You Are So Perfect (Oneshoot)

You Are So Perfect

Title                 : You Are So Perfect (Oneshoot)

Author             : Fi_ss

Cast                 : Lee Donghae and Im Yoon Ah

Genre              : Romance, Friendship, Comedy (maybe)

 

Hari ini tepat pergantian musim di negara ini. Daun-daun mulai berubah warna menjadi kuning kecoklatan, angin berhembus kencang namun menyejukkan. Ini tanda-tanda memasuki musim gugur. Terlihat seorang yeoja sedang mengayunkan kakinya dengan sangat cepat, tidak, lebih tepatnya yeoja itu sedang berlari dan juga tampak kebingungan diwajahnya. Apa dia tersesat?

“ahhh, gawat. Aku terlambat..”, cicit yeoja itu masih tetap berlari, sesekali berhenti untuk memperhatikan posisinya sekarang.

“ottokhe? Bisa-bisa Taeyeon unnie marah besar bila aku sampai tidak sempat menonton konser pertamanya. Dan kenapa gedung fakultas Seni ini sangat luas? Menyebalkan”, yeoja yang bernama Im Yoona itu tersesat dikampusnya sendiri.

 

Maklum saja dia masih mahasiswa semester dua yang masih sulit beradaptasi dengan lingkungan baru. Dan dia bukan dari fakultas Seni melainkan fakultas Psikology. Yoona pun tidak pernah masuk ke fakultas seni, ini baru pertama kalinya dia menginjakkan kakinya difakultas itu. Sungguh sangat disayangkan, walaupun memiliki wajah yang cantik, yoona termasuk gadis yang kurang bergaul. Dikampus ini saja dia hanya mengenal Kwon Yuri dan Kim Hyoyeon  sebagai seniornya sewaktu SMA dulu, Choi Sooyoung dan Seohyun teman sekelasnya. Sedangkan Kim Taeyeon adalah teman sekelas yuri dan hyoyeon di fakultas Seni namun dia seorang artis lebih tepatnya penyanyi yang sedang naik daun saat ini. Konser perdananya dilakukan hari ini di Aula Kesenian di fakultasnya sendiri sebagai ucapan terima kasih kepada kampus, dosen, dan sahabat-sahabatnya yang selalu mendukungnya.

 

Namun Yoona dengan bodohnya hampir melupakan itu karena ketiduran diperpustakaan. Sedangkan sahabat-sahabatnya sudah bisa dipastikan sudah ada diAula itu. Yoona berhenti berlari, dia sudah sangat lelah, butuh istirahat sejenak. Diperhatikannya sekeliling tempat dia berdiri sekarang. Sudah hampir sejam dia berlari-lari mencari Gedung Aula kesenian, tapi hasilnya nihil. Tiba-tiba pandangan yoona tertuju pada seorang namja berkaca mata bulat sedang duduk disudut lorong lantai dua tempat yoona berdiri sekarang.

‘tidak ada salahnya bertanya’, batin Yoona. Segera dia berlari menghampiri namja itu. Ketika tiba didekat namja itu yang ternyata sedang tertidur dengan telinga ditutupi headset. Dia menggunakan jubah putih. ‘apakah dia dari fakultas kedokteran? Kenapa dia istirahat disini’. Yoona tahu fakultas Kedokteran dan fakultas Seni bersebelahan. Tapi apakah tidak merasa aneh bila seseorang lebih memilih beristirahat di fakultas seni di bandingkan fakultas kedokteran yang selalu bersih, dan tertata dengan rapi. Hal ini berbanding terbalik dengan fakultas seni yang tidak pernah sepi. Yoona menggelengkan kepalanya. Bukan saatnya untuk memikirkan hal-hal yang tidak penting. Dengan keberanian yang besar, yoona menyentuh tangan namja itu dengan jari telunjuknya. Dan tak lama namja itu membuka matanya. Seketika kedua pasang mata itu saling bertemu. Terjadi keheningan beberapa detik, namun yoona segera tersadar.

“ekhmm”, yoona berdehem sejenak untuk mengembalikan suaranya yang tiba-tiba sulit keluar. Dan namja itu masih diam menatap yoona.

“mmm, pe-perrmisi. Ma-maaf mengganggu Anda sebentar”, yoona mulai berbicara dengan terbata-bata. Ada apa dengannya? Kenapa begitu gugup. Namja itu akhirnya memperbaiki duduknya, sadar bahwa dia tidak sedang bermimpi.

“a-aku sedang mencari Gedung Aula kesenian. A-apa Anda tahu dimana?”, Tanya yoona. Namja itu sempat terdiam tanpa respon sedikitpun. Hanya memperhatikan wajah yoona saja. Tiba-tiba namja itu berdiri membuat yoona mundur selangkah.

“ikut aku..”, perintahnya tanpa memandang yoona dan mulai melangkah.

‘mmm, Anda tidak perlu mengantar. Saya bisa sendiri. Cukup beritahu arahnya saja”, ujar yoona yang sudah mensejajarkan langkah kakinya dengan namja itu.

“tidak apa-apa dan jangan berbicara seformal itu. Panggil Donghae saja”, jawab Donghae sambil menunjukkan name tag yang tersemat dijubah putihnya. Yoona hanya tersenyum kaku. Mereka menaiki tangga hingga dua lantai. Lalu berbelok kesebelah kanan, lurus hingga berbelok kesebelah kiri. Dan terlihat sebuah pintu besar dengan disekelilingnya dipenuhi oleh papan-papan bunga ucapan selamat untuk Kim Taeyeon. Yoona merasa bodoh sendiri. Jelas-jelas dia melalu lantai ini tadi tapi ketika sudah berjalan lurus, dia tidak melanjutkannya. Dia berbalik kembali menuju tangga lantai lima. Benar-benar gadis bodoh. Wkwkwkw

“ahhh, kamasahamnida…. Dong-Donghae-ssi”, ucap yoona ragu ketika melafalkan nama Donghae. Yoona sangat sulit mengingat nama orang lain, apalagi yang baru dikenal.

“Ne cheonmaneyo….”, Donghae menggantung ucapannya. Ingin mengucapkan nama yeoja didepannya, tapi dia tidak tahu. Yoona yang menyadari hal tersebut segera berujar.

“Yoona. Im Yoona”, ucap yoona cepat.

“Ne cheonmaneyo Yoona-ssi”, ulang donghae lagi dengan senyum yang sangat menawan dan mata yang sendu. Yoona terpesona dengan namja yang ada didepannya ini.

“masuklah”, perintah Donghae lagi. Membuat yoona tersadar dari alam bawah sadarnya.

“ahh, Ne. sekali lagi kamasahamnida”, ucap yoona membungkuk 90 derajat yang dibalas Donghae dengan menganggukkan kepala saja. Yoona berbalik mulai berjalan cepat memasuki Aula itu. Donghae masih berdiri ditempatnya hingga ia tidak melihat yeoja itu lagi.

“Neomu yeppeo..”, gumamnya sambil tersenyum lebar. Segera beranjak pergi, tapi pandangannya mengarah pada benda berwarna kuning yang tergeletak dilantai.

“sepertinya ini miliknya”.

 

*****

“annyeong…”, ucap yoona dengan senyum kaku. Yuri, Hyoyeon, dan Sooyoung memandang yoona dengan tajam.

“mian”, ucap yoona mengerti dengan tatapan sahabat-sahabatnya itu.

“Unnie dari mana saja?”, Tanya Seohyun yang mengerti aura memangsa dari unnie-unnienya tersebut.

“hahh, jangan bilang kau tertidur lagi diperpustakaan”, ujar Yuri tajam. Yoona hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum.

“aku heran. Apa diperpustakaan disemprotkan obat tidur? Kenapa ada saja mahasiswa dengan santainya bisa tertidur disana”, sindir Sooyeong.

“mian. Aku sudah tiba sejam yang lalu. Tapi_”, ucap yoona menggantung. Dia malu mengatakan bahwa dia tersesat dikampusnya sendiri. Tapi jangan salahkan dia sepenuhnya. Memang kenyataannya Universitas Kyunghae memang sangat luas. Ketiga sahabatnya itu masih menunggu lanjutan perkataan yoona.

“aku… ter-tersesat”, ucap yoona sangat pelan. Namun masih bisa didengar oleh ketiga yeoja itu.

Seketika terdengar tawa membahana dari ketiga sahabatnya itu.

“hahaha, jinjja. Yoong kau benar-benar tidak tertolong”, Sooyeong tertawa mengejek.

“uri young benar-benar sangat lucu. Bagaimana bisa kau tidak tahu dimana Gedung Aula Kesenian. Kau seperti mahasiswa baru saja. Hahaha..”, ejek Yuri juga. Yoona hanya mengerucutkan bibirnya. Kesal dengan sahabat-sahabatnya yang menertawakannya.

“lalu bagaimana unnie bisa sampai kesini?”, Tanya seohyun sambil menahan tawanya.

“aku bertanya pada mahasiswa kedokteran yang kebetulan sedang duduk dilantai dua. Dan dia mengantarku sampai kesini”, jelas yoona dengan kesal.

“jinjja benar-benar memalukan”, ejek Sooyeong lagi. Yeoja ini benar-benar bermulut tajam.

“sudahlah unnie. Acara sudah mau dimulai”, ucap Seohyun.

 

*****

“Unnie… Congratulation”, teriak yoona dan Seohyun bersamaan, langsung memeluk taeyeon yang berada dibelakang panggung.

Konsernya sudah selesai beberapa menit yang lalu, Yoona dan sahabat-sahabatnya segera menuju kebelakang panggung untuk menemui taeyeon.

“taeyeon-ah chukkae…”, teriak yuri dan hyoyeon langsung memeluk taeyeon.

“taenggo~ chukkae”, teriak sooyoung sambil ber-aegyo. Memang diantara Yoona, Sooyoung, dan Seohyun yang termuda, hanya sooyoung yang tidak memanggil taeyeon ‘unnie’. Dengan alasan sooyoung selalu menganggap taeyeon seperti anak kecil.

“gomawo~ chingu-dul~”, balas taeyeon dengan aegyo. Benarkan taeyeon tidak terlihat seperti yeoja tertua diantara mereka.

 

*****

Selesai melepas rindu dengan taeyeon, kelima yeoja itu segera keluar dari aula untuk makan bersama. Ketika keluar dari pintu aula, seseorang namja mendekati mereka dan yuri menyadari itu. Dan sangat kebetulan dia mengenal namja itu. Tapi namja itu hanya menatap lurus kearah yeoja disebelahnya dengan tawa alligatornya.

“young sepertinya ada yang menunggumu”, ucap yuri.

“nde? ”, tanya yoona tidak mengerti. Yuri hanya mengarahkan telunjuknya kesebelah kiri yoona. Yoona menghadap kesamping kirinya dan benar seseorang melambai kearahnya. ‘dia? Mau apa?’, batin yoona. Yoona membungkuk memberi salam  kepada namja itu.

“ahh, aku hanya ingin mengembalikan ini”, donghae membuka telapak tangan kanannya. Yoona membulatkan matanya. Dia sangat mengenal benda kuning itu. Disentuhnya rambutnya dan benar jepit rambut kuningnya tidak ada disana.

“sepertinya terjatuh”, lanjut donghae menjelaskan bagaimana ia mendapatkan benda itu. Yoona mengambil jepitan itu, lalu menyematkan kembali ke rambutnya.

“ahh, kamasahamnida…”, yoona menggantung ucapannya. Dia lupa nama namja itu. Yuri yang sedari tadi hanya sebagai pengamat akhirnya angkat bicara.

“Donghae. Lee Donghae.”, ujar Yuri mengingatkan yoona nama pria itu.

“ahh nde, Donghae. Kamasahamnida Donghae-ssi”, ucap yoona malu karena melupakan nama namja yang baru beberapa jam yang lalu dikenalnya.

“mianhae Donghae-ya. Dia sangat sulit mengingat nama orang lain. Dan kau_”, tunjuk yuri kearah yoona.

“apa otakmu yang sangat pintar itu tidak bisa bekerja dengan baik. Bila kau lupa namanya setidaknya berusahalah untuk mencari tahu dari sekelilingmu. Contohnya name tag-nya. Ini jelas-jelas ada didepan matamu yoong. Aishh jinjja”, kesal yuri. Yoona menggembungkan pipinya karena selalu diomeli oleh yuri ditambah lagi sooyoung, hyoyeon dan seohyun yang menertawakannya.

“gwenchana yuri-ya. Aku bisa mengerti. Kami juga baru kenal tadi”, ucap donghae dengan senyum menawannya.

“jongmal mianhae”, ucap yoona. Donghae hanya mengangguk dan segera pergi. Yoona membungkuk kearah perginya donghae.

“wae?”, yoona heran karena ketiga yeoja yang ada disampingnya sedang melihatnya dengan pandangan yang seperti menyelidik.

“kau utang cerita kepada kami”, ujar hyoyeon. Segera ditariknya tangan yoona menuju café tempat mereka biasa berkumpul.

 

*****

“apa kau sengaja menjatuhkannya?” , Tanya sooyoung. Membuat yoona shock.

“what? Yang benar saja. apa kau baru mengenalku tadi pagi soo?”, yoona kesal dengan pertanyaan sooyoung. Dia bukan tipe yeoja seperti itu.

“tapi kenapa semuanya berjalan dengan sangat rapi? Mulai dari kau melihatnya dilorong lantai dua, lalu dia yang mengantarkan mu ke aula sampai dia yang menemukan jepit rambutmu. Benar-benar sangat rapi”, jelas sooyoung.

“molla, itu hanya kebetulan saja”, yoona mencoba menyangkal.

“kalau dilorong lantai dua, dia memang sering duduk disana. Aku sering bertemu dengannya disana. Katanya duduk dilorong itu sangat tenang”, yuri mencoba menganalisa juga.

“sepertinya kalian berjodoh”, ujar hyoyeon dengan santai.

“MWO?”, kaget yoona. Tidak menyangka hyoyeon bisa berpikir seperti itu.

“jangan asal bicara unnie”, balas yoona. Hyoyeon hanya mengangkat kedua bahunya.

“sudahlah ayo kita makan. Aku sudah lapar”, teriak yoona, mencoba mengalihkan topic pembicaraan mereka. Walaupun sebenarnya dia memikirkan namja itu.

Sambil menikmati makan siang mereka, sesekali bercanda dan yoona selalu menjadi korban kejahilan mereka.

“tapi yuri unnie, bagaimana unnie mengenal Lee Donghae?”, Tanya seohyun.

“ahh, kami berdua sering bertemu dengannya dilorong itu. Suatu hari, aku, yuri dan eunhyuk yang membawa gitar melewati lorong itu menuju ruang musik. Tiba-tiba dia bertanya kami mau kemana, lalu dia ingin ikut. Kami pun mengizinkannya. Sejak itu kami menjadi dekat”, jelas hyoyeon mewakili yuri yang masih dengan asyiknya melahap pizzanya.

“mmm, hyoyeon benar. Dan sepertinya dia berbakat dibidang musik juga. Benar-benar namja yang sempurna”, tambah yuri setelah selesai melahap habis pizzanya. Seohyun dan yoona hanya menggangguk.

“jika kau bisa mendapatkannya, kau benar-benar yeoja paling beruntung yoong”, Sooyoung yang sedari tadi asyik dengan makanannya berujar.

“akkkk”, yoona yang sedang asyik juga dengan makanannya, kaget dengan penuturan sooyoung.

Seohyun segera memberi yoona air minumnya.

“dan kesialan untuk donghae”, tambah yuri. Sooyoung dan yuri ber-high five karena mereka berhasil menjahili yoona lagi.

“aishh jinjja, kalian benar-benar menyebalkan”, yoona benar-benar kesal sekarang. Tapi yuri, hyoyeon, dan sooyoung tampak tidak peduli. Seohyun hanya bisa menggelengkan kepala dengan kejahilan unnie-dulnya itu.

 

*****

Dijalan yang gelap, tanpa penerangan sedikitpun, seorang yeoja berjalan dengan sangat cepat. Sambil merapatkan jaket yang menutupi tubuhnya yang menggigil kedinginan ditambah dengan ketakutan yang luar biasa karena jalan ini benar-benar sangat gelap. Pikiran-pikiran buruk sudah menumpuk dalam otaknya. Segera dikeluarkan handphonenya, menyalakannya agar ada sedikit cahaya. ‘aish kenapa lampu jalan ini tidak hidup? Jongmal, ini sangat menakutkan’, batin yeoja itu. Dibersimpangan blok, tiba-tiba seseorang muncul, membuat yoona kaget hingga terjatuh.

“AKKKK..”, teriak yeoja itu. Sedangkan namja yang sepertinya mengenal suara itu mencoba mendekatinya.

“ak-aku mohon, ja-jangan sakiti aku. Ak-aku akan memberikan semua uangku bi-bila kau melepaskanku”, tawar yeoja itu. Sang namja semakin mendekat.

DEG

‘Ya Tuhan selamatkan aku”, gumannya berulang-ulang kali.

“yoona-ssi. Kaukah itu?”, sang namja akhirnya berbicara. Mendengar suara namja itu, yoona tiba-tiba membuka matanya. Sadar bahwa orang yang ada didepannya ini mengenalnya.

“aku Lee Donghae. Kau sedang apa?”

‘donghae? Aish sial kenapa aku selalu mempermalukan diri sendiri didepan namja ini”, batin yoona merutuki dirinya sendiri.

“yoona-ssi?”, panggil donghae lagi. Yoona mencoba berdiri. Sedangkan Donghae berjalan kearah sudut jalan, tidak tahu sedang melakukan apa namun tiba-tiba jalan itu menjadi terang.

“kau baik-baik saja?”, Tanya donghae khawatir. Yoona hanya mengangguk, belum sadar sepenuhnya.

“kau baru pulang?”, Tanya donghae lagi.

“Nde. Apa yang kau lakukan disini donghae-ssi?”, Tanya yoona. Heran kenapa pria ini ada didaerah kompleks rumahnya.

“aku? Aku tinggal diblok B ini. Dan kau?”, jawab donghae.

“aku juga tinggal disini. Blok C”, ujar yoona dengan kekagetannya. Ini hanya kebetulankan. Kenapa semuanya dipenuhi dengan pria ini.

“jinjja? Wahh daebak”, jerit donghae. Tidak menyangka yeoja yang tadi dikenalnya ternyata satu kompleks dengannya.

“tapi kenapa kau sangat ketakutan tadi? Kau takut gelap yoona-ssi?”, tebak donghae.

“mmm”, hanya dibalas dengan suara dari tenggorokan yoona.

“kalau begitu, aku akan menemami mu sampai kerumah. Ayo”, perintah Donghae, sudah berjalan terlebih dahulu. ‘kenapa dia sangat suka memerintah dan bertindak sesuka hatinya?’, kesal yoona.

Malam ini angin berhembus dengan sangat kencang. Yoona benar-benar menggigil dibuatnya. Namun tiba-tiba rasa hangat menghampiri tubuhnya. Donghae memakaikan jaketnya dibahu yoona.

“pakailah sepertinya kau sangat kedinginan”, donghae menjelaskna tindakannya.

“tapi kau bisa terserang flu donghae-ssi”, yoona mencoba melepas jaket itu, tapi donghae menahannya.

“tidak apa-apa. Hanya sampai rumahmu. Setelahnya kau bisa mengembalikannya”, yoona tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Lagi pula dia juga sangat membutuhkan jaket donghae itu.

Sesampainya di depan rumah yoona, segera dikembalikannya jaket donghae.

“aku berhutang banyak padamu donghae-ssi”, ujar yoona. Donghae tersenyum lebar dengan perkataan yoona

“ya sepertinya begitu”, jawab donghae.

“apa yang harus kulakukan untuk membalas budimu?”, Tanya yoona. Donghae yang awalnya bercanda dengan ucapannya, tiba-tiba berpikir. ‘bukankah ini kesempatan?’

“mmm, balas budi ya? Bagaimana kalau berangkat kuliah bersama?”, tawar donghae.

“n-nde?”

“berikan handphone mu”, perintah donghae. Belum sempat berkata apa-apa, donghae sudah mengambilnya dari tangan yoona. Entah melakukan apa.

You are so beautiful, beautiful, lady~

Tiba-tiba suara deringan handphone terdengar. Donghae segera merogoh saku celananya. Mematikan panggilan masuk itu, lalu mengetikkan sesuatu.

“ini, aku sudah memasukkan nomor kontak ku. Nanti akan kuberitahukan jadwal kuliahku dan kau juga harus memberitahu jadwal kuliahmu untuk menyesuaikannya”, jelas donghae cepat.

“ta-tapi_”,

“tidak ada tapi yoona-ssi. Kau harus setuju. Masuklah…”, perintah donghae lagi.

Karena tidak bisa berbuat apa-apa, akhirnya yoona pasrah saja. dan segera masuk kedalam rumah.

“kau membuatku langsung jatuh cinta dalam hitungan beberapa jam yoona-ssi”, gumam donghae.

 

*****

“annyeong Yoona-ssi..”, sapa donghae ketika yoona tiba dipersimbangan blok rumah donghae. Sesuai dengan perjanjian, setiap hari senin, kamis, dan sabtu mereka akan berangkat bersama dipagi hari karena jadwal kuliah yang sama.

“nde, annyeong Donghae-ssi”, balas yoona dengan senyumnya. Donghae pun membalasnya dengan senyum dan mata sendu yang tertutupi kaca mata bulatnya.

“Kajja..”, ajak donghae. Yoona hanya mengangguk.

 

Begitulah yang terjadi hingga empat bulan terakhir ini, mereka semakin dekat satu sama lain. Bahkan donghae sering bermain kerumah yoona. Nyonya Im sangat menyukai donghae terlebih lagi Tuan Im, karena donghae bisa diajaknya untuk bermain catur atau memancing diwaktu weak end. Begitupun dengan Yoona, dia sering diajak oleh Nyonya Lee memasak bersama. Dan untuk Donghae dan Yoonanya sendiri, mulai tumbuh perasaan lain namun yoona masih memendamnya sendiri. Sedangkan Donghae sudah bercerita kepada yuri, hyoyeon dan eunhyuk tentang perasaannya kepada yoona.

 

*****

“yoong~”, panggil donghae kepada yeoja yang sedang menyandarkan kepala dibahunya. Suasana dikebun bungan matahari ini, membuat yoona mengantuk ditambah bahu namja yang selalu bersamanya ini sangan nyaman. Suasana yang sangat disukai oleh yeoja itu

“mmm”, hanya itu balasan yoona. Donghae mencoba menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan berlahan. Dia sangat gugup sekarang. Mengungkapkan perasaan kepada orang yang kita cintai benar-benar sangat menegangkan. Sampai-sampai tubuhnya ikut bergetar. Yoona yang menyadarinya, mengangkat kepalanya dari bahu donghae.

“wae oppa?”, Tanya yoona sambil mengerutkan kening.

“mmm, kita sudah saling mengenal bukan? Baik dan buruk satu sama lain juga sudah tau”, donghae memulainya dengan berlahan. Yoona hanya mengangguk mengetujui.

“jadi apakah aku bisa beranggapan bahwa hubungan kita bukan hanya hubungan orang yang tinggal satu kompleks, atau hubungan orang yang tidak sengaja kenal, atau hubungan oppa dan dongsaeng? A-aku..”, donghae berhenti sejenak. Dia kesulitan bernapas sekarang.

Deg Deg Deg

Jantung yoona tiba-tiba berdetak sangat cepat, ‘apakah ini saatnya? Ottokkhae?’, batin yoona tidak siap..

“a-aku ingin hubungan kita sebagai hubungan namja dan yeoja. Aku_ Aku mencintai mu Yoona”, ucap Donghae dengan satu tarikan napas saja. Yoona hanya diam, tidak ada respon sedikitpun.

“yoong~”, panggil Donghae.

“oppa aku mau pulang”, segera Yoona berdiri meninggalkan donghae sendiri dikebun bunga itu. Donghae hanya terdiam, matanya berkaca-kaca, dadanya terasa sangat sesak.

“aku ditolak~”, ucapnya lirih.

 

****

“Yakk, Im Yoona kenapa kau mempermainkan makanan seperti itu?”, teriak Sooyoung tidak suka dengan kelakukan yoona. Yoona tidak mendengar, masih melamun dan melanjutkan aksi memutar-mutar sendok dimangkuk mienya.

“Unnie, yoona unnie kenapa?”, Tanya seohyun pada sooyoung.

“aku tidak tahu Seo”, balas sooyoung.

“begitulah akibatnya bila menolak cinta pria yang benar-benar mencintai kita. Yang ada hanya penyesalan seumur hidup”, ucap yuri yang datang membawa nampan makanannya bersama hyoyeon.

“cinta siapa yang yoona tolak?”, Tanya sooyoung langsung penasaran. Begitupun dengan Soehyun.

“siapa lagi pria yang selalu ada disekitarnya setiap hari kalau bukan donghae”, jawab yuri mengindir yoona.

“dong-donghae oppa~”,  gumam soehyun.

“iya donghae, siapa lagi?”, jelas yuri kesal dengan keputusan yoona.

“bu-bukan. Maksud ku itu…”, tunjuk seohyun pada meja disudut kantin itu. Terlihat seorang namja yang menjadi topic pembicaraan mereka sedang duduk berhadapan dengan seorang yeoja cantik dan anggun, asyik bercanda. Semua mata mereka tertuju kerah sudut kantin itu, termasuk orang-orang yang sedang berada di kantin itu, tidak terkecuali yoona. ‘rasanya sangat sakit’

“siapa yeoja itu?”, Tanya sooyoung.

“Jessica Jung. Mereka memiliki julukan The best Couple difakultas kedokteran. Donghae dan Jessica sangat terkenal difakultas mereka. Mereka berdua pun sering ditunjuk sebagai perwakilan dari kampus kita untuk acara-acara penting. Ini semakin membuat para penggemar mereka bersemangat menjodoh-jodohkan mereka. Gosip ini pun sangat cepat menyebar kefakultas lainnya”, jelas yuri mengalihkan pandangannya ke wajah yoona. Matanya sudah berkaca-kaca menangan tangisnya.

“Jessica Jung benar-benar type wanita idaman donghae”, tambah yuri. Semakin membuat yoona tidak kuat lagi. Yuri sengaja mengatakan semuanya, agar yoona cepat sadar akan perasaannya dan bisa lebih jujur.

“aku ke perpustakaan dulu”, yoona segera meranjak pergi. Tidak ingin berlama-lama disana.

“aku bingung dengan jalan pikiran anak itu. Jelas-jelas dia mencintai donghae, tapi dia menolaknya”, ujar yuri memandang punggung yoona yang semakin menjauh.

“dan cemburu bila donghae dekat dengan yeoja lain”, tambah hyoyeon

“sudahlah, yoona pasti punya alasan tersendiri kenapa menolak donghae. Kita bahkan tahu, diantara kita berenam dia yang paling kuat. Jadi jangan terlalu khawatir, Yoona yeoja yang pintar dan bijak”, ujar Taeyeon yang sedari tadi hanya mengamati tingkah sahabat-sahabatnya itu. Walaupun tidak selalu ada bersama mereka, taeyeon selalu tahu apa saja yang terjadi dengan mereka dari Hyoyeon. Dan melihat kejadian tadi, sepertinya yoona memang sedang dilema. Tapi taeyeon cukup mengenal bagaimana cara berpikir yoona. Pasti banyak yang dipertimbangkannya.

 

*****

Yoona POV

Apa yang harus kulakukan? Bukankah tindakan ku ini tidak sewajarnya. Jelas-jelas aku sudah mencampakkan Donghae oppa, jadi aku tidak berhak untuk melarangnya dekat dengan yeoja lain. Aku memang benar-benar bodoh, menyia-nyiakan cintanya.

“mau sampai kapan kau disini?”, tiba-tiba seseorang menarik lepas headset dari telinga kananku.

“unnie~”, ujar yoona. Yuri mendudukkan bokongnya dilantai dingin sudut rak buku diperpustakan itu. Ini tempat favorit ku ketika datang ke perpustakaan kampus.

“kenapa wajahmu seperti itu? Seperti orang yang putus cinta saja”, ujar yuri unnie sarkartis.

“un-unnie~”, mata ku berkaca-kaca lagi. Aku tahu Yuri unnie sebenarnya tidak tega berkata demikian kepadaku. Yuri unnie memeluk tubuh ku yang bergetar karena menahan tangis.

“gadis bodoh~”, ucap yuri unnie ikut menangis.

“apa yang harus kulakukan? Aku mencintai Donghae Oppa. Aku tidak ingin kehilangannya unnie~”,

“makanya kau harus mengatakannya kepada donghae sekarang”

“tapi aku sudah terlambat unnie~, dia sudah bersama yeoja lain”, ucapku sesunggukan di pelukan yuri unnie.

“ani, belum terlambat. Kau harus mengatakannya”, ucap yuri unnie.

Yoona POV End

 

*****

Sungguh hari yang sial untuk yeoja tinggi itu. Dikala sedang patah hati, ditinggalkan sendiri dirumah karena orangtuanya harus pergi keluar kota untuk urusan bisnis, sampai dirumah dalam keadaan menggigil. Yoona lupa membawa jaketnya, akibatnya dia harus menerobos kencangnya angin tanpa dibalut jaket tebal.

“ahhh, aku harus segera menghangatkan diri”, Yoona bergegas menyalakan penghangat ruangan.

“kenapa menghangat ruangannya tidak berfungsi. Apa rusak?”, segera diraih handphone menekan beberapa tombol.

“omma~”, akhirnya sambungan telponnya terhubung.

“nde? Wae chagi?”, jawab wanita paruh baya diseberang sana.

“omma, kenapa penghangat ruangan tidak berfungsi? HAACIHHH”, yoona bersin ketika mengakhiri kalimatnya.

“omo, omma lupa memperbaikinya. Ottokhae? Kau terserang flu?”, Tanya wanita itu mulai khawatir dengan kondisi putri semata wayangnya itu.

“Sepertinya, tapi omma tidak perlu khawatir. Aku tidak apa-apa”, jawab yoona.

“jinjja?”, Tanya wanita masih khawatir.

“mmm. Tenang saja. sudah dulu ya omma. Sampaikan salamku pada appa. Bye~”, segera yoona putuskan sambungan telponnya. Beranjak menuju kamarnya, mengambil jaket tebal juga selimut. Ketika sendiri dirumah, yoona tidak suka tidur dikamar, jadi dia putuskan untuk tidur disofa ruang TV saja. Direbahkan tubuhnya disofa panjang, badannya semakin menggigil kedinginan.

Tok tok tok….

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang kencang.

“hahh, siapa yang datang malam-malam begini. Sial”, umpat yoona pada orang yang tidak tahu siapa diluar sana.

Tok tok tok

Lagi suara ketukan pintu terdengar. Yoona berjalan berlahan menuju pintu, kepalanya terasa sangat pusing sekarang.

“nde, sebentar”, ujar yoona lemah. Segera dibukanya pintu. Dan betapa kagetnya dia ketika mengetahui orang yang tadi diumpatnya adalah namja yang sudah seminggu ini menghilang dari hidupnya.

“op-oppa?”, ujar yoona. Donghae tidak membalasnya, segera masuk memperhatikan sekeliling rumah yoona. Lalu mendekati mesin penghangan ruangan. Hampir sejam berlalu tanpa ada interaksi diantara kedua manusia diruangan itu. Donghae sibuk memperbaiki mesin penghangat sedangkan yoona duduk menunggu saja sambil memperhatikan gerak gerik Donghae.

‘Apa dia marah padaku? Kenapa dia tidak berbicara sedari tadi?’, batin yoona tidak melepas pandangannya dari Donghae. Karena kepala yoona semakin pusing, diputuskannya untuk berbaring disofa, memejamkan mata. Kehangatan tiba-tiba yoona rasakan dikeningnya.

“kau demam. Ommonie benar, kau pasti demam”, ujar donghae meletakkan telapak tangannya dikening yoona. Yoona membuka matanya, tersenyum mendengar suara donghae.

“ommoni meneleponku tadi dan minta tolong untuk memperbaiki mesin penghangat ruangan dan mengecek keadaanmu. Dan benar saja, kau sakit”, ucap donghae panjang lebar. Terlihat kekhawatiran diwajahnya. Diambilnya kotak P3K yang tadi dibawanya dari rumah. Mengambil Stetoskop, mengarahkan ketubuh yoona. Mengecek mata dan lidah yoona. Donghae calon dokter yang sangat handal bukan? Ditambah dia namja yang tampan. Begitulah pemikiran yoona yang pasrah saja dengan perlakukan donghae.

“kau sudah makan malam?”, Tanya donghae masih dengan nada datar. Yoona hanya mengangguk mengiyakan.

“bagus. Sekarang minum obat supaya demammu turun”, perintah donghae. Yoona mendudukkan tubuhnya. Rasanya tubuhnya seperti tidak bertulang, sangat lemah. Donghae pergi kearah dapur, lalu kembali membawa segelas air minum.

“ini, minumlah”, sodor donghae segelas air dan obat. Yoona hanya menurut saja dengan perintah donghae. Selesai meminum obatnya, yoona kembali membaringkan tubuhnya. Dia butuh istirahat total. Tugas donghae sudah selesai, dia segera beranjak untuk pulang, namun tiba-tiba tangannya tertahan oleh tangan yang terasa sangat hangat. Donghae memandang tangan itu lalu beralih kewajah yoona yang pucat dengan mata masih tertutup.

“op-pa~”, ucap yoona lemah.

“Nde?”, akhirnya donghae mengurungkan niatnya untuk segera pulang.

“jangan tinggalkan aku~”, yoona telah membuka matanya, menatap mata donghae yang sangat dirindukannya itu. Donghae diam saja, hanya mengangguk.

Hiks hiks hiks

“young kau kenapa? Mana yang sakit? Beritahu oppa?”, donghae sangat khawatir ketika tiba-tiba yoona menangis.

“yoong~”, panggil donghae. Menyentuh kedua pipi yoona yang pucat. Dihapusnya air mata yoona. Dadanya terasa sakit melihat keadaan yoona seperti sekarang.

“oppa mianhae~”

“untuk apa?”

“aku sudah menyakiti perasaan oppa. Aku minta maaf oppa. Aku hiks…” yoona semakin kencang menangis.

“sudahlah tidak perlu dipikirkan. Aku mengerti”, donghae tahu maksud ucapan yoona yang telah menolak cintanya. Tapi sungguh donghae sudah tidak memikirkannya lagi. Lebih baik cintanya ditolak dari pada harus kehilangan yoona.

“apa yang oppa mengerti”, tanya yoona sedikit kesal dengan pernyataan donghae.

“ya, aku tahu bagaimana perasaan ketika seseorang menyatakan cintanya kepada kita dalam kondisi kita tidak siap. Aku sudah merasakannya. Aku tidak tahu mau mengatakan apa waktu itu”, jelas donghae. Yoona mengerutkan kening indahnya. ‘ada yang menyatakan cinta kepadanya? Siapa?’, batin yoona.

“siapa?”, tanya yoona penasaran.

“Jessica Jung. Kau kenal?”, Tanya donghae tidak begitu yakin yoona mengenal Jessica. Yoona mengangguk.

“dia menyatakan perasaannya kepadaku kemarin. Aku sangat kaget, tak tahu ingin berkata apa. Sampai akhirnya aku bisa mengatakan sesuatu”, yoona masih menunggu kelanjutan ucapan donghae.

“aku katakan aku tidak bisa. Aku hanya menganggapnya sebagai teman saja, tidak lebih. Aku mencintai yeoja lain”, jelas donghae.

“kau menyakitinya oppa”, ucap yoona. Tidak suka dengan jawaban donghae ketika menolak Jessica. Namun lebih besar rasa leganya. Untung saja Donghae tidak menerimanya.

“aku tahu. Tapi aku tidak tahu lagi mau mengatakan apa saat itu. Tapi setidaknya aku bisa mengatakan sesuatu dari pada tidak sama sekali dan pergi begitu saja”, donghae mencoba membela diri.

“kau sedang menyindirku oppa”, yoona merasa kalimat terakhir donghae seperti mengarah kepadanya.

“wae? Kau merasa?”, Tanya donghae santai. Yoona segera mengalungkan tangannya dileher donghae dan menarik donghae mendekat hingga ia berhasil memeluknya. Donghae membulatkan matanya, terlalu shock dengan tindakan yoona yang tiba-tiba.

“aku punya alasan untuk melakukan itu”, ucap yoona.

“alasan apa?”, Tanya donghae masih dalam pelukan yoona yang berbaring disofa. Donghae menahan tubuhnya agar tidak menindih tubuh yoona.

“oppa tahu, kau adalah tipe pria yang kuimpikan. Kau sangat sempurna untuk ku. Sedangkan aku, aku bukanlah tipe gadis impianmu. Aku jauh dari kata anggun oppa. Ketika oppa menyatakan perasaan oppa waktu itu, aku sangat senang. Sungguh. Tapi…”, yoona menghentikan kalimatnya. Dia menangis kembali, mengingat betapa bodohnya ia waktu itu. Donghae melepas pelukan yoona, manatap mata indah itu. Menunggu yoona menyelesaikan ucapannya.

“aku tidak percaya diri untuk menjadi orang yang special dihidupmu. Aku tidak ada apanya bila berdiri disampingmu oppa hiks’, ucap yoona terisak. Donghae menggelengkan kepalanya tidak setuju dengan pendapat yoona.

“kau tahu, aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertemuan pertama kita. Ketika kau membangunkan ku dilorong fakultas kesenian, aku seperti sedang bermimpi didatangi seorang gadis cantik dengan mata yang indah waktu itu. Sejak itu yoong, aku jatuh cinta pada mu”, jelas donghae.

“oppa~”, yoona terharu dengan penuturan donghae. Tidak menyangka donghae sudah menyukainya sejak pertemuan pertama meraka.

“Saranghae Yoong~”

“nado saranghae oppa~”, balas yoona. Donghae tersenyum dengan sangat lebar. Akhirnya penantiannya membuahkan hasil. Yoona memiliki perasaan yang sama dengannya. Donghae mendekatkan wajahnya hingga bibirnya menyentuh bibir tipis yoona. Yoona memejamkan matanya. Ciuman pertama mereka. Ini tidak akan pernah yoona lupakan seumur hidupnya.

Untuk mendapatkan cinta yang sesungguhnya, kita harus berkorban dulu, merasakan sakit, merasakan jatuh, merasakan penolakan, hingga akhirnya cinta itu akan datang menghampiri kita dengan sendirinya.

 

*****

Cahaya matahari mulai menunjukkan wujudnya, memasuki celah-celah kecil didalam ruangan yang kurang penerangan itu. Cahayanya pun mengenai mata seorang gadis yang sedang tertidur nyenyak, hingga ia terbangun. Dibukanya matanya, menyesuaikan dengan cahaya yang masuk. Tubuhnya sudah lebih baik sekarang. Dia tersenyum senang, ketika mendapati namja yang sangat dicintainya masih menemaninya. Donghae tertidur dengan posisi terduduk dilantai dan kepala yang bersandar disofa. Yoona mendudukkan dirinya, mengamati wajah tampan pria itu. Dengan berlahan dilepasnya kaca mata bulat donghae, meletakkannya diatas meja disamping sofa. Lalu dikecupnya kening donghae dengan lembut.

“gomawo oppa~”, bisik yoona dengan senyumnya.

“apa hanya sebatas itu saja?”, tiba-tiba suara berat khas orang bangun tidur mengagetkannya. Donghae membuka kedua matanya, menatap yoona intens.

“kau sudah bangun oppa?”, Tanya yoona. Donghae mengangguk.

“sejak kau melepas kaca mata ku”, ujar donghae.

“jadi hanya sebatas itu saja ucapan terima kasihnya?”, Tanya donghae mencoba menggoda yoona.

“memangnya harus seperti apa?”, Tanya yoona tidak mengerti dengan pertanyaan donghae.

“bukankah kita sekarang pacaran? Harusnya kau memberi sesuatu yang manis misalnya”, donghae terseyum aneh. Yoona masih tidak mengerti.

“yang manis? Coklat?”, Tanya yoona. Donghae menggeleng, telunjuknya mengarah pada bibirnya. Mengetuk-ngetukkan jarinya disana sambil terseyum.

“yak, dasar mesum”, teriak yoona setelah mengerti maksud donghae.

“ayolah. Aku sudah rela menahan rasa sakit dibadanku untuk menjagamu semalaman yoong~”, bujuk donghae.

“shireo, aku tidak mamphhh~”, donghae segera membungkam bibir yoona dengan bibirnya. Mata yoona membulat kaget dengan tindakan donghae yang tiba-tiba menciumnya. Beberapa detik donghae akhirnya melepas bibirnya, tapi keningnya menempel pada kening yoona. Mereka saling memandang dan tersenyum bahagia.

“aku sangat mencintaimu sayang~”, ucap donghae.

“aku juga sangat mencintaimu oppa~”, balas yoona. Mereka melanjutkan ciuman mereka tadi yang sempat berhenti. Kini bahkan donghaae sudah mulai berani melumat bibir yoona dengan lembut tanpa nafsu sedikitmu. Hanya cintanyalah yang ingin disampaikannya lewat ciumannya itu. Ini terjadi hingga beberapa menit, hingga…

“YAKKK APA YANG SEDANG KALIAN LAKUKAN???”, teriak seorang wanita paruh baya dengan diikuti suaminya yang sedang membawa tas. Membuat pasangan yang sedang asyik dengan kegiatan mereka, melonjak kaget, saling menjauhkan diri. Keduanya tertangkap basah oleh omma dan appa yoona sedang berciuman. Sungguh sangat memalukan.

“om-omma~”, ucap yoona takut.

“om-ommonie~”, donghae terlihat sangat gugup.

“aish jinjja anak muda sekarang memang sudah tidak ada aturannya lagi. Aku tidak mau mendengar alasan kalian. Kalian harus segera menikah. Titik. Tidak ada penolakan”, ucap nyonya Im cepat dan tak terbantah. Membuat donghae maupun yoona kaget.

“MWO???”, teriak yoona dan donghae bersamaan. Namun donghae langsung tersenyum senang ketika nyonya Im mengedipkan sebelah matanya kearahnya. Bukankah itu pertanda baik buatnya, omma yoona menyetujuinya sebagai pendamping hidup putrinya.

“Donghae-ya bantu aboji mengangkat barang-barang dari mobil”, perintah nyonya Im.

“ne, ommonim”, teriak donghae bersemangat segera keluar melakukan perintah calon mertuanya itu. Sedangkan yoona jangan ditanya. Yeoja itu sedang berteriak-teriak tidak jelas karena kesal dengan keputusan ommanya.

 

THE END~

Oke, sampe ini dulu ya…

Mungkin bakalan ada sequel, tapi gak janji..

Bye bye bye…

sampai ketemu di next FF

bow~

 

Advertisements

2 thoughts on “You Are So Perfect (Oneshoot)

  1. uly assakinah

    dasar nih donghae selagi ada kesempatan langsung nyosor yoona aja. dan lagi juga nyonya im langsung setuju kalo donghae jadi menantunya. hahahaha dasar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s