My Lovely Doctor Chapter 3

my-lovely-doctor

Author: Fi_ss

Tittle: My Lovely Doctor Chap -3

Lenght: Chapter

Cast: Im Yoona and Lee Donghae

Other Cast: Choi Sooyoung, Cho Kyuhyun, Lee Chorong, Kim Suho, etc

Genree: Romance, Hurt, Comedy (maybe), Friendship

Author Note: Annyeong… Author Fi_ss kembali lagi dengan Chapter 3. Aku hanya mau ucapin makasi banyak buat reader yang masih bersedia menunggu FF aku ini. Untuk sampai chapter ini belum ada konflik yang berat. Masih proses memunculkan setiap main cast dalam FF ini dan moment pendekatan YoonHae. Dan semoga feel moment sweetnya YH dapat ya.

Happy reading..

Synopsis : Seorang wanita yang berjiwa pahlawan selalu mempersulit hidup seorang pria kaya. Bukan mempersulit secara negatif sebenarnya. Hanya saja si pria kaya selalu tidak bisa mengontrol detak jantungnya didepan wanita itu yang memang sebelumnya sudah sakit semakin bertambah sakit. Dimulai dengan pertemuan yang cukup unik, kemudian dilanjutkan dengan tindakan si wanita yang diluar dugaan, juga teriakan yang mereka lontarkan satu sama lain. Dan tak lupa cerita masa lalu mereka.

***

My Lovely Doctor Chapter 3

Donghae segera membuka pintu ruangannya, namun…

Deg

“ka-kau?”, Donghae sampai tergagap ketika menemui seorang gadis yang sedang duduk santai di sofa kantornya sambil membaca majalah. Menyadari kehadiran seseorang diruangan itu, sang yeoja mengalihkan pandangannya dari majalah ke arah pintu. Tersenyum lebar mengetahui orang yang ditunggu telah datang.

“OPPAAA~” yeoja itu segera berlari memeluk oppa yang sudah sangat dirindukannya itu.

“Aigo~ Bogoshippo Oppa~”, ucapnya bahkan lebih mengeratkan pelukannya. Donghae yang mulai merasa sesak mulai mengeluh.

“ya-yak Lee Chorong, kau ingin membunuh ku?”, ujar Donghae mengeluh. Chorong pun tersadar dengan tingkahnya, melepas pelukannya dan mundur selangkah.

“mianhae oppa. Aku terlalu senang jadi lupa dengan kondisi oppa”, Chorong hanya tersenyum memperlihatkan gigi-gigi putihnya.

“Hahhh, dasar gadis nakal. Kemari peluk oppa lagi”, Chorong yang senang segera melakukan apa yang diperintahkan oppanya itu. Cukup lama mereka melepas rindu dengan berpelukan.

“jadi, kenapa adik Oppa yang cantik namun cerewet ini ada di korea?”, tanya Donghae melepas pelukannya dan membawa yeoja itu untuk duduk di sofa kembali.

Chorong yang mendengar pujian namun segera menjatuhkannya dengan mengatakannya cerewet membout pipinya.

“aku sangat merindukan oppa. Beberapa minggu ini oppa tidak ada menghubungi ku. Jadi aku khawatir dengan keadaan oppa”, yeoja itu benar-benar mencemaskan saudaranya. Donghae tersenyum senang dengan penuturan adiknya itu.

“oppa baik-baik saja seperti yang kau lihat sekarang”, ucap Donghae sambil mengelus rambut panjang yeoja itu. Donghae berbohong, tidak mungkin dia mengatakan bahwa dia beberapa kali masuk rumah sakit akhir-akhir ini. Namja itu tahu betul watak dari adiknya itu. Walaupun Chorong adalah seorang calon dokter yang dituntut harus bisa mengendalikan emosionalnya dalam menangani pasiennya kelak, namun bila sudah menyangkut tentang Donghae, dia akan sangat ketakutan hingga menangis. Jadi Donghae harus melakukan sedikit kebohongan untuk itu.

By the way, bagaimana dengan kuliahmu? Setahu oppa sekarang bukannya libur musim panas di Jerman”, Donghae mulai curiga dengan kedatangan yeoja itu yang tujuannya tidak sepenuhnya untuk melepas rindu

“Hehehe…, oppa benar-benar oppa yang sangat perhatian sampai tahu apa yang adiknya pikirkan. Hehehe”, Chorong mencoba merayu Donghae yang sepertinya sudah tahu tujuannya sebenarnya.

“jadi…”, Donghae masih menunggu penjelasannya.

“ahhh, op-oppa~ itu..”

“wae?”, Donghae mulai tidak sabar dengan tingkah adiknya yang sepertinya menyembunyikan sesuatu.

“i-itu, tapi oppa janji dulu tidak akan marah bila aku sudah mengatakannya”, Chorong mencoba bernegosiasi dengan oppanya itu. Donghae hanya menganggukkan kepalanya.

“jadi oppa~ kau tahukan kalau aku mengalami banyak kesulitan menjalani masa-masa akhir semester ku?”, Donghae mengangguk lagi. Ya dia tahu Chorong mengalamin stress diakhir semesternya.

“jadi aku memutuskan mengambil cuti satu semester ini”, Chorong akhirnya dapat menyampaikan alasannya sampai selesai. Namun tidak ada tanggapan dari namja yang ada disampingnya itu. Dia mendongak melihat raut wajah Donghae yang sudah sangat menakutkan. Mata membulat dan wajah yang memerah seperti seseorang yang menahan kemarahnnya.

“op-oppa~…. oppa sudah janjikan tidak akan marah”, Chorong mengingatkan Donghae kembali kesepakatan negosiasi mereka tadi. Tapi melihat kondisi oppanya itu sepertinya hasil kesepakatan mereka akan batal. Chorong mengambil ancang-ancang untuk menyelamatkan diri, digenggamnya tali tas selempangnya.

1

2

3

“YAKKKK LEE CHORONG KAU INGIN MATI HAHH. INI SUDAH KETIGA KALINYA KAU MENGAMBIL CUTI KULIAH. APA KAU GILA. APA YANG KAU PIKIRKAN LEE CHORONG”, teriak Donghae memaki adik kandungnya itu. Tak habis pikir dengan jalan pikiran yeoja itu. ini sudah yang ketiga kalinya. Pertama ketika semester kedua dengan alasan belum terbiasa hidup sendiri. Yang kedua semester lima dengan alasan dia cukup kesulitan mengikuti perkuliahan disemester itu sehingga dia stress. Dan sekarang yang ketiga kalinya dengan alasan yang tidak jelas.

“Oppa mengertilah, aku sedang bosan dan lelah kuliah”, bela Chorong yang sudah berdiri didepan pintu yang sudah terbuka lebar, berniat melarikan diri dari amukan Donghae.

“ALASAN APA LAGI SEKARANG? MAU SAMPAI KAPAN KAU MENUNDA-NUNDA KELULUSANMU HAHH”, teriak Donghae lagi. Tapi sayang Chorong sudah berlari menuju lift. Donghae segera mengerjarnya.

“oppa mianhae, akan ku jelaskan nanti. Ohh, jangan berlari oppa, ingat jantungmu”, teriak Chorong sambil mengingatkan kondisi oppanya itu dan pintu lift pun tertutup.

“Aish, gadis nakal itu”, umpat Donghae. Napasnya sudah terengah-engah mengejar Chorong tadi. Segera dia kembali ke ruangannya untuk mengistirahatkan diri.

Dilain sisi Chorong yang sudah sampai di Lobby Lee Hosp merasa lega karena Donghae tidak mengejarnya. Dipintu Lobby yang mulai ramai oleh karyawan yang sudah berdatangan, terlihat seorang namja tampan, kekasih sepupunya, membuat senyum terbit kembali di wajahnya yang cantik.

“EVIL OPPA”, segera dihampirinya namja itu. Merasa seseorang memanggil julukannya, namja itu mencari sumber suara itu. Terlihat seorang yeoja yang berlari menuju dirinya dan langsung memeluknya.

“Chorong-a”, kaget Kyuhyun. Tidak menyangka gadis kecil itu ada di tempatnya bekerja.

“ohh, Evil oppa semakin tampan saja”, puji Chorong. Tapi Kyuhyun tidak langsung besar kepala, dia tahu betul pasti ada maksud dibalik pujian gadis nakal itu. Segera dilepasnya pelukan yeoja itu, menatapnya tajam.

Chorong yang tertangkap basah oleh pria yang ada didepannya itu, tersenyum sangat lebar. Pria ini pasti bisa membantunya menangani oppanya yang pasti marah kepadanya.

“ahh, kenapa kalian sangat hebat menebak apa yang aku pikirkan?’, ucapnya putus asa tidak bisa menghindar.

“jadi alasan apalagi sekarang Lee Chorong?”, tanya Kyuhyun lembut. Tidak ingin keras kepada yeoja yang sudah dianggap seperti adik kandungnya sendiri.

“ahhh, itu nanti saja aku jelaskan. Aku ingin bertemu dengan teman lama ku. Jadi oppa, aku minta tolong jaga Donghae oppa ya”, ucapnya dan langsung pergi. Kyuhyun yang sudah mengerti arti kata ‘jaga’ yang dikatakan gadis itu, hanya mampu menggelengkan kepala. Pasti sudah terjadi sesuatu dengan Donghae diruangannya.

Sesampainya diruangan Donghae, Kyuhyun melihat Donghae yang sudah duduk dikursi dibalik meja kerjanya, serius membaca tumpukan dokumen. Kyuhyun melangkah mendekati meja atasannya itu.

“Hae-ya apalagi sekarang yang dilakukan gadis nakal itu?”, tanya Kyuhyun. Donghae yang sudah tahu maksud dari pertanyaan sahabatnya itu, mendongak.

“ohh, kau bertemu dengannya?”, tanya Donghae balik bertanya.

“ya, aku bertemu dengannya di Lobby. Sepertinya dia sangat buru-buru”, jelas Kyuhyun.

“hahh, gadis nakal itu. aku juga tidak tahu apa lagi alasannya sekarang. Aku pusing memikirkannya”, keluh Donghae.

“sudahlah Hae jangan terlalu mencemaskannya. Selama dia tidak melakukan hal-hal diluar batas, biarkan saja. Dia sudah dewasa sekarang. Dia bukan adik kecil kita lagi dia sudah menjadi gadis dewasa sekarang”, Kyuhyun mencoba meredakan emosi sahabatnya itu.

“kau selalu memanjakannya kyu”, Kyuhyun hanya tersenyum dengan pernyataan Donghae itu. Chorong memang lebih manja kepada Kyuhyun dibandingkan kepada Donghae saudara kandungnya.

*****

Tepat jam dua siang Donghae datang ke rumah sakit, setelah sebelumnya Kyuhyun mengingatkannya jadwal Check Up-nya. Beberapa staff administrasi yang mengenal Donghae membungkuk memberi hormat, Donghae memberi senyum terbaiknya. Beberapa perawat dan pasien wanita terpesona dengan dengan ketampanan namja itu. Donghae hanya tersenyum geli dengan tingkah mereka. Dia tetap mengayunkan tungkai kakinya menuju ruangan Yoona.

Setibanya didepan sebuah pintu percat putih  dan terpampang tulisan ‘Dr. IM YOONA’, Donghae kembali gugup. Ayolah Lee Donghae jangan menjadi pengecut, batin Donghae mencoba mengendalikan dirinya. Menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya.

*****

Yoona POV

Tok tok tok

Suara ketukan pintu mengalihkan perhatianku dari data kesehatan pasien yang baru selesai ku periksa.

“ya masuk”, ucapku. Seorang  pria tampan segera masuk. Aku tersenyum senang.

“Hai~”, sapanya canggung.

“ahh, kau sudah datang. Segeralah berbaring di tempat tidur itu dan buka kemejamu”, perintah ku santai. Donghae pun melakukannya. Diletakkannya kunci mobil, dompet dan handphone nya diatas meja kerjaku. Aku memperhatikannya. Dibukanya jas hitamnya, kemudian melepas dasinya tapi tiba-tiba berhenti.

“wae? Apa ada masalah?”, tanyaku bingung dengan tindakan namja itu yang tiba-tiba berhenti melepas dasinya.

“mmm, apa aku bisa meminta sesuatu dari mu?”, tanyanya. Aku mengerutkan kening bingung. Tapi aku diam mengangguk saja, menyetujuinya.

“mmm, bisakah selama kau masih tinggal di apartementku-“, dia berhenti sejenak. Menarik napas dalam-dalam. Hahaha, dia sangat lucu. Aku jadi ingin mencubit pipinya itu, tapi aku harus bisa mengendalikan diri.

“apa?”, tanyaku sambil menahan tawa yang bisa sewaktu-waktu keluar.

“mmm, bisakah selama kau masih tinggal di apartementku, kau yang me-memasangkan dasiku?”, ucapnya yang semakin lama suaranya menjadi seperti guman, tapi aku masih dapat mendengarnya.

“N-nde? Memasang dasimu?”, tanya ku memastikan tidak salah dengar.

“ya. Tapi bila kau tidak mau juga tidak apa-apa. Aku tidak memak-“, ucapnya terhenti karena aku sudah ada dihadapannya dan melepas dasinya. Dia hanya diam saja dengan tindakanku.

“maksudmu aku memasangkan dasimu seperti tadi pagi?”, tanyaku sambil melepas dasinya berlahan. Dia hanya menganggu seperti anak kecil yang diceramahi ibunya.

“mmm, baiklah” ujarku. Terlihat binar kebahagian diwajahnya. Apa hanya aku mau memasangkan dasi untuknya, dia bisa sesenang itu? Hahhh, kau benar-benar lucu oppa, batinku.

“Tapi..”, lanjutku. Aku ingin memberi ultimatum kepada namja keras kepala tapi tampan ini.

“tapi ada 2 syaratnya”, tiba-tiba dia murung. Aku hampir tertawa melihat wajah menggemaskannya itu.

“Kau sangat perhitungan Im Yoona”, omelnya dengan bibir yang sudah mengerucut.

“tentu saja Tuan Lee. Di dunia ini tidak ada yang gratis. Kau kira memasang dasi tiap hari tidak melelahkan? Apalagi bila kau melakukan seperti tadi pagi. Aku yang rugi bukan?”, ujarku dengan polosnya. Tapi itu memang kenyataan.

Namja itu terlonjak kaget. Sepertinya dia tahu kemana arah pembicaraan yang ku maksud. Namja pintar.

“Ya-Yak, a-aku tidak sengaja melakukannya. Kau jangan salah paham”, alasannya cukup membuat sedikit goresan kecil dihatiku. Aku kecewa dengan jawabannya itu.

“ahhh, ya sudahlah kita tidak perlu membahas itu. sekarang kau mau apa tidak?”, tanyaku.

“syaratnya apa dulu?”, aish sial dia benar-benar menyebalkan.

“yang pertama, berusahalah untuk sembuh dan dengarkan apa yang aku katakan. Jangan keras kepala Tuan Lee”, ucapku. Reaksi pria ini terlihat sangat tidak suka dengan pernyataan ku. Tapi dia tetap mengangguk setuju.

“yang kedua, kau harus mengajakku dinner malam ini”, ujarku dengan santai.

Yoona POV OFF

*****

“yang kedua, kau harus mengajakku dinner malam ini”, ujar Yoona dengan santai.

Donghae terlonjak kaget. Apa maksudnya? Dinner malam ini? Apa bisa dikatakan dia sedang mengajakku kencan dimalam hari, batin Donghae mencoba mengartikan maksud dari dokternya itu

“dinner?”

“mmm”, angguk Yoona.

“apa bisa ku simpulkan bahwa kau sedang mengajak ku berkencan?”, goda Donghae. Kini berbalik, Yoona yang berbalik kaget.

“A-ani. Bu-bukan seperti itu yang ku maksud”, bela yeoja itu dengan pipi yang sudah memerah.

“bukan? Tapi kenapa pipimu memerah?”, goda Donghae lagi. Yoona segera menyentuh pipinya. Damn, dia menyerangku balik, Yoona mengumpat dalam hati.

“ahhh sudahlah. Lupakan syarat yang kedua. Nanti aku akan memberitahumu bila aku sudah memikirkannya”, Yoona mencoba menghentikan topik pembicaraan mereka.

“TIDAK BISA”, teriak Donghae tidak terima keputusan Yoona membatalkan syarat yang kedua. Yoona mengerutkan keningnya mendengar teriakan namja itu.

“kau tidak bisa membatalkannya sesuka hatimu. Aku sudah memerintahkan Kyuhyun untuk mempersiapkannya. Jadi kau tidak bisa dibatalkannya”, ujar Donghae sambil mengangkat Handphonenya, menunjukkan kehadapan Yoona bahwa dia sudah memerintah Kyuhyun melalui SMS.

Kapan pria ini melakukannya. Hahh Daebak, batin Yoona lagi.

“terserah kau saja. Ayo cepat lepas kemejamu. Aku masih memiliki pasien lain di luar”Yoona segera menghindar dari tatapan menggoda Donghae. Sedangkan Donghae sudah tersenyum sangat senang. Segera melakukan apa yang diperintahkan Yoona.

*****

Selesai melakukan pemeriksaan terhadap Donghae, Yoona keluar dari ruangannya memeriksa pasien lainnya di ruangan lain, meninggalkan namja itu sendirian. Namja itu menunggu Yoona selesai melakukan kewajibannya, bukankah mereka akan berkencan? Ya begitulah anggapan Donghae atas mernyataan Yoona yang menginginkan dinner malam ini.

Donghae mulai bosan dirungan itu, tapi tidak ingin keluar. Dia berpindah dari sofa ke kursi dibalik meja kerja Yoona.

“ahh, sangat nyaman, seperti pemiliknya”, gumam Donghae. Memejamkan matanya, bersandar, menikmati kenyamanan yang diperolehnya dari kursi itu.

Mengingat bagaimana ketika Yoona hanya memeluknya saja ketika rasa sakit dirasakannya  lagi, dan pelukan itu bisa menjadi obat yang sangat baik untuknya, membuat Donghae tersenyum sendiri masih memejamkan matanya.

Selesai memeriksa pasiennya, Yoona kembali keruangannya mengambil beberapa data pasiennya yang ketinggalan dimeja kerjanya. Ketika membuka pintu ruangannya, Yoona langsung tersenyum melihat pemandangan yang tersuguh didepannya. Donghae tertidur dikursi kerjanya. Dia melangkah mendekati meja kerjanya dengan berlahan, tidak ingin mengusik mimpi namja itu, segera diraihnya tumpukan kertas diatas mejanya. Ketika akan beranjak pergi, dia mengurungkan niatnya. Masih ingin memandang wajah tidur pria tampan itu. Disandarkannya tubuhnya disisi meja dekat kursi yang Donghae duduki. Mengamati wajah itu itu dengan tersenyum ditambah lagi suara dengkuran halus yang keluar dari pria itu. Yoona merapikan rambut-rambut halus namja itu yang menutupi wajahnya.

“sepertinya kau sangat kelelahan oppa. Tidurlah sebentar lagi, aku akan menyelesaikan tugasku dengan cepat”, gumam Yoona.

Cup~

Yoona melakukannya lagi, mengecup singkat kening Donghae. Setelahnya Yoona segera keluar membawa kertas-kertas yang diperlukannya tadi.

Dan lagi-lagi namja yang ada diruangan itu menyadarai apa yang dilakukan yeoja itu kepadanya.

“siapa kau sebenarnya Im Yoona”, gumam Donghae. Penasaran dengan tindakan yang sudah berulangkali dilakukan Yoona kepadanya.

*****

“jadi Noona apa yang bisa kubantu untuk mu?”, tanya seorang namja yang menggunakan jubah putih yang sama seperti yeoja yang dipanggilnya Noona tadi.

“Jadi Suho-a aku ingin meminta pendapatmu tentang keadaan seorang pasienku. Ini hasil pemeriksaan terakhirnya”, yeoja itu menyerahkan beberapa lembar kertas kepada namja itu.

“Ohh Lee Donghae? Bukankah dia dulu pasien Appa sebelum dipindah tugaskan Noona?”, tanya namja yang diketahui bernama Suho itu. Kim Suho

“mmm, dan kau tahu dia siapa bagi Rumah Sakit ini”, jelasnya lagi. Suho mengangguk mengerti. Lalu segera memeriksa hasilnya dari kertas yang sudah ada ditangannya. Selang beberapa menit, namja itu membelangak kaget.

“OMO, ini tidak mungkin kan Noona?”, tanya Suho kepada Yoona yang hanya bisa terdiam dan Suho menganggam diamnya seniornya itu adalah benar adanya.

“aku juga berharap bahwa hasil pemeriksaan itu salah”, Yoona diam sejenak.

“tapi setelah melakukan pemeriksaan hingga dua kali perturut-turut dan tadi yang ketiga kalinya, hasilnya tetaplah sama, bahkan sudah tahap kronis”, Yoona mendesah, sesak terasa didadanya. Ingin rasanya menangis, tapi dia selalu menahannya. Dia tidak ingin tampak lemah dan menyerah untuk memenuhi janjinya kepada Donghae, tapi lagi-lagi dia tidak sanggup untuk mengendalikan emosionalnya. Dan ini sangat bertentangan dengan profesinya sebagai Dokter yang harus bisa tenang menghadapi kondisi yang rumit seperti ini.

“detak jantungnya tidak normal, aliran darahnya pun tidak baik, dan..”, Suho berhenti sejenak, memperhatikan hasir ronsen dan semakin tidak percaya. Ini benar-benar buruk.

“dan katup jantungnya juga sudah rusak parah. Ini yang menyebabkan aliran darah ke jantung terganggu”, Yoona melanjutkan hasil analisis juniornya itu.

Heart Valve Disease”, Suho menyimpulkannya.

Heart Valve Disease adalah salah satu jenis penyakit jantung yang diakibatkan oleh rusaknya katub atau klep jantung. Yang mana fungsi dari katup jantung itu sendiri adalah sebagai pengatur aliran darah yang masuk searah menuju jantung. Yang berakibat bagi penderita akan mudah pingsan karena aliran darah yang tidak baik, mudah merasa lelah, detak jantung yang melemah bahkan bisa berhenti berdetak sewaktu-waktu bila keadaan pasien semakin parah. Dan inilah yang selama ini dirasakan Donghae disepanjang hidupnya.

Ruangan itu hening, tidak ada yang memulai pembicaraan. Yoona dengan pandangan kosongnya sedangkan Suho yang masih penasaran dengan hasil pemeriksaan itu. Suho belum pernah berhadapan dengan pasien berpenyakit jantung jenis ini. Bahkan yang diherankannya bagaimana pasien ini bertahan hingga sekarang bila sudah mengidap penyakit ini sejak lahir.

“pasti Tuan Lee Donghae mengalami waktu yang sulit”, ucap Suho akhirnya memecah keheningan. Suho melihat Yoona hanya diam menerawang dengan mata kosong dan mata yang sudah berkaca-kaca.

“Noona gwenchana?”, Suho menghampiri Yoona, menyentuh pundak yeoja itu.

“Su-Suho???”, suara Yoona bergetar. Suho tahu ada yang tidak beres pada senior yang paling dikaguminya itu. Suho sudah mengenal Yoona sebagai seniornya sejak dia kuliah di Jerman lima tahun yang lalu. Dengan kepintaran dan keahlian Yoona yang sangat luar biasa, hingga menjadi dokter spesialis jantung termuda seperti sekarang ini dan itu yang membuat seorang Kim Suho sangat mengagumi Im Yoona. Dan sampai-sampai namja itu menjadikan Yoona sebagai panutannya bukan ayahnya, dokter Kim, yang sudah lebih lama berkecimpung didunia kedokteran spesialis jantung. Suho pun cukup dekat dengan yeoja yang sedang menahan tangisnya itu.

“Nde Noona? Wae?”, Suho mendekati Yoona yang duduk disofa single yang ada diruangannya. Berlutut untuk menyamakan tingginya, menggenggam tangan Yoona yang sedari tadi meremas jari-jari tangannya sendiri. Suho ikut merasa sedih, karena ia sudah menganggap yeoja yang ada didepannya ini seperti kakak kandungnya sendiri. Kakak yang selalu menjaga, menyayangi, mengajari, bahkan tak segan-segan memarahinya bila melakukan hal yang salah, yang semuanya itu tidak pernah didapatkannya karena anak tunggal dari keluarga Kim.

“Su-Suho???”, panggil Yoona lagi.

“Nde…”, balas Suho. Dia masih sabar menunggu noonanya itu mengatakan sesuatu.

“ka-kau masih ingat siapa yang memotivasiku hingga menjadi dokter seperti sekarang?”

“Ya. Seorang pria yang menolong Noona sewaktu berumur delapan tahun. Dan dia terluka pada waktu itu”, Suho mengutarakan apa yang pernah Yoona ceritakan kepadanya. Yoona mengangguk membenarkan jawaban Suho.

“dia orangnya”, ujar Yoona pelan. Tapi Suho masih dapat mendengarnya tetapi tidak mengerti maksud dari dua kata yang diucapkan oleh Yoona.

“Dia siapa Noona?”, tanya Suho tidak mengerti.

“pria yang menolongku itu”

“pria? Ohh, maksud Noona, Noona sudah bertemu dengan yang menolong Noona itu? dimana?”, Suho sangat penasaran seperti apa pria yang sudah sangat berjasa bagi Noonanya ini.

“Disini”

“Disini? Dia Dokter juga?”, Yoona menggeleng.

“lalu untuk apa dia disini? Dia pasien disini?”, Yoona mengangguk. Dia ingin mengatakan langsung bahwa pria itu adalah pasien yang sedang mereka bicarakan tadi. Tapi tenggorokannya serasa kering dan mulutnya seperti terkunci rapat. Jadi biarlah Suho menebaknya secara berlahan.

“Dia sakit apa? Bila dia ada diwilayah gedung ini, berarti dia sakit jantung juga bukan?”, tebak Suho namun tak ada jawaban dari Yoona. Suho mengingat-ingat kembali pasien-pasien yang ada dirumah sakit Healthy Hospital yang menderita penyakit jantung dalam waktu dekat ini.

Ketika mengingat kembali pasien-pasiennya, tiba-tiba Suho teringat bahwa pria yang menolong Yoona mengalami luka robekan disebelah kiri dadanya. Ya benar, pasti luka itu meninggalkan bekas. Tapi pasien dirumah sakit ini tida ada yang memili-‘ tiba-tiba Suho tersadar dari ada satu pasien yang terlewatkan, bahkan data hasil pemeriksaannya baru saja dilihatnya.

“LEE- LEE DONGHAEEE~”, teriak Suho. Tidak salah lagi, dia pria itu. Yoona hanya mengangguk dengan butir-butir kristal bening yang sudah mengalir diwajahnya.

“Ohh Ya Tuhan. Ternyata dunia ini sangat sempit. Aku tidak mengangka bahwa pria itu Tuan Lee Donghae”, Suho masih tidak habis pikir dengan kenyataan yang baru diketahuinya itu.

“Suho Otthokke? Apa yang harus ku lakukan, hiks~”, Yoona menangis tersedu-sedu. Suho yang melihat keadaan Yoona ikut merasa sedih. Segera ditariknya Yoona kedalam pelukannya, membiarkan jas dokternya basah karena air mata yeoja itu.

“tenanglah Noona. Noona tidak boleh seperti ini. Noona harusnya semakin semangat untuk menyembuhkannya. Bukanlah ini tujuan Noona dari awal?”, Yoona mengangguk dalam pelukan Suho.

“jadi berjuanglah. Aku akan selalu membantu Noona”, diusapnya punggung yeoja itu untuk menenangkan.

*****

Tring tring tring~

Suara deringan handphone membangunkan seorang pria yang sudah sedari dua jam yang lalu tertidur dikursi empuk diruangan serba putih. Matanya masih mengerjap-ngerjap, menyesuaikan matanya dengan cahaya lampu ruangan itu.

Tring tring tring~

Kembali suara deringan handphone terdengar. Suara itu bukan dari handphonenya yang berada dalam saku celananya. Suara itu berasal dari handphone Yoona yang berada diatas meja. Donghae meraihnya, dilayarnya tertuliskan Choi Siwon Calling.

Choi Siwon? Siapa dia?, batin Donghae. Ingin rasanya mengangkat panggilan itu, namun diurungkannya mengingat tindakannya itu bisa mengganggu privasi Yoona. Jadi Donghae mengabaikan panggilan itu. Dan benar tidak ada lagi terdengar suara.

“ahh sudah berapa lama aku tertidur disini. Kursi ini benar-benar nyaman. Apa perlu aku memintanya dari Yoona? hahaha”, Donghae tersenyum bodoh dengan permintaannya yang ada-ada saja dan mungkin bila hal itu sampai diutarakannya, bisa-bisa Yoona akan menganggapnya pria yang aneh.

Trekk

Bunyi pintu yang terbuka mengalihkan pandangan Donghae, kearah yeoja yang sudah meninggalkannya beberapa jam yang lalu. Yeoja itu tersenyum, melihat Donghae sudah terbangun.

“Ohh, kau sudah bangun pria tukang tidur?”, goda Yoona. Donghae menggaruk-garuk lehernya yang Yoona yakin tidak gatal sama sekali. Donghae tersenyum malu karena bisa-bisanya dia tidur diruang kerja orang lain.

“itu juga salahmu. Kenapa meninggalkanku terlalu lama”, bela Donghae.

“aku sudah melakukan secepat mungkin Tuan Lee. Tapi aku melakukan operasi dadakan tadi, dan aku tidak mungkin menghindarinya”, Yoona kesal karena pria yang sudah seenaknya tidur dikursi kerjanya menyalahkannya.

“lagi pula bukankah kau tertidur dengan nyaman disini. Jadi itu tidaklah merugikanmu”, balas Yoona lagi.

Donghae terdiam melihat Yoona yang tampak benar-benar kesal dengan perkataannya. Dari pada menambah masalah lebih baik dia diam saja. Donghae bangkit dari duduknya, merapikan pakaiannya kemudian beranjak menuju pintu. Namun sebelum benar-benar membuka pintu, dia berbalik menghadap Yoona.

“bersiap-siaplah. Aku menunggumu di parkiran”, ujar Donghae setelahnya, Yoona tersenyum senang.

TBC

Advertisements

18 thoughts on “My Lovely Doctor Chapter 3

  1. Iedhaaniyagirl ipethaa

    Huufffttf Ku kira ad cewek ketiga ternya so chorong, dn siwon???? Ap dia org ketiganya
    Wuaaahhhh mkib pnasarsn aj

  2. Limhyelim

    Aku baru baca ff mu yang ini&maaf baru komen di part ini. Ceritanya menarik. Aku penasaran kenapa dh sampe saat ini blm mengingat bahwa yoona ada gadis kecil yg dia tolong?-.- Ku harap ff ini di lanjut lg ya 🙂

  3. edelweis

    keren. .jadi baper bacanya di tunggu klnjutannya unnie fighting!!!!

    jngan lama2 kbru lupa cerita sebelumnya 😀

  4. Iis solihat

    Maaf baru komen d part ini
    Ceritnya bgus
    Menarik
    Aplgi dgn hub masa lalu mreka
    Donghae kapan sadrnya ya?
    Keren
    D lanjutin donk
    Fighting:)

  5. kasian donghae oppa, dia jadi namja sakit”an kayak gitu.. jadi sedih bacanya.. Semoga donghae oppa cepet sembuh dan bisa menikah dengan yoona eonnie .. 🙂

    Maaf ya eon, aku baru coment di part ini, ayo dong eon dilanjut lagi cerita nya… soalnya ceritanya menarik dan feel nya dapet..

  6. Makin penasaran gmn nasib donghae selanjutnya smoga yoona bs bener2 nyembuhin donghae dan mereka bs bersama. Mianhe baru komentar di part ini coz penasaran aja sama part 2 n 3’y makanya baca dulu biar sekalian hehe mianhe pokoknya di tunggu kelanjutannya ya saeng fighting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s