I Hate U (Chapter-6)

Title                 : I Hate U (Chapter-6)

I HATE YOU2

Author             : Fi_ss

Cast                 : Im Yoona and Lee Donghae

Genre              : Romance, Hurt, Sad, ect

Length             : Chapter

Author Note    : Hai, hai, hai. Fi_ss kembali lagi. Ini chapter ke 6nya. Gak mau banyak omong lagi. Makasi buat reader-nim yang udah baca dan kasih komentar untuk FF aku ini. Sekali lagi gomawoyo reader-nim. Love YA

Happy reading and… LEGO~

>>>>>>>

Keesokan harinya Donghae dan Yoona sudah kembali ke Seoul. Sejak kejadian itu, hubungan mereka kembali merenggang. Kali ini baik Yoona maupun Donghae benar-benar tidak ada yang melunak. Jika sebelumnya Donghae akan mencoba minta maaf, namun kali ini namja itu pun mengeraskan hatinya. Dia tidak suka Yoona yang selalu menjelek-jelekkan Clara di hadapannya. Tidak ada tegur sapa sejak kejadian itu, sampai tiba di Seoul pun tidak.

“apa? Dia datang?”, teriak Yoona dengan seseorang diseberang sana.

“Kyuhyun dimana Soo?”, Tanya Yoona pada Sooyoung si penelepon.

“aish jinjja. Tunggu aku disana. Jangan biarkan mereka mengambil Chun”, ucap Yoona. Yeoja itu berdiri disekitaran alur bagasi dengan tidak sabaran. Donghae memperhatikan yeoja itu tampak gelisah. Ketika hendak mendekati Yoona, yeoja itu sudah bergerak lebih dulu, meraih kopernya, bergerak cepat keluar dari bandara. Meninggalkan Donghae tanpa sepatah kata pun.

Yoona tampak sibuk mencoba menghubungi seseorang, hingga sambungannya terhubung.

“Max. Maaf aku tidak bisa makan siang bersamamu”, ucap Yoona langsung tanpa menunggu orang diseberang sana membalasnya.

“wae? Kau tidak jadi pulang hari ini?”, Tanya Max diseberang sana.

“tidak. Aku sudah kembali ke Seoul. Tapi aku ada masalah penting. Aku harus ke panti asuhan”, jelas Yoona sambil menghentikan sebuah taxi didepan pintu bandara. Sang supir dengan sigap keluar dari bangku kemudi, meraih koper Yoona, memasukkannya ke dalam bagasi taxi. Sedangkan Yoona sudah masuk kedalam taxi.

“panti asuhan? Untuk apa?”, Tanya Max.

“aku memiliki seorang anak asuh disana. Dan tiba-tiba imo anak itu datang untuk menjemputnya. Padahal sudah hampir tiga tahun, tidak ada satupun keluarganya mencari anak itu. Bahkan aku sudah mencari informasi hampir di semua kantor polisi di Busan dan Seoul tentang pelaporan anak hilang, tapi tidak ada yang melaporkan kehilangan seorang anak. Namun secara tiba-tiba bibinya datang untuk merebut anak itu dari ku Max. Ini tidak boleh terjadi”, Yoona menjelaskan tujuannya kepada Max dengan nada suara yang terdengar sangat panik.

“Tenang Yoona. Jangan panik. Katakan, sekarang kau ada dimana?aku akan menjemputmu”, ucap Max menenangkan.

“aku sudah di taxi menuju panti asuhan Max”, balas Yoona.

“kalau begitu beritahu aku alamat panti asuhan itu”,ujar Max. Namja itu ingin membantu. Yoona sepertinya sangat kacau sekarang.

“ne, aku akan mengirimkan alamatnya”, ucap Yoona. Setelahnya, sambungan itu terputus. Yoona mengetikkan alamat panti asuhan Chun kepada  Max. Lalu memasukkan handphonenya ke saku jaket.

“ajussi, tolong lebih cepat”, pinta Yoona pada supir taxi itu.

“ne”, ucap supir itu, kemudian mempercepat laju taxinya.

 

Yoona sudah tiba di depan panti asuhan, terlihat mobil Kyuhyun sudah terparkir disana. Yoona pun melangkahkan kakinya dengan cepat menuju pintu panti asuhan, mengarahkan langkahnya keruang ibu kepala panti asuhan. Yoona segera masuk, dan disana terdapat Jung Ajumma – kepala panti asuhan, Kyuhyun, Sooyoung yang sedang menggendong Chun erat, dan seorang yeoja masih dalam kategori usia muda didampingi seorang namja. Yoona yakin yeoja itu adalah imo Chun yang entah pergi kemana selama ini.

“CHUN-AH”, teriak Yoona keras, mengalihkan perhatian semua orang yang ada disana .

“OMMA~”, teriak Chun balik. Chun langsung turun dari gendongan Sooyoung. Berlari mendekati Yoona. Yeoja itu langsung memeluk Chun erat. Tidak ingin kehilangan anak itu lagi. Sudah cukup dengan memisahkannya dengan menempatkan Chun dipanti asuhan. Tidak dengan membawa Chun lebih jauh lagi.

Yoona menggendong Chun, kemudian duduk disalah satu kursi kosong yang ada disana. Yoona memandang satu persatu orang yang ada disana. Hingga berhenti pada satu orang. Menatap imo Chun dengan serius.

“perkenalkan. Saya Baek Yeri, imo dari Ji Chun dan ini Park Seo Joon, suami saya”, yeoja itu memperkenalkan diri serta suaminya sambil sedikit memberi bungkukan hormat. Yoona membalas dengan hal yang sama walau masih dengan wajah serius dan dinginnya.

“Ne, saya Im Yoona. Saya yang mengasuh Chun selama ini”, jawab Yoona. Mereka saling melemparkan tatapan dingin.

“ekkhhmm”, deheman Jung Ajumma, membuyarkan tatapan pertanda perang tersebut.

“karena Nona Im sudah datang, mari kita bicara baik-baik. Jadi kedatangan Nona Baek ke sini adalah untuk menjemput keponakannya, Baek Ji Chun. Saya menghubungi kalian, karena kalianlah yang selama ini merawat Ji Chun. Saya ingin semua pihak tahu akan ini”, jelas Jung ajumma. Yoona langsung menggeleng tidak setuju.

“Tidak. Saya tidak setuju ajumma”, ujar Yoona dengan tegas. Bahkan suaranya terdengar cukup kencang.

“maaf nona Im. Saya keluarga Ji Chun. Saya berhak atas Ji Chun”, balas Baek Yeri.

“HAK? Anda dengan santainya berbicara tentang hak? Apa anda tidak punya malu?”, Kebiasaan Yoona. Mulut tajamnya sudah mulai beraksi kembali.

“Yoong. Tenangkan dirimu”, ujar Kyuhyun menimpali. Namja itu memandang Chun yang ada dalam gendongan Yoona. Anak itu menatap Yoona serius, karena Yoona tadi sempat mengeluarkan suara seperti teriakan. Chun masih terlalu kecil untuk mendengar hal-hal seperti ini.

“Soo, tolong bawa Chun keluar”, Sooyoung yang mengerti maksud dari kekasihnya itu, segera mengambil Chun dari gendongan Yoona, membawa cepat keluar dari ruang Jung Ajumma.

“aku mohon Yoong, jangan keras kepala. Kita bicarakan baik-baik. Aku mengerti perasaanmu. Aku pun tidak akan menyerahkan Chun begitu saja kepada mereka”, bisik Kyuhyun sambil mengelus punggung Yoona, untuk menenangkan yeoja itu.

“Nona Im, kita bicarakan baik-baik”, nasehat Jung ajumma. Yoona mendesah berat, pikirannya tidak karuan sekarang, tidak dapat berpikir sehat.

“jadi begini Nona Baek. Di panti asuhan ini, kami memiliki aturan. Jika keluarga salah satu anak panti ada yang datang menjemput, kami butuh data untuk memastikan bahwa benar mereka adalah keluarga”, ujar Jung ajumma.

“data diri saya masih kurang?”, Tanya Baek Yeri tidak sabaran. Melihat ketidaksabaran yeoja itu, sedikit menyulut emosi Jung ajumma.

“saya belum selesai bicara Nona Baek”, tambah Jung ajumma, kesal.

“yeobo, tenangkan dirimu”, ucap suami Baek Yeri.

“kami juga butuh pendapat dari orang tua asuh dari anak tersebut. Dan untuk masalah Ji Chun, kami cukup sulit untuk menyerahkannya kepada anda mengingat Ji Chun adalah korban yang kehilangan keluarganya dipantai”, jelas Jung ajumma lagi.

“i-itu, waktu itu aku ada urusan mendadak. Dan saya melupakan Ji Chun yang saya tinggal sebentar dipantai”, alasan Baek Yeri.

“LUPA? Bagaimana bisa anda melupakan keluarga anda sendiri. Bahkan Chun masih sangat kecil saat itu. Anak itu menunggu anda sampai sampai larut malam. Apa anda berpikir waktu itu?”, luapan amarah Yoona sudah tidak dapat tertahankan lagi. Bahkan yeoja itu sudah berdiri dari duduknya. Menatap baek Yeri dengan tajam.

“wa-waktu itu sangat mendadak. Saya tidak bisa mengabaikannya begitu saja. walaupun begitu, itu bukan hal yang disengaja”, bela Baek Yeri.

“tidak sengaja?”, Kyuhyun akhirnya mulai berbicara.

“anda yakin tidak disengaja? Dan lupa? Anda melupakannya hampir tiga tahun? Kami sudah mencari informasi anak hilang dan tidak menemukan satupun ada laporan kehilangan anak hilang dengan ciri-ciri seperti Chun. Jika anda memang tidak sengaja, seharusnya anda sudah melaporkannya ke kantor polisi sejak Chun tidak ada dipantai itu lagi”, tambah Kyuhyun disambut anggukan dari Yoona dan Jung ajumma.

“i-itu sa-saya..”, Baek Yeri tidak bisa melanjutkan kata-katanya kembali.

“sudahlah. Saya tidak ingin mendengar alasan yang tidak masuk akal anda lagi. Jika anda masih tetap ingin mengambil Chun, jangan berharap terlalu besar untuk itu. Aku tidak akan menyerahkan Chun pada siapa pun. Jadi mari kita selesaikan melalui jalur hukum”, ucap Yoona tegas, segera beranjak keluar dari ruangan itu.

“Yoong~”, panggil Kyuhyun, namun Yoona tidak memperdulikan panggilan itu.

“maaf. Yoona terlalu menyayangi Chun, sehingga bertindak seperti itu”, ucap Kyuhyun akhirnya. Merasa tidak enak hati karena sikap Yoona yang tidak sopan. Suami Baek Yeri mengangguk, mengerti. Sedangkan Baek Yeri hanya diam saja.

 

>>>>>>>

“jadi dia anak asuh mu itu?”, Tanya Max. Namja itu sudah tiba di panti asuhan beberapa menit yang lalu dan bertepatan ketika Yoona keluar dari pintu dengan wajah kesal dan marah, menuju sebuah taman.

“mmm”, jawab Yoona sambil memperhatikan Chun yang sedang bermain kejar-kejaran bersama Sooyoung. Yoona ikut tersenyum ketika anak itu tertawa senang karena berhasil menangkap Sooyoung.

“jadi bagaimana hasilnya?”, Tanya Max lagi. Kali ini Yoona mendesah berat.

“buruk. Sepertinya wanita itu benar-benar ingin mengambil Chun. Dan dengan bodohnya aku mengajukan penyelesaian melalui jalur hukum. Bagaimana ini? Bagaimana jika aku kalah?”, Yoona tampak gelisah dan entah kemana sifat percaya diri Yoona pergi.

“Yoona, kau harus tenang. Kau orang yang lebih pantas untuk menjaga anak itu. Aku akan mencoba membantu. Aku memiliki teman seorang pengacara. Dia cukup terpercaya untuk masalah seperti ini. Aku akan meminta bantuannya”, usul Max. Yoona memandang Max. menatap pria tampan itu sejenak.

“kenapa kau begitu baik. Padahal kita baru kenal”, Tanya Yoona.

“entahlah. Hatiku yang menyuruhku untuk membantu mu. Bukankah kita sudah berteman?”, Tanya balik Max. dibalas anggukan dari Yoona.

“nah, jadi sebagai teman yang baik, aku harus membantumu”, tambah Max dengan senyum menawannya.

“gomawo Max. karena kau selalu membantuku”, ucap Yoona. Max mengangguk sambil tangannya terulur mengusap kepala Yoona.

 

>>>>>>>

Keesokan harinya terjadi kegemparan yang membuat seluruh sisi dari Lee Corparation terguncang. Tiba-tiba bagian tim perpajakan negara datang ke kantor pusat, melakukan pengelidikan terhadap perusahaan. Dinyatakan bahwa Lee Corparation melakukan penggelapan pajak yang seharusnya rutin perusahaan bayarkan ke pada kantor pajak. Banyak dana yang asal usulnya tidak jelas, dan hilang entah kemana.

“APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN LEE DONGHAE? BAGAIMANA BISA HAL SEPERTI INI SAMPAI TERJADI?”, teriak Tuan Lee pada namja yang ada dihadapannya. Namja itu terlihat syok dengan apa yang dia dengar dan lihat. Tentu saja Lee Donghae yang patut disalahkan untuk peristiwa ini. Karena seluruh bukti kesalahan yang ada, terjadi tepat semasa kepemimpinan Donghae selama di New York. Dan proyek yang dinyatakan illegal adalah proyek yang Donghae tangani.

“JAWAB LEE DONGHAE”, teriak Tuan Lee lagi. Kali ini napasnya sudah terengah-engah. Melihat itu, Henry, sekretaris Donghae yang juga ada diruangan Tuan Lee, dengan sigap menahan tubuh Tuan Lee yang mulai oleng.

“sajangnim~”, ujar Henry. Kemudian menuntun atasannya itu untuk duduk. Hening beberapa saat di ruangan itu. Donghae masih menatap dokumen-dokumen proyek yang pernah di pegang selama di New York.

“kau harus bertanggung jawab untuk masalah ini. Ini adalah kecerobohanmu Lee Donghae. Jadi kau sendirilah yang harus menyelesaikannya”, ucap Tuan Lee masih dengan suara yang terengah-engah.

“Appa, aku minta maaf”, ujar Donghae akhirnya.

“tidak ada gunanya minta maaf sekarang. Semua sudah terjadi. Appa percaya, kau pebisnis yang hebat. Jadilah namja yang bertanggungjawab”, tambah Tuan Lee. Namja baruh baya itu tahu, putranya itu tidak mungkin sampai melakukan penggelapan dana seperti yang dituduhkan oleh pihak perpajakan. Dia mendidik putranya itu untuk selalu mengutamakan kejujuran dalam berbisnis. Dan Tuan Lee sudah melihat cara kerja dan kegigihan putranya itu. Tuan Lee yakin ada yang salah dengan dokumen-dokumen itu.

 

Karena masalah tersebut, bagian divisi Art & Desain pun terkena imbasnya. Pasalnya proyek yang baru disepakati oleh para investor beberapa hari yang lalu di Jeju terpaksa harus dihentikan. Karena proyek tersebut termasuk objek yang juga diselidiki oleh tim perpajakan.

“bagaimana bisa mereka mengikut sertakan proyek kita? Kita bahkan belum melakukan membangunan sedikitpun”, ujar Sooyoung pada Yoona yang berdiri disampingnya, sambil memperhatikan kerumunan orang-orang berjas hitam dari perpajakan dan kejaksaan yang masuk mencoba mencari barang bukti dari setiap divisi yang ada diperusahaan.

“entahlah. Aku juga tidak mengerti. Tapi kau tenang saja, divisi kita pasti aman. Kita tidak pernah berbuat kotor seperti itu”, ujar Yoona yakin masih memperhatikan orang-orang berjas hitam itu.

“ya kau benar. Tapi Yoong…”, ucap Sooyoung terhenti. Tidak mendengar Sooyoung melanjutkan ucapannya membuat Yoona mengalihkan pndangannnya kepada Sooyoung.

“wae?”, tanya Yoona.

“perusahaan hanya diberi waktu sebulan untuk mencari bukti untuk pembelaan di persidangan. Dan untuk sementara surat resmi pendirian perusahaan ditahan oleh kejaksaan. Dan jika sampai perusahaan tidak mendapatkan bukti… Lee Donghae akan masuk penjara”, ucap Sooyoung hati-hati berharap Yoona tidak akan kaget. Ternyata kekhawatiran Sooyoung tidaklah berarti sama sekali. Yoona terlihat santai mendengar ucapan Sooyoung. Sooyoung memandang sahabatnya itu tajam.

“wae?”, Tanya Yoona, ketika sadar Sooyoung menatap tajam dirinya.

“kau tidak khawatir sama sekali? Pada Lee Donghae maksud ku”, ucap Sooyoung.

“Ani. Untuk apa? Itu karena kecerobohannya. Jadi dia harus menanggung akibatnya”, jawab Yoona santai lalu berlalu masuk kedalam ruangannya. Sedangkan Sooyoung masih mematung ditempatnya berdiri. Tidak menyangka Yoona akan menjawab seperti itu.

“wah dia benar-benar berhati es”, gumam Sooyoung.

 

>>>>>>>

Sudah seminggu berlalu, namun Donghae belum juga menemukan bukti yang dapat digunakannya sebagai pembelaan dipersidangan.

“Hahhh”, desah Donghae frustasi.

“dimana yang salah?”, gumam namja itu sambil meneliti kembali dokumen-dokumen diatas mejanya. Meja kerjanya sangat berantakan. Kertas dimana-mana serta bekas cup coffee yang bertumpuk-tumpuk. Donghae pun tak jauh berbeda. Namja itu tidak bisa dikatakan rapi lagi. Lengan kemejanya tergulung sampai siku, dasi namja itu pun sudah tidak mengalung dilehernya lagi. Rambutnya pun sangat berantakan. Walaupun demikian, tetap saja namja itu terlihat tampan dan mempesona.

“aniya, kau harus menemukannya Lee Donghae. Kau tidak bersalah”, namja itu menyemangati dirinya sendiri. Diminumnya kembali coffee yang masih tersisa. Lalu menghirup napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya. Dipandangnya sekitar. Dari dalam ruangannya terlihat ruang kerja karyawan yang sudah tampak gelap gelap. Tentu saja, ini sudah tengah malam, tepatnya pukul 1 dini hari, semua karyawannya sudah pulang, dan menikmati istirahatnya. Ingin juga Lee Donghae melakukan hal yang sama, namun dirinya harus sadar diri. Banyak yang harus diselesaikannya.

 

>>>>>>>

Yoona memilih pakaian mana yang akan digunakannya kekantor. Dan pilihannya jatuh pada gaun soft pink dengan panjang lima centi diatas lutut, tanpa lengan. Ketika hendak memakai gaun itu, matanya tidak sengaja melihat paper bag di dalam lemarinya. Yoona melihat isinya, dan termenung sebentar. Kemudian memutuskan untuk membawa paper bag itu ke kantor.

Hari ini Yoona tidak membawa mobilnya dikarenakan mobilnya harus masuk bengkel  beberapa hari yang lalu. Sesampainya dikantor, lobby masih tampak sepi. Sepertinya yeoja itu terlalu cepat datang kekantor pagi ini. Yoona masuk kedalam lift, membawa sebuah paper bag, tas kecil yang menggantung dilengannya, dan secangkir coffee kesukaannya. Didalam lift Yoona masih terdiam, tak kunjung menekan tombol lantai tujuannya. Beberapa menit, akhirnya Yoona menekan tombol 6.

Setibanya di lantai 6, Yoona berdiri dilorong yang memisahkan ruang karyawan dengan CEO. Yoona mengendap-endap sambil memperhatikan sekeliling. Takut jika ada karyawan yang melihatnya dilantai 6 yang jelas-jelas bukan lantai ruangannya.

Yoona mendesah lega, karena karyawan di lantai 6 belum ada yang datang. Dia selamat, selamat dari bahan gosip karyawan dikantornya.

Yoona mengulurkan tangannya, ingin mengetuk pintu besar yang ada disana, namun dengan cepat ditariknya kembali tangannya itu. ‘ayolah Im Yoona. Kau hanya ingin mengembalikannya. Setelahnya kau bisa keluar’, batin Yoona menenangkan dirinya yang bergetar, ditambah jantungnya yang berdetak dengan cepat, menambah kegugupannya. Yoona mengepalkan tangannya kuat-kuat sambil menutup mata. Dengan berlahan kembali mengulurkan tangannya untuk mengetuk pintu. Tok tok tok. Berhasil. Yeoja itu berhasil mengetuk pintu itu. Beberapa menit Yoona menunggu respon dari dalam, namun tidak ada. Kemudian Yoona kembali mengetuk pintu itu. Namun hasilnya sama, tidak ada respon.

“apa dia belum datang?”, guman Yoona dengan hati-hati dibukanya pintu itu. Dan pemandangan pertama yang Yoona lihat adalah kertas yang berserakan dimana-mana. Sangat berantakan. Diedarkannya pandangannya ke sekeliling. Terlihat seorang namja yang tertidur diatas meja dengan kertas yang berserakan juga. Yoona berlahan mendekati namja itu. Meletakkan paper bag diatas meja secara berlahan juga. Kemudian diamatinya namja yang tertidur itu. Lee Donghae tampak sangat buruk. Kantung mata yang menghitam, wajah yang pucat dan rambut yang berantakan sampai beberapa helai rambutnya menutupi matanya. Yoona prihatin terhadap namja itu. ‘sepertinya kau sangat kesulitan’, ucap Yoona dalam hati sambil merapikan sedikit rambut Donghae. ‘dan kau terlihat sangat kurus’, tambah Yoona lagi, masih dalam hati. Tanpa Yoona sadari, dirinya sudah mengelus-elus rambut Donghae, lembut. Hingga beberapa menit, Yoona masih betah dengan kegiatannya. Namun tiba-tiba Donghae bergerak sehingga menghentikan pergerakan Yoona. Yoona menahan napas untuk sesaat hingga Donghae kembali tidur. Merasa aman, Yoona berlahan bergerak mundur selangkah. Meletakkan cup coffeenya diatas meja, lalu merogoh isi tasnya, mengeluarkan beberapa lembar kertas. Yoona meletakkan kertas-kertas itu didekat paper bag. ‘sabaiknya aku segera pergi dari sini’, batin Yoona. Diraihnya cup coffeenya kembali, kemudian melangkah keluar dari ruangan itu. Tapi baru dua langkah, Yoona kembali berhenti. Berbalik, mendekai Donghae lagi. Diamatinya wajah Donghae sejenak.

“untukmu saja”, gumam Yoona. Diletakkannya cup coffee itu dimeja, tepat menindih ujung kertas yang tadi diletakkannya juga. Kemudian Yoona keluar dari ruangan itu dengan cepat, karena para karyawan mulai berdatangan.

 

>>>>>>>

Tring tring tring~

Suara telepon membangunkan Donghae dari tidurnya. Seketika dia merasa seluruh tubuhnya sakit karena dia tidur di atas meja. Diraihnya handphonenya, menjepitnya diantara telinga dan bahu kanannya.

“ne, yeoboseyo”, ucap Donghae. Seseorang diseberang sana membalas sapaannya.

“ya, aku tidak pulang. Aku tahu. Jadi bagaimana hasilnya?”, Tanya Donghae. Sambil mendengar Henry berbicara, Donghae mencoba meregangkan tubuhnya yang kaku.

“APA? Kau yakin”, tiba-tiba Donghae berteriak. Tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.

“baiklah. Segera kirimkan dokumennya”, perintah Donghae, setelah mendengar penjelasan dari Henry. Lalu memutus sambungan telepon itu.

Donghae menggeram, kesal. Diremasnya rambutnya, membuat rambut itu semakin berantakan. Donghae baru saja mendapat kabar dari Henry, jika ternyata proyek pembangunan taman bermain di New York lima tahun yang lalu, merupakan salah satu proyek yang data rincian biayanya memiliki dua laporan yang isinya berbeda jauh. Setelah diselidiki ternyata, benar adanya, jika ada dana yang digelapkan.

Tiba-tiba pandangan Donghae jatuh pada cup coffee yang terlihat masih mengeluarkan sedikit kepulan uap panas. Donghae mengambil cup coffee itu. ‘masih hangat’, pikirnya. Kemudian dilihatnya kembali sebuah paper bag diatas mejanya. Donghae menemukan sebuah jas yang sangat familiar untuknya. Tentu saja, itu adalah jasnya. Jas yang pernah digunakannya untuk menutupi tubuh seorang yeoja yang pakaiannya sedikit transparan.

Seketika itu juga Donghae tersenyum lebar. Manakala, dia tahu siapa yang meletakkan paper bag itu diatas mejanya. Dan kemungkinan besar orang yang memberikan coffee itu juga adalah orang sama. Donghae mengedarkan pandangannya ke segala arah masih tetap dengan senyumnya. Berharap dia masih menemukan yeoja yang mengembalikan jasnya itu. Namun nihil, yeoja itu tidak ada disekitaran penglihatannya. Donghae sedikit kecewa, namun tetap merasa bahagia.

“ahhh, rasa lelahku hilang seketika”, ujar Donghae bersemangat. Diregangkannya tubuhnya kembali. Lalu disesapnya coffee itu dengan nikmat. Hangat dari coffee itu seketika mengalir ditubuhnya.

Ketika ingin meletakkan kembali cup coffee itu dimeja, tiba-tiba Donghae melihat beberapa kertas, yang Donghae yakini dia belum pernah melihat kertas itu. Diamatinya isi dari kertas itu. Banyak coret-coretan tinta merah disana. Donghae mengerutkan kening, masih berpikir apa maksud dari coretan-coretan itu. Ketika Donghae sudah masuk kelembar berikutnya, barulah dia sadar bahwa kertas itu berisi laporan proyek yang baru saja beberapa minggu yang lalu mereka kerjakan, namun sekarang harus dihentikan karena kasus penggelapan dana tersebut.

Dilaporan tersebut Donghae menemukan dana-dana yang seharusnya tidak ada, menjadi ada. Donghae mencocokkan beberapa kertas yang ada dimejanya dengan kertas yang baru ditemukannya itu. Ditemukannya banyak perbedaan, terkhusus dibagian pembayaran pajak untuk negara.

“ini tidak benar. Ada orang yang dengan sengaja memanipulasi loparan dana rincian proyek”, ucap Donghae pada dirinya sendiri. Sadar dimana dia akan menemukan bukti lain, namja itu langsung meraih handphonenya, kemudian menghubungi Henry yang ia tugaskan untuk mencari bukti dikantor cabang New York.

“Henry, segera selidiki laporan keuangan perusahaan, terkhususnya untuk laporan penggunaan dana proyek yang terkena masalah itu. CEPAT”, perintah Donghae langsung tanpa menunggu respon Henry diseberang sana. Donghae menghembuskan napas berat. Tidak menyangka jika disekitarnya ada yang dengan sengaja mempermainkannya. Kemudian Donghae menyesap kembali coffee itu.

“gomawo”, ucapnya lirih, entah untuk siapa.

 

>>>>>>>

Proses persidangan untuk menentukan siapa yang akan merawat Chun sudah mulai berjalan seminggu yang lalu. Hari ini adalah sidang terakhir penentu. Dipersidangan sebelum-sebelumnya, Yoonalah yang langsung turun tangan menghadiri persidangan. Namun kali ini, yeoja itu tidak dapat hadir disana karena pekerjaan kantornya sudah menumpuk dan banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikannya untuk dilaporkan esok hari. Dan hari ini dia harus pulang malam dari kantor karena menyelesaikannya semua itu. Yoona berusaha keras untuk tetap berkonsentrasi untuk menyelesaikan pekerjaannya, namun pikirannya selalu tertuju pada persidangan yang seharusnya sudah selesai beberapa jam yang lalu. Namun dia tak kunjung mendapat kabar dari Kyuhyun maupun Max.

Tiba-tiba handphonenya bergetar. Nama Kyuhyun tertera dilayar handphone itu.

“yeoboseyo”, ujar Yoona cepat.

“oh, sepertinya kau sangat bersemangat Yoong menjawab telepon dari sahabatmu yang tampan ini”, jawab Kyuhyun diseberang sana.

“aku sedang tidak ingin bercanda Cho Kyuhyun”, jawab Yoona ketus.

“baiklah-baiklah. Kau jangan langsung marah”, ujar Kyuhyun.

“jadi?”, Tanya Yoona, tidak memperdulikan alasan sahabatnya itu.

“kita menang Yoong”, ucap Kyuhyun dengan semangat. Seketika Yoona langsung berseru senang.

“sungguh?”, Tanya Yoona lagi.

“ya. Keputusannya bahwa Chun tidak akan diasuh oleh bibinya. Karena Baek Yeri harusnya dinyatakan bersalah karena dengan sengaja meninggalkan Chun dipantai itu. Namun karena tidak ingin memperpanjang masalah lagi, jadi Baek Yeri tetap dibebaskan. Tapi tidak akan pernah mendapat hak asuh atas Chun”, ucap Kyuhyun panjang.

“ahh, syukurlah. Aku merasa tenang sekarang. Kau membuatku sangat khawatir karena tidak memberi kabar”, ucap Yoona kesal pada namja yang sudah seperti oppanya itu.

“mianhae. Aku dan Soo mengajak Chun bermain ditaman tadi. hingga lupa mengabarimu”, alasan Kyuhyun.

“jadi dimana Chun sekarang?”, Tanya Yoona.

“dia sedang ketoilet bersama Sooyoung. Kami sedang makan direstoran langganan kita”, jawab namja itu. Yoona mengangguk paham.

“katakan kepadanya, besok aku akan mengajaknya bermain ke kebun binatang”, ujar Yoona. Besok weekend, dia memiliki sedikit waktu kosong. Yeoja itu ingin memanfaatkan waktu kosong itu untuk bertemu dengan Chun.

“ya baiklah. Aku akan mengantarnya besok ke apartemenmu”, jawab Kyuhyun.

“ok, sampai bertemu be-“

“oh Yoong, tunggu”, ucapan Yoona terpotong karena Kyuhyun langsung menyelanya.

“ya ada apa lagi Kyu?”, Tanya Yoona.

“begini. Ada keputusan sidang yang belum ku sampaikan”, Kyuhyun berhenti sejenak. Yoona pun menunggu sahabatnya itu untuk melanjutkan ucapannya.

“jadi walaupun kita dapat menang dari Baek Yeri, tapi kita juga tidak mendapat hak atas Chun”, jawab namja itu.

“kenapa seperti itu?”, Tanya Yoona.

“karena diantara kita belum ada yang berkeluarga”

“maksudnya apa Kyu?”

“menikah Im Yoona. Jika salah satu diantara kita sudah ada yang memiliki keluarga sendiri, maka kita dapat mengadopsi Chun. Jika tidak..”

“’jika tidak’ apa?”,

“jika tidak, Chun akan diasuh oleh negara”, jawab namja itu dengan satu kali tarikan napas.

“APA? Itu tidak adil”, protes Yoona.

“tapi itu sudah menjadi keputusan Yoong. Kau tidak bisa protes lagi”, ujar Kyuhyun.

“ya sudah, kau dan Soo menikah saja”, usul Yoona. Sambil merapikan barang-barangnya ke dalam tas.

“YAK, kau kira menikah itu seperti permainan. Pernikahan itu butuh persiapan Yoona. Dan aku.. belum siap”, jawab Kyuhyun.

“apa lagi yang belum siap. Kalian sudah bersama hampir 6 tahun Kyu”, ujar Yoona.

“aku masih bingung. Terkadang aku sanggup menghadapi Sooyoung, tapi dilain waktu aku juga tidak sanggup menghadapinya”, jawab Kyuhyun jujur. Sooyoung adalah tipe yeoja yang selalu melakukan apa yang ingin dilakukannya. Keras kepala dan pemaksa. Berbeda dengan Kyuhyun yang tenang dan penyabar.

“jangan berbicara seperti itu Kyu. Jika Soo mendengarnya, dia akan tersakiti”, ucap Yoona lembut. Dia tahu masih ada dinding membatas diantara kedua sahabatnya itu. Sebenarnya bukan karena adanya Yoona. Tapi pada diri mereka sendiri, yang masih menahan diri.

“ya aku tahu. Ahh sudahlah. Kenapa kita menjadi membahas ini”, jawab Kyuhyun menghindari topik tentang hubungannya itu.

“hahh, kau selalu menghindar jika kita sudah membahas tentang ini. Tapi ya sudahlah”, jawab Yoona. Kemudian sambungan itu terputus.

Yoona kemudian merapikan meja kerjanya. Setelah semua rapi, Yoona beranjak keluar dari ruangannya untuk pulang. Sesampainya dilobby, Yoona pun dengan cepat menuju pintu keluar.

Kembali handphone Yoona bordering. Dan kali ini Max.

“ya Max?”, sapa Yoona.

“ohh Yoona. Apa kau sudah mendapat kabar dari Kyuhyun-ssi?”, Tanya namja itu.

“ya baru saja Max. Terima kasih karena kau sudah sangat membantu kami”, ucap Yoona sangat berterima kasih pada namja itu. Yoona sudah berdiri didepan gedung kantornya. Tapi sialnya hujan turun dengan cukup deras, dan sialnya lagi, dia tidak membawa mobil.

“tidak apa-apa. Aku sudah bilangkan, kita adalah teman. Jadi sudah sepantasnya aku membantu mu”, jawab Max.

“tapi tetap saja aku berutang budi padamu. Ahh bagaimana dengan makan malam. Aku akan mentraktirmu”, usul Yoona.

“mmm, kelihatannya menarik. Baiklah. kau dimana sekarang?”, Tanya Max.

“aku sedang menunggu taxi. Mobilku masih dibengkel”, jawab Yoona.

“good. Aku sedang berada tidak jauh dari kantormu. Aku akan menjemputmu”, ujar Max.

“baiklah. aku tunggu”, jawab Yoona dan sambungan terputus.

Sambil menunggu Max menjemputnya, Yoona asik dengan handphonenya. Namun tiba-tiba seseorang menepuk bahunya. Yoona segera berbalik melihat siapa orang tersebut. ‘Lee Donghae’, pikirnya. Tiba-tiba yeoja itu menjadi gugup setengah mati ketika namja itu melemparkan senyum mempesonanya.

“kau akan pulang?”, tanyanya. Namun Yoona tak kunjung menjawab.

“dimana mobilmu?”, Tanya Donghae lagi, tidak mempermasalahkan Yoona yang tidak menjawab pertanyaan pertamanya.

“be-bengkel”, jawab Yoona terbata.

“wah, kebetulan sekali. Mobilku juga sedang dibengkel. Kalau begitu, ayo kita pulang bersama”, ajak Donghae. Namja itu berbohong. Jelas-jelas mobilnya terparkir rapi di parkiran gedung kantor. Tadi sebenarnya Donghae sedang ada di lobby. Tapi ketika hendak ingin kembali keruangannya Donghae melihat Yoona berdiri didepan gedung kantor, namja itu pun mengurungkan niatnya untuk kembali keruangannya, dan memilih menghampiri Yoona.

“tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri”, ucap Yoona secara berlahan melangkahkan kakinya menerobos hujan, menuju halte. Donghae yang kaget dengan tindakan Yoona, segera mengejar yeoja itu.

“yak, ini hujan. Kau bisa basah kuyup”, ucap Donghae, mencoba menyamakan langkahnya dengan yeoja itu yang semakin cepat berjalan. Yoona mengabaikan namja itu. Yeoja itu melupakan bahwa Max menjemputnya. Dengan bodohnya, hanya karena ingin menghindari Donghae yang mengajaknya pulang bersama, dia menerobos hujan menuju ke halte untuk naik bus.

“Yoong, kau mendengarku?”, Tanya Donghae lagi. Dan kali ini ini Yoona menatapnya tajam.

“aku tidak ingin pulang bersamamu”, ucap Yoona dengan cepat. Kemudian berlalu kejalan penyeberangan dengan cepat, ketika lampu untuk pejalan kali sudah berwarna hijau. Jalanan tampak sepi. Ketika Yoona menyeberangi jalan itu, tanpa Yoona sadari, ada mobil merah yang melaju dengan sangat kencang menuju kearahnya. Cahaya lampu mobil itu menerpanya sehingga Yoona sadar mobil itu sudah sangat dekat dengannya. Tubuh Yoona kaku, tidak dapat bergerak untuk menghidar. Ketika mobil itu sudah semakin dekat, Yoona memejamkan mata ketakutan. Beberapa detik berikutnya tubuhnya terhempas dijalanan. Yeoja itu merasakan sakit dilengan tangannya. Hanya lengannya saja, tidak yang lain. Hingga suara rintihan kesakitan yang berasal dari orang lain, barulah Yoona membuka matanya.

Tepat dibawah tubuhnya, Lee Donghae merintih kesakitan. Darah mengalir dari kulit keningnya yang robek. Yoona segera bangkit, kepanikan melandanya.

“Lee Donghae, kau tidak apa-apa?”, Tanya Yoona panik. Donghae tersenyum membalas. Namja itu masih dalam keadaan sadar, walaupun dalam keadan terluka seperti itu. Beberapa orang sudah datang mendekati mereka, menerobos hujan.

“to-tolong panggilkan ambulance”, ucap Yoona gemetar. Dia ketakutan ketika Donghae semakin merintih kesakitan.

“sebaiknya anda menggunakan taxi saja nona. Ada rumah sakit terdekat disini”, usul salah satu namja yang ada dalam kerumunan tersebut. Dibantunya Yoona untuk memapah Donghae menuju sebuah taxi yang disarankan oleh namja itu. Itu adalah taxi yang tadi ditumpanginya. Dan berbaik hati mengikut sertakan Yoona dan Donghae didalamnya.

“ajussi, tolong kerumah sakit secepatnya”, pinta namja itu pada supir taxi. Namja itu melirik kebelakang sebentar. Terlihat Yoona yang melap darah yang mengalir dikening Donghae dengan lengan jaketnya. Tidak memperdulikan jika jaketnya akan kotor berlumuran darah. Tidak memperdulikan jika jika lengannya juga berdarah. Yang diperdulikannya sekarang hanyalah Lee Donghae. Namja yang sudah menyelamatkannya dari hantaman mobil merah yang melaju dengan cepat itu.

 

Yoona sudah diperiksa oleh dokter dan suster sudah mengobati lukanya. Yoona keluar dari ruang rawat, menuju ruangan Donghae yang ditanyakannya pada suster. Yoona masuk keruangan itu. Tampak Donghae yang lengan kanannya berbalutka perban dan kening yang diperban juga. Donghae sedang berbincang-bincang dengan dokter yang mengobatinya.

“bagaimana keadaannya dokter?”, Tanya Yoona ketika Donghae dan dokter itu sadar dia masuk keruangan itu.

“tidak terlalu buruk. Hanya jahitan kecil di kening dan sedikit retak dibagian lengan kanannya. Tapi anda tenang saja, tuan Lee akan segera membaik. Dan bisa langsung pulang”, jelas dokter itu. Yoona mendesah lega. Sedikit kekhawatirannya berkurang.

“syukurlah”, ujar Yoona lega.

“mmm, kalau begitu saya keluar dulu”, ujar sang dokter.

“ne, terimakasih”, ucap Yoona membungkuk sedikit. Setelah dokter itu pergi Yoona menegakkan tubuhnya, beralih menatap Donghae yang balas tersenyum menatapnya.

“kau baik-baik saja”, Tanya Donghae.

“yang harusnya bertanya seperti itu aku. Lihat kau terluka dimana-mana”, ucap Yoona kesal. Donghae tertawa mendengar kekesalan yeoja itu.

“aku tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil”, jawab Donghae santai.

“oh ya, dimana namja yang menolong kita tadi?”, Tanya Donghae.

“dia sudah pergi. Dia ada keperluan penting”, jawab Yoona masih dengan kekesalannya. Namja baik hati yang menolong mereka tadi, sesampainya dirumah sakit dan membantu Yoona mencarikan suster untuk mengurus mereka, segera berpamitan pergi. Tanpa Yoona sempat menanyakan siapa namanya. Hanya ucapan terima kasihlah yang sempat Yoona lontarkan kepada namja baik hati itu.

“sayang sekali. Padahal aku ingin mengucapkan terima kasih kepadanya”, ucap Donghae.

“tapi ya sudahlah. Semoga Tuhan membalas kebaikannya”, tambah Donghae. Yoona hanya mengangguk menyetujui ucapan Donghae,

“ayo kita pulang”, ajak Donghae. Namja itu segera turun dari tempat tidur, tidak ingat bahwa kakinya pun terkilir. Dengan sigap, Yoona menahan tubuh Donghae yang oleng. Sesaat mata mereka bertemu. Tidak ada kata yang terlontar diantara mereka. Seolah mata itu dapat menyampaikan pikiran mereka masing-masing.

Yoona memapah Donghae dengan hati-hati keluar dari rumah sakit itu. Lalu meminta tolong pada security untuk memanggilkan taxi. Setelah mendapatkan taxi, Yoona dengan berlahan membantu Donghae masuk ke dalam taxi lalu menyusul dirinya.

 

Sesampainya di depan apartemen Yoona, baik Donghae maupun Yoona tetap diam di bangku kemudi hingga suara supir taxi itu menyadarakan mereka.

“maaf Tuan, Nona. Kita sudah sampai”, ucap sang supir.

“ohh sudah sampai. Masuklah, dan segera menghangatkan diri”, ucap Donghae menyuruh Yoona untuk segera masuk keapartemen. Yoona menganggguk, kemudian meraih tasnya, dan membuka pintu taxi. Tapi ketika pintu terbuka, Yoona kembali berbalik menghadap Donghae.

“ayo, mampirlah sebentar. Setidaknya untuk mengeringkan tubuhmu”, jawab Yoona. Donghae kaget Yoona mau mengajaknya untuk mampir keapartemennya. Tanpa menunggu jawaban Donghae, Yoona sudah meraih lengan namja itu, membantunya keluar dari dalam taxi. Setelah membayar taxi itu, mereka berjalan berlahan dengan Yoona yang masih memapah Donghae.

 

Yoona memasukkan password apartemennya hingga terdengar suara bib pertanda password benar dan pintu pun terbuka. Yoona membantu Donghae hingga duduk disofa panjangnya. Setelahnya Yoona pergi entah kemana.

Donghae terdiam sambil mengamati isi seluruh apartemen Yoona. Sangat sederhana namun terasa nyaman didalamnya. Masih memperhatikan sekelilingnya, tiba-tiba sebuah handuk putih terulur dihadapnnya. Donghae mendongak keatas, memandang Yoona yang sudah berganti pakaian, dengan handuk masih menggantung dilehernya.

“ini keringkan rambutmu”, ucap Yoona. Donghae meraih handuk itu dengan tangannya yang tidak dibalut perban, melakukan yang Yoona perintahkan. Donghae mencoba menggosok-gosokkan handuk itu di kelapanya dengan satu lengannya. Melihat Donghae yang tampak kesulitan, Yoona mendekatinya, duduk disamping namja itu, lalu mengambil alih pekerjaan lengan namja itu.

Beberapa menit berlalu tanpa suara, Yoona masih melakukan hal yang sama pada rambut Donghae. Sedangkan namja itu menikmati wajah cantik yang tersaji didepannya sambil memandang dengan serius. Ingin merekam baik-baik wajah cantik itu dimemory otaknya.

Merasa dirinya diperhatikan sedari tadi, Yoona beralih dari rambut, memandang Donghae. Kedua pasang manik mata itu bertemu. Donghae manatap Yoona dalam. Sedangkan yeoja itu terdiam kaku dengan jantung berdebar keras, dan paru-paru yang tidak bisa bekerja dengan baik hingga membuat dirinya sulit bernapas.

“gomawo”, ucap Donghae. Yoona masih terdiam kaku, tidak dapat mengatakan appun. Donghae menatapnya dalam membuat Yoona berdebar.

“karena sudah mengajakku ke apartemenmu”, tambah Donghae. Yoona mengangkuk kaku.

“gomawo”, ulang Donghae lagi. Yoona menatap namja itu sambil mengerutkan kening karena namja it uterus mengucapkan terima kasih.

“karena sudah membantuku melalui coffee dan kertas-kertas itu”, lanjut Donghae. Yoona menghembuskan napasnya. Ternyata Donghae tahu jika dia yang memberikan coffee itu.

“gomawo”, lagi-lagi Donghae mengulang ucapannya, membuat Yoona kesal.

“iya Lee Donghae. Aku mendengarnya. Jadi jangan mengu-“, ucapan Yoona berhenti ketika sebuah kecupan singkat dirasakannya di bibirnya. Hanya hitungan detik kejadian itu berlangsung.

Yoona membulatkan matanya sedangkan Donghae menatap Yoona dengan senyum. Dielusnya pipi Yoona yang sudah memerah merona, dengan lembut.

“gomawo, karena kau selamat”, ucap Donghae sangat lembut, penuh dengan ketulusan. Dan kali ini efek ucapan itu membuat Yoona tidak dapat mengendalikan kinerja jantungnya lahi. Donghae benar-benar hebat dalam menjungkir balikkan perasaannya.

“a-aku akan mem-membuat coklat ha-hangat”, ucap Yoona terbata, segera beranjak dengan cepat menuju dapur. Dia harus menjaga jarak dengan namja itu. Jika tidak, dia akan pingsan seketika karena organ tubuhnya tidak ada yang bekerja dengan baik ketika namja itu didekatnya.

Setibanya didapur Yoona terdiam sejenak, menyentuh dadanya tepat dimana letak jantungnya yang berdebar-debar tidak karuan.

“ayolah jangan seperti ini. Kau sangat memaluka Im Yoona”, guman Yoona memaki dirinya sendiri.

“kau harus bertahan”, tekat Yoona. Kemudian diambilnya dua gelas  kosong dari lemari serta bubuk coklat. Dibaginya bubuk coklat itu sama rata. Lalu menuangkan air panas. Sambil mengaduk coklat itu, tiba-tiba tubuhnya menegang. Napasnya tersendat, jantungnya berhenti berdetak beberapa detik, hingga detik berikutnya kembali bekerja dengan kecepatan tidak terkendali. Itu semua disebabkan oleh lengan kekar yang melingkar dipinggangnya. Donghae memeluknya dari belakang dengan lengannya yang tidak terluka. Namja itu menyembunyikan wajahnya dibahu Yoona.

“a-apa yang ka-kau la-lakukan?”, ucap Yoona dengan terbata. Lidahnya terasa kaku, sulit digerakkan. Tidak ada jawaban dari namja itu. Yoona berusaha melepas lengan itu tapi tidak bisa. Donghae memeluk tubuhnya dengan erat walau hanya dengan sebelah lengannya.

“lepaskan Lee Donghae”, ujar Yoona. Namun Donghae seolah-olah tuli, pelukan itu semakin erat.

“ke mohon, sebentar saja seperti ini”, ucap Donghae lirih. Mendengar itu Yoona tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia membiarkan Donghae memeluknya seperti permintaan namja itu.

Beberapa menit berlalu, mereka masih pada posisi yang sama. Terdiam, namun menikmati rasa nyaman dan hangat dari tubuh masing-masing melalui back hug itu.

“gomawo karena sudah menyelamatkanku”, ucap Yoona sangat pelan. Hampir tidak terdengar. Namun Donghae yang berada dibelakangnya pasti dapat mendengar ucapan Yoona itu.

“dan Mianhae karena aku, kau menjadi terluka seperti sekarang”, tambah Yoona lagi. Kali ini nada suara Yoona terdengar sedih dipendengarannya.

Donghae melepas pelukan itu, kemudian membalik tubuh Yoona hingga mereka kini berhadapan. Donghae mengamati wajah itu, lalu menatap mata yeohja itu. Kesediahan terpancar disana.

“aku tidak apa-apa. Yang terpenting kau selamat dan tidak terluka”, jawab Donghae sambil mengusap pipi Yoona lembut. Mendengar itu membuat mata Yoona berkaca-kaca. Donghae mendekatkan wajahnya ke wajah Yoona, hingga dia dapat merasakan bibir tipis itu di bibirnya. Hanya menempel beberapa detik. Kemudian Donghae menjauhkannya. Mereka saling bertatapan. Seolah-olah tatapan itu dapat menyampaikan perasaan masing-masing.

Kemudian secara bersamaan, baik Donghae maupun Yoona, mendekatkan wajahnya kembali, hingga bibir itu kembali bersatu. Awalnya hanya menempel hingga kini bibir itu saling melumat satu sama lain. Tidak ada nafsu diciuman itu, hanya perasaan cinta merekalah yang ingin saling mereka sampaikan disana. Bahkan Yoona menikmati ciuman itu. Melupakan kebenciannya kepada namja itu. ‘bisakah. Bisakah aku jujur kali ini saja. jika aku… aku masih sangat mencintai namja ini’, ucap Yoona dalam hati. Yeoja itu benar-benar sangat mencintai Lee Donghae. Bahkan rasa bencinya masih dapat tertutupi oleh rasa cintanya kepada namja itu.

“saranghae”, ucap Donghae ketika bibir mereka terlepas sebentar untuk menghirup oksigen setelahnya Donghae kembali meraup bibir itu, melumatnya lembut.

 

>>>>>>>

“Max, aku minta maaf. Karena pulang terlebih dahulu tanpa memberitahumu”, ucap Yoona pada Max diseberang sana.

“ya tidak apa-apa Yoona. Kebetulan sekali aku juga tadi ingin memberi tahumu jika aku tidak bisa menjembutmu karena ada urusan pekerjaan yang mendadak”, jawab Max.

“oh begitu. Lain kali aku janji akan mentraktirmu”, janji Yoona.

“mmm, tenang saja. aku akan menagihnya janjimu itu”, jawab Max.

“kalau begitu bagaimana dengan besok. Aku dan Chun akan pergi ke kebun binatang. Kau mau ikut dengan kami?”, ajak Yoona sambil memperhatikan Donghae yang sudah tertidur pulas di sofa panjangnya. Setelah ciuman itu, mereka hanya diam sambil menikmati coklat panas, hingga Donghae secara berlahan tertidur, sepertinya efek obat yang diberikan dokter kepadanya sudah bekerja.

“ok. Aku setuju. Aku akan menjemputmu besok”, jawab Max.

“ok. Sampai bertemu besok”, ucap Yoona, kemudian memutus sambungannya dengan Max. Setelah itu kembali memandang Donghae yang tertidur pulas. Yoona mendekati namja itu, memperbaiki letak selimutnya. Yoona merapikan rambut namja itu yang menutupi matanya, diusapnya sebentar rambut itu. Kemudian Yoona membawa telapak tangannya mengelus perutnya. Ada perasaan hangat dan juga kekhawatiran yang dirasakannya sekarang.

 

>>>>>>>

Selesai menerima panggilan telepon dari Yoona, Max meletakkan handphonenya di atas meja. Kemudian menyesap Coffeenya, lalu memandang keluar jendela kaca café itu. Dia mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Kejadian tabrak lari yang terjadi didepan matanya. Mobil yang melaju dengan kencang, melanggar lampu lalu lintas hampir menabrak seorang yeoja. Yeoja yang sangat Max kenal. Im Yoona. Waktu itu Max sedang menunggu lambu lalu lintas berubah hijau untuk menjemput Yoona, ketika tiba-tiba dia melihat Yoona menyeberang jalan dengan terburu-buru dengan mobil merah yang melaju kencang. Dan dalam sekejab kejadian itu terjadi. Max sampai tidak dapat bernapas dengan benar karena ketegangannya. Max keluar dari mobilnya dengan cepat. Melihat sudah banyak orang yang mengkerumini Yoona. Disana ia melihat Donghae yang menyelamatkan yeoja itu.kemudian Max memandang kearah mobil merah itu pergi. Mengerutkan kening, kemudiaan membulatkan mata ketika tahu itu mobil siapa. Max menggeram marah, kali ini benar-benar kemarahannya sudah tidak dapat ditoleransi. Max mengedarkan pandangannya kembali pada Yoona, tapi yeoja itu sudah tidak ada disana.

 

Max menyesap coffeenya kembali. Dia sedang menunggu seseorang disana.

“hai Max”, sapa seorang yeoja dengan santai. Duduk didepan Max dengan wajah berseri. Tentu saja yeoja itu tampak senang. Pasalnya Max yang pertama meneleponnya dan meminta untuk bertemu.  Max menatap Clara dingin.

“duduklah”, perintah Max. Clara menatap Max dengan yang terkesan dingin. Namun Clara tetap melakukan apa yang kekasihnya itu perintah. Mereka saling memandang sejenak. Max dengan tatapan sinisnya dan Clara dengan wajah bingungnya.

“ada apa? Kenapa kau memandangku seperti itu?”, Tanya Clara akhirnya. Namun Max masih tetap diam, memandangnya seolah-olah ingin memakannya hidup-hidup.

“Max ada apa? Kau membuatku takut”, ucap Clara lagi. Kali ini perasaan takut melingkupinya, karena Max tak kunjung menjawabnya. Hening kembali, Clara tidak bertanya lagi. Dia tidak tahu ingin mengatakan apa lagi. Dia lelah bertanya sementara orang yang ditanya tidak mau menjawab.

“ayo kita putus”, ucap Max akhirnya setelah sekian lama hanya diam. Jika tadi Clara sangat berharap Max untuk bicara, namun setelah kalimat itu keluar dari bibir namja itu, Clara berharap Max tidak perlu bicara, diam saja.

“hahaha, kau sangat lucu Max”, ucap Clara sambil mentertawakan ucapan namja itu. Berharap kalimat yang dilontarkan Max itu hanyalah candaan saja. Namun tidak ada respon dari Max lagi, hanya wajah dingin dan mata yang menatapnya dalam-dalam. Melihat itu, Clara langsung terdiam dari tawanya.

“sepertinya kau dalam kondisi yang tidak baik. Sebaiknya kita bertemu lain waktu saja”, ucap Clara beranjak dari duduknya untuk pergi dari café itu, mencoba menghindari Max.

“aku serius. Sebaiknya kita putus”, ucap Max ketika Clara sudah mulai melangkah. Mendengar itu, Clara terdiam ditempat. Kemudian kembali duduk dihadapan Max.

“a-apa alasanmu?”, ucap Clara terbata. Max terdiam sejenak, kemudian kembali berucap.

“aku merasa hubungan kita tidak ada artinya lagi. Intensitas kita bertemu sangat kecil karena kau sibuk dengan ambisimu untuk mendapatkan harta Lee Donghae. Apa harta lebih berharga untukmu? Tidakkah hanya aku saja cukup?”, Max mengungkapkan perasaannya yang selama ini dipendam.

“ja-jangan seperti ini. Kita sudah mem-membicarakannya berulang kali dan kau tahu betul kenapa aku melakukan ini. Aku mohon Max”, mohon Clara. Namun Max menggelengkan kepalanya dengan cepat.

“tidak. Untuk awal kau memang melakukannya dengan tujuan tertentu. Tapi sekarang sepertinya kau melupakan sekitarmu. Kau melupakanku. Untuk itu lebih baik kita akhiri saja ini. Aku sudah lelah”, ucap Max, kemudian kini dirinya yang bangkit berdiri, berniat untuk meninggalkan yeoja itu seperti sebelum-sebelumnya.

“Yoona”, ucap Clara mantap dengan suara yang menggerap. Max menatap Clara yang duduk, membalas tatapannya.

“apa karena yeoja itu? Apa karena Im Yoonaa kau meminta putus? Wae? Kau menyukainya?”, Tanya Clara dengan rahang yang sudah tegang dan pipi yang memerah.

“ya ini karena Im Yoona. Kau puas?”, ujara Max yang juga ikut terpancing amarahnya.

“ckck, gadis sialan”, umpat Clara.

“sebenarnya ini tidak sepenuhnya karena Yoona. Aku meminta putus karena aku tidak menyukaimu lagi” ucap namja itu. Clara menggeleng.

“tidak, kau berbohong. Aku tahu kau tidak menyukai yeoja itu, dank au masih mencintaiku. Iya kan? Katakan iya Max”, minta Clara dengan mata yang sudah berkaca-kaca dan suara yang mulai bergetar.

“aku menyukai Yoona. Semua orang pasti menyukai Yoona. Termasuk Lee Donghae. Kau melakukan hal yang sia-sia selama ini”, ungkap Max.

“dan satu lagi alasan kenapa aku meminta putus. Karena aku tidak ingin memiliki kekasih yang berjiwa kriminalisme, jiwa pembunuh”, tambah Max.

“a-apa yang kau katakana?”, Tanya Clara tidak mengerti.

“jangan kau kira aku tidak tahu apa yang kau lakukan diluar sana. Aku melihatnya dengan mata kepala ku sendiri kejadian itu. Aku ada disana, dan kau dengan sengaja melakukannya”, jawab Max dengan suara yang meninggi. Tidak peduli jika pengunjung di café itu sudah menjadikan mereka bahan tontonan. Clara menegang, ketika Max tahu apa yang sudah dilakukannya.

“ti-tidak. Aku, aku tidak sengaja melakukannya”, alasan Clara terbata.

“kau tidak perlu berbohong. Aku tahu semuanya. Maka dari itu, sebaiknya kita berpisah. Aku tidak ingin melihatmu lagi. Selamat tinggal”, setelah mengucapkan itu, Max berbalik segera keluar dari café itu, lagi-lagi meninggalkan Clara yang sudah tersedu-sedu menangis.

“Max hiks. Max~”, lirih Clara.

“aku masih mencintaimu. Ku mohon jangan tinggalkan aku”, tangis Clara pecah. Hatinya terasa perih bagaikan ditusuk oleh ribuan pisau. Namja yang sangat dicintainya itu sudah pergi meninggalkannya, meninggalkan dirinya seorang diri lagi.

 

>>>>>>>

Esok paginya, Max sudah datang ke apartemen Yoona. Memenuhi janji yeoja itu untuk pergi ke kebun binatang. Ketika Max melihat Yoona berjalan mendekatinya, dia tersenyum senang. Namun senyum itu segera sirna, ketika melihat seorang namja yang kesulitan berjalan, tapi tetap berusaha untuk berjalan, menyeimbangi langkah Yoona.

“hai”, sapa Yoona pada Max.

“ohh, Hai~”, balas Max. namun tatapan Max masih tetap tertuju pada namja pincang itu. Yoona pun berbalik, melihat apa yang Max pandang.

“ohh, maaf Max. dia memaksa untuk ikut”, ujar Yoona.

“ahh, tidak apa-apa”, jawab Max cepat. Tidak mempermasalahkan kehadiran Donghae disana. Walaupun dirinya tidak menyukai Donghae, tapi Max pun tidak bisa untuk menyuruh namja itu untuk tidak ikut.

“cepatlah. Lihatkan, kau mempersulitkan”, ucap Yoona kesal karena Donghae sangat lama berjalan. Bukan maksud untuk menghina Donghae, hanya saja Yoona kesal Karena namja itu memaksa untuk ikut tidak sadar dirinya masih butuh banyak istirahat. Tapi tetap saja namja itu ingin ikut. Setibanya didekat Yoona, Donghae langsung memandang Max tajam, dibalas tatapan dingin dari Max. Merasa aura peperangan diantara kedua namja itu, membuat Yoona bergidik ngeri.

“ayo, kita harus menjemput Chun”, ucap Yoona menghentikan aksi pandang memandang kedua namja itu. Karena Max memaksa ingin menjemputnya, Yoona harus menghubungi Kyuhyun untuk tidak perlu mengantarkan Chun ke apartemennya. Yoona masuk, duduk dibangku belakang karena Chun akan bersamanya, jadi dia tidak duduk di samping Max yang mengemudi. Donghae pun ikut masuk mengikuti Yoona dengan gerakan hati-hati. Karena  sebenarnya seluruh tubuhnya masih terasa sangat sakit. Tapi karena tahu Yoona ingin pergi bersama namja lain, membuat dirinya cemburu berat.

 

Mereka sudah menjemput Chun dari apartemen Kyuhyun. Anak itu duduk diantara Yoona dan Donghae dibelakang. Anak kecil itu memandanga Donghae tidak suka.

“omma~, kenapa ajussi jahat itu ikut bersama kita”, bisik Chun ditelinga Yoona sambil melirik Donghae sesekali. Memastikan ajussi jahat yang dikatakannya itu tidak mendengar bisikannya. Yoona ikut melirik Donghae, namja itu pun dengan terang-terangan memandangnya.

“Chun-ah, jangan berkata seperti itu, tidak sopan sayang. Jangan seperti itu lagi ya”, nasehat Yoona. Anak itu mengangguk enggan.

“tapi omma, jika ajussi itu menyakiti omma lagi bagaimana?”, Tanya Chun lagi. Yoona tersenyum, kemudian mengecup kening anak kecil itu.

“bukankah Chun akan menjaga omma?”, Tanya Yoona balik.

“tentu. Chun akan selalu menjaga omma”, jawab anak itu dengan keyakinan penuh. Yoona langsung memeluk anak itu erat.

Melihat keberaniaan anak itu dan juga kebersamaannya dengan Yoona, membuat Donghae tersenyum dengan sendirinya. Sedangkan Max memandang dari kaca spion semua hal yang terjadi di belakangnya. Antara senang, sedih dan marah bercampur aduk melingkupinya.

 

Setelah lelah berkeliling kebun binatang itu, mereka istirahat sejenak di salah satu bangku taman.

“omma, Chun mau ice cream”, minta Chun sambil menunjuk-nunjuk kumpulan orang yang mengantri membeli ice cream di seberang mereka.

“ohh, Chun ingin ice cream? Baiklah ayo kita beli”, ajak Yoona, segera menuntun Chun berjalan menuju penjual ice cream itu. Meninggalkan Max dan Donghae disana. Terjadi keheningan diantara mereka. Mereka bersama-sama memperhatikan Yoona dan Chun diseberang sana yang bersenda gurau. Max kemudian mengalihkan pandangannya pada namja didepannya.

“anda menyukai Yoona?”, Tanya Max pada Donghae. Namja itu pun ikut menatapnya balik.

“kau tidak ada hak untuk tahu bagaimana perasaanku”, jawab Donghae ketus.

“ohhh, kalau begitu biar aku yang jujur. Aku menyukai Im Yoona. Aku juga menyukai yeoja yang juga anda sukai”, ucap Max dengan penekanan disetiap ucapannya. Membuat mata Donghae membulat, lalu mulai menggeram marah. Tidak suka dengan Max yang terang-terangan menyatakan perasaan sukanya pada gadisnya.

“kau… kau berani-beraninya menyu-“, ucapan Donghae terhenti karena handphonenya bordering. Panggilan dari Henry. Donghae mendesah, menggeram marah lagi, kini bertambah karena Henry mengganggunya. Donghae meraih handphone itu, meletakkannya mendekati telinganya. Kemudian bergerak menjauhi Max.

“yeobose-“, lagi-lagi Donghae tidak dapat menyampaikan ucapannya sampai selesai Karena selalu dipotong oleh ucapan orang lain. Bahkan kini yang berani memotong ucapannya adalah bawahannya sendiri.

“sajangnim, aku menemukannya. Aku menemukan buktinya”, teriak Henry dari seberang sana.

 

TBC

Huh, akhirnya selesai juga chapter ini. Maaf ya aku ngaret sehari dari janji aku sebelumnya. Ini karena sulitnya mencari koneksi internet ditempat ku sekarang. Mianhae~  bow. Oh ya, karena ini udah chapter 6, maka untuk chapter selanjutnya adalah chapter endingnya. Aku akan selesaikan ceritanya sampai chapter 7. Jadi jangan kemana-mana tetap bersama author Fi_ss…

Jangan lupa komentarnya ya~

Bye bye~ LEGO~

Advertisements

51 thoughts on “I Hate U (Chapter-6)

  1. chalistasaqila

    Yeayyy, g sabar liat yoonhae moment d part selanjutnya.. Spertinya perusahaan Donghae bakalan cepet membaik.. Hbis nie yoonhae tnggal nikah.. Wkwkkk

  2. ViDaY

    bukankah ini ff yg ada di wp story of yoonhae?
    yg d wp soy lama updatenya bahkan belum ada skrg jd aq baca yg di sini saja..
    ohw.. apakah yoona akan hamil? tp beneran aq sungguh penasaran alasan donghae tanpa kabar selama 7th itu knp? sepertinya masih ada hubungnnya dg tuan lee.. apa ayah donghae yg menyuruh? klw pun iya kenapa memangnya?

  3. Sudah bolak balik buka blok ini tapi lu. Ada kelanjutannya, chinguuuu kapan di lanjut ff ini sdh mati penasaran nih hihi maafkan kalau maksa habis sudah penasaran bgt sama kelanjutannya nih. Biasanya seminggu sdh update authornya lagi sibuk ya? Hikhik tetep semangat ya chingu buat lanjutin cerita ini kami rider akan setia menunggu gomawo and fighting

  4. tiap hari buka SoY tpi msh chap 5. ekh ternyta di blog ini updatenya
    seng liat yoonhae udah mulai akur mesra lagi
    apa yoona hamil? ko megangin pert. disini lmyn moment yh nya jdi sng

  5. detolyhhun

    hubungan yoonhar udah mulai naik nih.. donghae jangan sampe kalah sma max buat dapetin yoona… nah loo tu henry udah dpt buktinya.. di tunggu chapter endingnya..

  6. ken

    kok udah mau end aja sih thorr?nanti chapter 7 di panjangin ya thorr buat yoona hamill wkwkkww:v semangatttt jangan lama2…. lanjutkann

  7. indi

    Akhirny YH udh baikan yee..
    Hmm itu yg gelapkan dana itu mesti si clara#sotoy wkwk
    Yah thor masa udh mw the end aja sih

    Btw next chap jgn lama2
    Fighting^^

  8. Aaahhh daebaak thor ceritanya tambah kereen
    Yoong ihhh bilangx benci am hae oppa tapi mau ajja dicium am hae oppaa hahhaa tapi gpp q seneng bacax
    Next part bamyakin yoonhae momentx ya thor

  9. pine

    Waawaaa akhirnya max sama clara putus
    Kok clara jahat bnget si,, sebal hahahah
    Semoga bahagia selalu buat yoona :)))

    Lanjuuy

  10. Cut_ar

    Ah seru!! Moment donghae & yoona nya sweet yg di dapur, yoona pegang perut, yoona hamil? Semoga. Tolong endingnya yh bersatu ya pokoknya banyak in yh nya *maksa :v. Next jan lama lama penasaran akut nih, fighting!!!

  11. Deer_sria

    Sneng bgt moment YH dsininmakin so sweet..mkasih jg buat max yg udh mau bntuin yoong…dukurin clara diputusin max..smoga mslah perusahaan cpet jelar yah trus jeblosin tuh clara ma ppa.a ke penjara.
    Suka jg ma moment YoonChun hahaa
    Ditunggu next.a ya thor

  12. Woww YH moment tmbh sweet aja. Kaya.nya yoona hamil ntuh. Haha
    Udah deh YH nikah aja. .
    Max tau clara yg udh nbrak mga ntar lapor ke polisi. Mampus clara diputusin, tp kasian jg sih. .
    Next chap ditunggu thor. Jgn lama2 ya

  13. Akhirnya ketahuan juga yg menggelapkan pajak perusahaan ^^
    Dan juga hubungan yoonhae mulai membaik,mudah2an donghae dan yoona cepet2 nikah dan bisa mengasuh chun ^^
    Ditunggu next chapternya 😉

  14. Beyoonhae

    Finally changmin putis sama clara. Gua ga suka bgt dgn karakternya si “clara” itu. Wlaupun bakal susah sih karna max jadi auka sama yoona. Smoga max bisa dapetjn cewe lebih baik dari clara tapi juga bukan yoona(?) *gua ngaco* *maapin* ohiya figthing buat part endingnya^_^

  15. uly assakinah

    akhirnya ketahuan siapa yang menggelap kan uang perusahaan?? apa mungkin clara katanya kan dia cuma mau hartanya hae oppa aja. emang nya enak di tinggal max lagian sih jadi cewe so kecakepan, donghae juga mana suka sama clara yang donghae suka tuh cuma yoona jadi usaha apapun yang clara lakukan gk akan membuat donghae suka sama dia. selama ini kan donghae hanya merasa kasihan aja sama dia

    di tunggu next unnie

  16. tryarista w

    awal bca sempet sebel hub yoonhae mkin bruk,apalagi max slu aja mncul,,,,
    pi pas wktu yoona kasih coffe bwt hae mulai sneng ,,, ,
    e dipertengahan yoonhae sweet bget akhirnya hae bsa ngucapin saranghae ke yoona,,,
    haha chun g suka ma hae ,,,,
    dan clara changmin ptus,,,,
    tkutnya ntar clara nekat bwt bkin yoona celaka stelah kejadian ini,,,
    next jgn lma2,,,,

  17. Senengnya hubungan yoonhae udah baik lagi semoga makin membaik , aduh knpa si max mesti putus ama si clara ha bahaya ini mah dy bakal bales dendam kyoona , penasara. Siapa yang gelapin pajak nextnya dtnggu

  18. kita akan tau siapa pelaku sebenarnya *tertawa licik
    duh kok rada kesel yah klo yoonhae dekatan malah seneng klo yoona sama max. apa karna faktor donghae yang terkadang kasarin yoona
    tapi tetep berharap yoonhae nikah dan mengasuh chun
    cepet di next yah ^^

  19. ahh.. sebenarnya mau baca abis buka puasa, tapi karna penasaran jadi baca sekarang.. pas adegan yoonhae kiss terpaksa aku lewatin.. hehehe..

    si clara jahat banget sengaja mau bunuh yoona dan untungnya donghae dengan sigap nyelamatin yoona.. ditunggu next chapternya,

  20. Huh di awal part sih agak kesel karna hubungan mereka kembali dingin ,tapi pas di pertenangan yang YoonHae hampir kena tabrak itu sumpah seruu banget ..aku suka part yang pas di dapur hehe ..akhirnya donghae bilang saranghae juga ,huh tinggal nunggu jawaban Yoona gimana ?
    Oh iya dari awal aku emang udah nebak kalau max pasti bakal suka juga sama yoona soalnya semua udah terlihat dari perlakuan dia ke yoona baiknya gak biasa ..huh semoga donghae yang lebih unggul dan berharap nya di Yoona hamil supaya donghae menang telak ..haha di tunggu chap 7 nya ^^

  21. nina

    hohohohk.. trnyata yh masih sling mencintai. omoo jdi clara yg nyoba nanbrak yoona. maih pnsrn sma masa laluny yh

  22. Ophi PyrotechnicSone

    Next.. Siapa yg mengelapkan dana.?
    Nunggu momen YH lg, yg tadi mereka ada kemajuan.. Next jangan lama2, makin seru..

  23. Novi Anita W

    sukaaa ffnya dipublish cepeett 😀 semoga aja si clara ketauan deh niat aslinya dia gimana huh , udah mau akhir yaa thour bakal baper deh kayanya maunya sih yoona sama donghae aja sih tapi kalo liat max yang udah suka terus ada buat yoona kasian juga sih kalo harus bertepuk sebelah tangan huhu 😥 tapi gapapa deh satuin yoona donghae aja wkwk semoga aja max tetep baik sama yoona 🙂

  24. tiyaswulan

    Setelah sekilan lama nunggu kelanjutan ff ini akhir.ny di post jg.
    Makin penasaran gmna akhir.ny hbungan yoonhae?
    Next.ny jng lama” ya eonn 😀😀😊

  25. Limhyelim

    akhirnya hubungan YH sudah mulai membaik☺️ tapi aku masih penasran tentang ap yg terjadi sm YH di masa lalu smpi Yoona jd membenci hae?.-. semoga di chapt selanjutnya di jelskan ya kk~ yeaaay cinta segitiga, dan akhirny max memutuskan si cewe rubah. semoga Hae cepat sadar kalau clara sebenernya hany memanfaatkannya! Next part juseyooo. Fighting😊

  26. Clara makin benci dong sama Yoona, gara gara Yoona, max minta putus.
    udah mau end ya ? kok cepet ya….
    moga ending nya YoonHae bersatu, trus momentnya banyak, lebih fokus ke YoonHae…..
    di tunggu next chapter nya, jangan lama ya…. 🙂 😉

  27. YH Lulu

    wah senengnya hubungan yoonhae udah membaik..
    semoga di chap terakhir ada kabar yoona hamil..hehe
    ditunggu chap terakhirnya thor 🙂

  28. annisa

    Tmbah rumit
    Yoona kok pgang prutnya..jgn2 dy hamil tnpa ada yg tau
    Clara jhat dsni ih
    Next soon
    Keep writing😊

  29. Citra

    Siapa ya yg mmalsukan dokumen perusahaan?? Apkah clara?? Wahh sekarang ada cinta segitiga?? Ditunggu part berikutnya

  30. ina gomez

    Biar tai rsa tu mnusia rubah.ditinggal max n max blng suka ma yoona biar kapok tu nenek lmpir.
    Untung ja hae ma yoona gak terluka prh.lox hae tau org yg nabrak yoona tu clara gimn cb prsaanya.
    Sng lht chun gak diaambil ma imonya n tetep jd anaknya yoona wlu chun msh hrs di panti.mdh2 yoona cpt bs ngadopsu chun.
    Tp td yoona ngelua prtnya da pa?pa berhrap bkln da little hae stelh pa yg mreka lakukan di jeju.
    Mdh2 hbungan yoonhae membaik.

  31. Clara jahat banget. Wajarlah kalau max meninggalkannya. Apakah akhirnya yoona mau membuka kembali hatinya untuk donghae? Ditunggu next part nya ya. Keep writing chingu.

  32. Owwwww Bnyk YoonHae momentnya di chap ini aku suka 💕 ya ampunn kasian donghae gws yaaaa, akhirnya donghae mengakui perasaannya juga dan yoona udh mulai ni… dsr si clara emng yeoja rubahhh !!! Btw yoona ngelus perutnya jangan” omg !!! Yey next chap ending bikin happy ending ya wkwkwkwk ditggu jngn lama” ya jebal 😭😭😭

  33. xoloveyoonhae

    yaahh.. kok udah mau end sih ff nya.
    aku kira masih panjang chapternya..

    itu yg gelapin dana perusahaan donghae si clara kan, thor..
    aduh.. next chapter berharap yoona hamil. dan donghae harus tau dan nikahin juga

    segera di next yaa ff nya.. fighting 💪🏻

  34. Sfapyrotechnics

    Alhamdulillah yoonhae udh mulai baikan 🙂 Aigooo,, yoong syang bnget ma Chun 🙂 🙂 Ishhh,, max blak²an bnget dehj,, untng bru hae yg dia kasi tau,, klo langsung yoong?? 😦 Hae mah pecemburu berat 😀 Yoong nelpon aja ma cwo,, dia uring²an sndiri 😀 😀 Ciee yoonhae momentnya lumayan sweet 🙂 😀 Smoga aja Chun lama² suka ma hae 🙂

    Next.. fighting yahh.. jgn lma² 🙂

  35. Eughhh Donghae cemburu berat >_< Jadi benar tebakanku kalau Donghae kecelakaan yahh walaupun kecelakaan kecil. Aku berharap Yoona hamil hehehe
    Next chapter ditunggu…Jangan lama-lama dan cepetan updatenya ^_^

    WHAT????? Udah mahu ending ??? Aku nggak rela author 😦

  36. Akhirnya setelah berhari2 buka link ini hanya tuk tau dah update lum ff ini akhirnya muncul juga hihi gomawo authornim please jgn ceoet2 end dulu ya buat hae ngerasain aoa yg yoona rasain dulu biar adil hhii maksa dan klo. Usa next chapnya yg oa jang dong thor biar puas bacanya aku suka banget sama ni cerita dan biar donghae tau betapa jahat dan liciknya clara

  37. jangan end dulu unnie~ masalah antara donghae sama yoona belum selesai. belum ada penjelasan kenapa donghae selama di NY nggak pernah menghubungi yoona. terus tentang Clara juga belum dijelaskan 😌

  38. rahmania

    Yg menggelapkan dana perusahaan itu clara kan.max menyukai yoona sbgai wanita atau sbgai adik,sbgai adik sajalah biar nnti tdk skt hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s