You Are So Perfect (Sequel) – Only You

YASP

 

Title                 : You Are So Perfect (Sequel) – Only You

Author             : Fi_ss

Cast                 : Lee Donghae and Im Yoon Ah

Genre              : Full Romance, Comedy, Friendship

 

Hellowww….. Fi_ss comeback. Sesuai dengan note aku di FF I Hate You, untuk FF You Are So Perfect aku buat sequelnya. Aku minta maaf karena lama ngirim FFnya. Tapi aku benar-benar kesulitan untuk membagi waktu dengan kuliah dan lanjutin FF. Jadi selagi ada waktu kosong walau hanya sejam, disempat-sempatin aja untuk ngetik beberapa baris. Genre FF ini aku buat Full Romance, tapi aku gak tahu kali ini tersampaikan atau gak romancenya. Berharap sih iya. Oh ya aku mau ucapin makasih buat reader-nim yang udah kasih komentar di semua FF aku. Reader-nim, kalian luar biasa. Untuk FF I hate u, nyusul ya. Ok, gak perlu banyak ngomong lagi. Kajja~ Leggo~

Happy reading & jangan lupa Commentnya

>>>>>

3 Tahun Kemudian

Banyak waktu yang sudah terlewatkan. Semua terjadi secara bertahap dimana diwaktu itu adalah waktu yang luar biasa. Dimulai dari hal yang manis sampai pada yang buruk pun terjadi. Walau waktu sudah berlalu, semuanya itu tetaplah menjadi kenangan yang tidak ingin dilupakan. Waktu yang lalu adalah waktu dimana ada aku dan kau. Waktu sekarang adalah waktu dimana ada aku, kau dan kenangan kita. Dan waktu yang akan datang adalah waktu dimana ada aku, kau dan masa depan juga mimpi kita bersama.

Sang namja menggenggam tangan yeoja yang sedang bergelayut manja dibahunya. Sekarang adalah weekend dimana waktu mereka untuk menghabiskan waktu bersama seharian penuh.

“sayang, besok kau ada acara?”, Tanya Donghae sambil mengelus-elus lengan tangan Yoona yang digenggamnya.

“Ne. Aku harus bertemu dengan Kim Songsengnim untuk membahas skripsi ku. Wae oppa?”, jelas Yoona. Donghae menggelengkan kepala.

“Ani, tidak apa-apa. Hanya saja, aku pasti akan merindukanmu”, ujar Donghae dengan nada lembut.

“ckkk, kau sangat ahli menggombal oppa”, desis Yoona.

“Ani. Aku benar-benar merindukanmu Yoong”, Donghae mencoba membela diri. Sebenarnya Yoona juga merasakan hal yang sama dengan namja yang sangat dicintainya itu. Tapi Yoona enggan untuk mengakuinya.

“kita bertemu hampir setiap hari oppa. Bahkan hari ini kita juga bertemu. Bagaimana bisa dalam hitungan jam kedepan oppa sudah merindukanku? Tidak masuk diakal. Lagi pula bila oppa sudah di Rumah Sakit, suster-suster genit itu pasti akan menemani oppa, hingga oppa lebih suka berlama-lama diantara mereka dan melupakanku”, ujar Yoona dengan kesal. Bagaimana tidak, Donghae yang menjadi dokter muda di Rumah Sakit Kyunghae sejak dua tahun belakangan ini sungguh membuat Yoona sangat resah. Pasalnya ketampanan dan pesona seorang Lee Donghae selalu mampu menarik perhatian suster-suster dan juga pasien yang ada dirumah sakit itu. Bahkan mereka secara terang-terangan didepan Yoona mendekati Donghae. Pasien paruh baya bahkan selalu menjodoh-jodohkan Donghae dengan anak atau cucu perempuan mereka dan memaksa Donghae untuk berkencan. Tidakkah itu keterlaluan. Lee Donghae hanya milik Im Yoona. Lee Donghae adalah tunangan Im Yoona. Itu sudah tidak bisa diganggu gugat. Sejak insiden  mereka yang tertangkap basah berciuman oleh Ny Im – omma Yoona – dan mendeklarasikan mereka untuk menikah, hal itu benar-benar terjadi setelah setahun berlalu, ya walaupun masih bertunangan. Ny Im beralasan memaksa mereka bertunangan untuk berjaga-jaga jika pasangan yang sedang dimabuk asmara itu sewaktu-waktu tidak bisa mengendalikan gejolak cinta mereka. Tentu saja Donghae dengan cepat setuju, menjadikan Yoona pendamping hidupnya adalah salah satu tujuan hidupnya. Sedangkan Yoona awalnya tidak setuju. Dia masih ingin fokus dengan perkuliahannya. Karena alasan itu Donghae mendiamkannya hingga berhari-hari.

 

<<<<<Flashback

Ini sudah empat hari Donghae mendiamkan Yoona. Tidak mengantar atau menjemputnya dari kampus, tidak menghubungi terlebih dahulu. Bahkan bertemupun Donghae hanya berbicara seadanya. Tidak ada rayuan, tidak ada sapaan sayang yang biasanya selalu Donghae lontarkan kepada Yoona. Tingkah Donghae itu benar-benar membuat Yoona tersiksa. Hari ini adalah batas kesabarannya sudah habis. Dia akhirnya ke Rumah Sakit Kyunghae mendatangi Donghae karena sudah berkali-kali Yoona menghubungi namja itu, tapi tidak ada tanggapan. Mendatangi namja itu langsung adalah pilihan yang paling tepat saat ini.

“Nona Im Yoona?”, seorang suster memanggil Yoona. Ya Yoona mendaftarkan diri menjadi pasien Donghae agar bisa bertemu dengan namja itu. Jika tidak akan sulit bertemu namja itu dijam-jam sibuk seperti sekarang.

“Ne”, sahut Yoona kemudian berdiri.

“silahkan masuk”, ujar suster itu. Yoona pun menganggukkan kepala, berjalan masuk kedalam ruangan yang ditunjuk oleh suster itu.

Setelah menutup rapat-rapat pintu itu, Yoona mendapati namja itu masih terpaku dengan kertas-kertas pasien-pasien sebelumnya. Yoona kemudian mendudukkan diri didepan meja kerja namja itu. Hingga beberapa menit berlalu tapi Donghae masih betah dengan kertas-kertas itu. Sebenarnya Donghae sadar siapa pasiennya yang sedang duduk didepannya – Yoona. Tapi Donghae masih kesal dengan Yoona, jadi dia memilih menyibukkan diri saja. Sedangkan Yoona yang ada dihadapannya sedang menatapnya dengan serius dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Akhirnya Donghae menyerah dengan kesunyian yang melanda mereka.

“Jadi apa ada yang bisa saya bantu nona Im?”, Tanya Donghae formal. Yoona diam, masih memandang namja itu dengan serius hingga setitik air matanya terjatuh dipipinya. Tidak tahukah namja ini jika dia sangat merindukannya? Donghae segera berdiri menghampiri Yoona, memutar kursi Yoona menghadapnya, kemudian berlutut dihadapan Yoona. Donghae pun menghapus air mata Yoona yang semakin deras mengalir. Donghae paling tidak suka jika Yoona menangis.

“aigo, uljima”, ujar Donghae dengan lembut kemudian mengusap rambut Yoona.

Hiks hiks~

“o-oppa masih marah?”, Tanya Yoona masih dengan tangisnya. Donghae menggelengkan kepala.

“ani, oppa tidak marah”, jawab Donghae sambil tersenyum.

“su-sungguh?”, Yoona masih belum percaya dengan jawaban Donghae.

“mmm”, gumam Donghae, segera menarik Yoona kedalam pelukannya. Kehangatan pun segera melingkupinya. Donghae sangat merindukan kehangatan itu.

“oppa jahat. Oppa sangat ahli membuat ku menderita”, ucap Yoona, mengeratkan pelukannya.

Donghae terkekeh geli mendengar penuturan Yoona.

“mianhae Yoong”, ujar Donghae. Yoona mengerucutkan bibirnya mendengar tawa Donghae. Kemudian melepas pelukannya, memandang wajah tampan Donghae – wajah yang sudah sangat dirindukannya beberapa hari belakangan ini.

“akulah yang seharusnya minta maaf oppa. Lagi-lagi aku mengecewakan oppa, menolak pertunangan itu”, jelas Yoona. Dialah yang bersalah, jadi tidak sepantasnya Donghae yang meminta maaf kepadanya. Donghae menggeleng, tidak setuju dengan pernyataan Yoona. Diletakkannya kedua telapak tangannya dipipi Yoona, mengusapnya dengan lembut.

“ani. Akulah yang bersalah. Aku terlalu egois untuk memaksakan pertunangan itu dan kekanak-kanakan dengan mendiamkan mu. Tapi sekarang tidak lagi. Jika kau belum siap menjadikan hubungan kita ketahap yang lebih serius, aku akan menunggu sampai kau siap”, Donghae tersenyum. Senyum yang selalu menghipnotis Yoona.

“jika sekarang aku mengatakan aku siap, apa oppa akan segera melamarku?”, Tanya Yoona.

“mmm, jika memang itu yang kau inginkan, oppa akan melakukannya”, jawab Donghae, menyetujui keinginan Yoona. Diraihnya kedua tangan Yoona dan mengusap-usap punggung tangan Yoona – kebiasaan Donghae ketika menggenggam tangan Yoona.

“Baiklah. Sekarang aku siap oppa”, ujar Yoona cepat. Sampai-sampai Donghae tidak begitu mendengarnya.

“mmm, aku ak- “, Donghae menghentikan ucapannya, segera menegakkan kepalanya dengan mata yang membulat. Dia tidak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya. Yoona tersenyum lebar melihat wajah bodoh Donghae yang kaget. Yoona mencupit pipi namja itu, kemudian memperbaiki letak kacamata Donghae.

“oppa tidak mendengarku?”

“aku mendengar, tapi aku tidak begitu yakin dengan apa yang kudengar”

“AKU SIAP OPPA”, ucap Yoona tegas. Donghae terseyum lebar, rasanya raganya seperti melambung tinggi ke angkasa sekarang.

“jinjja?”, Tanya Donghae memastikan kembali.

“hahhh, sudahlah. Aku lelah mengulang-ulang ucapanku. Jika oppa tidak mendengar ya su- mmpphh”, ucapan Yoona tiba-tiba terpotong karena bibirnya sudah tertutup rapat dengan bibir Donghae. Yoona kaget dengan ciuman tiba-tiba Donghae, tapi lambat laun Yoona memejamkan matanya. Sadar jika Yoona tidak menolak ciumannya, Donghae mulai melumat bibir bawah dan atas Yoona secara bergantian. Yoona pun membalas ciuman itu, walaupun sebenarnya kakinya lemas dengan tindakan Donghae itu. Beberapa menit berlalu, pasangan itu masih betah dengan pagutan mereka, hingga Yoona menjauhkan bibirnya, ketika sadar ada yang aneh. Dan benar saja, ada benda mengkilat melingkari jari manisnya.

“o-oppa..”, ujar Yoona dengan suara yang terbata. ‘Kapan Donghae menyematkan cicin itu? Apa ketika ciuman tadi? Tapi kenapa aku tidak merasakannya? Ciumannya memang selalu merusak otak dan menghipnotisku’ batin Yoona dengan pipi yang memerah karena tersipu.

“kau tidak bisa lari lagi dariku. Kau milikku sekarang Im Yoona”, tegas Donghae. Kemudian mencium punggung tangan Yoona.

“memangnya aku bisa lari kemana oppa, jika namja yang sangat ku cintai adalah oppa?”, ujar Yoona. Donghae tersenyum senang.

“Aku juga sangat mencintaimu sayang”, jawab Donghae, membawa tubuh Yoona kedalam pelukannya kembali.

 

Flashback End >>>>>

“sayang?”

“….”

“Yoong?”, panggil Donghae lagi karena tidak ada jawab dari Yoona. Donghae menyentuh lengan Yoona untuk mengembalikan Yoona ke dalam dunia sadarnya.

“N-nde?”, akhirnya Yoona memberi respon.

“kau sedang memikirkan apa?”

“ani, tidak ada. Aku sepertinya kelelahan oppa”, Yoona segera merapikan barang-barangnya dan memasukkannya kedalam tas ketika sadar mereka sudah sampai di depan rumah Yoona. Donghae hanya diam memperhatikan gerak-gerik Yoona.

“baiklah, aku masuk dulu oppa. Jangan lupa untuk meminum vitaminmu oppa”, peringat Yoona dan Donghae hanya mengangguk.

Cup~

Yoona menyempatkan mencium pipi Donghae, lalu beranjak keluar mobil Donghae.

“bye bye oppa~”, ujar Yoona sambil melambaikan tangan. Donghae membalas dengan senyum menawannya, lalu melajukan mobilnya.

 

>>>>>>>

Selesai dengan urusannya dikampus Yoona segera beranjak pulang. Badannya serasa remuk karena seharian dikampus mengurus skripsinya, jadi dia memutuskan langsung pulang kerumah. Yoona berjalan menuju halte dekat kampusnya. Sesampainya dihalte, Yoona langsung menjatuhkan tubuhnya pada halte yang tampak sepi, hanya ada beberapa orang disana. Yoona merogoh saku jaketnya, mengeluarkan handphone, mengecek apa ada pesan dari sang kekasih, dan kenyataannya tidak ada.

“ahhh, sepertinya dia sedang sibuk”, gumam Yoona. Lalu Yoona larut dengan lamunannya. Namun tiba-tiba ada seseorang yang menyentuh bahunya. Yoona tersadar, mengarahkan pandangannya pada orang yang berdiri disampingnya. Mata Yoona membulat dengan mulut yang sedikit terbuka. Di sampingnya sedang berdiri namja tampan yang pernah menjadi cinta pertamanya sewaktu senior high school. Yoona sangat ingat bagaimana tergila-gilanya dia dulu dengan namja disampingnya ini.

“Yoona-ssi?”, Tanya namja itu dengan senyum menawannya.

“ooo, ne Jonghyun-ssi”, balas Yoona dengan gugup. Pasalnya dia sudah sangat lama tidak bertemu dengan namja itu. Terakhir kalinya tingkat dua senior high school. Jonghyun dulu menjadi teman dikelas ekstrakulikuler teaternya dan harus pindah ke Jerman ikut orangtuanya.

“wahh, lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?”, Tanya Jonghyun lagi.

“ohh, aku baik. Kau sedang apa disini Jonghyun-ssi”

“aku sedang mengantarkan teman yang tinggal didekat sini. Dan kau?”

“ahh, aku sedang menunggu bus untuk pulang”, jawab Yoona.

“bagaimana jika ku antar saja. aku masih ingin berbincang-bincang dengan mu Yoona-ssi”, Yoona bingung menjawab apa. Disatu sisi jika menolak, dia takut Jonghyun tersinggung. Tapi jika menyetujuinya, ada perasaan tak enak yang timbul, entah karena apa.

“bagaimana Yoona-ssi?”

“ahh, itu aku-aku ti…”, tiba-tiba Yoona berhenti ketika sadar ada mobil hitam yang berhenti diseberang sana, dan Yoona sadar betul mobil itu milik siapa dan siapa yang berada dibalik kemudinya. Yoona tiba-tiba merasa tegang, Jonghyun bingung dengan tindakan Yoona.

“Yoona-ssi? Kau baik-baik saja?”, Tanya Jonghyun.

“ahh, Ne aku baik-baik saja. Maaf Jonghyun-ssi aku tidak bisa. Aku baru ingat ternyata kekasihku menjemputku”, jawab Yoona kaku, lalu mengalihkan pandangannya kearah mobil hitam itu. Ada perasaan khawatir yang timbul dalam diri Yoona.

“ohh begitu. Baiklah”, ucap Jonghyun. Lalu memeluk Yoona secara tiba-tiba. Dan Yoona tidak ada persiapan untuk itu. Yoona semakin tengang. Hanya beberapa detik, Jonghyun langsung melepas pelukannya sambil tersenyum dan tanpa canggung sedikitpun. Berbanding terbalik dengan keadaan Yoona.

“kalau begitu sampai jumpa Yoona-ssi”, Jonghyun beranjak menuju mobilnya, melaju dengan kecepatan sedang hingga tidak ada dalam pandangan Yoona lagi. Yoona menghembuskan napas berat, menunduk sambil memijat-mijat keningnya. Tiba-tiba sepasang sepatu terlihat dalam pandangan Yoona yang masih menunduk. Yoona langsung menegakkan kepalanya, dan terlihatlah namja yang sedang menatapnya tajam dengan rahang yang sudah menegang.

Dia marah, batin Yoona.

“mmm, op-oppa~”, ujar Yoona ragu.

“Dia siapa?”, balas Donghae dengan dingin.

“i-itu hanya teman lama oppa”, ucap Yoona terbata-bata. Donghae diam tanpa membalas lagi. Yoona semakin merasa bersalah, kenapa ketika Jonghyun memeluknya tadi, dia tidak langsung dengan cepat mendorong namja itu menjauh. Yoona yakin Donghae pasti melihat kejadian itu.

“ayo pulang”, ujar Donghae langsung berbalik badan menuju mobilnya yang ternyata sudah ada didepan halte. Yoona sempat terdiam, biasanya Donghae akan menuntunnya menuju mobil dan membukakan pintu mobil untuknya. Tapi sekarang yang ada Donghae langsung masuk kekursi kemudi tanpa menunggu Yoona masuk terlebih dahulu. Yoona segera beranjak menuju mobil. Dan didalam mobil terjadi keheningan yang menurut Yoona sangat mencekam ditambah Donghae yang melajukan mobilnya lebih cepat daripada biasanya.

 

>>>>>>>

Sudah seminggu berlalu sejak kejadian itu dan Donghae benar-benar sangat berbeda. Dan kejadian yang lalu terulang kembali, Donghae mendiaminya. Tidak, sebenarnya tidak benar-benar mendiami Yoona. Hanya saja tidak ada lagi Donghae yang romantis, perhatian, protektif dan juga pencemburu. Donghae bertingkah seolah-olah tidak ingin tahu apapun yang Yoona alami dalam kesehariannya. Karena itu Yoona benar-benar sangat kesepian. Dia merindukan Donghaenya.

“Unnie kenapa? Unnie tidak lapar?”, Tanya Seohyun. Hari ini weekend dan tidak biasanya Yoona menghubungi mereka diwaktu libur seperti sekarang dan mengajak bertemu. Karena biasanya Yoona akan menghabiskan waktunya dengan Donghae.

Yoona tidak menjawab pertanyaan Seohyun, dia masih memandang layar handphonenya dengan lesu. Berharap seseorang entah ada dimana itu, menghubunginya atau membalas pesannya.

“aku yakin dia sedang ada masalah”, jawab Sooyoung dengan sangat yakin. Seohyun mengerutkan keningnya.

“masalah apa? Bertengkar lagi dengan Donghae?”, Tanya Taeyeon. Sooyoung mengangguk lagi.

“siapa lagi yang bisa membuat seorang Im Yoona uring-uringan seperti ini, jika bukan kekasihnya”, jelas Sooyoung. Gadis ini sepertinya sudah hapal mati dengan sifat sahabatnya itu.

“sekarang ada masalah apa lagi Yoong?”, Tanya Taeyeon sambil menyentuh pundak Yoona. Yoona menggeleng lemah.

“aku tidak tahu unnie. Tiba-tiba dia sangat berbeda dan tidak peduli denganku”, jawab Yoona lemah.

“kau pantas mendapatkannya”, jawab Yuri dengan tajam. Yuri sedari tadi yang sedang asyik dengan makanannya dan tidak mau ikut campur dengan masalah Yoona, akhirnya tidak bisa menahan dirinya lagi.

“maksud unnie apa?”, ujar Yoona dengan nada kesal. Walaupun Yuri yang paling mengerti dirinya, tapi terkadang kala Yuri juga bisa menjadi musuh yang sangat berbahaya.

“jangan berpura-pura tidak tahu Im Yoona. Kau selingkuh dengan pria lain”, jelas Yuri yang membuat Taeyeon, Hyoyeon, Sooyoung dan Seohyun bahkan Yoona sendiri, kaget. Mereka memandang Yoona tajam. Tidak menyangka Yoona dapat melakukan itu.

“Unnie jangan asal bicara. Aku bersumpah tidak pernah melakukan itu. Aku hanya mencintai Donghae Oppa, tidak dengan yang lain”, jawab Yoona dengan amarah yang sudah mulai tersulut.

“Kau benar-benar selingkuh Yoona?”, Tanya Hyoyeon. Brak~ Yoona menghembuskan napasnya dengan kasar dan memukul meja.

“aish jinjja. Aku tidak melakukan itu unnie”, marah Yoona.

“Yuri unnie, ini semua karena mulut tajam unnie. Aku merasa unnie sudah sangat keterlaluan”, ucap Yoona menatap tajam Yuri, dan mata Yoona sudah mulai berkaca-kaca.

“tapi kau memang melakukannya. Kau berpelukan dengan pria lain”, jelas Yuri, membeberkan tindakan selingkuhnya.

“APA?”, teriak mereka semua kecuali Yuri dan Yoona. Yoona terdiam sejenak. Ya memang benar dia berpelukan dengan pria lain seminggu yang lain. Tapi perlu ditekankan, yang memeluknya adalah pria itu dan dirinya tidak membalas. Dan kejadian itu sangat cepat, sehingga Yoona tidak sempat menolaknya.

“unnie tahu darimana?”, Tanya Yoona dengan hati-hati. Pasalnya dia sadar itu tetaplah kesalahannya.

“lihatkan. Pertanyaannya itu secara tidak langsung, membenarkan perselingkuhannya”, tambah Yuri lagi.

“UNNIE~”, geram Yoona. Taeyeon mengelus bahu Yoona menenangkan emosi Yoona yang sudah tidak terkontrol lagi.

“tentu saja dari kekasihmu. Dia bertanya kepadaku apa kau sedang dekat dengan pria lain dan menceritakan tentang pelukan itu”, jawab Yuri akhirnya karena semua mata sudah tertuju kepadanya, dan Yuri tidak bisa hanya diam saja jika keadaannya semua orang sedang menuntutnya untuk bicara.

“kejadiannya waktu itu sangat cepat, dan perlu kuperjelas bahwa aku tidak balas memeluknya. Dia yang memelukku tiba-tiba”, jelas Yoona.

“dan itu tidak bisa dikatakan bahwa aku sedang berselingkuh”, tambah Yoona. Terjadi keheningan beberapa menit diantara mereka yang sedang sibuk dengan pemikiran masing-masing.

“tapi Yoong, siapa pria yang berani memelukmu itu?”, Tanya Sooyoung penasaran.

“it-itu. Dia..”, Yoona tiba-tiba gugup membuat sahabat-sahabatnya itu mengerutkan kening, dan menatap Yoona dengan curiga.

“Di-dia Jong-Hyun”, jawab Yoona terbata-bata. Yuri dan Hyoyeon membulatkan mata karena kaget. Mereka kenal siapa namja itu.

“nuguya? (siapa?)”, Tanya Sooyoung dan Seohyun bersamaan, tidak mengenal siapa namja yang menjadi topik pembicaraan mereka.

“cinta pertama Yoona”, jawab Hyoyeon.

“benarkah Yoong?”, Tanya Taeyeon. Yoona mengangguk mengiakan.

“tapi sungguh itu hanya perasaan masa lalu, dulu aku hanya gadis polos yang baru pertama kalinya memiliki teman namja”, bela Yoona. Dan mereka mengangguk setuju.

“berarti kau harus menjelaskannya kepada Donghae”, ujar Yuri.

“jadi dia berpikir aku berselingkuh?”, ujar Yoona.

“sepertinya begitu”, jawab Yuri.

“tapi dia selalu menghindariku. Bagaimana aku bisa menjelaskannya?”

“hubungi saja atau mengirim pesan”, usul Taeyeon.

“sudah unnie, tapi tidak ada tanggapan”, jawab Yoona.

“datangi saja ke rumah sakit”, ujar Sooyoung. Yoona tersenyum cerah, usul sahabatnya itu sepertinya layak untuk dicoba. Dulu dia pernah melakukan ini, dan berhasil.

“baiklah, aku harus kerumah sakit sekarang”, ujar Yoona, langsung berdiri, meraih tasnya. Beranjak keluar dari Café tempat mereka berkumpul.

“unnie fighting”, teriak Seohyun, dibalas dengan kepalan tangan Yoona yang diangkat tinggi-tinggi. Sedangkan yang lainnya hanya dapat menggelengkan kepala karena tingkah kekanak-kanakan Yoona.

 

>>>>>>>

Yoona sudah duduk diruang tunggu pasien rumah sakit Kyunghae. Beberapa suster disana tampak berbisik-bisik sambil melirik Yoona sesekali. Dan Yoona yakin sekali dirinyalah yang menjadi bahan gosip mereka kali ini. Tapi Yoona tidak peduli, bukan itu yang terpenting sekarang. Pertunangannya sedang terancam sekarang karena tingkat kecemburuan kekasihnya yang tidak terkendali. Yoona sangat kesal dan ingin marah terhadap Donghae sekarang, tapi dia juga sangat namjanya itu.

“Nona Im?”, panggil suster yang baru keluar dari ruangan Donghae. Yoona langsung berdiri, melangkah masuk keruangan itu dan suster itu keluar, menutup pintu dari luar. Yoona duduk dihadapan Donghae yang sedang sibuk dengan hasil X-rays pasien-pasiennya. Yoona menghirup udara sebanyak mungkin, lalu menghembuskannya berlahan. Dia harus tenang dan tidak boleh marah-marah agar masalah mereka bisa cepat selesai.

“mmm Dokter, akhir-akhir ini dhatiku sering sakit dan sulit bernapas”, Yoona mencoba memberitahukan bagaimana keadaannya sekarang. Donghae segera mengalihkan pandangannya pada Yoona. Raut khawatir tergambar jelas diwajahnya, namun tetap dalam diam.

“ini terjadi seminggu belakangan ini. Aku merasa oksigen yang selalu berada disekitarku seperti menjauh dariku, sehingga aku kesulitan bernapas. Hatiku juga sakit seperti diiris pisau. Ditambah lagi aku sepertinya mengalami stress, karena orang yang paling ku percaya, malah tidak mempercayaiku, dan mencoba menjauhiku”, tambah Yoona. Donghae mengerti semua perkataan Yoona seluruhnya mengarah padanya.

“aku tidak menjauhimu dan aku tidak pernah tidak mempercayaimu”, jawab Donghae akhirnya.

“tapi nyatanya oppa tidak mempercayaiku”, ujar Yoona.

“aku ti-“, ucapan Donghae langsung dipotong Yoona dengan cepat.

“oppa menganggapku berselingkuh”, ucap Yoona cepat. Donghae hanya dapat terdiam. Yoona memandang Donghae dengan sejuta pemikiran didalam kepalanya.

“Sebulan lagi kita akan menikah. Untuk membentuk suatu keluarga yang baik diperlukan sikap saling percaya didalamnya. Tapi..”, Yoona terdiam sejenak, menghirup udara kembali.

“tapi aku merasa saling percaya diantara kita belumlah ada. Lebih tepatnya hanya aku yang mempercayai oppa, sedangkan oppa tidak”, tambah Yoona. Dia kecewa dengan sikap diam Donghae sedari tadi. Donghae sudah membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi.

“apa sebaiknya kita batalkan saja penikahan kita oppa. Aku tidak ingin ada penyesalan nantinya jika kita tetap memaksakan rencana pernikahan ini”, ucap Yoona dengan perasaan yang sangat terluka. Tidak, dia tidak ingin itu terjadi. Tapi hanya dengan cara ini agar perasaan Donghae dapat terbuka terhadapnya.

“TIDAK. Itu tidak akan pernah terjadi. Jika kau berani membatalkan pernikahan kita, aku akan bunuh diri didepan matamu sendiri yoona”, tolak Donghae dengan tegas.

“tapi oppa tidak mempercayaiku. Sudahlah, oppa tidak perlu memaksakan diri. Aku yang akan mengatakannya kepada keluarga kita nanti, jadi oppa tidak perlu khawatir. Aku pulang”, ucap Yoona santai, lalu beranjak dari duduknya, melangkah menuju pintu. Ketika melangkah, tiba-tiba sebuah tangan melingkar dipinggangnya. Donghae memeluknya dari belakang.

“oppa lepaskan”, ucap Yoona sambil berusaha melepaskan tangan Donghae yang melingkar dipinggangnya.

“tidak. Aku tidak bisa melepaskanmu Yoong. Jangan pergi”, ucap Donghae  lirih. Setetes air mata sudah mengalir diwajah tampannya.

“Mianhae Yoong. Tapi aku mohon jangan membatalkan pernikahan kita. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku sangat mencintaimu, hiks”, isakan Donghae terdengar oleh Yoona. Yoona segera membalikkan badan menghadap Donghae. Meletakkan kedua telapak tangannya dipipi Donghae. Yoona menghapus air mata Donghae. Yoona percaya namja yang berdiri dihadapannya ini benar-benar sangat mencintainya. Yoona memandang mata Donghae dalam, mencari kebenaran dimata sendu itu. Terlihat kesedihan dan ketakutan dimata sendu itu.

“jangan menangis oppa. Aku juga tidak bisa hidup tanpa oppa. Tapi tindakan oppa yang membuat keadaan kita menjadi seperti ini. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi”, ucap Yoona masih mengelus-elus pipi Donghae. Mata Yoona pun sudah berkaca-kaca. Donghae menggelengkan kepala tidak setuju.

“tidak, jangan seperti itu Yoong. Aku minta maaf, aku salah. Ini semua karena kecemburuan dan ketakutanku jika kau pergi meninggalkan ku. Tapi itu semua karena aku sangat mencintaimu. Aku janji tidak akan seperti ini lagi Yoong, aku mohon”, ucap Donghae memohon.

Cup~

Yoona mencium sekilas bibir Donghae, untuk menenangkan gejolak ketakutan namja itu. Donghae memandang Yoona dengan mata sendunya. Yoona memeluknya, menyandarkan kepala namja itu dibahunya. Donghae menyurukkan wajahnya keleher Yoona, menghirup aroma soft baby yang sangat dirindukannya.

“Aku juga minta maaf, karena untuk kejadian waktu itu. Dia adalah Jonghyun. Oppa masih ingatkan dengan cerita cinta pertamaku”, Donghae menegakkan badannya dan mengangguk. Tentu saja dia akan selalu mengingat siapa nama namja yang pertama kali menarik perhatian kekasihnya. Hanya saja Donghae belum pernah melihat wajah namja itu, jadi ketika kejadian aksi peluk-peluk itu Donghae tidak mengenali namja itu, ditambah sifat cemburu akut yang langsung muncul saat itu.

“Saat itu aku benar-benar tidak bisa menghindar karena kejadiannya sangat cepat dan aku dalam keadaan kaget sehingga tidak sempat menghindar. Tapi aku bersumpah, aku tidak memeluknya oppa. Dan aku sudah mengatakannya sebelumnya, dia hanyalah cinta pertama. Sedangkan cinta ku sekarang dan cinta terakhirku adalah Lee Donghae. Tidak ada yang lain. HANYA OPPA SAJA”, jelas Yoona dengan penekanan diakhir kalimatnya.

“hanya Lee Donghae yang kubutuhkan, hanya Lee Donghae yang ada didalam hati dan pikiranku, hanya Lee Donghae yang aku cintai”, ucap Yoona tegas. Donghae tersenyum lebar, pasalnya baru kali ini Yoona mengatakan perasaannya dengan gamblang seperti sekarang ini. Biasanya Yoona akan enggan atau malu-malu mengungkapkan rasa cintanya kepada Donghae.

Donghae meraih kedua tangan Yoona yang masih betah dipipinya, lalu mengalungkan kelehernya. Lalu Donghae meraih tengkuk leher Yoona mendekat.

“Dan Im Yoona adalah segalanya untukku”, ucap Donghae lembut, lalu menarik tengkuk Yoona semakin mendekat hingga dia dapat merasakan bibir lembut Yoona menempel pada bibirnya. Yoona memejamkan matanya, meresapi sisi romantis Donghae yang sudah seminggu belakangan ini sangat dirindukannya. Donghae mulai melumat lembut bibir Yoona, selalu ada sensasi tersendiri bagi Donghae jika berciuman dengan Yoona, sehingga membuatnya selalu ketagihan dan lupa diri.

Beberapa menit berlalu akhirnya pagutan bibir itu terlepas. Yoona menghirup udara dengan bibir yang masih terbuka, pipi yang memerah, dan mata yang masih terpejam. Donghae tersenyum melihat pemandangan indah tersebut. Donghae mencium kening Yoona, lalu berlanjut pada kedua mata Yoona. Yoona membuka kedua matanya, dan langsung bertemu dengan mata sendu Donghae yang selalu mampu menghipnotisnya.

“saranghae”, ucap Donghae Lembut. Yoona tersenyum lebar, itu adalah kalimat yang selalu Donghae ucapkan setiap harinya, dan selalu membuat Yoona tersipu malu.

“nado saranghae oppa”, balas Yoona dan langsung menyembunyikan wajahnya didada bidang Donghae. Donghae tersenyum cerah dan mengeratkan pelukannya.

 

>>>>>>>

Epilog

5 Tahun Kemudian

“wheein-a, beritahu omma dimana kau sembunyikan wortel dan sayurannya?”, Tanya Yoona lembut pada putri kecilnya yang menuduk takut. Wheein adalah anak pertama dari pernikahan Donghae dan Yoona. Wheein adalah gadis kecil yang sangat pintar, hyper aktif dan sangat jail. Akibatnya Donghae dan Yoona terkadang kala kesulitan menghadapi putri mereka itu. Untuk wajah, hampir seluruhnya menurun dari Yoona, namun sifatnya persis seperti appanya, Donghae. Wheein suka berlari kesana kemari, merusak atau menjatuhkan apa saja yang menarik perhatiannya. Wheein juga sangat keras kepala dan pemilih, terkhusus untuk makanan. Seperti yang sekarang terjadi, kerena tidak menyukai sayuran terkhusus wortel, wheein secara diam-diam tanpa Yoona ketahui menyembunyikannya entah dimana. Yoona yang sudah tahu kejailan putrinya itu, mencoba menanyakannya secara baik-baik, walaupun sebenarnya dia ingin marah, karena kejadian ini sudah kesekian kalinya.

Wheein menggeleng, menyatakan seolah-olah dirinya tidak tahu apa-apa tentang sayuran itu. Yoona menghembuskan napasnya berat, sepertinya cara lembut tidak bisa meluluhkan keras kepala putrinya itu.

“wheein-a jangan membuat omma sampai marah. Omma harus menyiapkan makan malam sebelum appa pulang. Cepat katakan dimana kau menyembunyikannya Lee Wheein”, ucap Yoona lagi. Namun kali ini sudah dengan penekanan-penekanan disetiap kalimatnya. Wheein yang cerdas, tahu bahwa ommanya marah, tapi Wheein memilih untuk tetap diam dari pada nantinya harus dipaksa ommanya memakan sayuran-sayuran itu.

“ya sudah, terserah wheein saja”, ucap Yoona, berjalan kembali kedapur, meninggalkan putrinya tersebut yang masih betah duduk dikursi meja makan. Yoona sudah marah, tapi dia tidak ingin memperlihatkannya dengan mengatakan kata-kata kasar, Yoona lebih memilih mendiami putrinya tersebut. Wheein duduk, sambil menundukkan kepala dan meremas-remas jari tangannya.

Beberapa menit kemudian terdengar suara langkah kaki menuju dapur.

“ohh, ternyata putri kecil appa ada disini?”, ujar Donghae ketika tiba didapur. Wheein memandang Donghae lalu tersenyum simpul. Donghae mengerutkan kening ketika tidak ada reaksi yang berlebihan seperti biasanya dari putrinya. Biasanya sepulang kerja, putrinya akan berlari menghampirinya, memeluk dan memberi kecupan dipipinya. Tapi sekarang yang ada putrinya yang tampak sedih dan ketakutan. Menyadari itu, Donghae langsung berjalan menghampiri Yoona yang masih sibuk dengan masakannya. Donghae melingkarkan tangannya pada pinggang Yoona. Yoona kaget karena sama sekali tidak menyadari kehadiran suaminya itu.

“ohh, oppa kau mengagetkan ku”, ucap Yoona sambil memukul lengan Donghae. Donghae terkekeh lalu mencium pipi Yoona.

“Sayang, Wheein kenapa?”, Tanya Donghae.

“hahh, tanyakan saja pada putri kecilmu itu oppa. Aku sudah pusing satu hari ini karena ulahnya”, ucap Yoona. Donghae menghela napas berat. Kedua yeoja yang sangat berarti dalam hidupnya itu, memang sangat sulit akur. Ada saja yang selalu menjadi bahan pertengkaran mereka, termasuk hak kepemilikan atas Donghae.

Donghae melangkah ke meja makan, menghampiri putrinya itu. Donghae memutar kursi yang Wheein duduki menghadapnya, lalu berlutut untuk menyamakan tinggi mereka.

“putri appa kenapa terlihat sedih? Dimana Wheein appa yang selalu ceria?”, Tanya Donghae sambil mengelus-elus kepala Wheein.

“ap-appa, omma marah”, ucap gadis kecil itu terbata-bata.

“kenapa omma marah? Wheein buat omma marah?”, Tanya Donghae lagi dengan lembut. Hanya Donghae yang dapat meluluhkan keras kepala Wheein.

“Ne appa, wheein buat omma marah. Wheein menyembunyikan wortel dan sayuran dari kulkas, dan omma marah”, jelas Wheein. Gadis berumur empat setengah tahun itu dengan wajah polosnya mengakui kesalahannya.

“lalu Wheein sudah minta maaf dan mengembalikan wortel dan sayurannya pada omma?”, Donghae bertanya lagi, dan dijawab dengan gelengan kepala dari Wheein.

“wae?”,

“Wheein tidak suka wortel dan sayuran itu appa, tidak enak. Tapi nanti omma akan tetap memaksa Wheein memakannya”, jelas Wheein. Donghae mengangguk mengerti.

“tapi jika Wheein melakukannya, omma akan terus marah dengan Wheein. Wheein mau omma marah terus?”, nasehat Donghae.

“ani, Wheein tidak mau omma marah terus. Wheein takut”, jawab gadis kecil itu.

“nah, kalau Wheein tidak ingin omma marah terus, Wheein sekarang minta maaf dan kembalikan wortel dan sayurannya”, usil Donghae. Wheein terdiam, mencoba mempertimbangkan usul appanya itu, kemudian memandang punggung ommanya yang masih sibuk dengan pekerjaannya didapur.

Wheein melompat turun dari kursinya, berlari keluar dapur menuju kamarnya. Donghae terkekeh geli dengan tingkah putri kecilnya yang menggemaskan.

Beberapa menit kemudian Wheein muncul dengan membawa paper bag dengan kesulitan. Berjalan terseok mendekati Yoona. Donghae memilih menjadi penonton saja kali ini.

“om-omma~”, panggil Wheein. Yoona menoleh kesamping dan menunduk melihat putrinya tersebut membawa paper bag berisi wortel dan sayuran. Yoona diam saja tidak mengatakan apapun, dan Wheein menganggap diamnya Yoona  sebagai wujud dari kemarahan ommanya itu.

“i-ini Wheein kembalikan wortel dan sa-sayurannya”, Wheein mengucapkannya terbata-bata karena takut.

“dan Wheein minta maaf Omma. Wheein janji tidak akan menyembunyikannya lagi”, janji Wheein. Namun Yoona tetap diam. Wheein meletakkan paper bag tersebut diatas meja dengan sedikit berjinjit. Lalu pergi mendekati appanya dimeja makan.

Donghae memperhatikan raut wajah putrinya itu, dan matanya sudah berkaca-kaca, siap untuk menangis. Donghae langsung menggendong Wheein, memeluknya, dan mengelus-elus punggung putrinya itu. Donghae mendengar isakan lirih Wheein. Ketika Wheein menangis, Wheein tidak akan meraung-raung keras seperti anak kecil pada umumnya. Tapi Wheein akan menangis dalam diam, satu sisi dewasa dalam diri Wheein.

Donghae membawa Wheein keruang tamu, untuk menenangkan putri kecilnya itu dengan mengajak bermain.

Satu jam kemudian Yoona menghampiri Donghae dan Wheein keruang tamu.

“makan malam sudah siap. Kalian mandilah terlebih dahulu”, ucap Yoona kemudian berlalu menuju kamar mereka. Dan Wheein juga langsung beranjak menuju kamarnya, untuk mandi sendiri. Untuk anak kecil yang belum genap lima tahun itu, lebih suka jika mandi sendiri. Yoona dan Donghae tidak perlu repot untuk itu.

Donghae pun berjalan menuju kamarnya, mengikuti Yoona. Di kamar Yoona sedang mempersiapkan piyama tidur Donghae.

“Yoong, kenapa kau masih mendiamkannya?”, Tanya Donghae.

“aku masih kesal oppa”, jawab Yoona.

“tapi Wheein sampai menangis tadi”, jelas Donghae.

“benarkah? Apa aku sudah keterlaluan oppa?”, Yoona kaget, ini pertama kalinya Wheein sampai menangis karenanya. Timbul rasa bersalah dalam diri Yoona. Donghae mengangguk, mengelus bahu Yoona lembut. Donghae tahu rasa bersalah sedang melingkupi diri istrinya itu.

 

>>>>>>>

Dimeja makan yang dihuni oleh sepasang suami istri dan gadis kecil, terlihat tenang. Tidak seperti biasanya yang selalu terdengar suara Wheein yang mengeluh soal menu makan malam yang tidak disukainya. Yoona menyendokkan lauk dan sayuran ke piring Donghae. Kemudian dimelakukan hal yang sama pada piring Wheein, kecuali sayuran.

“Selamat makan~”, ujar Donghae. Dan mereka pun mulai makan. Tiba-tiba Wheein mengarahkan sumpitnya kedepan, mengambil beberapa potongan wortel dan meletakkannya dipiringnya. Donghae dan Yoona kaget dan menatap putri mereka dengan heran. Wheein paling tidak suka wortel.

Setelah merasa cukup dengan wortelnya, Wheein mulai memakannya. Dilumatan pertama, raut wajah Wheein sudah berubah, dengan mata yang menyipit dan kerutan dikeningnya. Donghae dan Yoona memperhatikan putri mereka itu dengan tatapan khawatir, terkhusus Yoona. Yoona yakin Wheein pasti memaksakan dirinya memakan wortel-wortel itu.

“Wheein-a jika tidak enak, tidak usah dimakan”, ujar Yoona. Wheein menggeleng.

“ani omma, ini enak”, jawab Wheein dengan tersenyum terpaksa. Hanya ini satu-satunya cara agar ommanya itu tidak marah lagi. Ya begitulah pemikiran gadis kecil itu. Yoona tetap saja khawatir, namun Donghae menyentuh tangan Yoona, sebagai tanda agar Yoona tidak perlu khawatir dan melanjutkan makannya. Yoona pun melanjutkan makannya yang tertunda, namun sesekali melirik putrinya yang tetap memakan makanannya.

Beberapa menit berlalu, hingga terdengar suara kursi yang bergesekan dengan lantai dapur. Wheein turun dari kursinya beranjak pergi dari dapur.

“Wheein sudah selesai”, ujarnya cepat dengan suara yang lirih.

“kau mau kemana Wheein. Ingat peraturan, sebelum semuanya selesai makan tidak ada yang boleh beranjak dari meja makan”, ucap Yoona tegas. Yoona memang menjadi sosok omma yang tegas untuk Wheein. Karena Donghae selalu memanjakan putri mereka.

Wheein pun kembali duduk dikursinya. Tidak ingin membangkak lagi, karena dia tahu ommanya masih marah. Terjadi keheningan disana. Yoona tetap menatap putrinya itu yang tetap menunduk. Yoona beranjak dari duduknya mendekati Wheein, memutar kursi putrinya itu, kemudian berlutut.

“lihat omma”, ucap Yoona. Namun Wheein tetap menunduk.

“lihat omma Lee Wheein”, ucap Yoona lagi dengan sedikit penekanan. Dan akhirnya Wheein menegakkan kepalanya, menatap Yoona dengan mata yang berkaca-kaca. Yoona merasakan sakit diulu hatinya yang terdalam. Rasa bersalah semakin menghinggapinya. Yoona menghembuskan napas berat, lalu memeluk putrinya itu.

“mianhe. Maafkan omma sayang”, ujar Yoona sambil mengelus-elus punggung mungil itu.

Hiks hiks~

Akhirnya isakan Wheein terdengar, dimana sedari tadi tangisnya sudah ditahan. Mata Yoona berkaca-kaca. Ini yang kedua kalinya Wheein menangis karenanya.

“omma minta maaf sayang. Omma tidak marah lagi. Jadi putri omma jangan menangis lagi oo”, ucap Yoona lagi. Kemudian melepas pelukannya, menatap wajah Wheein yang berlinang air mata. Yoona menghapus air mata Wheein sambil tersenyum lebar, memperlihatkan bahwa dirinya benar-benar tidak marah lagi.

“om-omma mianhe”, ucap Wheein masih dengan tangisnya.

“mmm, tapi Wheein janji jangan melakukannya lagi”, peringat Yoona dan Wheein mengangguk.

“omma juga tidak akan memaksa Wheein lagi memakan wortel, jika Wheein memang tidak suka”, janji Yoona. Wheein menggeleng tidak setuju.

“ani, Wheein akan tetap makan wortel. Supaya omma senang”, ujar gadis kecil itu dengan cepat. Yoona terharu dengan perkataan putrinya itu. Wheein sudah membuktikannya dengan memakan wortel-wortel itu tadi. Yoona memeluk Wheein lagi.

“terima kasih sayang. Omma sangat sayang Wheein”, ucap Yoona. Wheein membalas pelukan ommanya itu.

“Wheein juga sayang omma”, balasnya. Tiba-tiba pelukan lain menghangatkan mereka. Donghae yang sejak tadi hanya menjadi penonton dari interaksi istri dan putrinya itu pun akhirnya ikut bergabung dalam pelukan penuh kasih sayang itu.

“appa juga sangat menyayangi omma dan putri kecil appa”, ujar Donghae. Mereka tersenyum penuh dengan kebahagiaan.

“bagaimana jika kita makan es krim?”, tawar Yoona. Mata Wheein langsung bersinar terang seperti mata puppy. Wheein sangat suka makan es krim di malam hari, tapi Yoona selalu melarangnya. Dan kali ini benar-benar tawaran yang sangat menggiurkan dari ommanya.

“Jinjja? Wheein bisa makan es krim malam ini omma?”, Tanya Wheein memastikan.

“mmm, karena Wheein menjadi anak yang baik hari ini”, ucap Yoona sambil mengangguk.

“yeee, assa. Gomawo omma~”, ucap Wheein dengan senang. Memeluk Yoona semakin erat.

 

>>>>>>>

Yoona menidurkan Wheein dikamarnya. Setelah Wheein terlelap, Yoona berlahan keluar dari kamar itu. Melangkah mendekati Donghae yang masih asyik dengan layar notebooknya, duduk diruang tamu. Yoona mendudukkan diri disamping suaminya itu. Donghae mengalihkan wajahnya memandang istri cantiknya kemudian kembali kelayar notebooknya. Tiba-tiba terdengar alunan piano, dan Yoona tahu betul itu lagu Ra.D – I’m In Love, lagu kesukaan suaminya.

Donghae meletakkan notebooknya yang masih mengalunkan nada-nada piano yang romantis dan menyentuh hati. Donghae berdiri, meraih tangan Yoona untuk ikut berdiri. Kemudian mengalungkan tangan Yoona dilehernya.

“mau berdansa sebentar sayang?”, Tanya Donghae. Yoona tersenyum lebar dengan pipi yang mulai merona. Yoona sangat menyukai sisi romantis suaminya itu. Donghae menggerakkan tungkai kakinya ke kiri kemudian kekanan, Yoona hanya mengikuti pergerakan Donghae.

Mata mereka saling bertemu, tak ingin beralih ke yang lain. Seolah-olah hanya dengan saling menatap seperti itu sudah dapat menyampaikan perasaan cinta masing-masing.

“kau semakin cantik Yoong”, gombal Donghae. Yoona tersenyum malu, tidak dapat berkata apa pun. Donghae sangat ahli dalam meluluh lantakkan perasaan Yoona.

“dan kau sangat hebat dalam mendidik putri kita. Aku sangat bangga kepadamu. Dan aku semakin mencintaimu Ny Lee”, tambah Donghae sambil tetap menggerak-gerakkan badannya mengikuti alunan lagu. Sesekali Donghae menyanyikan bait-bait dalam lagu. Yoona sangat menikmati moment kebersamaan mereka seperti sekarang ini.

Donghae menunduk mendekatkan wajahnya ke wajah Yoona, kemudian menempelkan bibirnya di bibir tipis Yoona. Donghae menyesapnya sesekali. Kemudian melepas pagutan itu.

Donghae menatap Yoona dengan tatapan yang mulai bergairah, Yoona tahu betul itu.

“bagaimana kalau kita membuat adik untuk Wheein?”, tawar Donghae dengan raut wajah aneh.

“aish, dasar oppa mesum. Aku tidak mau”, ucap Yoona. Donghae cemberut layaknya seperti putri mereka jika tidak diberikan apa yang diinginkannya.

“ayolah Yoong”, bujuk Donghae. Yoona tetap menggeleng.

“oppa jangan memaksaku. Aku sudah le-mmphh”, perkataan Yoona terpotong karena ciuman Donghae yang tiba-tiba dan sedikit terburu-buru. Yoona tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Beberapa menit berlalu, mereka masih asyik dengan ciuman mesra mereka. Tiba-tiba Yoona mendorong Donghae menjauh dengan cepat ketika sadar seperti ada yang melewati mereka tadi. Donghae yang kaget dengan tindakan Yoona, menatap Yoona kesal.

“wae? Kau menolakku?”, Tanya Donghae kesal.

“ani oppa, bukan seperti itu. Tapi tadi seperti ada yang lewat”, jelas Yoona. Donghae melihat sekeliling mereka, tapi tidak ada orang lain selain mereka.

“tidak ada sayang”, jelas Donghae, kemudian menarik Yoona berniat mencium istrinya itu lagi. Tapi Yoona langsung menolak, melepas tangan Donghae dari pinggangnya. Yoona sangat yakin ada yang lewat tadi. Yoona melangkahkan kakinya kearah dapur. Dan benar saja, ada orang di dapur mereka, sedang membuka kulkas dengan mata yang masih tertutup. Yoona dan Donghae yang mengikuti langkah Yoona, tersenyum melihat pemandangan itu. Putri kecil mereka sedang meraba-raba isi kulkas sepertinya mencari sesuatu.

Yoona mendekati putrinya itu, menyentuh bahu Wheein untuk menyadarkan putrinya dari tidur berjalannya.

“sayang, kau mencari apa?”, Tanya Yoona ketika Wheein sudah mulai membuka matanya berlahan. Kemudian menggosong-gosong matanya.

“omma, Wheein haus”, jelas Wheein. Yoona tersenyum, kemudian mengambil salah satu botol air minum dari kulkas, kemudian menuntun Wheein duduk dikursi meja makan. Yoona menuangkan segelas dan memberikannya pada putrinya itu. Wheein langsung menghabiskannya dengan cepat. Sepertinya putri kecil mereka benar-benar sangat haus.

“lagi?”, Tanya Yoona ketika Wheein menyerahkan gelasnya pada Yoona. Wheein menggeleng.

“putri appa kenapa terbangun?”, Tanya Donghae.

“Wheein bermimpi appa”, jawab Wheein.

“mimpi buruk?”, Tanya Donghae lagi. Wheein menggeleng, lalu tersenyum lebar.

“ani. Wheein mimpi indah appa. Wheein sedang berlari-lari ditaman bersama appa. Tapi omma sedang menggendong adik kecil yang sangat lucu. Wheein tidak tahu adik kecil itu siapa appa”, jelas Wheein, menceritakan mimpinya. Mendengar itu Donghae langsung tersenyum lebar, namun menurut Yoona itu adalah senyum mesum Donghae.

“dan ketika berlari, tiba-tiba Wheein terjatuh, dan kaki Wheein berdarah appa”, tambah Wheein. Yoona mengelus kepala putrinya itu, dan mengangguk mengerti.

“mmm, kalau Wheein punya adik kecil mau tidak?”, Tanya Donghae dengan gamblang. Yoona langsung melotot, kaget dengan pertanyaan suaminya itu.

“oppa, Wheein masih kecil. Bagaimana bisa oppa berkata sefrontal itu?”, ujar Yoona.

“wae? Aku kan hanya bertanya. Lagi pula apa salahnya jika kita membuatkannya saja”, ucap Donghae dengan santai. Yoona langsung menutup kedua telinga Wheein, berharap putrinya itu tidak mendengar apa yang dikatakan Donghae.

“kita bisa mewujudkan mimpi Wheein itu”, tambah Donghae dengan senyum mesumnya.

Plak~

Yoona langsung memukul lengan Donghae dengan kuat sampai Donghae mengaduh kesakitan. Yoona kembali menutup telinga Wheein. Wheein diam tidak mengerti dengan perbincangan kedua orang tuanya itu.

“DASAR MESUM”, teriak Yoona.

 

THE END

Hahaha, akhirnya selesai. Butuh perjuangan banget buat sequel ini. Tapi aku berharap kali ini dapat memuaskan reader-nim semuanya.

Oh ya aku pinjem nama Wheein MAMAMOO untuk nama anak YoonHae Couple. Karena Wheein sangat lucu dan menggemaskan menurut aku. Jadi karena karakter wheein sangat cocok untuk anak YoonHae.

Ok sampai disini dulu. Sampai ketemu di FF I hate u berikutnya..

Jangan lupa komentarnya ya…

Bye bye~

Bow~

Advertisements

7 thoughts on “You Are So Perfect (Sequel) – Only You

  1. Patricia

    Yoonhae Moment so sweeeeeetttttttttt
    Terharu partnya Wheein yg makan wortel demi Omma Yoona….
    Ditunggu FF YoonHae berikutnya
    #fighting 💪💪💪👍👍👍👍

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s