I Hate U (Chapter-5)

I HATE YOU

Title : I Hate U (Chapter-5)
Author : Fi_ss
Cast : Im Yoona and Lee Donghae
Genre : Romance, Hurt, Sad, ect
Length : Chapter
Author Note : Annyeong. Ada yang menunggu FF aku ini? Gak terasa ya udah chapter 5 aja. Udah mendekati akhir-akhir nih ceritanya. Makasi juga buat reader-nim yang udah ngasi komentar dari mulai chapter awal sampai lima ini. Oh ya di bagian ini ada sedikit adegan bisa dikategorikan rating 17. Tapi gak lebih kok dan gak sampe menjurus sampai ketahap lebih. Aku pun gak bisa membuat cerita dewasa seperti itu. Jadi maaf untuk reader-nim yang masih dibawah 17 tahun, harus terusik sedikit dengan adegan itu. Ok gak perlu banyak omong lagi, selamat membaca dan jangan lupa komentarnya ya…
LEGO~

>>>>>>>
Beberapa menit berlalu, sejak mereka melepas rindu lewat ciuman itu. Namun tiba-tiba kesadaran Yoona kembali. Yoona segera mendorong Donghae menjauh, segera melangkahkan kakinya masuk kembali kedalam ruangan pesta tanpa mengatakan sepatah kata pun pada Donghae. Sedangkan Donghae hanya dapat terdiam, masih dalam keterkejutannya dengan penolakan Yoona.
Yoona berjalan mencari tempat sepi untuk menenangkan diri. Kejadian beberapa menit yang lalu membuat pipi Yoona memerah, First Kiss. Yoona menggelengkan kepala berharap kejadian tadi segera keluar dari ingatannya. Namun sayangnya, Yoona semakin berdebar-debar. Yoona melangkah dengan cepat menuju sebuah sofa kosong, Yoona butuh ketenangan saat ini. Namun langkahnya terhenti ketika melihat punggung seorang namja – membelakanginya, yang Yoona yakini dirinya cukup mengenal siapa namja itu. Max Wilson. Ya benar namja itu. Max sedang berbicara dengan orang lain dan orang lain itu adalah Clara. Yoona mengerutkan kening, mencoba mengingat sesuatu, dan sejenak melupakan ciumannya dengan Donghae tadi. Sampai detik ini, Yoona masih tidak suka dengan Clara. Namun kini bukan masalah Max yang sedang berbicara dengan Clara, yang menjadi pusat pikiran Yoona. Tetapi punggung Max yang Yoona rasa cukup familiar dengan punggung itu sebelumnya, tapi tidak tahu kapan dan dimana. Yoona mendekati Max, menyentuh lengan namja itu.
“Max?”, panggil Yoona. Max segera berpaling dari Clara, melihat Yoona yang sudah berdiri disampingnya.
“ohh, kau darimana saja. aku mencarimu”, jawab Max sambil tersenyum. Clara yang melihat kekasihnya tersenyum pada yeoja lain, membuatnya menggeram marah.
“aku dari luar, mencari udara. Disini terlalu banyak orang dan membuatku pusing. Tapi Max, kau mengenalnya?”, Tanya Yoona memandang Clara datar. Max ikut memandang Clara sekilas, kemudian memadang Yoona lagi.
“Ya, Clara-ssi adalah kenalanku”, jawab Max. Clara membulatkan mata, terkejut dengan jawaban Max yang menyatakan dirinya hanya sebatas kenalan saja. ‘brengsek. Kau ingin bermain-main dengan ku Max’, batin Clara, memaki kekasihnya itu. Clara menatap tajam Max, namun sepertinya namja itu mengabaikannya. Tetapi tidak dengan Yoona. Yoona yakin hubungan Max dan Clara tidak hanya sebatas kenalan semata. Tapi Yoona tidak bertanya lagi, tidak ingin mencampuri masalah pribadi orang lain. Yoona tahu batasan dirinya sampai dimana.
“ohh begitu. Oh ya, aku ingin pulang terlebih dahulu. Aku sepertinya tidak enak badan. Kalau kau masih ingin disini tidak apa-apa”, ujar Yoona mengganti topik pembicaraan dan memutuskan untuk pulang saja dari pada tetap dipesta itu. Max menggeleng tidak setuju.
“tidak. Aku juga akan pulang. Aku akan mengantarmu”, jawab Max. Kemudian memperhatikan pipi Yoona yang memerah. Max berpikir pipi Yoona yang memerah memang karena kondisi Yoona yang memang tidak baik. Namja itu tidak tahu ada faktor lain membuat pipi itu memerah.
“baiklah”, jawab Yoona, kemudian berbalik, melangkah menuju pintu keluar, diikuti oleh Max dari belakang.
“ahh, tapi tunggu sebentar. Aku harus bertemu dengan seseorang dulu”, ujar Yoona tiba-tiba. Max mengangguk mengerti. Namja itu melihat Yoona mendekati seorang pria paruh baya. Saling memeluk, berbincang sesaat, lalu Yoona kembali mendekati Max.
“ayo”, ajak Yoona. Mereka pun keluar menuju parkiran, masuk ke mobil Max. Tanpa mereka sadari seorang namja menatap tajam kebersamaan mereka dari balkon.
Terjadi keheningan diantara Max dan Yoona didalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang itu. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Yoona?”, panggil Max akhirnya memecah keheningan.
“mmm”
“apa kau mengenal Tuan Lee?”, Tanya Max. Max tahu pria paruh baya yang Yoona peluk tadi adalah Lee Dongwook. Presdir utama Lee Corparation.
“ohh Lee appa, ah ani, Lee sajangnim? Ya tentu saja aku mengenalnya, dia atasanku Max”, Yoona mengklarifikasi ucapannya. Max mengerutkan kening sambil tetap mengemudi dengan hati-hati.
“kau tadi memeluk Tuan Lee, ditambah tadi kau menyebut Tuan Lee dengan Lee Appa Yoona. Aku rasa itu bukan sikap seorang bawahan pada atasan”, Max mencoba menganalisis dari apa yang dilihat dan didengarnya.
“ohh, sebenarnya aku sudah sangat dekat dengan Tuan Lee sejak aku kecil. Ayahku bersahabat dengan Tuan Lee. Karena sudah terbiasa bersama, aku menjadi memanggil beliau dengan Lee Appa”, jelas Yoona dibalas anggukan Max.
“berarti kau juga dekat dengan anak Tuan Lee, Lee Donghae?”, simpul Max. tidak ada jawaban dari Yoona untuk pertanyaan yang sebenarnya lebih tepat pernyataan itu. Menyadari kebisuan Yoona, membuat Max mengalihkan pandangannya sejenak pada Yoona, kemudian kembali konsentrasi pada kemudi.
“ahh, sepertinya udara malam ini sangat di-“
“ya kau benar”, Yoona memotong ucapan Max yang berusaha mengalihkan topik pembicaraan mereka. Max menghentikan mobilnya ketika sudah sampai didepan gedung apartemen Yoona. Kemudian memandang Yoona yang menunduk, meremas jari-jarinya.
“tapi itu dulu. Sekarang tidak lagi”, hanya itu jawaban Yoona, yeoja itu kembali melamun. Dan Max pun tidak melanjutkan keingintahuannya lagi. Nada bicara Yoona melemah, terdapat kesedihan disana. Max yakin ada hal buruk yang melanda hubungan Yoona dan Donghae. Max mengepalkan tangannya erat-erat, marah melingkupinya. Max menggeram kesal pada Donghae. Selain karena Clara, kekasihnya yang direbut secara tidak langsung oleh Donghae, kini Yoona pun mengalami kesakitan karena namja itu. Max tidak akan memaafkan namja itu.
Yoona menegakkan kepalanya yang sedari tadi menunduk, mengedarkan pandangannya pada sekitar.
“ahh, ternyata sudah sampai”, ujar Yoona, kemudian meraih tasnya.
“gomawo, karena sudah membantu hari ini Max”, tambah Yoona. Dibalas anggukan dan senyuman dari Max. Lalu Yoona membuka pintu mobil, segera keluar. Dari dalam mobil, Max memperhatikan Yoona yang berjalan lesu, memasuki lobby gedung apartemen. Namja itu menghela napas berat, ketika menyadari takdir mempermainkan kehidupannya. Kekasihnya mengincar Donghae, dan Yoona yang sudah dianggapnya sebagai teman, memiliki hubungan dengan Donghae juga.
“kenapa harus namja itu. SIALAN”, kesal Max sambil memukul setir mobil, sebagai pelampiasan kekesalannya pada Donghae.

>>>>>>>
Sejak kejadian tempo hari, Yoona selalu menghindari Donghae. Walaupun secara terang-terangan didepan banyak karyawan dikantor Donghae mencoba berkomunikasi dengan Yoona. Namun sialnya yeoja itu selalu dapat menghindarinya. Hal ini membuat Donghae frustasi. Usahanya untuk memperbaiki hubungannya dengan Yoona sepertinya tidak akan berhasil. Karena selalu saja ada yang dapat mengacaukan usahanya.
Donghae berjalan menuju ruangan Tuan Lee. Entah karena apa, tiba-tiba appanya itu kembali bekerja, padahal kesehatannya belum pulih benar.
Tok tok tok
Donghae mengetuk ruangan Tuan Lee, kemudian masuk. Donghae terkejut ketika menyadari kehadiran seorang yeoja diruangan itu.
“ohh, kau sudah datang. Duduklah nak”, ujar Tuan Lee. Donghae pun duduk disebelah yeoja itu, memandang ayahnya dengan kening berkerut.
“ada apa appa?”, Tanya Donghae, to the point. Ada Yoona diantara mereka, dan Donghae yakin jika ini membahas masalah pribadi, appanya tersebut pasti tidak akan melibatkan Yoona didalamnya.
“ahh begini. Proyek dicabang NewYork yang sedang kita rencanakan sudah dapat dijalankan. Divisi Art&Desain sudah membuat rancangan desainnya. Tinggal mempresentasikannya saja pada investor kita. Karena kebetulan tuan Jang sedang ada urusan di Jeju – Seogwipo, jadi presentasinya tidak perlu di new York, di Jeju saja. Nah, oleh karena itu, aku menugaskan Yoona kesana sebagai perwakilan dari divisi dan kau akan melakukan nogosiasi serta menandatangani kesepakatan kerja dengan kontraktor sekaligus. Cukup seminggu saja”, jawab Tuan Lee panjang.
“tidak ada penolakan nona Im”, tambah Tuan Lee cepat ketika melihat Yoona hendak membuka mulut, protes. Yoona menghela napas menyerah. Jika Tuan Lee sudah memanggilnya ‘nona Im’ dikantor, maka ini adalah perintah dari atasan pada bawahan, bukan ayah dan anak. Yoona tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Donghae menatap Tuan Lee dalam-dalam, berharap apa yang dipikirkannya tersampaikan pada appanya tersebut. Tuan Lee yang seolah-olah mengerti dengan tatapan putranya itu, mengangguk meyakinkan Donghae bahwa apa yang dilakukannya itu adalah benar.
“kalian akan berangkat malam ini. Semua sudah disiapkan disana. Segeralah pulang dan berkemas”, peritah Tuan Lee lagi. Dan kali ini baik Yoona maupun Donghae terkejut dengan perkataan Tuan Lee, yang sangat mendadak memberangkatkan mereka harus dimalam ini. Tuan Lee tidak menghiraukan keterkejutan mereka, dan kembali membaca dokumen yang ada dimejanya. Karena tidak dapat berbuat apa-apa lagi, Yoona beranjak dari duduknya, membungkuk hormat pada Tuan Lee, kemudian keluar dari ruangan itu.
Donghae masih diam ditempat duduknya. Menunggu Tuan Lee menghentikan actingnya yang berpura-pura sedang membaca dokumen-dokumen yang ada dimeja itu. Sadar Donghae sedang mengamatinya, Tuan Lee akhirnya menegakkan kepalanya, kemudian bersandar pada kursi kebesarannya.
“wae? Appa mencoba membantumu. Kau tidak suka?”, Tanya Tuan Lee santai.
“sebenarnya apa yang appa rencanakan? Apa appa sudah lupa dengan perkataan appa yang lalu? Apa appa sedang mempermainkanku?”, ucap Donghae dengan nada suara yang semakin meninggi.
“Hae, bukan seperti itu maksud appa”, ucap Tuan Lee lembut.
“appa tahu, sesekali aku menyesali keputusanku dimasa lalu. Dan menyalahkan appa atas semua yang terjadi sekarang. Tapi aku masih menyayangi appa, dan berusaha untuk sabar. Tapi tidak kali ini. Aku tidak memerlukan bantuan appa untuk memperbaikinya. Aku akan tetap dengan kesepakatan kita dan memperbaikinya dengan usahaku sendiri. Jadi ku mohon appa..”, dari nada yang meninggi, hingga kini mulai melembut, Donghae memohon.
“ku mohon, biarkan aku melakukan apa yang ingin aku lakukan kali ini appa”, lanjut Donghae. Perasaan bersalah tujuh tahun yang lalu selalu menghantui Tuan Lee. Sebagai penebus kesalahannya, Tuan Lee ingin membantu Donghae, tetapi putranya itu selalu menolaknya.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Donghae pun beranjak dari duduknya, keluar dari ruangan itu, meninggalkan Tuan Lee yang menatap punggung Donghae yang semakin tidak terlihat lagi dari pandangannya.

>>>>>>>
Dibandara Internasional Incheon, Donghae duduk menunggu seorang yeoja yang sejak dari sejam yang lalu dihubunginya, namun tidak ada tanggapan. Padahal keberangkatan pesawat mereka menuju Jeju tinggal 30 menit lagi. Donghae mencoba menghubungi yeoja itu lagi, tepat ketika sambungan telponnya terhubung, terdengar suara nada sambung tak jauh darinya. Donghae mencoba mencari asal nada dering tersebut dan tepat dibelakangnya, sekitar beberapa meter, Yoona, yeoja yang sejak tadi dihubunginya, berjalan sambil bercengkrama dengan seorang namja yang membawa sebuah koper. Donghae menatap tajam kedua orang tersebut. Perasaan marah Donghae sudah diubun-ubun. Pasalnya Yoona dengan terang-terangan mengabaikan panggilan telponnya, dimana handphone Yoona berada pada genggaman tangan yeoja itu. Ditambah lagi Yoona datang dengan namja yang Donghae tidak kenal. Donghae tidak menyukai kedekatan Yoona dengan namja itu.
Ketika Yoona dan namja itu berdiri tepat didepan Donghae, Yoona menatap Donghae sekilas tanpa rasa bersalah sedikitpun, kemudian memandang namja yang berdiri disampingnya.
“gomawo Kyu. Sampai disini saja. segeralah pulang, sebelum Soo marah padamu”, ucap Yoona pada Kyuhyun yang dengan baik hati mau mengantarkannya ke bandara.
“mmm, kau tenang saja. Tapi Yoong, kau yakin bisa bertahan dengan namja itu selama seminggu?”, ucap Kyuhyun sambil melirik tajam pada Donghae. Donghae yang mendengar ucapan Kyuhyun, menatap tajam namja itu yang sedang terang-terangan membicarakannya.
“tenang saja. aku bisa menjaga diri”, ucap Yoona, mencoba meyakinkan sahabatnya itu.
“pulanglah”, tambah Yoona lagi. Kyuhyun akhirnya mengangguk. Walaupun sebenarnya dia masih khawatir meninggalkan Yoona disana. Sampai Kyuhyun sudah tidak terlihat lagi dari jarak pandang mereka, baik Yoona maupun Donghae tidak ada yang mulai berbicara.
Yoona pun berjalan menuju loket, untuk melakukan check in. Donghae hanya mengikutinya dari belakang, melakukan hal yang sama dengan Yoona.

Yoona sudah duduk dikursi pesawat dengan Donghae disampingnya. Tidak ada pembicaraan diantara mereka sampai detik ini. Yoona melirik Donghae sekilas. Tampak Donghae yang sibuk dengan Tabnya dan headset yang menutupi telinganya. ‘ada apa dengannya? Tidak biasaya dia menjadi pendiam seperti itu?’, ucap Yoona dalam hati. Tapi merasa tidak perlu mengambil pusing dengan sikap diamnya Donghae, Yoona mengambil posisi nyaman untuk tidur.

Sekitar sejam perjalanan dari Seoul menuju Jeju, hingga akhirnya mereka sampai. Donghae berjalan beriringan dengan Yoona. Seorang namja tua datang menghampiri mereka, membungkuk hormat.
“selamat datang tuan muda”, sapa si pria tua.
“ohh paman Kim. Lama tidak berjumpa”, jawab Donghae
“ne, tuan muda. Aku sudah menyiapkan mobil didepan”, ucap paman Kim.
“ne. kamsahamnida. Perkenalkan ini Im Yoona”, ucap Donghae memperkenalkan Yoona pada paman Kim. Yoona segera menunduk memberi hormat pada paman Kim. Paman Kim pun melakukan hal yang sama.
“mari Tuan muda, Nona”, ajak paman Kim keluar dari bandara, menuju mobil hitam yang sudah disediakannya. Paman Kim membukakan pintu untuk Donghae dan Yoona. Kemudian menyusun barang ke bagasi, lalu masuk ke bangku kemudi. Membawa Donghae dan Yoona ke hotel yang sudah disiapkan perusahaan sebelumnya, sebagai tempat pertemuan untuk beberapa hari kedepan dengan para investor dan kontraktor.
Paman Kim yang dulunya adalah asisten Tuan Lee selama memimpin di kantor pusat, cukup dekat dengan keluarga Lee secara keseluruhan. Sehingga ketika diperintahkan untuk mengurus keperluan Donghae sebagai perwakilan perusahan di Jeju, pria paruh baya itu sangat senang bertemu dengan Tuan mudanya itu lagi. Paman Kim membawa mereka kesebuah hotel bintang lima di sekitar Seogwipo-si. Hotel mewah itu berdiri tidak jauh dari pantai. Menambah nilai tambah karena keindahan pantai yang sangat luar biasa. Yoona saja langsung terpukau dengan pantai itu.
Yoona dan Donghae berdiri disekitaran lobby hotel, menunggu paman Kim melakukan check in untuk kamar mereka. Beberapa menit berlalu tanpa ada yang mau bicara terlebih dahulu. Aura yang dipancarkan sepasang manusia itu, benar-benar tidak bersahabat. Hingga paman Kim menghampiri mereka kemudian menyerahkan kunci kamar pada Donghae.
“paman. Kunci kamar ku?”, Tanya Yoona ketika paman Kim tak kunjung menyerahkan kunci untuk kamarnya.
“itu, pada Tuan muda nona”, jawab paman Kim.
“paman, kuncinya hanya satu. Tidak mungkinkan kami seka – “, ucapan Donghae berhenti, bahkan raut wajahnya menunjukkan keterkejutannya, ketika sadar paman Kim menatapnya serius.
“ya Tuan muda. Ketika aku melakukan check in tadi, kamar yang sudah dipesan perusahaan hanya satu saja”, jawab paman Kim hati-hati.
“MWO?”, teriak Donghae dan Yoona secara bersamaan.
“pa-paman jangan bercanda”, ucap Yoona terbata. Tapi paman Kim menggeleng, menyatakan dirinya sedang tidak bercanda.
“tidak ada kamar kosong lagi? Tidak harus VIP, ekonomi pun jadi paman”, Donghae mencoba mencari solusi. Tidak mungkin dirinya harus sekamar dengan seorang yeoja di sebuah Hotel.
“sebentar Tuan muda. Akan saya tanyakan terlebih dahulu pada resepsionis”, jawab paman Kim, berlalu, kembali menuju meja resepsionis. Kegelisahan melingkupi diri mereka sekarang. Secara diam-diam Donghae melirik Yoona, dan Deg. Manik mata mereka saling bertemu beberapa detik, detik berikutnya sudah saling berpaling memandang sekitaran lobby yang cukup ramai. Kecangggungan merajai mereka berdua.
“maaf Tuan muda, nona. Tidak ada lagi kamar kosong. Hotel sedang banyak pengunjung dalam seminggu ini. Jadi semua kamar penuh”, jelas paman Kim yang sudah kembali bergabung dengan mereka.
“aish bagaimana bisa seperti ini”, kesal Donghae.
“tidak ada hotel lain disekitar sini paman?”, Tanya Yoona was-was.
“resepsionis tadi mengatakan semua hotel disekitar sini pun sudah penuh. Yang ada hanya… motel?”, jawab paman Kim tidak enak hati harus menawarkan motel juga. Karena motel disekitaran pantai didaerah itu dapat dikategorikan sebagai penginapan ‘plus-plus’ – terkesan negatif.
Yoona menghela napas, tidak tahu harus mencari kemana lagi alternative lain untuk menginap.
“sudahlah tidak ada yang bisa kita perbuat lagi”, ujar Donghae akhirnya. Yoona kaget, menatap Donghae dengan mata bulatnya. Namun Donghae mangabaikan tatapan itu.
“maafkan aku Tuan muda, nona. Aku tidak bisa membantu untuk masalah ini”, ucap paman kim tidak enak hati.
“tidak apa-apa paman. Terima kasih”, balas Donghae.
“barang-barang Tuan dan nona sudah dibawakan oleh petugas hotel kekamar. jika ada yang Tuan muda dan nona perlukan, hubungi saja saya”, ujar paman Kim. Donghae mengangguk sebagai balasan. Donghae berjalan menuju lift. Yoona yang sadar Donghae sudah meninggalkannya, melangkah cepat mengejar namja itu.
Didalam lift yang cukup ramai, membuat tubuh Yoona terhimpit dengan tubuh orang lain. Namun dengan cekatan, Donghae melindungi Yoona dengan tubuhnya. Donghae berdiri didepan Yoona dengan kedua tangannya yang terjulur tegak diatara kepala Yoona. Semakin menuju lantai atas, pengguna lift semakin banyak, membuat tubuh Donghae semakin condong kedepan, memperkecil jarak tubuhnya dengan Yoona. Yoona menunduk, tidak ingin menatap wajah tampan Donghae yang tersaji tepat didepannya. Sialnya pengguna lift bukannya berkurang, malah semakin bertambah. Donghae menahan tubuhnya sekuat tenaga.
“maaf”, ucap Donghae pelan ketika tubuhnya juga ikut menghimpit Yoona. Yeoja itu menegakkan sedikit kepalanya, menatap Donghae sejenak. Terlihat namja itu menahan mati-matian tubuhnya untuk melindungi Yoona.
“mmm”, hanya itu jawaban Yoona.
Akhirnya Donghae dan Yoona dapat membebaskan diri, keluar dari lift itu ketika sudah tiba di lantai 14. Donghae berjalan terlebih dahulu mencari pintu kamar bertuliskan angka 1437, diikuti oleh Yoona dari belakang. Ketika menemukan pintu kamar, Donghae membuka pintu dan masuk berlahan, memperhatikan seluruh isi kamar.
“appaaa~”, geram Donghae ketika yang ditemukannya hanya ada satu tempat tidur king size dan sofa didalam kamar itu serta sebuah pintu, yang Donghae yakini itu adalah kamar mandi. Donghae sadar semua masalah ini adalah ulah appanya. Siapa lagi jika bukan pria tua itu yang selalu melakukan sesuka hatinya.
Donghae berbalik memandang kearah pintu kamar yang terbuka. Yoona belum juga masuk kedalam kamar itu.
“kenapa kau tidak masuk?”, Tanya Donghae yang mendapati Yoona yang hanya berdiam diri, bersandar didinding luar kamar, dekat pintu.
“kau yakin kita akan sekamar?”, ujar Yoona tanpa memandang Donghae. Donghae tersenyum jail.
“wae? Kau takut?”, goda Donghae. Yoona menatap namja itu dengan mata menyipit.
“mari kita bersenang-senang. Hanya berdua”, tambah Donghae dengan mengedipkan sebelah matanya ditambah senyum mesum. Yoona yang sadar Donghae sedang menggodanya, segera memasang wajah datar, tidak ingin terpengaruh.
“kau sedang ingin bermain-main dengan ku? Kau ingin mati di tanganku?”, ancam Yoona segera berlalu, masuk kedalam kamar. Donghae menelan air liurnya sudah payah, dia kalah. Maksud ingin bercanda, namun yang namja itu dapatkan malah ancaman.

“Kau tidurlah di kasur, aku akan disofa”, ucap Donghae. Selesai makan malam dikamar dan membersihkan diri, mereka duduk disofa sambil menyesap secangkir coklat hangat.
“tidak perlu. Kau saja. aku yang disofa”, jawab Yoona. Dia lebih suka tidur disofa dari pada tempat tidur. Tiba-tiba yeoja itu merindukan sofa apartemennya.
“yak. Mana bisa seperti itu. Aku namja, tidak mungkin membiarkan seorang yeoja tidur disofa”, ujar Donghae.
“sudahlah, tidak perlu mempersoalkan namja atau yeoja. Kau pilih saja, kau tidur dikasur atau aku akan keluar dari kamar ini”, ancam Yoona.
“HAHHH? KAU GILA?”, teriak Donghae karena pilihan yang Yoona tawarkan benar-benar tidak masuk akal. Yoona beranjak dari sofa membawa tasnya yang tergeletak dilantai, hendak keluar dari kamar.
“baiklah. aku akan tidur dikasur. Kau tidak perlu keluar”, ujar Donghae cepat ketika dirinya sadar Yoona benar-benar akan keluar dari kamar itu. Ini sudah tengah malam, tidak mungkin Donghae membiarkan Yoona berkeliaran diluar sana. Jadi namja itu memilih mengalah.
“good”, seru Yoona. Duduk kembali disofa.
“aku sudah mengantuk. Menyingkirlah”, usir Yoona pada Donghae yang masih duduk disofa panjang yang akan Yoona gunakan sebagai tempat tidurnya. Donghae pun bangkit berjalan menuju tempat tidur, duduk sejenak dipinggir kasur sambil memandang Yoona yang mulai merebahkan tubuhnya disofa panjang. Donghae mengusap wajahnya kasar. Sepertinya seminggu ini akan terasa sangat berat untuknya. Donghae larut dengan pikirannya yang rumit. Terlalu banyak hal yang dipikirkan oleh namja itu.
Donghae pun secara berlahan merebahkan tubuhnya dikasur empuk itu. Memposisikan diri senyaman mungkin, berharap besok akan berjalan baik-baik saja. Donghae memposisikan tubuhnya menyamping dan baru menyadari Yoona tidak mengenakan bantal atau selimut. Donghae bangkit dari tidurnya, meraih salah satu bantal dan selimut. Membawanya mendekati sofa.
“hahh, ternyata dia sudah tidur”, gumam Donghae ketika mendapati Yoona sudah terlelap diatas sofa panjang. Donghae mengamati posisi Yoona tidur. Khawatir esok hari Yoona akan mengalami pegal dibeberapa bagian tubuhnya karena tidur dengan posisi tidak nyaman.
Secara berlahan Donghae mengangkat kepala yeoja itu, meletakkan bantal dibawah kepala Yoona. Yeoja itu menggeliat merasa tidurnya terganggu, namun tetap melanjutkan tidurnya. Donghae terdiam sejenak sampai Yoona kembali terlelap. Merasa sudah aman, secara berlahan Donghae menutupi tubuh Yoona dengan selimut. Donghae memandang wajah yeoja itu dengan seksama. Jari tangannya merapikan rambut yang menutupi wajah yeoja itu dan kembali mengamati wajah itu. Mengelus pipi itu dengan lembut.
“kau masih tetap keras kepala seperti dulu Yoong”, ucap Donghae lembut. Sebuah senyum terbit diwajahnya. Diamatinya wajah yeoja yang semakin hari semakin cantik saja dimata namja itu.
“apa perasaan yang kau ungkapkan tujuh tahun yang lalu masih ada sampai sekarang? Aku ingin mendengarnya lagi, dan ingin membalasnya. Aku…”, Donghae berhenti sejenak. Kembali diusapnya pipi yeoja yang tertidur dengan lelap itu dengan lembut.
“aku… aku juga mencintaimu Yoong. Mianhae karena tidak bisa mengatakannya pada waktu itu”, lanjut Donghae. Ada perasaan lega yang namja itu rasakan ketika dapat mengungkapkan perasaannya yang sudah sangat lama dipendamnya. Walaupun tidak dapat mengungkapkannya dengan Yoona dalam keadaan sadar, tapi Donghae tetap merasa bersyukur masih diberi kesempatan untuk mengutarakan perasaannya yang sebenarnya. Akhirnya Donghae kembali menuju tempat tidur. Terdengar kesunyian dikamar itu. Yang terdengar hanya detak jarum jam besar yang tergantung didinding kamar itu.
Secara berlahan yeoja itu membuka kelopak matanya. Menatap lurus kedepan dengan pandangan nanar. Yeoja itu, Yoona, mendengar semua yang Donghae ucapkan. Termasuk ungkapan cinta namja itu. Entah apa yang yeoja itu rasakan sekarang. Perasaannya bercampur aduk.
“cinta hanyalah sebuah dongeng”, ungkap Yoona lembut.
“dan aku bukan anak kecil lagi yang percaya dongeng picisan seperti itu Lee Donghae”, tambah yeoja itu. Lalu kembali memejamkan matanya. Walau hatinya sudah sedikit luluh terhadap namja itu, namun dirinya belum dapat menerima Donghae seutuhnya saat ini. Masih ada hal lain yang mengganjal didalam hati dan pikirannya. Jika tujuh tahun yang lalu Yoona sangat mengharapkan Donghae mengatakan perasaannya seperti yang tadi namja itu lakukan, namun sekarang yang Yoona butuhkan adalah alasan. Alasan Donghae tidak pernah menghubunginya selama di New York.

>>>>>>>

Sudah empat hari lamanya mereka menjalankan pekerjaan mereka di Jeju. Pekerjaan mereka sudah hampir rampung seluruhnya. Hari ini tanda tangan dari seluruh investor untuk persejutuan menjalankan proyek pun sudah Donghae dapatkan. Yoona pun sudah berdiskusi tentang dasar dari desain yang sudah dirancang oleh timnya kepada kontraktor yang akan mengerjakan pembangunan.
Yoona membungkuk hormat pada kepala kontraktor yang akan berpamitan pulang. Besok mereka akan bertemu kembali untuk membahas desain lebih lanjut. Yoona mengedarkan pandangannya mencari Donghae. Dan ternyata namja itu masih berbincang-bincang dengan beberapa investor. Merasa dirinya tidak diperlukan ada disana, Yoona memilih keluar untuk mencari udara. Meminum beberapa kaleng minuman beralkohol dipinggir pantai sepertinya tidak ada salahnya.

Selesai menemani para investor berbincang-bincang, namja itu kembali kekamar hotel. Ketika Donghae masuk, kamar masih tampak gelap.
“kemana yeoja itu?”, ucap Donghae. Yoona belum kembali kekamar. Padahal diruangan yang mereka gunakan tadi untuk bertemu dengan para investor dan kontraktor sudah kosong. Seharusnya yeoja itu sudah kembali kekamar. Namun nihil. Yeoja itu tidak ada. Tiba-tiba rasa khawatir menghinggapi Donghae. Takut terjadi sesuatu pada Yoona.
Donghae melangkah keluar, kembali turun ke lobby sambil berusaha menghubungi handphone Yoona. Namun yeoja itu tak kunjung mengangkat sambungan teleponnya.
“aish, Im Yoona kau dimana?”, gumam Donghae yang sudah berada di dalam lift.
Setibanya dilobby, Donghae mengedarkan pandangannya. Namun tidak ada Yoona disana. Donghae pun menuju security yang berdiri didepan pintu lobby.
“maaf. Apa anda melihat perempuan tinggi, kurus, memakai dress berwarna coklat. Rambutnya kira-kira segini”, Donghae mencoba menggambarkan fisik Yoona pada security itu.
“oh sepertinya saya melihatnya tadi Tuan. Nona itu keluar tadi kearah mini market itu. Tapi setelahnya saya tidak tahu”, jelas security itu.
“ohh, begitu. Baiklah. terima kasih”, ucap Donghae, kemudian berlari menuju mini market itu. Namun sebelum sampai di depan mini market itu, pandangan Donghae tertuju pada seorang yeoja yang terduduk dipinggir pantai, memandang air pantai yang tampak menghitam karena hari sudah malam. Yeoja itu meminum sesekali minuman kalengnya. Donghae mendekati yeoja itu karena merasa yeoja itulah yang dicarinya.
“ternyata kau disini. Aku mencarimu”, ujar Donghae setibanya disamping yeoja itu. Duduk disampingnya, memandang air pantai sejenak lalu memandang Yoona yang melihatnya dengan datar.
“bagaimana kau bisa tahu aku disini?”, Tanya Yoona sambil membuka kaleng alkohol yang lain. Kemudian menyerahkannya pada Donghae. Namun Donghae menggeleng.
“aku tidak minum”, tolak Donghae. Namja itu tidak bisa minum minuman beralkohol. Toleransinya terhadap alkohol sangat rendah. Sedikit saja meminumnya, kesadaran namja itu sudah langsung hilang.
Karena Donghae menolak minuman itu, akhirnya Yoona meminumnya. Donghae memperhatikan yeoja itu yang dengan santainya meminum alkohol itu sekaligus sampai habis tanpa berhenti.
“ahh, aku tidak menyangka kau bisa minum sebanyak ini”, ujar Donghae yang memperhatikan dua kaleng sudah kosong ditambah lagi yang ada ditangan yeoja itu.
“aku terbiasa minum jika aku merasa kelelahan. Jadi ketika aku pulang, aku akan langsung tertidur lelap tanpa memikirkan pekerjaan lagi”, jelas Yoona sambil membuka kaleng yang ke empat. Donghae mengangguk, mengerti maksud dari ucapan Yoona. Beberapa orang temannya juga pernah mengatakan seperti yang Yoona tadi. Menyatakan alkohol dapat melupakan masalah pekerjaan sesaat. Hampir sejam mereka duduk dipinggir pantai itu dalam diam. Menikmati udara pantai dan suara ombak yang saling berlomba-lomba menuju tepi pantai.
“apa yang kau lakukan jika kau sudah lelah bekerja”, Tanya Yoona. Kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya karena efek alkohol sepertinya sudah mulai bekerja. Membuat kepalanya pusing.
“mmm, biasanya aku akan pergi keatap gedung kantor. Duduk disana beberapa saat sambil memandangi kota New York yang indah dimalam hari. Lalu pulang, membersihkan diri, lalu tidur”, jawab Donghae.
“ckck”, terdengar desisan dari Yoona. Mengarahkan telunjuknya ke lengan Donghae. Menusuk-nusuk lengan Donghae dengan jarinya.
“kau sangat membosankan. Bagaimana bisa dikota besar seperti itu kau tidak menikmati hidup”, ujar Yoona.
“bukankah disana banyak club malam. Walau aku belum pernah ke club malam karena Kyuhyun selalu melarangku, tapi kata orang-orang di dalam sana sangat menyenangkan. Kau bisa bersenang-senang, menari-nari, minum sepuasnya, bahkan… Seks”, ucap Yoona disertai kekehan. Pipi dan hidungnya sudah memerah karena pengaruh alkohol dan juga udara dingin.
“hahh, kau sudah mabuk Yoong”, ujar Donghae yang memandang Yoona yang sudah mulai kehilangan kesadarannya. Terbukti dari perkataan yeoja itu tentang Seks. Jika Yoona benar-benar sadar, yeoja itu tidak akan pernah mengatakan hal tabu itu.
“aku belum mabuk Lee Donghae. Aku masih sanggup meminum lima, tidak, sepuluh. Aku masih sanggup meminum sepuluh kaleng lagi”, bela Yoona.
“sudahlah. Jangan minum lagi. Ayo pulang”, Donghae dengan cepat merebut kaleng terakhir yang hendak Yoona buka.
Donghae meraih lengan Yoona mengalungkannya dilehernya. Menuntun Yoona untuk berdiri. Namun yeoja itu tampak ingin menolak. Dengan sedikit mengeluarkan tenanganya, Donghae dengan mudah mengangkat tubuh Yoona hingga berdiri tegak. Dengan hati-hati dituntunnya yeoja itu menuju hotel.
“Tuan. Anda butuh bantuan?”, tawar security yang melihat Donghae cukup kesulitan membawa Yoona yang masih mencoba meronta, ingin kembali kepantai itu.
“tidak apa-apa. Saya bisa sendiri”, tolak Donghae halus. Security itu pun mengangguk.
Donghae membawa Yoona memasuki lift. Lift sepi, hanya ada Donghae dan Yoona didalamnya. Donghae menekan angka 14 untuk menuju kekamar mereka dengan salah satu lengan Yoona masih mengalung dileher Donghae.
Secara berlahan mata Yoona terbuka. Hal yang pertama kali dilihatnya adalah dagu Donghae yang tampak kokoh. Dari posisi Yoona yang berdiri disamping namja itu, dia dapat melihat bagaimana rupa tampan Donghae.
“kau sangat tampan”, ucap Yoona dengan senyum menawannya. Donghae memandang Yoona sekilas. Yoona benar-benar sudah sangat mabuk pikirnya. Donghae memperbaiki posisi diri Yoona yang sudah semakin merosot. Kemudian memandang pintu lift kembali. Tiba-tiba kehangatan dirasakannya dipipinya. Jari-jari tangan Yoona mengelus pipinya dengan lembut. Donghae menunduk memperhatikan wajah Yoona. Yeoja itu menatapnya dengan serius. Lengan Yoona yang lain kini ikut melingkar dilehernya, bahkan mereka sudah berhadapan. Secara berlahan Yoona mendekatkan wajahnya ke wajah Donghae. Namja itu hanya terdiam. Sebuah kecupan singkat dirasakannya dibibirnya. Donghae menatap Yoona dengan mata membulat, tidak menyangka yeoja itu akan menciumnya. Bahkan kini yeoja itu melakukannya berulang kali. Tubuh Donghae memanas karena tindakan dan gerak-gerik yeoja itu yang mengelus-elus dadanya. Donghae namja normal, yang memiliki batas pertahanan jika sudah digoda seperti itu. Donghae langsung meraup bibir tipis Yoona, melumatnya dengan rakus. Seperti tidak ada hari lain untuk dapat merasakan bibir itu lagi. Yoona yang memang masih dipengaruhi oleh alkohol, membalas perlakukan namja itu. Nafsu sudah menguasai pasangan itu. Donghae sudah mencoba menolak, tapi yeoja itu tetap menggodanya. Jadi jangan salahkan dirinya, yeoja itulah yang memancingnya.
Ting~
Hingga pintu lift terbuka, mereka belum melepaskan tautan bibir masing-masing. Donghae menuntun secara berlahan menuju pintu kamar mereka masih dengan melumat bibir tipis itu. Donghae mengeluarkan kunci dari saku celananya. Membukanya dengan cepat, dirinya sudah tidak tahan lagi. Pintu terbuka, Donghae segera menarik tubuh Yoona masuk. ‘maafkan aku Yoong’, batin Donghae, kemudian menutup pintu.

>>>>>>>
Kecauan burung, suara deburan ombak yang saling beradu, udara sejuk yang berhembus dari pantai, serta matahari yang mulai meninggi, menambah keindahan dipagi itu. Cahaya matahari mulai masuk melalui celah-celah jendela sebuah kamar disalah satu hotel bintang lima itu. Mengusik tidur nyenyak seorang yeoja yang terbaring disebuah kasur king size.
Yoona membuka matanya, cahaya langsung menerpa manik matanya. Membuat yeoja itu kembali menutup matanya. Yoona memijat keningnya yang terasa sangat sakit karena mabuk semalam. Angin menerpa kulitnya membuat Yoona menarik selimut yang menutupi tubuhnya, tapi tidak bisa. Karena sebuah lengan melingkari perutnya, mempersulit Yoona untuk menarik selimut itu. Deg
Menyadari ada orang lain yang tidur bersamanya di kasur yang sama, membuat Yoona berbalik untuk mengetahui siapa yang sedang memeluknya dari belakang.
Deg deg deg~
Betapa terkejutnya Yoona ketika sadar dirinya tidur bersama namja yang buka suaminya, diatas tempat tidur yang sama. Jantung Yoona langsung memacu dengan sangat cepat. Tepat dibelakangnya seorang namja tanpa mengenakan pakaian, sedang tertidur lelap. Tersadar dengan udara yang semakin menerpa dirinya, Yoona pun mendapati tubuh bagian atasnya pun tidak tertutup apapun selain selimut. Dengan perasaan takut, Yoona mencoba mengintip dari balik selimut. Dan benar saja, dia tidak mengenakan apapun dan sepertinya namja itu juga bernasib yang sama dengannya.
Yoona menggigit kuku jari tangannya sambil mencoba memaksa otaknya kembali mengingat kejadian sebelumnya. Dan muncullah kejadian ketika mereka dipantai dengan dirinya yang minum alkohol, kejadian dilift, dimana dirinya sendiri yang mulai menggoda namja itu. Donghae.
‘alkohol sialan. Yoona babo~. Apa yang kau lakukan Im Yoona?’, Yoona memaki dirinya sendiri ketika sadar dirinyalah yang memulai segalanya hingga kini dirinya berbaring di tempat tidur yang sama dengan Lee Donghae tanpa mengenakan apapun. Merasa keadaan itu tidak benar, dengan berlahan Yoona melepaskan diri dari pelukan Donghae yang masih tetap tertidur. Yoona segera memungut pakaiannya yang berserakan dilantai, berlari menuju kamar mandi.

Yoona terduduk ditaman hotel dengan secangkir kopi, berharap kopi tersebut dapat menghilangkan pusing karena kepalanya masih terasa berat. Sambil menggerutu tidak jelas, sesekali Yoona meremas rambutnya kasar, membuat rambut itu berantakan. Beberapa orang memperhatikannya, namun yeoja itu tampak tidak peduli. Setelah pergumulannya dikamar mandi tadi, Yoona membersihkan diri, langsung keluar dari kamar hotel untuk bertemu kembali dengan kepala kontraktor, meninggalkan Donghae yang masih tertidur. Walau sudah berusaha untuk konsentrasi pada pekerjaannya, namun pikirannya hanya tertuju pada apa yang sudah dilakukannya dengan Donghae. Membuatnya tidak bisa tenang.
“nona Im?”, panggil seorang namja. Yoona tersadar dari pikirannya tentang Donghae.
“ohh, Tuan Han”, jawab Yoona terbata. Tuan Han kepala kontraktor yang sudah membuat janji dengan Yoona untuk membahas desain lebih lanjut.
“ada apa nona Im. Anda sedikit… berantakan”, ujar Tuan Han sambil memperhatikan rambut Yoona yang memang tidak dalam keadaan rapi karena oleh tangan yeoja itu sendiri. Menyadari Tuan Han memperhatikan rambutnya, Yoona langsung merapikan rambutnya dengan jari-jari tangannya serta merapikan pakaian.
“ahhh, maaf Tuan Han. Sepertinya aku kurang tidur”, alasan Yoona. Tuan Han pun mengangguk sambil tersenyum. Yoona merusaha semaksimal mungkin untuk bisa berkonsentrasi menjelaskan desain bangunan pada Tuan Han.

Dilain tempat, Donghae sudah mulai sadar dari tidurnya. Diusapnya kedua matanya, mencoba menyesuaikan dengan cahaya yang masuk. Setelah bisa menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar. Tiba-tiba Donghae terduduk, mengedarkan pandangannya pada sisi kasur yang kosong dan sofa yang kosong pula. Yoona. Hanya nama itu yang melintas dipikirannya sekarang ketika mengingat kembali apa yang sudah terjadi.
Donghae memandang dada telanjangnya, membuatnya mengerang frustasi.
“aniya. Apa yang sudah ku lakukan. Bagaimana ini? Yoona pasti akan semakin membenci ku”, ucap Donghae dengan nada putus asa. Jika sudah seperti ini, dirinya akan semakin sulit untuk memperbaiki hubungannya dengan Yoona. Kesalahannya semakin bertambah banyak pada yeoja itu. Donghae memperhatikan kembali sekeliling kamar, tidak ada tanda-tanda Yoona di kamar itu. Donghae mendesah berat.
>>>>>>>
Hari menjelang sore, dengan mengendap-endap Yoona masuk kekamar hotel. Berdoa dalam hati semoga dirinya tidak bertemu dengan Donghae. Yoona merasa harga dirinya sudah hancur berkeping-keping karena sikapnya kemarin. Menggoda Donghae sampai terjadilah hal yang sama sekali tidak pernah terlintas dalam pikirannya selama ini. Jika bertemu dengan Donghae, yeoja itu tidak tahu harus bagaimana menghadapi Donghae nantinya. Apa lagi jika membahas kejadian itu.
Kamar tampak sepi, Yoona bernapas lega. Merasa Donghae tidak ada dikamar mereka. Yoona menghempaskan tubuhnya disofa, memejamkan matanya sejenak, untuk menenangkan diri. Namun tak sampai sepuluh menit suara pintu kamar mandi terdengar. Tubuh Yoona langsung menengang.
“ohh kau sudah kembali”, ucap Donghae sambil mengusap-usap rambutnya dengan handuk. Kemudian duduk di sofa yang berbeda dengan Yoona. Tidak ada jawaban dari Yoona. Yeoja itu sudah duduk tegak dengan wajah pucat. Tidak ingin berlama-lama didekat Donghae, Yoona beranjak dari duduknya.
“ohh, aku ingin bicara Yoong”, ucap Donghae tiba-tiba. Yoona yang sudah bersiap melangkah menuju kamar mandi, terhenti. Berbalik secara berlahan, kemudian melihat Donghae sekilas, lalu memandang kearah lain.
“a-apa?”, ucap Yoona gugup. Yoona yakin 100% namja itu pasti akan membahas kejadian itu.
“duduklah dulu”, perintah Donghae. Dan yeoja itu menurutinya, duduk disofa itu, dengan perasaan gugup.
“mmm, begini. Aku tidak tahu harus memulainya dari mana, tapi aku benar-benar minta maaf Yoong. Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diriku”, ucap Donghae berlahan, mengakui kesalahannya.
“aku akan bertanggung jawab Yoong”, tambah Donghae.
“tidak perlu. Itu hanya terjadi sekali. Tidak akan terjadi apa pun. Kau tidak perlu bertanggung jawab. Kita melakukannya tanpa sengaja”, ucap Yoona dengan cepat. Yoona mengatakan seluruhnya dengan santai, berbanding terbalik dengan detak jantungnya yang sudah tidak karuan.
“tapi bagaimana jika kau ha – “,
“tidak. Itu tidak akan terjadi. Tenang saja”, jawab Yoona dengan cepat memotong ucapan Donghae. Yoona tidak ingin mendengar kelanjutan perkataan namja itu. Karena kata-kata itu membuatnya takut dan khawatir dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Ketika Donghae hendak ingin mengatakan sesuatu lagi, tiba-tiba suara handphone Yoona berbunyi. Yeoja itu langsung mengangkatnya, menempelkan handphone tersebut ditelinganya.
“Yeoboseyo”, ucap Yoona. Donghae memperhatikan Yoona yang tersenyum mendengar seseorang diseberang sana.
“ohh, maafkan aku Max. aku sedang tidak ada di Seoul. Aku sedang di Seogwipo, ada pekerjaan mendadak. Tapi besok aku akan kembali ke Seoul”, jawab Yoona. Mendengar nama seorang namja keluar dari bibir yeoja itu, membuat Donghae kesal.
“makan siang? Oh baiklah”, jawab Yoona lagi.
“ok, bye”, akhir Yoona. Sebentar Yoona mengecek handphonenya. Tidak memperhatikan Donghae yang menatapnya tajam.
“jadi sampai dimana tadi?”, Tanya Yoona kembali ketopik pembicaraannya dengan Donghae.
“tentang tanggung jawab jika kau ha-“, lagi-lagi perkataan Donghae harus terpotong karena handphone Yoona kembali berdering.
“yeoboseyo Kyu”, jawab Yoona. ‘Namja lain lagi’, pikir Donghae. Kali ini kesabarannya sudah habis. ‘Kenapa yeoja itu dekat dengan banyak namja?Sial’, tambah Donghae dalam hati.
“oh, ya aku baik-baik saja. Tenang saja”
“mmm, aku akan menghubungimu nanti. Ok, bye”, kali ini panggilan dari namja diseberang itu cukup singkat. Namun tampaknya Donghae sudah malas untuk membahas topik utama mereka tadi.
“siapa mereka?”, Tanya Donghae.
“siapa?”, Yoona balik bertanya.
“Max? Kyu? Siapa mereka”, jelas Donghae.
“ohh, Max, namja yang bersamaku dicafe waktu itu dan juga yang menjadi pasanganku di pesta ulang tahun perusahaan. Kalau Kyu? Kyuhyun maksudmu? Kau tidak mengenalnya? Namja mengantarku ke bandara. Kau tidak mengenalnya?”, Tanya Yoona heran bagaimana bisa Donghae dapat melupaka sahabatnya itu. Sedangkan Kyuhyun memiliki dendam tersendiri terhadap Donghae.
“Kyuhyun? Aku tidak mengenalnya”, jawab Donghae. Yoona mendesah kecewa.
“kau ingat, dulu sewaktu Senior High School, ada seorang namja berkacamata yang menyatakan perasaannya kepadaku?”, Tanya Yoona lagi. Dan kali ini Donghae mengangguk.
“lalu apa hubungannya?”, Tanya Donghae tidak sabaran. Dia sedang cemburu sekarang. Tapi Yoona seperti sedang ingin bermain-main tebak-tebakan dengannya.
“kau ingat siapa namanya?”, Tanya Yoona, tidak peduli dengan ketidaksabaran Donghae. Namja itu mencoba mengingat-ingat lagi.
“kalau tidak salah namanya Cho Kyu-“, ucapan Donghae terhenti. Matanya membulat kaget dengan pemikirannya sendiri.
“jangan bilang Cho Kyuhyun yang kupikirkan dengan namja yang meneleponmu tadi adalah orang yang sama”, ucap Donghae. Namun Yoona mengangguk membenarkan mereka sedang membicarakan orang yang sama.
“bagaimana bisa?”, gumam Donghae tidak percaya. Cho Kyuhyun yang dirinya tahu adalah namja lemah, lugu, dan kampungan. Berbanding terbalik dengan yang dilihatnya dibandara sekitar seminggu yang lalu.
“bukan itu yang menjadi permasalahan sekarang. Aku ingin bertanya, apa yang sudah kau lakukan pada Kyuhyun dulu?”, Tanya Yoona, nada suaranya menekankan setiap kata dalam pertanyaannya. Donghae mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan pertanyaan Yoona. Namun beberapa detik kemudian, dia ingat apa yang dilakukannya pada namja itu dulu.
“a-aku tidak melakukan apapun”, bohong Donghae.
“jangan berbohong. Kau membully-nya Lee Donghae”, ucap Yoona dengan nada suara yang mulai meninggi. Karena ulah namja yang duduk di seberangnya itu, hubungan Yoona dan Kyuhyun sangat kacau dulu. Kyuhyun sangat ketakutan setiap melihatnya dan ada juga tatapan kebencian yang sahabatnya itu lontarkan kepadanya dulu. Dengan kegigihan Yoona untuk mengejar Kyuhyun terus, akhirnya sahabatnya itu menceritakan seluruhnya. Dan kaget luar biasa mendengar cerita Kyuhyun.
“i-itu karena dia namja yang lemah”, ujar Donghae akhirnya. Namja itu tampak gelisah. Sebenarnya bukan itu alasan yang sebenarnya. Alasan Donghae membully Kyuhyun, karena Kyuhyun berani menyatakan perasaan sukanya pada Yoona. Donghae tidak terima, Donghae marah besar saat itu sehingga iya menyeret namja itu kelapangan futsal tempat Donghae biasa berkumpul dengan teman-temannya. Lalu menyuruh Kyuhyun berdiri diri ditengah lapangan sebagai target serangan bola yang teman-teman Donghae layangkan. Donghae sebagai penonton sangat menikmati saat itu. Bahkan lebih lagi, mereka menyiram Kyuhyun dengan air dari bekas kain pel. Akibat dari kejadian itu Kyuhyun harus dirawat dirumah sakit akibat memar di seluruh badannya.
“lemah? LALU JIKA DIA LEMAH, KAU HARUS MELUKAINYA? APA KAU MANUSIA LEE DONGHAE?”, teriak Yoona marah. Donghae sampai kaget dengan teriakan Yoona.
“ka-kau kenapa harus sampai semarah itu? Sebenarnya apa hubunganmu dengannya?”, Tanya Donghae hati-hati, tidak ingin Yoona semakin marah.
“namja yang kau katakan lemah itu adalah sahabatku. Namja yang kau katakan lemah itu, bahkan sampai sekarang adalah namja yang paling kuat, yang selalu melindungi ku. Kau mengatakannya lemah? Lalu kau menganggap dirimu kuat?”, Tanya Yoona dengan tatapan tajam pada Donghae.
“jika kau namja yang kuat, kenapa kau tidak melindungiku? Kemana kau selama ini? Kau harusnya melindungiku. Tapi nyatanya kaulah yang menyakitiku”, ucap Yoona dengan napas yang sudah terengah-engah, mengeluarkan seluruh emosinya.
“a-aku minta maaf soal itu. Aku masih sangat muda waktu itu. Masih kekanak-kanakan”, Donghae mencoba meminta maaf.
“jangan meminta maaf padaku. Harusnya kau meminta maaf pada Kyuhyun”, ucap Yoona datar.
“baiklah. aku akan minta maaf nanti”, ucap Donghae dengan nada menyesal. Ya, dia sungguh menyesali tindakan kekanak-kanakannya dulu.
“tapi aku mohon, jangan berdekatan dengan banyak namja. Aku tidak menyukainya”, ujar Donghae. Yoona yang awalnya tidak memandang Donghae, dengan cepat memandang namja itu dengan mata membulat.
“apa kau sekarang sedang mengaturku? Kau tidak ada hak untuk itu. Aku tidak pernah mencampuri hubunganmu dengan siapapun. Termasuk dengan Clara. Yeoja rubah itu. Walaupun aku tahu dia bukan yeoja yang baik untukmu, tapi aku tetap tidak pernah ikut campur dengan hubungan kalian”, ucap Yoona panjang lebar.
“Yoong, aku tahu kau tidak menyukai Clara, tapi kau tidak perlu menjelek-jelekkannya didepanku. Aku sudah mengenalnya lama. Aku tahu Clara dengan baik”, Donghae mencoba membela Clara lagi. Yoona mendesah pasrah. Clara benar-benar sudah membutakan mata Donghae.
“dia benar-benar membuatmu buta. Tapi tidak dengan orang-orang disekitarmu termasuk aku. Aku melihat apa yang dilakukannya dibelakangmu. Tapi sudahlah, aku tidak akan mencoba merubah pandanganmu tentangnya. Aku sudah memberitahumu, jika kau tidak percaya, ya sudah. Tidak ada ruginya untukku. Aku tidak akan mencampuri hubungan pribadimu, dan ku harap kau pun melakukan hal yang sama. Jangan pernah mencampuri urusanku”, ucap Yoona. Yeoja itu pun beranjak keluar dari kamar, menutup pintu dari luar dengan sangat keras.
Donghae tidak beranjak dari duduknya. Perkataan Yoona tentang Clara, menjadi pusat pikirannya. Tapi dirinya selalu menolak ucapan Yoona. Clara tidak mungkin seburuk itu. Clara adalah yeoja yang sopan, walau sedikit manja, tapi Clara yeoja yang baik. Begitulah pikiran namja itu.
Keadaan Donghae berbanding terbalik dengan yeoja yang berada didalam lift. Menutup mulutnya dengan tangan, yang dengan kurang ajarnya mengeluarkan isakan tangis. Yoona menangis lagi karena namja itu.

TBC
Hahaha, mianhae. Karena aku memotongnya dibagian ini. Di chapter 6 akan muncul konflik lain yang mungkin lebih serius. Dan sudah hampir selesai aku buat. Tinggal nambahin sedikit lagi dan mengecek ulang penulisannya. Sekitar 2-3 hari setelah chapter 5 ini aku publish, selanjutnya aku akan publish chapter 6 nya. Jadi jangan kemana-mana…. Tetep bersama author Fi_ss
Bye bye~
LEGO

Advertisements

13 thoughts on “I Hate U (Chapter-5)

  1. Yani 86

    Ya ampuuun tambah seru, kemarin bca di wattpad tapi dasar saya masih gaptek jdi nggak tau kllom koment di mna,,,, jdi ma’af ya,,,,,,,klo baru koment di sni.

    Memang karyamu sungguh bagus aku suka semua di tunggu karyamu yg lain
    fighting,,,,,,,,!!!!

  2. xoloveyoonhae

    wahh..
    itu yoona nd donghae ngelakuin ‘itu’ yaa.. hahaha
    kayaknya makin seru deh, konflik baru udah mau muncul..

    itu donghae bikin kesel belain clara mluluk.
    oiya, semoga yoona hamil yaa thor..
    dan donghae harus tau dan bertanggung jawab. keluarga im dan keluarga lee juga harus tau.. dan yoonhae cepetan nikah..

  3. xoloveyoonhae

    wahh..
    itu yoona nd donghae ngelakuin ‘itu’ yaa.. hahaha
    kayaknya makin seru deh, konflik baru udah mau muncul..

    itu donghae bikin kesel belain clara meluluk.
    oiya, semoga yoona hamil yaa thor..
    dan donghae harus tau dan bertanggung jawab. keluarga im dan keluarga lee juga harus tau.. dan yoonhae cepetan nikah

  4. Beeble

    Akhirnya di lanjut jugaa konflik nya makin asikk nihhh:)) next chapter thorr keep writing fighting ne:)) btw udah 3hari setelah chapter 5 dipost hehehehh ditunggu secepatnya thorrr 🙏😅😍

  5. Novi Anita W

    Suka sama kelanjutannya banyak moment yoonhae nyaaa. tapi ganyangka sampe ada adegan itunya sih tapi kayanya seru sihh kalo yoona hamil 😀 aahh tapi maunya sih dibikin donghaenya cemburu lagi dong thour sama yoona , bikin max suka sama yoona aja deh jangan clara wkwk 😀
    Next thour aku tunggu 🙂

  6. yoonafishy

    Kereen author,
    Jangan disatuin dulu yaa yoonhEnya
    Msih pengen liat donghae cemburu dan tersiksa mwaahahah

  7. rahmania

    sikap donghae bnr2 membingungkan,jgn sampai yoona hamil nnti malah dimanfaatkan donghae untuk menikahinya.berharap yoona bnr2 cuek dg donghae n tdk terpengaruh ucapan donghae.

  8. Beyoonhae

    Aduhhh knp konfliknya ga slesai2 thor:(( next part bakal ada konflik srius? Gua bahkan ngerasa ini ifah konflik serius ternyata masi ada yv kebuh srius lagi thor.-(?) hmm tapi yahh yaudah deh ditunggu next partnya smoga yoonhae ga makin merenggang(?) hehehe.fighting thor^^

  9. Donghae jahat sekali dulu. Kesian sekali kyuhyun dibully sama Donghae .Tapi nggak apa-apa sesekali Donghae jadi jahat heheheh … Yoonhae tambah dekat dan makin swettttt _< Please banyakin lagi moment Yoonhae
    Next chapter jusaeyo !!! Author updatenya cepetan ya soalnya aku penasaran nihhh
    FIGHTING !!!

  10. Akhirnya setelah hampir setiap hari ngecek ni blog buat kelanjutan nya ternyata hari ini ada horeeee gomawo authornim sdh meluangkan waktu tuk nhelannutin ff ini akhirnya dongjae berhasil memanfaatkan keadaan tuk deket kembali dgn yoona ya walaupun caranya harus ….. Tapi msh sebel sama sikap donghae yg sll belain si clara rubah itu, jgn cepet2 buat yoonhae bersatu ya thor buar donghae ngerasain apa yg yoona rasain dulu hihi jahat dikit gomawo author fighting lanjutnya jgn lama2 ya

  11. Wah, akhirnya donghae benar2 memanfaatkan waktu dan kesempatan dengan sangat baik. Hahaha. Pantas saja kyuhyun sangat membenci donghae. Ternyata donghae sejahat itu dulu. Ditunggu part selanjutnya ya. Keep writing chingu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s