I Hate U (Chapter-4)

I HATE YOU

Title                 : I Hate U (Chapter-4)

Author             : Fi_ss

Cast                 : Im Yoona and Lee Donghae

Genre              : Romance, Hurt, Sad, ect

Length             : Chapter

Author Note    : Annyeong~. Hai semua, Fi_ss kembali. Mianhae karena lama banget ngelanjutinnya. Sebenarnya chapter 4 ini udah selesai beberapa hari yang lalu. Tapi tiba-tiba aku nge-down, merasa gak percaya diri untuk lanjutin FF ini. Bertanya-tanya, apa ceritanya terlalu bertele-tele? Apa alurnya terlalu lambat? Apa feelnya masih dapat klo ceritanya dibuat kayak gini? Semua pertanyaan itu terus muncul waktu aku mau kirim chapter ini. Tapi setelah berpikir-pikir lagi, klo gak dilanjut, aku punya utang sama reader yang udah nunggu ceritanya. Jadi akhirnya aku post deh lanjutannya. Aku juga udah coba untuk mengurangi adanya typo, jadi mudah-mudahan gak banyak typo lagi ya. Jangan lupa komentarnya~

Happy Reading… LEGO~

 

>>>>>

Yoona segera melangkah keluar dari Café itu, Donghae segera mengejar Yoona keluar. Tanpa memperdulikan dua pasang mata yang masih diam dengan kekagetan masing-masing.

“Sejak kapan kau mengenalnya?”, Tanya Clara. Namun tak ada jawaban dari namja yang masih diam, terduduk dikursinya, dengan tatapan yang masih mengarah pada Clara.

“Max, aku bertanya sejak kapan kau mengenal Im Yoona?”, Clara bertanya kembali dengan penekanan disetiap katanya.

“dua hari yang lalu”, jawab Max singkat. Clara mendengus kesal dengan jawaban Max.

“kau baru kenal seorang yeoja dua hari, dan sudah bisa mengajaknya minum bersama?”, ujar Clara semakin kesal – bukan, lebih tepatnya marah. Clara marah, melihat bagaimana Max tersenyum dan tertawa dengan Yoona. Selama hampir lima tahun dia mengenal Max, namja itu tidak pernah seramah itu terhadap orang yang baru dikenalnya. Dan yang membuat kemarahan Clara semakin menjadi-jadi, karena namja itu sekarang tidak memandangnya lagi, melainkan melihat diluar sana, dimana Donghae sedang berusaha mengejar Yoona. Clara untuk sekarang tidak peduli dengan itu. Yang dipedulikannya sekarang adalah mengapa Max bersama Yoona dan Max tidak mau memberi penjelasan tentang semuanya ini.

“kau tidak ingin menjawab?”

“sudahlah. Aku tidak ingin bertengkar karena masalah ini. Aku hanya ada urusan dengannya sebentar”, jawab Max malas. Sebenarnya Max merindukan gadisnya itu. Tapi ketika untuk pertama kalinya dirinya melihat Clara bersama namja lain, bahkan kekasihnya itu bergelayut manja dilengan namja itu, Max benar-benar tidak suka.

Max beranjak dari duduknya, berjalan menuju luar Café. Clara mengikutinya dari belakang, mencoba mensejajarkan langkahnya dengan Max.

“urusan apa? Sepenting apa sampai kau harus bertemu dengannya di Café seperti tadi?”, Tanya Clara, dengan langkah kaki yang tampak kesulitan menyesuaikan dengan langkah Max. Tiba-tiba Max berhenti, kemudian memandang Clara tajam.

“bukan urusan yang penting. Hanya balas budi”, ujar Max sedangkan Clara masih memperlihatkan raut muka tidak percaya dengan jawaban Max. Namja itu menghela napas kembali. Clara benar-benar menyebalkan sekarang ini.

“sudahlah. Aku harus kembali bekerja. Kau juga kembalilah bekerja”, ‘bekerja merayu namja itu’, lanjut Max dalam hati. Tanpa menunggu balasan dari kekasihnya itu, Max sudah pergi menjauh. Clara terdiam seribu bahasa, tidak tahu ingin mengatakan apa lagi. Ini pertama kalinya Max tidak peduli padanya. Bahkan mereka sudah tidak bertemu hampir sebulan lamanya.

 

>>>>>

“Yoong, tunggu sebentar. Ada yang ingin ku katakan”, ujar Donghae masih mengejar Yoona dari Café hingga kini sudah memasuki area kantor mereka. Yoona tidak memperdulikan panggilan Donghae. Dia harus segera kembali keruangannya, mengunci pintu rapat-rapat agar Donghae tidak mengganggunya lagi. Donghae benar-benar tidak ada hentinya mengganggu Yoona dari mulai tadi pagi hingga sekarang, dan itu benar-benar mengganggu Yoona.

“Im Yoona”, panggil Donghae lagi dengan sedikit lebih keras. Mereka sekarang sudah ada dilobby kantor – menjadi bahan tontonan karyawan lain. Yoona tidak suka menjadi pusat perhatian orang-orang. Beberapa karyawan sudah berbisik-bisik – Yoona yakin pasti tentang dirinya dengan namja menyebalkan yang masih mengikutinya terus. Yoona berhenti sejenak, berbalik, memandang Donghae tajam.

“diamlah Lee Donghae. Kau sangat menyebalkan”, ujar Yoona dengan sinis namun berbeda dengan Donghae yang tersenyum senang, karena Yoona akhirnya mau berbicara. Donghae tidak peduli bagaimana tanggapan karyawannya dengan tingkahnya ini. Dia hanya ingin berbicara dengan Yoona.

Yoona mendengus kesal ketika tiba didepan lift. Pasalnya lift masih berada dilantai paling atas dan butuh beberapa menit hingga turun kelantai satu. Bagi Yoona beberapa menit itu bagaikan neraka karena harus berdiri disamping namja yang masih bertahan memandang Yoona dengan senyum yang aneh. Beberapa orang karyawan disana – yang juga menunggu lift – menunduk memberi hormat pada Yoona, terkhusus Donghae, presdir baru mereka. Baik Yoona dan Donghae tidak ada yang membalas karyawan-karyawan itu.

“sekarang kau sangat dingin dan bermulut tajam”, ujar Donghae masih dengan senyumnya.

“berisik”, umpat Yoona.

“wooo, kau sangat menakutkan. Padahal dulu kau sangat menggemaskan Yoong”, balas Donghae santai.

“Diam Lee Donghae”, umpat Yoona lagi. Karyawan yang ada disana, kaget dan heran dengan ucapan Yoona yang dapat dibilang tidak sopan pada atasan mereka.

Ting~

Pintu lift terbuka, Yoona segera masuk kedalam lift diikuti oleh Donghae. Namun sebelum masuk, Donghae berbalik menghadap karyawan yang masih berdiri didepan lift.

“aku butuh tempat privasi sekarang”, hanya itu yang dikatakan Donghae dengan senyum menawannya. Karyawan-karyawan itu mengangguk kaku, sepertinya mengerti maksud Donghae yang secara halus menyuruh mereka untuk tidak menggunakan lift yang sama dengan mereka.

Donghae masuk dan menekan lantai ruangan Yoona dan ruangannya. Terjadi keheningan didalam lift itu. Donghae berdehem, menghilangkan keheningan diantara mereka.

“mmm, keluargaku akan melakukan BBQ Party untuk merayakan kepulanganku”, ucap Donghae. Kemudian melanjutkannya kembali karena tidak ada reaksi yang lebih dari Yoona.

“Omma mengundangmu”, lanjut Donghae. Yoona masih terdiam disudut lift, bersandar pada dinding belakang lift, dengan memandang lurus pada pintu lift. Donghae mensejajarkan dirinya dengan Yoona, juga bersandar didinding lift. Beberapa menit tidak ada jawaban dari Yoona. Donghae menyerah, sepertinya Yoona memang lagi tidak ingin diajak bicara.

“aku sudah tahu”, jawab Yoona singkat. Yoona sudah tahu dengan acara itu, karena kemarin malam Ny Lee mengirimnya pesan untuk datang keacara itu. Donghae langsung menegakkan kepala memandang Yoona dengan kening berkerut.

“ohh, kau sudah tahu ternyata. Apa kau akan datang?”, Tanya Donghae dengan penuh harap. Melihat itu membuat Yoona sedikit kesulitan untuk menjawab. Jantungnya berdebar tidak karuan melihat Donghae yang sejak dulu selalu mempesona.

“tidak”, jawab Yoona singkat. Dia mencoba meredam suaranya yang sebenarnya bergetar.

“Wae?”, Tanya Donghae, lebih mendekat ke samping Yoona. Yoona secara spontan langsung bergerak kesamping – sudut kiri lift. Dia tidak bisa terlalu dekat dengan namja itu, bisa-bisa pertahanannya akan hancur seketika.

“a-aku ada pekerjaan”, jawab Yoona terbata. Donghae menyerutkan kening dengan wajah kecewa.

“bukankah acaranya weekend. Semua libur”, jawab Donghae memandang Yoona kecewa.

“sudah ku bilang aku ada pekerjaan. Dan tolong menjauhlah. Kau terlalu dekat”, ujar Yoona, merasa tidak nyaman dengan posisinya yang semakin tersudut. Donghae seolah-olah tuli, dia semakin mendekat.

“LEE DONG-AKKK”, teriak Yoona ketika terjadi goncangan didalam lift dan lampu lift pun mati.

Brak

“om-omma”, ringis Yoona ketakutan ketika terjadi guncangan kecil lagi.

“ada apa ini?”, ujar Donghae yang juga panik, dikeluarkannya handphonenya, menyalakan light agar ada sedikit pencahayaan. Donghae menekan tombol darurat didekat pintu lift. Terdengar suara gesekan dari speaker disudut atas lift.

“Maaf. Ada kerusakan pada lift. Mohon tunggu sebentar, kami sedang melakukan perbaikan”, ucap seseorang diseberang sana. Mendengar hal itu, Donghae menghela napas berat. Mengapa harus ditempat sempit seperti ini dia mengalami kesialan. Donghae berbalik melihat kondisi Yoona. Donghae tersenyum, bahkan terdengar kekehan dari mulutnya. Yoona meringkuk disudut lift dengan mata yang dipaksa menutup rapat. Yoona tidak suka gelap. Tiba-tiba Yoona merasakan kehangatan dibagian kakinya yang hanya dilapisi rok yang panjangnya diatas  lutut.

“ternyata kau masih takut gelap seperti dulu”, ucap Donghae dengan tawa yang ditahan sambil meletakkan jasnya menutupi kaki Yoona. Melihat Yoona seperti sekarang mengingatkan Donghae pada Yoonanya yang sangat penakut, tidak seperti Yoona beberapa menit yang lalu.

“dan kenapa kau menggunakan pakaian seperti ini ke kantor? Lain kali jangan menggunakan pakaian seperti ini. Aku tidak suka”, ucap Donghae sambil menilai penampilan Yoona. Bagaimana Donghae tidak menyukai pakaian Yoona? Yeoja itu memakai kemeja putih tipis – bahkan pakaian dalamnya sedikit terlihat, ditambah dengan rok mini yang tidak layak pakai – menurut Donghae – yang memperlihatkan kaki jenjang Yoona. Donghae sudah memperhatikan beberapa namja sejak dari Café tadi hingga dikantor, secara terang-terangan memandangi tubuh Yoona. Donghae rasanya ingin menghajar mereka semuanya hingga buta.

Yoona menatap tajam Donghae yang mentertawakannya sekaligus menyindir pakaiannya. Seketika ketakutannya hilang karena kesal dengan perkataan Donghae.

“kau tak berhak untuk menilai penampilanku”, ucap Yoona ketus.

“aku tidak tahu sebenarnya pakaian seperti apa yang sedang tren saat ini. Tapi kurasa pakaian seperti ini tidaklah layak pakai”, balas Donghae.

“apanya yang tidak layak?”, kesal Yoona.

“kau tidak lihat, kemeja mu ini terlalu tipis dan..”, Donghae berhenti. Merasa aneh – lebih tepatnya malu – untuk melanjutkan apa yang didalam pikirannya.

“dan apa?”, Tanya Yoona dengan kening berkerut.

“dan… mmm dan pakaian dalammu sedikit terlihat”, jawab Donghae memalingkan wajahnya kearah lain dengan pipi sedikit merona. Donghae benar-benar sangat malu mengatakannya kepada Yoona. Jika dipikir-pikir, dia dan Yoona sudah bersama sejak kecil, tidur bersama, bermain bersama, bahkan pernah mandi bersama – ok untuk yang satu ini hanya terjadi ketika mereka masih sangat kecil, tidak mengerti apa-apa. Tapi sekarang kenapa mengatakan hal seperti tadi rasanya sangat memalukan bagi Donghae, mungkin karena mereka sudah dewasa sekarang dan hubungan mereka yang bisa dikatakan sangat buruk.

Mata Yoona membulat, kaget dengan perkataan Donghae yang frontal. Yoona menarik jas Donghae hinga menutupi tubuhnya. Kemudian sedikit menilik pakaiannya, dan benar saja, pakaian dalamnya terlihat. ‘babo. Kemeja sialan’, batin Yoona ketika sadar benar apa yang Donghae katakan. Yoona panik menutupi tubuhnya sedangkan Donghae tertawa dengan kepanikan Yoona. Namja itu duduk disamping Yoona masih dengan tawanya. Tidak takut sama sekali dengan tatapan kesal Yoona. Sepertinya namja itu sudah mulai terbiasa dengan tatapan tajam itu.

Beberapa menit terjadi keheningan diantara mereka, tidak ada tawa dari Donghae lagi. Hanya terdiam ditemani cahaya dari handphone Donghae.

“soal tindakanku yang kemarin, aku benar-benar minta maaf”, ucap Donghae menatap lurus kedepan, tanpa memandang orang yang diajak bicara. Yoona menatap namja yang duduk disampingnya dengan kening berkerut. Bukannya tidak tahu dengan maksud perkataan Donghae, hanya saja, nada bicara Donghae sedikit berbeda, dan raut mukanya terlihat sedih.

“kau tahu, sejak saat  itu aku benar-benar sangat bersalah hingga sekarang. Aku merasa semakin buruk dihadapanmu”, Donghae memandang Yoona sejenak, kemudian kembali menatap lurus ke depan. Yoona ingin mengatakan sesuatu, tapi mulut dan lidahnya serasa kaku.

“seminggu setelah kejadian itu, aku kembali ke restoran itu untuk makan siang. Ajumma pemilik restoran itu memarahiku atas tindakanku yang gegabah. Dia membelamu habis-habisan. Kemudian dia sedikit menceritakan tentang dirimu. Saat dia menceritakan seperti apa kau yang sekarang, aku merasa sangat terluka”, nada bicara Donghae semakin sendu, Yoona dapat merasakannya. Yoona tetap diam mendengar setiap ‘curhatan’ Donghae.

“dulu, aku adalah orang yang paling mengerti dirimu. Aku sangat bangga akan itu. Tapi sekarang, aku menjadi orang yang tidak tahu apapun tentangmu. Aku merasa satu-satunya orang disekitarmu, namun disaat yang bersamaan merasa sangat jauh darimu. Appa, omma, nona Choi, bahkan ajumma itu tahu tentang dirimu. Sedangkan aku tidak”, suara Donghae semakin lembut, bahkan diakhir kalimatnya terdengar seperti gumaman saja, tapi Yoona masih bisa mendengarnya. ‘benarkah dia merasakan seperti itu?’, batin Yoona.

“kau menamparku sangat keras saat itu”, ucap Yoona tanpa pikir panjang. Padahal Yoona tidak ingin mengingat kejadian itu lagi. Tapi dirinya sendirilah membahas tentang kejadian menyakitkan itu.

“waktu itu aku benar-benar panik melihat darah mengalir ditangan Clara ditambah ucapanmu yang tidak sopan. Tapi sungguh aku minta maaf, aku tidak berpikir panjang”, Donghae menatap Yoona lembut.

“Clara, dia pernah mengalami kecelakaan tepat didepan mataku. Waktu itu aku sangat panik banyak darah mengalir dari kepalanya. Aku sangat merasa bersalah karena tidak bisa melindunginya padahal dia ada didekatku. Makanya ketika aku melihat darah ditanganya, aku langsung mengingat kejadian diwaktu lalu”, Donghae mencoba menceritakan masa kelamnya ketika bersama Clara di New York. Yoona mendengarkannya dengan baik walaupun tidak suka ketika Donghae harus menyebut nama yeoja rubah itu berulang kali, ada perasaan tidak suka –cemburu.

“mmm, sepertinya kau sangat mencintai kekasihmu itu”, lagi-lagi tanpa dapat mengendalikan mulutnya, Yoona mengatakan apa yang sedari tadi hanya ada dalam otaknya saja

“mencintai? Kekasih?”, Tanya Donghae tidak mengeti dengan perkataan siapa yang Yoona maksud. Melihat Donghae seperti tidak mengerti apa-apa, membuat Yoona kembali kesal.

“siapa lagi kalau bukan yeoja ru- maksudku Clara”, Yoona dengan cepat memperbaiki ucapannya ketika ingin menyebut nama Clara dengan yeoja rubah.

“Clara? Tidak. Hubunganku dengan Clara tidak sejauh itu. Aku dan Clara hanya sebatas teman baik, ayahnya rekan bisnis ku ketika di New York, tidak lebih. Kalaupun lebih hanya sampai sebatas dongsaeng saja”, jelas Donghae cepat, sadar ketika Yoona juga termakan oleh gosip yang sedang bersebaran tidak jelas. Ada perasaan lega yang Yoona tanpa sadari sedikit membuatnya senang. ‘tidak. Im Yoona kau tidak boleh sesenang ini’, batin Yoona, memarahi dirinya sendiri.

Terjadi keheningan diantara mereka, sibuk dengan pikiran masing-masing.

“gomawo”, ucap Donghae tiba-tiba. Yoona memandang Donghae, tidak mengerti.

“karena sudah mau mendengarkanku kali ini. Dan Mianhae, karena sudah membuatmu terluka”, tambah Donghae sambil menatap Yoona dengan mata sendunya. Deg Yoona kembali berdebar dengan tatapan Donghae yang selalu memikatnya.

“Yoong, aku ingin seperti mereka. Tahu banyak tentang dirimu yang sekarang”, Yoona terpaku dengan tatapan mata Donghae. Debaran jantungnya semakin tidak terkendali. Donghae meraih tangan Yoona, mengelus punggung tangan kurus itu.

“Yoong… apa aku masih punya kesempatan?”, Tanya Donghae. Deg Deg Deg

Yoona terdiam, tubuhnya kaku, tidak bisa memberikan respon lebih. Kalimat terakhir Donghae tadi, hanya itu yang perputar-putar dalam pikiran Yoona. Beberapa menit, setelah berhasil mengontrol detak jantungnya, Yoona menarik napas dalam, kemudian menghembuskannya berlahan. Kemudian menatap Donghae kembali tepat dimata namja itu. Yoona mencoba mencari keseriusan dimata namja itu. Ketika Yoona siap untuk memberi jawabannya, tiba-tiba..

Ting~

“ohh sajangnim. Anda baik-baik saja?”, pintu lift terbuka. Cahaya dari luar segera masuk, menyilaukan mata Yoona dan Donghae. Serta teriakan khawatir dari Henry – sekretaris Donghae.

Yoona yang sadar sudah melalui masa-masa ketakutannya terhadap kegelapan, segera berdiri, melepas genggaman tangan Donghae, merapikan letak jas Donghae dengan benar ditubuhnya. Yoona segera beranjak keluar dari lift, disapa beberapa petugas yang memperbaiki lift, menanyakan keadaannya. Yoona membungkuk mengucapkan terimakasih, lalu segera pergi kearah pintu darurat. Yoona memilih naik ke lantai lima menggunakan pintu darurat. Tadi Yoona dan Donghae terjebak di dalam lift lantai tiga. ‘Tidak ada salahnya untuk naik tangga dua lantai lagi’, pikir Yoona. Lagi pula Yoona membutuhkan tempat sepi sekarang – untuk menenangkan diri, dari perlakuan Donghae, yang sialnya sudah mulai meruntuhkan pertahanan yang sudah dengan susah payah Yoona bangun selama tujuh tahun terakhir ini.

Ketika sampai dilantai lima, napas Yoona tidak beraturan, kelelahan. Yoona berhenti dibalik pintu gawat darurat lantai lima, beristirahat sejenak. Ketika sudah mulai merasa tenang, tiba-tiba ingatan tentang perkataan Donghae di lift tadi menghantui Yoona lagi.

‘Yoong… apa aku masih punya kesempatan?’

Yoona menggeleng cepat, berusaha menghilangkan Donghae dari pikirannya.

”Tidak Im Yoona. Jangan seperti ini. Jebal”, gumam Yoona pada dirinya sendiri. Sebenarnya ketika keluar dari lift tadi, Yoona ingin berterima kasih pada namja itu karena mengalihkan pikirannya dari rasa takut dengan mengajaknya berbicara, walaupun sebenarnya Donghaelah yang lebih banyak berbicara, Yoona lebih banyak diam, menjadi pendengar yang baik.

Yoona menghembuskan napas berat, kemudian membenarkan letak jas Donghae, semakin membungkus tubuhnya. Karena komentar Donghae tentang pakaiannya, membuat Yoona merasa tidak nyaman dengan apa yang dia kenakan sekarang. Padahal biasanya dia selalu percaya diri dengan apa yang dikenakannya, bahkan lebih dari yang sekarang.

Ketika berjalan menuju ruangannya, Yoona melihat Sooyoung yang sibuk berdiskusi dengan karyawan lain, dan sepertinya sangat serius. Yoona pun menghampiri mereka.

“ada apa? Ada masalah?”, Tanya Yoona tiba-tiba menghentikan diskusi mereka.

“ohh, dari mana saja kau?”, ujar Sooyoung kesal. Karyawan yang mendengar ucapan Sooyoung terseyum. Seluruh karyawan di divisi Art & Desain tahu kedekatan kedua yeoja itu. Mereka akan selalu bertengkar dan selalu berkata kasar satu dengan yang lain. Namun jika mereka sudah serius dengan pekerjaan, mereka adalah kolaborasi yang sangat hebat.

“ohh, aku ada urusan tadi. Wae?”, jawab Yoona santai, tidak terpengaruh dengan tatapan tajam sahabatnya itu. Sooyoung hanya menghembuskan napas menyerah.

“Ada masalah penting dan kau bersenang-senang diluar sana”, ucap Sooyoung. Yoona mengerutkan keningnya, kemudian memandang salah satu karyawan disana.

“perusahan di New York menolak salah satu proposal yang sudah kita kirim. Mereka mengatakan anggaran biayanya terlalu besar Nona Im”, jelas karyawan itu ketika melihat arah pandang Yoona kepadanya, meminta penjelasan.

“terlalu besar? Bukankah kita sudah membuat perkiraan biayanya serinci mungkin. Bagaimana mungkin mereka bisa mengatakan biayanya masih terlalu besar?”, ucap Yoona.

“aku juga tidak mengerti. Padahal anggaran biaya untuk proyek ini lebih besar dari yang biasanya dan proposal yang kita buat bahkan tidak sampai setengah dari yang dianggarkan. Ini sangat aneh”, jawab Sooyoung.

“apa mereka sudah menghubungi lagi?”, Tanya Yoona. Karyawan itu menggeleng.

“ini sangat aneh”, ujar Sooyoung lagi

“aneh?”, Tanya Yoona penasarah dan karyawan yang ada bersama mereka pun beranggapan yang sama.

“Coba ingat kembali. Selama ini jika divisi kita diminta bantuan oleh cabang di New York, mereka tidak pernah berbelit-belit dan selalu menyetujui proposal kita. Apa karena Tuan Lee dipindahkan ke sini, kinerja mereka menjadi memburuk?”, analisis Sooyoung dan Yoona pun menyetujui itu. Sejak Donghae dipindahkan ke kantor pusat di Korea, cabang di New York menjadi sulit untuk diajak bekerja sama.

“kau benar juga. Siapa sekarang yang memegang cabang disana?”, Tanya Yoona.

“yang ku tahu bukanlah orang dalam. Kau tahu Newly Coorporation? Perusahaan itu dipimpin oleh Tuan Jang Je Hyun. Beliau yang memegang cabang di New York”, Yoona mengerutkan kening, tidak tahu sama sekali perihal yang Sooyoung katakan. Yoona membalas dengan mengangguk, tidak ingin bertanya siapa sebenarnya Tuan Jang itu, atau lebih tepatnya dirinya tidak tertarik untuk tahu dia siapa.

“baiklah. kalian kembalilah bekerja. Aku dan Sooyoung akan mendiskusikannya terlebih dahulu”, ucap Yoona kepada karyawannya itu dan mereka segera pergi. Yoona dan Sooyoung melangkah menuju ruangan Yoona.

“Yoong ada berita yang mengejutkan. Kau pasti tidak akan menyukai ini”, ucap Sooyoung ketika sudah masuk keruangan.

“apa?”, Tanya Yoona penasaran. Raut wajah Sooyoung seperti ibu-ibu tukang gosip sekarang, terlihat bersemangat.

“ternyata nona jadi-jadian itu adalah putri Tuan Jang”, jawab Sooyoung.

“Clara?”, Tanya Yoona meyakinkan bahwa nona jadi-jadian yang Sooyoung maksud adalah Clara. Sooyoung mengangguk.

“aish, nama itu terlalu bagus untuknya. Tidak sesuai dengan tingkah lakunya”, kesal Sooyoung ketika Yoona menyebutkan nama Clara.

“wah, daebak”, seru Yoona. Tidak menyangka bahwa keluarga Clara merupakan rekan bisnis perusahaan Lee Coorporation.

“pantas saja dia sering datang kekantor ini”, tambah Yoona.

“tapi kurasa dia datang ke sini bukan hanya untuk urusan pekerjaan, sepertinya dia juga sedang merayu namjamu itu Yoong. Kau berhati-hatilah”, ucap Sooyoung sambil menggoda Yoona. Yoona mendesis kesal dengan perkataan sahabatnya itu. Donghae bukan namjanya, Donghae bukan siapa-siapa lagi untuknya. Ya itulah yang ada dalam pikirannya sekarang, entah bagaimana dengan kata hatinya.

“bagaimana jika minggu depan di pesta ulang tahun perusahan, kau menjadi pendamping Donghae”, usul Sooyoung ketika teringat minggu depan tepatnya tanggal 26 Mei adalah ulang tahun perusahaan mereka yang ke 30 tahun.

“APA? KAU GILA?”, teriak Yoona.

“wae? Sepertinya Donghae masih menyukaimu. Ditambahlagi, kau mengenakan jasnya”, jawab Sooyoung santai dengan wajah menggoda. Yoona memandang jas yang dikenakannya. ‘sial’, batin Yoona ketika melihat disaku atas jas itu ada name tag Donghae.

“Dia tidak pernah menyukaiku. Ingat itu”, tegas Yoona dan dibalas hanya anggukan oleh Sooyoung. Yoona tidak berniat untuk membahas tentang jas yang dikenakannya.

“kalau begitu, apa kau mau ku kenalkan dengan salah satu teman namjaku?”, usul Sooyoung lagi, yang menurut Yoona semakin gila dan tidak masuk akal.

“kau benar-benar gila. Aku tidak memerlukan temanmu itu”, cibir Yoona.

“wae? Lalu kau akan datang dengan siapa ke pesta itu? Ohh, jangan berani-beraninya kau mengajak kekasihku”, ancam Sooyoung tiba-tiba terpikirkan olehnya jika saja Yoona berniat untuk mengajak Kyuhyun menjadi pendampingnya. Pemikiran yang bodoh.

“aish, aku juga tidak membutuhkan kekasihmu itu”, balas Yoona. Sooyoung bernapas lega.

“lalu kau datang dengan siapa Yoong?”, Tanya Sooyoung penasaran.

“entahlah, aku belum tahu. Aku akan memikirkannya nanti”, jawab Yoona santai.

“kau harus datang membawa pasangan. Jika tidak, kau hanya akan kesepian dipesta itu, seperti perawan tua”, goda Sooyoung. Yoona mendelik tajam pada sahabatnya itu.

“aku membencimu Choi Sooyoung”, cibir Yoona kesal. Sooyoung tertawa keras mendengar cibiran Yoona.

“Ya, dan aku sangat menyayangimu Im Yoona”, balas Sooyoung masih dengan tawanya.

 

>>>>>>

Lagi-lagi divisi Art & Desain harus lembur untuk membuat proposal baru untuk proyek mereka yang ditolak. Bahkan dihari libur, weekend seperti sekarang mereka harus bekerja. Yoona sedang sibuk dengan berkas-berkasnya ketika tiba-tiba handphonenya berbunyi. Tertera nama Max dilayar handphonenya.

“Yeoboseo~”

ooo, yeoboseo Yoona. Ini aku Max”, jawab namja itu diseberang sana.

“oh ya Max. Ada apa?’

apa kau baik-baik saja?”, Yoona tahu Max sedang membahas kejadian di café beberapa hari yang lalu itu.

“ahh, ya aku baik-baik saja. Aku minta maaf karena langsung pergi begitu saja waktu itu”,

gwenchana. Yang penting kau baik-baik saja. Oh ya apa kau sedang sibuk?”

“ya divisiku sedang menyerjakan proyek besar”

ahh, sepertinya tidak bisa”, guman Max namun masih bisa didengar oleh Yoona.

“apa?”, Tanya Yoona.

ahh, tidak. Sebenarnya aku ingin meminta bantuanmu. Sepupuku memintaku untuk merancang bangunan untuk hotel barunya di Atlanta. Tapi aku sedang banyak pekerjaan dan tidak bisa ku tinggalkan. Tiba-tiba aku teringat padamu dan berniat untuk meminta kau membantuku untuk mendesainnya. Tapi sepertinya kau sangat sibuk”, jelas Max. Yoona mendengarkan penjelasan Max dengan seksama. Mempertimbangkan untuk membantu atau tidak.

“tidak apa-apa Max. aku bisa membantumu. Pekerjaanku tinggal sedikit lagi”, ujar Yoona. Merasa pekerjaannya tidak banyak lagi, akhirnya Yoona memutuskan untuk membantu. Anggaplah ini sebagai balas budi.

kau yakin?

“Ya. Kau kirimkan saja berkas-berkasnya ke kantorku besok. Atau email saja”

ohh, terima kasih Yoona. Kau sangat membantuku”, Max berseru senang. Yoona tersenyum mendengarnya.

oh sepertinya aku harus segera kembali bekerja”,

“ohh, Max?”

“ya, ada apa Yoona”, Tanya Max. Ketika mendengar Yoona memanggil namanya, Max membatalkan niatnya untuk memutus pembicaraan mereka.

“mmm, apa hari kamis, minggu depan , kau ada acara?”, Tanya Yoona hati-hati sambil menggigit ujung bibir bawahnya. Tiba-tiba tadi mata Yoona melihat kelender yang ada dimeja kerjanya. Terdapat tanggal yang Yoona tandai sebagai ulang tahun perusahaan. Yoona pun teringat dengan ancaman Sooyoung yang mengharuskannya membawa pasangan ke pesta itu. Dan entah pemikiran darimana Yoona untuk meminta Max menjadi pendampingnya. ‘Tidak ada salahnya, Max namja yang baik dan enak diajak bicara’, batin Yoona, meyakinkan pilihannya.

kamis depan? Mmm, pagi hari sampai siang aku harus bekerja. Selebihnya tidak ada. Kenapa? Kau ingin mengajakku berkencan?”, goda Max. Yoona tertawa mendengarnya. Yoona tahu namja itu sedang bercanda sekarang. Yoona menyukai bagaimana cara Max berkomunikasi dengannya, sangat easy-going. Max pun ikut tertawa mendengar tawa Yoona.

“Ani, ani. Mmm, minggu depan, kantorku mengadakan pesta ulang tahun perusahaan. Sahabatku mengancamku harus membawa pasangan. Jika tidak, dia akan memaksaku berkenalan dengan teman namjanya. Jadi apa aku bisa meminta bantuanmu untuk menemaniku ke pesta itu”, jelas Yoona. Terdengar kekehan kecil dari Max diseberang sana.

apa kita sekarang bisa dikatakan berteman?”, Tanya Max. Yoona mengerutkan kening mendengar pertanyaan Max yang keluar dari topik pembicaraan mereka.

“mmm, coba ku pikirkan. Kau sudah menyelamatkanku dari rasa malu karena tidak bisa membayar belanjaanku. Lalu kita sudah saling berkenalan dan bertemu untuk minum secangkir coffe. Sekarang kau meminta bantuanku, dan aku menyanggupinya. Aku juga meminta bantuanmu sekarang. Jadi sepertinya dari fakta-fakta itu, kita sudah bisa dikatakan berteman”, jawab Yoona sambil menjabarkan semua pertemuan dan pembicaraannya dengan Max.

Max tertawa keras diseberang sana. Namja itu tidak menyangka Yoona harus menjabarkan semua itu hanya untuk menjawab ‘ya, kita berteman’. Benar-benar yeoja yang menarik. Max menyukainya. Yoona adalah yeoja yang sangat menyenangkan dan selalu membuatnya tersenyum dan nyaman.

baiklah. karena kita sudah berteman, aku akan menjadi pasanganmu dipesta itu”, jawab Max. Yoona tersenyum mendengar jawaban Max. Akhirnya dia bisa selamat dari ancaman Sooyoung.

“gomawo Max. Baiklah, kau kembalilah bekerja”, ujar Yoona.

ne, aku akan mengabarimu jika berkasnya sudah ku kirim

“ne”

“baiklah. Annyeong chingu~”, seru Max dengan menirukan suara anak kecil, kemudian memutus panggilannya. Yoona tertawa mendengar lelucuan Max. kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.

 

Beberapa jam Yoona masih sibuk dengan pekerjaannya hingga Sooyoung datang mengganggu.

“ohh, nona Im yang terhormat masih disini ternyata”, ujar Sooyoung yang berdiri didepan pintu ruangannya yang terbuka. Yoona tidak menjawab, mengabaikan Sooyoung.

“Im ajumma menghubungiku, untuk mengingatkan agar kau tidak lupa untuk datang keacara BBQ party dirumah mertuamu sekarang”, goda Sooyoung.

“aish, wanita tua itu”, kesal Yoona pada ommanya sendiri.

“jangan jadi anak durhaka Yoong. Lagipula anggap saja kau sedang ingin bertemu dengan keluargamu dan juga keluarga Lee, walaupun disana ada namja tampan. Aku yakin kau sudah sangat lama tidak menemui orangtuamu”, nasehat Sooyoung.

“ya aku tahu. Aku akan bersiap-siap”, Yoona menghela napas. Sebenarnya dia tidak ingin datang, tapi karena ommanya sudah sampai menelepon, dia tidak bisa menolak lagi.

“baguslah. Aku juga harus segera pergi untuk menjemput Kyuhyun. Aish, sahabatmu itu benar-benar keterlaluan. Dia sudah seminggu tidak menemuiku karena sibuk dengan pekerjaannya. Lihat saja nanti, aku akan menyewa sebuah kamar dihotel, dan mengurungnya disana, menyerangnya habis-habisan”, ujar Sooyoung mengeram, mengingat kelakuan kekasihnya.

“hahaha, kau sangat gila dan mesum nona Choi”, ucap Yoona ketika mendengar penuturan sahabatnya tentang masalah hotel.

“biarkan saja. dia tidak akan kubiarkan mengabaikan ku begitu saja. Aku harus pergi. Bye~”, ucap Sooyoung dengan semangat, kemudian pergi. Yoona hanya bisa menggeleng dengan kelakukan sahabatnya itu.

Yoona pun merapikan berkas-berkasnya kembali, merapikan seluruh benda-benda yang ada dimeja kerjanya hingga semuanya kembali rapi. Kemudian beranjak keluar menuju parkiran.

 

Setibanya dikediaman keluarga Lee, Yoona berjalan memasuki pintu utama rumah bak istana itu. Beberapa pelayan membungkuk hormat menyambut Yoona. Yoona sudah seperti nona muda mereka dirumah itu. Yoona membalas mereka dengan senyuman, kemudian melanjutkan langkahnya menuju taman belakang rumah, yang ia yakini sebagai tempat acaranya.

Setibanya ditaman belakang Yoona langsung disambut oleh Tuan Lee yang bertepatan ingin masuk kerumah.

“ohh, putriku cantik ku sudah datang”, ujar Tuan Lee langsung merentangkan tangan dengan maksud ingin memeluk Yoona. Yoona pun memeluk Tuan Lee erat. Yoona merindukan pria paruh baya ini. Yoona sangat menyayangi Tuan Lee layaknya seperti ia menyanyagi appanya sendiri. Dan Yoona juga sangat mengagumi Tuan Lee sebagai atasannya, yang mana kinerjanya yang sangat luar biasa menurut Yoona.

“Maaf karena tidak pernah lagi datang mengunjungi kalian”, ujar Yoona masih dalam pelukan Tuan Lee.

“tidak apa-apa. Appa tahu kau sedang banyak pekerjaan”, Tuan Lee melepas pelukannya sambil memberikan senyum lembutnya.

“sapalah mereka. Mereka juga sangat merindukanmu”, tambah Tuan Lee. Yoona mengangguk, lalu melangkah menghampiri Tuan Im yang sedang asyik memanggang daging bersama Donghae.

“Appa~”, ujar Yoona yang langsung memeluk Tuan Im dari belakang.

“ohh, kau mengejutkan appa sayang. Appa sudah tua tidak tahan lagi menghadapi hal-hal yang seperti ini”, jawab Tuan Im yang terkejut. Yoona membalasnya dengan senyum.

“walaupun sudah tua, tapi appa tetap tampan”, goda Yoona.

“tapi tetap saja Appa sudah tua. Makanya segera menikah dan beri appa cucu. Bukan begitu Hae?”, Tuan Im mengedipkan sebelah matanya pada Donghae yang berdiri disampingnya. Donghae tersenyum membalas godaan Tuan Im. Yoona mendengus kesal melihat interaksi kedua namja itu.

“aish, sudahlah. Aku ingin menyapa omma-ommaku yang cantik”, ujar Yoona berlalu tanpa memandang Donghae sama sekali. Sejak kejadian di lift itu, mereka tidak pernah bertemu lagi karena sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

“OMMA”, teriak Yoona mengganggu kedua wanita paruh baya yang sedang merapikan meja, menyusun peralatan makan diatas meja.

“ohh, sayang kau sudah datang”, seru Ny Lee senang dan langsung memeluk Yoona erat, Yoona pun membalas pelukan itu.

“aigo, omma sangat merindukanmu”, ucap Ny Lee.

“Ne, aku juga merindukan omma”, balas Yoona. Mereka berpelukan erat, melupakan ada seorang wanita paruh baya yang lain sedang menatap mereka tajam – tidak, lebih tepatnya menatap Yoona tajam.

“dan kau  tidak merindukan ommamu yang lain?”, sindir Ny Im. Yoona berlahan melepas pelukannya, mengarahkan pandangannya pada Ny Im. Kemudian menghampiri wanita tua itu, memeluknya erat.

“aigo, aku juga merindukan omma. Jangan cemburu seperti itu”, ucap Yoona ketika sudah berhasil memeluk ommanya. Ny Im membalas pelukan putrinya itu, sesekali memukul lembut punggung Yoona karena kesal dengan tingkah putrinya yang tidak pernah mengunjungi mereka akhir-akhir ini.

“dasar anak nakal”, balas Ny Im. Ny Lee yang melihat pemandangan ibu dan anak itu tersenyum senang. Ny Lee beralih melihat Donghae. Namja itu sedang memperhatikan Yoona dan Ny Im sedari tadi. Tiba-tiba mata Donghae bertemu dengan mata ommanya – Ny Lee – Donghae tersenyum, entah apa arti senyum itu, tapi Ny Lee membalasnya juga dengan senyuman. Ny Lee tahu bagaimana perasaan putranya itu sekarang yang ingin menghampiri Yoona, namun harus menahan diri. Donghae sudah menceritakan bagaimana hubungannya dengan Yoona kepada ommanya. Ny Lee tidak banyak berkomentar, wanita paruh baya itu hanya bisa berharap semuanya dapat diselesaikan oleh Donghae dan Yoona saja. Mereka sebagai orangtua tidak perlu ikut campur lagi. Anak-anak mereka sudah dewasa, sudah tahu apa yang sebaiknya mereka lakukan.

 

Semuanya sibuk mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing. Tuan Lee dan Yoona membersihkan sayuran di dapur, Tuan Im dan Donghae masih memanggang daging, sedangkan Ny Im dan Ny Lee sedang membuat salad buah dibantu oleh beberapa pelayan.

“Annyeonghaseo~”, tiba-tiba terdengar suara seorang yeoja, membuat pekerjaan mereka yang ada ditaman terhenti dan menjadikan yeoja itu sebagai pusat perhatian mereka. Mereka mengerutkan kening, tidak mengenal yeoja itu, terkecuali Donghae.

“ohh, kau sudah datang. Kemarilah”, Donghae menghampiri Clara.

“perkenalkan, ini Clara putri Tuan Jang” Donghae memperkenalkan Clara kepada keluarganya. Ny Lee mengerutkan kening. Dia pernah bertemu dengan Tuan Jang – seperti yang Donghae katakan tadi – tapi tidak pernah bertemu dengan putrinya. Entah perasaan dari mana, tiba-tiba Ny Lee merasa tidak suka dengan Clara, ditambah yeoja itu yang bergelayut manja di lengan putranya. Setelah memperkenalkan Clara, Donghae mengajak Clara duduk disalah satu bangku yang ada ditaman, sedikit menjauh.

“Hana-ya, kau mengenal gadis itu?”, Tanya Ny Im pada Ny Lee.

“ani, aku tidak mengenalnya. Tapi bagaimana bisa dia bertingkah seperti itu didepan orangtua, bergelayut manja dilengan Donghae. Aish aku tidak menyukainya”, jawab Ny Lee kesal.

“Siapa yang tidak omma suka?”, tiba-tiba sudah ada disamping Ny Lee dengan membawa keranjang berisi sayuran yang sudah di bersihkan.

“itu. Kau mengenal gadis itu? Omma tidak menyukainya”, Ny Lee mengarahkan dagunya kearah Donghae dan Clara yang sedang mengobrol dibangku taman. Yoona mengalihkan pandangannya kearah yang Ny Lee maksud. Sret~

Tiba-tiba keranjang yang Yoona bawa hampir terjatuh, untung saja Ny Im segera menggapainya. “Clara?”, gumam Yoona. Ada perasaan sakit yang tiba-tiba muncul ketika Clara bisa hadir diantara mereka. Yoona yakin Donghaelah yang mengundang yeoja rubah itu. Namja itu benar-benar keterlaluan. ‘kau berani mengundangku kesini dan kau juga mengundang yeoja rubah itu? Aku membencimu Lee Donghae’, batin Yoona, tiba-tiba perasaan marah menghinggapi Yoona. Yoona memperbaiki raut mukanya, dia tidak akan kalah dari yeoja rubah itu.

 

Mereka sudah berkumpul, duduk mengelilingi meja, yang diatasnya sudah tersusun rapi hasil dari pekerjaan mereka semua. Tuan Lee duduk diantara Donghae dan Tuan Im. Yoona duduk diantara Ny Im dan  Ny lee. Sedangkan Clara duduk disamping Donghae.

“Terimakasih karena kalian sudah membuat acara ini. Terima kasih juga buat Im Appa dan Im Omma juga kau Yoona, karena sudah datang. Juga untuk Clara, terima kasih. Baiklah, silahkan menikmati makananya. Selamat makan”, Donghae memberi sedikit ucapan terimakasih sebelum mereka menyantap makanan mereka.

“ya selamat makan”, ujar mereka semua, kecuali Yoona. Yoona merasa tidak nyaman sekarang. Tiba-tiba Yoona merasakan sebuah tangan hangat mengelus lengannya. Yoona memandang Ny Im dengan kening berkerut.

“gwenchana?”, bisik Ny Im. Wanita paruh baya itu sadar, sejak Yoona melihat kehadiran Clara diantara mereka, sifat pendiam dan kaku Yoona langsung terlihat. Orang lain bisa mengatakan Yoona baik-baik saja sekarang. Tapi tidak dengan Ny Im – wanita yang sudah mengandung dan melahirkan putrinya itu.

“mmm, aku baik-baik saja omma”, jawab Yoona lembut ditambah dengan senyum. Tapi tetap saja Ny Im tahu senyum apa yang Yoona perlihatkan itu. Ny Im tidak suka dan selalu merasa sedih jika Yoona sudah menjadi seperti sekarang. Tapi wanita itu tidak bisa berbuat apa-apa.

“makanlah yang banyak. Agar kau semakin giat bekerja dan memberi omma banyak uang”, ujar Ny Im dengan suara yang lebih keras ditambah dengan sedikit lelucuan.

“hahaha, baiklah. Aku akan memberi omma banyak uang”, jawab Yoona dengan tawanya. ‘gomawo omma’, batin Yoona, berterimakasih kepada ommanya karena sudah mau mengerti keadaannya dan berusaha untuk membuat suasana hatinya membaik. Ny Im membuatkan nasi dipiring untuk Yoona, lalu buat beberapa potong daging, sayuran.

“ooo, ommamu benar. Kau harus banyak makan. Kau sangat kurus sayang~”, Ny Lee menambahi perkatan Ny Im. Yoona tersenyum, berterimakasih karena selalu memberikan perhatian lebih untuknya.

Merasa dirinya diperhatikan, Yoona memandang Clara yang benar saja sedang menatapnya tajam. Yoona tersenyum tipis, menyindir Clara secara tidak langsung. ‘kau bisa mendapatkan Donghae, tapi tidak dengan keluargaku’, batin Yoona terseyum, senang karena dirinya menang kali ini.

 

Beberapa jam mereka asyik berbincang-bincang, hingga kini sudah membentuk kelompok-kelompok. Yoona bersama Ny Im dan Ny Lee duduk disofa ruang TV sambil mengupas buah-buahan. Donghae bersama Tuan Im sedang bermain catur sedangkan Tuan Lee membaca koran. Dan pemandangan yang paling menggelikan adalah Clara yang sebagai menonton dalam pertandingan catur Donghae dan Tuan Im. Padahal Clara sama sekali tidak mengerti mengenai catur sedikitpun. Tapi demi menarik perhatian keluarga Donghae, Clara harus pura-pura tertarik dengan permainan catur itu. ‘sial. Seharusnya aku tidak perlu datang kesini’, batin Clara, menyesali niatnya yang datang kerumah Donghae. Sebenarnya Donghae tidak mengundangnya, hanya saja ketika Donghae menceritakan tentang BBQ party ini, Clara langsung berinisiatif sendiri untuk mengatakan akan datang keacara itu dan Donghaepun tidak menolaknya. Tapi sekarang dirinya benar-benar menyesal. Tidak ada yang peduli dengannnya. Yoona benar-benar menjadi pusat perhatian seluruh anggota keluarga. Clara tidak menyukainya. Hanya Donghae yang peduli padanya, tapi melihat sekarang yang sedang asyik bermain catur, membuat Clara kesepian.

Yoona memandang kearah Clara tiba-tiba, lalu tersenyum sinis. ‘babo~’, ujar Yoona dalam hati. Mengatai Clara bodoh karena harus memaksakan diri untuk berpura-pura mengeti tentang catur.

Tring~

Yoona menggapai handphonenya diatas meja. Ada sebuah pesan dari Max.

Chingu~ aku sudah mengirimkan berkasnya. Gomawo-yo chingu~

Yoona tersenyum membaca pesan dari Max. Lalu membalas pesan itu. Setelah membalas pesan dari Max, Yoona beranjak mengambil tasnya, memasukkan handphone kedalamnya. Ny Im yang memperhatikan gerak gerik putrinya itu.

“kau akan pulang?”, tanya Ny Im cukup keras, membuat semua orag yang awalnya asyik dengan kegiatan masing-masing, langsung berhenti dan memusatkan perhatian pada Yoona.

“ne, aku ada pekerjaan yang harus omma. Aku minta maaf karena tidak bisa berlama-lama. Maafkan aku. Aku janji akan mengunjungi kalian lagi”, jawab Yoona, langsung memeluk ommanya. Lalu melakukan hal yang sama pada Ny Lee.

“hati-hati dijalan Yoong”, ucap Ny Lee. Yoona mengangguk. Yoona pun berjalan menghampiri Tuan Im, memeluknya serta memberi ciuman dipipi pria paruh baya itu.

“sesekali luangkanlah waktumu untuk menghubungi appa. Lima menit tidak akan membuat pekerjaanmu tidak selesai”, ujar Tuan Im. Yoona terkekeh dan memberi senyum.

“sajangnim, aku pulang dulu”, ujar Yoona pada Tuan Lee. Tuan Lee terkekeh mendengar panggilan formal Yoona padanya. Yoona memeluk Tuan Lee.

“ohh, baiklah nona Im”, jawab Tuan Lee juga dengan formal. Yoona melepas pelukan itu.

“appa harus secepatnya pulih dan kembali kekantor. Aku merindukan makan siang bersama appa”, ucap Yoona dibalas anggukan dari Tuan Lee. Yoona menggapai tangan Tuan Im, mengelus tangan yang sudah mulai keriput itu.

“appa juga jangan selalu memaksakan diri untuk selalu datang setiap hari ke Rumah Sakit. Sekarang sudah banyak dokter dirumah sakit appa. Appa harus sesekali mengambil cuti dan mengajak omma liburan”, nasehat Yoona. Tuan Im tersenyum, membalas mengelus lengan Yoona. Kemudian Yoona memandang Donghae yang memperhatikannya sedari tadi.

“aku pulang”, ujar Yoona singkat. Kemudian melangkah tanpa memberi Donghae kesempatan untuk bicara.

“aku akan mengantarmu”, jawab Donghae tidak kalah cepat.

“tidak perlu. Aku membawa mobil”, tolak Yoona, berbicara tanpa membalikkan badan memandang Donghae, tetap berjalan keluar dari rumah. Donghae berniat untuk mengejar Yoona, namun tangannya ditahan. Donghae memandang Tuan Im, pria itu menggeleng. Pertanda agar Donghae tidak mengejar Yoona. Tuan Im tahu Yoona tidak ingin diganggu dari nada bicara putrinya itu. Donghae menghela napas berat. Tidak ada yang mendukungnya untuk bisa memperbaiki hubungnannya dengan Yoona. Tapi Donghae yakin semua keluarganya tidak ingin Yoona bersedih kembali karena dirinya.

 

>>>>>

Pesta perayaan ulang tahun perusahaan pun tiba, banyak karyawan Lee Coorporation yang datang dengan penampilan semaksimal mungkin. Tak terkecuali Donghae sebagai pemimpin dari perusahaan itu. Donghae berbincang-bincang dengan beberapa rekan kerjanya yang juga datang sebagai undangan, dengan Clara sebagai pendampingnya. Ketika semua asyik dengan kelompok-kelompok mereka, tiba-tiba terjadi kehebohan disekitar pintu masuk. Semua mata yang ada disana menjadikan sepasang manusia yang berjalan dengan santai namun tetap elegan – menjadi pusat perhatian mereka. Yoona berjalan menggandeng tangan Max, berjalan dengan anggun dengan sedikit senyuman tipis.

Sesuai dengan janjinya, Max datang bersama Yoona keacara pesta perayaan ulang tahun Lee Coorporation. Dimata semua orang yang ada disana, Yoona dan Max adalah pasangan yang sangat serasi. Yoona dengan gaun biru tanpa lengan dan panjang menutupi mata kaki. Gaun tersebut membentuk tubuh Yoona yang ramping. Mata namja yang ada disana memandang Yoona dengan cara yang sulit diartikan. Terkhusus karena gaun yang Yoona gunakan tidak menutup punggung Yoona secara keseluruhan. Max juga tampil sangat memukau dengan tuxedo biru gelapnya. Benar-benar pasangan yang sempurna.

“sepertinya kita menjadi pusat perhatian sekarang”, bisik Max sambil berjalan berdampingan dengan Yoona menuju meja disudut ruangan.

“ya sepertinya begitu. Aneh sekali. Biasanya aku tidak suka menjadi pusat perhatian. Tapi malam ini aku cukup senang menjadi pusat perhatian”, jawab Yoona santai. Lalu duduk  disebuah sofa disamping meja yang penuh dengan makanan.

“Jinjja? Wah, sepertinya itu karena aku yang menjadi pasanganmu malam ini. Ya, aku akui aku memang sangat tampan”, Max memuji dirinya sendiri.

“ckk, kau sangat percaya diri Tuan Max”, sindir Yoona. Max tertawa mendengar sindiran Yoona tersebut. Kemudian mereka asyik dengan perbincangan mereka.

“Yoong, kau disini? Aku mencarimu dari tadi”, omel Sooyoung. Yoona menghela napas berat mendengar omelan sahabatnya itu.

“dia siapa Yoong?”, Tanya Kyuhyun yang berdiri disamping Sooyoung sambil menatap Max tajam.

“ohh, ya kenalkan ini Max Wilson, teman baruku”, Yoona memperkenalkan Max pada Kyuhyun dan Sooyoung dengan sedikit menahan tawa ketika menyebut ‘teman baruku’. Kyuhyun dan Sooyoung membalas bungkukan hormat Max. Kemudian mereka sama-sama memandang Yoona dengan kening berkerut. Benar-benar pasangan yang kompak.  Seolah-olah mengerti dengan tatapan Kyuhyun dan Sooyoung, Yoona menghela napas lagi.

“nanti akan aku ceritakan”, Yoona memillih untuk menjelaskannya nanti saja.

Acara pun dimulai. Tuan Lee memberikan kata sambutan, kemudian dilanjutkan kata sambutan dari Donghae. Didepan sana tampak Donghae berdiri dengan gagah dan tampan tentunya. Terlihat sangat berkharisma. Sambil berbicara, Donghae memandang lurus kedepan, kearah para tamu dan beberapa karyawan yang ada didepannya. Namun hanya satu yang menjadi titik fokus Donghae. Seorang yeoja yang asyik berbincang-bincang dengan seorang namja, saling membalas senyum dan tertawa bersama. Donghae menggeram sejenak, ketika berhenti menyampaikan sambutannya. Rasanya Donghae ingin segera menghampiri pasangan itu, lalu memisahkan mereka untuk selama-lamanya. Namun sayangnya dia tidak bisa melakukan itu. Ini acara penting, Donghae tidak boleh melakukan sesuatu yang tidak sopan seperti itu. Setelah dapat mengendalikan diri kembali, Donghae melanjutkan kata sambutannya.

Setelah sambutan para pemimpin perusahaan, acara dilanjut dengan beberapa hiburan dari karyawan yang menunjukkan bakat terpendamnya. Yoona dan Sooyoung berdiri bersandar disudut ruangan sambil menggenggam gelas minuman mereka.

“aku tidak menyangka kau berbakat juga mencari pasangan untuk menemamimu ke pesta”, ujar Sooyoung tiba-tiba. Yoona memandang Sooyoung dengan malas.

“dia hanya membantuku. Balas budi lebih tepatnya. Aku membantu pekerjaannya dan dia membantuku menghadapi keusilanmu untuk menjodohkanku dengan teman priamu”, jelas Yoona. Sooyoung mengangguk, cukup puas dengan pembelaan Yoona.

“baguslah. Aku jadi tidak perlu repot-repot membawa pasangan untukmu. Tapi pilihanmu untuk meminta bantuan Max sangatlah tepat. Aku senang, Presdir baru kita itu benar-benar kalah kali ini”, ucap Sooyoung senang.

“apa yang kau maksud?”, Tanya Yoona tidak mengerti dengan topik ‘presdir baru’ itu.

“ohh kau tidak melihat bagaimana seorang Lee Donghae sangat marah dan menatap tajam dirimu dan juga Max. Aku yakin jika ini bukan acara penting, Donghae akan langsung menghajar Max saat itu juga”, jelas Sooyoung dengan tawa, senang.

“benarkah? Tapi aku tidak peduli. Lagi pula dia tidak ada hak untuk marah karena aku bersama dengan namja lain. Dia juga bersama yeoja lain”, ucap Yoona dengan nada yang sedikit naik, ketika mengingat bagaimana manjanya Clara disamping Donghae selama acara berlangsung.

“ooo, sepertinya ada yang cemburu”, goda Sooyoung.

“siapa? Aku? Itu tidak mungkin”, kesal Yoona. Sooyoung menyunggingkan senyum mengejek kepada Yoona, membuat Yoona semakin kesal.

“ya terserah kau saja. Kalian pasangan yang sangat aneh”, ucap Sooyoung santai. Kemudian kembali meneguk minumannya.

“tapi kenapa mereka tiba-tiba menjadi akrab seperti itu. Jelas-jelas Kyuhyun tadi menatap tajam seperti ingin menguliti Max”, Tanya Sooyoung memandang heran kekasihnya dengan Max yang terlihat asyik dengan perbincangan mereka. Yoona pun ikut memandang kedua namja itu yang duduk disofa, berbicara sambil sesekali tertawa.

“entahlah. Ku rasa itu karena Max memang orang yang baik”, ujar Yoona. Tiba-tiba suasana menjadi hening dan terdengar alunan musik instrument diruangan itu. Beberapa pasangan langsung maju ketengah ruangan, berdansa dengan mesra.

“Ohh ternyata kalian disini. Mau berdansa?”, tawar Kyuhyun yang tiba-tiba sudah ada didepan mereka. Sooyoung segera meraih uluran tangan Kyuhyun, menarik namja itu dengan semangat bergabung dengan pasangan yang sudah berdansa sedari tadi. Meninggalkan Yoona seorang diri disudut ruangan.

“kau tidak ingin berdansa?”, Tanya Max yang sudah berdiri disampingnya. Yoona menggeleng sebagai jawaban tidak untuk pertanyaan yang Max lontarkan.

“kau tidak bisa berdansa?”, Tanya Max lagi. Yoona menganggung sebagai jawaban. Tiba-tiba tangan Yoona tertarik kedepan, membawa tubuhnya menuju tengah ruangan, bergabung dengan Kyuhyun dan Sooyoung.

Max meraih pinggang Yoona untuk mendekat. Yoona membulatkan mata kaget.

“Yak, aku sudah bilang, aku tidak bisa berdansa”, ujar Yoona kesal dengan paksaan Max.

“aku akan mengajarimu. Ikuti saja langkahku dan nikmati musiknya”, jawab Max tidak ingin menyerah.

“kau benar-benar namja yang sangat keras kepala dan pemaksa”, sinis Yoona.

“ohh terima kasih atas pujiannya nona manis”, jawab Max santai. Yoona mencoba mengikuti gerakan Max dan mengikuti alunan musik. Ternyata tidak begitu sulit, Yoona bisa melakukannya.

“ohh ya, aku sudah membuat bagian awal sketsa bangunannya. Kau harus melihatnya. Jika kau setuju, aku bisa melanjutkannya kembali”, ucap Yoona ditengah pergerakan mereka.

“aish, kau sangat tidak menyenangkan nona Im. Bagaimana bisa kau membicarakan masalah pekerjaan disaat kita sedang dalam suasana romantis seperti ini”, ketus Max, tidak suka dengan topik pekerjaan yang Yoona bahas.

“apanya yang romantis? Ini hanya berdansa, tidak ada romantisnya sama sekali”, ujar Yoona.

“by the way, apa kau punya kekasih?”, Tanya Yoona. Max tiba-tiba terdiam. Tidak tahu ingin menjawab apa untuk pertanyaan Yoona itu. Max terdiam beberapa saat.

“khhmm”, ketika Max ingin menjawab pertanyaan Yoona, tiba-tiba terdengar suara deheman dari samping mereka. Max dan Yoona otomatis menghentikan gerakan dansa mereka. Kyuhyun berdiri sambil mengamati mereka.

“wae?”, Tanya Yoona.

“mmm, Max-ssi kau sangat hebat sampai bisa memaksa seorang Im Yoona untuk berdansa. Padahal aku sudah mengenalnya sangat lama dan tidak pernah bisa mengajaknya berdansa. Aku cukup kesal akan kenyataan itu. Jadi bisakah aku meminjamnya sebentar untuk berdansa?”, ujar Kyuhyun sambil memandang Max. Max tertawa mendengar keluhan Kyuhyun. Kemudian mengangguk, menyerahkan tangan Yoona dan langsung disambut oleh Kyuhyun.

“terima kasih”, ucap Kyuhyun. Dibalas anggukan dari Max, kemudian namja itu kembali duduk disofa.

Kyuhyun dan Yoona berdansa dengan cukup baik.

“apa kau merasa nyaman dengannya?”, Tanya Kyuhyun.

“ya, aku merasa dia namja yang hangat dan baik hati. Kurasa kau pun bisa merasakannya langsung”, jawab Yoona.

“ya kurasa juga begitu. Kau menyukainya?”, Tanya Kyuhyun lagi. Kali ini pertanyaan yang lebih mendalam lagi tentang hubungan Yoona dan Max. Kyuhyun harus memastikan sahabatnya itu berada disekitar orang yang baik dan dapat menjaga Yoona.

“ya~ sebagai teman”, jawab Yoona walaupun mulai tidak menyukai topik pembicaraan mereka.

“teman? Jadi namja itu masih menjadi yang nomor satu?”, mengerti dengan siapa namja yang Kyuhyun maksud. Yoona menghentikan langkah kakinya, membuat Kyuhyun pun berhenti.

“Kyu, aku tahu kau sangat mengkhawatirkan ku. Tapi aku baik-baik saja sekarang. Dan aku tidak suka membahas tentang ini sekarang”, jawab Yoona sambil menatap tepat dimata Kyuhyun. Menyampaikan kepada sahabatnya itu, bahwa dirinya baik-baik saja. Kyuhyun menyerah, menghembuskan napas berat. Mencoba menahan diri untuk tidak membahasnya lagi.

“khmm, Nona Im yang terhormat. Bisakah kau kembalikan kekasihku?”, ujar seseorang yang tiba-tiba saja sudah berdiri di samping mereka. Kyuhyun dan Yoona melonjak keget dengan kehadiran Sooyoung.

“dan kau. Aku hanya pergi beberapa menit ke toilet dan kau sudah langsung beralih ke yeoja lain?’, ujar Sooyoung dengan nada kesal sambil menunjuk-nunjuk Kyuhyun dengan jari telunjuknya. Kyuhyun dan Yoona mendesah bersamaan. Lelah menanggapi perkataan yeoja yang berdiri disamping mereka.

“kau mulai lagi. Sangat berlebihan. Ini, ku kembalikan kekasihmu”, ujar Yoona malas kemudian menyerahkan tangan Kyuhyun pada sahabatnya itu. Pergi menjauhi pasangan itu. Yoona berjalan menuju meja, mengambil segelas minuman, lalu berjalan menuju balkon yang tampak tertutup gorden. Yoona menarik gorden tersebut dan terkejut ketika melihat punggunng seorang namja yang sedang memandang lurus kedepan, membelakanginya. Yoona tahu siapa namja tersebut. Ketika berniat untuk membatalkan niatnya menikmati udara malam di balkon, tiba punggung itu berbalik dan terlihatlah wajah namja itu yang terlihat datar.

“oh kau juga ingin menikmati udara malam ternyata”, ucap namja itu masih dengan wajah datarnya. Entah dorongan dari mana, Yoona berjalan mendekati besi pembatas balkon. Meletakkan gelasnya di meja kecil yang ada disana. Kemudian menghirup udara sangat banyak. Mengabaikan Donghae yang masih menatapnya.

“apakah dia namja yang sama dengan yang kau temui di café waktu itu?”, Tanya Donghae dan dibalas anggukan dari Yoona. Donghae menghela napas berat, sampai-sampai Yoona dapat mendengarnya. Yoona berbalik menghadap Donghae, memandang namja itu dengan kening berkerut. Donghae maju secara berlahan mendekati Yoona. Yoona pun mundur secara berlahan. Ketika punggung Yoona sudah terbentur dengan pembatas balkon, Yoona terdiam, memperhatikan pergerakan Donghae. Donghae memandangnya dengan wajah datar namun matanya terlihat bergetar dan terlihat ketakutan. Yoona membalas tatapan itu dengan kening berkerut. Dengan berlahan Donghae mengarahkan jari-jari tangannya menyentuh pipi Yoona. Tangannya bergetar, ketika setelah tujuh tahun lamanya tidak bisa bertemu, akhirnya kini dapat menyentuh wajah itu lagi. Perasaan senang yang sangat luar biasa melingkupi namja itu, sampai-sampai setitik air mata jatuh membasahi pipinya. Yoona kaget melihat air mata Donghae.

“ka-kau kenapa? Kau sakit?”, tiba-tiba Yoona merasa khawatir. Donghae tersenyum melihat Yoona yang mengkhawatirkannya. Air matanya semakin banyak jatuh. Entah dorongan dari mana lagi, Yoona mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Donghae, menghapus air mata namja itu dengan berlahan. Donghae semakin tidak bisa mengendalikan perasaannya yang sudah sangat lama dipendamnya. Donghae menatap Yoona tepat dimanik mata yeoja itu. Donghae mendekatkan wajahnya secara berlahan. Tidak ada pergerakan dari Yoona hingga bibir Donghae menyentuh bibirnya, barulah Yoona tersadar. Yoona membulatkan mata, kaget, lalu segera mendorong Donghae. Namun sayangnya Donghae dengan meraih tengguknya, menahan Yoona dengan ciumannya. Yoona terus memberontak, namun apa daya, tenaganya tidak sebanding dengan tenaga Donghae. Yoona menyerah, tidak ada pemberontakan lagi. Merasa Yoona sudah tenang, Donghae mulai melumat bibir Yoona dengan lembut. Yoona dapat merasakan bibir Donghae yang hangat berhati-hati melumat bibirnya. Perasaan hangat langsung mengalir disekujur tubuhnya, membuat Yoona meneteskan air mata. Yoona sangat merindukan kehangatan Donghae. Secara berlahan tangan Yoona bergerak mengalung dileher Donghae dan mulai membalas ciuman Donghae. Donghae yang merasakan Yoona membalas ciumannya, tersenyum disela-sela ciuman mereka. Donghae memeluk Yoona erat, tidak ingin melepaskan yeoja itu lagi. Biarlah untuk kali ini saja Yoona ingin melakukan apa yang dikatakan oleh lubuk hatinya yang terdalam, bukan keegoisannya. Untuk kali ini saja, pasangan itu bisa menyampaikan rasa rindu masing-masing.

 

TBC

 

>>>>>

Wah panjang. Tapi ini sebagai ucapan maaf dari aku, karena udah sempat berniat untuk berhenti lanjutin ceritanya. Dan juga permintaan maaf karena lama mengirimnya. Oh ya ada yang komentar, apa yang Donghae lakuin selama 7 tahun terpisah dan kenapa sesampainya di NY gak langsung hubungin Yoona. Sebenarnya ini rahasia, yang akan reader-nim ketahui di chapter 6 nantinya. Ada alasan tersendiri kenapa Donghae gak menghubungi Yoona. Yang penasaran, sabar ya. Kita nikmati bersama jalannya cerita…

Ok gak perlu banyak ngomong lagi. Terima kasih udah mau baca dan jangan lupa komentarnya biar aku tetap semangat..

See you next time

Bow~ Lego~ ❤ ❤ ❤ ❤

Advertisements

11 thoughts on “I Hate U (Chapter-4)

  1. Adegan yang terakhir sangat MENGHARUKAN !! Jadi Clara itu pacarnya Max terus yang waktu itu Max ya? Yang waktu Clara nelfon Donghae itu Max ya ?? Penasaran

    Next chapter jusaeyo ^_^
    Jangan kelamaan buruan updatenya

  2. Sfapyrotechnics

    Maaf nggk komen di post-an yg di SOY,, Sbenarnya komen tpi nggk kekirim kyknya atau nggk masukk. Jdi komen disini aja yah??? 😀 OH TERNYATA,, clara ma max pacaran?? tpi kok clara dketin hae?? apa buat bisnis doang?? Akhirnya mereka sling curhat2an jga 😀 Smoga kdpannya hbungan mereka membaik lagi 🙂

    Ohiyaa buat authornya, lanjutin terus yahh ceritanya,, oke kok critanya,, feelnya jga dpat 🙂 Ditunggu yahh.. fighting 🙂

  3. Novi Anita W

    aahh suka nih publishnya cepet :). suka sama pendiriannya yoona deh disini,ternya clara itu gapacaran toh sama Donghae :D,kira-kira si max bakalan suka sama yoona gaaa yaaa terus dia itu orangnya baik ga yaa. oke thour aku bakal tungguin sampe chapter terakhir 🙂

  4. Donghae sampai kapan terus nempel dengan clara. Mau mendapatkan yoona tapi menempel wanita lain kemana-mana tanpa memikirkan perasaan yoona. Gomawo chingu karena udah publish lanjutan ff I Hate You. Ditunggu ff keren lainnya.

  5. Adegan terakhir bikin senyum” sendiri…
    Yoonhae udah mulai deket…
    Aq gedek sama clara udah punya max msh gelayutan ke donghae…
    Ff nya panjang thor,part selanjut nya panjang kya gini lgi ya hehehe

  6. pine

    Waaaa part 4, nyoba buka blog yg ada di part 3 SOY dan ternyata udah update (yeay)
    Suka bnget ceritanya sungguh
    Masih sebel gitu sama clara, donghae juga masih baik sama clara :”
    Pengen deh max berpaling ke yoona #eh

  7. Winajeno22

    Mwoyaaa igee!! Clara pcrnya max, clara emang bnr2 prempuan rubah, smoga aja donghae sma yoona cpt2 berstu ,next juseyooo 🙂 🙂 🙂

  8. Mwoyaaa ?!!! clara si rubah itu lenyap aja deh huaaa Adegan terakhir lagi enak” baca mlh TBC 😥 cepet buat YH bersatu dan buat si rubah itu musnah deh ditggu next chap jngn lama” jebal

  9. rahmania

    yoona jgn ama donghae dulu donk,donghae msh terkesan plin plan gitu.sdh tau dia digosipkan dg clara tp msh mau saja ditempel ama clara.aq berharap yoona menjauhi donghae lg setelh kejadian ciuman itu,anggap saja yoona melakukan kesalahan kekk…kekk…

  10. Daebak akhirnya part 4 di publish juga, dah jamuran nunggunya hehe sebenernya sih penasaran jg dgn sikap donghae yg terkesan plin plan thdp yoona dan sebel liat Clara nempel terus sama hae jd pengen narik trus buang jauh2 haha mianhe emosi hihi pokoknya ditunggu terus kelanjutannya thor klo bs jgn lama2 ya gk sabar liat reaksi yoona berikutnya gomawo authornim sdh meluangkan waktu tuk ngelanjutin ff ini and fighting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s