I Hate U (Chapter-2)

I HATE YOU

Title                 : I Hate U (Chapter-2)

Author             : Fi_ss

Cast                 : Im Yoona and Lee Donghae

Genre              : Romance, Hurt, Sad, ect

Length             : Chapter

Author Note    : Halloha… Fi_ss back. Ada yang nunggu FF aku yang satu ini. Maaf ya lama ngirimnya. Aku lagi sibuk banget dengan kuliah akhir-akhir ini. Sebenarnya udah selesai setengahnya untuk chapter ini, tapi karna itu tadi ‘sibuk’ (maklum mahasiswa), tadi setengahnya lagi ngebut buatnya. Tapi aku berharap kali ini memuaskan. Makasi banyak buat reader yang udah mau kasi komentar. Aku senang kalau baca komentar kalian.

Ok, langsung aja ya. Sorry For Typo.

Let’s Goooo….. Leggo~

 

>>>>>

Ada pepatah yang mengatakan, bila sudah cinta, seburuk apapun orang yang kita cintai itu akan selalu tampak indah dimata. Seolah-olah ketika mencintai seseorang mata dibutakan oleh keindahan orang yang kita cintai. Bila dulu yeoja itu sangat mengagungkan cinta, tapi tidak untuk tujuh tahun terakhir ini. Tidak ada namja dan tidak ada cinta. Yoona sudah bersumpah tidak akan jatuh cinta lagi, tidak akan masuk kedalam lubang yang sama lagi. Cinta menjadi salah satu kata yang sangat Yoona benci. Hal ini berimbas pada setiap pasangan yang sedang bermesraan dihadapannya, seperti saat ini. Yoona harus terjebak dimeja yang sama dengan pasangan gila yang tidak tahu malu dengan sengaja mengumbar kemesraan mereka dihadapan orang banyak yang ada di restoran itu, termasuk Yoona.

“aku datang kesini untuk mengisi perutku yang kelaparan, bukan untuk menjadi obat anti nyamuk”, ujar Yoona kesal dengan Kyuhyun dan Sooyoung yang sedang saling menyuapi.

“apa kalian tidak dengar. Sadarlah, ini tempat umum. Kalian bisa melakukannya jika sudah pulang ke apartemen”, Yoona semakin kesal, karena pasagan itu tidak mengacuhkannya.

Brak~

“Yak, apa kau gila, ini tempat umum. Bagaimana bisa sifat tempramental mu itu kau perlihatkan didepan orang banyak”, Kyuhyun menceramahi Yoona yang tiba-tiba menggebrak meja. Orang-orang yang juga makan di restoran itu semakin menjadikan mereka pusat perhatian.

“Ckkk, apa itu tidak salah? Kalianlah yang sedang mereka perhatikan. Dasar tidak tahu malu”, bela Yoona. Dia tidak merasa tindakannya tadi menggebrak meja adalah hal yang salah.

“bilang saja kau iri, hahaha”, Sooyoung berujar cepat.

“hahh, yang benar saja. aku tidak mungkin seperti itu”, bela Yoona.

“sudahlah sayang, dia tidak akan bisa terkalahkan untuk masalah seperti ini. Biarkan saja dia menjadi perawan tua seumur hidupnya”, ujar Kyuhyun dengan santai tanpa beban. Perkataan Kyuhyun membuat kekesalan Yoona sudah tidak terbendung. Yoona segera beranjak dari duduknya, rasanya dia bisa gila bila berlama-lama dengan pasangan itu.

“Yoong, kau mau kemana?”, Tanya Sooyoung sambil menahan tawanya. Sangat senang rasanya jika dirinya dan Kyuhyun dapat menjaili Yoona. Yoona tidak menjawab, segera keluar dari restoran itu.

Sepeninggalnya Yoona dari restoran itu, Kyuhyun dan Sooyoung melanjutkan makan mereka. Tidak peduli dengan kepergian Yoona. Karena mereka tahu Yoona tidak benar-benar marah. Keesokan hari juga pasti akan membaik kembali. Mereka sudah bersama bertahun-tahun dan saling mengenal baik dan buruk masing-masing. Terkhusus Kyuhyun yang sudah mengenal Yoona sejak masuk duduk dibangku Senior High School.

“Dia kembali”, ujar Kyuhyun tiba-tiba dengan wajah dingin.

“siapa? Yoona? Sudah kuduga. Mana?”, Tanya Sooyoung dengan pandangan matanya beredar disepanjang restoran, mencari keberadaan Yoona.

“Bukan”, balas Kyuhyun.

“lalu siapa?”, Sooyoung bertanya lagi dengan dahi berkerut. Tidak mengerti siapa yang menjadi topik pembicaraan mereka sekarang.

“pria brengsek itu”, jawab Kyuhyun dengan penekanan dan geraman disetiap kata. Mengerti dengan ‘pria brengsek’ yang Kyuhyun ucapkan, membuat Sooyoung terdiam. Selera makannya segera hilang entah kemana.

“apa Yoona tahu?”, Tanya Sooyoung. Kyuhyun menggelengkan kepala.

“ sepertinya tidak. Apa Yoona akan baik-baik saja?”, Kyuhyun mulai mengkhawatirkan Yoona. Selalu seperti itu, bila terjadi sedikit saja masalah menimpa Yoona, Kyuhyun akan menjadi orang pertama yang datang kepadanya. Kadang kala Sooyoung sedikit cemburu, tapi segera ditepisnya perasaan itu, karena dia tahu betul seperti apa hubungan Kyuhyun dan Yoona. Dia juga sebenarnya mengkhawatirkan Yoona sekarang. Dia tidak ingin perjuangan Yoona untuk bertahan hingga saat ini terbuang sia-sia. Sooyoung sudah melihat bagaimana Yoona yang sangat frustasi – pingsan karena kelelahan dan stress – hingga menjadi Yoona yang kuat seperti sekarang. Walaupun sebenarnya Sooyoung tidak suka dengan perubahan Yoona yang menjadi kaku dan dingin dihadapan orang-orang.

“tapi, kenapa dia kembali?”, Sooyoung penasaran dengan tujuan namja – yang menjadi topik pembicaraan mereka –  kembali ke korea.

“katanya dia akan menggantikan Tuan Lee Dong Wook untuk sementara waktu, sampai keadaaan kesehatan Tuan Lee membaik”, jelas Kyuhyun. Kyuhyun selaku CEO dari Cho Coorporation yang juga merupakan rekan bisnis dari Tuan Lee, cukup tahu tentang informasi pergantian kepemimpinan Tuan Lee untuk sementara waktu.

“Jinjja? Aku kira itu hanyalah gosip yang baru saja kudengar tadi dari divisi administrasi. Ahh ternyata benar. Tapi seperti apa dia? Apa dia tampan?”, Tanya Sooyoung.

“mmm, ya bisa dikategorikan namja tampan. Tapi masih lebih tampan aku”, jelas Kyuhyun. Sooyoung hanya menghembuskan napas malas mendengar Kyuhyun memuji dirinya sendiri.

“tapi seingatku, dia tipe namja playboy. Sewaktu senior high school, dia selalu dikelilingi oleh yeoja, dan sering bergonta ganti pasangan. Sehingga banyak namja yang tidak suka dengannya. Dia juga suka menjaili namja semasa sekolah dulu, terutama yang namja yang mendekati Yoona”, jelas Kyuhyun lagi.

“ahhh, begitu. Termasuk kau?”, Sooyoung tahu Kyuhyun salah satu namja itu. Terbukti dengan Kyuhyun yang mengangguk kaku, tidak suka dengan kenangan buruknya semasa sekolah dulu.

“ternyata dia namja yang menyeramkan. Tapi bagaimana jika dia kembali dan mempengaruhi Yoona?”, ujar Sooyoung.

“Tidak. Itu tidak boleh terjadi. Yoona akan menjadi seperti dulu lagi jika kita membiarkannya mendekati Yoona”, ucap Kyuhyun cepat. Panik dengan ucapan kekasihnya itu.

“ya, kau benar hal itu tidak boleh terjadi. Ahhhh, aku ada ide”, Sooyoung tiba-tiba mendapat ide cemerlang. Kyuhyun segera memutar arah duduknya menghadap Sooyoung.

“bagaimana jika kita mendaftarkan Yoona ke biro jodoh?”, ujar Sooyoung.

“apa? Kau yakin. Tapi unt- AKKK”, tiba-tiba Kyuhyun mendapat pukulan dikepalanya.

“YAKKK, KENAPA KAU MEMUKULKU? DENGAN SENDOK BEKAS LAGI”, teriak Kyuhyun merasa tindakan Sooyoung keterlaluan dan kotor.

“sstttt, kecilkan suaramu bodoh”, bisik Sooyoung, karena teriakan Kyuhyun tadi telah mengganggu pengunjung lain. Kyuhyun pun diam, namun masih dengan wajah cemberut.

“makanya dengarkan aku dulu. Jangan memotong pembicaraan orang”, Kyuhyun mengangguk dengan perintah Sooyoung.

“kita akan mendaftarkannya ke biro jodoh dan menyeleksi mereka. Aku ada teman yang bekerja dibiro jodoh”, Sooyoung berhenti sejenak, lalu melanjutkan ucapannya kembali.

“nah jika ada namja yang cocok dan bisa mendekati Yoona, itu akan sangat bagus. Namja itu akan menjadi senjata Yoona untuk bertahan menghadapi pria brengsek itu. Dan dia tidak akan mengganggu Yoona lagi. Bagaimana?”, Tanya Sooyoung.

“mmmm, ide yang bagus. Tapi bagaimana cara untuk mengajak Yoona untuk mau ikut biro jodoh itu?”

“ahh, serahkan itu padaku. Aku akan mengaturnya”, ujar Sooyoung antusias. Kyuhyun mengangguk setuju dengan ide Sooyoung.

“apa masih sakit?”, Tanya sooyoung ketika Kyuhyun masih mengusap-usap bagian kepalanya yang sooyoung pukul dengan sendok.

“mmm”, kyuhyun hanya bergumam sambil menganggung lagi.

“aigo, mianhae”, Sooyoung minta maaf dan ikut mengelus-elus kepala Kyuhyun. Kyuhyun bergelayut manja dan meletakkan kepalanya dibahu Sooyoung. Tapi Kyuhyun tidak berbohong dengan rasa sakit yang masih dirasakannya. Sooyoung benar-benar memukulkan sendoknya dengan keras, sampai-sampai telinga kyuhyun berdenging. Yeoja ini memang sangat menyeramkan jika sudah marah, tidak ada bedanya dengan Yoona. Hanya saja, Sooyoung masih tampak lebih ramah dan mudah dirayu, berbanding terbalik dengan Yoona.

>>>>>>

Ketika seluruh pekerjaan Yoona selesai dikantor, Yoona segera pulang kerumah. Segera membersihkan diri dan menuju keruang TV dengan membawa beberapa novel yang belum sempat selesai dibacanya akibat pekerjaannya beberapa hari ini sedang sangat banyak. Beruntung hari ini dia dapat menyelesaikan semuanya.

Sejak lulus kuliah, Yoona memutuskan untuk tinggal diapartemen yang dekat dengan kantornya bekerja sekarang, Lee Coorporation. Perusahaan itu adalah perusahaan milik keluarga Lee Donghae. Tapi jangan salah beranggapan jika Yoona dapat bekerja diperusahaan itu karena Lee Coorporation milik keluarga Lee. Yoona masuk kedalam perusahaan itu karena kemampuannya sendiri. Dia melalui tahap seleksi seperti mana karyawan lainnya yang melamar pekerjaan di perusahaan itu. Dia memulainya dari level bawah sebagai karyawan biasa, lalu merambat menjadi karyawan tetap di divisi art & Desain, hingga kini menjadi kepala bagaian di divisi art & Desain perusahaan itu.

Yoona beranjak, menghidupkan TV meletakkan beberapa novel diatas meja, lalu berjalan mengarah ke dapur untuk mengambil secangkir cofe panas dari mesin membuat kopi dan juga beberapa cemilin. Kemudian membawa seluruhnya keruang TV. Beginilah kebiasaan Yoona jika memiliki waktu senggang diapartemennya. Duduk santai di sofa, ditemani secangkir cofe dan cemilan sambil membaca novel, ditambah suara dari TV yang menyala. Namun jika tidak ada siaran yang menarik Yoona akan mendengar musik klasik.

“hahhh, tidak ada siaran yang menarik. Hanya ada siaran gosip yang tidak jelas”, ujar Yoona. Ketika hendak mematikan TV, tiba-tiba handphone Yoona berdering. Yoona segera meraihnya dan menekan tombol hijau ketika tahu panggilan itu dari ommanya.

“oo, Yeoboseyo?”, sapa Yoona pada wanita paruh baya yang ada diseberang sana.

“Kau sudah pulang Yoong?”

“ne omma. Wae?”, Yoona mengerutkan keningnya ketika mendengar sedikit keributan diseberang sana.

“ani. Tidak apa-apa. Apa kau sudah makan sayang?”

“sudah omma. Omma dimana? Kenapa sangat berisik?”, Yoona penasaran.

“ohh, omma sedang makan malam dengan Ha Na”

“Lee Omma?”, Tanya Yoona memastikan.

“mmm, kami akan merayakan pulangnya Donghae. Kau tahukan kalau dia sudah tiba dikorea tadi siang?”

Deg~

Tiba-tiba rasa sakit tujuh tahun yang lalu muncul kembali menggerogoti hati dan pikirannya. Kenapa harus sekarang? Kenapa disaat aku sudah tidak pernah lagi memikirkannya?Kenapa? BRENGSEK, batin Yoona memaki Donghae.

“Yoong?”

“…”

“Yoong? Kau masih disana sayang?”

“ooo, Ne omma”, akhirnya Yoona sadar dari lamunannya setelah Ny Im memanggilnya entah sudah yang keberapa kalinya.

“kau tahukan Donghae sudah kembali. Dan akan menggantikan Dong Wook untuk sementara waktu?”

“mmm”, Yoona hanya membalas dengan gumaman. Jantung Yoona rasanya ingin keluar dan terasa sangat menyakitkan. Yoona tidak tahu apapun tentang Donghae lagi selama tujuh tahun terakhir ini. Hingga berita mengejutkan itu didengarnya.

“kau akan datang menyambut Donghae kan?”

“Maaf Omma, aku tidak bisa kesana. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku malam ini, untuk presentasi besok”, Yoona berbohong. Dia tidak ingin bertemu dengan pria itu.

“mmm, begitu ya. Ya sudah. Jangan terlalu larut tidurnya”, Ny Im memilih menyerah untuk membujuk Yoona. Bila sudah berurusan dengan pekerjanan, Yoona paling tidak suka diganggu. Ny Im sadar, putrinya yang sekarang bukanlah putrinya yang manja dan mudah menangis. Putrinya yang sekarang adalah sosok gadis yang pendiam, rapi, bersih, dan teratur. Namun hal itu membuat resah Tuan dan Ny Im, pasalnya Yoona menjadi sangat tertutup dan sulit didekati.

“ooo, sampaikan salamku pada Lee Omma”

Setelahnya sambungan telepon terputus. Yoona menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Kepalanya menengadah keatas dengan sorot mata kosong.

“Kabar mengejutkan dari anak kedua pengusaha sukses Lee Dong Wook, datang menghadiri acara ulang tahun Kim Jongin. Kabarnya, Lee Donghae akan menggantikan posisi ayahnya untuk sementara waktu. Namun ketika ditanya hal tersebut, Lee Donghae hanya memberi sapa dengan senyuman saja”

Suara dari penyiar berita gosip itu mengalihkan perhatian Yoona kearah TV.

Deg Deg Deg

“Kehadiran pengusaha muda itu didampingi oleh seorang gadis cantik, yang setelah diselidiki adalah Jang Hyo Jin atau Clara, model berdarah korea yang berkarir di New York. Dikabarkan Lee Donghae dan Clara menjalin kasih sudah lebih dari tiga tahun…”

Pip

Yoona segera menekan tombol Power dari remote yang ada ditangannya hingga layar TV berwarna hitam. Cukup, Yoona tidak ingin mendengar apapun lagi tentang namja itu. Tapi perasaannya sudah kacau. Yoona meminum segelas kopinya hingga tandas. Tapi perasaannya semakin gelisah. Dia beranjak menuju lemari kecil didekat TV, lalu membuka lacinya mengambil kotak obat, mengambil dua butir obat tidur, menelannya tanpa air. Rasa pahit terasa dilidahnya, tapi itu tidak sebanding dengan rasa sakitnya saat ini.

Yoona mengambil bantal dan selimut dari lemari, lalu menekan tombol disamping sofa, hingga dudukan sofa memanjang kedepan. Disinilah Yoona tidur, diruang TV. Diapartemen ini ketika pertama kali masuk, langsung disuguhkan ruang tamu yang merangkap menjadi ruang TV, yang hanya ada beberapa perabotan. Tiga lemari berukuran berbeda tertata rapi, satu disamping TV berukuran 32 inchi, sedangkan dua lagi ada disudut ruangan. Sebuah meja berukuran sedang, serta sofa. Berbelok ke kanan dari pintu masuk, terdapat dapur dan satu set meja makan mini. Namun perlengkapan dan alat dapur cukup lengkap untuk ukuran seorang gadis yang hidup sendiri. Lalu disebelah kiri ada sebuah pintu berwarna coklat. Bila orang yang pertama kali datang ke apartemen itu akan beranggapan itu adalah kamar tidur Yoona, karena hanya ada satu pintu didalam apartemen itu, maka salah besar. Itu adalah ruang kerja Yoona, baik untuk membuat sketsa denah, desain atau untuk sekedar membaca, akan Yoona lakukan diruangan itu. Yoona tidak memiliki kamar tidur. Yoona akan tidur diruang TV setiap harinya. Cukup ironis memang, tapi Yoona merasa nyaman hidup seperti itu. Sooyoung dan Kyuhyun pun tidak dapat berbuat apapun, bahkan Tuan dan Ny Im pun tidak.

Yoona berusahan memejamkan matanya untuk tertidur, dia tidak ingin memikirkan apapun hari ini dan berharap hari ini cepat berlalu. Hingga beberapa menit kemudian, obat yang Yoona minum tadi mulai bekerja, dan Yoona akhirnya tertidur.

 

>>>>>>

Keesokan harinya, benarlah apa yang paling Yoona takutkan menjadi kenyataan. Namja itu, ada diruangan yang sama dengannya, mendengar presentasi yang dilakukan oleh Sooyoung. Rapat kali ini dirangkap menjadi pengumuman pergantian kepemimpinan untuk sementara waktu sampai Presdir mereka pulih. Yoona duduk berhadapan dengan namja itu dengan dipisahkan oleh meja besar, merusaha untuk tidak mempedulikannya, bahkan menganggap tidak ada orang yang duduk dihadapannya. Yoona memperhatikan presentasi Sooyoung, sesekali menuliskan sesuatu dikertas jika ada yang perlu diperbaiki atau dilengkapi dari presentasi itu. Yoona berhenti menulis, ketika sadar namja itu tidak memperhatikan presentasi, tapi terus menatapnya. Seolah-olah tidak penting, Yoona melanjutkan tulisannya.

Selang hampir dua jam lebih, akhirnya rapat selesai. Beberapa karyawan sudah keluar dari ruang rapat, tertinggal tiga orang saja didalam.

“tolong ini sedikit dirubah. Desain ini terlalu kaku. Kita akan merancangnya kembali. Kita harus melakukan rapat lagi hari ini. Tolong umumkan kepada yang lain”, perintah Yoona kepada Sooyoung yang merupakan wakilnya di divisi Art & Desain. Sooyoung mengangguk patuh.

“baiklah. Ku tunggu hasil rancangan yang lain”, Yoona segera beranjak dari duduknya keluar dari ruangan ini. Perasaannya sedari tadi tidak tenang diruangan itu.

“mari kita bicara sebentar”, suara namja bernada rendah tiba-tiba menyapa telinga Yoona sebelum pintu ruang rapat itu sempat dibukanya. Yoona terdiam sesaat, tangannya tiba-tiba bergetar. Ani, kau sanggup Yoona. Kau bisa melawan namja itu, batin Yoona, mencoba menenangkan diri. Dikepalkannya kuat-kuat telapak tangannya, kemudian berbalik, memasang wajah datar.

“ada yang bisa saya bantu Sajangnim?”, ujar Yoona formal.

“kenapa kau sangat kaku. Kau seolah-olah baru mengenalku Yoong”, ujar namja itu, Lee Donghae. Donghae tersenyum lebar. Pasalnya sedari tadi selama rapat iya sudah menahan diri untuk berbicara dengan Yoona. Bahkan Yoona tidak meliriknya sedikitpun, hal itu membuat Donghae kesal bukan main. Yoona menghirup oksigen sebanyak mungkin secara diam-diam, berusaha tetap bernapas. Donghae berdiri dari duduknya, berjalan menghampiri Yoona. Ketika tangannya ingin menggapai bahu Yoona, Yoona segera mundur dua langkah. Yoona tidak akan membiarkan namja itu menyentuhnya sedikitpun.

“Maaf sajangnim, saya baru mengenal Anda hari ini”, Yoona berujar dengan nada yang dingin.

“Yak, ada apa dengan mu. Kau sakit. Bagaimana bisa kau tidak mengenalku”, ucap Donghae dengan kening berkerut. Sedangkan Yoona hanya diam dengan wajah datarnya..

“ahh, kau masih marah?”, Tanya Donghae tidak ada respon dari Yoona.

“sekali lagi, saya minta maaf sajangnim. Saya datang keperusahaan ini untuk bekerja. Diluar dari pekerjaan saya tidak dapat menanggapinya”, ujar Yoona menjelaskan kembali.

“saya permisi sajangnim”, Yoona segera keluar, namun lagi-lagi tertahan ketika pergelangan tangannya ditarik Donghae lagi.

“Yak, kau benar-benar masih marah ya. Aku minta maaf kalau begitu. Kenapa kau memperpanjang masalah sepele seperti itu? “, Donghae berkata dengan cepat dan tanpa beban. Yoona menarik tangannya dari genggaman namja itu, tapi tidak berhasil, bahkan genggaman itu semakin mengencang. Yoona merasakan sakit dipergelangan tangannya. Namun dia tidak memperlihatkannya. Yoona tidak bisa berbuat apa pun.

“Maaf? Setelah tujuh tahun berlalu baru Anda minta maaf. Hahh..”, Yoona mendesis, lalu terkekeh, menyindir Donghae.

“Anda bahkan mengatakan itu hal sepele. Jika semua orang yang berbuat salah di dunia ini dengan mudah mendapatkan maaf, maka dunia akan tentram tanpa ada pertengkaran, bahkan tidak ada tindakan kriminan.”, lanjut Yoona. Donghae melepas genggaman tangannya ketika mendengar sindiran Yoona. Donghae kaget dengan perubahan Yoona. Tidak ada lagi Yoona yang manja, serampangan, lucu, dan kekanak-kanakan. Yoona yang ada dihadapannya saat ini adalah Yoona yang kaku, dingin, dan bermulut tajam.

“sepertinya kita harus bicara serius. Aku tidak tahu jika masalahnya menjadi seperti ini”, ucap Donghae. Dia harus menjelaskan semua, meminta maaf dengan baik, dan menjalin hubungan dengan Yoona seperti dulu.

“tidak. Itu tidak perlu. Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Cukup sampai disini. Setelah ini pun jika kita bertemu, saya hanya akan menganggap Anda sebagai atasan saya Donghae-ssi” ujar Yoona dengan cepat.

“tapi ki-“

“ekkkhmmm, maaf sajangnim jika saya lancang. Tapi Nona Im harus segera menghadiri rapat divisi”, Sooyoung yang sedari tadi sebagai penonton diruangan itu, sudah tidak tahan lagi melihat Yoona kesulitan. Yoona meremas kencang  ujung kemejanya, menandakan Yoona benar-benar ketakutan, Sooyoung tahu kebiasaan Yoona yang satu itu. Jika tidak benar-benar memperhatikan gerak-gerik tubuh Yoona, tidak aka nada yang tahu bagaimana sebenarnya keadaan Yoona. Yoona selalu menyembunyikan perasaannya kepada siapapun.

Sooyoung menunduk hormat kepada Donghae, dan segera menarik tangan Yoona keluar dari ruangan yang mencekam itu. Dia harus segera mengamankan Yoona ke ruangannya. Sedangkan Donghae masih terdiam didalam ruangan itu. Pikirannya sedang kalut karena Yoona. Padahal ini hari pertamanya bekerja di perusahaan itu, tapi sudah ada masalah. Ketika larut dengan pikirannya tentang Yoona, tiba-tiba sebuah derinngan handphonenya terdengar.

“Yeoboseyo?”, jawab Donghae malas. Dia sedang tidak ada minat untuk berbicara banyak dengnan orang lain sekarang.

“oppa. Apa kau sudah makan siang?”, Tanya orang diseberang sana. Donghae menjauhkan handphone dari telinganya, melihat layar handphonenya, barulah sadar jika orang yang sedang menghubunginya adalah Clara.

“Clara?”, Tanya Donghae memastikan. Suara Clara terdengar aneh tidaj seperti biasanya.

“mmm. Oppa sudah makan?”, Tanya Clara lagi.

“belum. Kenapa?”, balas Donghae jujur.

“ahh, baguslah. Ayo kita makan bersama direstoran dekat dengan kantormu oppa”

“Tapi aku tid-“

“aku sudah dijalan menuju ke kantormu oppa. Jadi oppa tidak bisa menolaknya”

“baiklah”, jawab Donghae malas dan memang tidak dapat menolak mermintaan Clara. Clara adalah anak dari salah satu rekan bisnisnya di New York. Selama tujuh tahun di New York, ayah Clara sangat banyak membantunya. Clara yang awalnya beberapa kali Donghae temui di restoran dengan ayahnya pun menjadi dekat seperti sekarang.

 

>>>>>

“aish, jangan memelukku seperti itu. Aku sedang berbicara dengannya. Untuk saja dia tidak sadar tadi”, jawab yeoja yang masih bergelut dibalik selimutnya itu. Sedangkan namja yang memeluknya hanya tersenyum, tidak peduli.

“biarkan saja dia tahu sayang”, ucap sang namja.

“aish, tapi aku belum mendapatkan apa yang ku mau. Dan aku tidak mau rencana ku dan ayah yang sudah disusun dengan rapi ini sampai berantakan”, jelas yeoja itu lagi.

“tapi aku tidak suka”, balas namja itu.

“bersabarlah, tinggal sedikit lagi. Semuanya akan selesai”, Cup~

Yeoja itu segera beranjak dari ranjang bekas pergumulan panas mereka setelah memberi kecupan singkat dibibir namja itu. Sang namja hanya diam memandang kepergian kekasihnya itu menuju kamar mandi. Perasaan lelah menunggu sudah tidak bisa lagi ditoleransi namja itu. Tentu saja, siapa yang mau hampir tiga tahun lebih hubungannya dengan kekasihnya yang baru pulang dari new York itu, terasa hambar dan tidak jelas hanya karena sifat serakah keluarga kekasihnya itu. Dia harus merelakan kekasihnya berdekatan dengan pria lain.

 

>>>>>

Sepuluh menit kemudian Donghae keluar dari ruangannya menuju restoran didekat kantornya. Tak butuh waktu yang lama menuju ke restoran itu. Sesampainya disana, Donghae segera mengedarkan pandangannya keseluruh meja yang ada di restoran itu, tapi dia tidak menemukan Clara. Namun tiba-tiba Donghae tersenyum ketika menemukan seseorang yang sangat ingin dipeluknya sekarang ini. Donghae berjalan mendekati meja seorang yeoja yang masih asyik dengan makanannya, duduk dihadapan yeoja itu. Sadar ada seseorang yang duduk dimejanya, sang yeoja mendongak, matanya membulat, kaget. Namun segera wajah itu berubah datar.

“hai, kau sendirian? Kau tidak ada teman young?”, Tanya Donghae ramah kepada Yoona. Yoona tetap melanjutkan makannya, tidak mempedulikan Donghae yang mengoceh tidak jelas dihadapnnya.

“oppa, kau sudah datang?”, Tanya seorang yeoja yang datang dari belakang Donghae. Donghae mendongakkan kepalanya melihat Clara sudah berdiri disampingnya. Donghae pun mengangguk. Clara tersenyum senang.

“aku tadi ke toilet oppa”, jelas Clara, lalu pandangannya teralih pada Yoona yang hanya diam menonton mereka.

“tapi, dia siapa oppa?”, ada nada tidak suka dari suara Clara. Donghae pun ikut memandang Yoona. Dia tersenyum lebar. Lalu memperkenalkan Yoona.

“Dia Im Yoona. Kau ingatkan, aku pernah menceritakannya”, jelas Donghae masih dengan senyum lebarnya. Tiba-tiba Clara membeku, sadar akan sesuatu setelah memperhatikan wajahYoona. Sial, umpat Clara. Sedangkan Yoona masih dengan wajah datarnya, kini mulai melanjutkan makannya.

“ohh, iya aku ingat. Ayo kita kemeja yang disana oppa. Aku sudah memesan makanannya”, Clara langsung menarik tangan Donghae agar segera mengikutinya, tidak memperdulikan Yoona.

“ckk, dasar jalang”, guman Yoona setelah kepergian mereka dari mejanya. Yoona ingat wajah Clara. Bukan karena dia pernah melihat Clara di TV, tapi karena beberapa beberapa menit yang lalu dia melihat Clara. Melihat yeoja itu sedang berciuman mesra di parkiran restoran ini, dengan seorang namja yang wajahnya tidak bisa Yoona lihat karena membelakanginya. Benar-benar yeoja yang menjijikkan. Dia tidak peduli apakah dia berselingkuh dibelakang Donghae, tapi Yoona benar-benar tidak suka melihat hal-hal seperti itu.

Selesai menyantap makanannya, Yoona beranjak menuju toilet restoran itu untuk mencuci tangan dan merapikan pakaiannya. Melihat Yoona menuju toilet, Clara bangkit dari duduknya.

“aku ke toilet sebenar oppa”, ujar Clara. Donghae hanya menganggukkan kepalanya. Clara pun berjalan mengikuti Yoona ke toilet. Ditoilet Yoona sedang mencuci tangannya, beberapa alat make-up dikeluarkannya dari tas tangannya. Hingga tiba-tiba seseorang berdiri disampingnya, ikut membersihkan diri. Tahu siapa orang yang berasa disampingnya, Yoona menghela napas ringan. Segera dirapikannya alat make-upnya untuk keluar dari toilet itu.

“aku harap kau tidak mempersulitku”, ujar Clara tiba-tiba ketika Yoona sudah berbalik ingin keluar dari toilet itu.

“ckk, tenang saja. walaupun apa yang kulihat tadi adalah benar adanya, aku tidak akan mengganggu hubungan kalian. Aku tidak ada hubungan apapun dengan kalian”, jelas Yoona masih membelakangi Clara. Merasa tidak puas dengan jawaban Yoona, Clara menambahkan lagi.

“kau tahukan jika aku dan Donghae oppa adalah kekasih? Jadi, jangan coba-coba mendekatinya. Ya walaupun aku yakin Donghae oppa pasti tetap akan memilihku dibandingkan kau yang tidak ada apa-apanya dibandingkanku”, jelas Clara membanggakan diri sendiri dan merendahkan Yoona. Merasa direndahkan, mulut Yoona pun tidak bisa dikendalikannya lagi.

“Ckkk, dasar jalang yang tidak tahu malu”, umpat Yoona. Clara yang mendengar Yoona mengatainya jalang, langsung marah.

“YEOJA SIALAN”, teriak Clara, diraihnya rambut Yoona menariknya kuat.

“AKKKK, YAK APA YANG- AKKK”, teriak Yoona kesakitan.

“yeoja sialan, berani-beraninya kau mengataiku jalang. Kaulah yang jalang, sialan”, maki Clara. Merasa kemarahannya pun sudah diubun-ubun, Yoona pun ikut menjambak rambut Clara.

Akhirnya terjadilah pertengkaran hebat diantara mereka didalam toilet wanita restoran itu. Bahkan kini kedua sudah berguling-guling dilantai toilet yang kotor. Penampilan mereka pun kini sudah tidak karuan. Mendengar keributan dari toilet beberapa wanita yang ada dibalik bilik toilet segera keluar dan mencoba melerai mereka. Tapi tidak ada yang dapat menghentikan mereka. Hingga salah satu dari wanita itu berlari keluar toilet memanggil pelayan yang ada ditoilet itu.

“seseorang tolong, ada yang berkelahi ditoilet wanita”, mendengar teriakan itu beberapa pelayan berlari kearah toilet termasuk Donghae karena tahu Clara juga ke toilet tadi. Setibanya ditoilet wanita itu, Donghae kaget melihat Yoona dan Clara yang masih saling menarik rambut lawannya dengan kuat. Donghae langsung menarik Yoona menjauh dari Clara.

“YAK HENTIKAN. APA KALIAN ANAK KECIL? TIDAKKAH KALIAN MAU BERTENGKAR DI DALAM TOILET SEPERTI INI? DIMANA OTAK KALIAN”, teriak Donghae, marah dengan tindakan kekanak-kanakan kedua yeoja itu. Clara segera mendekati Donghae.

“oppa, dia menjambakku terlebih dahulu”, ucap Clara sendu, berharap Donghae percaya kepadanya.

“lihat ini, bahkan dia melukai tanganku”, tambah Clara lagi menjulurkan tangannya kedepan, menunjukkan tangannya yang terdapat luka dan mengelurkan darah. Melihat itu Donghae menatap Yoona tajam. Menyadari dirinya difitnah, Yoona pun maju menarik tangan Clara.

“YAK, kau yang terlebih dahulu menjambakku jalang sialan”, maki Yoona .

Plak~

Yoona merasakan panas dipipinya. Donghae menamparnya. Ini adalah pertama kalinya Yoona merasakan seseorang menamparnya. Yang lebih parahnya, orang pertama yang melakukan itu adalah Lee Donghae. Clara bahkan tidak menyangka Donghae sampai menampar Yoona. Tapi sedetik kemudian dia sudah tersenyum samar.

Yoona menyentuh pipinya yang Donghae tampar, menatap Donghae tajam seperti akan membunuh Donghae seketika itu. Tapi Donghae tidak mempedulikannya. Dilepasnya jas kantornya, lalu menutup bahu Clara dengan jas itu. Kemudian menuntun Clara keluar.

Yoona terdiam ditempatnya, sedetik kemudian dia terduduk dilantai toilet itu. Ini benar-benar sangat menyakitkan baginya. Ditampar dan dipermalukan didepan orang-orang, bahkan orang yang menonton mereka kini menatap Yoona dan mencibirnya. Yoona tidak menangis walaupun dadanya sangat sesak, tapi Yoona tidak ingin semakin tampak lemah dihadapan orang banyak.

 

>>>>>

Setelah merapikan kembali pakaian dan rambutnya didalam toilet restoran itu, ya walaupun masih belum dapat dikatakan rapi, karena kemeja putih yang digunakannya terdapat bercak-bercak coklat. Beberapa memar ditulang pipi dan pipi sebelah kiri yang masih memerah walaupun tadi Yoona sudah mengompresnya di restoran itu. Bibi pemilik restoren itu sudah mengenal Yoona, dan percaya Yoona tidak mungkin yang memulai pertengkaran itu. Bahkan bila diperhatikan lebih baik, luka yang Yoona alami lebih parah dari pada Clara.

Yoona harus kembali ke kantor, sekaligus mengganti pakaiannya di ruangannya. Ketika Yoona berjalan melewati lobby perusahaan, tiba-tiba terdengar keributan lagi.

“aish, anak nakal. Sudah ku katakan jangan berkeliaran disini. Kau minta dipukul ternyata”, teriak security terhadap anak laki-laki berumur sekitaran lima tahun. Setelah Yoona sadar siapa anak laki-laki itu, Yoona kaget.

“HENTIKAN”, teriak Yoona ketika security itu hampir akan melayangkan pukulan kepada anak kecil itu. Suara Yoona menggema di lobby perusahaan itu, membuat semua mata mengarah kepadanya.

“apa yang Anda lakukan?”, Tanya Yoona tajam pada security itu. Security itu segera membungkuk memberi hormat pada Yoona.

“dia menghancurkan vas bunga, menumpahkan air dari ember yang office boy gunakan tadi, lalu dia mengotori lantai dengan es krimnya Nona Im”, jelas security itu. Memaparkan semua yang sudah dilakukan anak kecil itu. Yoona menatap anak kecil itu yang seketika langsung menundukkan kepalanya. Yoona pun berlutut untuk mensejajarkan tingginya dengan anak itu, lalu mengangkat dagu anak itu agar menatapnya. Terlihat ketakutan dimata anak itu.

“benarkah yang dia katakana?”, Tanya Yoona pada anak kecil itu. Anak kecil itu mengangguk ketakutan. Yoona menghela napas, hari benar-benar sangat berat buatnya.

“aku mewakili anak ini minta maaf buat kekacauan yang terjadi. Segala kerusakannya akan aku ganti nanti dan apa kau punya anak?”, Tanya Yoona. Security itu mengangguk.

“lalu jika anak mu berbuat nakal, apa Anda akan langsung memukulnya? Bukan menasehatinya?”, Tanya Yoona lagi. Namun kali ini adalah sindirian dan juga wujud kemarahan Yoona. Security tadi menggeleng kaku, pasalnya dia tahu siapa Im Yoona. Dan ini kali pertama security itu berbicara langsung dengan Yoona, dan rasanya sangat menyeramkan. Bulu romanya langsung berdiri mendengar perkataan Yoona yang sangat dingin dan menusuk itu.

“mmm, jadi tolong kendalikan emosi Anda. Dia hanya anak kecil”, jelas Yoona lagi.

“kembalilah bekerja”, perintah Yoona. Sang security itu pun membungkuk hormat, lalu kembali kedepan pintu utama lobby.

Yoona memandang anak kecil itu yang lagi-lagi menunduk. Menegakkan kepala anak itu lagi, lalu memberi senyum terindahnya. Yoona merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, anak kecil itu pun tersenyum senang, langsung masuk kedalam pelukan Yoona.

“OMMA~”, teriak anak kecil itu kepada Yoona.

 

TBC…

 

Tada…., hayo, kaget ya… (hihihi..)

Maaf ya untuk Chapter 2 ini aku memberi kejutan buat kalian. Dan kejutan itu adalah salah satu hal yang sudah terjadi selama tujuh tahun YoonHae berpisah. Aku akan menceritakan secara berlahan apa-apa saja yang udah terjadi selama tujuh tahun terakhirnya.

Dan untuk chapter ini udah panjang menurut aku.

Semoga Feelnya dapat ya…

Jadi selamat menunggu untuk chapter 3…

Jangan lupa komentarnya ya…

Biar aku semangat untuk melanjutkannya…

See You… Bye

Bow~

Advertisements

6 thoughts on “I Hate U (Chapter-2)

  1. RachelYH

    Dasar ikan amis,branii bnget dia nampar Yoona eonni,Yoona eonni kan gak slh..
    Yg slh itu si Clara..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s