Untung saja anak itu tidak melihat kelakuan orang tuanya. Donghae menarik Yoona dalam pelukannya dan Yoona membalas pelukan itu.

“saranghae Yoona~”, bisik Donghae.

“nado saranghae oppa”, balas Yoona.

 

THE END

 

Ahhhhh, akhirnya selesai juga. Capek juga mikir untuk ending dari cerita ini. Tapi akhirnya selesai. Terima kasih buat semua kritik dan saran dari reader-nim yang sangat membantu dalam melanjutkan FF ini.

Oh iya, aku ada project FF selanjutnya selain untuk menyelesaikan My lovely Doctor. Ini untuk selingannya. Tapi aku bingung untuk lanjutin yang mana terlebih dahulu. Untuk itu aku butuh saran dari reader-nim semua. Dan ini kilasan dari FFnya.

 

#1. Pernikahan yang terjadi ketika seorang namja masih berumur 14 tahun dan yeoja berumur 10 tahun. Kalian pasti tidak percaya akan adanya pernikahan seperti ini. Tapi untuk orang kaya yang punya segalanya tidak ada yang tidak bisa. Namja dan yeoja itu baru bertemu ketika acara pernikahan itu, bahkan mereka tidak berkomunikasi sedikitpun, hanya menuruti apa yang diinginkan orangtua mereka. Mereka masih terlalu dini untuk mengerti dengan semuanya itu. Tapi ketika acara pernikahan selesai, sang namja ikut orang tuanya kembali ke Jepang. Lima belas tahun berlalu, hingga kini saatnya mereka dipertemukan kembali, layaknya suami istri yang sah dimata Tuhan dan juga hukum. Namun seperti apa pertemuan kedua mereka?

 

#2. Seorang namja yang melarikan diri dari keluarganya diakibatkan rasa berdosa yang sangat besar terhadap saudaranya hingga mengakibatkan saudaranya itu meninggal. Namja itu bersembunyi dari seluruh orang bahkan bertingkah seperti pengemis dijalanan untuk menyembunyikan identitasnya. Dan tanpa disengaja terjadi insiden yang mempertemukannya dengan seorang yeoja polos, lugu dan berhati lembut. Dan karena insiden itu, Donghae tinggal bersama yeoja itu dirumahnya. Yeoja itu hanya sebatang kara dirumah kecil yang hampir seluruh dinding rumahnya dilapisi kayu. Namja yang keras kepala dan selalu bertindak sesukanya itu, sangat mempersulit yeoja yang sedang menempuh perkuliahannya yang sudah memasuki semester akhir. Namja itu selalu meminta hal-hal yang tidak bisa yeoja itu penuhi karena keuangannya yang terbatas. Namun dengan bantuan dari gajinya mengantar susu dipagi hari, mengantar bunga dan juga mengantar pesanan ayam, dapat membantu yeoja itu. Banyak kejadian yang mereka alami dirumah sederhana itu, hingga membuat sikap namja itu mulai berubah sedikit demi sedikit. Dan bumbu-bumbu cinta pun mulai bertebaran. Tapi apa jadinya jika sesuatu dimasa lalu datang menghampiri mereka  kembali? Akankah semuanya akan tetap sama?

 

#3. Yeoja smart, popular VS namja smart, polos, lugu, namun kampungan. Mereka selalu bersaing untuk mendapatkan peringkat teratas. Sebenarnya hanya yeoja itu yang merasa mereka selalu bersaing. Sedangkan sang namja bersikap biasa saja. Namja itu hanya punya teman, itu pun dikelas lain. Namja itu akan memiliki teman yang banyak ketika sudah mendekati hari ujian. Siswa yang lain akan mencarinya untuk mengajari mereka tentang pelajaran yang tidak mereka mengerti. Hal ini berbanding terbalik dengan yeoja itu. Dia yeoja yang pintar, easy going dan sangat popular disekolah. Tapi dibalik itu semua dia hanya yeoja yang kesepian. Suatu ketika namja itu mengakui perasannya pada yeoja itu. Tapi sayangnya yeoja itu menolak karena yeoja itu hanya menganggap namja itu adalah musuh, musuh yang harus dikalahkannya. Tapi tanpa disegaja, suatu ketika yeoja itu melihat namja itu dibully oleh teman-temannya sewaktu SMP dulu. Karena sampai sekarang namja itu belum pernah berpacaran. Tidak tahu dorongan dari mana yeoja itu menghampiri mereka dan mengaku dirinya adalah kekasih namja itu. Dengan kejadian itu yeoja itu akhirnya mengajari namja itu untuk memikat hati seorang yeoja dan hubungan mereka masih berstatus berpura-pura pacaran sampai namja itu mendapatkan seorang kekasih. Lalu bagaimana masa-masa sekolah mereka lewati?

 

Nah itu dulu kilasan FF yang mungkin akan on going untuk selingan FF My Lovely Doctor. Mohon sarannya ya. Jangan lupa komentarnya. Ditunggu loh reader-nim..

Gomawo~

See You Next Time And Lego~

Advertisements

24 thoughts on “I Hate U (Epilog)

  1. KasMha PyrooLiers

    Sweet bngettt…😅😊😊😊😊
    Aku smpe ngebut baca dlm satu mlam… Daebakk.. Ffnya aku sukaaa

  2. uly assakinah

    akhirnya changmin dan clara kembali bersama. jadi yoona dan donghae akan selalu bersama keluarga kecil mereka.

  3. chalistasaqila

    HWAA, part ini terlalu so sweet,. Ahh, aq ska Lee Family
    D tunggu bgtss karya2nya yg laen yachh…
    Bkin FF yg seru2 lgii, okeyy
    Fighting

  4. yoonhae100

    kereeen happy ending banget ikut bahagia waktu baca.
    keep writing buat author
    kalo aq lebih suka cerita yang no 1 bakalan seru kayaknya
    kutunggu karyamu yg lainnfighting

  5. ichus

    Eehh bru bca di epilogx ajja ini.. mianhae
    Keren ceritanya.. romance x jga dpet thor
    mantap pkok e 👍
    Lain waktu deh dibaca part2 sblumx

  6. doovie

    Endingnya keren.. Ceritanya keren. Aku suka banget… Paling seneng baca cerita yg akhirnya happy ending.. hihi..
    Buat ff selingan aku pilih no 1 thor.. Ceritanya bagus kayanya. Alurnya gak pasaran dan menarik.
    Author fighting!! Ditunggu karya selanjutnya. 🙂

  7. Aku suka epilog nya dan gak tau kenapa pas baca nama Ji chun malah kepikiran Jeno ..hahaha kenapa tadinya dia gak di adopsi sama Yoona aja dan dapet gelar marga Lee ^^
    Tapi sumpah aku suka banget apalagi pas part Donghae sakit trus mereka kumpul di kamar YoonHae ,suka baca interaksi Donghae-Ji Chun ^^

    Btw kalau buat ff on going aku pilih yang no #1 aja keliatan bakal seruu ,kalau yang ke 2 aku pikir itu bakal banyak sad nya ..haha sok tau ,dan yang 3 belum ada gambaran ..tapi di tunggu banget ya pokonya ^^
    fighting ..

  8. Cut_ar

    Romantis nih epilognya ^^
    Next ff aku pilih no 1 tapi apapun itu terserah author yang penting happy end 😁😁

  9. indi_indi

    Akhirny epilog udh ada
    Yeee akhirny yoonhae happy ending😍😍

    Klo saran ff ny menurutku sih yg no 1 / 3 tp teraerah author aja xixix
    Keep writing thor
    Fighting😹

  10. Akhirnyaa liat yoonhae akhirnya hidup bahagia jadi senengggg kirain mau nambah anak lagi hahahaha,
    Untuk next ff yg no. 1 pengin baca tpi apapun deh asalkan happy ending hehehe 😄 ditggu ya jngn lama” 😁

  11. Gena Nadiah

    unnie kalau boleh ngasih saran aku pingin unnie ngelanjutin yg my lovely doctor soalnya aku penasaran sama ending nya. gomawo, ff unnie terbaik 😊👍

  12. Beyoonhae

    Wahh jinjja eonni makin bagus cara nulis ffnya dari part awal sampe part ini benar2 keliatan author ada perkembangan dalam nulis maupun critanya. Kerenn bgt unni aku bener2 ngehargain bgt usaha unni untuk buat ff:)) nah buat ff slanjutnya aku suka no 1 atau 3 bagus kyknya prolognya heheh

  13. Akhirnya di post. Happy Ending !!!! ^_^ Suka banget. Donghae masih cemburuan yaaa

    Aku lebih suka ff no 1 . Ceritanya jarang ada. Aku penasaran sama kehidupan mereka.

  14. hanasumi

    Yang pertama jarang ada deh eon jalan ceritanya. Yang pertama ajaaaa hahaha saran aja sih 🙂
    Nice epilog!!!! Really nice!!!

  15. Sfapyrotechnics

    Aaahahhhh,, snym gaje mu dri tdi 😀 :v Mereka romantis bnget :V SooNa mau jodohin ji chun ma haena :v tpi kyu rada nggk rela,, krna masih kecil :V Huaaaa,, sosweetnya mereka 😀 Oh ya, clara balikan ma max??

    Oh iya ttng ff?? yg nmor 1 ma nmor 3 bkin penasran eon,, tpi smuanya oke kok.. Lnjuttt..

    fighting!! ditunggu next ffny yah 🙂

  16. Hohoho….. Gak nyangka bakal di post cepet dr perkiraanku. Keren keren.. Suka banget sama epilognya.
    Aku penasaran cerita yg pertama. Sekilas baca sinopsisnya beda dari ff ” yang pernah aku baca. Yg kedua ketiga juga lumayan sih, tapi penasarannya lbh mendominasi yg pertama.

  17. Dani

    Ahhh akhirnya d post jga epilognya. Seneng deh akhirnya bahagia..☺☺☺
    Kalo buat ff selingan, aku lebih suka ff yg pertama. Dari sinopsisnya enggak terlalu pasaran, trus buat aku langsung penasaran jalan ceritanya. Bukan berarti ff yg lain pasaran, tpi gk tau kenapa pas baca yg pertama langsung suka aja akunya.
    Fighting buat nulisnya thor 😀😀😀

  18. Daebakkkk akhirnya happy end seneng deh bacanya sampe senyum2 gk jelas hahahaha authornim pinter bgt sih bikin rider jd baperr hahaha sepertinya menarik untuk new projecknya maincast nya msh yoonhae kan thor? Pokoknya selama mereka yg jadi peran utama aku pasti suka pokoknya ditunggu ya thor karya2 hebatmu yg lain gomawo and fighting ☺

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s