My Lovely Doctor Chapter 2

my-lovely-doctor

Author: Fi_ss

Tittle: My Lovely Doctor Chap -2

Lenght: Chapter

Cast: Im Yoona and Lee Donghae

Other Cast: Choi Sooyoung, Cho Kyuhyun, Lee Chorong, Kim Suho, etc

Genree: Romance, Hurt, Comedy (maybe), Friendship

Author Note: Annyeong… Author Fi_ss kembali. Makasi udah sempat-sempatin waktunya baca FF aku yang abal-abal ini. Seperti yang aku bilang di chap 1, bahwa ini emang FF aku yang pertama kali dipublish. Jadi aku gak tau tulisan aku ini gimana sebenarnya. Tapi sekarang aku tahu, masih banyak yang perlu diperbaiki. Aku masih perlu banyak belajar untuk nulis. Dan soal alur yang kecepatan aku minta maaf. Mungkin saking semangatnya buat cerita dan ide cerita lagi menumpuk, aku jadi lupa dengan alurnya. Hehehehe… mianhae~

Semoga Chap 2 ini feelnya dapat dan alurnya gak kecepatan lagi…

Happy reading..

Synopsis : Seorang wanita yang berjiwa pahlawan selalu mempersulit hidup seorang pria kaya. Bukan mempersulit secara negatif sebenarnya. Hanya saja si pria kaya selalu tidak bisa mengontrol detak jantungnya didepan wanita itu yang memang sebelumnya sudah sakit semakin bertambah sakit. Dimulai dengan pertemuan yang cukup unik, kemudian dilanjutkan dengan tindakan si wanita yang diluar dugaan, juga teriakan yang mereka lontarkan satu sama lain. Dan tak lupa cerita masa lalu mereka.

***

My Lovely Doctor Chapter 2

“aku akan menjaganya. Aku akan tinggal bersamanya”, ucap Yoona santai sambil tersenyum melihat Donghae yang tertidur dengan damai.

“MWO?”, teriak Kyuhyun dan Sooyoung bersamaan. Yoona menutup telinga dengan kedua tangannya. Teriakan pasangan aneh itu sunggung mengganggu pendengarannya.

“wae? Bukannya tadi kau mengatakan menyerahkannya padaku? Dan kau”, tunjuk yoona pada Kyuhyun yang masih kaget.

“kau sudah menyuruh seseorang untuk membersihkan salah satu kamar tamunya kan? Jangan sampai ada debu, hidungku sangat sensitif terhadap debu”, tambah Yoona, mulai memerintah Kyuhyun lagi. Sunggung yeoja ini tidak tahu tata krama yang baik. Bukankah Kyuhyun lebih tua darinya. Ckckck..

“jadi, koper tadi adalah barang-barang mu?”, simpul Kyuhyun yang teringat dengan koper yang Yoona bawa tadi.

“tentu saja. Dan nanti ditambah beberapa alat medis yang kupinjam dari rumah sakit, sekedar untuk berjaga-jaga. Dan juga obat-obatan. Aku sudah mengatur semuanya dan meminta izin dari Depertemen Spesialis Jantung. Mereka memberi fasilitas lebih buat donghae yang merupakan donatur untuk alat-alat medis dirumah sakit ini”, ucap Yoona panjang lebar dengan yakin mengutarakan semua rencana yang sudah dipersiapkannya matang-matang. Kyuhyun dan Sooyoung tersenyum senang mendengar rencana Yoona.

“hahaha, dasar dokter gila”, ucap Kyuhyun sambil tertawa. Dia tidak menyangka yeoja yang duduk dihadapannya ini bisa berpikir sejauh itu hanya untuk namja yang bahkan baru hitungan minggu menjadi pasiennya. Benar-benar yeoja yang sulit ditebak. Gila

“aigo, uri yoong sepertinya memang benar-benar jatuh cinta, sampai-sampai membuat persiapan yang sangat matang seperti ini. Aku bangga dengan mu”, ucap Sooyoung sambil mengusap kepala Yoona. Yoona cemberut dengan perkataan Kyuhyun dan Sooyoung. Walaupun dalam hati dia senang. Yoona tak bisa mengabaikan perasaan khusus itu walaupun dirinya sendiri belum tahu betul perasaan khusus yang seperti apa. Biarkanlah waktu yang menjawabnya.

“tapi bagaimana bila Donghae hyung menolaknya?”, tanya Kyuhyun. Dia sudah bersahabat sejak kecil dengan hyungnya itu. Dan Kyuhyun tahu betul Donghae paling tidak suka hal-hal privasinya diganggu oleh orang lain. Bahkan dirinya sendiri tidak pernah menginap diapartement Donghae. Apalagi dengan yeoja gila ini. Sungguh mustahil.

“dia tidak akan menolaknya”, Yoona menatap Donghae dengan senyum penuh arti. Pasangan yang duduk terpisah itu terlihat bingung dengan ucapan Yoona.

*****

Donghae hanya terdiam, duduk ditepi tempat tidur sambil memperhatikan Yoona dan Sooyoung merapikan barang-barangnya, terlihat akrab.

“sejak kapan mereka sedekat itu?”, guman Donghae heran. Kyuhyun yang duduk tidak jauh dari tempat tidur Donghae masih dapat mendengarnya dan menyadari kebingungan Donghae, Kyuhyun menepuk bahu Donghae pelan. Kepala Donghae mendongak melihat Kyuhyun yang sudah berdiri disisi kanannya.

“mereka bersahabat sejak kecil hingga SMA. Tapi mereka berpisah karena 10 tahun yang lalu dokter Im melanjutkan studynya ke Jerman. Mereka bertemu kembali ketika kami menuju kerumah sakit. Aku membawa Sooyoung dan dokter Im ikut menumpang dimobil ku. Hingga kami hampir mengalami kecelakaan. Dan pada saat itulah mereka bertemu kembali. Benar-benar kisah yang persahabatan yang mengharukan”, jelas kyuhyun panjang lebar, menggeleng-gelengkan kepalanya terharu dengan kisah persahabatan kekasihnnya itu.

Plak

“Yakkk, ap-appo hyung. Kenapa hyung memukulku?”, tanya Kyuhyun merinting kesakitan atas tindakan Donghae yang memukulnya kepalanya cukup keras. Dan sepertinya Kyuhyun tak sadar ucapannya sebelumnya.

Plak

“kecelakaan? Yak bagaimana bisa terjadi seperti itu. Kau mabuk lagi?”, tuduh Donghae tak dapat menahan amarahnya lagi hingga dia melayangkan satu pukulan lagi dikepala Kyuhyun yang bodoh itu.

“A-ani, aku tidak mabuk hyung, tapi sebuah motor melaju kencang menerobos lampu lalu lintas itu yang salah”, bela Kyuhyun. Tidak terima dengan tuduhan hyungnya itu. Bahkan kepalanya yang berharga itu kena imbasnya.

“Soo-a, apa kau tidak apa-apa?”, tanya Donghae sedikit berteriak. Sooyoung tidak mengerti dengan pertayaan sepupunya itu.

“kecelakaan kemarin”, tambah Donghae.

“gwenchana oppa. Dokter mu ini sudah mengobatiku. Dia yang terbaik”, ucapnya sambil merangkul bahu yoona. Membuat pipi yoona sedikit memerah. Donghae mengangguk senang.

“kau tidak menanyakan keadaan ku hyung?”, tanya kyuhyun. Donghae menatap tajam kyuhyun.

“tidak sama sekali”, jawab Donghae dingin. Kyuhyun cemberut mendengar kesadisan sahabatnya itu. Sedangkan kedua yeoja yang ada diruangan itu terkekeh geli melihat tingkah Kyuhyun yang kekanak-kanakan.

*****

Donghae masih bingung dengan suasana dan orang-orang yang ada didalam mobil yang ditumpanginya sekarang, terkhusus yeoja yang duduk disampingnya. Untuk apa Dokter Im ikut menaiki mobil Kyuhyun? Dan mengapa dia membawa banyak persediaan obat dan beberapa alat medis? Banyak pertanyaan yang bersarang didalam otak Donghae.

“mana handphone mu?”, tanya Yoona. Mengulurkan telapak tangan kanannya ke hadapan Donghae. Namja itu mengerutkan keningnya.

“untuk apa?”, tanya Donghae, tapi tetap saja dia mengeluarkan handphonenya dari saku jaketnya. Yoona tidak menjawab, dia langsung merampasnya dari tangan donghae.

“dasar tidak sopan”, gerutu donghae. Yoona mendengarnya tapi tidak memperdulikannya.

Yoona mencari nomor kontak seseorang didalam handphone Donghae. Dan akhirnya ketemu.

“annyeonghaseo ajumma”, ucap Yoona pada seseorang dihubunginya itu.

“ahh, jeoui ireumeun Im Yoona-imnida. Aku dokter yang menangani anak Anda”, ucap Yoona memperkenalkan diri dengan wanita paruh baya yang ada diseberang sana. Sedangkan Donghae tampak kaget, tersadar dengan siapa Yoona berbicara sekarang. Yoona menghubungi ibunya. Apa wanita ini gila?, batin Donghae. Tidak habis pikir dengan jalan pikiran yeoja itu.

“ahh, aniyo. Tuan Lee baik-baik saja ajumma. Hanya saja saya mau minta izin kepada Anda untuk beberapa minggu ini saya tinggal diapartement Tuan Lee. Saya akan melakukan pemeriksaan dan perawatan rutin terhadap Tuan Lee, ini juga sudah mendapat izin dari rumah sakit ajumma. Bagaimana ajumma, apa aku bisa tinggal diapartement Tuan Lee?”, Yoona mencoba membujuk Nyonya Lee. Sambil tetap memperhatikan donghae yang menatapnya tajam, Yoona mendengar semua apa yang nyonya Lee katakan.

“nde ajumma. Khamsahamnida”, ucap yoona mangakhiri percakapannya dengan Nyonya Lee. Yoona tersenyum senang, tahap awal sudah diselesaikannya.

“YAKKK, APA YANG KAU KATAKAN? KAU AKAN TINGGAL DIAPARTEMENT KU? APA KAU GILA?”, Donghae berteriak kencang meluapkan kemarahannya. Menurutnya Yoona sudah melewati batasnya sebagai dokter. Yoona menyentuh dada Donghae, memastikan detak jantung Donghae dalam keadaan normal.

“diamlah. Jangan emosi seperti itu. Kau harus bisa mengendalikan emosimu agar kerja jantungmu seimbang. Lagi pula bukankah kau yang pernah mengusulkan rencana ini? Aku hanya menyetujuinya”, ucap Yoona santai. Tidak peduli dengan teriakan namja itu.

“Aish, aku kan hanya bercanda waktu itu. Kenapa kau menanggapinya serius?”, ucap Donghae frustasi menghadapi yeoja gila yang ada disampingnya itu.

“benarkah? Tapi, mianhae, aku tidak suka menarik kata-kata yang sudah keluar dari mulut ku. Lagi pula ini juga keputusan dari rumah sakit. Jadi aku hanya menjalankan tugasku sebagai dokter spesialis jantung yang profesional”, ucap Yoona sedikit berbohong sekaligus membanggakan diri sendiri.

“sudahlah oppa. Terima saja. Lagi pula Yoona dokter yang hebat. Buktinya tanpa suntikan obat penenang, oppa bisa tenang hanya dengan Yoona memeluk oppa”, ucap Sooyoung menggoda Donghae dan juga Yoona yang wajahnya sudah memerah.

“nde, benar hyung. Terima saja, lagi pula ini untuk kebaikan hyung”, kyuhyun ikut merujar dibalik kemudi sambil tetap memperhatikan jalanan. Dari tadi pasangan itu hanya diam didepan, mendengar perdebatan Dokter dengan pasiennya itu.

“TERSERAH”, akhirnya Donghae menyerah. Yoona senang memenangkan tahap ini. “Satu tahap lagi terselesaikan”, batin Yoona.

*****

Seorang gadis sedang sibuk di dapur memasak beberapa menu makanan sehat dan tak lupa bubur. Ya yeoja itu selain menjadi dokter, dia juga merangkap menjadi chef diApartement Donghae. Mulai dari jadwal pemeriksaan, terapi sederhana, hingga makanan, Yoona yang menanganinya. Yoona tidak mau setengah-setengah dalam melakukan tugasnya. Bibi Han, pembantu rumah tangga di apartement Donghae, hanya akan datang pagi hari untuk bersih-bersih saja.

“hahhhh. Aigo… cukup menguras energi ternyata. Sepertinya aku harus berlatih lagi menggunakan pisau. Tsk, rasanya sudah begitu lama tidak berkutat didapur seperti ini”, ujar Yoona sambil menata makan diatas nampan, membawanya menuju kamar Donghae. Sudah waktunya pasiennya itu makan dan minum obat.

Sejak tiba diapartement namja itu beberapa jam yang lalu, Yoona sangat terkagum dengan semua perabotan yang ada disana, terlihat sangat elegan dan mahal. Namun Yoona cepat tersadar dari kekagumannya, menyadari tujuan utamanya ada diapartement Lee Donghae. Yeoja itu langsung memonopoli seluruh apartement itu, termasuk tuan rumahnya sendiri. Hingga akhirnya Donghae hanya dikamar saja, berbaring di tempat tidur king size nya. Donghae terpaksa menurut saja, terlalu lelah bila harus berdebat terus dengan seseorang yang tidak mau kalah.

“Hae-ya.., kau sudah bangun?”, tanya Yoona sambil mendorong pintu itu agar terbuka dengan bahunya. Benar-benar yeoja yang tidak punya sopan santun. Terlihat tak ada niat sedikitpun untuk mengetuk pintu terlebih dahulu. Jelas-jelas itu bukanlah kamarnya.

Namun betapa kagetnya yeoja itu, melihat pemandangan yang ada didepannya. Terlihat Donghae yang tanpa baju, hanya menggunakan celana tidur saja, berdiri membelakanginya, seperti sedang mengoleskan sesuatu didada bidangnya.

“Omo~”, kaget yoona. Donghae berbalik kearah datangnya suara itu. Melihat Yoona yang berdiri didepan pintu kamarnya, segera menyilangkan tangannya didepan dadanya. Berharap bisa menutupi tubuh bagian atasnya yang tidak tertutup apapun.

Namun kekagetan Yoona hanya diawalnya saja. Dia melangkahkan kakinya, masuk dengan santai kedalam kamar itu. Meletakkan makanan yang dibawanya diatas meja disamping tempat tidur, lalu melangkah lagi dengan senyum menggoda mendekati Donghae yang hanya diam membatu.

“ka-kau mau a-apa?”, tanya Donghae panik ketika jarak diantara mereka semakin tipis.

“wae? Kenapa kau ketakutan seperti itu?”, tanya Yoona balik. Dia ingin sedikit bersenang-senang dengan namja tampan itu sepertinya. Terlihat Yoona sudah mengulurkan kedua tangannya mendekati leher Donghae. Kepanikan Donghae semakin menjadi-jadi.

“Y-YAK… A-APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN?”, teriak Donghae dengan suara bergetar ketakutan. Ani, bukan ketakutan, lebih tepatnya gugup. Jantungnya sudah berdetak jangan kencang. Namun Yoona semakin senang dengan mimik muka yang Donghae perlihatkan.

Donghae segera menepis kedua tangan Yoona dan mundur, berlari keatas tempat tidur, menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.

“Y-YAK, YEOJA GILA. KELUAR KAU DARI KAMAR KU. NAEPPUN”, teriak Donghae lagi dari balik selimut. Namun yang terdengar hanya suara tawa yoona yang terbahak-bahak, senang dengan mainan barunya yang sangat lucu. Begitulah menurut yeoja itu.

“yak, Lee Donghae. Usiamu saja yang tua dan berbadan besar, tapi kau sangat kekanak-kanakan dan terlalu polos. Sadarlah kau semakin tua”, ledek Yoona masih dengan tawa dan senyum evilnya.

“DIAM KAU GADIS GILA”, balas Donghae masih dalam selimutnya. Apa yeoja ini tidak sadar dengan apa yang dilakukannya? Walaupun kondisi tubuhku tidak baik, tapi aku masih tetap seperti pria normal lainnya yang bisa dengan mudahnya menyerangnya. Aish~ , batin Donghae yang masih betah berada didalam selimutnya.

“Arra~ Aku hanya bercanda. Ayo, sudah waktunya kau makan”, bujuk Yoona yang sudah berdiri disamping tempat tidur.

“SHIRRO~”, tolak Donghae dengan nada suara yang terdengar manja ditelinga Yoona. Dia masih curiga Yoona masih akan berniat usil terhadapnya.

“aigo~ Apa Tuan Lee Donghae yang terkenal dengan wibawanya ini sedang merajuk? Tsk tsk tsk”, ledek Yoona. Diraihnya baju tidur yang belum sempat Donghae kenakan diatas tempat tidur dan segera ditariknya selimut yang menutupi tubuh pria itu.

“YAK. Jangan kekanak-kanakan seperti itu. Bangunlah. Kau tidak boleh dalam keadaan tanpa baju terlalu lama. Kondisimu masih belum membaik. Mendekatlah…”, Yoona segera menarik tangan Donghae hingga namja itu terduduk. Dipakaikannya baju tidur itu ditubuh Donghae. Donghae hanya bisa diam membatu, tak tahu mau berbuat apa. Jantungnya berdenyut sangat kencang. Sakit tapi menyenangkan.

Sambil mengaitkan satu-persatu kancing baju tidur itu, tidak sengaja arah pandang yoona jatuh pada dada sebelah kiri donghae. Terlihat ada bekas luka yang cukup besar. Dan yoona merasa tidak asing dengan itu. Dimana dia pernah melihat luka seperti itu juga?

>>Flashback On

“aish, susah sekali. Dasar anak-anak nakal. Aku kan tidak bersalah. Kenapa mereka suka sekali mengganggu ku?”, guman gadis kecil yang sedang kesulitan menggapai sepatunya yang tersangkut diranting pohon. Beberapa anak laki-laki tadi mengganggunya dan melepas sepatunya secara paksa dan melemparnya hingga tersangkut diatas ranting pohon besar yang ada dilingkungan taman sekolahnya.

Terlihat kedua mata rusa gadis kecil itu sudah berkaca-kaca, ingin menangis namun menahan dirinya untuk tidak menangis.

Hingga hampir putus asa karena tidak bisa menggapai ranting pohon itu, tiba-tiba sebuah tangan menjulur menggapai ranting pohon itu, mengguncangnya hingga sepatu gadis itu terjatuh. Gadis itu terlihat senang. Ketika gadis itu hendak melompat dari atas batu pijakannya saat ini tiba-tiba batu besar itu oleng hingga tubuh kedua anak kecil itu terjatuh.

“ahhhh..”, teriak gadis kecil itu. Dia memejamkan mata, pasrah bila tubuhnya akan terjatuh. Namun hingga beberapa detik berlalu tapi gadis itu tidak merasakannya. Yang terdengar hanya rintihan kesakitan dari anak laki-laki yang menolongnya tadi. Gadis itu membuka mata, terbelalak kaget. Terlihat cairan merah disekitar dada kiri anak laki-laki itu. Dadanya terhantam batu yang permukaannya runcing yang ada ditempat sekarang dia jatuh.

“da-darah..”, panik gadis itu hingga menangis ketakutan.

“ottokke? No gwenchana?”, tanya gadis itu.

“ahhh, appooo~”, ucap anak itu lirih. Membuat gadis kecil itu semakin menangis. Dia ketakutan.

“uljima~. Per-pergilahhh. Cari ban-bantuan”, gadis kecil menggeleng, tidak setuju.

“shi-shirro~ hiks~ siapa yang akan menjagamu disini bila aku pergi?”, ucap gadis itu sesunggukan.

“panggil a-aku op-oppa~. A-aku sunbemu. Tidak so-pannn ahhhh~”, anak laki-laki berucap semakin lirih. Melihat itu, gadis kecil segera berdiri, bersiap berlari mencari bantuan.

“tung-tunggu aku oppa~, aku akan mencari bantuan”, tanpa mendengar balasan dari anak laki-laki itu, gadis kecil itu segera berlari mencari bantuan. Hingga hampir setengah jam berlalu, akhirnya gadis kecil itu datang membawa bantuan dua orang dewasa. Namun sayangnnya, setibanya ditempat, anak laki-laki itu sudah tidak ada. Hanya terlihat bekas darah yang menyatu dengan tanah.

“op-oppa~ kau dimana?”

“op-pa mianhae~”, gadis kecil menangis tersedu-sedu dibawah pohon besar itu. sejak kejadian itu, sang gadis kecil berjanji kelak akan menjadi seorang dokter, sehingga bisa menyembuhkan orang-orang yang disayanginya.

<<Flashback Off

“dokter Im?”, tanya Donghae. Aneh dengan tingkah Yoona yang tiba-tiba terdiam ketika mengaitkan kancing baju tidurnya.

“Im Yoona? Kau baik-baik saja?”, tanya Donghae lagi.

“…”

“DOKTER IM YOONA”, teriak Donghae sambil mengguncang sedikit tubuh yeoja yang ada dihadapannya itu.

“ahhh, nde?”, akhirnya Yoona tersadar dari putaran film ingatan masa lalunya.

“kau baik-baik saja?”, tanya Donghae khawatir. Yoona tersenyum dan mengangguk. Melanjutkan mengancingkan baju Donghae.

“nah, waktunya makan”, Yoona menyerahkan mangkuk bubur dan beberapa mangkuk kecil lainnya sebagai lauknya. Donghae segera melahap makanannya, terlihat pria itu sangat kelaparan. Yoona duduk disamping tempat tidur sambil mengamati Donghae.

benarkah dia? Luka itu letaknya sama dengan luka yang oppa punya. Benarkah?’, yoona membatin.

Yoona terus memperhatikan Donghae yang sangat lahap makan. Sambil menimang-nimang, apakah dia akan menanyakan bekas luka itu apa tidak.

“Donghae~?”, panggil yeoja itu akhirnya. Dia sudah sangat penasaran dengan bekas luka itu.

“yak, aku lebih tua darimu. Seenaknya saja kau memanggil namaku. Dasar gadis tidak sopan. Tsk~”, omel Donghae. Seolah tidak peduli dengan omelan namja itu, Yoona tetap dengan raut wajah seriusnya. ‘Bahkan makian Donghae yang mengatakan aku tidak sopan, juga dilontarkan oppa waktu itu. Benarkah dia?’, bantin Yoona.

“i-itu~”, tiba-tiba yoona gugup. Takut juga dugaannya adalah benar adanya.

“MWO? Itu apa?”, balas Donghae, masih dengan kekesalannya pada yeoja yang menurutnya tidak punya sopan santun itu.

“i-itu di dadamu, bekas luka apa?”, akhirnya Yoona bisa melontarkan pertanyaan itu. Sesaat Donghae menyentuh dadanya, mengerti atas pertanyaan Yoona.

“oh~ ini luka ketika aku masih anak-anak. Mungkin sekitar umur 12 tahun”, Donghae mencoba mengingat-ingat lagi.

“karena a-apa?”, Yoona semakin tegang. Pasalnya kejadian itu ketika dia berumur 8 tahun dan Donghae bilang saat itu dia berumur 12 tahun. Bukankah perbedaan umur mereka 4 tahun. Ini semakin menjurus pada kejadian yang sama.

“aku menolong seorang yeoja yang sedang kesulitan mengambil sepatunya yang tersangkut diranting pohon. Saat itu~”, Donghae masih mencoba mengingat. Sedangkan Yoona sudah semakin tegang. Wajahnya pucat. Kedua tangannya bertautan, meremas-remas jari-jarinya. Dia masih diam menunggu Donghae menyelesaikan ceritanya.

“saat itu dia sedang diganggu oleh segerombolan anak laki-laki. Dia terlihat sangat ketakutan saat itu. Aku ingin menolongnya, tapi aku tidak punya nyali karena mereka sangat banyak. Jadi aku hanya bersembunyi dibalik pohon yang sedikit jauh dari mereka”, Donghae jeda sebentar. Terdengar nada bicaranya yang sedikit menyesal karena tidak bisa langsung membantu gadis kecil itu.

“setelah mereka pergi, aku menghampirinya. Dia sedang berusaha menggapai ranting pohon, sepatunya tersangkut disana. Aku mencoba membantu dan berhasil. Tapi nasib naas menghampiri kami. Batu pijakan kami oleng dan yah~ terjadilah. Dadaku menghantam keras sebuah batu yang permukaannya runcing, yang ada dibawah kami hingga mengeluarkan banyak darah. Gadis itu sangat panik. Setelah membujuknya akhirnya dia mau pergi mencari bantuan. Namun tak kunjung datang. Tapi tiba-tiba aku mendengar suara omma memanggil-manggil namaku. Sepertinya saat itu dia sedang ingin menjemputku. Dan setelah itu aku tidak ingat lagi. Dan aku tidak pernah bertemu gadis itu lagi karena aku melakukan operasi di Jepang. Yah~ seperti itulah kira-kira. Tapi kena-“, Donghae berhenti berujar ketika melihat Yoona yang menatapnya dengan wajah pucat dan pipi yang basah karena menangis.

“Yoona~ kau kenapa? Kau menangis karena terharu dengan ceritaku tadi ya. Tapi tidak perlu sampai menangiskan. Kau berlebihan”, ucap Donghae, heran dengan keadaan yeoja yang ada didepannya itu.

Yoona segera menyeka air matanya. Mencoba tersenyum sebisa mungkin, menutupi kesedihan sekaligus kebahagiannya karena sudah bertemu dengan orang yang sudah bertahun-tahun dicarinya.

“a-aniya. Gwenchana. Tapi apa karena luka itu kau mengalami-“, Donghae segera memotong ucapan Yoona.

“ani. Bukan karena luka itu jantungku menjadi seperti ini. Aku sudah mengalami penyakit ini sejak lahir. Dan kau tahu betul itu sebagai dokterku”, jelas Donghae, tahu kemana arah pembicaraan yoona tadi. Yoona bernapas lega. Ternyata bukan~

“hahh, semoga dia menjadi gadis yang kuat sekarang”, doa Donghae pada gadis kecil yang ditolongny dulu.

‘ya dia tumbuh menjadi gadis yang sangat kuat oppa’, batin Yoona menjawab doa namja itu.

*****

Sepasang manusia diruangan itu sedang asyik dengan kesibukan masing-masing. Sang namja sibuk membaca kertas-kertas laporan keadaan perusahannya yang baru dikirim Kyuhyun tadi sore. Sedangkan sang yeoja asyik membaca buku-buku tebalnya. Melihat dari tebalnya buku itu, sepertinya buku tentang kedokteran.

“tidurlah Donghae. Kau tidak boleh terlalu lelah. Tolong jangan keras kepala”, omel Yoona namun tak mengalihkan matanya dari buku tebalnya.

“sebentar lagi. Tinggal sedikit lagi”, Donghae menjawab asal, masih fokus dengan kertas-kertas yang ada ditangannya.

“ahhh~ terserah kau saja”, balas Yoona malas berdebat. Dia tidak sedang ingin berdebat dengan Donghae. Dia sudah lelah dari pagi melakukan tiga operasi transplantasi jantung dan sorenya dia pulang ke apartement Donghae untuk memasak makan malam. Benar-benar hari yang melelahkan.

Setelah matanya semakin lelah, dia menutup muku itu, meletakkannya diatas meja. Setelah itu melihat apa yang sedang dilakukan namja keras kepala itu.

‘Dia tertidur. Wajahnya sangat damai seperti anak kecil’, Batin Yoona, mendekat merapikan kertas-kertas yang berserakan diatas tempat tidur. Ditariknya selimut hingga menutupi tubuh Donghae sampai dada. Menepuk pelan dada kiri Donghae. Dia tersenyum namun matanya berkaca-kaca sambil menatap wajah tidur namja itu.

Cup~

Dikecupnnya pelan kening Donghae.

“kau harus sembuh untukku. selamat tidur oppa~”, ucap Yoona pelan. Ya ini sudah seminggu lebih Yoona tinggal diapartement pria itu. Dan sejak Donghae menceritakan tentang bekas luka itu, yoona semakin bersemangat untuk menyembuhkan Donghae. Dan aksi kecup kening itupun selalu dilakukannya ketika Donghae sudah terlelap tidur.

Tidak ingin Donghae terusik dengan perbuatannya. Segera dia beranjak dari kamar Donghae menuju kamarnya. Dia pun sangat lelah hari ini.

Namun tanpa sepengetahuan yeoja itu, Donghae sudah terusik sejak Yoona menyelimutinya tadi. Dan mengetahui tindakan Yoona. Keningnya berkerut, apa maksud perkataan Yoona dan ciuman itu? Tanpa sadar donghae tersenyum senang mengingat ciuman singkat namun sangat melekat dihati dan ingatannya. Sepertinya dia semakin menyukai gadis gila itu.

*****

Pagi yang tenang, suara burung-burung yang bersenandung, wangi bunga yang basah menambah kedamaian disebuah apartemen. Terlihat seorang yeoja berpakaian rapi sedang menata sebuah bekal makanan diatas meja. Setelah ia merasa sudah cukup ia melangkah menuju sebuah pintu kamar. Tanpa mengetuk terlebih dahulu, seperti biasa, yeoja itu sudah membuka pintu mencari sosok yang sudah ditunggu-tunggunya sedari tadi dimeja makan.

“Donghae?”, ujar yeoja itu dan terlihat seorang namja sedang kesulitan merapikan dasinya menoleh kebelakang ke arah suara yang memanggil namanya.

“Oh???”, gumam Donghae. Yoona mendekat melihat apa yang dilakukan oleh namja itu.

“kau lama sekali. Kau mau mengantarku kerumah sakit atau tidak. Aku bisa-bisa kehilangan pasien bila cara kerjaku seperti ini. Kau jangan melupakan bahwa aku dokter yang sangat diperlukan dirumah sakit Healthy Hospital”, omel Yoona ditambah dengan ke narsisannya.

Donghae tidak memperdulikan omelan Yoona, dia lebih memilih kembali merapikan dasinya yang entah kenapa dari tadi sangat sulit dilakukannya. Padahal menyimpul dasi seorang diri sudah biasa dilakukannya. Tidak tahu apa yang terjadi dengan keahlian tangannya hari ini.

Sebuah tangan tiba-tiba meraih dasinya. Yoona membuka simpul yang sudah Donghae bentuk, mencoba menyimpul dasi itu kembali.

“biar ku bantu”, ujar Yoona mulai fokus pada dasi Donghae.

“bagaimana bisa seorang presdir sepertimu yang sudah terbiasa mengenakan dasi tapi tidak bisa menyimpul dasi seorang diri”, omel Yoona lagi namun tetap fokus pada kegiatannya. Tidak sadar sedari tadi Donghae menatap wajahnya dengan sangat intens mulai mata, hidung hingga bibir tipisnya yang dilapis lipstik yang senada dengan warna bibirnya. Bagaimana rasanya ya? Sepertinya manis, batin donghae.

“chaaakkk, selesai”, seru Yoona senang melihat hasil kerjanya. Namun karena tidak ada tanggapan dari Donghae, dia mendongakkan kepalanya melihat wajah Donghae. Tiba-tiba suasana menjadi hening. Mata rusa dan mata teduh itu bertemu. Seperti sedang berbicara satu sama lain dengan tatapan mereka. Tanpa mereka sadari wajah mereka semakin dekat. Yoona memejamkan matanya dan terjadilah. Bibir donghae tepat menyentuh bibir tipis yoona.

Manis~, batin donghae. Selang sekitar sepuluh detik, kedua bibir itu masih menempel dengan baik. Hingga keduanya tersadar dari perbuatan mereka dan segera menjauh.

“akkmmm, ahh aku lapar”, ujar Donghae menggosong-gosok lehernya salah tingkah. Donghae segera keluar dari kamarnya meninggalkan Yoona yang masih diam mematung.

“Donghae babo. Apa yang sudah kau lakukan”, guman Donghae merutuki kebodohannya dibalik pintu kamar yang sudah ditutupnya. Sedangkan Yoona sudah terduduk dilantai masih dengan keterkejutannya.

“O-omo, apa yang sudah kami lakukan? A-ani.., ciuman pertamaku. De-dengan Donghae?”, guman yoona sambil menyentuh bibirnya. Rasanya manis~, bantin Yoona. Tiba-tiba terbit sebuah lengkungan senyum indah diwajah yeoja itu. Tak tahu apa sebenarnya yang dia pikirkan.

*****

Terjadi keheningan diantara sepasang manusia di dalam ferrari hitam yang melaju dengan kecepatan sedang. Sepertinya kejadian beberapa jam yang lalu yang menjadi penyebabnya. Terlihat kecanggungan diantara mereka. Hingga ferrari hitam itu berhenti didepan rumah sakit Healthy Hospital. Namun masih dalam suasana yang sama hingga Donghae memecah keheningan.

“mmm, sudah sampai”, ujar Donghae. Masih enggan menatap yeoja yang duduk disampingnya itu.

“n-nde?”, Yoona tersadar dari lamunannya.

“sudah sampai”, ulang Donghae tapi arah pandangannya lurus kedepan. Yoona melihat kesekelilingnya dan barulah benar-benar sadar.

“ahhh~ ya sudah sampai”, Yoona segera turun dan berhenti sejenak. Kemudian berputar menghadap donghae.

“ahh, kau jangan lupa luangkan waktumu untuk check up nanti siang. Kau ingatkan”, tegas Yoona. Bila sudah menyangkut mengenai pekerjaannya, yeoja itu sepertinya sangat serius. Sepertinya kecanggungan yang melandanya tadi sudah menguap.

“mmm”, Donghae hanya berguman.

“awas bila kau tidak datang. Aku akan mengingatkan Kyuhyun juga nanti”, ancam Yoona.

“mmm”, lagi-lagi Donghae hanya bergumam.

“baiklah, aku pergi. Hati-hati, jangan mengebut Hae~ . Bye bye~”, Yoona keluar dari mobil itu dan segera menuju Rumah sakit.

“ahhhh, apa yang terjadi dengan mu Lee Donghae”, teriak Donghae menutup wajahnya dengan telapak tangan kirinya sedangkan tangan kanannya meremas dadanya.

“tenanglah. Jangan mempermalukan ku dengan gadis gila itu”, Donghae sedang bernegoisasi dengan jantungnya.

“kau benar-benar membuatku gila Im Yoona”, teriak Donghae lagi. Sepertinya kegilaan yeoja itu sudah menular ke namja tampan ini.

*****

Sesampainya di Kantornya, Donghae disambut oleh karyawannya dengan baik. Donghae hanya memberi senyuman tipis kepada mereka. Sangat dingin, namun tetap membuat gadis-gadis yang ada disana terpesona dengan ketampanan atasannya itu.

Segera Donghae mengayunkan tungkai kakinya menuju ruangannya. Sebelum membuka pintu ruangannya, Donghae sempat memperhatikan ruang kerja Kyuhyun yang tampak sepi.

“kemana namja evil itu? apa dia bolos lagi? Atau dia terlambat karena mengantar Sooyoung? Hahhh, terima nasibmu Cho Kyuhyun. Salahmu jatuh dalam perangkap seorang Choi Sooyoung”, ucap Donghae kasihan terhadap sahabat sekaligus sekretarisnya itu karena berpacaran dengan sepupunya yang cerewet walaupun tetap cantik.

Donghae segera membuka pintu ruangannya, namun…

Deg

“ka-kau?”, Donghae sampai tergagap ketika menemui seorang gadis yang sedang duduk santai di sofa kantornya sambil membaca majalah.

“OPPAAA~”

 

TBC

Mudah-mudahan kali ini gak banyak lagi kesalahan…

jangan lupa RLC ya..

Gomawo~ bow

Advertisements

11 thoughts on “My Lovely Doctor Chapter 2

  1. 4tie

    dr. im yang ceria dan agresif bikin donghae gila wkwkwk.
    akhirnya yoona menemukan penolong yang dicarinya.
    semangat sembuhkan haepa.
    siapa yang ada dikantor donghae

  2. Iedhaaniyagirl ipethaa

    Ternyata udh prnah ketmu toh
    Waduh Siapa yeoja yg manggil opa ke had oppa njgn blang org ketiga 😞😞

  3. nina

    Dunia emg sempit, ternyata yoona sm hae udh prnh ketemu wktu kecil. Pnsrn gmn reaksi hae stlh tw yoona ank kecil yg ditolongnya.. Omooo. Siapa yg dtg ke kantor hae

  4. ichus

    Waahhh jdi kecilnya donghae itu sunbae yoona. Uuuuu makin penasaran
    yuuukk bru2 dilanjut
    part 4 5 6 hehe jgn pnjang2 klo bisa
    semangatttt👌

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s