I Hate U (Chapter-1)

I HATE YOU

Title : I Hate U (Chapter-1)
Author : Fi_ss
Cast : Im Yoona and Lee Donghae
Genre : Romance, Hurt, Sad, ect
Length : Chapter
Author Note : Hai hai hai… Aku balik lagi nih bawain FF aku yang kali ini chapter. Oh ya untuk FF You Are So Perfect ada yang minta sequel. Sebenarnya aku gak ada kepikiran untuk buat sequel awalnya, tapi karena ada reader yang minta, akhirnya aku ‘mutar otak’ untuk dapat ide ceritanya. Dan selamat buat kalian yang minta sequel, karena storynya dalam proses sekarang. Untuk genrenya aku buat full romance YH. Jadi sabar ya, menunggu sampai rampung semua. Nah balik ke Story kali ini cukup panjang, bisa 7 – 9 chapter. Dan untuk chapter yang pertama ini mungkin belum panjang (masih pemanasan, hehehe). Untuk karakter castnya silahkan nikmati alur ceritanya aja, entar pasti tahu. Ok, Happy Reading and Sorry For TYPO

>>>>>

Pagi yang cerah di kota itu, memperlihatkan betapa indahnya ciptaan sang kuasa. Tampak manusia akan memulai harinya yang baru untuk memperoleh hal yang baru pula namun tetap dalam keadaan yang teratur dan tenang. Namun hal berbeda terjadi disebuah keluarga yang semula sepi tiba-tiba terjadi kegaduhan yang disebabkan putri semata wayang Im Jae Sik dan Kim Yong Sun.
“Omma… dasiku dimana?”, teriak seorang gadis dari lantai dua kediaman keluarga Im. Ny Im yang mendengarnya menghembuskan napas dengan kasar, menahan kemarahannya akibat kegaduhan yang disebabkan putrinya.
“OMMAAAA…..”, teriak gadis itu lagi.
“ADA DILACI IM YOONAAAA”, teriak Ny Im sudah tak dapat menahan diri lagi. Kali ini kesabarannya menghadapi putrinya yang selalu kekanak-kanakan, manja, serampangan, dan sulit diatur itu sudah tidak terbendung lagi. Tiap pagi Yoona akan selalu berteriak memanggil ommanya hanya untuk menanyakan dimana dasi, tas, buku atau apalah itu – dimana untuk yang kesekian kalinya Ny Im sudah memberitahukan bahwa semuanya itu selalu berada ditempat semula dimana benda-benda itu seharusnya berada – dan Yoona selalu melupakannya. Hari ini bahkan hari terakhir putrinya itu menginjakkan kakinya di SMA untuk upacara kelulusan, sayangnya tak ada perubahan yang berarti dari sikap putrinya.
“sudahlah Yeobo. Jangan marah-marah terus, dia hanya lupa”, Tuan Im mencoba menenangkan istrinya. Ny Im menatap tajam suaminya karena mencoba membela Yoona.
“terus saja bela putrimu itu walaupun dia salah. Lihat saja nanti dia pasti akan kesulitan mencari pasangan hidupnya jika selalu seperti itu. Benarkan Hea-ya?”, Ny Im menatap namja yang duduk sesamping suaminya, yang sedang menikmati sarapan paginya – berharap namja itu akan berada dipihaknya.
“Ne omma. Aku setuju. Dia akan menjadi perawan tua jika sikapnya itu tidak berubah juga”, Lee Donghae lebih memilih menjadi pihak Ny Im dari pada nantinya setiap pagi dia tidak mendapatkan sarapan pagi yang lezat seperti pagi ini. Ny Im tersenyum senang karena Dongha lebih berpihak kepadanya.
“siapa yang PERAWAN TUA LEE DONGHAE?”, Yoona tiba-tiba hadir diruang makan dengan seragam sekolahnya yang sudah rapi dan rambut kuncir kudanya. Donghae meneguk susu coklatnya dengan sulit ketika Yoona menatapnya dengan tajam. Donghae tersenyum dengan kaku. Yoona rasanya ingin menjahit mulut Donghae sekarang, tapi diurungkannya mengingat hal itu bukan yang terpenting sekarang.
“appa akan mengantarku ke sekolahkan?”, Tanya Yoona pada Tuan Im.
“Mianhae chagi, appa ada operasi dadakan di Rumah Sakit pagi ini. Donghae saja yang antar ya. Tapi appa janji akan datang ke acara kelulusanmu siang nanti”, jelas Tuan Im mencoba membujuk putri kesayangannya itu. Yoona terdiam, matanya sudah berkaca-kaca, kecewa terhadap appanya. Tuan Im yang menyadarinya, segera mengeluarkan Gold Card dari dompetnya dan langsung menyodorkannya kearah Yoona.
“sebagai permintaan maaf appa karena tidak bisa mengantarmu pagi ini”, jelas Tuan Im. Mata Yoona yang awalnya berkaca-kaca berubah berbinar dalam hitungan menit melihat kartu itu.
“berapa pun boleh?”, Tanya Yoona mencoba keberuntungannya. Dan benar saja, Tuan Im mengangguk setuju. Sedangkan mata Ny Im membulat karena tidak setuju dengan jawaban suaminya.
“tapi Yeobo ap-“
“sudah biarkan saja. Hanya sekali-sekali.”, ujar Tuan Im memotong perkataan istrinya. Ny Im mendengus kasar lalu menatap Yoona horor. Namun orang yang ditatap santai saja, menikmati sarapan paginya.
“Hae-ya, maaf merepotkanmu”
“tidak apa appa. Kebetulan aku tidak ada kegiatan pagi ini”, Tuan Im tersenyum senang. Lee Donghae adalah putra sahabatnya semasa kuliah dulu – Lee Dong Wook. Namun berbeda dengan dirinya yang seorang Dokter Spesialis, sahabatnya itu malah terjun kedunia bisnis. Dan hebatnya bisnisnya berjalan dengan sangat luar biasa. Lee Donghae putra keduanya sepertinya yang akan mewarisi bakat dari sahabatnya itu. Lee Donghae sudah dianggap seperti putranya sendiri, terlepas dari ia yang hanya memiliki Yoona seorang.
“Oppa, ayo berangkat aku sudah terlambat”, perintah Yoona.
“Appa, Omma, aku berangkat. Dan jangan lupa nanti siang”, teriak Yoona yang sudah berjalan cepat keluar rumah. Lee Donghae yang sejak tadi masih menikmati sarapan lezatnya, terkejut dengan perintah Yoona yang tiba-tiba.
“YAK… Yoong aku belum selesai sarapan”, balas Donghae tapi sayangnya orang yang diteriki sudah tak terlihat lagi batang hidungnya. Donghae mendesah pasrah. Yoona tetaplah Yoona si tuan putrid yang tidak bisa diatur.
“Appa Omma, kami berangkat dulu. Sampai ketemu nanti siang”, pamit Donghae sambil membungkukkan badannya. Lalu pergi mengejar Yoona.
“kapan mereka akan menyadari perasaan mereka masing-masing. Jelas-jelas mereka saling menyukai, dasar pasangan bodoh.”, umpat Ny Im diakhir. Dia pusing dengan tingkah kedua anaknya itu – saling menyukai namun tidak ada satu pun diantara mereka yang mau mengutarakannya, sehingga membuat seluruh keluarga gemas dengan tingkah Donghae dan Yoona.
“Apa sebaiknya kita tunangkan saja mereka? Dong Wook dan Hana pasti setuju”, ujar Ny Im tiba-tiba mendapatkan ide brilian itu.
“sudahlah yeobo. Biarkan mereka menyadarinya sendiri”, ucap Tuan Im. Ny Im mendengus karena suaminya tidak mendukung idenya.

***********

Terjadi keheningan didalam mobil yang diisi oleh sepasang manusia yang sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Donghae yang tampak berpikir bagaimana menyampaikan kepada Yoona bahwa keberangkatannya ke New York dipercepat menjadi besok. Sedangkan Yoona bingung memilih kata-kata yang tepat untuk mengajak Donghae makan malam nanti sekaligus ingin mengutarakan perasaannya.
“khmmm. Yoong?”, Donghae akhirnya memilih untuk memecah keheningan diantara mereka.
“mmm”, gumam Yoona yang pura-pura asyik dengan Handphonenya.
“be-besok aku akan berangkat ke New York”, ucap Donghae dangan satu tarikan napas. Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. Ketika lampu lalu lintas berwarna merah, Donghae menghentikan mobilnya lalu menatap Yoona yang belum beresponnya dari tadi.
“Yoong?”
“….”
“Yoong, katakan sesuatu”, pinta Donghae. Namun Yoona masih betah dengan diamnya. Donghae menghela napas. Sepertinya akan terjadi lagi pertengkaran hebat diantara mereka.
“ kenapa baru mengatakannya kepada ku sekarang?”, Tanya Yoona tapi pandangannya masih kearah layar handphonenya. Mata Yoona sudah berkaca-kaca menahan tangisnya. Dia tidak ingin menangis dihadapan Donghae yang dirasanya seperti menghianatinya sekarang ini. Bagaimana tidak, seminggu yang lalu tiba-tiba Ji Yeon – gadis pesolek senior Yoona dulu di SMA yang sangat tergila-gila dengan Donghae – meneleponnya dan menanyakan mengapa Donghae mempercepat keberangkatannya ke New York. Yoona terkejut pasalnya dia sendiripun tidak tahu tentang kabar itu. Dan yang membuat Yoona semakin marah adalah ketika Ji Yeon mengaku bahwa Donghae sendiri yang memberitahukan keberangkatannya langsung kepada Ji Yeon. Sedangkan Yoona yang sudah hidup bersama Donghae hampir sepanjang hidupnya, tidak diberitahu. Yoona sangat kecewa saat itu, ingin memaki Donghae namun ditahannya.
“ohh, kau sudah tahu ternyata”, Donghae terkekeh ketika ingat beberapa menit yang lalu otaknya berputar-putar memikirkan bagaimana cara mengatakan keberangkatannya kepada Yoona yang ternyata sudah tahu. Namun sayangnya Donghae tidak menyadari bahwa pertanyaan Yoona tersebut terkesan dingin.
Mendengar jawaban Donghae yang terkesan santai, kemarahan Yoona samakin menjadi-jadi. Genggaman pada handphonenya semakin kuat. Dialihkan pandangannya pada namja tampan yang sangat digilainya sejak dirinya menduduki Junior High School itu dengan mata tajam.
“kau bilang hanya ‘oh, kau sudah tahu ternyata’?”, Tanya Yoona tajam. Donghae mengerutkan keningnya, heran dengan perubahan nada bicara Yoona. Bahkan tidak ada panggilan oppa seperti biasanya.
“Wae? Kenapa kau berbicara seperti itu?”, Tanya Donghae hati-hati, sadar suasana hati Yoona tidak dalam keadaan baik.
“WAE? KAU BILANG. Ckk…” Yoona mendesis kesal. “YAK, LEE DONGHAE-SSI, tidakkah kau merasa bersalah sekarang?”, lanjut Yoona.
“YAK, AKU LEBIH TUA DARIMU. DIMANA SOPAN SANTUNMU IM YOONA”, Donghae yang merasa tidak bersalah dan medengar perkataan Yoona yang tidak sopan, menyulut emosinya.
“kau memberitahukan keberangkatanmu besok baru sekarang, apakah itu tidak keterlaluan? Sedangkan kau memberitahu pada ‘jalang’ itu seminggu yang lalu. Kau anggap apa aku Lee Donghae?”, tetesan air bening sudah mengalir diwajah Yoona. Namun Donghae tidak peduli.
“JAGA MULUTMU IM YOONA”, terik Donghae yang sudah tidak tahan dengan cara berbicara Yoona seperti tidak diajarkan bagaimana berbicara yang baik. Yoona terperanjat dari duduknya. Ini pertama kalinya Donghae membentaknya seperti ini.
“Ka-kau membentak ku?”, Yoona ketakutan sekarang dan Donghae sadar akan itu.
“NE. KENAPA? KAU TIDAK SUKA? KAU INGIN MENGANCAMKU DENGAN TIDAK MAU BERBICARA LAGI DENGAN KU?”, terik Donghae lagi, Dia tidak bisa membendung amarahnya kali ini.
“Ok, kalau kau tidak ingin berbicara lagi denganku, silahkan. Kalau perlu untuk selamanya”, lanjut Donghae suara yang sudah lebih tenang. Tapi berbanding terbalik dengan yeoja yang hanya bisa meremas ujung roknya karena takut, tidak ada lagi bekas air mata dipipinya karena Yoona dengan mati-matian menahanya.
Tit… titt…titttt….
Klakson mobil dibelakang mereka menyadarkan Donghae dari kemarahannya. ‘sial’ maki Donghae dalam hati. Segera melajukan mobilnya kembali. Yoona hanya menunduk dan diam sedari tadi dan Donghae tidak harus berbuat apa ketika sadar kalimat terakhir yang dilontarkannya sudah keterlaluan. Bukan kepada Yoona, lebih tepatnya kepada dirinya sendiri. Bagaimana bisa Yoona tidak berbicara kepadanya untuk selamanya. Sedangkan sehari saja Donghae tidak mendengar suara Yoona sudah sangat membuatnya gelisah, apalagi untuk selamanya. Donghae ingin menarik kembali kata-katanya tadi, tapi tidak tahu bagaimana caranya.
Tanpa disadari, mereka telah tiba di depan gerbang sekolah Yoona. Masih terjadi keheningan diantara sepasang manusia yang sedang berperang batin itu.
“Yoong, ak-“
“Kamsahamnida”, potong Yoona dengan cepat dan keluar dari mobil tanpa memandang Donghae sedikitpun. Donghae benar-benar sadar, dirinya beberapa menit yang lalu sudah kelewat batas hingga membuat Yoonanya seperti sekarang. Yoonanya tidak pernah berbicara formal seperti tadi, ini kali pertamanya. Yoona biasanya berbicara sesuka hatinya tanpa bisa dihentikan. Donghae meremas rambutnya dengan kuat, mengerang sambil memaki-maki dirinya sendiri.

*******
Tepat beberapa menit yang lalu acara kelulusan dan pelepasan murid tingkat tiga SMA Hansen selesai. Terlihat murid-murid berlarian berhambur kepelukan orang tua mereka. Namun berbeda dengan yeoja yang berjalan santai menuju orang tuanya, tersenyum seadanya. Tuan Im dan Ny Im saling memandang, merasa aneh dengan raut muka putrid mereka yang selalu ceria dan serampangan tiba-tiba terlihat tenang. Tuan Im melangkah lebih dulu mendekati putrinya.
“wae?”, Tanya Tuan Im sambil mengelus pipi putrinya yang terlihat sedikit pucat. Yoona hanya menggeleng, tidak mengatakan apapun.
“tapi kenapa wajah putri appa yang cantik, terlihat murung seperti ini? Padahal appa sangat bangga karena putri appa mendapat peringkat teratas. Kau tidak senang?”, Tanya Tuan Im lembut. Mendengar kelembuatan appanya Yoona semakin tidak bisa membendung air mata yang sudah ditahannya selama acara kelulusan berlangsung. Segera dipeluknya tubuh appanya dengan kuat sambil menangis. Tuan Im tersenyum sambil mengelus-elus punggung Yoona lembut.
“aigo, aigo. Kenapa wajahmu seperti itu. Bagaimana omma bisa melepaskan dan segera menikahkanmu jika kau masih sangat manja seperti itu”, sindir Ny Im ketika melihat suami dan putrinya saling berpelukan tanpa mengajaknya. Yoona melepas pelukannya, beralih memeluk Ny Im.
“omma jangan cemburu. Appa hanya mencintai omma”, ujar Yoona. Mencoba bercanda, tidak ingin membuat orangtuanya sedih. Biarlah dirinya seorang yang merasakan kesakitannya.
“tapi sayang, kenapa badanmu hangat dan bergetar?”, Tanya Ny Im, segera melepas pelukannya, meletakkan punggung tangannya di kening Yoona.
“yak, kau demam”, ujar Ny Im panik. Tuan Im yang mendengarnya pun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan istrinya pada kening Yoona.
“Kau deman sayang. Ayo kita ke Rumah Sakit”, ujar Tuan Im, mengandeng tangan Yoona.
“anni appa. Aku tidak apa-apa”, jawab Yoona. Dia tidak ingin kerumah sakit, dia ingin istirahat saja dirumah.
“tapi sayang –“,
“jinjja, aku tidak apa-apa omma. Minum obat penurun demam saja pasti sembuh. Kita pulang saja ya”, bujuk Yoona pada kedua orangtuanya yang masih terlihat khawatir.
“baiklah”, balas Ny Im.
*******
Keesokan paginya, Yoona terbangun dari tidur panjangnya, lalu mencoba mendudukkan tubuhnya yang masih terasa lemas. Diraihnya handphonenya disamping bantal. Menyentuh layarnya, ada beberapa pesan dari Kyuhyun – teman sekelasnya – menanyakan keadaannya. Selebihnya tidak ada pesan lagi. Padahal Yoona masih berharap Donghae akan menghubunginya atau mengirim pesan. Tapi sepertinya itu hanyalah harapan yang sia-sia. Tiba-tiba suara pintu kamarnya yang terbuka mengalihkan perhatian Yoona.
“kau sudah minum obatnya”, Tanya Ny Im ketika masuk melihat keadaan putrinya. Yoona segera mengalihkan pandangannya dari layar handphone pada ommanya. Lalu tersenyum dan mengangguk. Yoona memandang bingkisan besar dan buket bunga besar yang ada ditangan ommanya.
“ini dari Donghae. Dia minta maaf karena tidak bisa datang ke acara kelulusanmu”, ujar Ny Im sambil meletakkan buket bunga dan bingkisan itu diatas meja samping tempat tidur Yoona.
“oh kau ingatkan dia akan berangkat pagi ini ke New York?”
“ne”, balas Yoona seadanya. Bagaimana dia bisa lupa bahwa hal itulah yang menjadi asal-muasal pertengkaran mereka kemarin. Ny Im memandang Yoona, merasa ada yang tidak beres antara Yoona dan Donghae.
“kalian bertengkar lagi? Sekarang apalagi yang kau permasalahkan. Jangan kekanak-kanakan Im Yoona”, ujar Ny Im tajam. Setiap Donghae dan Yoona bertengkar pasti penyebabnya adalah akibat ulah Yoona yang selalu kekanak-kanakan atau karena Donghae yang sedikit terlambat menjemput Yoona, lalu Yoona akan merajuk seharian. Namun ajaibnya keesokan harinya Yoona sudah menempel lagi pada Donghae.
“sudahlah. Segera hubungi Donghae dan minta maaf. Jangan sampai menyesal. Ingat dia akan pergi jauh”, Ny Im langsung berujar sebelum Yoona sempat menyampaikan protesnya, lalu keluar dari kamar Yoona.
“apa yang sudah kau lakukan pada keluargaku Lee Donghae? Kenapa mereka lebih berpihak kepadamu dari pada aku anak mereka”
“tidakkah ini sudah sangat keterlaluan. Kau namja brengsek, yang sudah menghancurkan perasaanku. Hiks..”, Yoona berbicara sendiri dan menangis.
“aku sangat membencimu Lee Donghae”
“Dan aku – hiks hiks -sangat mencintaimu”, akhirnya Yoona dapat mengatakan seluruh perasaannya yang seharusnya disampaikannya ketika Yoona berencana mengajak Donghae makan malam setelah kelulusannya. Namun semuanya gagal karena pertengkaran mereka.

*******
Donghae sudah dalam pesawat pemberangkatan menuju New York. Pemberitahuan dari bagian maskapai penerbangan untuk menonaktifkan handphone pun sudah disampaikan untuk kedua kalinya. Namun Donghae belum berniat untuk menonaktifkan handphonenya. Dia ingin menghubungi Yoona untuk minta maaf tapi Donghae bingung harus memulainya dari mana. Ketika Donghae sudah menyerah untuk memikirkannya, tiba-tiba handphonenya bergetar dan tertera nama ‘Uri Yoong’ di layarnya. Segera ditekannya tombol hijau.
“young?”, Tanya Donghae langsung tanpa memberi salam dulu. Donghae tampak tidak sabar ingin mendengar suara Yoona. Donghae sangat merindukan Yoona sekarang. Tapi dia tidak bisa mengundur keberangkatannya lagi. Karena perusahaan keluarganya yang ada di New York mengalami kekosongan pemimpin.
“young? Kau mendengarku?”, Tanya Donghae lagi karena belum ada jawaban dari Yoona.
“…..”
“Tuan maaf sebenar lagi pesawat akan landing, mohon handphonenya menonaktifkan”, ujar pramugari yang menegur Donghae. Donghae terlihat kesal dengan pramugari itu, lalu mengangguk tapi tidak langsung matikan handphonenya. Tapi sepertinya dia harus mematikan handphonenya segera karena pramugari itu sudah menatapnya tajam. Ketika niatan Donghae ingin menjauhkan handphone dari telinganya, tiba-tiba suara bisikan Yoona terdengar. Donghae terdiam kaku, lalu tersenyum lebar hingga detik berikutnya dia mematikan handphone.

*******
“sa-saranghae” tut tut tut..
Setelah Yoona mengatakan perasaannya, tiba-tiba sambungannya terputus. Donghae memutus sambungan teleponnya. Bagai tertusuk ribuan pisau, luka dihati Yoona semakin melebar karena tindakan Donghae tadi. Yoona lagi-lagi berharap Donghae akan membalas perasaannya, dan itu lagi-lagi hanyalah sekedar harapan. Yoona menangis, kedua telapak tangannya menutup mulutnya untuk meredam isakannya. Yoona tidak ingin omma dan appanya mendengarnya menangis. Yoona ingin menangis sendiri sekarang ini untuk meluapkan perasaan sakitnya. Yoona bertekat setelah menangis, ia akan bangkit dari kesakitannya dan memulai menjadi Yoona yang baru. Yoona yang tidak akan dapat dipermainkan oleh orang lain, termasuk makhluk bernama Lee Donghae.

********
7 Tahun Kemudian…
Seorang gadis cantik – bergaun putih sederhana dengan panjang lima centi diatas lutut membalut kulit putihnya – masih betah berada didepan monitor Komputer sambil mengetikkan sesuatu dengan keyboard. Tumbukan kertas-kertas dimeja, tempat alat tulis, bingkai foto keluarga – sepasang pria dan wanita paruh baya sedang memeluk gadis cantik yang berdiri diantara mereka sambil tersenyum ceria -, dan juga secangkir coffe tertata rapi diatas meja kerjanya.
“Yoong, ayo makan”, teriak seorang gadis jangkung yang dengan santainya masuk ke ruang atasannya tanpa mengetuk terlebih dahulu. Membuat Yoona mengalihkan pandangannya dari layar monitor kearah bawahan sekaligus sahabatnya itu.
“Ny Cho, ini adalah kantor. Dimana sopan santunmu ketika masuk keruangan atasanmu?”, ucap Yoona dengan dingin. Sedangkan gadis yang disebut Ny Cho itu mendengus kesal karena harus menghadapi Yoona yang sangat kaku, walaupun dia tahu Yoona bukanlah orang yang sekaku itu. Itu hanyalah topeng untuk pertahanan diri gadis itu.
“ohh, ayolah Yoong. Kau membuatku seperti karyawan yang sangat buruk. Dan satu lagi, jangan memanggilku dengan sebutan Ny Cho. Kyuhyun belum melamarku, ingat itu. Dia masih lebih menomor satukan dirimu dibandingkan aku kekasihnya”, tiba-tiba Sooyoung merasa sedih menyadari dirinya adalah gadis diurutan kedua dalam hidup Cho Kyuhyun. Yoona yang menyadari perubahan suasana hati sahabatnya itu, segera berdiri meraih tas tangannya, beranjak mendekati Sooyoung, menggandeng tangannya.
“Mian Soo. Aku akan menghajar Kyuhyun jika tidak segera melamarmu secepatnya”, rayu Yoona. Sooyoung tersenyum senang. Bukan karena perkataan Yoona, tapi karena Yoona sudah tidak terlihat sekaku tadi. Dia tidak masalah dengan dirinya yang ada diurutan kedua, karena dia percaya bahwa Kyuhyun hanya mencintai dirinya seorang dan Im Yoona yang sudah dianggap seperti saudaranya. Dan Sooyoung juga tahu bahwa hanya ada satu namja yang sangat dicintai dan sangat dibenci oleh Yoona.
“kau yakin bisa membujuknya untuk segera melamarku?”, Tanya Sooyoung tiba-tiba antusias.
“mmm, kau lupa, aku Im Yoona yang selalu bisa membuat seorang evil seperti Kyuhyun bertekuk lutut dengan mudahnya”, bangga Yoona.
“sudahlah. Ayo kita makan. Kyuhyun sudah menunggu kita kan?”, Yoona segera mengalihkan pembicaraan mereka. Yoona tidak suka dalam suasana selalu merasa bersalah terhadap Sooyoung karena Kyuhyun lebih menomor satukannya daripada Sooyoung. Dan itu akan menyulut emosi Yoona untuk selalu memaki Kyuhyun yang bodoh.

*******
TBC

Yeee, selesai juga chapter 1..
Gimana? Semoga feelnya kesampaian ya…
Jangan lupa menyempatkan untuk memberi komentarnya
Gomawo~
Bow

Advertisements

11 thoughts on “I Hate U (Chapter-1)

  1. Hello! aku readers baru dan salam kenal ^_^ Fanficnya bagus , alur ceritanya juga bagus !!! Jadi penasaran dengan kelanjutan ceritanya…Fighting Author !!

  2. Makasih udah mau berkunjung..
    untuk kelanjutannya sabar ya, masih dalam proses…
    Silahkan menjelajahi WP aku dan baca FF yang lain..
    Gomawo~ ❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s