I Hate U (Chapter-7)

I HATE YOU2

Title                 : I Hate U (Chapter-7)

Author             : Fi_ss

Cast                 : Im Yoona and Lee Donghae

Genre              : Romance, Hurt, Sad, ect

Length             : Chapter

Author Note    : Hai, hai, hai… ada yang menunggu chapter akhir dari IHU ini. Dan inilah dia I Hate U Chapter 7 telah hadir. Maaf untuk reader-nim yang udah lama nunggu FF ini. Aku sedang sibuk-sibuknya beberapa minggu ini. Dan mudah-mudahan dichapter ending ini bisa menebus keterlambatan nge-postingnya. Dan aku mau ucapin makasih buat reader-nim yang udah kasi komentar baik di SOY dan juga diwp pribadi aku ini. Gomawoyo~

Warning : 15.000+++ kata. Jadi silahkan siapkan cemilan dan minuman karena ini sangat panjang. Dan maaf jika masih banyak typo

Happy Reading… Lego~

>>>>>>>

Flashback

“appa ampun. Maaf Appa”, ucap seorang gadis kesakitan karena appanya memukulinya terus-menerus.

Plak Plak Plak

Ketika si gadis mengucapkan maaf, yang ada dia semakin mendapatkan pukulan dan tamparan dari ayah kandungnya. Kali ini tanpa sebab, tiba-tiba ayahnya marah ketika melihat dirinya pulang dengan seorang namja yang tidak disukai appanya itu.

“APPA SUDAH BILANG JANGAN BERHUBUNGAN LAGI DENGAN NAMJA MISKIN ITU”, teriak sang ayah dengan keras tepat didepan wajah memar gadis itu. Tanpa belas kasihan, namja paruh baya itu mencengkram wajah putrinya itu dengan keras. Tidak memperdulikan rintihan putrinya itu.

“APPA HANYA MENYURUHMU MENDEKATI LEE DONGHAE. APA SUSAHNYA HAH”, teriak ayahnya lagi.

“ta-tapi aku tidak menyu-nyukainya ap-appa”, rintih gadis itu. Plak

Lagi-lagi tamparan yang didapat gadis itu. Perih yang tidak terkatakan didapatkannya disekitaran wajah dan punggungnya.

“appa tidak menyuruhmu untuk mencintainya. Appa hanya menyuruhmu untuk mendekatinya, agar dia tidak curiga dengan pekerjaan appa”, ucap pria tua itu.

“ta-tapi ap-appa~”, ucap gadis itu lirih.

“tidak ada tapi-tapian. Lakukan saja apa yang appa perintahkan. Jika kau melawan perintah appa, kau lihat saja apa yang akan appa lakukan pada namja itu”, ancam pria tua itu, kemudian mendorong keras putrinya itu hingga membentur dinding, lalu pergi begitu saja. Terdengar ritihan kesakitan dari gadis yang terduduk dilantai itu. Dia menangis kencang. Menangisi nasibnya yang sangat memilukan. Menjadi putri dari seorang pria yang tergila-gila dengan harta. Bahkan ketika kecelakaan merenggut nyawa ommanya, appanya itu tidak ada diacara pemakaman. Appanya itu sibuk dengan pekerjaan kotornya, menipu rekan-rekan kerjanya.

Kali ini targetnya adalah Lee Corparation dicabang New York yang dipimpin oleh Lee Donghae. Appanya memaksa dirinya harus mendekti namja itu, agar appanya bisa mendapat kepercayaan dari Donghae dan tidak mencurigainya. Gadis itu tidak dapat menolak keinginan appanya itu. Dia melakukannya, mendekati pengusaha muda itu. Hampir setiap hari menempel dengan namja itu. Awalnya gadis itu dapat melakukannya dengan baik, hingga suatu ketika dia bertemu dengan namja lain. Namja yang mampu merebut hatinya dengan mudah. Namun sangat disayangkan appanya tidak merestui hubungan mereka hanya karena namja itu bukan dari keluarga berada. Hanya namja yatim piatu yang bekerja sebagai arsitektur di perusahaan kecil. Tapi gadis itu tidak peduli, dia sangat mencintai namja itu. Hingga rela merendahkan dirinya, seperti pengemis yang meminta belas kasihan dari Lee Donghae.

Namja yang sangat dicintainya itu selalu mendapat perlakukan tidak baik dari appanya. Ancaman dan kegagalan dalam pekerjaan, selalu didapatkan namja itu karena ulah dari ayahnya.Walaupun mendapat banyak cobaan dalam hubungan mereka, tapi tidak ada satu pun diantara mereka yang ingin berpisah. Mereka tetap bersama walaupun harus dengan cara diam-diam.

>>>>>>>

“ada apa dengan wajahmu?”, Tanya Donghae. Gadis itu menggeleng dengan tersenyum. Donghae mengelus kepala gadis itu sayang.

“katakan. Apa ada yang menyakitimu? Oppa akan membantumu”, ucap Donghae lagi. Gadis itu semakin tersenyum lebar. Ada perasaan senang, karena masih ada yang mengkhawatirkannya. Namja yang duduk disampingnya itu sangat perhatian kepadanya. Tapi gadis itu tahu, itu bukanlah perasaan sayang untuk lawan jenis, tapi lebih kepada perasaan sayang kepada saudara perempuannya.

Sebagai anak tunggal, yang kurang kasih sayang, tentu perlakukan Donghae sangat berarti untuknya. Gadis itu pun menyayangi namja itu seperti oppanya sendiri. Jika hanya berdua saja dengan Donghae, gadis itu akan selalu terlihat tegar dan ceria. Namun jika didepan orang banyak, terkhusus appanya, gadis itu akan bermanja-manja seperti sepasang kekasih. Untungnya Donghae tidak keberatan dengan perlakuannya itu.

“aku hanya terjatuh di kamar mandi oppa”, jawab gadis itu. Donghae mengkerutkan keningnya. Tidak percaya dengan perkataan gadis itu.

“jangan berbohong. Tidak mungkin hanya karena terjatuh di kamar mandi, sampai mendapatkan luka seperti ini”, ucap Donghae sambil mengelus pipi gadis itu yang masih banyak luka memar. Gadis itu merintih kesakitan karena usapan jari Donghae tepat di memar yang paling parah di wajahnya.

“aku tidak berbohong oppa. Aku terjatuh beberapa kali. Percayalah”, ucap gadis itu lagi mencoba meyakinkan Donghae. Namja itu memandangnya dalam. Bukannya tidak tahu siapa yang melakukan perbuatan tidak manusiawi pada gadis itu, tapi Donghae lebih memilih diam, tidak bertanya lagi. Donghae tidak habis pikir apa yang dipikirkan oleh appa dari gadis yang sudah seperi dongsaengnya itu. Ini bukan pertama kalinya dia mendapati gadis itu mendapatkan luka memar diwajahnya, tapi gadis itu tidak pernah mau menceritakan apa pun kepadanya. Karena ini lebih kepada urusan keluarga, Donghae tidak dapat berbuat apa pun. Donghae hanya dapat membantu sebatas menghibur dan menjaga gadis itu jika ada didekatnya.

“ya sudah jika kau tidak ingin mengatakannya. Tapi jika kau benar-benar tidak kuat lagi, temui aku. Aku akan menjagamu”, ucap Donghae akhirnya. Gadis itu tersenyum sebagai ucapan terima kasih, lalu memeluk lengan namja itu. Sebenarnya dia ingin menangis karena terharu mendengar ucapan Donghae, tapi dia tidak ingin menangis didepan orang-orang, dia harus kuat.

Flashback End

>>>>>>>

sajangnim, aku menemukannya. Aku menemukan buktinya”, teriak Henry dari seberang sana.

“bagus. Segera kirimkan kepadaku”, dengan cepat Donghae memerintah.

ta-tapi sajangnim…”, tiba-tiba Henry terbata. Donghae mengerutkan kening mendengar ucapan sekretarisnya itu.

“wae? Ada yang ingin kau sampaikan lagi?”, Tanya Donghae. Tidak ada jawaban dari Henry hingga beberapa detik. Donghae tetap menunggu, walaupun namja itu yakin apa yang akan disampaikan Henry bukanlah berita yang baik.

begini sajangnim. Sebenarnya aku tidak yakin dengan pendapatku ini. Aku hanya mencurigainya saja”, ucap Henry.

“mmm, katakan saja”, balas Donghae.

pada setiap proyek yang dihentikan itu, ada orang yang sama terlibat didalamnya. Dan dia adalah Jang Je Hyun sajangnim”, ujar Henry dengan hati-hati. Henry tahu bagaimana kedekatan atasannya itu dengan putri dari pria paruh baya yang baru saja disebutkannya. Tidak ada jawaban dari Donghae, membuat Henry gelisah.

sa-sajangnim?”, ucap Henry.

“ooo, kau yakin bahwa Tuan Jang ada hubungannya dengan penggelapan dana ini?’, ucap Donghae. Jantungnya berdebar tidak karuan. Tidak pernah terpikirkannya bahwa Tuan Jang menghianatinya.

mmm, sebenarnya aku tidak begitu yakin sajangnim. Pasalnya kita selalu bekerja sama dengan beliau, dan hasilnya selalu memuaskan. Tapi ketika melihat laporan dari proyek-proyek tersebut, banyak ketimpangan. Dan ketika bertanya kepada bagian keuangan, mereka mengatakan mereka mendapat laporan itu dari pihak Jang sajangnim”, Henry menyampaikan alasan dirinya menuduh Jang Je Hyun sebagai pelakunya.

“baiklah. Aku akan memeriksanya terlebih dahulu. Kau bersiap-siap saja disana jika ada yang ku perlukan lagi”, perintah Donghae lagi, lalu menutup sambungannya dengan Henry.

Donghae mengusap wajahnya kasar dengan sebelah tangannya yang tidak terluka. Kepalanya tiba-tiba terasa sakit. ‘apa benar Tuan Jang yang melakukan semua ini?’, bantin namja itu. Masih tidak percaya bahwa Tuan Jang yang sudah dianggap keluarganya selama dirinya di New York, tega melakukan perbuatan kotor seperti ini.

Tiba-tiba seseorang menepuk punggungnya. Donghae langsung berbalik, melihat yeoja yang sangat dicintainya sedang menatapnya khawatir.

“apa terjadi sesuatu?”, Tanya Yoona. Donghae langsung tersenyum mendengar pertanyaan khawatir yeoja itu.

“mmm, sepertinya Henry sudah menemukan bukti penggelapan dana itu”, ucap Donghae. Yoona terlonjak kaget dengan ucapan Donghae.

“benarkah. Syukurlah. Aku yakin kau tidak mungkin melakukan itu. Kau selalu bekerja dengan baik dan ju-“, Yoona langsung menghentikan ucapannya ketika sadar dirinya sedang memuji Donghae secara terang-terangan. Ditambah Donghae yang sudah melontarkan senyuman lebar, membuat Yoona langsung salah tingkah. Langsung mengalihkan wajahnya dari Donghae.

“terima kasih karena kau percaya padaku. Oh ya, aku ingin tahu, dari mana kau mendapatkan laporan keuangan proyek itu?”, Tanya Donghae. Yoona kembali menatap namja itu.

“sejak awal proyek itu, aku dan Sooyoung sudah curiga ada yang tidak beres. Tim ku sudah sering melakukan kerjasama dengan cabang New York, tapi entah karena apa tiba-tiba desain pertama kami ditolak karena dananya terlalu besar. Padahal anggaran dari desain kami masih sangat jauh dari yang sudah ditetapkan. Lalu kami membuatnya kembali dengan dana yang lebih kecil dan terjadilah kesepakatan di Jeju itu. Lalu tuduhan tiba-tiba datang menimpamu. Aku penasaran dengan apa yang kupikirkan. Aku meminta laporan pada bidang keuangan dengan alasan ingin melihat saja. Dan ketika kucocokkan kembali dengan laporan yang timku buat, anggarannya sangat berbeda”, jelas Yoona. Donghae mengangguk mengerti.

“mmm, aku mengerti. Terimakasih karena sudah membantuku”, ucap Donghae.

“sudah ku katakan tadi, aku melakukan itu karena penasaran. Bukan karena ingin membantumu”, ucap Yoona, tidak ingin Donghae tahu dirinya mengkhawatirkan namja itu.

“tapi aku tetap harus berterima kasih”, ucap Donghae. Yoona segera berbalik, berjalan menuju bangku taman yang diduduki Max dan Chun.

“oh ya Yoong, aku harus ke kantor sekarang, tapi..”, ucapan Donghae berhenti. Yoona pun berbalik, memandang namja itu.

“apa?”, Tanya Yoona sedikit ketus. Donghae menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia malu ingin mengatakan jika dia tidak punya uang untuk membayar taxi.

“mmm, sepertinya dompetku tertinggal di apartemenmu. Jadi bisakah kau membayarkan taxi untukku”, ucap Donghae malu.

“hahh, kau benar-benar menyusahkan”, ucap Yoona kesal. Yoona beranjak mendekati Max dan Chun untuk mengatakan sesuatu, lalu kembali lagi mendekati Donghae.

“ayo”, ajak Yoona. Donghae pun segera mengikuti langkah Yoona keluar dari kebun binatang itu.

Sesampainya digerbang keluar, Yoona mencarikan taxi untuk Donghae lalu membayarkan langsung taxi itu.

“aku sudah membayarnya. Pergilah”, ucap Yoona datar. Donghae pun membukakan pintu penumpang, namun dengan gerakan cepat ia berbalik lagi menghadap Yoona, mengecup pipi yeoja itu.

“terimakasih”, ucap Donghae cepat, kemudian masuk kedalam taxi. Hingga taxi itu sudah melaju pergi, Yoona masih terdiam kaku dengan pipi yang sudah memerah. Jantungnya berdebar tidak karuan karena ulah Donghae.’Lee Donghae sialan’, maki Yoona pada namja yang sudah membuatnya seperti orang bodoh sekarang. Bagaimana tidak, namja itu menciumnya di siang hari, ditempat umum, dan yang lebih parahnya banyak orang disekeliling mereka.

>>>>>>>

Satu minggu kemudian, Jang Je Hyun ditangkap atas tindakan penggelapan dana dan pelanggaran dalam pembayaran pajak. Donghae sudah memeriksa hasil kinerja Henry setelah sekretarisnya itu mengirimkan laporan itu kepadanya. Donghae menemukan semua kesalahan dari laporan itu. Ada dua laporan dengan proyek yang sama namun berbeda rincian anggarannya. Dengan bantuan kepolisian dan pengadilan yang ada di New York, Jang Je Hyun terbukti sebagai tersangka dalam kasus itu. Seluruh anak buahnya pun ditangkap termasuk orang dalam di kantor perpajakan yang juga ikut membantu pria paruh baya itu.

Berita penangkapan Jang Je Hyun pun sudah sampai ketelinga Clara. Yeoja itu pun mulai ketakutan karena appanya sudah tertangkap, tinggal menunggu waktu saja sampai dirinya pun ikut diseret kedalam penjara. Saat ini gadis itu sudah seperti orang gila didalam apartemennya seorang diri. Mau alkohol menyebar di sekitaran kamar yeoja itu. Sesekali diremasnya rambutnya, lalu berteriak kencang. Hidupnya kacau, tidak ada lagi yang mau bersamanya. Bahkan Lee Donghae mengabaikannya sampai sekarang.

Ketika dirinya bergelut dalam pikirannya, tiba-tiba muncul ide untuk membalas dendam. Membalas dendam untuk semua kekacauan hidupnya. Dia selalu mendapatkan luka dari ayahnya karena tidak dapat mendekati Donghae. Namja itu selalu lebih memperhatikan orang lain dari pada dirinya sejak namja itu kembali ke korea. Lalu namja yang sangat dicintainya meninggalkannya karena gadis lain. Im Yoona. Dialah yang mengakibatkan kekacauan hidupnya. Karena gadis itu, semua orang yang seharusnya ada bersamanya kini malah pergi meninggalkannya.

>>>>>>>

Setelah penangkapan Tuan Jang, kini tuduhan yang dilimpahkan kepada Donghae sudah dicabut oleh pihak pengadilan. Donghae dapat bernapas lega sekarang. Namun ada satu hal yang masih mengganjal dihati namja itu. Clara. Bagaimana kabar gadis itu setelah appanya ditangkap dan masuk penjara. Donghae ingin tahu bagaimana keadaan yeoja itu sekarang. Tapi sampai sekarang Donghae tidak dapat menghubungi gadis itu, hilang, seolah-olah ditelan bumi.

Donghae dengan santai keluar dari lift yang berhenti dilantai 5. Melihat CEO mereka datang ke ruangan mereka, beberapa karyawan menunduk hormat kepada atasan mereka tersebut, Donghae hanya membalas dengan senyuman saja. Dia terus melangkah menuju pintu suatu ruangan. Donghae mengetuk pintu itu hanya sekali, lalu segera membuka pintu, masuk dengan santai.

“Yoong, aku ingin mengambil dompetku yang kemarin tinggal di aparte-“, ucapan Donghae terhenti ketika sadar dirinya masuk dengan tidak sopan keruangan orang lain tanpa menunggu si pemilik ruangan mengizinkannya masuk. Akibatnya seperti sekarang. Dengan bodohnya Donghae berdiri didepan pintu menjadi pusat perhatian beberapa orang yang ada di ruangan itu. Mereka memandang CEO mereka itu dengan heran. Donghae tersenyum kaku, dia malu karena bertingkah konyol masuk keruangan orang lain yang ternyata didalamnya sedang ada rapat kecil divisi.

Yoona langsung menghampiri Donghae dengan cepat.

“apa yang kau lakukan Lee Donghae. Aku sedang ada rapat dengan timku”, ucap Yoona berbisik namun disertai geraman marah. Sebenarnya bukan marah benaran, itu hanya menutupi rasa malunya karena karyawan yang ada diruangan itu tahu jika Donghae pernah ke apartemennya. Ini akan menjadi bahan gosip mereka yang baru.

“mianhae. Aku tidak tahu jika kalian sedang rapat”, ucap Donghae ikut berbisik. Hanya desisan Yoona yang terdengar. Yeoja itu sudah melangkah menuju mejanya mengambilkan dompet Donghae, lalu memberikan pada namja itu.

“ini, dan cepatlah keluar”, ucap Yoona ketus. Donghae hanya membalas dengan senyuman saja. Donghae sedikit bergeser ke kanan agar dapat melihat karyawannya yang ada di ruangan Yoona itu.

“ahh, maaf sudah mengganggu kalian. Silahkan dilanjutkan”, ucap Donghae dengan senyum kakunya, lalu dengan cepat keluar dari ruangan itu.

“hohoho, sepertinya ada yang sedang menjalin hubungan khusus dengan CEO tampan kita itu”, ucap Sooyoung dengan santai dan langsung membuat karyawan lain terkejut dan tertarik dengan ucapan Sooyoung itu.

“benarkah?”, Tanya karyawan yang duduk di samping Sooyoung, dan yeoja itu membalas dengan anggukan.

“wah debak. Ternyata gosip itu benar. Nona Im menjalin hubungan dengan Lee sajangnim”, ucap karyawan itu.

“wah ternyata kau sangat terkenal Yoong”, ucap Sooyoung kagum.

“tutup mulutmu nona Choi”, balas Yoona ketus. Sooyoung tertawa mendengar ucapan sahabatnya itu. Sedangkan karyawan yang lain langsung terdiam.

“ayo kita lanjutkan”, perintah Yoona.

>>>>>>>

“kau kenapa?”, Tanya Max. Sepulang dari kantor, Yoona bertemu dengan Max di restoran seberang kantor.

“aku hanya kesal saja pada orang bodoh yang dengan seenaknya masuk keruanganku tadi”, jawab Yoona.

“siapa? Nona Choi? Kyuhyun-ssi? Atau Lee Donghae?”, Tanya Max, menjabarkan satu persatu orang yang mungkin dapat dengan berani masuk ke ruangan Yoona sesuka hatinya.

“Clara”, ucap Yoona.

“hahh, Clara. Untuk apa dia masuk keruanganmu?”, Tanya Max. Namun tidak ada jawaban dari Yoona, yang fokus melihat sesuatu dibelakang Max. Namja itu pun sadar, jawaban Yoona tadi bukanlah untuk menjawab pertanyaannya melainkan untuk hal lain. Namja itu pun berbalik, melihat apa yang sedari tadi Yoona lihat. Disana Clara datang menghampiri meja mereka dengan penampilan yang tidak bisa dikatakan baik. Mata yang memerah dan rambut yang berantakan, tidak seperti biasanya yang selalu tertata dengan rapi.

“jadi benar karena yeoja ini kau meninggalkanku?”, Tanya Clara langsung ketika jaraknya dengan meja Yoona dan Max semakin dekat.

“untuk apa kau datang kesini?”, Tanya Max balik, tidak ada niat untuk menjawab pertanyaan Clara. Max dan Clara saling melemparkan tatapan tajam seolah-olah dengan tatapan itu mereka dapat saling membunuh. Sedangkan Yoona menatap mereka dengan kebingungan karena dirinya yang menjadi topik membicaraan dua orang didepannya. Dan sesuai dengan dugaannya sebelumnya, Max memiliki hubungan khusus dengan Clara.

“tidak ada yang dapat melarangku untuk datang ketempat ini, termasuk kau”, balas Clara tajam. Yeoja itu lalu menatap Yoona tak kalah tajamnya dari sebelumnya.

“dan kau, apa tidak cukup hanya Lee Donghae saja. Haruskah kekasihku juga”, ucap Clara.

“apa yang kau maksud?”, ucap Yoona tidak mengerti dengan ucapan Clara.

“jangan berpura-pura bodoh, sialan”, maki Clara. Emosinya sudah tidak dapat terbendung lagi.

“CLARA”, teriak Max mengingatkan jika dirinya sudah keterlaluan. Namun Clara tidak peduli jika harus menjadi tontonan orang.

“kau tahu aku sudah bertahun-tahun menahan penderitaan ini, berharap suatu waktu aku akan lepas dari penderitaan ini, dan hidup bahagia. Tapi kau dengan mudahnya menghancurkan semuanya, kau merebut kebahagianku”, ucap Clara. Kali ini tidak ada makian lagi karena Clara sudah mulai menangis.

“Yoona maaf. Bisakah kau memberi kami waktu sebentar?”, ucap Max. Yoona harus segera pergi dari sana jika tidak Clara akan mengatakan yang tidak-tidak. Yoona mengangguk patuh. Yoona meraih tasnya lalu melangkah menjauh dari Clara dan Max.

“tunggu”, ucap Clara membuat Yoona berhenti, berbalik memandang Clara. Menunggu apa lagi yang akan yeoja itu katakan. Clara menatap Max dalam.

“aku akan menyetujui keputusanmu untuk kita berpisah jika kau berani mengatakan perasaanmu langsung kepada yeoja ini”, lanjut Clara masih dengan mata yang memerah dan tergenang air mata.

“sudahlah Clara. Kita bicarakan baik-baik”, Max panik karena permintaan Clara sangat sulit dilakukannya ditambah lagi mereka sedang ditempat umum.

“tidak, katakan sekarang. Setelahnya kita akan benar-benar berpisah”, ucap Clara dengan lirih. Hatinya semakin sakit setelah mengatakan hal tersebut. Max menghirup oksigen banyak-banyak. Max harus menyelesaikan masalah ini sekarang juga, jika tidak Clara akan semakin menjadi.

“Ya, aku menyukai Yoona. Kau puas?”, ujar Max akhirnya. Bagaikan ribuan pisau menancap tajam ditubuh Clara. Tidak menyangka Max akan benar-benar mengatakannya didepan orang-orang dan juga didepan Yoona. Sedangkan Yoona terlonjak kaget mendengar perkataan Max.

“Ma-Max apa ya-yang kau katakan?”, Tanya Yoona terbata. Tidak percaya Max memiliki perasaan khusus kepadanya. Tiba-tiba kepalanya pusing memikirkan perkataan namja itu. Max memandang Yoona sejenak dengan wajah serius.

“Ya, aku menyukaimu Yoona”, ujar Max memperjelas langsung pada Yoona. Hal ini semakin membuat kepala Yoona sakit.

“Ma-Max~”, ucap Yoona sendu. Ada perasaan bersalah yang menghinggapinya, sehingga tidak bisa melanjutkan ucapannya.

“kau sudah dengar kan. Sekarang apa jawabanmu. Aku akan benar-benar pergi jika kau menjawab pernyataan Max”, Clara yang sedari tadi diam memperhatikan interaksi Max dan Yoona, kini ikut bersuara. Bukannya membalas ucapan Clara, Yoona hanya diam sambil memandang Max dan Clara secara bergantian. Dia tidak nyaman berada diposisi sekarang ini dan Max menyadari dari tatapan mata Yoona yang tidak fokus.

“Yoona, bisa kau memberi waktu sebentar. Setelahnya aku akan mengantarmu”. Ucap Max akhirnya. Yoona menggeleng tidak setuju ketika Max masih berniat untuk mengantarnya sedangkan kondisi sedang kacau.

“aku akan pulang. Kau tidak perlu mengantarku Max. Aku akan naik taxi”, balas Yoona, lalu segera keluar dari restoran itu. Max dan Clara memandang kepergian Yoona dalam diam. Hening hingga beberapa detik diantara mereka. Sedangkan pengunjung yang menjadikan mereka sebagai tontonan gratis, kini sudah mulai menyantap hidangannya kembali.

“sepertinya tindakan yeoja itu adalah jawaban. Dan seperti perkataanku tadi, aku akan pergi. Dan…”, Clara menggantung ucapannya. Tubuhnya bergetar dan matanya berkaca-kaca ketika menyadari keputasan apa yang akan diambilnya.

“dan hubungan kita selesai sampai disini. Aku harap kau bahagia”, lanjut Clara dan segera pergi meninggalkan Max yang diam mematung, tidak melakukan apapun untuk mencegah Clara pergi.

Max memandang Clara dari jendela kaca restoran yang mengarah ke parkiran restoran. Clara berjalan berlahan menuju mobil merahnya, namun tiba-tiba seorang namja berpakaian hitam dan bertopi menghampiri Clara. Mereka berbincang-bincang sejenak, lalu namja itu pergi. Max mengerutkan kening, ada kecurigaan dari apa yang baru saja dilihatnya. Tapi Max segera menepis pikiran buruk itu, tidak mungkin Clara akan melakukan hal-hal seperti apa yang dipikirkannya.

>>>>>>>

Pagi ini Yoona tampak tidak bersemangat untuk berangkat ke kantor. Selain kerena masalah dirinya yang dilibatkan dalam hubungan Max dan Clara, tubuhnya pun seolah-olah malas untuk melakukan apapun hari ini. Jadi dia memutuskan untuk memperpanjang waktu tidurnya untuk beberapa menit. Namun tiba-tiba handphonenya berdering, ada panggilan dari Kyuhyun.

“yeoboseyo~”, ucap Yoona.

Yoong, apa kau sudah berangkat ke kantor?”, ujar kyuhyun diseberang sana.

“belum. Aku masih diapartemen. Wae?”

baiklah, aku akan menjemputmu. Kita berangkat bersama. Kebetulan aku sedang ada keperluan di kantormu”, ucap Kyuhyun.

“Ne, baiklah”, balas Yoona dan sambungan terputus. Sebenarnya dia ingin menolak jemputan sahabatnya itu. Tapi jika dipikir-pikir dirinya pun sedang malas untuk menyetir. Entah apa yang terjadi dengan dirinya hari ini. Tidak biasanya dia berkeinginan bermalas-malasan seperti ini.

Setengah jam kemudian Kyuhyun sudah tiba di depan gedung apartemen Yoona. Lalu mengirimkan pesan kepada yeoja itu bahwa dia sudah berada didepan. Kemudian Kyuhyun mengecek kembali handphonenya berharap ada panggilan telepon atau pesan dari yang lain. Namja itu menghembuskan napas berat. Ingatan kejadian kemarin malam perputar-putar dalam pikirannya.

“ada apa denganmu? Kenapa akhir-akhir ini kau menghindariku Soo?”

“aku tidak menghindarimu. Kau saja yang tidak punya waktu untuk ku. Kau selalu sibuk dengan duniamu”

“aku sedang banyak pekerjaan dan aku tidak bisa membiarkannya begitu saja. Aku berharap kau mengerti untuk itu”,

“mengerti? Sampai kapan aku harus mengerti dirimu? Sedangkan kau tidak pernah mengerti diriku”

“aku sudah lelah dan tidak bertenaga untuk menghadapi keegoisanmu”

“ohh, kau lelah? Aku pun lelah. Dan kurasa ini sudah menjadi pertanda untuk hubungan kita. Ayo kita akhiri saja”

“APA? Yak ini hanya pertengkaran kecil. Kenapa kau langsung berpikir untuk berpisah”

“inilah yang salah dalam hubungan kita. Kau selalu menganggap sepele segala pertengkaran kecil diantara kita dan tidak ada niat sedikitpun untuk memperbaiki. Selalu aku yang lebih dulu bertindak. Lagi pula aku… aku sudah bosan denganmu”

“BOSAN? Hah, alasan yang tidak kreatif”

“pokoknya aku bosan. Dan kita putus”

Tok tok tok

Tiba-tiba suara ketukan yang berasal dari jendela mobilnya menyadarkan Kyuhyun dari lamunannya tentang pertengkarannya dengan Sooyoung. Pagi ini sebenarnya dia ingin bertemu dengan kekasihnya- lebih tepatnya mantan kekasih saat ini – untuk memperbaiki kesalahannya dan minta maaf. Tapi setibanya dirumah yeoja itu, salah satu pelayan disana mengatakan Sooyoung sudah berangkat kekantor. Jadinya Kyuhyun menjemput Yoona saja yang kebetulan searah dengan tujuannya.

“apa kau sedang mengalami gangguan pendengaran? Aku sudah beberapa kali mengetuk-ngetuk jendela mobilmu tapi kau tidak mendengarnya”, ucap Yoona kesal.

“hahaha, maaf. Aku sedang berpikir tadi”, jawab Kyuhyun dengan senyuman kaku. Yoona tidak menyadari senyuman itu dia sibuk membenarkan posisi duduknya.

“tapi dimana Sooyoung. Kau tidak menjemputnya?”, Tanya Yoona setelah merasa duduknya nyaman. Tidak ada jawaban dari namja yang duduk dibalik kemudi itu. Namja itu hanya diam sambil melajukan mobil itu.

“kau tidak mendenngarku lagi?”, ujar Yoona sambil memukul punggung namja itu.

“aku dengar. Sooyoung sudah berangkat terlebih dahulu”, jawab Kyuhyun.

“kau terlambat menjemputnya?”

“sepertinya”, jawab Kyuhyun singkat.

“ckk, dasar kau”, cibir Yoona. Tapi tidak ada balasan lagi dari Kyuhyun. Namja itu hanya diam saja, berkonsentrasi dengan kemudinya. Hingga tiba di gedung kantor, Kyuhyun masih dalam diam berjalan bersama Yoona memasuki lift.

Setibanya dilantai empat tempat Kyuhyun akan melakukan pertemuan dengan beberapa petinggi perusahaan, Kyuhyun langsung keluar dari lift.

“sampai ketemu nanti Yoong”, ucap Kyuhyun dibalas dengan anggukan dari Yoona. Pintu lift kembali tertutup, membaawa Yoona kelantai lima.

Setibanya di lantai lima, Yoona melangkah dengan malas menuju ruangannya. Namun tiba-tiba lift disamping lift yang Yoona tumpangi tadi berdenting menandakan lift berhenti dilantai yang sama dengan Yoona berada sekarang. Dari sana keluar seorang yeoja yang sangat Yoona kenal.

“ohh, kau baru datang?”, Tanya Yoona pada yeoja itu.

“ya, aku terlambat bangun”, ucap yeoja itu dengan cengiran.

“tapi tadi Kyuhyun mengatakan kau sudah berangkat lebih dulu. Tapi kenapa kami lebih dulu sampai dari pada kau?”, Tanya Yoona mulai curiga, merasa ada yang tidak beres diantara sahabatnya itu.

“ahh, itu.. aku tadi naik taxi. Dan supir taxinya salah mengambil alur jalan, jadi kami harus memutar balik”, alasan Sooyoung.

“benarkah?”, Tanya Yoona tidak yakin dengan alasan Sooyoung. Sooyoung membalas dengan anggukan saja. Yoona bukanlah yeoja bodoh yang langsung percaya saja dengan alasan sahabatnya itu. Tidak mungkin supir taxi itu tidak tahu jalan menuju gedung Lee Corparation yang sudah sangat dikenal oleh seluruh menduduk di Seoul. Yoona masih ingin bertanya lagi, tapi dia menahan diri. Masih ada waktu. Mereka harus bekerja sekarang.

Jam sudah menunjukkan pukul satu siang, ketika para karyawan sudah tampak silih berganti keluar dari ruangannya masing-masing untuk mengisi perut lapar mereka. Tak terkecuali Yoona dan Sooyoung yang berjalan menuju lift untuk makan siang di restoran Kim Ajumma – seberang kantor. Pintu lift terbuka, namun yang keluar adalah seorang namja dengan pakaian rapinya berjalan menuju mereka.

“ohh, aku ingin mengajakmu makan siang tadinya”, ucap Kyuhyun menatap Yoona. Tidak menatap yeoja lain yang berdiri disamping Yoona.

“ohh, kebetulan sekali, kami juga ingin  makan siang. Ayo kita makan siang bersama”, ajak Yoona. Tidak ada jawaban dari Kyuhyun maupun Sooyoung. Mereka kembali menunggu lift yang tadi sudah kembali tertutup.

“Yoong sepertinya aku melupakan sesuatu. Aku harus menyerahkan laporan ke divisi administrasi”, ucap Sooyoung dengan cepat. Yoona berbalik menatap Sooyoung yang berdiri dibelakangnya sedari tadi.

“tapi ini sedang jam makan siang. Kurasa bagian administrasi juga sedang istirahat”, ujar Yoona.

“sepertinya masih ada karyawan yang ada disana. Aku takut lupa memberikannya, jadi aku akan memberikan sekarang saja selagi aku masih ingat”, balas Sooyoung. Sangat kentara sekali sedang berusaha untuk menghindari sesuatu. Sooyoung segera berbalik, melangkah dengan cepat menuju ruangannya.

“BERHENTI”, teriak Yoona dengan keras. Untunglah sudah tidak ada karyawan yang tinggal di lantai lima itu. Sehingga tidak perlu mendengar teriakan Yoona yang menggema dilantai itu. Kyuhyun yang berdiri disamping Yoona sampai terkejut. Sooyoung pun langsung berhenti melangkah namun tidak ada niat untuk berbalik memandang Yoona. Yoona melangkah menuju ruangannya dengan wajah memerah menahan amarah.

“kalian berdua ikut aku”, perintah Yoona. Yoona harus menyelesaikan masalah ini dan menahan laparnya untuk sekarang. Baik Kyuhyun maupun Sooyoung tidak ada yang protes, mereka mengikuti perintah Yoona. Mereka sadar Yoona dalam keadaan tidak ingin dibantah saat ini.

Diruangan Yoona, mereka bertiga hanya saling berdiam diri. Yoona duduk di sofa single sedangkan Kyuhyun dan Sooyoung duduk disofa panjang dan mengatur jarak duduknya. Ini semakin menguatkan kecurigaan Yoona bahwa ada yang tidak beres antara sahabatnya itu.

“jadi aku langsung keintinya saja. Siapa yang memulai pertengkaran ini?”, Tanya Yoona langsung dengan penuh penekanan pada setiap ucapannya. Tidak ada jawaban dari kedua orang yang ditanyainya. Yoona menghela napas berat. Sepertinya ini pertengkaran yang cukup serius.

“Kyu~”, panggil Yoona. Namja itu menegakkan kepalanya yang sedari tadi menunduk.

“bukan aku. Tapi dia”, ucap namja itu singkat.

“ohh, kau sedang melimpahkan semua kesalahan padaku”, balas Sooyoung langsung, tidak terima dengan ucapan Kyuhyun yang seolah-olah dirinya yang salah sepenuhnya.

“bukankah itu benar? Kau yang menghindariku akhir-akhir ini”, jawab Kyuhyun ketus.

“ohh, lalu kau tidak tahu mengapa aku menghindarimu?”

“bagaimana aku tahu jika kau tidak memberi tahu”, jawab Kyuhyun, emosinya sudah mulai naik.

“sudahlah ini urusan kita, dan kita tidak perlu melibatkan Yoona didalamnya”, ujar Sooyoung ketika sadar Yoona ada dihadapan mereka.

“wae? Apa karena ini ada hubungannya denganku lagi?”, Tanya Yoona. Sooyoung menggeleng. Sungguh kali ini pertengkaran mereka bukan karena Yoona.

“lalu apa? Biasanya kau bersikap begini jika sudah cemburu karena Yoona. Sekarang apalagi?”, Tanya Kyuhyun mulai geram.

“KAU. Kau lah penyebab semuanya ini”, jawab Sooyoung tegas.

“sudah ku katakan bukan, aku bosan denganmu. Aku bosan dengan hubungan yang tidak berguna ini. Aku bosan dengan semu- “, tiba-tiba ucapan Sooyoung terhenti karena pipinya terasa sakit akibat tamparan seseorang. Yoona sudah berdiri didepannya dengan wajah kaku dan mata melebar, menatapnya tajam. Sooyoung mendongak dari duduknya memandang Yoona dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Ini kali pertama Yoona menamparnya dan rasanya sangat perih.

“Yoong~”, ujar Kyuhyun. Namja itu pun kaget dengan tindakan Yoona yang menampar Sooyoung.

“apa kau perpikir aku dan Kyuhyun bodoh. Alasan yang kau sampaikan itu tidak masuk akal. Bosan. Hanya orang bodoh yang menggunakan alasan itu untuk berpisah”, ucap Yoona.

“dan kau…”, Yoona menunjuk Kyuhyun yang hanya diam saja.

“apa kau namja bodoh yang tidak bisa menyelesaikan masalah seperti ini. Kalian sudah bersama bertahun-tahun, tidakkah kalian bisa sedikit saling mengerti satu sama lain. Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran kalian”, ucap Yoona dengan satu kali tarikan napas. Emosinya sudah sampai keubun-ubun, tidak terbendung lagi.

Hening. Tidak ada yang memulai berbicara kembali. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.

“aku… aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini lagi. Aku sudah tidak sanggup”, ucap Sooyoung dengan suara serak, sepertinya yeoja itu sedang menahan tangisnya.

“Soo~”, ujar Yoona, memanggil nama sahabatnya itu dengan lembut, ketika sadar nada bicara Sooyoung sangat menyakitkan dipendengarannya.

“Yoong, kau tahu betul bagaimana perasaanku. Kau tahu seberapa sabarnya aku ketika aku hanya sendiri saja menjalani hari-hariku. Sementara aku memiliki kekasih. Tapi aku sangat sulit untuk memiliki waktu bersamanya”, Sooyoung memandang Yoona. Seolah-olah mereka sedang berbicara berdua saja diruangan itu. Sementara Kyuhyun tertegun mendengar penuturan Sooyoung. ‘apa benar aku sampai seperti itu? Apa aku kurang meluangkan waktu untuknya?’, batin Kyuhyun.

“aku selalu bersabar, tahu jika pekerjaan yang membuat hubungan kami seperti ini. Tapi setelah tahu fakta bahwa diantara kami masih ada yang merasa tidak percaya dengan hubungan kami dan merasa lelah untuk saling mengerti, bagiku ini sudah cukup. Kepercayaan dan saling mengerti yang dibutuhkan dalam sebuah hubungan, bukan hanya cinta saja”, lanjut Sooyoung. Kali ini air mata sudah mengalir dipipinya.

Kyuhyun dan Yoona terlonjak kaget dengan ucapan Sooyoung. Mereka berdua sangat familiar dengan ucapan Sooyoung itu.

“ka-kau mendengarnya?”, Tanya Yoona hati-hati. Yoona ingat pernah membahas ini dengan Kyuhyun ketika dirinya menyarankan untuk kedua sahabatnya itu menikah saja agar dapat mengadopsi Chun. Tapi Kyuhyun menolak karena belum yakin untuk menikah, karena masih bingung dalam menghadapi Sooyoung. Yoona tidak menyangka jika perkataan mereka itu sampai ke telinga Sooyoung.

Sooyoung menganggukkan kepala, membuat Yoona harus memijat keningnya karena rasa sakit kepala kembali menyerangnya. Yoona menatap tajam Kyuhyun yang hanya diam terpaku sambil memandang Sooyoung yang duduk disebelahnya. Yoona menarik sedikit rambut namja itu agar segera sadar, jangan diam saja seperti orang bodoh.

Merasakan sakit karena tarikan dirambutnya, membuat Kyuhyun mendongak memandang Yoona dengan bingung. Yoona menatap namja itu tajam dan mengarahkan dagunya kearah Sooyoung yang menangis dalam diam. Kyuhyun dengan tingkat IQ diatas rata-rata seharus mengerti dengan maksud Yoona untuk segera mengatakan sesuatu. Dan syukurlah otak namja itu masih mampu mencerna bahasa tubuhnya. Yoona mundur selangkah demi selangkah untuk keluar dari ruangannya itu. Sampai tahap ini urusannya sudah selesai untuk membantu sahabatnya itu, selebihnya ada ditangan Kyuhyun. Setelah Yoona keluar, namja itu masih diam, memikirkan apa yang harus dikatakannya agar tidak terjadi kesalah pahaman lagi.

Kyuhyun mendekati Sooyoung kemudian meraih tangan yeoja itu, menggenggamnya erat. Sooyoung berusaha menarik tangannya tapi Kyuhyun semakin mengeratkan genggamannya.

“Soo~”, panggil Kyuhyun. Yeoja tetap diam.

“Soo, lihat aku”, pinta Kyuhyun, tapi yeoja itu tidak merespon apa pun. Dengan terpaksa, Kyuhyun meraih dagu Sooyoung keatas, menegakkan kepala itu yang sedari tadi tertunduk. Kyuhyun sangat terluka ketika melihat wajah yeoja yang sangat dicintainya itu kacau. Hidung memerah, mata memerah dan pipi yang basah karena air mata. Kyuhyun menghapus air mata itu dengan lembut.

“Maaf. Maafkan aku sayang. Aku tidak tahu jika kau sampai merasakan seperti itu selama bersama ku”, ucap Kyuhyun dengan lembut. Sooyoung menatap mata tajam Kyuhyun dengan nanar.

“aku sungguh minta maaf. Aku memang masih bingung. Tapi aku tidak ada niat untuk sampai melepasmu. Aku sangat mencintaimu Soo”, ucap Kyuhyun mengutarakan perasaannya yang sebenarnya.

“kau egois”, balas Sooyoung masih dengan suara serak karena menangis tadi. Kyuhyun terkekeh mendengar balasan yeoja itu.

“jika sudah berhubungan denganmu,  aku akan selalu egois”, jawab Kyuhyun santai.

“ckk”, cibir Sooyoung. Merasa suasana hati mereka sudah membaik, Kyuhyun menarik tubuh yeoja itu masuk kedalam pelukannya. Saling mengutarakan perasaan masing-masing adalah kunci dimana kita bisa membangun hubungan yang lebih baik. Kyuhyun memeluk yeoja itu dengan erat, seakan takut jika yeoja itu akan menghindarinya lagi.

“jadi apa aku sudah dimaafkan”, ucap Kyuhyun masih dengan kegiatannya memeluk Sooyoung. Namun tiba-tiba yeoja itu mendorong Kyuhyun menjauh. Menatap namja itu dengan tajam dan wajah yang masih memerah. Bukannya takut dengan tatapan itu, yang ada Kyuhyun tersenyum, lucu dengan wajah yeoja itu.

“jangan kira semudah itu untuk mendapatkan maaf dariku. Aku masih merasakan sakit itu”, ujar Sooyoung marah. Kyuhyun mengangguk saja. mengikuti apa yang diinginkan yeojanya itu, walaupun dia tahu sebenarnya Sooyoung sudah memaafkannya.

“kau harus menuruti semua keinginanku, menjemputku setiap hari, makan siang bersama, lalu weekend kau harus bersamaku. Kau mengerti?”, perintah Sooyoung.

“baiklah. Jadi sekarang apa yang kau inginkan?”, Tanya namja itu. Sooyoung berpikir sejenak.

“menikah”, jawab Sooyoung cepat. Membuat Kyuhyun terlonjak kaget, kemudian terdiam. Melihat diamnya Kyuhyun , membuat Sooyoung merutuki ucapannya yang terlalu memaksa.

“ani, ani. Aku hanya bercanda. Kau tidak perlu menurutinya”, tambah Sooyoung. Sadar jika Kyuhyun memang belum siap untuk mengikatnya lebih serius.

“baiklah”, jawab Kyuhyun.

“Ngg?”, Sooyoung tidak mengerti dengan ucapan namja itu.

“ayo kita menikah sayang”, jelas Kyuhyun.

“hahaha, kau jangan seserius itu dan jangan memaksakan diri untuk meni-“, ucapan Sooyoung terpotong karena tiba-tiba Kyuhyun mencium bibirnya dengan cepat, melumatnya sebentar lalu melepasnya.

“ayo kita menikah”, ulang namja itu lagi. Kali ini Sooyoung menatap mata tajam itu. Tergambar keseriusan disana. Kyuhyun ingin menikah dengannya. Seperti ada ribuan kupu-kupu beterbangan diperutnya sekarang. Sooyoung langsung masuk kedalam pelukkan namja itu. Kyuhyun membalas pelukan itu tidak kalah eratnya. Hingga berapa menit akhirnya pelukan itu terlepas. Mereka saling memandang satu sama lain dengan senyum yang terukir diwajah masing-masing. Kyuhyun mengecup bibir tipis Sooyoung lagi. Kemudian memandang wajah yeoja yang sangat dicintainya itu. Diusapnya pipi yang masih memerah itu.

“ini masih memerah”, ucap Kyuhyun prihatin dengan pipi Sooyoung yang masih memerah itu.

“ya, ini masih sangat sakit Kyu. Yeoja es itu melakukannya dengan sangat kuat”, adu yeoja itu.

“aku akan membalasnya nanti”, tambah Sooyoung kesal.

“kau akan kalah. Kau jangan coba-coba melawannya”, ujar Kyuhyun. Menyadarkan kekasihnya itu bahwa tidak ada yang bisa mengalahkan kerasnya seorang Im Yoona.

“ckk, kau masih tetap membelanya”, cibir Sooyoung. Kyuhyun mengelus rambut yeoja itu.

“aku tidak membelanya. Tapi itu adalah kenyataan Soo”, jawab Kyuhyun. Sooyoung menganguk membenarkan.

“Kyu~ aku lapar”, ucap Sooyoung tiba-tiba dengan nada memelas. Kyuhyun terkekeh geli dengan sikap kekasihnya itu. Diawal menangis, lalu marah, merajuk hingga memelas seperti sekarang.

“baiklah ayo kita makan”, ajak Kyuhyun merangkul bahu kekasihnya itu sambil berjalan keluar dari ruangan itu. Ketika keluar dari ruangan itu, Yoona sedang terduduk disalah satu kursi karyawan yang ada didekat pintu ruangannya. Mendengar suara pintu terbuka, Yoona mengalihkan pandangannya dari majalah desain ke pasangan yang tampak sudah kembali bermesraan.

“karena kalian sudah menggunakan ruanganku dan mengganggu waktu makan siangku, jadi kalian segera belikan aku makanan. Aku sudah sangat lapar dan tidak berniat untuk keluar lagi. Jadi nanti antarkan keruanganku”, perintah Yoona kemudian beranjak, masuk kedalam ruangannya. Tidak memperdulikan respon dari orang yang diperintahnya.

“wahh, jinjja. Bahkan dia belum minta maaf karena sudah menamparku. Dan sekarang sesuka hatinya memerintah. Benar-benar yeoja es”, kesal Sooyoung.

“Sudahlah. Dia memang sudah seperti itu. Lagi pula dia sudah sangat berjasa untuk menyatukan kita kembali. Ini kali pertama dia mau langsung menghadapi permasalahan kita dan meluapkan seluruh emosinya. Biasanya dia hanya akan diam membiarkan kita menyelesaikannya sendiri”, jelas Kyuhyun.

“Ya kau benar”, setuju Sooyoung. Kemudian mereka melangkah menuju lift, untuk mengisi perut lapar mereka dan membelikannya juga untuk yeoja yang suka mengatur itu.

>>>>>>>

Yoona hendak membereskan mejanya. Pekerjaannya sudah selesai. Jam menunjukkan pukul delapan malam. Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke handphonenya. Yoona mengerutkan kening ketika membaca pesan tersebut dari nomor yang tidak dikenal. Merasa penasaran Yoona pun beranjak dari ruangannya menuju alamat yang dikirim orang tersebut.

Yoona menumpangi taxi dengan berbagai pemikiran. Siapa yang mengirim pesan itu dan apa mau dari orang tersebut. Yoona tiba disebuah taman tidak jauh dari apartemennya. Setelah membayar taxi itu, Yoona melangkah memasuki taman. Tapi taman tampak sepi, tidak ada orang disana. Tiba-tiba yeoja itu merasakan takut. Dia mengeluarkan handphonenya, menekan beberapa tombol untuk menghubungi seseorang. Kyuhyun. Tapi namja itu tidak mengangkat. Kemudian menghubungi Sooyoung, namun hasilnya sama seperti Kyuhyun, tidak diangkat. Pilihan terakhir Yoona jatuh pada Donghae. Namun tetap sama, tidak diangkat. Hingga panggilan ke lima barulah namja itu mengangkat panggilannya.

Yeoboseyo~”, jawab namja itu.

“Do-Donghae~”, hanya itu yang sempat Yoona ucapkan sambil mengedarkan lagi pandangannya, melangkah secara berlahan keluar dari taman itu. Namun tiba-tiba sebuah kain membekap hidung dan mulutnya, hingga penglihatannya mulai buram dan gelap.

>>>>>>>

Donghae menatap layar handphonenya dengan kening berkerut. Yoona menghubunginya tapi baru mengucapkan namanya saja, yeoja itu sudah memutus sambungannya.

“aneh. Ada apa dengannya?”, ucap Donghae masih penasaran dengan sambungan telepon yeoja itu lakukan tadi. Donghae mencoba menghubungi Yoona, tapi tidak ada jawaban. Tidak ingin mengambil pusing, karena berpikir Yoona sedang marah karena beberapa panggilan yeoja itu tidak langsung Donghae angkat karena namja itu sedang ada di kamar mandi.

Donghae meletakkan kembali handphonenya di atas meja. Kemudian menggosok-gosok rambutnya yang basah dengan handuk. Namun tiba-tiba ada panggilan masuk lagi. Kali ini dari nomor tidak dikenal. Sempat ragu sejenak, tapi kemudian Donghae mengangkatnya.

“yeoboseyo~”

apa Yoona bersamamu?”, Tanya orang diseberang sana dengan cepat. Donghae mengerutkan kening merasa tidak mengenal suara orang diseberang sana.

“maaf, anda siapa dan mengapa menanyakan Yoona”, Tanya Donghae. Terdengar helaan napas dari orang tersebut.

aku sebenarnya tidak ada waktu untuk memperkenalkan diri. Tapi, ahh sudahlah. Aku Kyuhyun. Jadi apa Yoona bersamamu?”, Tanya namja itu langsung. Setelah tahu orang yang menghubunginya adalah orang yang juga dikenalnya , Donghae akhirnya menanggapi sambungan itu dengan serius.

“tidak. Dia tidak bersamaku. Tapi tadi dia sempat menghubungiku beberapa kali, lalu yang terakhir aku mengangkatnya. Dia hanya menyebutkan namaku, lalu sambungan terputus”, jelas Donghae.

sial, apa kau bisa melacak keberadaan Yoona dari waktu ketika dia menghubungimu?”, jawab namja itu cepat. Donghae mengerutkan kening, namja yang bernama Kyuhyun itu seperti orang yang panik.

“tunggu dulu. Aku masih tidak mengerti. Ada apa dengan Yoona?”, Tanya Donghae yang juga mulai ikut panik.

aku tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Tapi Yoona memcoba menghubungiku beberapa kali lalu tiba-tiba Max menghubungiku juga, menanyakan kabar Yoona. Karena aku pun tidak tahu, Max merasa ada yang tidak beres. Aku pun mulai merasa tidak tenang”, jelas Kyuhyun. Donghae yang sudah mengerti titik persoalannya juga mulai panik. Jangan-jangan terjadi sesuatu dengan Yoona.

“baiklah. aku akan menghubungimu nanti”, jawab Donghae dan langsung mengakhiri panggilan itu. Namja itu lalu menekan tombol dihandphonenya lagi, menghubungi Henry.

“Henry, segera lacak nomor handphoneku. Dan cari tahu dimana posisi terakhir nomor yang menghubungiku sebelum kau”, perintah Donghae cepat. Kemudian dengan cepat meraih jaketnya, keluar dari apartemennya.

Donghae mengemudi dengan kecepatan penuh menuju apartemen Yoona. Berharap yeoja itu ada diapartemennya. Setibanya disana Donghae menekan bel beberapa kali, tapi tidak ada respon dari pemilik apartemen itu. Merasa Yoona memang tidak ada diapartemennya, Donghae segera berlari kembali menuju mobilnya.

Sambil mengendarai mobil itu Donghae mengedarkan pandangannya kesekitaran daerah didekat gedung apartemen Yoona. Donghae menekan tombil hijau dihandphonenya ketika ada panggilan dari Henry.

sajangnim, nomor yang anda minta terakhir kali ada di taman dekat D-Cube Departement Store”, jawab Henry. Donghae mengerutkan kening. Tempat itu ada didepat apartemen Yoona. Untuk apa yeoja itu datang ketaman malam-malam seperti ini. Donghae semakin curiga.

“Henry segera hubungi polisi untuk melacak daerah itu”, peritah Donghae lagi.

Ne sajangnim”, balas Henry.

>>>>>>>

Max dengan cepat melajukan mobilnya menuju lokasi dimana Clara sedang berada sekarang. Melihat kemarin Clara bertemu dengan namja berbaju hitam itu, Max tidak dapat tidur dengan tenang. Hingga siang hari Clara menghubunginya dengan berbicara hal yang aneh-aneh. Seperti ancaman kemudian ucapan seperti perpisahan. Hingga tadi dia menelepon Kyuhyun menanyakan kabar Yoona. Dan benar kecurigaannya. Yoona seperti menghilang dalam sekejap, tidak ada yang tahu keberadaannya. Sehingga dia curiga pada ucapan Clara tadi siang dan melacak nomor yeoja itu.

Max berlari memasuki gedung D-Cube Departement Store dari belakang menuju lantai teratas karena titik keberadaan nomor Clara semakin dekat jika dia menaiki anak-anak tangga itu menuju atap gedung. Dia yakin Yoona juga pasti ada disana bersama Clara.

>>>>>>>

Yoona terbangun dari tidurnya. Tubuhnya merasakan dingin ketika sadar dia tertidur di lantai. Yoona mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dan menemukan dirinya sedang ada didaerah terbuka, tepatnya di atap gedung. Yoona mulai panik ketika dia tidak dapat menggerakkan kaki dan tangannya karena terikat. Yoona mencari-cari keberadaan orang lain disekitar itu. Dan ada. Seorang yeoja yang duduk ditepi bangunan gedung, membelakanginya. Yoona kenal dengan postur tubuh itu.

“Cla-Clara~”, ujar Yoona. Menyadari ada yang menyebut namanya, yeoja itu memutar tubuhnya kini menghadap Yoona. Tidak beranjak dari duduknya walaupun tahu jika salah bergerak saja, yeoja itu bisa langsung menghilangkan nyawanya dalam sekejap.

“kau sudah bangun?”, Tanya Clara dengan santai disertai dengan senyuman. Entahlah bagi Yoona senyuman itu bukan senyum licik atau apapun itu. Itu seperti senyuman kesedihan dan keputusasaan dari yeoja itu. Clara mendekati Yoona, membantu Yoona untuk berdiri. Kemudian merapikan anak rambut Yoona yang menutupi wajah yeoja itu.

“kau tahu, aku sangat iri padamu. Kau cantik, cerdas, memiliki keluarga yang sangat menyayangiku, di cintai oleh dua namja yang sangat berarti di hidupku. Kau memiliki segalanya”, ujar Clara. Tubuh Yoona mulai bergetar ketika mendengar ucapan aneh Clara itu dan menyadari Clara membawanya mendekati tepi gedung. ‘apa Clara ingin membunuhku dengan mendorongku hingga jatuh dari gedung ini?’, Yoona membatin dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.

“jangan takut. Kau tidak akan sendirian merasakannya. Aku akan bersamamu”, ucap Clara masih dengan senyumnya yang kali ini terlihat menyeramkan bagi Yoona.

“KAU GILA CLARA”, teriak Yoona ketika sadar Clara ingin bunuh diri dengan membawa dirinya.

“aku anggap itu pujian”, jawab Clara santai. Walaupun seperti itu, dimata yeoja itu terlihat dia sangat ketakutan.

Brak

Tiba-tiba pintu itu terbuka dengan keras, menampilkan namja yang sudah sangat ditunggunya untuk datang. Clara tersenyum cerah.

“Clara, apa yang kau lakukan?”, ucap Max dingin bercampur kepanikan.

“aku? Aku hanya bersenang-senang saja sebelum benar-benar pergi”, jawab Clara santai.

“aku tidak menyangka kau bisa menemukan tempat ini dengan cepat”, tambah Clara.

“tutup mulutmu itu Clara. Lepaskan Yoona”, jawab Max.

“KAU YANG TUTUP MULUTMU MAX. KAU DATANG KESINI KARENA MENGKHAWATIRKAN YEOJA INI KAN”, teriak Clara.

“Clara aku mohon~”, pinta Max. Dia tidak boleh gegabah jika tidak ingin hal buruk terjadi.

“kau sangat menyedihkan Max jika berbicara dengan memohon seperti itu. Tadinya aku sempat berpikir kau akan datang kesini dengan perasaan sedikit saja mengkhawatirkan aku, tapi nyatanya itu hanya angan belaka”, mata Clara sudah berkaca-kaca.

“Clara ayo kita bicarakan baik-baik”, bujuk Max lagi. Namun Clara segera menggeleng dengan cepat.

“YOONG”, teriak seseorang yang baru tiba diatap gedung itu juga.

“Donghae~”, ucap Yoona lirih.

“Clara apa yang kau lakukan?”, Tanya Donghae panik ketika melihat posisi Clara dan Yoona ditepi gedung.

“ohh oppa juga datang ternyata. Kalian benar-benar sangat mencintai yeoja ini rupanya”, ucap Clara santai tidak takut dengan kehadiran Donghae disana.

“lepaskan aku Clara. Aku tidak ada hubungan dengan mereka”, ujar Yoona berharap dengan jawabannya itu, Clara akan melepaskannya.

“diam kau yeoja sialan. Seharusnya kau sudah mati ketika tabrakan itu terjadi jika saja Donghae oppa tidak datang menolongmu”, maki Clara. Yoona dan Donghae terkejut dengan ucapan Clara itu.

“jadi kau pelaku tabrak lari itu? Aku tidak menyangka kau bisa melakukan itu. Kau bukan Clara yang kukenal. Kau yeoja iblis”, ucap Donghae. Clara hanya tersenyum mendengar ucapan Donghae, walaupun sebenarnya hatinya sakit karena Donghae kecewa padanya.

“LEPASKAN AKU CLARA”, teriak Yoona lagi. Clara kesal karena Yoona terus memberontak ingin dilepas. Akhirnya dia membekap mulut Yoona dengan kain. Ketika mengikatkan kain itu mengelilingi lingkaran kepala Yoona, Max dan Donghae mendekat berlahan. Menyadari kedua namja itu mendekat, Clara dengan cepat segera mengeluarkan pisau dari saku jaketnya.

“jangan mendekat. Jika kalian berani melangkah sedikitpun, aku akan langsung menancapkan pisau ini diperutnya”, ancam Clara membuat kedua namja itu terdiam. Sedangkan Yoona langsung terkejut dengan ancaman itu. Yoona menggeleng-geleng ketika Clara mendekatkan pisau itu diperutnya. ‘tidak, jangan perutku. Kumohon’,ucap Yoona memohon dalam hati.

“Donghae oppa~”, panggil Clara. Donghae menatap Clara .

“sebenarnya oppa tahukan kalau aku juga terlibat dalam penggelapan dana itu”, ucap Clara. Donghae hanya terdiam mendengar ucapan yeoja yang sudah dianggap seperti dongsaengnya itu.

“kenapa oppa juga tidak melaporkanku?”, Tanya Clara. Tidak ada jawaban dari namja yang ia tanya.

“sejak dulu oppa selalu baik padaku. Aku tahu oppa melakukannya karena kasihan padaku kan. Oppa kasihan Karena aku selalu sendiriankan. Dan lagi-lagi oppa mengasihaniku padahal jelas-jelas aku menghianatimu”, ucap Clara. Donghae menggeleng.

“aku tidak pernah mengasihanimu. Aku benar-benar menganggapmu seperti adik ku. Jadi aku mohon jangan lakukan ini”, jawab Donghae.

“benarkah? Aku sangat beruntung kalau begitu. Tapi walaupun begitu aku membencimu oppa. Karena oppa, appa harus selalu memukuliku setiap aku tidak menuruti keinginannya untuk membuat oppa percaya dan mau memberikan informasi tentang proyek-proyek sialan itu”, jujur Clara.

“apa yang kau katakan?”, tanya Donghae.

“aku selalu berbohong pada oppa ketika oppa bertanya kenapa banyak memar diwajah dan luka di tubuhku dengan terjatuh atau mengalami kecelakaan kecil ketika mengemudi”, jelas Clara.

“karena oppa, aku harus bersembunyi-sembunyi untuk bertemu dengan kekasihku agar appa tidak tahu. Aku selalu menangisi jalan hidupku yang sangat sulit. Aku berulang kali ingin melarikan diri atau bunuh diri tapi itu selalu gagal”, tambah Clara.

“aku berjuang melawan kesakitan dan penderitaanku berharap suatu waktu akan membawaku pada kebahagiaan. Tapi setelah berjuang mati-matian pun yang ada sekarang aku kehilangan seluruhnya. Aku kehilangan oppa dan aku kehilangan kekasihku. Kekasih yang lebih nyaman dengan yeoja lain”, lanjut Clara kali ini menatap Max dengan air mata yang sudah terjatuh membasahi pipinya. Max memandang Clara dengan sedih, tidak menyangka jika yeoja itu mengalami hidup yang sangat berat sebenarnya.

Donghae mencoba mendekat ketika Clara tampak lengah. Namun sayangnya, Clara menyadari pergerakan Donghae.

“jangan mendekat oppa”, ancam Clara cepat, membawa tubuhnya dan Yoona semakin mundur mendekati tepi gedung.

“Clara aku mohon~” minta Max lagi.

“baiklah. aku akan memberi pilihan. Aku akan melepaskan Yoona dengan syarat salah satu diantara kalian harus menggantikan posisi Yoona disini”, Clara memberikan pilihan yang sangat sulit bagi kedua namja itu.

“aku, biar aku yang menggantikan Yoona”, ucap Donghae. Yoona menggeleng tidak ingin Donghae menggantikannya, tidak juga Max. Mereka orang-orang yang sangat berarti dihidupnya. Donghae tidak ada pilihan lain. Dia ingin Yoona selamat dan anggaplah ini sebagai tebusan atas kehadirannya dikehidupan Clara sehingga yeoja itu mengalami kesakitan itu.

“tidak, biar aku saja. anda harus menjaga Yoona Donghae-ssi”, jawab Max tegas. Max melangkah dengan cepat menghampiri Clara membuat yeoja itu panik dan juga ketakutan sehingga posisinya yang sudah sangat dekat dengan tepi gedung oleng namun dengan sigap Max menarik tangan kedua yeoja itu kearahnya. Tubuh Yoona terhempas kebelakang Max namun Donghae pun dengan cepat menangkap tubuh Yoona. Sedangkan Clara menubruk tubuh Max dengan keras hingga mereka berdua terjatuh dilantai. Terjadi keheningan beberapa detik hingga terdengar teriakan dari Clara.

“ MAX… MAX… AKU MOHON BANGUN MAX”, teriak Clara keras dengan tangan yang berlumuran darah. Ketika terjatuh tadi, mata pisau mengarah kedepan dan menancap diperut Max. Donghae yang sedang membuka bekapan mulut dan tali yang melilit tangan serta kaki Yoona pun terkejut dengan teriakan Clara.

“MAX”, teriak Yoona juga ketika sadar apa yang terjadi pada namja itu. Yoona bangkit dari duduknya namun segera Donghae tahan, menggeleng.

“aku akan melihatnya. Kau jangan banyak bergerak”, perintah Donghae. Dan bertepatan dengan itu Kyuhyun dan Henry datang dengan beberapa polisi. Dengan cepat polisi-polisi itu menyergap Clara, namun yeoja itu memberontak tidak ingin meninggalkan Max yang tergeletak dengan darah yang masih mengalir dari perutnya.

“Henry segera panggil ambulance”, perintah Donghae, dan Henry pun segera menjalankan perintah atasannya itu.

Hingga beberapa menit kemudian ambulance tidak segera datang.

“tolong Max, kumohon”, pinta Yoona pada Kyuhyun. Kyuhyun yang tidak bisa berpikir lagi, segera membawa tubuh Max keluar dari lantai itu. Donghae pun ikut membantu karena melihat Kyuhyun sangat kesulitan membawa tubuh Max seorang diri.

“Henry tolong bantu Yoona”, pinta Donghae pada sekretarisnya itu. Henry langsung membantu Yoona yang berusaha untuk berdiri. Memapah Yoona menuruni tangga satu persatu. Sedangkan Kyuhyun dan Donghae yang membawa tubuh Max sudah tidak terlihat lagi pada jarak pandang mereka. Kyuhyun memutuskan membawa Max dengan mobilnya saja ke rumah sakit terdekat.

>>>>>>>

“istirahatlah. Aku dan Kyuhyun akan menunggu operasi Max hingga selesai”, ucap Donghae pada Yoona yang tidak mau istirahat disalah satu bilik tempat perawatan pasien.

“tapi aku juga ingin menunggu”, ucap Yoona.

“tidak perlu. Kami saja. kau cukup istirahat. Max akan baik-baik saja”, ujar Donghae lagi, mengelus kepala yeoja itu agar tenang.

“percayalah, Max akan baik-baik saja”, ulang Donghae berharap Yoona akan percaya dan mau beristirahat. Walaupun tidak ada luka pada tubuh yeoja itu, tapi Donghae tetap khawatir sehingga menyuruh Yoona untuk istirahat. Pasti yeoja itu terguncang dengan kejadian itu.

“aku akan pergi untuk melihat keadaan Max. Nona Choi akan datang untuk menemanimu”, ucap Donghae kemudian beranjak pergi. Yoona memperhatikan punggung namja itu dengan baju yang kotor berlumuran darah karena membawa Max tadi.

“aku berharap kau baik-baik saja”, gumam Yoona sambil mengelus perutnya yang rata.

>>>>>>>

Sudah empat jam lebih Kyuhyun dan Donghae menunggu proses operasi Max. Namun proses operasi tak kunjung selesai. Kyuhyun mengamati namja yang hanya diam saja duduk sedikit menjauh darinya. Merasa dirinya menjadi bahan tontonan, Donghae melirik kesamping memandang Kyuhyun. Namun Kyuhyun segera mengalihkan pandangannya.

“apa kau sadar ini semua sebenarnya terjadi karena siapa?”, ucap Kyuhyun pelan. Donghae memandang Kyuhyun dengan kening berkerut.

“apa yang kau maksud?”, tanya Donghae balik.

“Yoona sampai mengalami kondisi seperti ini karena kau. Dan kau tidak sadar juga?”, kali ini suara Kyuhyun mulai mengeras.

“aku tahu ini semua terjadi karena aku. Dan aku tahu juga kau masih membenciku karena sikapku dulu”, jawab Donghae dengan kepala menunduk. Ya dia sadar ini semua salahnya. Jika saja dulu dia tidak kekanak-kanakan hanya karena cemburu ada yang mendekati gadisnya, mungkin saja namja yang berada disampingnya sekarang tidak akan membencinya, mungkin akan menjadi rekan bisnis yang baik. Dan jika saja dirinya bisa lebih memperhatikan Clara yang kurang kasih sayang dari orang sekitarnya, mendengarkan keluh kesahnya, mungkin saja yeoja itu tidak akan berbuat hal senekat ini. Tapi semuanya itu hanyalah harapan yang tidak akan pernah terjadi. Karena nyatanya semua kejadian buruk itu telah terjadi dalam sekejap mata.

“kau tahu kenapa aku melakukan itu kepadamu dulu?”, tanya Donghae.

“cemburu”, dengan cepat Kyuhyun menjawab pertanyaan itu. Donghae menegakkan kepalanya terkejut Kyuhyun tahu alasannya.

“aku bukan namja bodoh. Aku namja dan tahu bagaimana sikap seorang namja jika sudah menyukai seorang wanita. Dan kau menyukai Yoona saat itu”, jelas Kyuhyun.

“ya kau benar. Dan sampai sekarang pun masih sama. Tapi aku terlalu pengecut dari dulu hingga sekarang. Sampai Yoona tidak ada disisiku, barulah aku bener-benar menyesal”, ujar Donghae. Kyuhyun tersenyum sinis.

“itu balasan untukmu. Yeoja berhati lembut seperti Yoona tidak layak untuk mu yang serakah”, balas Kyuhyun semakin sinis. Donghae mengangguk menyetujui semua ucapan Kyuhyun. ‘Benar aku tidak layak untuk mendapatkan Yoona’, batin Donghae. Kyuhyun terkejut ketika respon Donghae mengangguk, menyetujuinya, bukannya marah atas ucapan tidak sopan dan kasar yang dia lontarkan. ‘ada apa dengan namja ini. Sangat aneh’, batin Kyuhyun. Bertepatan dengan itu, pintu ruang operasi terbuka disusul oleh dokter dan beberapa perawat lainnya.

Kedua namja itu pun segera menghampiri dokter itu.

“bagaimana keadaannya dokter?”, tanya Donghae.

“kalian keluarganya?”, tanya dokter itu.

“kami temannya”, jawab Kyuhyun ketika Donghae seperti kebingungan menjawab pertanyaan dokter itu. Jelas saja, hubungan Donghae dan Max bukan dalam kategori orang dekat, hanya sebatas kenal saja.

“luka tusukannya cukup dalam dan rawan organ vital, sehingga kami membutuhkan banyak waktu untuk mengoperasinya. Tapi syukurlah, pasien selamat”, jawab dokter itu. Perasaan lega melingkupi kedua namja itu.

“pasien akan segera dipindahkan keruang rawat. Tinggal menunggu siuman saja”, tambah sang dokter.

“terima kasih Dokter”, ujar Kyuhyun, dibalas senyuman oleh dokter itu.

“baiklah, saya harus kembali keruangan saja”, ucap dokter itu, kemudian pergi meninggalkan Kyuhyun dan Donghae yang masih berdiri didepan pintu ruang operasi.

“aku akan memberitahu Yoona”, ucap kyuhyun, pergi meninggalkan Donghae begitu saja.

>>>>>>>

Setelah dua hari dirawat di rumah sakit, Yoona kini sudah diizinkan untuk pulang. Tuan dan Ny Im serta Sooyoung datang kerumah sakit untuk membantu Yoona. Kyuhyun tidak bisa ikut menjemput Yoona karena ada pekerjaan di kantor. Namun satu yang membuat suasana hati Yoona tidak tenang selama dirumah sakit. Donghae. Namja itu tidak pernah datang menjenguknya selama dirawat dirumah sakit. Setelah sepeninggalnya dua hari yang lalu untuk melihat kondisi Max, namja itu sama sekali tidak pernah menunjukkan batang hidungnya di depan Yoona.

“wae? Kau memikirkan sesuatu?”, tanya Sooyoung yang sedang merapikan pakaian Yoona kedalam tas. Tuan dan Ny Lee sedang mengurus administrasi pembayaran rumah sakit.

“selama aku dirawat, apa.. Lee Donghae pernah datang ke sini tanpa sepengetahuan ku?”, tanya Yoona. Sooyoung langsung tersenyum menggoda.

“wae? Kau merindukan pujaan hatimu itu?”, goda Sooyoung. Pipi Yoona langsung memerah.

“a-ani. Aku hanya bertanya. Dia bukan pujaan hatiku”, jawab Yoona terbata. Mencoba menutupi isi hatinya yang sebenarnya, yang saat ini memang sangat merindukan namja itu, melebihi rasa rindunya ketika Donghae tujuh tahun meninggalkannya. Terkesan berlebihan memang, tapi itulah yang sebenarnya dirasakan Yoona sekarang.

“sepertinya tidak. Selama aku menjagamu, dia tidak pernah datang”, jawab Sooyoung sambil mengingat-ingat kejadian-kejadian selama dirinya menjaga Yoona dirumah sakit. Ada perasaan kecewa yang terpancar dari wajah Yoona ketika mendengar ucapan sahabatnya itu.

“ahh, sudah selesai. Ayo kita menjenguk Max”, ajak Sooyoung ketika kegiatannya untuk merapikan seluruh barang-barang  Yoona sudah selesai. Yoona mengangguk. Dengan berlahan berjalan bersama Sooyoung menuju kamar rawat Max.

Tok tok tok

Sooyoung mengetuk pintu kamar yang ada didepannya. Lalu membukanya secara berlahan. Dan terlihatlah namja yang sudah sadar dari tidurnya, sedang duduk di atas tempat tidurnya, sibuk dengan tabletnya. Mendengar ketukan pintu Max pun mengalihkan pandangannya, lalu tersenyum karena kehadiran dua yeoja cantik di kamarnya itu.

“Hai”, sapa Yoona.

“morning”, sapa Sooyoung dengan aksen korea yang sangat kental.

“Hai Yoona and Morning too miss Choi”, jawab Max. Sooyoung dan Yoona melangkah semakin mendekati tempat tidur namja itu.

“bagaimana keadaanmu?”, tanya Yoona.

“jauh lebih baik. Dan ku rasa aku sudah bisa pulang”, jawab Max.

“kau gila. Kau baru saja siuman, sudah meminta pulang”, balas Yoona. Max terkekeh mendengar ucapan Yoona yang seperti marah mendengar keinginannya.

“itu benar Max. sebaiknya kau beristirahat beberapa hari lagi disini”, tambah Sooyoung.

“tapi aku bosan”, jawab Max. Sooyoung memandang Yoona untuk meminta pendapat yeoja itu. Yoona mengangkat bahunya pertanda dia juga tidak tahu. hening beberapa saat melingkupi mereka.

“Yoong aku minta maaf”, ucap Max tiba-tiba, memecah keheningan mereka. Max berbicara sambil menatap lurus pada pintu kamar rawatnya. Nada bicara namja itu terdengar sangat menyesal.

“apa yang kau katakan. Tidak ada yang salah. Semuanya memang sudah ditakdirkan seperti ini. Saling menyayangi, saling menyakiti. Itu sudah menjadi jalan dari hidup kita”, jawab Yoona bijak. Mengerti bagaimana perasan pria itu karena Yoona yakin Max pasti sedang bergumul dengan perasaannya yang tidak menentu. Max menggeleng, tidak setuju dengan ucapan Yoona, tapi juga tidak membalasnya. Terjadi keheningan kembali. Kali ini Yoona yang memandang Sooyoung yang berdiri disampingnya dengan wajah bingung, tidak begitu mengerti dengan topik pembicaraan mereka.

“ahh, aku keluar sebentar menelepon Kyuhyun”, ujar Sooyoung, mengerti jika Yoona dan Max butuh waktu berdua saja. Tanpa menunggu jawaban Yoona dan Max, Sooyoung sudah keluar dari kamar itu. Kini tinggallah mereka berdua saja dalam kamar itu. Tidak ada yang memulai untuk memecah keheningan diantara mereka. Ini kali pertama bagi keduanya ketika bertemu sulit untuk memulai topik pembicaraan. Yoona mendudukkan dirinya ditepi tempat tidur Max. Menghela napas ringan, lalu memandang keluar jendela kamar itu.

“ada satu hal yang belum ku ceritakan kepadamu”, jeda Yoona. Max memandang Yoona, menunggu yeoja itu melanjutkan ucapannya.

“sebenarnya pertemuaan pertama kita bukanlah diminimarket waktu itu”, lanjut Yoona. Max mengerutkan keningnya. Seingatnya, dia pertama kali bertemu dengan Yoona ketika diminimarket.

“seingatku kita pertama kali bertemu diminimarket itu”, ucap Max, mengutarakan pemikirannya. Yoona mengangguk dengan ucapan Max.

“ya kau benar, awalnya aku pun berpikir seperti itu. Tapi ketika melihatmu bersama dengan Clara di pesta ulang tahun perusahaan, aku mengingatnya. Aku ingat, pernah melihatmu bersama dengan Clara di parkiran restoran depan kantor. Walaupun saat itu kau membelakangiku, tapi aku ingat dengan punggungmu”, jelas Yoona disertai tawa ketika pengucapkan kalimat terakhirnya. Max terdiam. Terkejut mendengar penjelasan Yoona. Tidak menyangka jika tanpa mereka sadari mereka ada dalam lingkupan takdir yang sama.

“aku minta maaf karena berbohong tentang hubunganku dengan Clara. Mungkin jika aku jujur, hal seperti ini tidak akan menimpamu”, sesal Max, kepalanya menunduk. Yoona meraih dagu namja itu keatas, agar dapat menatapnya. Mereka saling memandang sesaat, kemudian disusul senyuman yang tercetak diwajah Yoona.

“tidak ada yang perlu disesali Max. Semua sudah terjadi. Clara melakukannya karena dia kesepian”, ucap Yoona.

“tapi Yoona aku tidak-“, Max ingin membalas ucapan Yoona, tapi yeoja itu langsung mengelus pipi Max dengan lembut, membuat namja itu terdiam. Yoona menatap mata Max lamat-lamat, menyampaikan apa yang dirasakannya.

“aku tahu. kau sungguh-sungguh menyayangiku. Tapi coba tanyakan lagi pada hatimu, apa benar rasa sayangmu padaku melebihi rasa sayangmu padanya?”, Yoona mencoba membantu namja itu untuk mengerti dengan perasaannya sendiri. Max menunduk kembali, memikirkan ucapan Yoona.

“aku tidak tahu. Aku begitu marah ketika dia melakukan hal diluar batas. Disatu sisi aku ingin menghentikannya, tapi disisi lain aku ingin dia terbebas dari ayahnya, sehingga aku membiarkannya. Aku kecewa pada diriku sendiri kenapa aku tidak bisa menjaganya dengan baik. Aku… aku sangat mencintainya Yoona. Tapi aku hanya namja biasa yang tidak memiliki kekuasaan, untuk membantunya”, Max menatap Yoona kembali. Air mata sudah menetes secara berlahan dari mata namja itu. Dadanya terasa sesak, ketika menyadari dia sangat mencintai Clara. Yoona langsung memeluk namja itu. Mengelus punggung namja itu dengan lembut, menyampaikan bahwa semuanya akan membaik. Semua akan kembali seperti sedia kala.

>>>>>>>

Setibanya diapartemen, Yoona langsung mengistirahatkan diri. Dia lelah dan beberapa sendinya terasa sakit. Sooyoung, Tuan dan Ny Im sudah pulang akibat permintaan Yoona yang mengatakan mereka juga harus istirahat. Jadilah dia sendiri diapartemennya. Yeoja itu mengecek handphonenya, berharap ada sebuah panggilan atau pesan, tapi nihil. Yoona mendesah berat, perasaan kecewa melandanya. Yoona melempar handphone itu ke sembarang arah, lalu membaringkan badannya, memejamkan mata, berharap dengan tertidur sebentar, tubuhnya akan kembali sehat. Tapi baru beberapa menit Yoona memejamkan mata, tiba-tiba terdengar deringan handphonenya. Dengan cepat kelopak mata Yoona terbuka. Yeoja itu dengan kebingungan mencari dimana dia melempar benda yang mengeluarkan deringan itu. Ketika berhasil menemukannya dengan cepat dia menekan tombol hijau tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang menghubunginya.

“yeoboseo”, ucap Yoona dengan cepat.

ooo Yoong~”, ucap seorang dari seberang. Mendengar suara itu Yoona yang awalnya sangat senang menerima panggilan itu, mendadak merasa kecewa. Karena bukan orang yang sangat diharapkannya yang menghubunginya.

Yoong~, kau masih disana?”, tanya orang diseberang itu lagi.

“ooo, ne omma”, jawab Yoona.

bagaimana keadaanmu sayang? Omma dan appa minta maaf karena tidak bisa menjengukmu selama dirawat dirumah sakit”, ucap wanita paruh baya itu – Ny Lee.

“ne omma, aku sudah membaik. Tidak apa omma. Aku mengerti, omma sedang menemani Lee appa berobat di Jerman. Kesehatan Lee appa juga penting omma. Jangan khawatir, aku hanya butuh istirahat saja omma”, ucap Yoona memberitahukan keadaannya kepada Ny Lee.

ohh syukurlah. Omma lega mendengarnya”, jawab Ny Lee.

ohh ya, apa Donghae mengatakan sesuatu padamu sayang?”, tanya Ny Lee. Yoona mengerutkan keningnya.

“apa omma? Sudah dua hari kami tidak bertemu. Dan dia tidak pernah mengatakan apapun”, jawab Yoona.

aish anak itu benar-benar”, ucap Ny Lee menggerutu. Yoona merasa ada yang terlewatkannya lagi dari namja itu.

dia tiba-tiba mengatakan akan kembali bekerja di cabang New York. Omma sudah menanyakan alasannya, tapi anak itu tidak mau mengatakan apapun. Dia memaksa ingin kembali kesana. Dan beberapa hari ini dia sangat sulit dihubungi. Apa kau diberitahu sayang?”, tanya Ny Lee setelah menceritakan kekhawatirannya tentang Donghae. Yoona terdiam kaku. Sudah curiga karena namja itu menghilang selama dua hari ini. Diseberang sana terdengar suara perdebatan Ny Lee dan Tuan Lee yang sepertinya berdebat untuk mengatakan sesuatu pada Yoona.

Yoona, ini appa”, ucap suara berat khas pria paruh baya yang sudah seperti ayahnya Yoona sendiri.

“Ne appa”, jawab Yoona seadanya.

mmm, begini. Appa ingin mengatakan sesuatu. Mungkin setelah appa menceritakan ini, kau pasti akan membenci appa. Walaupun appa tidak ingin kau membenci appa, tapi appa tidak ingin seumur hidup dihantui rasa bersalah karena menghambat hubunganmu dengan Donghae”, ucap Tuan Lee. Yoona mengerutkan kening, tidak mengerti dengan ucapan Tuan Lee.

sebenarnya tujuh tahun yang lalu appa melakukan tindakan yang benar-benar tidak seharusnya dilakukan oleh seorang ayah pada anaknya. Appalah yang memaksa Donghae untuk melanjutkan studinya di New York agar sekaligus menjadi pemimpin dikantor cabang disana. Awalnya Donghae dengan keras menolaknya. Lalu appa memberikan pilihan kepadanya. Jika dia mau pergi ke New York, appa akan menuruti apapun yang diinginkannya”, jelas Tuan Lee.

lalu Donghae akhirnya menyetujui pergi ke New York dengan syarat jika dia berhasil mengembalikan keadaan kantor cabang disana, dia akan kembali ke korea dan segera menikahimu”, lanjut Tuan Lee. Kali ini Yoona tidak bisa mengontrol keseimbangan tubuhnya lagi. Dia terhuyung, terduduk pada sofa. Tubuhnya bergetar hebat mendengar mengakuan Tuan Lee. Tidak menyangka ada perjanjian seperti itu tujuh tahun yang lalu. Dan yang semakin membuat Yoona tidak bisa mengatakan apapun adalah keinginan Donghae yang ingin menikahinya.

jujur saja, appa sangat senang dengan keinginan Donghae itu, tapi appa sangat membutuhkannya saat itu sebagai pemimpin disana. Jadi appa menyanggupinya, tapi memberi syarat lagi padanya. Selama dia di New York, dia tidak boleh menjalin komunikasi denganmu agar dia dapat berkonsentrasi dengan kuliah dan pekerjaannya. Yoong, appa sangat menyesal, sungguh, maafkan appa. Aku tahu appa tidak pantas mendapatkan maaf dari kalian, tapi appa mohon jangan membenci appa”, minta Tuan Lee. Kemudian Tuan Lee berulangkali memanggil nama Yoona, tapi tidak ada respon dari Yoona.

sayang?”, tanya Ny Lee, ketika tidak ada respon dari Yoona. Kali ini sambungan telpon kembali pada Ny Lee

Yoona. Omma tahu kau pasti sulit menerima semua ini. Tapi satu yang sudah pasti, Donghae  sangat mencintaimu, hingga berkorban seperti itu”, ujar Ny Lee. Yoona meremas ujung bajunya, menahan gejolak dalam dirinya.

dan besok dia akan kembali ke New York”, kali ini gejolak yang sudah ditahan oleh Yoona, sudah tidak tertahankan lagi. Tanpa pikir panjang Yoona langsung berlari keluar dari apartemannya. Membiarkan Ny Lee diseberang sana kebingunan karena Yoona tidak merespon lagi ucapannya.

Didalam taxi Yoona sangat gelisah. Yeoja itu menggigiti kuku jarinya. Tubuhnya gemetar, selain karena dingin yang menyerang tubuhnya yang tanpa baju penghangat, tubuhnya juga gemetar karena ketakutannya. ‘Namja itu akan pergi lagi’, batin Yoona.

“ajussi, apa tidak bisa lebih cepat”, ucap Yoona pada supir taxi itu. Dia harus cepat sampai pada tujuannya.

“maaf agashi, sepertinya ada mobil yang mogok didepan, sehingga jalanan menjadi macet”, jelas supir taxi itu. Yoona semakin gelisah, dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Yoona memperhatikan sekeliling area tempat taxinya terjebak dikemacetan. Menyadari tempat tujuannya sudah tidak jauh lagi, Yoona memutuskan untuk membayar langsung taxi itu dan keluar dari taxi tanpa memperdulikan rintik-ritik hujan yang langsung menerpanya. Yoona berjalan dengan cepat, sesekali berlari. Beberapa orang memperhatikannya, tapi yeoja itu tidak peduli.

>>>>>>>

Donghae menyusun barang-barangnya kedalam koper. Tidak semua barangnya akan dibawa, hanya beberapa saja. Ketika menyusun pakaiannya, tiba-tiba pandangn namja itu jatuh pada jas yang sangat tidak asing baginya. Donghae mengambil jas itu, mengelusnya, mengingatkannya kembali pada tragedy di lift dan juga cara mengembalikan jas ini. Donghae tersenyum simpul, dia pasti akan merindukan gadis itu nanti. Tapi ini sudah jadi pilihannya untuk menebus kesalahannya.

Donghae segera memasukkan jas itu ke dalam koper, kemudian mengunci koper itu, menariknya ke sudut dekat pintu. Tiba-tiba suara bel pintu apartemennya berbunyi. Donghae menyernyit, heran, siapa yang bertamu di malam hari seperti ini ditengah hujan deras yang mengguyur kota Seoul. Donghae berlahan melangkah untuk membukakan pintu. Setelah pintu itu terbuka, betapa terkejutnya Donghae ketika yang berdiri didepannya adalah seorang yeoja yang sudah basah kuyup dengan wajah datar menatapnya.

“Yo-Yoona~”, panggil Donghae, tapi tidak ada jawaban dari yeoja itu, dia hanya diam menatap Donghae. Donghae memperhatikan sekeliling, jika saja yeoja itu datang bersama orang lain. Tapi sekitar tampak sepi. Donghae mendesis ketika memperhatikan keadaan Yoona yang basah.

“ayo masuk kau harus menghangatkan diri”, Donghae langsung menarik tangan Yoona masuk kedalam apartemennya, menutup pintu kembali. Donghae membawa Yoona untuk duduk disofa tapi tiba-tiba Yoona menarik tangannya dari genggaman tangan Donghae, membuat namja itu terhenti. Berbalik memperhatikan Yoona yang berdiri didepannya dengan kepala menunduk. Donghae mulai panik ketika melihat tubuh Yoona bergetar. Yeoja itu menangis.

“Yoong, ada apa?”, tanya Donghae, sambil menyentuh bahu Yoona. Namun dengan cepat Yoona menampik tangan Donghae dari bahunya. Donghae kaget dengan tindakan Yoona tersebut. Kekagetan Donghae samakin bertambah ketika melihat wajah Yoona yang sudah berlinang air mata. Donghae mendekat untuk memeluk yeoja itu. Tapi Yoona malah mundur kebelakang.

“wae? Wae?”, tanya Yoona, tapi Donghae tidak mengerti dengan maksud kalimat tanya itu.

“apa kau pernah sekali saja menganggapku ada? Apa aku hanya makhluk kasat mata bagimu?”, tanya Yoona dengan nada suara yang mulai naik.

“apa yang kau katakan? Aku selalu memperhatikanmu Yoong”, jawab Donghae, kembali melangkah mendekati Yoona, tapi lagi-lagi Yoona mundur kebelakang.

“tapi kenapa kau selalu merahasiakan semuanya dariku. Kenapa kau tidak pernah menceritakan semua bebanmu kepadaku?”, teriak Yoona.

“katakan yang sejujurnya, alasan kau pergi ke New York tujuh tahun yang lalu?”, tambah Yoona lagi, kali ini tidak ada teriakan lagi, tapi yeoja itu menatap Donghae tajam. Mendengar pertanyaan itu Donghae langsung menunduk, terdiam. Tindakan namja itu membuat amarah Yoona semakin memuncak. Yoona mendekati Donghae, menarik kerah baju namja itu, memaksa namja itu untuk segera menjawab.

“katakan Lee Donghae”, teriak Yoona. Donghae tetap diam. Yoona kembali terisak, dadanya terasa sangat sesak. Yoona memukul dada bidang namja itu berulang kali. Menyalurkan rasa marah dan juga sakitnya. Sedangkan namja itu hanya diam.

“aku sangat membencimu Lee Donghae”, isak Yoona. Donghae langsung memeluk Yoona erat, sehingga menghentikan tindakan Yoona yang terus memukul dadanya keras. Yoona mencoba memberontak, ingin lepas dari pelukan itu. Tapi sayangnya tenaganya tidak sebanding dengan namja itu, akhirnya Yoona menyerah. Didalam pelukan itu mereka saling meluapkan rasa yang mereka miliki. Hingga beberapa menit mereka masih dalam posisi yang sama tapi Yoona tidak menangis lagi.

“kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya dulu. Jika kau mengatakan yang sebenarnya, mungkin kita tidak akan saling menyakiti seperti ini, dan… mungkin aku akan menunggumu”, ucap Yoona. Donghae melepas pelukan itu. Menatap tepat di manik mata Yoona.

“Lee appa sudah memberitahuku”, singkat Yoona. Namja itu terlonjak kaget, tidak percaya ayahnya akan mengakui semua perjanjian mereka pada Yoona. Donghae tahu resiko yang akan diperoleh ayahnya itu jika berani mengatakan yang sebenarnya pada Yoona. Kemungkinan besar Yoona akan marah dan membenci ayahnya. Tentu saja ayahnya itu tidak menginginkan hal itu sampai terjadi. Tapi sekarang Yoona sudah tahu dan itu dari ayahnya.

“wae? Kenapa kau tidak memberitahuku?”, tanya Yoona lagi. Donghae masih menatap manik mata Yoona, berpikir ulang apa lebih baik jujur saja atau tidak.

“aku dulu adalah namja pengecut dan terlalu percaya diri. Beranggapan jika kelak aku kembali, aku pasti bisa memperbaiki semuanya. Tapi nyatanya semua semakin buruk. Aku menginginkanmu tapi aku pun tidak bisa egois dengan mengabaikan keluargaku, jadi aku memilih salah satunya”, jawab Donghae.

“aku merasa seperti namja brengsek sekarang”, lanjut Donghae.

“ya kau memang namja brengsek yang sesuka hatinya mempermainkan perasaanku”, jawab Yoona. Donghae tersenyum simpul atas ucapan Yoona.

“Ya kau benar”, setuju Donghae. Tidak marah pada Yoona yang berkata tidak sopan, karena memang demikianlah dirinya. Kembali Donghae menarik Yoona dalam pelukannya. Kali ini tidak ada penolakan dari Yoona. Bahkan yeoja itu ikut membalas pelukan Donghae.

“maafkan aku Yoong”, ucap Donghae.

“apa jika aku memaafkanmu, kau tidak akan pergi. Jika memang seperti itu, maka aku akan memaafkanmu”, jawab Yoona tenang, masih menikmati pelukan hangat dari namja itu. Donghae melonggarkan pelukannya, menatap Yoona, lalu menggeleng.

“wae?”, ucap Yoona kecewa.

“aku sudah mengakibatkan kekacauan lagi disini. Karena kehadiranku nyawa orang-orang yang sangat kusayangi menjadi terancam. Sebaiknya aku pergi”, jawab Donghae dengan tatapan yang memancarkan kesedihan.

“kau menyalahkan dirimu sendiri karena kejadian itu?”, tanya Yoona tidak percaya dengan jawaban yang Donghae lontarkan.

“tapi karena aku, kau mengalami insiden itu. Nyawamu yang menjadi taruhannya saat itu. Jika terjadi sesuatu padamu saat itu, aku lebih memilih mati saja”, jawab Donghae.

“aku juga bersalah pada Clara yang tidak bisa berada disampingnya ketika dia mengalami masa sulit selama ini. Jadi lebih baik aku pergi, agar kejadian yang sama tidak terulang kembali”, tambah Donghae. Yoona langsung memeluk namja itu erat.

“itu bukan salahmu. Jadi jangan pergi, aku mohon”, ucap Yoona lembut. Donghae tidak menjawab, dia hanya membalas pelukan itu, mengusap punggung yeoja itu yang masih dilapisi baju yang basah.

“aku sangat mencintaimu. Jadi jangan pergi”, ucap Yoona. Donghae melepas pelukan itu lagi. Ini pertama kalinya Yoona mau mengutarakan perasaannya setelah mereka bertemu lagi. Sebelumnya Donghae tahu jika Yoona masih mencintainya, terbukti dari tindakan yeoja itu selama ini.

“gomawo”, jawab Donghae. Yoona mendengus kesal.

“bukan itu jawaban untuk membalas perasaan orang lain”, ucap Yoona kesal. Donghae terkekeh.

“aku juga sangat mencintaimu Im Yoona”, jawab Donghae dengan cepat, lalu mencium kening yeoja itu. Mereka saling melemparkan senyum bahagia mereka. Kemudian kembali berpelukan.

Setelah memberikan Yoona baju untuk mengganti bajunya yang basah, mereka duduk disofa sambil menyesap secangkir teh ginseng untuk menghangatkan tubuh mereka. Terkhusus Yoona yang tadi basah kuyup. Mereka saling membagi cerita selama tujuh tahun mereka tidak bersama.

“apa kau robot?”, ucap Yoona marah. Ketika menanggapi cerita keseharian Donghae selama di New York yang menghabiskan waktunya untuk bekerja dan bekerja saja. Bahkan diwaktu libur Donghae mengatakan tetap bekerja.

“tapi aku harus melakukannya agar bisa membuat perusahaan itu dalam keadaan stabil lalu aku bisa pulang dan bertemu denganmu. Tapi aku tidak menyangka jalanku sangat lambat. Bahkan aku harus menghabiskan waktu tujuh tahun untuk memperbaiki semuanya”, jelas Donghae.

“tapi tetap saja. Kau punya karyawan yang bisa membantumu, jadi tidak perlu mengerjakan semuanya sendiri”, Yoona mengerti dengan jawaban namja itu. Tapi tetap saja, bekerja seorang diri hingga hampir 24 jam sehari, sedangkan dirinya sendiri memiliki karyawan yang dapat membantunya, tidaklah baik.

“aku tidak dapat mempercayai semua orang. Jadi aku lebih baik mengerjakannya langsung. Lagi pula aku sudah sangat merindukanmu, jadi aku harus berjalan dengan cepat”, jawab Donghae.

“ckk, aku tidak percaya dengan jalan pikiranmu”, balas Yoona disertai desisan. Donghae tersenyum, menarik pinggang Yoona agar mendekat padanya, lalu memeluknya dari samping. Mereka nikmati waktu kebersamaan mereka itu dengan baik. Saling berbagi kisah sedih dan pengalaman-pengalaman menarik mereka selama berpisah. Sesekali tawa terdengar diapartemen itu dan juga makian dari Yoona ketika Donghae membuatnya kesal. Tapi Donghae tidak marah, dia senang dapat menghabiskan waktunya dengan Yoona. Hingga berjam-jam mereka saling berbincang, hingga tidak ada lagi yang memulai berbicara, mereka menikmati dalam diam. Yoona menguap, pertanda yeoja itu sudah mulai mengantuk. Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari.

“kau mengantuk?”, tanya Donghae yang masih memeluk Yoona. Yeoja itu hanya mengangguk saja. rasa ngantuk yang menyerangnya tidak tertahankan lagi.

“tidurlah”, ucap Donghae. Dan setelah itu Yoona benar-benar memejamkan matanya, memasuki alam bawah sadarnya.

Donghae terduduk ditepi tempat tidurnya sambil memandang Yoona yang masih terlelap tertidur. Merasa posisi tidur Yoona disofa tidaklah nyaman, Donghae memutuskan memindahkan yeoja itu ke tempat tidurnya.

Donghae mengelus rambut Yeoja itu dengan lembut. Merekam baik-baik wajah yeoja itu didalam memory otaknya. Donghae menunduk memberikan kecupan dikening Yoona.

“maafkan aku”, ucap Donghae lirih lalu pergi keluar dari kamar itu. Meninggalkan Yoona yang masih terlelap dalam tidurnya.

Tepat pukul 5 pagi Yoona terbangun dari tidurnya. Matanya mengerjap menyesuaikan dengan cahaya lampu. Yoona memperhatikan langit kamar, kemudian sekeliling dari kamar itu. Setelah menyadari dirinya sedang tidak diapartemennya, melainkan di apartemen Donghae, Yoona mendudukkan diri. Mencari keberadaan namja itu.

“Donghae”, panggil Yoona, tapi tidak ada jawaban. Yoona beranjak menuju kamar mandi, tapi Donghae tidak ada disana. Lalu keluar kamar, dan apartemen itu sepi. Tidak ada tanda-tanda orang lain selain dirinya diapartemen itu. Yoona mulai gelisah. Yoona mencari keberadaan koper yang Donghae susun di dekat pintu apartemen itu semalam, dan sekarang sudah tidak ada. Namja itu pergi. Yoona menumpukan berat badannya pada dinding disampingnya. Tiba-tiba kepalanya pusing dan kakinya lemas. Secara berlahan Yoona membawa dirinya kembali kekamar, kemudian meraih handphonenya, mencoba menghubungi namja itu, tapi tidak diangkat. Ketika Yoona hendak ingin mencoba kembali menghubungi namja itu, tiba-tiba ada panggilan masuk.

“yeoboseyo”, jawab Yoona.

Yoong, kau bersama Donghae?”, tanya Ny Lee.

“tidak. Dia sudah pergi omma. Aku tidak bisa mencegahnya”, jawab Yoona lemas disertai rintihan kesakitan. Perutnya pun kini terasa keram tiba-tiba.

kau kenapa sayang? Kau dimana sekarang”, tanya Ny Lee ketika mendengar nada suara Yoona yang sangat lemah.

“a-aku di apartemen Donghae omma”, jawab Yoona terbata Karena sakit diperutnya semakin menjadi.

omma sudah dekat denngan aparteman. Tunggu omma”, dengan cepat Ny Lee menjawab dan memutus sambungan telepon itu. Yoona meletakkan handphonenya didekat bantal, kemudian secara berlahan merebahkan tubuhnya ditempat tidur itu. Berharap sakit kepala dan perutnya akan berkurang.

Tidak lebih dari sepuluh menit, sudah terdengar suara dari luar kamar itu hingga suara itu semakin dekat menuju kamar.

“Yoong”, panggil Ny Lee pertama kali ketika membuka pintu kamar itu lebar-lebar. Dan betapa kagetnya wanita paruh baya itu ketika melihat tubuh Yoona yang tertidur di tempat tidur dengan wajah pucat. Dengan cepat Ny Lee menghampiri Yoona.

“kenapa sayang? Kau sakit?”, tanya Ny Lee. Sesekali Yoona membuka matanya untuk menatap Ny Lee.

“om-omma perutku sa-sakit”, ucap Yoona lirih.

“ohh ya Tuhan. Ayo kita kerumah sakit”, ajak Ny Lee. Dengan berlahan membantu Yoona berdiri, mereka harus segera kerumah sakit.

>>>>>>>

Donghae sedang duduk disalah satu kursi yang ada dibandara itu, sambil menunggu kedatangan Henry yang sedang mengurus keberangkatannya ke New York. Ya namja itu memilih tetap pergi walaupun Yoona sudah membujuknya agar tidak pergi tapi sepertinya hati namja itu belum benar-benar memaafkan dirinya sendiri, masih menyalahkan diri sendiri.

“sajangnim, ini tiketnya”, ucap Henry ketika sudah menghampiri Donghae.

“terima kasih”, ucap Donghae. Donghae melangkah menuju pintu ruang tunggu. Namun tiba-tiba terdengar deringan dari handphone kembali. Jika tadi ada panggilan dari Yoona, namja itu abaikan, kali ini entah kenapa Donghae mengangkatnya.

“Yoong”, ucap Donghae pertama kali. Tapi tidak ada balasan dari Yoona diseberang sana. Hanya deru napas yang terdengar lemah yang dapat Donghae dengar. Donghae pun ikut terdiam.

kali ini aku akan membuat pilihan. Kau datang menemuiku atau kau tidak akan pernah melihatku lagi”, ucap Yoona akhirnya. Donghae terdiam, pilihan yang Yoona berikan sangat sulit baginya.

“Yoong aku-“, tiba-tiba ucapan Donghae terpotong.

“ANAK NAKAL. KENAPA KAU SANGAT KERAS KEPALA. CEPAT BATALKAN KEBERANGKATANMU DAN DATANG KE RUMAH SAKIT KYUNGHAE. JIKA TIDAK, OMMA TIDAK AKAN PERNAH MENGANGGAPMU PUTRA OMMA LAGI”, ancam Ny Lee yang sepertinya mengambil alih handphone Yoona dan dengan mudahnya memutus panggilan itu. Donghae memandang layar handphone dengan kening berkerut.

“rumah sakit?”, gumam Donghae. Tidak mengerti maksud ommanya itu. Namun tiba-tiba matanya melebar, ketika menyadari salah satu dari wanita yang sangat berarti dalam hidupnya itu pasti sedang dirawat dirumah sakit itu. Donghae berbalik, membatalkan niatnya memasuki ruang tunggu. Kembali menghapiri Henry.

“batalkan keberangkatanku dan tolong urus barang-barangku. Aku harus kerumah sakit sekarang. Berikan kunci mobil”, perintah Donghae. Dengan cepat Henry menyerahkan kunci mobil pada Donghae walaupun dia bingung dengan ucapan atasannya itu. Donghae segera berlari keluar dari bandara.

>>>>>>>

Hampir sejam lebih yang Donghae gunakan untuk menempuh perjalanan dari bandara kerumah sakit. Sesampainya dilobby rumah sakit, Donghae mengedarkan pandangannya kesekeliling. Bingung kemana harus melangkah selanjutnya. Ingin bertanya pada perawat yang ada disana tapi tidak tahu siapa sebenarnya pasien yang ingin dia lihat. Ommanya atau Yoona atau yang lain?. Dia tidak tahu, namun tiba-tiba pandangan Donghae tertuju pada sepasang manusia yang sedang berbicara dengan seorang suster. Donghae dengan cepat menghampiri mereka.

“Nona Choi?”, panggil Donghae. Merasa dirinya yang dipanggil, Sooyoung berbalik mencari orang yang memanggilnya. Dan didepannya sudah berdiri Donghae dengan napas yang tidak beraturan.

“sajangnim?”, ucap Sooyoung kaget melihat Donghae ada dirumah sakit.

“apa Yoona yang sakit?”, tanya Donghae. Sooyoung mengangguk walaupun wajahnya masih menunjukkan kebingungan.

“dimana?”, tanya Donghae tidak sabaran.

“dilantai 2 kamar 37”, jawab Sooyoung. Donghae langsung bergegas menuju lift. Tidak mendengar ucapan Sooyoung selanjutnya.

“ckk dasar tidak sabaran”, sindir Kyuhyun yang berdiri disamping Sooyoung.

“mmm, padahal aku ingin mengatakan jika Yoona hanya perlu istirahat dan mengalami sedikit stress. Bukan penyakit parah”, ucap Sooyoung masih memperhatikan arah perginya Donghae.

“ayo”, ajak Kyuhyun pada kekasihnya itu. Dengan santai berjalan menuju arah yang sama dengan Donghae pergi tadi.

Sesampainya Donghae di lantai 2, Donghae langsung mendapati Tuan dan Ny Lee serta Tuan dan Ny Im yang duduk didepan sebuah ruangan. Donghae berlari menghampiri mereka.

“omma”, panggil Donghae. Ny Lee langsung beranjak dari duduknya menghampiri Donghae dengan cepat lalu melayangkan pukulan pada tubuh putranya itu berulang kali.

“dasar anak nakal. Aku tidak pernah mengajarkanmu melakukan hal seperti ini”, maki Ny Lee masih tetap melayangkan pukulan pada putranya itu.

“om-omma, sakit. Apa yang omma maksud?”, ucap Donghae sambil berusaha menahan sakit akibat pukulan dari Ny Lee.

“kenapa kau sangat keras kepala hahh. Dan sekarang setelah kau membuat kekacauan, dengan mudahnya kau pergi begitu saja tanpa pertanggungjawaban?”, maki Ny Lee lagi. Merasa tubuhnya semakin sakit, Donghae menangkap kedua tangan Ny Lee. Menghentikan tindakan wanita paruh baya itu.

“aku mohon, aku tidak mengeti dengan apa yang omma maksud? Tidakkah kalian ingin menjelaskannya padaku?”, bela Donghae. Tuan Lee menghampiri istrinya itu membawanya kembali duduk dikursi. Bertepatan juga Sooyoung dan Kyuhyun sampai dilantai itu, duduk disebelah Ny Im, menanyakan keadaan Yoona. Donghae meremas rambutny karena tidak ada yang mau menjelaskan kepadanya tentang apa yang terjadi sebenarnya.

Tiba-tiba pintu kamar rawat Yoona terbuka, disusul seorang Dokter dan seorang suster yang keluar dari sana.

“Dokter bagaimana kondisi Yoona?”, tanya Donghae langsung. Membuat dokter itu terkejut hingga mundur selangkah.

“tenangkan dirimu Lee Donghae”, peringat Tuan Lee. Dokter itu tersenyum, melihat tingkah Donghae yang tidak sabaran.

“apa anda suaminya?”, tanya dokter itu.

“Nde?”, Donghae kaget.

“tenang saja, nona Im hanya butuh istirahat saja. dan kondisi janinnya juga baik-baik saja. Keram yang nona Im rasakan hanya karena nona Im terlalu lelah dan depresi. Anda harus lebih memperhatikan nona Im. Karena usia kehamilannya baru lima minggu, masih sangat rentan”, jelas dokter itu.

“tapi tenang saja, semua akan baik-baik saja. Nona Im sudah bisa dijenguk. Saya harus kembali keruangan saya. Dokter Im saya permisi”, ucap dokter itu permisi terkhusus pada Tuan Im selaku dokter senior dirumah sakit itu. Seperginya dokter itu, mereka masih terdiam. Donghae berbalik menghadap Ny Lee.

“be-benarkah yang dikatakan dokter itu omma? Yoona hamil?”, tanya Donghae pada Ny Lee masih tidak percaya dengan ucapan dokter itu. Ny Lee tidak menjawab, wanita paruh baya itu hanya mengangguk sambil memijat keningnya. Donghae terdiam. ‘apa itu akibat dari apa yang kami lakukan di jeju waktu itu?’, tanya Donghae pada dirinya. ‘jika benar berarti itu anakku’,tambah namja itu lagi. Donghae sibuk dengan pemikirannya tidak mengadari seorang namja yang datang mendekatinya dengan wajah tegang, penuh amarah.

“BRENGSEK”, teriak Kyuhyun sambil melayangkan pukulan keras diwajah Donghae. Donghae yang saat itu tidak menyadari kedatangan Kyuhyun, tidak sempat menghindar, hingga dia tersungkur di lantai dingin rumah sakit itu.

“Kyu~ sudahlah. Ini dirumah sakit, jangan membuat keributan”, ucap Sooyoung sambil menahan tangan Kyuhyun yang siap untuk memberi pukulan lagi pada namja yang sedang berusaha untuk berdiri. Kyuhyun menyerah, mengikuti keinginan Sooyoung yang membawanya kembali ke tempat duduknya. Donghae berdiri mendekati Tuan dan Ny Im, lalu berlutut di depan mereka.

“omma, appa maafkan aku”, ucap Donghae.

“apa yang kau katakan Hae. Berdirilah”, ucap Tuan Lee.

“tidak. Aku bersalah. Aku sudah mengecewakan omma dan appa. Seantainya aku bisa menahan diri, Yoona tidak harus hamil”, jawab Donghae. Ny Im meraih tangan Donghae.

“dengarkan omma. Kami memang sedikit kecewa dengan tindakan kalian. Tapi semua sudah terjadi, tapi mendengar Yoon hamil, ada rasa bahagia ketika membayangkan kami akan menggendong seorang cucu. Jadi kau juga bahagia Hae. Bukankah kau ingin menikahi Yoona?”, ucap Ny Im. Mendengar ucpan Ny Im, Donghae langsung tersentuh, matanya sudah berkaca-kaca.

“omma~”, ucap Donghae dengan suara serak, seperti ingin menangis.

“jadi pergilah, perbaiki semuanya”, tambah Tuan Im dengan tersenyum. Donghae tersenyum, lalu beranjak masuk ke kamar rawat Yoona.

Ketika Donghae masuk, Yoona sedang terduduk termenung memperhatikan keluar jendela. Yeoja itu masih tetap memandang ke luar jendela walaupun tahu ada orang yang masuk ke kamarnya. Donghae duduk ditepi tempat tidur Yoona.

“Yoona”, panggil Donghae. Setelah panggilan itu, barulah Yoona mengalihkan pandangannya. Donghae menatapnya lekat, dengan sudut bibir yang robek dan masih mengeluarkan darah.

“kenapa kau kembali. Bukankah kau sangat ingin pergi?”, tanya Yoona datar.

“aku tidak jadi pergi. Aku harus tetap ada disini, disampingmu”, jawab Donghae sambil tersenyum, sedikit meringis karena ketika bibirnya tertarik keatas, akan terasa perih akibat luka disudut bibirnya itu.

“untuk apa? Aku tidak membutuhkanmu”, balas Yoona.

“kau harus membutuhkanku. Kau tidak mungkin menjaga anak itu sendirian”, ucap Donghae. Yoona terdiam sesaat, tapi kemudian berucap kembali.

“ckk, kau berkata seperti itu, seolah-olah kau ayahnya”, ujar Yoona masih dengan nada datar.

“aku memang ayahnya”, jawab Donghae yakin.

“kau terlalu percaya diri”, balas Yoona. Donghae meraih tangan Yoona, menggenggamnya erat.

“aku yakin 100% dia anak ku. Lagi pula kau tidak mungkin melakukannya dengan namja lain selain aku”, ucap Donghae, kali ini Yoona langsung menunduk karena dia merasa pipinya pasti sudah memerah merona. Hening beberapa saat, mereka hanya saling diam.

“ayo menikah”, ucap Donghae.

“kita perbaiki semuanya bersama-sama. Tinggal dirumah yang sama, tidur bersama, menata rumah bersama, memasak bersama, membesarkan anak-anak kita bersama hingga maut yang memisahkan kita. Itu adalah mimpi terindahku. Maukah kau membantuku mewujudkannya Yoong?”, tambah Donghae. Yoona menatap Donghae dengan mata berkaca-kaca. Terharu mendengar keinginan Donghae. Yoona mengangguk, menerima ajakan, atau ini bisa dikatakan lamaan? Entahlah, Yoona tidak peduli, yang penting Donghae akan bersama dengannya selama-lamanya. Donghae langsung membawa Yoona kedalam pelukannya.

“gomawo Yoong”, ucap Donghae. Lalu melonggarkan sedikit pelukannya. Mereka saling menatap, hingga wajah mereka sudah sangat dekat, Donghae memberikan kecupan singkat lalu menatap Yoona lagi. Yoona yang kali ini memulainya, mencium namja itu, melumat bibir Donghae lembut. Namun ciuman itu harus terhenti karena Donghae meringis kesakitan akibat luka dibibirnya.

“ohh maaf”, ucap Yoona malu karena merasa dirinya terlalu agresif. Donghae menggeleng, menyatakan dirinya baik-baik saja. Yoona menyentuh sudut bibir Donghae. Menatap bibir itu prihatin.

“siapa yang melakukan ini? Appa? Lee Appa? Atau Kyuhyun?”, tanya Yoona.

“ckk, siapa lagi jika bukan namja itu”, jawab Donghae, kesal ketika nama namja yang memukulnya masuk dalam daftar orang yang Yoona yakini akan menghadiahkannya sebuah pukulan keras.

“maafkan dia. Kyuhyun melakukan itu karena dia menyayangiku”, ucap Yoona lembut, meminta Donghae agar tidak dendam terhadap sahabatnya itu.

“dia masih menyukaimu? Wah kenapa sangat banyak namja yang menyukaimu”, ucap Donghae kesal.

“tentu saja dia harus menyayangiku. Aku juga menyayanginya. Dia sahabat terbaikku”, jawab Yoona.

“sahabat? Jadi bukan rasa sayang seperti.. ya itulah pokoknya”, ucap Donghae bingung menyampaikan apa yang dipikirkannya.

“maksudmu  cinta?”

“mmm”

“bagaimana mungkin. Itu sudah sangat lama. Lagi pula dia kekasih Sooyoung”, jelas Yoona.

“Nona Choi?”, tanya Donghae meyakinkan. Yoona mengangguk.

“Syukurlah”, ucap Donghae lega.

“oh ya, apa kau sudah tahu sebelumnya kau hamil?”, tanya Donghae.

“mmm, ketika kecelakaan waktu itu”, ucap Yoona.

“apa? Kenapa kau tidak memberi tahuku?”, ucap Donghae terkejut.

“entahlah. Aku masih syok waktu itu. Dan kondisimu pun sedang terluka”, jawab Yoona santai.

“kau seharusnya tetap memberi tahuku. Apa dia baik-baik saja?”, tanya Donghae khawatir.
“ya syukurnya dia baik-baik saja. dia sangat kuat”, ucap Yoona.

“seperti ommanya”, tambah Donghae. Mereka tersenyum, ketika membayangkan sebentar lagi mereka akan menjadi orangtua.

Tiba-tiba pintu terbuka secara berlahan, muncullah beberapa orang dari balik pintu itu.

“ohh, baru kali ini aku melihat kalian berbaikan dan bermesraan. Biasanya dikantor kalian seperti kucing dan anjing. Selalu bertengkar”, ucap Sooyoung, membuat orang-orang yang ada disana tertawa.

“mereka selalu bertengkar?”, tanya Ny Lee.

“mmm, mereka saling berperang mulut, dan Yoona selalu memaki Donghae-ssi”, ucap yeoja tinggi itu terlalu jujur.

“mulutmu itu memang perlu diajari sesekali Im Yoona”, ucap Ny Im yang berdiri disamping Ny Lee. Dan Yoona cemberut lalu menatap Sooyoung tajam. Tapi sayangnya Sooyoung tidak takut sama sekali.

“jadi, kapan kalian menikah?”, tanya Tuan Im.

“minggu depan”, jawab Ny Lee langsung walaupun pertanyaan itu bukan ditujukan kepadanya. Semua orang menatap Ny Lee terkejut.

“wae? Kalian tidak setuju. Yoona sudah dalam keadaan hamil, apa lagi yang harus ditunggu. Kalian ingin sampai perut Yoona membesar?”, jelas Ny Lee.

“ya Hana benar. Lebih cepat lebih baik”, ucap Ny Im setuju dengan pendapat Ny Lee.

“tapi omma, kita perlu persiapan. Dan kurasa seminggu itu kurang”, ucap Yoona.

“tenang saja serahkan pada omma-ommamu yang cantik ini”, balas Ny Lee sambil menunjuk dirinya dan Ny Im yang ada disampingnya.

“kami juga akan membantu. Iya kan Kyu?’, tambah Sooyoung.

“aku? Tapi aku belum terima Dong- auww”, belum ucapan Kyuhyun selesai, namja itu sudah mendapatkan sakit di lengannya akibat cubitan dari kekasihnya itu.

“jangan dengarkan dia. Dia juga pasti akan membantu”, ucap Sooyoung disertai senyuman lebar.

“terima kasih”, ucap Yoona kepada semua orang yang ada dikamar rawat itu.

>>>>>>>

Sesuai dengan yang sudah disepakati, Donghae dan Yoona menikah seminggu kemudian. Tidak banyak tamu yang diundang. Hanya keluarga, sahabat dan orang-orang kantor yang memiliki jabatan tinggi saja yang diundang, serta beberapa wartawan yang bekerja di perusahaan percetakan yang terpercaya. Dan setelah pernikahan mereka berlangsung, Donghae dan Yoona langsung menempati rumah baru, hadiah pernikahan dari Ny Lee. Sesuai dengan selera Yoona, Ny Lee memilih rumah yang tidak begitu besar namun disertai halaman yang luas dan taman disekitar pekarangan rumah. Sederhana, namun sangat nyaman.

“sayang, kau tidak ingin berangkat kekantor?”, tanya Donghae pada istrinya yang masih bergelut dibalik selimut. Sedangkan Donghae sudah selesai mandi. Memang setelah menikah, Yoona masih memaksa untuk tetap masuk kantor, walaupun Donghae sudah melarangnya. Karena tidak ada pergerakan dari Yoona, dengan jailnya Donghae memasukkan tangannya kebalik selimut, kemudian menggelitik perut Yoona, hingga yeoja itu terbangun dari tidurnya.

“ahhh, ampun~”, ucap Yoona, Donghae pun menghentikan kegiatannya. Yoona membuka matanya berlahan, menyesuaikan dengan cahaya yang masuk dari jendela.

“ayo bangun, nanti kita terlambat”, ucap Donghae lembut sambil merapikan anak rambut yang menutupi wajah istrinya itu. Yoona pun dengan berlahan dibantu oleh Donghae untuk duduk. Yoona memperhatikan sekeliling kamar lalu kembali pada wajah Donghae. Yoona tersenyum, melihat wajah tampan suaminya itu. Masih ada rasa tidak percaya dalam diri Yoona bahwa dirinya sudah menjadi istri seorang Lee Donghae. Padahal sudah seminggu mereka menikah.

Cup~

“morning”, ucap Yoona setelah mengecup bibir suaminya itu. Donghae tersenyum senang menerima perlakuan manis Yoona. Cup~ Donghae melakukan hal yang sama, mengecup bibir istriny itu.

“morning too”, balas Donghae.

“ayo bangun, segera mandi. Lalu kita akan sarapan. Han ajumma pasti sudah menyiapkan sarapan untuk kita”, ucap Donghae, dibalas anggukan dari Yoona. Yeoja hamil muda itu pun turun dari tempat tidur, melangkah memasuki kamar mandi. Donghae masih memperhatikan yeoja itu sampai pintu kamar mandi tertutup. Donghae tersenyum karena tingkah Yoona yang seperti anak kecil dan manja akhir-akhir ini. Sepertinya akibat dari kehamilannya. Dan yang lebih aneh lagi, wanita hamil itu tidak pernah mual dan muntah semasa kehamilannya. Namun yang mengalami itu semua adalah Donghae. Donghae harus bolak-balik masuk kamar mandi karena rasa mual yang terus-menerus menyerangnya. Lucu bukan dan juga so sweet.

Donghae dan Yoona berangkat kekantor bersama. Setibanya dikantor, beberapa karyawan di lobby langsung membungkuk hormat pada mereka. Yoona dan Donghae hanya memberikan balasan senyuman kepada mereka. Donghae dan Yoona masuk ke dalam lift yang didalamnya juga terdapat beberapa karyawan yang didominasi kaum hawa. Mereka juga menunduk memberi hormat kepada mereka. Karyawan-karyawan itu langsung memberi ruang buat Donghae dan Yoona di depan mereka.

Keadaan lift hening, tidak ada yang bicara. Hingga Yoona dapat mendengar bisikan karyawan yang Yoona yakini adalah yeoja, sedang berbisik mengagumi ketampanan Donghae. Yoona langsung menggeram kesal. Tidak terima ada yeoja lain yang mengagumi suaminya. Hanya dia seoranglah yang dapat mengagumi Donghae.

“oppa, dasimu belum rapi”, ucap Yoona kemudian merapikan dasi Donghae didepan semua karyawan yang ada didalam lift itu. Membuat mereka tak terkecuali Donghae kaget dengan tindakan Yoona. Yeoja itu tidak pernah menunjukkan perasaannya secara terang-terang didepan orang banyak ketika dikantor, Yoona terkesan cool berbeda ketika dirumah.

Donghae terdiam terpaku, ditambah posisi Yoona yang sangat dekat dengannya, hingga Donghae harus menahan napas dan jantungnya berdebar hebat.

Ting~

Bertepatan dengan pintu lift yang terbuka dilantai lima, Yoona memberikan kecupan dipipi Donghae lalu keluar dari lift itu.

“sampai ketemu nanti siang”, ucap Yoona lembut disertai senyuman, dan Donghae hanya membalasnya dengan anggukan. Donghae masih malu dengan tidakan mesra Yoona didepan banyak orang. Biasanya Donghae tidak pernah malu bermesraan dengan Yoona didepan orang banyak, tapi saat itu Donghae yang memulainya. Tapi tadi Yoona yang memulainya dan dia sangat malu.

Yoona masih berdiri didepan lift yang pintunya sudah tertutup. Wajahnya memerah menahan malu atas tindakannya dilift tadi. Yoona hanya kesal saat itu, karena ada yang berani mengangumi suaminya. Sehingga bertindak diluar dugaannya sendiri.

“hei, apa yang dilakukan wanita hamil di depan lift sendirian”, tegur seorang yeoja tinggi, menyadarkan Yoona.

“ohh, tidak ada”, ucap Yoona kemudian melangkah cepat masuk keruangannya.

“tapi kenapa wajahmu memerah?”, tanya Sooyoung.

“aku bilang tidak apa-apa”, balas Yoona. Tidak mungkinkan dia mengatakan dia baru saja melakukan tindakan memalukan didepan banyak orang. Tapi Sooyoung bukanlah yeoja yang mudah percaya begitu saja. Yeoja tinggi itu mengekori Yoona, ikut masuk keruangan Yoona.

>>>>>>>

Donghae memasuki restoran diseberang kantor, mencari keberadaan Yoona. Sebuah lambayan tangan mengarah padanya. Donghae mengerutkan kening. Bukannya tidak kenal dengan orang yang melambai padanya. Tentu saja orang itu adalah istrinya. Tapi orang yang duduk depan Yoonalah yang menjadi masalahnya.

Donghae menghampiri mereka, menatap tajam pada namja yang duduk dengan santai di depan Yoona.

“lama tidak berjumpa Donghae-ssi. Maaf aku tidak bisa datang kepernikahan kalian. Aku ucapkan selamat atas pernikahan kalian. Walaupun aku belum bisa merelakan Yoona”, ucap namja itu santai. Donghae menggeram marah.

“hahaha, kau sangat lucu Max”, ucap Yoona. Donghae memandang Yoona tidak percaya. Dia sedang duduk disamping istrinya itu tapi Yoona seperti tidak menganggapnya ada. Bahkan tidak berminat untuk menanyakan apa yang ingin Donghae makan. Keterlaluan.

“ohh ya, kau sudah menjenguknya?”, tanya Yoona. Wajah Max langsung berubah sendu lalu menggeleng.

“kau harus menjenguknya sesekali. Agar dia bisa lebih kuat. Oppa juga harusnya menjenguk dia, setidaknya bebannya sedikit berkurang, ketika dia tahu masih ada yang peduli padanya”, ucap Yoona menasehati Max dan Donghae bersamaan. Kedua namja itu hanya diam.

“aku belum siap”, jawab Max.

“apanya yang tidak siap. Dari matamu saja aku tahu kau merindukannya. Jadi jangan membohongi dirimu sendiri Max. lihatlah dia sesekali”, balas Yoona.

“mmm, nanti. Jika aku benar-benar sudah siap”, ucap Max. Yoona mendesah pasrah. Max sangat keras kepala jika sudah berurusan dengan masalah ini.

“baiklah, kami harus kembali kekantor Max”, ucap Yoona sambil melihat jam yang melingkar ditangannya, jam makan siang sudah habis.

Yoona beranjak dari duduknya diikuti oleh Max dan juga Donghae. Yoona memeluk Max, menepuk-nepuk punggung namja itu.

“jaga kesehatanmu dan jangan lupa pergi menjenguknya”, ucap Yoona.

“mmm, sampai bertemu kembali”, balas Max. Donghae menatap mereka nanar. Tangannya mengepal kuat, siap untuk memberi pukulan pada namja itu yang berani-beraninya memeluk istrinya. Donghae melihat Max membisikkan sesuatu lalu melepas pelukannya dengan Yoona. Istrinya itu langsung tertawa menanggapi apa yang Max bisikkan kepada yeoja itu.

“ayo oppa”, ajak Yoona.

“sampai ketemu Donghae-ssi”, ucap Max dengan senyum, geli melihat wajah Donghae yang kaku dan mata yang menatap tajam kepadanya. Donghae tidak membalas ucapan Max, dia lebih memilih untuk segera mengikuti Yoona keluar dari restoran itu.

>>>>>>>

Hari sudah malam, Han ajumma sudah pulang karena wanita paruh baya itu hanya bekerja pagi hingga sore hari saja. sehingga untuk malam hari Yoona yang melakukan semua pekerjaan rumah.

Yoona keluar dari kamar, mencari keberadaan Donghae. Namja itu sedari siang tidak banyak bicara. Berbicarapun hanya seadanya saja. Yoona berjalan menuju dapur karena biasanya suaminya itu ketika malam hari suka meminum coffee. Dan benar Donghae sedang ada didapur tapi tidak sedang membuatkan coffee. Namja itu berdiri didepan pintu kulkas yang terbuka entah untuk apa.

“oppa, kau sedang apa?”, tanya Yoona. Donghae menggeser pintu kulkas itu sedikit agar bisa melihat Yoona.

“mmm, aku lapar”, ucap Donghae dengan wajah pucat.

“oppa muntah lagi?”, tanya Yoona dibalas Donghae dengan anggukan. Ketika Donghae mengalami serangan mual lalu muntah lagi, biasanya namja itu akan kelaparan, meminta makan kembali.

“bukankah Han ajumma memasakkan sesuatu?”, tanya Yoona. Biasanya sebelum Han ajumma pulang, Han ajumma akan menyiapkan makan malam dulu untuk mereka.

“ya, tapi aku sedang tidak ingin makan itu. Aku mau ramen”, ucap Donghae. Sudah dikatakan bukan, jika Donghae yang merasakan kesulitan yang dialami oleh wanita hamil, bukan Yoona.

“tapi ini sudah malam oppa, tidak baik makan ramen”, nasehat Yoona.

“tapi aku ingin Yoong”, ucap Donghae. Yoona menyerah. Digesernya pintu kulkas itu semakin lebar, mengambil sebungkus ramen dan juga telur. Membawanya kemeja dapur. Donghae yang melihat Yoona akan memasakkan ramen untuknya, memilih untuk duduk manis dikursi meja dapur.

Beberapa menit kemudian, ramen untuk Donghae sudah terhidang diatas meja. Dengan cepat Donghae meraih sumpit dan juga sendok. Yoona menahan tangan Donghae yang memegang sumpit yang telah mengapit ramen itu.

“masih sangat panas oppa”, peringat Yoona. Donghae menyengir kuda ketika sadar dirinya terlalu terburu-buru. Jika Yoona tidak mengingatkannya, mungkin saja mulut dan lidahnya sudah terbakar karena ramen itu masih sangat panas. Donghae pun meniup-niup mie itu beberapa kali, merasa yakin sudah lebih dingin, barulah Donghae melahap ramen itu. Yoona hanya diam memperhatikan kelakuan suaminya itu dengan senyum. Donghae terlihat sangat lahap memakan ramen itu, seperti tidak makan beberapa hari.

“ahhh, aku kenyang”, seru Donghae sambil bersandar pada kursi, mengelus-elus perutnya.

“berarti oppa tidak marah lagikan”, ucap Yoona. Yeoja itu tahu diamnya Donghae dari tadi siang diakibatkan karena kehadiran Max di restoran tadi. jadi anggaplah ramen yang dimasaknya tadi sebagai permintaan maaf.

“aku tidak marah”, sangkal Donghae.

“ya, oppa tidak marah. Tapi oppa cemburu”, balas Yoona. Kali ini Donghae terdiam. Dan Yoona menganggap diamnya Donghae sebagai persetujuan atas pernyataannya.

“baiklah. iya aku cemburu. Lagi pula siapa seorang suami didunia ini tidak cemburu jika istrinya dipeluk oleh namja yang pernah menaruh hati pada istrinya? Bahkan dia berbisik-bisik kepadamu”, ucap Donghae dengan nada yang sudah meninggi terlihat sangat kesal.

“bahkan kau tertawa senang dengan apa yang dibisikkannya”, tambah Donghae. Yoona mengangguk mengerti dengan kecemburuan suaminya itu.

“tentu saja aku senang. Max mengatakan hal yang manis. Yang jika semua wanita didunia ini mendengarnya pasti akan merasa senang”, jawab Yoona.

“tapi kau kan sudah menikah, kau tidak boleh merasakan hal seperti itu lagi”, kesal Donghae. Yoona yang duduk berhadapan dengan Donghae, menyandarkan punggungnya ke kursi.

“tapi aku kan tetap seorang wanita. Seorang namja menyatakan perasaannya kepadaku tentu saja aku senang”, balas Yoona santai.

“APA? NAMJA BRENGSEK ITU, BERANI-BERANINYA DIA MENCINTAIMU”, teriak Donghae. Bahkan suaranya sampai menggema di dapur itu. Yoona menutup telinganya ketika mendengar teriakan suaminya itu.

“oppa ini sudah malam, kau sangat berisik”, ucap Yoona.

“yak, kau kira aku bisa tenang jika ada seorang namja yang berani mengatakan mencintaimu?”, ucap Donghae, namun kali ini suaranya sudah kembali normal.

“cinta? Max tidak mengatakan mengatakan cinta padaku. Dia hanya mengatakan menyayangiku”, ucap Yoona.

“yak itu sama saja”, balas Donghae kesal.

“itu tentu saja tidak sama. Dia menyayangiku, oppa juga menyayangiku. Tapi rasa sayang kalian berbeda. Oppa menyanyangiku sebagai wanita sedangkan Max menyayangiku sebagai sahabat”, jelas Yoona.

“benarkah?”, tanya Donghae menyakinkan. Yoona mengangguk dengan yakin. Setelahnya Donghae terdiam. Sadar jika sikap diam dan cemburunya tadi tidak beralasan.

“sudah jangan cemburu lagi”, ucap Yoona. Kemudian meraih piring dan mangkuk dari hadapan Donghae. Membawanya ke wastafel untuk dicuci. Donghae beranjak cepat meraih sarung tangan karet khusus untuk mencuci piring.

“biar aku saja”, ucap Donghae sambil memakai sarung tangan itu.

“tidak perlu. Aku bisa melakukannya oppa”, jawab Yoona berusaha meraih sarung tangan itu dari Donghae. Tapi Donghae menjauhkannya dari jangkauan Yoona, mengangkatnya tinggi keatas sehingga Yoona tidak bisa meraihnya.

“aku ingin membantu”, ucap Donghae.

“tidak usah oppa. Oppa pasti sudah lelah karena pekerjaan dikantor”, ucap Yoona masih berusaha menjangkau sarung tangan itu. Sesekali Yoona melompat untuk meraihnya.

“yak jangan melompat. Kau sedang hamil Yoong”, peringat Donghae, tapi sepertinya Yoona tidak menghiraukannya. Yoona terus memaksa untuk mendapatkan sarung tangan itu.

“oppa berikan”, ucap Yoona, tidak menyadari jika jarak dirinya dengan Donghae tidak ada lagi. Mereka sangat dekat. Donghae yang menyadari kedekatan mereka, segera meraih pinggang Yoona, melingkarkan tangannya di pinggang yeoja itu, hingga Yoona terkejut dan  mengalungkan tangannya dileher Donghae, takut terjatuh dan deg~. Wajah Yoona tepat didepan wajah Donghae yang menatapnya intens. Dalam hitungan detik, namja itu sudah berhasil mengecup bibir tipis Yoona. Setelahnya mereka saling menatap tepat dimanik mata masing-masing.

“aku sangat mencintaimu”, ucap Donghae, semakin menarik pinggang Yoona, memangkas jarak diantara mereka. Yoona tersenyum mendengar pernyataan cinta dari suaminya itu.

“aku juga sangat mencitaimu oppa”, balas Yoona. Dengan berlahan mereka saling memajukan wajah, mendekat, hingga bibir mereka kembali bertemu. Donghae melumat bibir Yoona dengan lembut dan Yoona membalasnya. Perasaan cinta yang luar bisa besar yang mereka rasakan tersalurkan dari kegiatan yang mereka lakukan. Dan sesuai dengan impian Donghae, mereka melakukan semuanya bersama. Memperbaiki semuanya yang buruk bersama dan juga menjalani kebahagiaan mereka bersama.

THE END~

Hahhh, lega rasanya bisa nyelesain FF ini yang sangat panjang. Tapi apa reader-nim sudah puas? Jika belum, silahkan melanjutkannya dalam pikiran masing-masing. Plak

Hehehe, sebenarnya ini belum benar-benar the end. Masih ada lanjutannya. Tapi karena di chapter ini sudah terlalu panjang dan jika aku lanjutin bisa-bisa sampai besoknya baru selesai bacanya. Jadi aku bagi lagi menjadi bagian Epilognya. Jangan tanya kapan bisa di post. Karena aku sedang sibuk-sibuknya. Tapi yang jelas aku akan usahain secepatnya. Jadi jangan kemana-mana tetap bersama author fi_ss. Dan jangan lupa komentarnya~

Annyeong~

Bow~

LEGO~

Advertisements

36 thoughts on “I Hate U (Chapter-7)

  1. Yani 86

    Puas bangeeeeeet,,,,, akhrnya happy ending, terjawab smua rasa penasaranku, tapi ttp masih kuraaaang hehehe next squelnya thor ya,??

  2. Good job…..
    Keren banget ff. Nya suka bangeeeet
    Dari chap pertama udah baca sih tapi baru skarang ada niat buat ninggalin jejak. Buat authornya semangat nulisnya dan teruslah berkarya smoga sukses 🙂

  3. yoonhae100

    amnyeong salam kenal aq reader baru disini izin baca ff kamu ya
    sorry baru coment di part ini ff nya daebak kereen pokoknya

  4. ichus

    Mantaaaaap 👍👍 mskipun aq gk tau chapterchapter sebelumnya.. tp ini ending yg mmbahagiakan…

  5. Widya yoonaddict

    Wai akhirnya happy ending yah kok chun nya ngga tinggal bareng sih sequel dong thor bikin chun nya tinggal sama mereka dan chun nerima donghae oppa jadi appanya dan semua keluarga im & lee nerima chun sebagai cucu mereka

  6. Beyoonhae

    Gilaa keren bgt puassss di part ini panjang yeyyyyyyyyy finally yoonhae bersatu klo bisa ada ASnya dong heheh dan ditunggu karya author yg lainnya.fighting^^

  7. Cut_ar

    Ahhh akhirnya di post jg, puas banget nih panjangg~ 😁 feel nya dapet.
    Seneng banget endingnya mereka bersatu , ❤ Di tunggu epilog nya, & ff lainnya hehe, keep writing. Fighting author

  8. ViDaY

    wuah aku menunggu epilognya.. cepat di publish thor ^^
    ah di chapter ini ada typo ya thor? seperti contohnya saat di rumah sakit, di sana di katakan bahwa tuan dan nyonya lee lagi mengurus administrasi.. tapi setelahnya justru nyonya lee menelpon yoona utk meminta maaf klw dy tdk bisa menjenguknya.. tp gpp thoe tdk masalah gk berpengaruh banyk typonya.. jika dilihat-lihat memang clara kasihan..

  9. Puas sama endingnya, akhirnya yoonhae bersatu, lucu baca moment mereka wkt udh nikah.
    Btw bakal sabar kok nunggu epilognya. Semoga di epilog nanti max & clara bisa memperbaiki hubungan mereka. Kasihan lihat clara yg kaya gitu. Oya si chun nasibnya gimana ya? Kok yoonhae gak ngadopsi mereka wkt udh nikah? Yah semoga di epilog nanti ada kisah mereka bertiga juga. Hehe

  10. Setelah setiap hari aku cek blog ini akhirnya di post juga ><

    Kya!!! Like it ^_^ Love it ❤

    Akhirnya Yoona dan Donghae bersatu. Aw~ mereka sweet banget jadi suami istri. Donghae walaupun udah menikah masih cemburuan.
    I'm waiting for the epilogue ^_^
    Fighting !!

  11. YH Lulu

    puas bgt thor sama endingnya..
    akhirnya semua masalahnya terjawab dan yoonhae bisa menikah dan hidup bahagia..senangnyaa…hehee
    ditunggu thor epilognya sampai anaknya yoonhae lahir ya..
    kapanpun di post nya aku selalu menunggu thor 🙂 fighting!!^^

  12. tryarista w

    akhirnya yoonhae bersatu ,nikah &, bentar lgi ads yoonhae junior,,,,
    terimakasih appa lee dah jujur ke yoona ,tentang alasan hae pergi ke new york ,,,,,
    dan pda akhirnya yoona tau perasaan donghae sebenarnya,,,,,
    untung yoona hmil hehehehe,,,,,
    mgkin klau yoona g msuk rumah sakit donghae tetep akn kmbali ke new york,,,,,

    puas dech bacanya. aplgi stelah nikah kehidupan yoonhae mkin sweet aja ,,,,lhat tingkah hae cemburu,,,aplagi dia yg ngerasaain nyidam & mual ,,,,lucu bgetttt
    oke ditunggu epilog nya

  13. indi_indi

    Akhirny ny di post juga next story ny
    Waaaaahhh ini sukaa bgt dan akhir ny yoonhae bsa bersatu yee
    Ditunggu epilog nya
    Fighting authornim..^^

  14. yoongtaeyeon

    puas bgt sama endingnya thor 😀
    d tggu sequelnya ya thor hhihihi
    tntg kehidupn keluarga baru yoonhae bareng anak mereka yg msh dlm kandungan dan jg anak angktnya yoona 🙂
    sukses thor XD

  15. ughhh.. akhirnya donghae dan yoona bersatu..
    dan yang dinanti-nanti ternyata yoona udah hamil, lalu yoonhae nikah.
    hahaha.. lucu yaa yang ngidam dan mual-mual malah donghae, bukan yoona yang notabene lagi hamil.. tapi emang ada kok yang kayak gitu..

    pasti cute banget deh donghae’nya.. sumpah, so sweet banget deh yoonhae nya..

    ditunggu epilog’nya thor .. banyakin moment sweet nya yoonhae yaa thor..
    keep writing^^ fighting ߒ💪🏻

  16. ughhh.. akhirnya donghae dan yoona bersatu..
    dan yang dinanti-nanti ternyata yoona udah hamil, lalu yoonhae nikah.
    hahaha.. lucu yaa yang ngidam dan mual-mual malah donghae, bukan yoona yang notabene lagi hamil.. tapi emang ada kok yang kayak gitu..

    pasti cute banget deh donghaenya. sumoah, so sweet banget deh yoonhae nya..

    ditunggu epilog’nya thor .. banyakin moment sweet nya yoonhae yaa thor..
    keep writing^^ fighting 💪🏻💪🏻

  17. Isma pyrotechnics

    Akhirnya semua terungkap juga masalahnya, dan YoonHae juga dapat menikah.. mereka romantis banget, apalagi kalo donghae lagi cemburu ^^

  18. Widya yoonaddict

    Wah akhirnya mereka bersatu juga oh ya kok chun nya ngga muncul thor bikin chun tinggal bersama mereka dan chun bisa akrab dengan donghae oppa next thor jangan lama-lama

  19. what, end, ah gk rela….
    jadi kehidupan Clara juga menyedihkan, gk kebayang gimana menderita nya…. untung Yoona hamil……
    biarpun YoonHae bersatu, tapi saya masih kurang, gk berniat bikin sequel kah ?????…..

  20. Akhirnyaa selesai juga, tuan jang ketangkep dan hubungan yoonhae membaik
    Jd kasian sm clara, trnyata dy kek gitu krn ayahnya pun ga peduli sm dy
    Smg max sm clara cpt bersatu
    Dan kyuhyun sm sooyoung cpt nyusul yoonhae

    Btw, untung aja kedua org tua yoonhae ga marah bgt sm yoonhae
    Ditunggu epilognya

  21. suka banget kl ada ff yg panjang kaya gini n cerita ny bagus bangt
    konflik ny pas
    cerita ny daebak
    happy ending
    epilog ny cepat di post ya thor sayang bgt kl ff ny kelamaan d post reader ny jadi lupa jalan cerita ny

  22. Novi Anita W

    Udah nunggu lama akhirnyaaa,puas banget baca dari awal sampe akhir seru thour 😉 sempet kesel sama kelakuannya si clara tapi akhirnya seneng karena akhirnya yoonhae nya menikah hihii 😀

  23. Ken

    Akhirnya dipost:D aku tiap hari ngecek in blog author buat baca ni fanfic wuuu ceritanya kerenn…ne butuh epilog thorr fightinggg!!!;)

  24. Deer_sria

    Akhir.a stelah lama ditunggu ..ga nyangka udh end…ahh sneng mreks hallppy end…sbener.a pngen liat kyuyoung nikah jg tp dsini ga nyampe itu…aku harap ini masih ada squel ya thor ..buat yh punya baby n kyuyoung nikah…ditunggu

  25. limhyelim

    thank u author, sukaaaaaa banget sm part 7 ini, aku sangat menyukai jalan ceritanya 😍 Btw, padahal kyu yah yg lebih dlu mengajak nikah soo, eh malah yoonhae yg menikah duluan :3 kkkk~ ku tunggu epilognya, semoga banyak YHM nya di epilog nanti. Fighting author 😊

  26. Wow, puas bacanya. Keren banget ceritanya. Terjawab semua penasaranku yg kemarin. Donghae is so sweet. Yoona pasti bahagia bgt punya suami kayak donghae yg sangat mencintai dan menyayanginya. Punya orang tua dan sahabat yg begitu menyayangi yoona. Berbanding terbalik dengan clara. Walaupun clara jahat, ternyata clara sangat kasihan. Aku jd ngga bisa membenci clara. Malah kasihan sama dia. Keren banget chingu. Keep up the good work. Hwaiting!

  27. Sfapyrotechnics

    Akhirnya stelah lama nunggu lanjutannya dipost,, kluar jga nih ff 😀

    Woahhh,, jdi itu kesepakatan yg dibuat Lee appa sma hae 😀 Aigoo clara nekat amat yah :/ Antara kasian jga kesel sma dia.. Untng aja hae nggk jdi pergi,, klo dia pergi siapa yg akn tnggungjwb sma anaknya yoong 😀 😀 Ekhemmm,, yoong gitu aja udh cmburu,, pdhl cma muji doang 😀 Akhirnya mereka nikah dan hdup bhagia 🙂 Aigoo hae jga,, cman liat max bareng yoong aja udh gitu cmburunya 😀

    Ditunggu yah epilognya , jgn lama² 🙂

  28. intan

    sukaaaaaaaaa!!! akhirnyaaa yoonhae bersatuu,gemes sama kehidupan rmh tangga mereka .aku nungguin lo epilogue nya hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s